PUSTAHA • CATATAN
Mengapa Saya Menelusuri Sejarah Marga Sinaga
Sebuah pengantar pribadi sebelum memulai perjalanan menelusuri asal-usul, tarombo, sejarah, dan perjalanan Marga Sinaga.
Sebelum menelusuri sejarah Marga Sinaga lebih jauh, saya ingin memulai catatan ini dengan memperkenalkan diri, menjelaskan alasan penelusuran dilakukan, serta bagaimana PUSTAHA akan menempatkan tarombo, tradisi lisan, dan sumber sejarah dalam rangkaian catatan ini.

Kata Pengantar
Nama saya Armando Sinaga.
Saya bukan orang yang berpendidikan tinggi. Saya juga bukan seseorang yang memiliki kedudukan terhormat karena harta ataupun gelar pendidikan. Saya hanyalah seseorang yang, dengan kemampuan yang saya miliki, mencoba membangun sebuah tempat untuk mengingat, menulis, dan merilis apa yang saya temukan dan pelajari.
Tempat itu saya beri nama PUSTAHA — pustaha.com.
Dan melalui PUSTAHA inilah saya ingin memulai sebuah perjalanan yang sangat dekat dengan diri saya sendiri: mencari dan memahami sejarah Marga Sinaga.
Saya Armando Sinaga
Saya adalah Armando Sinaga Uruk, pomparan ni Op. Datu Horbo Sinaga.
Op. Datu Horbo Sinaga adalah opung kami. Tugu beliau telah didirikan oleh para pomparannya dan berada di Parbuluan II, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.
Sebelum melanjutkan catatan ini, izinkan saya terlebih dahulu menyampaikan salam kepada seluruh pomparan ni Oppui:
Salam sehat ma di hamu amang, inang, namboru, abang, ito, dohot sude naso boi hu pajojor sada marsada.
Saya merupakan keturunan dari Bapak Agus Sinaga, yang juga bertempat tinggal di Parbuluan II.
Kami tiga bersaudara. Abang saya bernama Agus Mariaman Sinaga, saya sendiri Armando Sinaga, dan ito saya bernama Johana Putri Hotmian Sinaga.
Saya menuliskan bagian ini bukan untuk menempatkan keluarga saya sebagai pusat sejarah Marga Sinaga. Saya menuliskannya agar pembaca mengetahui dengan jelas dari mana posisi saya ketika memulai penelusuran ini.
Dengan demikian, apabila suatu hari ditemukan kekeliruan dalam pemahaman saya, orang lain dapat mengetahui titik awal perjalanan ini dan bagaimana pemahaman tersebut kemudian berkembang.
Dahulu, Sinaga Bagi Saya Sangat Sederhana
Sejauh mana saya mengenal Sinaga?
Pada awalnya sangat sederhana.
Opung saya Sinaga. Bapak saya Sinaga. Dan saya Sinaga.
Itulah yang saya ketahui.
Saya lahir membawa nama Sinaga dan tumbuh dengan nama itu. Dalam pemahaman saya dahulu, keadaan tersebut sudah cukup untuk menjelaskan siapa diri saya.
Namun semakin jauh saya berjalan, semakin saya menyadari bahwa Sinaga ternyata jauh lebih besar daripada apa yang dahulu saya pikirkan.
Saya mulai memahami Sinaga bukan sekadar nama yang ditempatkan di belakang nama seseorang. Dalam pemahaman yang saya warisi, Sinaga menunjukkan hubungan antargenerasi dan sebuah garis keturunan yang pada akhirnya seharusnya dapat ditelusuri menuju leluhur yang sama.
Karena itu saya mulai melihat marga seperti sebuah kartu identitas antargenerasi.
Tetapi kemudian muncul pertanyaan:
Apakah saya benar-benar memahami identitas yang saya bawa itu?
Ketika Saya Menemukan Banyak Versi
Perjalanan hidup kemudian mempertemukan saya dengan berbagai kelompok yang sama-sama menggunakan dan membawa nama Sinaga.
Di sinilah pertanyaan saya semakin banyak.
Saya menemukan cerita mengenai asal-usul yang tidak selalu sama. Saya menemukan penyebutan garis keturunan yang berbeda. Saya juga menemukan orang-orang yang sama-sama mengatakan dirinya Sinaga, tetapi penjelasan mengenai jalur keturunannya tidak selalu bertemu dengan apa yang selama ini saya ketahui.
Saya tidak ingin langsung mengatakan bahwa satu pihak benar dan pihak lainnya salah.
Sebaliknya, keadaan tersebut menjadi alarm bagi diri saya sendiri.
Mungkin sudah waktunya saya berbenah.
Kalau selama ini saya membawa Sinaga sebagai identitas, sudah seberapa jauh saya sendiri mengetahui sejarah identitas tersebut?
