PUSTAHA • CATATAN
Apa Itu Keadilan?
Menimbang makna keadilan dari kehidupan sehari-hari: siapa yang berhak membicarakannya, apa yang membuat sesuatu disebut adil, dan apakah kerugian bagi diri sendiri selalu berarti ketidakadilan?
Kita sering mengatakan sesuatu adil atau tidak adil, tetapi pernahkah kita benar-benar mempertanyakan apa itu keadilan? Catatan ini lahir dari pertanyaan sederhana tentang bagaimana manusia menilai keadilan dan keinginan untuk mencari jawabannya melalui berbagai pemikiran sebagai pembanding.

Catatan ini bermula dari pertanyaan yang terus mengusik pikiran saya: apa sebenarnya keadilan itu? Kita begitu mudah mengucapkan kata adil dan tidak adil, tetapi siapa sebenarnya yang berhak berbicara dan menjelaskan keadilan? Apakah hanya filsuf, akademisi, hakim, praktisi hukum, dan mereka yang memiliki pendidikan tertentu? Bagaimana jika saya hanyalah masyarakat biasa, bahkan seseorang yang miskin dan tidak mempunyai kedudukan apa pun—apakah saya tetap berhak mempertanyakan dan mencoba memahami keadilan?
Pertanyaan itu kemudian saya bawa ke contoh sederhana. Saya dan Anda sama-sama petani, bertetangga, mengolah tanah dengan keadaan yang sama, dan menanam tanaman yang sama. Ketika panen tiba, hasil pertanian Anda lebih besar daripada hasil pertanian saya. Apakah keadaan itu berarti tidak adil bagi saya? Ataukah saya menyebutnya tidak adil hanya karena hasil yang saya peroleh lebih sedikit? Bagaimana jika keadaan tersebut dibalik dan justru saya yang memperoleh hasil lebih besar—apakah penilaian saya tentang keadilan akan ikut berubah?
Dari pertanyaan sederhana itulah penelusuran ini dimulai. Saya ingin mencari tahu apakah keadilan ditentukan oleh keuntungan dan kerugian yang kita terima, atau terdapat ukuran lain yang membuat sesuatu layak disebut adil atau tidak adil. Untuk menjawabnya, saya akan mencari berbagai pemikiran sebagai pembanding: menelusuri asal-usul gagasan keadilan, pemikiran terdahulu, filsafat, hukum, hingga perkembangan teori keadilan pada masa berikutnya. Setiap temuan akan dicatat sebagai perkembangan dari Catatan ini, bukan untuk membenarkan pendapat yang telah saya miliki, melainkan untuk mencari jawaban atas satu pertanyaan yang menjadi awal semuanya: Apa itu keadilan?
JEJAK PEMBELAJARAN
Perkembangan Catatan
19 September 2026
Plato: Keadilan dalam Negara dan Jiwa Manusia
Mengikuti jawaban Socrates terhadap tantangan Glaucon: mengapa pencarian keadilan diperbesar dari manusia menuju negara, lalu dibawa kembali ke dalam jiwa manusia.
Yunani Kuno — ditelusuri dari Indonesia

Plato: Keadilan dalam Negara dan Jiwa Manusia
Pada perkembangan sebelumnya, saya meninggalkan satu pertanyaan yang sulit:
Jika saya dapat melakukan ketidakadilan, memperoleh keuntungan darinya, dan tidak pernah tertangkap, mengapa saya tetap harus memilih keadilan?
Cincin Gyges telah menghilangkan hampir seluruh alasan eksternal.
Tidak ada polisi yang dapat menangkap saya.
Tidak ada hakim yang dapat menghukum saya.
Tidak ada masyarakat yang mengetahui perbuatan saya.
Tidak ada reputasi yang rusak.
Bahkan saya mungkin memperoleh keuntungan besar dari ketidakadilan tersebut.
Jika keadilan tetap layak dipilih dalam keadaan seperti itu, maka jawabannya tidak cukup hanya:
“Karena ketidakadilan dilarang.”
Socrates harus menunjukkan sesuatu yang lebih dalam.
Ia harus menunjukkan bahwa menjadi adil mempunyai nilai bagi orang yang adil itu sendiri.
Dan untuk mencari jawabannya, Republic mengambil jalan yang pada awalnya terasa aneh.
Alih-alih langsung membedah satu manusia, Socrates mengajak lawan bicaranya membangun sebuah kota dalam pembicaraan.
Mengapa?
Mengapa Mencari Keadilan dalam Sebuah Negara?
Bayangkan saya diminta membaca tulisan yang sangat kecil.
Saya kesulitan melihat huruf-hurufnya.
Kemudian seseorang menunjukkan tulisan yang sama dalam ukuran jauh lebih besar.
Saya membaca tulisan besar terlebih dahulu.
Setelah mengetahui bentuknya, saya kembali melihat tulisan kecil.
Kurang lebih demikian analogi yang digunakan dalam Republic.
Jika keadilan terdapat pada manusia dan juga dapat ditemukan dalam kota, Socrates berharap keadilan akan lebih mudah dikenali terlebih dahulu dalam sesuatu yang lebih besar.
Maka pencarian diperbesar.
Dari:
manusia
menjadi:
polis atau kota.
Tetapi ini bukan berarti Plato sedang mengatakan bahwa manusia dan negara adalah benda yang identik.
Ini adalah strategi penyelidikan.
Cari keadilan dalam ukuran besar.
Kenali bentuknya.
Kemudian kembali kepada manusia.
Dari Mana Sebuah Kota Bermula?
Menariknya, Socrates tidak memulai negara dengan istana.
Tidak dengan tentara.
Tidak pula dengan raja.
Ia memulainya dari sesuatu yang sangat sederhana:
manusia tidak mencukupi dirinya sendiri.
Saya membutuhkan makanan.
Tetapi saya tidak menghasilkan semuanya sendiri.
Saya membutuhkan pakaian.
Saya membutuhkan tempat tinggal.
Saya membutuhkan alat.
Orang lain juga mempunyai kebutuhan.
Karena masing-masing mempunyai kebutuhan dan kemampuan berbeda, manusia hidup bersama dan saling memenuhi kebutuhan.
Dari sini kota mulai dibangun dalam pembicaraan.
Ada petani.
Ada pembuat rumah.
Ada penenun.
Ada pembuat sepatu.
Kemudian kebutuhan berkembang.
Muncul pekerjaan lain.
Pertukaran terjadi.
Pasar berkembang.
Kehidupan bersama menjadi semakin kompleks.
Pembagian Pekerjaan Menjadi Penting
Salah satu prinsip yang muncul sejak pembangunan kota adalah bahwa pekerjaan akan dilakukan lebih baik ketika seseorang menjalankan pekerjaan yang sesuai dengannya dan tidak mencoba mengerjakan semuanya sekaligus.
Seorang petani berkonsentrasi menghasilkan pangan.
Seorang pembuat sepatu membuat sepatu.
Seorang pembangun membuat rumah.
Pada tahap ini saya mulai melihat benih dari gagasan yang nantinya menjadi sangat penting dalam definisi keadilan Plato:
melakukan pekerjaan yang menjadi bagiannya dan tidak mengambil alih pekerjaan yang bukan bagiannya.
Tetapi kita belum boleh langsung menyebutnya keadilan.
Kota masih berkembang.
Kota Sederhana Tidak Bertahan Sederhana
Kebutuhan dasar ternyata bukan akhir dari keinginan manusia.
Manusia tidak hanya menginginkan apa yang diperlukan untuk hidup.
Manusia juga menginginkan lebih.
Makanan yang lebih beragam.
Barang-barang.
Kemewahan.
Hiburan.
Tanah.
Sumber daya.
Ketika kebutuhan dan keinginan membesar, wilayah yang dimiliki dapat dianggap tidak lagi mencukupi.
Kemudian muncul persoalan dengan wilayah masyarakat lain.
Dan ketika konflik muncul, kota membutuhkan orang-orang yang bertugas menjaganya.
Muncullah kelompok penjaga.
Tetapi penjaga menghadirkan masalah baru.
Mereka harus kuat menghadapi musuh.
Namun mereka tidak boleh menggunakan kekuatan yang sama untuk menindas masyarakat yang seharusnya mereka lindungi.
Bagaimana membentuk manusia seperti itu?
Dari sini Republic memasuki pembicaraan panjang mengenai pendidikan, karakter, musik, latihan jasmani, dan pembentukan penjaga.
Kita tidak perlu mengambil seluruh pembahasan tersebut sekaligus.
Yang penting bagi pencarian kita adalah bahwa kota mulai mempunyai bagian-bagian dengan fungsi berbeda.
Tiga Kelompok dalam Kota
Dalam bentuk kota yang kemudian dibangun dalam Republic, kita dapat melihat tiga kelompok utama.
Pertama adalah mereka yang menjalankan berbagai kegiatan produksi dan ekonomi.
Petani.
Pengrajin.
Pedagang.
