PUSTAHA • KESEHATAN

Apa Itu Farmasi? Mengenal Ilmu di Balik Obat yang Kita Gunakan

Farmasi bukan sekadar apotek atau kegiatan menjual obat. Bidang ini mencakup perjalanan panjang suatu obat, mulai dari bahan, perancangan dan formulasi, pembuatan, pengujian mutu, penyimpanan dan distribusi, hingga penggunaannya secara tepat dan aman.

Dipublikasikan 11 September 2026 • Armando Sinaga - PUSTAHA
Apa Itu Farmasi? Mengenal Ilmu di Balik Obat yang Kita Gunakan

Kita mengenal obat, apotek, dan apoteker. Tetapi apa sebenarnya farmasi? PUSTAHA menelusuri pengertian farmasi, ruang lingkup ilmunya, hubungannya dengan obat, perbedaannya dengan apotek dan apoteker, serta perannya dalam memastikan obat dapat dibuat, dijaga mutunya, didistribusikan, dan digunakan dengan tepat.

Kita Mulai dari Satu Kata: Farmasi

Farmasi.

Kita mulai dari satu kata ini.

Bukan dari tablet.

Bukan dari apotek.

Bukan pula dari apoteker.

Sebab sebelum mencoba memahami apa yang dipelajari dalam farmasi, PUSTAHA menemukan pertanyaan yang bahkan lebih mendasar:

Apa sebenarnya arti kata “farmasi”?

Kata ini begitu dekat dengan kehidupan kita, tetapi pengertiannya tidak selalu mudah dijelaskan.

Kita mungkin pernah melihat tulisan Instalasi Farmasi di rumah sakit.

Kita mengenal Fakultas Farmasi atau Program Studi Farmasi di perguruan tinggi.

Kita mendengar istilah industri farmasi, tenaga kefarmasian, sediaan farmasi, dan pelayanan kefarmasian.

Tetapi jika seseorang bertanya:

“Farmasi itu apa?”

Jawaban yang paling sederhana mungkin adalah:

farmasi adalah ilmu yang mempelajari obat.

Untuk pengenalan awal, jawaban tersebut membantu.

Tetapi PUSTAHA tidak ingin berhenti di sana.

Sebab jika farmasi memang mempelajari obat, kita perlu mengetahui terlebih dahulu mengapa bidang ini disebut farmasi, dari mana istilah tersebut berkembang, dan bagaimana sebuah kata yang mempunyai perjalanan sangat panjang akhirnya digunakan untuk menyebut bidang ilmu dan praktik yang kita kenal sekarang.

Maka penelusuran kita dimulai bukan dari obat modern.

Kita mundur jauh ke belakang.


Dari Mana Kata Farmasi Berasal?

Ketika menelusuri sejarah farmasi, kita akan menemukan bahwa bidang yang sekarang disebut pharmacy tidak muncul sekaligus dalam bentuk seperti yang kita kenal hari ini.

Perjalanannya berhubungan dengan sejarah manusia menggunakan bahan untuk tujuan pengobatan, perkembangan materia medica, praktik meracik dan menyediakan obat, perkembangan kimia, hingga akhirnya muncul pendidikan dan profesi farmasi yang semakin terstruktur.

Salah satu literatur penting dalam sejarah pendidikan farmasi Amerika adalah Kremers and Urdang's History of Pharmacy.

Edward Kremers merupakan tokoh pendidikan farmasi di Amerika Serikat. American Institute of the History of Pharmacy mencatat bahwa Kremers memperkenalkan mata kuliah sejarah farmasi pertama di Amerika Serikat. Bersama sejarawan farmasi George Urdang, ia menghasilkan karya History of Pharmacy yang kemudian menjadi salah satu karya penting dalam kajian sejarah farmasi.

Dari sini kita memperoleh pelajaran pertama:

farmasi modern mempunyai sejarah yang jauh lebih panjang daripada keberadaan industri obat modern.

Untuk memahami namanya, kita harus masuk lebih jauh lagi ke sejarah bahasa.


Menelusuri Kata Pharmakon

Dalam penelusuran sejarah istilah farmasi, kita bertemu dengan sebuah kata Yunani:

pharmakon.

Di sinilah kita harus berhati-hati.

Kata pharmakon sering disederhanakan dalam penjelasan populer menjadi:

pharmakon = obat.

Penyederhanaan tersebut dapat membantu sebagai pengantar, tetapi sejarah maknanya lebih rumit.