Kalau saya mengatakan berasal dari sebuah garis keturunan, dapatkah saya menunjukkan jalannya?
Kalau terdapat beberapa versi tarombo, dari mana masing-masing versi itu berasal?
Dan apabila terdapat perbedaan cerita, adakah peninggalan, dokumen, arsip, penelitian, tempat, makam, tugu, catatan kolonial, catatan pemerintahan, atau sumber lain yang dapat membantu mengujinya?
Dari pertanyaan-pertanyaan itulah catatan ini dimulai.
Saya Ingin Menguji Identitas yang Saya Bawa
Saya tidak ingin nama Sinaga pada diri saya berhenti sebagai sesuatu yang hanya saya terima karena dikatakan demikian oleh generasi sebelumnya.
Saya ingin mengenalnya.
Saya ingin menelusurinya.
Dan sejauh mungkin, saya ingin menguji apa yang saya ketahui dengan bukti.
Bagi saya, semakin kuat bukti yang ditemukan, semakin kuat pula dasar bagi seseorang untuk memahami jati dirinya.
Karena itulah perjalanan ini tidak hanya akan mencari cerita mengenai Sinaga yang selama ini saya kenal. Saya juga ingin mencari dan mempelajari versi-versi Sinaga lainnya.
Bukan untuk mencari lawan.
Bukan pula untuk sejak awal mengatakan bahwa mereka salah.
Justru keberadaan versi yang berbeda dapat menjadi petunjuk.
Jika semuanya kita letakkan berdampingan, kita dapat bertanya: di bagian mana cerita-cerita itu bertemu? Di bagian mana mulai bercabang? Kapan perbedaan itu muncul? Dan sumber apa yang mendukung masing-masing cerita?
Tarombo Sebagai Jalan Penelusuran
Bagi saya, tarombo adalah salah satu jalan untuk menemukan identitas yang sebenarnya.
Tetapi dalam catatan ini tarombo tidak akan berdiri sendirian.
Tarombo akan kita baca. Tradisi lisan akan kita dengarkan. Cerita para orang tua akan kita catat. Tugu dan tempat-tempat yang berhubungan dengan perjalanan keturunan akan kita perhatikan.
Setelah itu, sejauh sumber memungkinkan, semuanya akan dibandingkan dengan dokumen, arsip, penelitian, catatan pemerintahan, sumber akademik, dan bukti lain yang dapat diverifikasi.
Saya menyadari bahwa tidak semua cerita leluhur dapat dibuktikan dengan standar ilmu sejarah modern. Ada bagian yang mungkin tetap berada dalam wilayah tradisi dan ingatan kolektif.
Jika demikian, catatan ini akan mengatakan demikian.
Tradisi akan ditulis sebagai tradisi. Sumber sejarah akan ditulis sebagai sumber sejarah. Dugaan akan tetap disebut dugaan. Dan sesuatu yang belum dapat dibuktikan tidak akan dipaksakan menjadi fakta.
Apakah Sinaga Itu Satu?
Di sinilah salah satu pertanyaan terbesar saya berada.
Pemahaman yang saya warisi mengatakan bahwa Sinaga adalah satu, berasal dari satu garis leluhur, dan perjalanan sejarahnya berhubungan dengan wilayah Samosir yang sekarang.
Tetapi catatan ini tidak akan berhenti pada keyakinan saya tersebut.
Justru itulah yang akan diuji.
Benarkah semua orang yang sekarang membawa Marga Sinaga dapat ditelusuri menuju satu garis leluhur?
Bagaimana tarombonya?
Sejak kapan nama Sinaga dapat ditemukan?
Di mana jejak tertuanya?
Bagaimana hubungannya dengan Samosir?
Kapan keturunannya mulai menyebar ke wilayah lain?
Apakah semua versi tarombo yang ada sekarang dapat dipertemukan?
Jika tidak, sejak bagian mana perbedaannya terjadi?
Saya ingin mencari jawabannya satu per satu.
Catatan Ini Tidak Ditutup untuk Koreksi
Saya tidak menulis catatan ini untuk mengatakan bahwa apa yang saya ketahui hari ini merupakan kebenaran terakhir.
Justru sebaliknya.
Catatan ini terbuka untuk diperbarui.
Apabila saudara-saudara Sinaga mempunyai tarombo lama, dokumen keluarga, arsip, foto lama, tulisan, catatan leluhur, informasi mengenai makam atau tugu, maupun sumber lain yang dapat diperiksa, saya berharap semuanya dapat ikut menjadi bagian dari penelusuran ini.
Tetapi setiap perubahan yang menyangkut fakta akan saya usahakan melalui proses verifikasi terlebih dahulu.
Saya ingin meninggalkan kepada generasi berikutnya bukan sekadar kumpulan cerita, tetapi sebuah jejak penelusuran: apa sumbernya, dari mana keterangannya diperoleh, apa yang sudah dapat dibuktikan, dan apa yang masih menjadi pertanyaan.