Dan berbagai pekerjaan lain yang memenuhi kebutuhan masyarakat.
Kedua adalah kelompok auxiliaries atau penjaga pembantu, yang berhubungan dengan pertahanan dan pelaksanaan keputusan.
Ketiga adalah kelompok penguasa, yaitu mereka yang dianggap paling mampu memimpin dan mengambil keputusan bagi keseluruhan kota.
Sekarang kota mempunyai struktur.
Dan Socrates mulai mencari:
di mana keadilan berada?
Tetapi sebelum menemukannya, ia terlebih dahulu mencari beberapa kebajikan lain.
Kebijaksanaan
Sebuah kota disebut bijaksana bukan karena seluruh penduduknya mengetahui segala sesuatu.
Kebijaksanaan kota dikaitkan dengan pengetahuan yang diperlukan untuk mempertimbangkan kepentingan keseluruhan kota.
Dalam konstruksi Plato, kebijaksanaan terutama berada pada mereka yang memerintah dengan pengetahuan mengenai bagaimana kota seharusnya diarahkan.
Jadi kebijaksanaan berhubungan dengan bagian yang mengambil pertimbangan dan memimpin.
Keberanian
Kemudian ada keberanian.
Keberanian terutama dikaitkan dengan para penjaga yang mempertahankan keyakinan yang benar mengenai apa yang patut ditakuti dan apa yang tidak, sebagaimana dibentuk melalui pendidikan.
Mereka harus mampu mempertahankannya ketika menghadapi tekanan.
Jadi keberanian mempunyai tempat dan fungsi tertentu dalam struktur kota.
Pengendalian Diri
Lalu kita menemukan sesuatu yang berbeda:
sōphrosynē, yang sering diterjemahkan sebagai moderation atau temperance.
Berbeda dari kebijaksanaan dan keberanian yang lebih jelas dikaitkan dengan bagian tertentu, pengendalian diri berkaitan dengan keselarasan yang lebih luas.
Ada kesepakatan mengenai siapa yang seharusnya memerintah.
Yang lebih baik dalam fungsi pemerintahan memimpin.
Bagian lain tidak berebut mengambil fungsi tersebut.
Mulai terlihat sebuah pola.
Kota yang baik tidak berarti seluruh orang melakukan hal yang sama.
Justru setiap bagian mempunyai fungsi.
Dan bagian-bagian tersebut berada dalam hubungan yang teratur.
Sekarang tinggal satu kebajikan yang kita cari sejak awal:
keadilan.
Jadi, Apa Itu Keadilan Menurut Plato?
Setelah kebijaksanaan, keberanian, dan pengendalian diri ditemukan, Socrates menyadari bahwa sesuatu yang dicari sebenarnya telah berada di hadapan mereka sejak pembangunan kota dimulai.
Secara garis besar, keadilan dalam kota berkaitan dengan:
setiap bagian menjalankan pekerjaan yang menjadi bagiannya dan tidak mencampuri fungsi bagian lain.
Ini bukan sekadar perintah:
“Kerjakan pekerjaanmu.”
Maknanya lebih struktural.
Kota menjadi adil ketika bagian-bagiannya menjalankan fungsi yang sesuai dalam tatanan keseluruhan.
Penguasa menjalankan fungsi memerintah.
Penjaga menjalankan fungsi menjaga.
Kelompok lainnya menjalankan fungsi produksi dan kegiatan yang menjadi bagiannya.
Ketidakadilan muncul ketika bagian-bagian tersebut tidak lagi berada pada tatanannya dan mencoba mengambil fungsi yang tidak semestinya.
Tetapi sekarang saya mempunyai masalah.
Bukankah Kita Sedang Mencari Keadilan pada Manusia?
Benar.
Kita tidak memulai Catatan ini untuk mencari cara membangun kota Plato.
Kita sedang mencari:
Apa itu keadilan?
Dan terutama setelah Cincin Gyges:
Mengapa saya harus menjadi adil ketika ketidakadilan menguntungkan saya?
Maka setelah menemukan pola keadilan dalam kota, Socrates kembali kepada tulisan yang lebih kecil:
manusia.
Jika struktur tertentu dalam kota membuat kota adil, apakah terdapat sesuatu yang mirip di dalam diri manusia?
Di sinilah pembahasan menjadi jauh lebih menarik bagi saya.
Apakah Jiwa Manusia Juga Mempunyai Bagian?
Kita sering mengalami keadaan seperti ini.
Saya menginginkan sesuatu.
Tetapi pada saat yang sama saya mengatakan kepada diri sendiri:
“Jangan.”
Misalnya saya sangat haus.
Saya melihat minuman.
Sebagian diri saya menginginkannya.
Tetapi saya mengetahui ada alasan tertentu mengapa saya seharusnya tidak meminumnya.
Muncul pertentangan.
Jika diri manusia sepenuhnya satu dalam cara yang sederhana, bagaimana sesuatu yang sama dapat sekaligus mengarah kepada dua hal yang berlawanan dalam hubungan yang sama?
Dari persoalan semacam inilah Republic mengembangkan pembagian jiwa.
Secara garis besar kita kemudian bertemu tiga bagian:
akal atau bagian rasional — logistikon;
semangat — thymoeides atau thymos;
bagian yang berhubungan dengan berbagai hasrat — epithymētikon.
Mari kita lihat satu per satu.
Akal: Bagian yang Mempertimbangkan
Bagian rasional berhubungan dengan kemampuan mempertimbangkan.
Ia menghitung.
Ia mencari pengetahuan.
Ia menilai apa yang baik bagi keseluruhan diri.
Jika kita kembali kepada analogi kota, bagian ini mempunyai kemiripan fungsi dengan penguasa.
Bukan karena setiap pikiran manusia adalah seorang raja.
Tetapi karena akal seharusnya mempunyai kemampuan mempertimbangkan arah keseluruhan kehidupan.
Hasrat: Bagian yang Menginginkan
Kemudian ada bagian yang berhubungan dengan berbagai keinginan dan hasrat.
Lapar.
Haus.
Keinginan terhadap kesenangan.
Keinginan terhadap harta dan berbagai objek lainnya.
Hasrat sendiri tidak otomatis jahat.
Manusia membutuhkan makanan.
Manusia membutuhkan minuman.
Banyak keinginan mempunyai fungsi dalam kehidupan.
Persoalan muncul ketika keinginan mengambil alih seluruh arah manusia tanpa kendali dari pertimbangan yang seharusnya memimpin.
Thymos: Bagian yang Menarik
Di antara akal dan hasrat, Plato juga membedakan sesuatu yang sering diterjemahkan sebagai spirit atau bagian bersemangat.
Thymos dapat terlihat dalam kemarahan, keberanian, rasa harga diri, kemarahan terhadap sesuatu yang dianggap salah, atau dorongan mempertahankan sesuatu.
Ia bukan sekadar akal.
Tetapi juga bukan hanya hasrat tubuh.
Dalam jiwa yang tertata, bagian ini dapat menjadi sekutu akal.
Jika analogi kota digunakan, ia mempunyai kemiripan dengan fungsi para penjaga.
Sekarang kita mempunyai struktur yang menarik:
penguasa — penjaga — produsen
dalam kota,
dan:
akal — semangat — hasrat
dalam jiwa.
Sekarang Keadilan Kembali kepada Manusia
Jika keadilan kota muncul ketika bagian-bagian menjalankan fungsinya dengan benar, Plato membawa pola tersebut kembali ke dalam diri manusia.
Manusia yang adil bukan hanya seseorang yang:
tidak mencuri,
tidak menipu,
tidak mengambil tanah tetangganya,
atau mematuhi hukum.
Semua tindakan tersebut tetap penting.
Tetapi Plato mencoba bergerak lebih dalam.
Keadilan menyangkut tatanan internal manusia.
Akal menjalankan fungsi memimpin.
Semangat berada dalam hubungan yang benar dengannya.
Hasrat tidak mengambil alih kekuasaan atas keseluruhan diri.
Bagian-bagian tersebut menjalankan fungsi masing-masing dalam susunan yang teratur.
Dengan demikian, keadilan mulai terlihat seperti keteraturan atau harmoni jiwa.
Ketidakadilan Berarti Kekacauan di Dalam Diri
Sekarang kita balik.
Apa itu manusia tidak adil dalam kerangka ini?
Jika hasrat mengambil alih seluruh diri, sesuatu yang seharusnya tidak memimpin telah menjadi penguasa.
Jika setiap dorongan berebut menentukan tindakan, jiwa tidak lagi mempunyai tatanan yang benar.
Plato membandingkan keadilan dan ketidakadilan dengan keadaan sehat dan sakit.
Sebagaimana kesehatan tubuh berhubungan dengan keteraturan bagian-bagian tubuh, keadilan berhubungan dengan tatanan yang benar dalam jiwa.
Sedangkan ketidakadilan menyerupai konflik, pemberontakan, atau kekacauan di antara bagian-bagian tersebut.
Sekarang saya mulai melihat arah jawaban terhadap Gyges.
