Berapa Kadar Asam Urat Normal pada Laki-Laki dan Perempuan?
Memahami rentang kadar asam urat yang digunakan sebagai rujukan di Indonesia, perbedaan nilainya pada laki-laki dan perempuan, serta mengapa kadar urat tinggi belum tentu berarti seseorang menderita gout.
Berapa sebenarnya kadar asam urat yang dianggap normal? PUSTAHA menelusuri rentang rujukan untuk laki-laki dan perempuan, cara memahami hasil pemeriksaan, serta perbedaan antara kadar urat tinggi, hiperurisemia, dan penyakit gout.
Berapa Sebenarnya Kadar Asam Urat yang Normal?
Kita sering mendengar seseorang mengatakan, “Asam urat saya tinggi.”
Biasanya kalimat itu muncul setelah melihat hasil pemeriksaan darah. Ada yang mendapatkan angka 6, ada yang 7, bahkan ada yang lebih tinggi. Setelah itu muncul pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana:
Berapa kadar asam urat yang masih dianggap normal?
Pertanyaan ini penting karena urat bukan sesuatu yang sepenuhnya asing bagi tubuh manusia. Tubuh memang menghasilkan urat sebagai bagian dari proses metabolisme purin.
Jadi tujuan kita bukan membuat kadar urat menjadi nol.
Yang perlu dipahami adalah apakah kadarnya masih berada dalam rentang rujukan, meningkat di atas rentang tersebut, dan—yang jauh lebih penting—apa arti angka itu terhadap kondisi seseorang.
Saya mencoba menelusurinya dari angka yang digunakan dalam sistem kesehatan Indonesia.
Rentang Kadar Asam Urat Laki-Laki dan Perempuan
Dalam terminologi skrining Penyakit Tidak Menular (PTM) SATUSEHAT Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, rentang pemeriksaan asam urat yang dikategorikan normal adalah:
| Jenis kelamin | Rentang kadar asam urat | | --- | --- | | Laki-laki | 3,5–7,0 mg/dL | | Perempuan | 2,6–6,0 mg/dL |
Dalam sistem tersebut, nilai mulai 7,1 mg/dL pada laki-laki dan 6,1 mg/dL pada perempuan dikategorikan tinggi.
Angka ini memberikan pegangan yang mudah dipahami.
Namun ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan:
angka hasil pemeriksaan tidak seharusnya dibaca sendirian.
Laboratorium dapat menggunakan rentang rujukan yang berbeda sesuai metode pemeriksaan dan populasi rujukannya. Karena itu, hasil pemeriksaan sebaiknya juga dibandingkan dengan nilai rujukan yang tercantum pada lembar hasil laboratorium tempat pemeriksaan dilakukan.
Mengapa Tubuh Kita Memiliki Asam Urat?
Untuk memahami angkanya, kita perlu mengetahui terlebih dahulu dari mana urat berasal.
Tubuh kita mempunyai senyawa bernama purin. Purin merupakan bagian normal dari tubuh dan juga terdapat dalam berbagai makanan.
Ketika purin dipecah, salah satu produk akhirnya adalah urat.
Urat kemudian beredar dalam darah dan sebagian besar dikeluarkan dari tubuh melalui ginjal bersama urine.
Sederhananya, ada proses yang terus berlangsung:
purin dipecah → urat terbentuk → masuk ke sirkulasi darah → kemudian dibuang terutama melalui ginjal.
Selama pembentukan dan pembuangannya berada dalam keseimbangan, kadar urat dapat tetap terkendali.
Masalah dapat muncul ketika urat yang terbentuk lebih banyak daripada yang dapat dikeluarkan tubuh, atau ketika pembuangannya berkurang.
Akibatnya, urat dapat terakumulasi dalam darah.
Jika Angkanya Tinggi, Apakah Berarti Sudah Menderita Gout?
Belum tentu.
Ini mungkin bagian paling penting dari pembahasan ini.
Kadar urat dalam darah yang tinggi dikenal sebagai hiperurisemia.
Sedangkan gout adalah penyakit radang sendi yang berkaitan dengan pembentukan dan pengendapan kristal monosodium urat pada sendi dan jaringan di sekitarnya.
Keduanya berhubungan erat, tetapi bukan istilah yang sama.