Dengan demikian, apabila suatu hari ditemukan bukti yang lebih kuat, generasi berikutnya tidak perlu mempertahankan kesalahan hanya karena kesalahan itu telah lama diceritakan.
Mereka dapat memperbaikinya.
Untuk Generasi Sinaga Berikutnya
Kerinduan saya sederhana.
Na uli do poda tona ni Oppui, jala diramoti sude pinopparna ro di salelenglelengna.
Dan pesan yang ingin saya pegang dalam perjalanan ini adalah:
Namartua do Sinagai, jala nahot di akka poda.
Catatan ini juga merupakan ajakan saya kepada generasi muda Marga Sinaga.
Jika suatu hari kalian menemukan tulisan ini, jangan hanya menjadi pembaca.
Carilah sejarah keluarga kalian.
Tanyakan kepada orang tua dan oppung selagi mereka masih dapat bercerita. Catat nama-nama yang masih mereka ingat. Simpan dokumen lama. Dokumentasikan tugu, makam, huta, dan peninggalan yang masih ada. Jika menemukan sebuah klaim sejarah, cari sumbernya.
Kemudian mari kita pertemukan semuanya.
Bukan untuk membesarkan kelompok kita masing-masing, melainkan untuk bersama-sama menjaga sesuatu yang kelak akan diwariskan kepada generasi setelah kita.
Perjalanan Ini Baru Dimulai
Saya memulai perjalanan ini dengan banyak pertanyaan dan pengetahuan yang masih terbatas.
Mungkin sebagian pemahaman saya hari ini akan bertahan setelah diuji.
Mungkin sebagian lainnya justru harus saya koreksi sendiri.
Saya siap untuk keduanya.
Sebab tujuan penelusuran ini bukan mempertahankan apa yang ingin saya percayai. Tujuannya adalah mencari sejauh mana sejarah dapat membawa kita kepada sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, setelah kata pengantar ini, saya akan memulai dari pertanyaan yang paling dasar:
Siapakah Sinaga?
Siapa yang disebut sebagai leluhur Sinaga dalam tarombo?
Di mana kisah tentangnya bermula?
Apa sumber tertua yang masih dapat kita temukan?
Dan apakah berbagai cabang yang hari ini membawa nama Sinaga benar-benar dapat ditelusuri kembali kepada satu leluhur yang sama?
Dari pertanyaan itulah Perkembangan berikutnya dimulai.
HAL YANG BELUM TERJAWAB
Pertanyaan yang Belum Terjawab
-
Siapakah tokoh leluhur yang disebut sebagai Ompu Sinaga dalam berbagai tarombo Marga Sinaga?
-
Sejauh mana berbagai kelompok yang sekarang memakai Marga Sinaga dapat ditelusuri kepada satu garis leluhur yang sama?
-
Apa sumber tertua yang dapat ditemukan mengenai nama Sinaga?
-
Bagaimana hubungan sejarah Marga Sinaga dengan Samosir?
-
Di wilayah mana jejak awal keturunan Sinaga dapat ditelusuri dan diverifikasi?
-
Bagaimana susunan tarombo Sinaga dari leluhur awal hingga munculnya berbagai cabang keturunan?
-
Mengapa terdapat versi atau susunan tarombo yang berbeda di antara kelompok-kelompok Sinaga?
-
Kapan dan bagaimana keturunan Sinaga mulai menyebar dari wilayah asal menuju daerah-daerah lain?
-
Di manakah posisi Op. Datu Horbo Sinaga dalam rangkaian tarombo tersebut?
-
Bukti apa yang masih dapat ditemukan hari ini—baik berupa dokumen, arsip, pustaha, tugu, makam, huta, penelitian, maupun tradisi lisan—untuk menguji berbagai keterangan tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan ini belum saya anggap memiliki jawaban final. Jawabannya akan dicari secara bertahap dalam Perkembangan Catatan berikutnya.
Penelusuran berikutnya dimulai dari pertanyaan paling dasar: Siapakah Sinaga?
SUMBER & REFERENSI
Sumber primer berupa keterangan pribadi Armando Sinaga mengenai identitas keluarga, garis keturunan yang dikenalnya sebagai pomparan ni Op. Datu Horbo Sinaga, pengalaman pribadi, pemahaman awal mengenai Marga Sinaga, serta alasan dilakukannya penelusuran ini. Keterangan dalam sumber ini menjadi titik awal penelusuran dan tidak dengan sendirinya diperlakukan sebagai bukti final atas sejarah, tarombo, maupun asal-usul Marga Sinaga. Klaim historis yang muncul dari keterangan pribadi akan diperiksa dan dibandingkan dengan sumber lain pada Perkembangan berikutnya.