Mari Kita Kembalikan Cincin Gyges
Saya mempunyai cincin.
Saya dapat menjadi tidak terlihat.
Saya dapat mengambil tanah Anda.
Tidak ada orang yang mengetahui.
Tidak ada hukuman.
Saya mendapatkan keuntungan material.
Jika kita hanya menghitung akibat eksternal, saya mungkin terlihat menang.
Tanah saya bertambah.
Tidak ada penjara.
Nama saya tetap baik.
Masyarakat bahkan mungkin masih menyebut saya orang jujur.
Glaucon telah membuat tantangan tersebut sangat kuat.
Tetapi jawaban Plato bergerak ke tempat yang tidak dapat disembunyikan oleh cincin:
diri saya sendiri.
Menurut arah argumentasi ini, persoalannya bukan hanya:
“Apakah orang lain mengetahui saya telah melakukan ketidakadilan?”
Persoalannya juga:
“Menjadi manusia seperti apa saya ketika melakukan ketidakadilan?”
Cincin Dapat Menyembunyikan Tubuh, Tetapi Tidak Menata Jiwa
Ini mungkin salah satu bagian yang paling menarik dari seluruh penelusuran saya sejauh ini.
Cincin Gyges dapat menyembunyikan tindakan saya dari orang lain.
Tetapi jika Plato benar, cincin itu tidak dapat mengubah ketidakadilan menjadi keadaan jiwa yang sehat hanya karena tidak ada saksi.
Saya mungkin berhasil menipu dunia.
Tetapi tindakan saya tetap berasal dari dan sekaligus membentuk tatanan di dalam diri saya.
Jika keinginan memperoleh tanah membuat saya mengabaikan pertimbangan mengenai apa yang benar, maka keuntungan eksternal tersebut mungkin dibayar dengan sesuatu yang terjadi di dalam diri.
Dengan bahasa sederhana:
Saya mendapatkan tanah, tetapi apakah saya kehilangan keteraturan dalam diri saya sendiri?
Sekarang jawaban terhadap Gyges mulai terlihat.
Mengapa Saya Tidak Mengambil Tanah Anda?
Pada awalnya saya dapat menjawab:
karena saya takut ditangkap.
Gyges menghilangkan jawaban itu.
Saya dapat menjawab:
karena saya takut dipermalukan.
Gyges juga menghilangkannya.
Saya dapat menjawab:
karena saya akan kehilangan keuntungan.
Tidak.
Dalam eksperimen ini saya justru mendapatkan keuntungan.
Maka Plato menawarkan arah jawaban yang berbeda:
Ketidakadilan tidak hanya merugikan korban. Ketidakadilan juga berkaitan dengan keadaan jiwa pelakunya.
Saya tidak menolak mengambil tanah Anda hanya demi menghindari polisi.
Saya menolaknya karena membiarkan keinginan yang tidak semestinya menguasai diri akan membuat bagian-bagian dalam diri tidak berada pada tatanan yang seharusnya.
Jika demikian, keadilan mempunyai nilai internal.
Inilah jawaban yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan Glaucon.
Tetapi Apakah Jawaban Ini Benar-Benar Berhasil?
Di sinilah saya tidak ingin terlalu cepat mengatakan:
“Plato sudah menjawab semuanya.”
Karena justru setelah memahami jawabannya, saya memperoleh banyak pertanyaan baru.
Pertama:
mengapa akal harus memimpin?
Mengapa struktur jiwa harus seperti yang digambarkan Plato?
Apakah manusia memang benar-benar dapat dibagi menjadi tiga bagian dengan cara tersebut?
Kemudian persoalan kota.
Jika keadilan berarti setiap orang melakukan fungsi yang menjadi bagiannya, siapa yang menentukan fungsi tersebut?
Bagaimana jika seseorang ingin berpindah dari satu peran ke peran lain?
Bagaimana kita memastikan bahwa mereka yang disebut paling layak memerintah benar-benar memerintah demi keseluruhan dan bukan demi dirinya sendiri?
Dan ada pertanyaan yang lebih dekat dengan pencarian kita:
Apakah keteraturan selalu sama dengan keadilan?
Bayangkan sebuah sistem yang sangat teratur.
Setiap orang mempunyai posisi.
Tidak ada yang keluar dari posisinya.
Tetapi pembagian posisi tersebut sejak awal dibuat secara tidak adil.
Apakah keteraturan sistem itu cukup untuk membuatnya adil?
Saya belum mempunyai jawaban.
Kita Harus Membedakan “Memahami Plato” dan “Menerima Plato”
Ini penting bagi perjalanan Catatan ini.
Tujuan saya bukan mengumpulkan nama filsuf lalu menerima seluruh pendapat mereka.
Saya ingin mengetahui:
apa masalah yang mereka hadapi,
apa jawaban yang mereka berikan,
dan kemudian:
apakah jawaban tersebut mampu bertahan ketika kita uji?
Plato telah memberikan sesuatu yang sangat penting.
Ia memaksa saya melihat bahwa keadilan mungkin tidak hanya berbicara mengenai pembagian benda di luar diri.
Keadilan mungkin juga mempunyai hubungan dengan karakter dan keteraturan manusia yang bertindak.
Tetapi menerima pentingnya pertanyaan Plato tidak berarti saya harus menerima seluruh konstruksi negara atau teorinya tanpa pemeriksaan.
Mari Kita Uji dengan Dua Petani Sekali Lagi
Saya dan Anda tetap petani.
Tanah kita berdampingan.
Hasil panen Anda dua kali lebih besar daripada hasil saya.
Sekarang saya mempunyai beberapa alat berpikir yang tidak saya miliki ketika Catatan ini dimulai.
Saya tidak lagi dapat langsung berkata:
“Tidak adil, karena hasil Anda lebih banyak.”
Saya harus mencari penyebab perbedaannya.
Jika tidak ada hak saya yang dilanggar, perbedaan hasil belum membuktikan ketidakadilan.
Tetapi bagaimana jika sebuah aturan menentukan bahwa saya hanya boleh memperoleh satu hektare sedangkan Anda memperoleh sepuluh hektare?
Plato membuat saya bertanya:
apa fungsi dan alasan pembagian tersebut?
Tetapi saya masih belum puas.
Saya ingin bertanya:
mengapa Anda mendapatkan sepuluh dan saya satu?
Apakah karena kebutuhan?
Kemampuan?
Kontribusi?
Kelahiran?
Kekayaan?
Kedudukan?
Keputusan penguasa?
Atau sekadar karena seseorang mengatakan bahwa itulah posisi kita masing-masing?
Di sini teori Plato mulai bertemu dengan batas pertanyaan saya sendiri.
Keadilan Sebagai Harmoni Belum Menjawab Semua Persoalan Pembagian
Misalnya sebuah masyarakat sangat harmonis.
Tidak ada pertengkaran.
Semua menerima posisinya.
Tetapi satu kelompok memiliki hampir seluruh sumber daya.
Kelompok lain hidup dengan sangat sedikit.
Apakah harmoni tersebut membuktikan bahwa pembagiannya adil?
Belum tentu.
Kita masih membutuhkan ukuran untuk membicarakan:
siapa memperoleh apa,
berdasarkan apa,
dan:
bagaimana memperbaiki keadaan ketika seseorang menerima sesuatu yang bukan haknya atau mengalami kerugian karena tindakan orang lain.
Pertanyaan semacam ini akan menjadi sangat penting ketika kita meninggalkan Plato dan bertemu Aristoteles.
Tetapi sebelum itu, saya ingin memastikan bahwa kita benar-benar memahami apa yang telah ditemukan dari Plato.
Apa yang Saya Temukan dari Plato?
Saya belum menemukan definisi keadilan yang dapat saya nyatakan sebagai jawaban final.
Tetapi Plato telah mengubah bentuk pertanyaannya.
Sebelumnya:
Apakah saya mendapatkan bagian yang sama?
Kemudian:
Apakah aturan yang membaginya adil?
Kemudian:
Siapa yang membuat aturan tersebut?
Lalu melalui Gyges:
Mengapa saya harus adil jika saya dapat melakukan ketidakadilan tanpa dihukum?
Dan sekarang:
Apa yang terjadi kepada diri saya sendiri ketika saya menjadi adil atau tidak adil?
Pertanyaan mengenai keadilan ternyata bergerak dari masyarakat menuju hukum, dari hukum menuju kekuasaan, dari kekuasaan menuju pilihan individu, dan akhirnya menuju struktur diri manusia.
Jawaban Plato terhadap Gyges
Jika saya harus merangkum hasil penelusuran ini secara hati-hati, saya akan mengatakan:
Glaucon menantang Socrates untuk menunjukkan bahwa keadilan baik bukan hanya karena reputasi dan keuntungan eksternalnya.
Socrates kemudian mencari keadilan melalui kota.
Dalam kota, keadilan ditemukan dalam keteraturan bagian-bagian yang menjalankan fungsi masing-masing.