Seseorang dapat mempunyai kadar urat yang tinggi tanpa mengalami serangan gout.
National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases (NIAMS) menjelaskan bahwa banyak orang dengan kadar urat serum tinggi tidak berkembang menjadi gout.
Karena itu:
hasil pemeriksaan asam urat tinggi bukan dengan sendirinya diagnosis gout.
Angka tersebut merupakan informasi penting yang perlu dibaca bersama gejala, riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik dan, bila diperlukan, pemeriksaan lainnya.
Lalu Mengapa Urat Tinggi Bisa Menjadi Masalah?
Jika kadar urat berada pada tingkat tinggi dalam waktu lama, pada sebagian orang urat dapat membentuk kristal berbentuk seperti jarum di dalam dan sekitar sendi.
Keberadaan kristal tersebut dapat memicu respons peradangan.
Inilah yang kemudian dapat menghasilkan serangan gout.
Sendi dapat terasa:
- sangat nyeri,
- panas,
- merah,
- bengkak,
- dan sulit digerakkan.
Jempol kaki merupakan lokasi yang sangat dikenal pada gout, tetapi penyakit ini tidak terbatas pada jempol kaki. Sendi lain juga dapat terkena.
Jadi persoalannya bukan semata-mata “angka asam urat naik”.
Yang ingin kita cegah adalah perjalanan keadaan tersebut menuju pembentukan kristal, serangan berulang, dan komplikasi pada orang yang memang mengalami gout.
Apakah Sekali Tes Sudah Cukup?
Satu hasil pemeriksaan memberikan informasi mengenai kadar urat ketika darah tersebut diperiksa.
Tetapi hasil itu tetap harus dilihat dalam konteks.
Ada hal menarik pada gout: ketika seseorang sedang mengalami serangan akut, kadar urat darah tidak selalu berada pada angka yang kita bayangkan.
Pedoman NICE menyebutkan bahwa apabila gout sangat dicurigai tetapi kadar urat serum ketika serangan berada di bawah 6 mg/dL, pemeriksaan dapat diulang setidaknya dua minggu setelah serangan mereda.
Alasannya, kadar urat dapat menjadi lebih rendah ketika serangan gout sedang berlangsung.
Artinya, kita sebaiknya tidak membuat kesimpulan terlalu jauh hanya berdasarkan satu angka.
Apakah Tes Asam Urat Bisa Menentukan Gout?
Pemeriksaan urat serum merupakan bagian penting dalam penilaian seseorang yang dicurigai mengalami gout, tetapi diagnosis tidak selalu berhenti pada pemeriksaan darah.
Tenaga kesehatan dapat menilai:
- bagaimana rasa sakit muncul,
- sendi mana yang terkena,
- apakah terjadi kemerahan dan pembengkakan,
- riwayat serangan sebelumnya,
- obat-obatan yang sedang digunakan,
- kondisi ginjal,
- serta faktor risiko lainnya.
Jika diagnosis masih belum jelas, cairan dari sendi dapat diperiksa untuk mencari kristal urat.
Dalam keadaan tertentu, pemeriksaan pencitraan seperti ultrasonografi atau dual-energy CT juga dapat digunakan.
Hal ini penting karena tidak semua nyeri sendi merupakan gout.
Nyeri, kemerahan dan pembengkakan sendi juga dapat terjadi pada kondisi lain, termasuk beberapa keadaan yang memerlukan penanganan segera.
Rentang Normal dan Target Pengobatan Bukan Hal yang Sama
Di sinilah angka sering menjadi membingungkan.
Tadi kita mempunyai rentang rujukan dari SATUSEHAT Kementerian Kesehatan RI:
Laki-laki: 3,5–7,0 mg/dL
Perempuan: 2,6–6,0 mg/dL
Tetapi ketika seseorang sudah didiagnosis gout dan menjalani terapi penurun urat, terdapat konsep lain yang disebut target kadar urat.
Ini bukan lagi sekadar pertanyaan:
“Apakah hasil saya masuk rentang rujukan?”
Tujuannya adalah mempertahankan kadar urat cukup rendah untuk membantu mengendalikan penyakit dan mencegah pembentukan atau mempertahankan deposit kristal urat.
Pedoman NICE merekomendasikan sasaran kadar urat serum di bawah 6 mg/dL (360 µmol/L) dalam strategi terapi treat-to-target.