Dalam konteks Yunani kuno, pharmakon dapat berkaitan dengan suatu zat atau ramuan yang memberikan pengaruh terhadap tubuh. Bergantung pada penggunaan dan konteksnya, istilah tersebut tidak selalu mempunyai batas makna yang sama dengan kata obat dalam pengertian farmasi modern.

Dengan kata lain, jangan membayangkan bahwa ketika masyarakat Yunani kuno menggunakan istilah pharmakon, mereka sedang berbicara tentang tablet, kapsul, obat berizin edar, dosis modern, atau produk industri seperti yang kita kenal sekarang.

Konsep-konsep tersebut berkembang jauh kemudian.

Ini penting.

Sebuah kata dapat bertahan sangat lama sementara ilmu yang berada di belakangnya terus berubah.

Maka hubungan antara pharmakon dan farmasi modern sebaiknya dipahami sebagai bagian dari perjalanan bahasa dan sejarah pengetahuan mengenai bahan obat—bukan sebagai persamaan sederhana antara dua dunia yang terpisah ribuan tahun.


Dari Pharmakon Menuju Pharmacy dan Farmasi

Perjalanan sebuah istilah selama berabad-abad tidak berlangsung melalui satu lompatan sederhana.

Bahasa berubah.

Pengetahuan berubah.

Masyarakat berubah.

Profesi berubah.

Cara manusia memperoleh dan membuat obat juga berubah.

Literatur sejarah farmasi seperti Kremers and Urdang's History of Pharmacy memperlihatkan perkembangan panjang praktik kefarmasian melalui dunia kuno, periode Arab dan Eropa Abad Pertengahan, perkembangan di berbagai negara Eropa, hingga pertumbuhan pendidikan, standar, profesi, dan praktik farmasi di Amerika Serikat.

Dalam bahasa Inggris kemudian kita mengenal kata:

pharmacy.

Dalam bahasa Indonesia kita mengenal:

farmasi.

Bentuk tulisannya berbeda, tetapi keduanya berada dalam keluarga sejarah istilah yang berkaitan dengan obat dan praktik kefarmasian.

Namun PUSTAHA tidak menemukan dasar yang cukup dari tiga kelompok sumber yang kita batasi dalam penelusuran ini untuk menyatakan satu jalur bahasa yang sangat sederhana seperti:

Yunani → bahasa tertentu → langsung menjadi “farmasi” dalam bahasa Indonesia.

Karena itu kita tidak akan membuat rantai etimologi yang tidak dapat kita buktikan.

Yang dapat kita pahami adalah bahwa istilah yang sekarang kita kenal sebagai farmasi merupakan hasil perjalanan panjang bahasa sekaligus perkembangan pengetahuan mengenai obat.


Kapan Kata “Farmasi” Mulai Digunakan di Indonesia?

Pertanyaan ini justru menarik.

Sejak kapan masyarakat Indonesia menggunakan kata “farmasi”?

PUSTAHA mencoba membatasi penelusuran tulisan ini pada tiga kelompok sumber yang sejak awal telah ditetapkan:

World Health Organization (WHO), Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), serta literatur pendidikan dan sejarah farmasi Amerika Serikat.

Dalam batas sumber tersebut, PUSTAHA belum memperoleh bukti yang cukup untuk menentukan:

siapa yang pertama kali menggunakan kata “farmasi” di Indonesia, kapan persis kata tersebut pertama digunakan, dan melalui bahasa mana bentuk Indonesianya masuk.

Maka jawabannya untuk sementara adalah:

belum dapat ditetapkan dalam penelusuran ini.

Kita memilih berhenti di sana daripada mengisi bagian sejarah yang belum kita ketahui dengan dugaan.

Tetapi penggunaan istilah farmasi dalam Indonesia modern tidak diragukan lagi telah menjadi bagian resmi dari sistem kesehatan.

BPOM menggunakan berbagai istilah seperti sediaan farmasi, bahan obat, dan berbagai terminologi lain dalam pengawasan obat dan produk yang berada dalam kewenangannya.

Jadi kita sudah menemukan kata tersebut.

Sekarang waktunya memahami isinya.


Setelah Mengetahui Katanya, Apa Sebenarnya Farmasi?

Sekarang kita kembali ke jawaban sederhana pada awal tulisan:

farmasi adalah ilmu yang mempelajari obat.

Apakah itu salah?

Tidak.

Sebagai pintu masuk, justru sangat membantu.

Tetapi sekarang kita mempunyai pertanyaan baru:

Apa maksudnya “mempelajari obat”?