Struktur tersebut kemudian dibandingkan dengan manusia.
Dalam manusia, keadilan berhubungan dengan tatanan yang benar di antara bagian-bagian jiwa.
Dengan demikian, alasan menjadi adil tidak lagi sepenuhnya bergantung kepada apa yang diberikan masyarakat kepada kita.
Menjadi adil merupakan bagian dari keadaan baik manusia itu sendiri.
Sebaliknya, ketidakadilan tidak menjadi baik hanya karena berhasil disembunyikan.
Cincin Gyges dapat menghilangkan hukuman eksternal.
Tetapi dalam kerangka Plato, ia tidak dapat mengubah ketidakadilan menjadi kesehatan jiwa.
Itulah kekuatan jawaban Plato.
Tetapi Justru Sekarang Kita Harus Mengujinya
Saya tidak ingin meninggalkan Plato hanya dengan kekaguman.
Jika teori ini ingin membantu menjawab pertanyaan induk:
Apa itu keadilan?
maka teori tersebut harus berani diuji.
Apakah keadilan benar-benar dapat dijelaskan sebagai setiap bagian menjalankan fungsi yang semestinya?
Siapa yang menentukan “semestinya”?
Apakah tatanan sosial yang stabil selalu adil?
Apakah manusia benar-benar mempunyai struktur jiwa seperti yang diasumsikan teori tersebut?
Bagaimana dengan kebebasan individu?
Bagaimana dengan perpindahan kedudukan?
Bagaimana dengan ketimpangan?
Bagaimana dengan orang yang menolak peran yang diberikan kepadanya?
Dan yang paling penting:
Jika sebuah masyarakat tertata dengan sangat rapi tetapi pembagiannya merugikan sebagian manusia, apakah kita tetap berani menyebutnya adil?
Saya belum dapat menjawabnya.
Karena itu Plato belum boleh langsung kita tinggalkan.
Kita harus menguji teorinya sebelum bergerak kepada pemikir berikutnya.
Temuan Perkembangan Keempat
Pada tahap ini, saya menemukan setidaknya satu perubahan besar dalam cara saya memahami keadilan.
Keadilan tidak harus hanya dilihat sebagai keadaan di luar manusia.
Plato menawarkan kemungkinan bahwa keadilan juga merupakan keadaan di dalam diri manusia.
Seseorang mungkin mempunyai reputasi sebagai orang adil tetapi dirinya tidak tertata secara adil.
Sebaliknya, seseorang dapat tetap memilih keadilan meskipun tidak mendapatkan penghargaan dari masyarakat.
Ini membantu menjawab sebagian tantangan Cincin Gyges.
Tetapi teori tersebut sekaligus menciptakan masalah baru.
Jika keadilan adalah keteraturan:
keteraturan yang bagaimana?
Jika keadilan adalah setiap bagian menjalankan fungsinya:
siapa yang menentukan fungsi tersebut?
Dan jika sebuah negara mempunyai tatanan yang harmonis:
apakah harmoni itu sendiri cukup untuk membuktikan bahwa negara tersebut adil?
Pertanyaan itu belum selesai.
Arah Perkembangan Catatan Berikutnya
Perkembangan Catatan #5: Apakah Keadilan Plato Benar-Benar Adil?
Pada perkembangan berikutnya saya tidak akan mencari teori baru terlebih dahulu.
Saya ingin melakukan sesuatu yang berbeda.
Menguji Plato.
Kita akan mengambil teori yang baru saja dipelajari dan menempatkannya di hadapan pertanyaan-pertanyaan konkret.
Bagaimana dengan kebebasan manusia?
Bagaimana dengan hierarki?
Bagaimana dengan pembagian peran?
Bagaimana dengan kekuasaan para penguasa?
Bagaimana jika keteraturan dipertahankan dengan membatasi pilihan individu?
Apakah masyarakat yang harmonis otomatis merupakan masyarakat yang adil?
Dan apakah definisi keadilan sebagai “setiap bagian menjalankan fungsinya” cukup untuk menjawab persoalan dua petani yang sejak awal kita bawa?
Setelah Plato diuji, barulah saya ingin bertemu dengan Aristoteles.
Karena Aristoteles akan membawa pencarian ini ke arah yang sangat dekat dengan pertanyaan awal kita:
Jika saya dan Anda tidak memperoleh bagian yang sama, kapan perbedaan itu dapat disebut adil dan kapan ia berubah menjadi ketidakadilan?
Di sana kita akan mulai berhadapan dengan kesetaraan, proporsi, pembagian, dan perbaikan terhadap kerugian.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya sejak Catatan ini dimulai, contoh dua petani kita akan memperoleh alat yang lebih tajam untuk menjawabnya.
HAL YANG BELUM TERJAWAB
Jika keadilan menurut Plato berkaitan dengan setiap bagian menjalankan fungsi yang semestinya, siapa yang menentukan apa yang semestinya menjadi fungsi seseorang?
Apakah masyarakat yang tertata, stabil, dan harmonis otomatis dapat disebut adil?
Bagaimana jika keteraturan tersebut dibangun di atas pembagian kedudukan yang sejak awal tidak seimbang?
Bagaimana dengan kebebasan seseorang untuk menentukan jalan hidupnya sendiri?
Jika seseorang dianggap lebih cocok berada pada suatu posisi tetapi ia ingin menjalankan peran yang berbeda, apakah mempertahankannya pada posisi lama merupakan keadilan karena menjaga keteraturan, atau justru ketidakadilan terhadap dirinya?
Kemudian saya kembali kepada dua petani dalam Catatan induk. Jika saya memperoleh satu bagian dan Anda memperoleh sepuluh bagian, mengatakan bahwa kita masing-masing telah menjalankan fungsi kita belum menjawab pertanyaan yang paling penting:
Mengapa Anda memperoleh sepuluh sementara saya memperoleh satu?
Atas dasar kebutuhan? Kemampuan? Kontribusi? Hak? Kedudukan? Atau hanya karena tatanan masyarakat telah menentukan demikian?
Sebelum berpindah kepada teori keadilan berikutnya, pertanyaan-pertanyaan ini harus digunakan untuk menguji Plato sendiri. Jika sebuah teori keadilan tidak dapat menjelaskan kapan sebuah keteraturan berubah menjadi ketidakadilan, maka masih ada sesuatu yang perlu kita cari.
SUMBER & REFERENSI
Sumber primer utama untuk mengikuti argumentasi Socrates dari pembangunan kota dalam pembicaraan menuju pencarian keadilan dalam negara dan manusia. Digunakan untuk pembahasan pembagian fungsi dalam kota, kebijaksanaan, keberanian, pengendalian diri dan keadilan, serta argumentasi mengenai pembagian jiwa menjadi bagian rasional, bersemangat, dan berhasrat. Buku IV menjadi rujukan utama untuk keadilan sebagai keadaan ketika bagian-bagian menjalankan fungsinya dalam tatanan yang semestinya.
Digunakan untuk memahami struktur keseluruhan argumentasi Republic, khususnya alasan Socrates mencari keadilan dalam kota sebelum kembali kepada manusia, hubungan antara keadilan negara dan keadilan pribadi, pembagian jiwa menjadi reason, spirit, dan appetite, serta hubungan keadilan dengan keadaan baik atau teraturnya jiwa.
Digunakan sebagai rujukan akademik khusus untuk pembahasan empat kebajikan dalam negara, definisi keadilan sebagai setiap bagian menjalankan fungsinya, pembagian jiwa menjadi bagian rasional (logistikon), bersemangat (thumoeides), dan berhasrat (epithumētikon), serta analogi antara keadilan dan kesehatan atau harmoni jiwa.
19 September 2026
Plato dan Cincin Gyges: Apakah Kita Tetap Adil Jika Tidak Ada yang Melihat?
Menguji alasan manusia memilih keadilan melalui kisah Cincin Gyges: apakah kita berlaku adil karena keadilan itu sendiri, atau hanya karena takut diketahui, dihukum, dan kehilangan nama baik?
Yunani Kuno — ditelusuri dari Indonesia

Plato dan Cincin Gyges: Apakah Kita Tetap Adil Jika Tidak Ada yang Melihat?
Pada akhir perkembangan sebelumnya, saya sampai pada sebuah pertanyaan yang terasa jauh lebih pribadi daripada seluruh pembicaraan tentang hukum dan kekuasaan.
Saya tidak lagi hanya ingin bertanya:
Apakah hukum ini adil?
Saya juga tidak lagi hanya bertanya:
Siapa yang menentukan keadilan?
Sekarang pertanyaannya saya arahkan kepada diri saya sendiri.
Apakah saya tetap memilih berlaku adil jika tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang saya lakukan?
Bayangkan malam ini saya memperoleh sebuah benda yang memberikan kemampuan luar biasa.
Ketika benda itu saya gunakan, saya menjadi tidak terlihat.
Tidak ada manusia yang dapat mengenali saya.
Tidak ada kamera yang dapat merekam identitas saya.