Pada orang tertentu dengan gout yang lebih berat—misalnya terdapat tophi, gout kronis, atau serangan tetap sering terjadi meskipun kadar urat sudah berada di bawah 6 mg/dL—sasaran di bawah 5 mg/dL (300 µmol/L) dapat dipertimbangkan oleh tenaga kesehatan.
Jadi ada dua hal yang harus dipisahkan:
rentang rujukan pemeriksaan dan target terapi pada penderita gout.
Sama-sama menggunakan satuan mg/dL, tetapi penggunaannya tidak sama.
Contoh Sederhana: Bagaimana Membaca Angkanya?
Misalnya seorang laki-laki mendapatkan hasil pemeriksaan:
Asam urat: 7,5 mg/dL.
Jika dibandingkan dengan rentang yang digunakan SATUSEHAT Kementerian Kesehatan RI, angka tersebut berada di atas rentang normal laki-laki.
Informasi yang bisa kita ambil adalah:
kadar uratnya tinggi berdasarkan rentang tersebut.
Tetapi kita belum dapat melompat langsung kepada kesimpulan:
“Orang ini pasti menderita gout.”
Untuk sampai pada diagnosis penyakit, kondisi orang tersebut perlu dilihat secara keseluruhan.
Apakah pernah terjadi serangan nyeri sendi?
Sendi mana yang sakit?
Bagaimana pola munculnya?
Apakah ada pembengkakan dan kemerahan?
Bagaimana fungsi ginjalnya?
Apakah sedang menggunakan obat tertentu?
Apakah terdapat kondisi kesehatan lain?
Angka membuka pintu untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Angka bukan keseluruhan diagnosis.
Bagaimana Kalau Hasilnya Masih Normal tetapi Sendi Sakit?
Prinsip yang sama berlaku sebaliknya.
Jangan menganggap semua nyeri sendi bukan gout hanya karena satu hasil pemeriksaan urat terlihat berada dalam rentang tertentu.
Jika seseorang mengalami sendi yang tiba-tiba sangat nyeri, merah, panas atau membengkak, kondisi tersebut perlu dinilai berdasarkan gambaran klinisnya.
Bahkan ada keadaan lain yang dapat menyerupai gout.
Salah satunya adalah infeksi pada sendi atau septic arthritis, yang membutuhkan penanganan medis segera.
Karena itu pemeriksaan asam urat sebaiknya digunakan sebagai bagian dari penilaian kesehatan, bukan sebagai alat untuk melakukan diagnosis sendiri terhadap setiap keluhan sendi.
Mengapa Angka Laki-Laki dan Perempuan Berbeda?
Rentang rujukan urat serum memang dapat berbeda antara laki-laki dan perempuan.
Secara populasi, kadar urat cenderung lebih rendah pada perempuan sebelum menopause dibandingkan laki-laki.
Perbedaan biologis, termasuk pengaruh hormon terhadap penanganan urat oleh tubuh, ikut berperan.
Setelah menopause, kadar urat pada perempuan cenderung meningkat dan risiko gout juga meningkat.
NIAMS mencatat bahwa gout lebih umum pada laki-laki dan perempuan umumnya mengalaminya pada usia yang lebih lanjut dibandingkan laki-laki.
Tetapi sekali lagi, rentang rujukan tidak boleh digunakan untuk memprediksi secara pasti siapa yang akan atau tidak akan mengalami gout.
Jangan Mengejar Angka dengan Mengobati Diri Sendiri
Mengetahui angka normal memang berguna.
Tetapi pengetahuan tersebut jangan berubah menjadi kebiasaan mengobati angka secara mandiri.
Misalnya seseorang melakukan pemeriksaan, melihat kadar uratnya sedikit tinggi, kemudian langsung membeli dan menggunakan obat penurun urat tanpa mengetahui apakah obat tersebut memang diperlukan.
Obat penurun urat mempunyai indikasi, dosis, pemantauan, efek samping dan pertimbangan kondisi kesehatan masing-masing orang.
Begitu pula pada orang yang sudah memperoleh terapi dari dokter.
Jangan menghentikan obat hanya karena satu hasil pemeriksaan sudah terlihat baik.