Apakah hanya menghafal nama obat dan kegunaannya?

Ternyata tidak.

Untuk melihat luasnya persoalan tersebut, kita dapat memeriksa bagaimana literatur pendidikan farmasi menggambarkan bidang ini.

Salah satu karya yang sangat dikenal dalam pendidikan farmasi adalah:

Remington: The Science and Practice of Pharmacy.

Judulnya sendiri menarik untuk kita perhatikan.

The Science and Practice of Pharmacy.

Ada dua kata penting:

science — ilmu.

dan

practice — praktik.

Artinya, memahami farmasi hanya sebagai kumpulan nama obat akan kehilangan sebagian besar wilayahnya.

Farmasi mempunyai fondasi ilmu sekaligus penerapan.


Kalau Farmasi Mempelajari Obat, Apa yang Dipelajari dari Obat?

Sekarang kita mengambil sebuah obat.

Tidak perlu obat yang rumit.

Bayangkan sebuah tablet.

Kita dapat bertanya:

Apa bahan aktifnya?

Dari mana bahan tersebut berasal?

Bagaimana struktur dan sifat kimianya?

Bagaimana zat tersebut bekerja?

Bagaimana tubuh berinteraksi dengannya?

Berapa jumlah bahan aktif yang terdapat di dalamnya?

Bagaimana bahan aktif tersebut dibuat menjadi tablet?

Mengapa tablet mempunyai bentuk tertentu?

Bagaimana memastikan kandungannya sesuai?

Bagaimana memastikan produk tidak tercemar?

Bagaimana mengetahui produk masih stabil selama penyimpanan?

Mengapa terdapat tanggal kedaluwarsa?

Bagaimana obat harus dikemas?

Bagaimana obat diproduksi?

Bagaimana mutu produksinya dikendalikan?

Bagaimana obat disimpan?

Bagaimana obat didistribusikan?

Bagaimana obat digunakan?

Bagaimana informasi mengenai penggunaannya disampaikan?

Apa yang terjadi jika obat digunakan bersama obat lain?

Apa yang harus diperhatikan ketika obat digunakan oleh manusia?

Sekarang kita mulai melihat masalahnya.

Satu tablet ternyata dapat melahirkan puluhan pertanyaan ilmiah.

Dan pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat dunia farmasi menjadi luas.


BPOM Membantu Kita Memahami Seberapa Luas Istilah “Farmasi”

Sekarang kita membawa penelusuran ini ke Indonesia.

Dalam daftar istilah BPOM yang merujuk Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, sediaan farmasi dijelaskan mencakup:

“Obat, Bahan Obat, Obat Bahan Alam...”

dan cakupannya juga meliputi kosmetik, suplemen kesehatan, serta obat kuasi sesuai definisi tersebut.

Ini menarik.

Karena ketika masyarakat mendengar kata farmasi, yang terbayang mungkin hanya:

obat.

Padahal dalam terminologi kesehatan Indonesia terdapat konsep sediaan farmasi dengan cakupan yang lebih luas.

BPOM juga memuat pengertian obat sebagai bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi, yang digunakan untuk memengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam konteks diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan, dan kontrasepsi pada manusia.

Maka bahkan kata obat sendiri ternyata mempunyai pengertian yang lebih luas daripada:

“sesuatu yang diminum ketika kita sakit.”

Di sini pemahaman kita tentang farmasi mulai berkembang.


Mengapa Farmasi Bertemu dengan Kimia, Biologi, dan Ilmu Kesehatan?

Kalau objek yang dipelajari salah satunya adalah obat, maka kita harus mengetahui apa benda tersebut.

Untuk memahami struktur dan sifat suatu zat, kita membutuhkan kimia.

Tetapi obat tidak berhenti sebagai molekul di dalam botol.

Obat akan berinteraksi dengan makhluk hidup.

Maka kita bertemu biologi.

Kemudian kita perlu memahami tubuh manusia.

Kita bertemu anatomi dan fisiologi.

Kita ingin mengetahui bagaimana obat menghasilkan efek.

Kita bertemu farmakologi.

Kita ingin mengetahui bagaimana tubuh menyerap, mendistribusikan, memetabolisme, dan mengeluarkan obat.

Kita bertemu farmakokinetika.

Kita ingin mengubah suatu bahan menjadi produk yang dapat digunakan.

Kita bertemu farmasetika dan teknologi farmasi.

Kita ingin memastikan kandungan dan mutunya.

Kita bertemu analisis farmasi dan pengendalian mutu.