Tidak ada saksi yang dapat menunjuk saya.
Saya dapat mengambil sesuatu dan tidak diketahui.
Saya dapat memasuki tempat yang seharusnya tidak boleh saya masuki.
Saya dapat melakukan kecurangan tanpa tertangkap.
Bahkan jika saya melakukan sesuatu yang sangat merugikan orang lain, tidak seorang pun dapat membuktikan bahwa sayalah pelakunya.
Tidak ada hukuman.
Tidak ada rasa malu di hadapan masyarakat.
Tidak ada nama baik yang rusak.
Tidak ada pengadilan yang menunggu.
Sekarang saya harus menjawab:
Apakah saya masih memilih menjadi orang yang adil?
Pertanyaan ini terdengar seperti cerita modern.
Padahal persoalan semacam ini telah diajukan lebih dari dua ribu tahun lalu.
Dan salah satu bentuknya yang paling terkenal terdapat dalam Republic karya Plato.
Tetapi Sebelum Masuk ke Cincin Itu, Kita Harus Mengetahui Siapa yang Sedang Berbicara
Ada satu hal yang penting agar saya tidak salah memahami sumber.
Kisah Cincin Gyges terdapat dalam Buku II Republic.
Namun kisah tersebut disampaikan oleh Glaucon dalam percakapannya dengan Socrates.
Artinya, saya tidak boleh mengambil argumentasi Glaucon kemudian langsung menuliskannya sebagai:
“Plato mengatakan manusia pada dasarnya seperti ini.”
Itu terlalu cepat.
Glaucon sedang mengajukan sebuah tantangan argumentatif.
Ia ingin Socrates memberikan pembelaan yang jauh lebih kuat terhadap keadilan.
Jadi untuk memahami Cincin Gyges, saya harus terlebih dahulu memahami:
apa sebenarnya yang sedang diuji oleh Glaucon?
Glaucon Tidak Puas Jika Keadilan Hanya Dipuji
Pada awal Buku II, Glaucon meminta pembicaraan mengenai keadilan diteruskan.
Ia membedakan hal-hal yang dianggap baik ke dalam beberapa kelompok.
Ada sesuatu yang kita inginkan karena dirinya sendiri.
Ada sesuatu yang kita inginkan terutama karena hasil atau manfaat yang diberikannya.
Dan ada sesuatu yang kita hargai baik karena dirinya sendiri maupun karena akibat yang dihasilkannya.
Pertanyaannya kemudian:
Keadilan termasuk yang mana?
Socrates menempatkan keadilan pada kelompok yang bernilai baik pada dirinya sendiri sekaligus karena konsekuensinya.
Tetapi Glaucon belum puas.
Ia ingin mendengar pembelaan terhadap keadilan pada dirinya sendiri.
Bukan karena orang adil mendapatkan penghargaan.
Bukan karena mempunyai reputasi baik.
Bukan karena dipercaya masyarakat.
Bukan karena terhindar dari hukuman.
Glaucon ingin persoalannya dibersihkan dari seluruh keuntungan tambahan itu.
Dengan kata lain:
Jika seluruh hadiah karena menjadi adil kita hilangkan, apakah keadilan masih layak dipilih?
Nah.
Sekarang persoalannya menjadi jauh lebih berat.
Bagaimana Jika Keadilan Hanya Sebuah Kesepakatan?
Glaucon kemudian mencoba memperkuat tantangannya dengan menjelaskan suatu pandangan mengenai asal keadilan.
Menurut argumentasi yang ia bangun untuk diuji, melakukan ketidakadilan dianggap menguntungkan, sedangkan mengalami ketidakadilan dianggap buruk.
Masalahnya, keburukan yang dirasakan ketika menjadi korban ketidakadilan dianggap lebih besar daripada keuntungan yang diperoleh dari melakukan ketidakadilan.
Manusia tidak selalu cukup kuat untuk memastikan bahwa dirinya dapat melakukan ketidakadilan tanpa pernah menjadi korban.
Maka muncullah jalan tengah.
Manusia membuat kesepakatan.
Saya tidak mengganggu Anda.
Anda tidak mengganggu saya.
Saya tidak mengambil milik Anda.
Anda tidak mengambil milik saya.
Kemudian lahirlah aturan.
Apa yang diperintahkan oleh aturan tersebut disebut adil.
Jika argumentasi ini benar, muncul kemungkinan yang mengganggu:
Keadilan bukan sesuatu yang kita pilih karena kita mencintainya, tetapi kompromi karena kita takut menjadi korban.
Kita tidak cukup kuat untuk menjadi pelaku ketidakadilan tanpa risiko.
Karena itu kita sepakat membatasi diri bersama-sama.
Kembali kepada Dua Petani
Saya ingin membawa argumentasi ini kembali kepada contoh sederhana yang menjadi teman perjalanan Catatan ini.
Saya dan Anda adalah petani.
Saya ingin mengambil sebagian tanah Anda.
Anda juga mempunyai kemampuan mengambil sebagian tanah saya.
Tetapi kita berdua mengetahui bahwa apabila masing-masing terus berusaha mengambil milik yang lain, kita akan hidup dalam pertengkaran.
Maka kita membuat batas.
Sebelah sini milik saya.
Sebelah sana milik Anda.
Saya tidak melewati batas Anda.
Anda tidak melewati batas saya.
Apakah itu keadilan?
Mungkin.
Tetapi Glaucon sedang mendorong kita untuk bertanya lebih jauh.
Bagaimana jika suatu hari saya memperoleh kekuatan yang membuat Anda tidak mungkin menghentikan saya?
Apakah saya masih menghormati batas tersebut?
Jika jawabannya berubah hanya karena saya sekarang lebih kuat, mungkin kepatuhan saya sebelumnya bukan berasal dari keyakinan terhadap keadilan.
Mungkin saya hanya berhitung:
“Kalau saya melanggarnya, saya juga bisa dirugikan.”
Dan di sinilah cincin itu memasuki cerita.
Cincin Gyges
Glaucon menceritakan kisah tentang seorang penggembala yang bekerja untuk penguasa Lydia.
Dalam cerita tersebut terjadi peristiwa alam yang membuka tanah.
Sang penggembala turun ke dalam celah yang terbentuk.
Di sana ia menemukan sesuatu yang luar biasa.
Di antara hal-hal yang dilihatnya terdapat sebuah tubuh yang mengenakan cincin emas.
Ia mengambil cincin tersebut.
Kemudian ia menemukan kemampuan cincin itu.
Ketika bagian cincin diputar ke arah tertentu, pemakainya menjadi tidak terlihat.
Ketika diputar kembali, ia dapat terlihat lagi.
Sekarang seorang manusia biasa mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki manusia lainnya.
Ia dapat hadir tanpa diketahui.
Ia dapat bertindak tanpa dikenali.
Dan yang lebih penting untuk pembicaraan kita:
ia dapat melakukan sesuatu tanpa menghadapi pengawasan normal masyarakat.
Apa yang Dilakukan Pemilik Cincin?
Cerita tersebut tidak berhenti pada penemuan cincin.
Kemampuan itu digunakan.
Dalam kisah yang disampaikan Glaucon, sang pemilik cincin memanfaatkan kekuatan tersebut untuk mendekati lingkungan kerajaan.
Ia bersekongkol dengan ratu.
Raja dibunuh.
Kekuasaan kemudian direbut.
Cerita itu ekstrem.
Tetapi justru karena ekstrem, pertanyaan moralnya menjadi sangat jelas.
Orang yang sebelumnya hidup sebagai manusia biasa memperoleh kemampuan melakukan tindakan tanpa mudah diketahui atau dicegah.
Dan kekuatan tersebut tidak digunakannya untuk menjadi semakin adil.
Ia menggunakannya untuk memenuhi keinginan dan memperoleh kekuasaan.
Tetapi Sebenarnya Bukan Gyges yang Sedang Diuji
Semakin saya membaca persoalan ini, semakin saya melihat sesuatu yang menarik.
Tokoh dalam cerita bukan pusat persoalan sebenarnya.
Kitalah yang sedang diuji.
Karena Glaucon kemudian membuat eksperimennya lebih tajam.
Bayangkan terdapat dua cincin.
Satu diberikan kepada orang yang kita sebut adil.
Satu lagi diberikan kepada orang yang kita sebut tidak adil.
Keduanya memperoleh kekuatan yang sama.
Keduanya dapat melakukan apa pun tanpa terlihat.
Apa yang akan terjadi?
Dua Cincin, Dua Manusia
Inilah bagian yang membuat eksperimen tersebut menjadi sangat mengganggu.
Kita tidak boleh memberikan cincin hanya kepada orang jahat lalu berkata:
“Lihat, orang jahat menggunakannya untuk kejahatan.”
Itu tidak membuktikan banyak hal.
Berikan kekuatan yang sama kepada orang yang kita anggap sangat adil.
Hilangkan pengawasan.
Hilangkan hukuman.
Hilangkan risiko kehilangan reputasi.