Dalam pengelolaan gout, kadar yang telah mencapai target justru dapat menunjukkan bahwa terapi sedang bekerja. Keputusan untuk melanjutkan, menyesuaikan atau menghentikan pengobatan harus dibicarakan dengan tenaga kesehatan yang menangani.
Lalu Apa yang Sebaiknya Dilakukan Setelah Mengetahui Hasilnya?
Jika hasil masih berada dalam rentang rujukan dan tidak terdapat keluhan, angka tersebut dapat menjadi salah satu bagian dari gambaran kesehatan kita.
Jika hasil berada di atas rentang, jangan panik dan jangan pula langsung menyimpulkan bahwa kita menderita gout.
Lihat hasil pemeriksaan secara keseluruhan.
Perhatikan nilai rujukan laboratorium.
Perhatikan apakah ada keluhan.
Pertimbangkan faktor risiko dan kondisi kesehatan lainnya.
Dan jika hasil tetap tinggi, terdapat keluhan sendi, pernah mengalami serangan berulang, mempunyai penyakit ginjal, atau ada hal lain yang mengkhawatirkan, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Yang perlu kita pahami bukan hanya:
“Berapa angkanya?”
Tetapi juga:
“Apa arti angka tersebut bagi kondisi tubuh kita?”
Catatan PUSTAHA
Dari penelusuran ini saya mendapatkan satu pemahaman sederhana.
Asam urat bukan sesuatu yang harus dianggap sebagai musuh hanya karena namanya sering dikaitkan dengan penyakit.
Tubuh kita memang menghasilkan urat.
Yang perlu diperhatikan adalah keseimbangannya.
Sebagai pegangan di Indonesia, terminologi skrining PTM SATUSEHAT Kementerian Kesehatan RI menggunakan rentang 3,5–7,0 mg/dL pada laki-laki dan 2,6–6,0 mg/dL pada perempuan sebagai kategori normal.
Tetapi memahami angka ternyata membutuhkan konteks.
Kadar urat tinggi tidak otomatis berarti gout.
Hasil dalam rentang rujukan juga tidak dapat digunakan sendirian untuk menyingkirkan setiap kemungkinan gout ketika terdapat gejala yang kuat.
Dan angka normal pada pemeriksaan umum tidak boleh dicampurkan dengan target kadar urat pada seseorang yang sudah menjalani terapi gout.
Maka pemeriksaan laboratorium sebaiknya kita gunakan sebagaimana mestinya:
sebagai informasi untuk membantu memahami kondisi tubuh, bukan sebagai satu-satunya dasar untuk mendiagnosis atau mengobati diri sendiri.
Sumber & Referensi
-
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — SATUSEHAT Platform.
Lampiran Terminologi Skrining Penyakit Tidak Menular (PTM).
Digunakan untuk rentang interpretasi pemeriksaan asam urat laki-laki dan perempuan dalam sistem SATUSEHAT. -
National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases (NIAMS), National Institutes of Health (NIH).
Gout: Overview, Symptoms & Causes.
Digunakan untuk memahami hiperurisemia, pembentukan kristal urat, gout, serta karakteristik penyakit. -
National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases (NIAMS), National Institutes of Health (NIH).
Gout: Diagnosis, Treatment, and Steps to Take.
Digunakan untuk memeriksa proses diagnosis, pemeriksaan urat serum, pemeriksaan cairan sendi dan pencitraan. -
National Institute for Health and Care Excellence (NICE).
Gout: Diagnosis and Management — Guideline NG219.
Digunakan untuk diagnosis, interpretasi kadar urat ketika terjadi flare, strategi treat-to-target, serta target kadar urat pada terapi gout.
Sumber diperiksa PUSTAHA: 11 September 2026.
Catatan Kesehatan PUSTAHA
Tulisan ini disusun sebagai materi informasi dan edukasi berdasarkan penelusuran sumber kesehatan yang dapat diverifikasi. Informasi di dalamnya tidak ditujukan untuk menetapkan diagnosis, menentukan obat, mengubah dosis, atau menggantikan konsultasi dengan dokter maupun tenaga kesehatan yang menangani kondisi seseorang.
PUSTAHA — INGAT · TULIS · RILIS
Informasi kesehatan di PUSTAHA disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi umum, bukan sebagai pengganti diagnosis, pemeriksaan, atau saran langsung dari tenaga kesehatan profesional.