Semakin kita membongkar satu obat, semakin terlihat bahwa farmasi berdiri di persimpangan berbagai ilmu.

Maka banyaknya ilmu dasar dalam pendidikan farmasi bukan kebetulan.

Obat memang memaksa kita mempelajari banyak hal sekaligus.


Farmasi Tidak Sama dengan Farmakologi

Sekarang kita menemukan sebuah kata yang sangat mirip:

farmakologi.

Apakah farmasi dan farmakologi sama?

Tidak.

Farmakologi berfokus pada obat dan interaksinya dengan sistem biologis, termasuk efek dan mekanisme kerjanya.

Farmasi mempunyai wilayah yang lebih luas.

Di dalam perjalanan farmasi kita dapat bertemu pengembangan, formulasi, pembuatan, analisis, mutu, penyimpanan, distribusi, pelayanan, dan penggunaan obat.

Farmakologi merupakan ilmu yang sangat penting bagi farmasi.

Tetapi:

farmakologi bukan keseluruhan farmasi.

Nanti istilah ini layak kita bongkar lagi dalam penelusuran PUSTAHA tersendiri.


Farmasi Juga Tidak Sama dengan Apotek

Kemudian kita menemukan kata:

apotek.

Di sinilah kebingungan yang cukup mudah terjadi.

Farmasi bukan nama lain dari apotek.

Apotek merupakan tempat atau fasilitas tempat pelayanan kefarmasian dapat diselenggarakan sesuai sistem dan ketentuan yang berlaku.

Sedangkan farmasi merupakan bidang yang jauh lebih besar.

Farmasi dapat ditemukan dalam:

penelitian,

pengembangan,

produksi,

pengendalian mutu,

penjaminan mutu,

distribusi,

pelayanan kesehatan,

pendidikan,

regulasi,

dan berbagai kegiatan lain yang berkaitan dengan obat serta sediaan farmasi.

Maka menyamakan farmasi dengan apotek sama seperti melihat satu ruangan dari sebuah bangunan lalu menganggap ruangan tersebut adalah seluruh bangunannya.


Farmasi Juga Tidak Sama dengan Apoteker

Lalu ada:

apoteker.

Farmasi adalah bidang ilmu dan praktik.

Apoteker adalah profesi.

Keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat, tetapi bukan kata yang dapat dipertukarkan begitu saja.

Ini juga membantu kita memahami mengapa seseorang dapat mengatakan:

“Saya belajar farmasi.”

Tetapi kita tidak otomatis dapat mengganti kalimat tersebut menjadi:

“Saya adalah apoteker.”

Pendidikan, kompetensi, profesi, dan kewenangan mempunyai konteks masing-masing.

Maka sejauh ini kita telah memisahkan empat istilah:

farmasi

farmakologi

apotek

apoteker

Keempatnya saling berhubungan.

Tetapi keempatnya tidak berarti hal yang sama.


Farmasi Tidak Berakhir Ketika Obat Selesai Dibuat

Sekarang kita sampai pada perubahan penting dalam pemahaman farmasi modern.

Bayangkan sebuah obat telah selesai diproduksi.

Mutunya sesuai.

Kemasan selesai.

Produk didistribusikan.

Apakah pekerjaan farmasi selesai?

Belum.

Karena pada akhirnya obat akan bertemu dengan:

manusia.

WHO bersama International Pharmaceutical Federation dalam pedoman Good Pharmacy Practice menggambarkan peran kefarmasian yang tidak hanya berkaitan dengan menyiapkan, memperoleh, menyimpan, mengamankan, mendistribusikan, memberikan, menyerahkan, dan membuang produk medis.

Pedoman tersebut juga menempatkan pengelolaan terapi obat yang efektif, pengembangan kinerja profesional, serta kontribusi terhadap efektivitas sistem kesehatan dan kesehatan masyarakat sebagai bagian penting praktik kefarmasian.

Di sini kita menemukan perubahan sudut pandang yang besar.

Obat bukan tujuan akhir.

Manusia yang menggunakan obat menjadi pusat perhatian.

Sebuah tablet dapat dibuat dengan mutu sangat baik.

Tetapi jika digunakan secara tidak tepat, manfaat yang diharapkan belum tentu tercapai dan risiko dapat muncul.

Karena itu farmasi modern tidak berhenti pada pertanyaan:

“Bagaimana membuat obat?”

Pertanyaannya berkembang menjadi:

“Bagaimana obat tersebut digunakan secara tepat untuk memberikan manfaat bagi manusia?”


Seberapa Luas Dunia Farmasi?