Hilangkan kemungkinan tertangkap.
Kemudian lihat apa yang dilakukannya.
Tantangan Glaucon kurang lebih mengarah pada dugaan bahwa keduanya pada akhirnya akan bergerak menuju kepentingan pribadi.
Jika demikian, perbedaan antara orang adil dan orang tidak adil mungkin bukan terletak pada keinginannya.
Perbedaannya mungkin hanya terletak pada kesempatan.
Itu tuduhan yang sangat berat terhadap manusia.
Saya Harus Menguji Diri Saya Sendiri
Sekarang saya tidak ingin bersembunyi di balik tokoh-tokoh Yunani.
Saya ingin membawa cincin itu kepada diri saya sendiri.
Misalnya saya melihat uang dalam jumlah sangat besar.
Saya tahu siapa pemiliknya.
Dalam keadaan biasa saya tidak mengambilnya.
Mengapa?
Karena itu bukan milik saya?
Atau karena ada kamera?
Karena saya takut dipenjara?
Karena orang lain dapat melihat?
Karena saya takut disebut pencuri?
Sekarang matikan seluruh kamera.
Hilangkan seluruh saksi.
Buat pemilik uang tidak pernah mengetahui siapa yang mengambilnya.
Pastikan penyelidikan apa pun tidak mungkin menemukan saya.
Kemudian letakkan Cincin Gyges di tangan saya.
Apakah jawaban saya berubah?
Kalau berubah, saya harus berani mempertanyakan diri sendiri.
Takut Hukuman dan Menjadi Adil Bukan Hal yang Sama
Di sinilah saya mulai menemukan perbedaan yang sangat penting.
Seseorang dapat tidak melakukan ketidakadilan tanpa berarti ia telah memilih keadilan karena keadilan itu sendiri.
Misalnya saya tidak mencuri karena takut dipenjara.
Perilaku akhirnya memang sama:
saya tidak mencuri.
Tetapi alasan di belakangnya berbeda dengan seseorang yang mengatakan:
“Saya tidak mengambilnya karena itu bukan hak saya, sekalipun saya tidak mungkin tertangkap.”
Dari luar, kedua orang tersebut terlihat sama.
Tidak ada pencurian.
Tetapi Cincin Gyges mencoba membuka sesuatu yang tidak terlihat dari luar:
motif.
Apakah Hukum Hanya Membuat Kita Terlihat Adil?
Pertanyaan ini kemudian membawa saya kembali kepada hukum.
Hukum sangat penting.
Ancaman hukuman dapat mencegah manusia melakukan tindakan tertentu.
Tetapi apabila seseorang hanya berlaku benar karena takut kepada hukuman, hukum mungkin berhasil menghasilkan kepatuhan.
Belum tentu ia menghasilkan manusia yang adil.
Ini dua hal yang berbeda.
Saya dapat mematuhi aturan karena:
- saya percaya aturan tersebut benar;
- saya menghormati hak orang lain;
- saya takut dihukum;
- saya takut kehilangan pekerjaan;
- saya takut nama saya rusak;
- atau saya belum menemukan kesempatan untuk melanggarnya.
Dari luar semuanya dapat terlihat sebagai kepatuhan.
Tetapi alasannya dapat sangat berbeda.
Lalu Bagaimana dengan Orang yang Terlihat Sangat Baik?
Glaucon belum selesai.
Ia membawa eksperimen ini lebih jauh dengan memisahkan keadilan dari reputasi keadilan.
Ini penting.
Karena dalam kehidupan sosial, menjadi orang yang dianggap baik mempunyai keuntungan.
Orang mempercayai kita.
Kita memperoleh penghormatan.
Kita dapat dipercaya memegang tanggung jawab.
Nama kita baik.
Maka muncul persoalan:
Apakah saya menginginkan menjadi adil, atau hanya menginginkan dianggap adil?
Dua hal ini ternyata tidak selalu sama.
Orang Tidak Adil dengan Reputasi Orang Adil
Bayangkan seseorang sangat pandai melakukan ketidakadilan.
Ia mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri.
Ia memanipulasi keadaan.
Tetapi ia sangat pandai menyembunyikannya.
Di depan masyarakat ia terlihat jujur.
Ia mempunyai reputasi luar biasa.
Semua orang mempercayainya.
Sekarang bayangkan kebalikannya.
Seseorang benar-benar adil.
Tetapi karena fitnah atau keadaan tertentu, masyarakat menganggapnya tidak adil.
Ia kehilangan reputasi.
Ia dihukum.
Ia dicela.
Ia tidak mendapatkan keuntungan sosial karena keadilannya.
Sekarang pertanyaannya menjadi brutal:
Jika saya harus memilih, apakah saya ingin benar-benar adil tetapi dianggap tidak adil, atau menjadi tidak adil tetapi seluruh dunia menganggap saya adil?
Di sini kita tidak lagi dapat bersembunyi di balik penghargaan masyarakat.
Apakah Saya Menginginkan Keadilan atau Citra Keadilan?
Pertanyaan ini terasa sangat modern meskipun berasal dari teks kuno.
Sebab manusia hidup di hadapan manusia lainnya.
Kita membangun reputasi.
Kita menunjukkan tindakan.
Kita berbicara mengenai nilai.
Kita mengatakan bahwa kita jujur.
Kita mengatakan bahwa kita membela kebenaran.
Tetapi Cincin Gyges bertanya:
Apa yang kita lakukan ketika panggung itu kosong?
Ketika tidak ada penonton.
Ketika tidak ada pujian.
Ketika tidak ada penghargaan.
Ketika tidak ada kemungkinan orang mengetahui bahwa kitalah yang melakukan kebaikan tersebut.
Apakah kita masih melakukannya?
Jika tidak, mungkin yang kita cari sebenarnya bukan keadilan.
Mungkin yang kita cari adalah pengakuan sebagai orang yang adil.
Tetapi Jangan Terlalu Cepat Menyimpulkan Bahwa Manusia Pasti Jahat
Di sini saya harus berhenti sejenak.
Eksperimen Cincin Gyges memang dapat membuat kita tergoda mengatakan:
“Nah, terbukti manusia sebenarnya jahat.”
Tetapi itu bukan kesimpulan yang boleh saya ambil begitu saja.
Cerita tersebut adalah tantangan filosofis.
Ia tidak membuktikan secara empiris bahwa setiap manusia, tanpa pengecualian, pasti melakukan kejahatan apabila tidak dapat tertangkap.
Kita bahkan dapat membayangkan seseorang menerima cincin tersebut dan tidak menggunakannya untuk merugikan siapa pun.
Maka pertanyaan sebenarnya tetap terbuka:
mengapa orang itu memilih menahan diri?
Justru jawaban terhadap pertanyaan itulah yang kita cari.
Mungkin Cincin Itu Tidak Harus Benar-Benar Ada
Kemudian saya menyadari sesuatu.
Kita sebenarnya tidak membutuhkan cincin ajaib untuk menghadapi persoalan Gyges.
Dalam kehidupan nyata terdapat keadaan ketika seseorang merasa:
tidak ada yang melihat.
Kesempatan muncul.
Pengawasan lemah.
Bukti sulit ditemukan.
Kekuasaan berada di tangannya.
Orang lain mempercayainya.
Ia dapat mengambil keuntungan dan kemungkinan diketahui sangat kecil.
Pada saat seperti itulah persoalan Gyges muncul dalam bentuk nyata.
Bukan dalam bentuk cincin.
Tetapi dalam bentuk kesempatan tanpa pengawasan.
Kekuasaan Dapat Menjadi Semacam Cincin
Ini membawa saya kembali kepada perkembangan sebelumnya.
Thrasymachus membawa kita kepada hubungan antara keadilan dan pihak yang lebih kuat.
Sekarang Gyges memberikan perspektif lain.
Kekuasaan tidak harus membuat seseorang benar-benar tidak terlihat.
Cukup apabila kekuasaan membuatnya merasa:
saya dapat melakukan ini dan tidak akan ada akibatnya.
Dalam keadaan seperti itu, kekuasaan dapat bekerja seperti cincin.
Ia mengurangi hambatan.
Ia memperbesar kesempatan.
Ia memperkecil risiko.
Dan kemudian karakter seseorang diuji.
Tetapi sekali lagi, saya belum dapat mengatakan bahwa kekuasaan otomatis membuat manusia tidak adil.
Yang dapat saya katakan pada tahap ini lebih terbatas:
Semakin kecil risiko eksternal yang menahan seseorang, semakin penting alasan internal mengapa ia tetap memilih keadilan.
Sekarang Saya Kembali kepada Pertanyaan Awal Catatan Ini
Saya dan Anda adalah petani.
Hasil panen Anda lebih besar daripada hasil saya.
Pada Catatan induk saya bertanya:
Apakah itu tidak adil?
Pada perkembangan pertama saya mulai mengetahui bahwa perbedaan hasil belum membuktikan ketidakadilan.
Pada perkembangan kedua saya mulai bertanya mengenai aturan, hukum, kekuasaan, dan kepentingan.
Sekarang saya dapat membuat eksperimennya lebih tajam.
Bayangkan batas tanah kita jelas.
Saya tahu bagian saya.
Anda tahu bagian Anda.
Tidak ada perselisihan.
Suatu malam saya memperoleh Cincin Gyges.
Saya dapat memindahkan tanda batas tanah beberapa meter ke wilayah Anda.
Tidak ada seorang pun melihat.
Tidak ada bukti.
Besok pagi seluruh orang akan mengira bahwa batas baru itulah batas sebenarnya.
Saya mendapatkan tanah lebih luas.
Anda kehilangan sebagian tanah.
Dan saya tidak mungkin tertangkap.
Sekarang pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah saya mampu mengambil tanah Anda?”
Jelas saya mampu.
Pertanyaannya adalah:
“Mengapa saya tidak boleh mengambilnya?”
Inilah Pertanyaan yang Jauh Lebih Sulit
Saya dapat menjawab:
karena hukum melarangnya.
Tetapi dalam eksperimen ini saya tidak akan tertangkap.
Saya dapat menjawab:
karena masyarakat akan menganggap saya buruk.
Tetapi masyarakat tidak akan mengetahui.
Saya dapat menjawab:
karena reputasi saya akan hancur.
Tetapi reputasi saya justru tetap baik.
Saya dapat menjawab:
karena saya akan kehilangan keuntungan.
Justru sebaliknya.
Saya memperoleh keuntungan.
Satu demi satu alasan eksternal telah dihilangkan.
Sekarang hanya tersisa pertanyaan:
Apakah mengambil sesuatu yang bukan hak saya tetap buruk bagi saya meskipun tindakan itu memberikan keuntungan dan tidak seorang pun mengetahuinya?
Nah.
Sekarang saya mulai mengerti mengapa Socrates harus memberikan jawaban yang jauh lebih dalam daripada:
“Jadilah adil supaya tidak dihukum.”
Itu tidak cukup.
Cincin Gyges Berhasil Melakukan Satu Hal
Sampai di sini saya belum memperoleh definisi final mengenai keadilan.
Tetapi eksperimen ini berhasil melakukan sesuatu yang sangat penting.
Ia memisahkan beberapa hal yang selama ini mudah tercampur:
keadilan dan kepatuhan;
keadilan dan ketakutan;
keadilan dan reputasi;
keadilan dan keuntungan;
menjadi adil dan terlihat adil.
Seseorang dapat terlihat adil karena ia diawasi.
Seseorang dapat mematuhi hukum karena takut.
Seseorang dapat membangun reputasi baik karena reputasi tersebut menguntungkan.
Tetapi semua itu belum menjawab pertanyaan:
Apakah keadilan mempunyai nilai ketika seluruh keuntungan eksternalnya dihilangkan?
Temuan Saya pada Perkembangan Ketiga
Pada perkembangan pertama saya belajar bahwa kita harus membedakan asal kata, asal gagasan, dan perkembangan teori keadilan.
Pada perkembangan kedua saya belajar bahwa keadilan tidak dapat begitu saja disamakan dengan hukum, aturan, atau kepentingan pihak yang mempunyai kekuasaan.
Pada perkembangan ketiga ini saya menemukan persoalan baru:
Perilaku yang terlihat adil belum tentu membuktikan bahwa seseorang memilih keadilan karena keadilan itu sendiri.
Motif menjadi penting.
Kesempatan menjadi penting.
Pengawasan menjadi penting.
Kekuasaan menjadi penting.
Tetapi saya masih belum mempunyai jawaban terhadap pertanyaan terbesar Glaucon:
mengapa manusia harus menjadi adil jika ketidakadilan dapat memberikan keuntungan tanpa hukuman?
Dan justru karena pertanyaan itu belum terjawab, kita belum boleh meninggalkan Plato.
Plato Belum Selesai
Cincin Gyges bukan jawaban akhir Plato mengenai keadilan.
Ia justru membantu membangun masalah yang harus dijawab.
Jika Socrates ingin mempertahankan bahwa keadilan berharga bukan hanya karena hadiah, reputasi, dan hukuman, ia harus menunjukkan sesuatu yang jauh lebih besar:
bahwa menjadi adil memberikan sesuatu kepada manusia itu sendiri, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Tetapi bagaimana mungkin?
Jika saya mencuri dan tidak tertangkap, saya mendapatkan barang.
Jika saya merebut kekuasaan dan berhasil, saya mendapatkan kekuasaan.
Jika saya berbohong dan tidak diketahui, saya memperoleh keuntungan.
Di mana kerugian saya?
Plato membutuhkan jawaban yang tidak bergantung pada polisi.
Tidak bergantung pada hakim.
Tidak bergantung pada masyarakat.
Tidak bergantung pada kamera.
Tidak bergantung pada reputasi.
Jawabannya harus berada di dalam manusia itu sendiri.
Dan di sinilah perjalanan berikutnya dimulai.
Arah Perkembangan Catatan Berikutnya
Perkembangan Catatan #4: Plato — Keadilan dalam Negara dan Jiwa Manusia
Pada perkembangan berikutnya saya akan mengikuti bagaimana Socrates mencoba menjawab tantangan Glaucon.
Ia mengambil langkah yang sangat menarik.
Alih-alih langsung mencari keadilan di dalam satu manusia, pembicaraan diperbesar menuju sesuatu yang lebih mudah dilihat:
sebuah negara atau polis.
Bagaimana sebuah masyarakat terbentuk?
Siapa melakukan apa?
Apa fungsi para penguasa?
Apa fungsi penjaga?
Apa fungsi kelompok lainnya?
Dan kapan sebuah negara dapat disebut adil?
Setelah melihat keadilan dalam ukuran yang lebih besar, Plato kemudian membawa pencarian itu kembali kepada manusia.
Di sana kita akan bertemu dengan pembagian jiwa, hubungan antara akal, semangat, dan keinginan, serta gagasan bahwa keadilan mungkin bukan hanya tentang apa yang saya lakukan kepada orang lain.
Mungkin keadilan juga menyangkut:
keadaan seperti apa yang terjadi di dalam diri saya ketika saya menjadi manusia yang adil atau tidak adil.
Jika demikian, pertanyaan Cincin Gyges memperoleh bentuk baru.
Mungkin alasan saya tidak mengambil tanah Anda ketika tidak seorang pun melihat bukan semata-mata karena saya takut kepada hukum.
Mungkin tindakan tidak adil melakukan sesuatu kepada diri saya sendiri.
Apakah benar demikian?
Itulah yang akan saya cari pada perkembangan berikutnya.
HAL YANG BELUM TERJAWAB
Jika seseorang dapat memperoleh keuntungan melalui ketidakadilan tanpa diketahui, tanpa dihukum, dan tanpa kehilangan reputasinya, mengapa ia tetap harus memilih keadilan?
Apakah keadilan hanya berguna untuk menjaga kehidupan bersama, atau menjadi adil juga memberikan sesuatu kepada manusia yang menjalankannya?
Sebaliknya, apakah melakukan ketidakadilan dapat merusak pelakunya meskipun ia berhasil memperoleh keuntungan dan tidak pernah tertangkap?
Jika kerusakan itu memang ada, apa sebenarnya yang rusak?
Apakah pikirannya, karakternya, jiwanya, hubungannya dengan dirinya sendiri, atau sesuatu yang lain?
Dan apabila keadilan ternyata juga merupakan keadaan di dalam diri manusia, bagaimana kita dapat mengenalinya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut belum dijawab oleh Cincin Gyges. Kisah itu baru memperkeras tantangannya. Karena itu penelusuran berikutnya harus mengikuti jawaban Socrates dalam Republic: mencari keadilan terlebih dahulu dalam sebuah negara, kemudian membawanya kembali ke dalam jiwa manusia.
SUMBER & REFERENSI
Sumber primer utama untuk pembahasan Cincin Gyges dalam Republic Buku II, khususnya sekitar 359c–360d. Digunakan untuk memeriksa argumentasi Glaucon mengenai keadilan, kekuatan cincin yang membuat pemakainya tidak terlihat, tindakan pemilik cincin, serta eksperimen mengenai bagaimana orang adil dan tidak adil akan bertindak apabila keduanya memiliki kemampuan melakukan sesuatu tanpa diketahui dan tanpa menanggung hukuman.
Digunakan sebagai pembanding terjemahan Republic Buku II, terutama untuk memeriksa tantangan Glaucon mengenai alasan manusia menjalankan keadilan, pembagian jenis kebaikan, gagasan bahwa manusia dapat menaati keadilan karena tidak mempunyai kekuatan untuk melakukan ketidakadilan tanpa akibat, serta kisah Cincin Gyges.