Setelah seluruh penelusuran ini, kita akhirnya dapat melihat bahwa kata yang awalnya tampak sederhana ternyata membuka dunia yang sangat besar.

Di satu sisi terdapat ilmu dasar.

Kimia.

Biologi.

Fisiologi.

Mikrobiologi.

Di sisi lain terdapat ilmu yang semakin khusus.

Farmakologi.

Farmasetika.

Farmakokinetika.

Kimia farmasi.

Farmakognosi.

Analisis farmasi.

Teknologi farmasi.

Kemudian terdapat dunia produksi.

Pengendalian mutu.

Penjaminan mutu.

Distribusi.

Regulasi.

Pelayanan kefarmasian.

Farmasi rumah sakit.

Farmasi komunitas.

Farmasi klinik.

Penelitian dan pengembangan.

Dan berbagai bidang lainnya.

Tidak semua orang yang bekerja atau belajar dalam dunia farmasi melakukan semua pekerjaan tersebut.

Justru luasnya bidang ini membuat orang dapat mendalami bagian yang berbeda-beda.


Jadi, Apa Itu Farmasi?

Sekarang kita kembali ke pertanyaan yang kita ajukan sejak awal.

Apa itu farmasi?

Pada awal tulisan kita menjawab:

Farmasi adalah ilmu yang mempelajari obat.

Setelah melakukan penelusuran, jawaban tersebut masih berguna.

Tetapi sekarang kita mengetahui bahwa kalimat itu hanyalah pintu masuk.

Berdasarkan apa yang telah kita pelajari, PUSTAHA merumuskan pengertian sederhananya sebagai berikut:

Farmasi adalah bidang ilmu dan praktik yang mempelajari obat dan sediaan farmasi secara luas—mulai dari bahan dan sifatnya, pengembangan, formulasi dan pembuatan, pengujian serta penjagaan mutu, penyimpanan dan distribusi, hingga pelayanan dan penggunaannya pada manusia.

Kalimat tersebut merupakan rumusan penjelasan PUSTAHA berdasarkan hasil penelusuran, bukan kutipan definisi resmi dari WHO ataupun BPOM.

Dan sekarang kita dapat melihat mengapa kata farmasi tidak cukup diterjemahkan hanya menjadi:

obat.

Obat memang berada di pusat pembahasannya.

Tetapi di sekeliling obat terdapat ilmu, teknologi, standar, manusia, profesi, pelayanan, dan sistem yang sangat luas.


Tentang Belajar, Sekolah, dan PUSTAHA

Ada satu hal yang perlu PUSTAHA tempatkan di bagian akhir penelusuran ini.

Rocky Gerung pernah melontarkan kalimat yang menarik mengenai pendidikan formal:

“Ijazah itu cuma tanda seseorang pernah sekolah, bukan tanda dia berpikir.”

PUSTAHA menempatkan kalimat tersebut sebagai sebuah ajakan untuk membedakan bukti telah menempuh pendidikan formal dengan proses berpikir dan belajar yang semestinya terus berlangsung setelah pendidikan selesai.

Namun penggunaan kutipan tersebut bukan berarti PUSTAHA menganggap pendidikan formal tidak penting.

Justru sebaliknya.

Pendidikan formal memberikan struktur pembelajaran, dasar keilmuan, latihan, lingkungan akademik, evaluasi, dan—pada profesi tertentu—merupakan bagian penting dari persyaratan kompetensi dan kewenangan.

PUSTAHA juga tidak menempatkan diri seolah-olah sedang melihat dunia farmasi sepenuhnya dari luar.

Pendiri PUSTAHA memiliki latar belakang pendidikan di bidang farmasi.

Informasi itu perlu disebutkan bukan untuk menjadikan latar pendidikan sebagai dasar bahwa setiap penjelasan PUSTAHA otomatis benar.

Ijazah bukan pengganti sumber.

Latar pendidikan bukan pengganti bukti.

Dan pengalaman bukan alasan untuk mengabaikan perkembangan ilmu.

Justru karena pernah berada dalam pendidikan farmasi, ada banyak istilah yang dahulu dipelajari dan sekarang menarik untuk dibuka kembali, dipertanyakan kembali, ditelusuri sumbernya, kemudian ditulis dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.

Maka pembahasan Farmasi di PUSTAHA tidak dibangun dengan posisi:

“Kami pernah sekolah Farmasi, maka percayalah kepada kami.”

Posisinya adalah:

“Kami pernah mempelajarinya. Sekarang mari kita buka kembali, periksa sumbernya, pahami, lalu tuliskan apa yang dapat kita pertanggungjawabkan.”

Itulah perbedaan yang ingin dijaga.

Karena pendidikan mempunyai titik kelulusan.

Belajar tidak.


Catatan PUSTAHA

Tulisan ini merupakan bagian dari penelusuran pengetahuan Kesehatan PUSTAHA.

Tujuannya bukan memberikan diagnosis, menentukan terapi, ataupun menggantikan dokter, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya.

Untuk menjaga ruang penelusuran tetap jelas, tulisan ini secara sengaja membatasi keluarga sumber utamanya pada World Health Organization (WHO), Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), serta literatur pendidikan dan sejarah farmasi yang berkembang dalam lingkungan akademik Amerika Serikat.

Pembatasan sumber tersebut juga berarti terdapat pertanyaan yang belum dapat dijawab dalam tulisan ini.

Salah satunya adalah kapan tepatnya istilah “farmasi” pertama kali digunakan dalam bahasa Indonesia.

PUSTAHA tidak menetapkan jawaban ketika bukti yang digunakan belum mencukupi.

Jika suatu saat pembahasan tersebut ditelusuri secara khusus dengan sumber sejarah bahasa Indonesia yang lebih luas, hasilnya dapat menjadi catatan tersendiri.

Tulisan ini juga menjadi pembuka.

Kata farmasi telah kita bongkar.

Tetapi di dalamnya kita menemukan banyak kata lain:

obat,

bahan obat,

farmakologi,

farmakokinetika,

farmasetika,

farmakognosi,

sediaan farmasi,

dosis,

apoteker,

apotek,

dan seterusnya.

Masing-masing masih menyimpan pertanyaan.

Dan masing-masing dapat kita buka kembali satu per satu.


Sumber & Referensi

1. World Health Organization (WHO)

World Health Organization & International Pharmaceutical Federation.
Joint FIP/WHO Guidelines on Good Pharmacy Practice: Standards for Quality of Pharmacy Services.
WHO Technical Report Series No. 961, Annex 8. World Health Organization, 2011.

Digunakan PUSTAHA untuk memahami perkembangan praktik kefarmasian, peran farmasis, pengelolaan produk medis, terapi obat, pelayanan, serta hubungannya dengan sistem kesehatan dan kesehatan masyarakat.

https://www.who.int/publications/m/item/annex-8-trs-961

World Health Organization & International Pharmaceutical Federation.
Developing Pharmacy Practice: A Focus on Patient Care.
World Health Organization, 2006.

Digunakan sebagai rujukan mengenai perkembangan praktik farmasi dan perubahan orientasi pelayanan menuju perhatian yang lebih besar terhadap pasien dan penggunaan obat.

2. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI)

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
Daftar Istilah — Direktorat Standardisasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik.

Digunakan untuk memeriksa terminologi Indonesia mengenai obat, bahan obat, sediaan farmasi, serta kelompok produk yang termasuk dalam pengertian sediaan farmasi. Definisi yang ditampilkan BPOM pada bagian terkait merujuk antara lain pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

https://standar-otskk.pom.go.id/otskk-db/kategori/daftar-istilah

3. Literatur Pendidikan dan Sejarah Farmasi Amerika Serikat

Kremers, Edward; Urdang, George; Sonnedecker, Glenn (ed.).
Kremers and Urdang's History of Pharmacy.
Lippincott.

Digunakan untuk menelusuri perkembangan sejarah farmasi, praktik kefarmasian, pendidikan, profesi, serta perkembangan farmasi di Eropa dan Amerika Serikat.

Remington.
The Science and Practice of Pharmacy.
Literatur rujukan farmasi yang membahas spektrum luas ilmu farmasi dan praktik kefarmasian. Edisi modernnya diterbitkan sebagai Remington: The Science and Practice of Pharmacy.

Digunakan PUSTAHA untuk memahami farmasi sebagai bidang yang mencakup dimensi ilmu sekaligus praktik.


Penelusuran PUSTAHA: 11 September 2026

PUSTAHA — INGAT · TULIS · RILIS

Catatan PUSTAHA

Informasi kesehatan di PUSTAHA disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi umum, bukan sebagai pengganti diagnosis, pemeriksaan, atau saran langsung dari tenaga kesehatan profesional.

PUSTAHA • DISKUSI

Komentar

Memuat komentar...
Apa Itu Farmasi? Pengertian, Asal Kata dan Ilmu di Balik Obat | PUSTAHA