Digunakan sebagai rujukan akademik untuk memahami posisi Cincin Gyges dalam keseluruhan argumentasi Republic. Sumber ini menjelaskan tantangan Glaucon dan Adeimantus kepada Socrates untuk menunjukkan bahwa keadilan layak dipilih bukan hanya karena reputasi, penghargaan, atau akibat eksternalnya, tetapi karena nilai keadilan bagi orang yang memilikinya. Sumber ini juga digunakan untuk memahami mengapa Socrates kemudian mencari keadilan melalui negara sebelum membawanya kembali kepada keadilan dalam diri manusia.
19 September 2026
Dari Hesiod hingga Perdebatan Yunani Kuno: Ketika Keadilan Mulai Dipertanyakan
Menelusuri perubahan gagasan keadilan dari dikē dalam pemikiran Yunani awal hingga munculnya pertanyaan tentang hukum, alam, kekuasaan, dan kepentingan pihak yang lebih kuat.
Yunani Kuno — ditelusuri dari Indonesia

Dari Hesiod hingga Perdebatan Yunani Kuno: Ketika Keadilan Mulai Dipertanyakan
Pada perkembangan sebelumnya, saya mencoba mencari dari mana gagasan keadilan berasal.
Hasilnya justru membawa saya kepada kesimpulan yang tidak sederhana.
Saya tidak menemukan satu orang yang dapat begitu saja disebut sebagai pencipta keadilan.
Kita dapat menelusuri asal sebuah kata. Kita dapat menemukan teks-teks lama yang membicarakan keadilan. Kita juga dapat mengetahui siapa yang kemudian menyusun teori tentang keadilan.
Tetapi ketiganya bukan hal yang sama.
Maka perjalanan ini saya lanjutkan.
Kali ini saya ingin berhenti pada salah satu tempat yang sangat berpengaruh dalam sejarah filsafat keadilan:
Yunani kuno.
Bukan karena saya ingin mengatakan bahwa keadilan lahir di Yunani.
Justru perkembangan sebelumnya telah mengingatkan saya untuk berhati-hati terhadap kesimpulan semacam itu.
Saya datang ke Yunani dengan pertanyaan lain:
Bagaimana persoalan keadilan berubah dari sesuatu yang dibicarakan dalam kehidupan manusia menjadi sesuatu yang diperdebatkan secara filosofis?
Dan semakin jauh saya menelusurinya, semakin menarik persoalannya.
Sebab ternyata manusia pada masa itu sudah menghadapi pertanyaan yang sampai sekarang belum benar-benar meninggalkan kita.
Apakah hukum selalu adil?
Apakah sesuatu menjadi adil hanya karena masyarakat menyepakatinya?
Apakah ada keadilan yang lebih tinggi daripada hukum buatan manusia?
Dan pertanyaan yang mungkin paling mengganggu:
Apakah keadilan sebenarnya hanyalah aturan yang menguntungkan orang yang mempunyai kekuasaan?
Jauh Sebelum Plato, Ada Hesiod
Jika kita langsung membuka pembahasan keadilan dengan Plato, kita dapat kehilangan bagian penting dari perjalanan gagasannya.
Karena beberapa abad sebelum Plato menulis Republic, penyair Yunani bernama Hesiod telah menggunakan istilah dikē dalam Works and Days.
Hesiod diperkirakan hidup sekitar akhir abad ke-8 atau awal abad ke-7 sebelum Masehi.
Dalam dunia Hesiod, persoalan keadilan belum tampil sebagai teori filsafat sistematis seperti yang kemudian kita temukan pada Plato atau Aristoteles.
Tetapi sesuatu yang penting sudah terlihat.
Dikē berhadapan dengan perilaku manusia.
Hesiod berbicara tentang keputusan yang menyimpang, suap, keserakahan, kekerasan, dan akibat dari tindakan yang tidak benar.
Ini berarti pembicaraan mengenai keadilan sejak awal bukan hanya permainan kata.
Ia bersentuhan dengan persoalan nyata:
bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.
Sebuah Perselisihan Keluarga Membawa Kita kepada Keadilan
Ada sesuatu yang membuat Works and Days terasa sangat manusiawi.
Hesiod tidak berbicara dari ruang yang sepenuhnya abstrak.
Karya tersebut diarahkan kepada saudaranya, Perses.
Dalam kisah yang disampaikan Hesiod, keduanya terlibat perselisihan mengenai pembagian warisan setelah kematian ayah mereka.
Hesiod menuduh Perses mengambil bagian lebih besar dan menghubungkan persoalan itu dengan para penguasa atau hakim yang ia gambarkan sebagai pemakan suap.
Bayangkan.
Lebih dari dua setengah milenium kemudian, persoalannya masih sangat mudah kita kenali.
Dua saudara.
Warisan.
Pembagian.
Kepentingan.
Pihak yang memutus.
Dugaan keberpihakan.
Dan sebuah pertanyaan:
Apakah pembagian tersebut adil?
Tiba-tiba kata keadilan yang tampak sangat filosofis kembali menjadi persoalan sehari-hari.
Tidak jauh berbeda dari pertanyaan kita mengenai tanah, hasil pertanian, pembagian hak, keputusan penguasa, atau sengketa yang terjadi sekarang.
Dikē: Lebih dari Sekadar “Saya Tidak Suka Hasilnya”
Dalam dunia Yunani awal, istilah dikē mempunyai sejarah makna yang kompleks.
Kita harus berhati-hati jika langsung menerjemahkan setiap kemunculannya sebagai “keadilan” dalam pengertian modern.
Dalam konteks yang berbeda, dikē dapat berkaitan dengan keputusan, penyelesaian, apa yang patut, atau tatanan yang benar.
Namun melalui perkembangan pemikiran Yunani, keluarga istilah ini kemudian menjadi sangat penting dalam pembicaraan mengenai keadilan.
Dari sinilah kita menemukan istilah seperti:
- dikē;
- dikaios — adil atau benar;
- dikaiosynē — keadilan sebagai sifat atau kebajikan;
- to dikaion — apa yang adil.
Perubahan bahasa ini penting.
Karena ketika manusia mulai mempunyai kosakata yang semakin kaya untuk membicarakan suatu persoalan, manusia juga dapat mempertanyakan persoalan itu dengan semakin rinci.
Bukan lagi hanya:
“Saya dirugikan.”
Tetapi:
“Atas dasar apa perlakuan ini dapat disebut adil atau tidak adil?”
Itulah perubahan besar yang mulai saya temukan.
Keadilan Mulai Keluar dari Perasaan Pribadi
Kita kembali sebentar kepada contoh dua petani dalam Catatan induk.
Saya dan Anda sama-sama petani.
Hasil panen Anda lebih besar.
Saya kemudian merasa:
“Tidak adil.”
Tetapi perasaan saya belum menjawab apa pun.
Saya harus menjelaskan:
apa yang Anda lakukan terhadap saya?
Apakah Anda mengambil hasil panen saya?
Apakah pembagian air sengaja dibuat agar hanya lahan Anda yang mendapatkannya?
Apakah penguasa memberikan hak khusus kepada Anda karena Anda membayarnya?
Atau Anda memang bekerja lebih efektif daripada saya?
Pertanyaan mengenai keadilan mulai membutuhkan alasan.
Dan di sinilah pencarian kita menjadi semakin sulit.
Sebab jika keadilan memerlukan alasan, kita membutuhkan ukuran.
Tetapi ukuran itu berasal dari mana?
Dari Kebiasaan Menuju Nomos
Ketika masyarakat Yunani berkembang, satu istilah lain menjadi sangat penting:
nomos.
Kata ini dapat berhubungan dengan kebiasaan, konvensi, aturan, dan kemudian hukum.
Manusia hidup bersama dan membutuhkan aturan.
Ada sesuatu yang boleh dilakukan.
Ada sesuatu yang dilarang.
Ada pembagian kewajiban.
Ada tata kehidupan masyarakat.
Ada keputusan politik.
Pada titik ini kita dapat tergoda membuat kesimpulan sederhana:
Yang sesuai hukum adalah adil.
Masalah selesai.
Tetapi ternyata tidak.
Justru dari sinilah masalah baru dimulai.
Jika Hukum Mengatakan Demikian, Apakah Otomatis Adil?
Bayangkan suatu masyarakat membuat aturan.
Aturan tersebut dibuat melalui mekanisme yang berlaku.
Ia sah.
Semua orang diwajibkan mematuhinya.
Tetapi aturan tersebut memberikan keuntungan besar kepada sekelompok kecil orang dan membebankan kerugian kepada kelompok lainnya tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Secara formal ia tetap sebuah aturan.
Tetapi apakah keberadaannya sebagai aturan sudah cukup untuk membuatnya adil?
Pertanyaan ini sangat penting.
Karena apabila kita menyamakan hukum dan keadilan secara mutlak, kita harus menerima konsekuensi:
Apa pun yang dibuat menjadi hukum harus kita sebut adil.
Tetapi sejarah manusia memperlihatkan bahwa hukum dapat berubah.
Apa yang pernah diperbolehkan dapat kemudian dilarang.
Apa yang pernah dilarang dapat kemudian diakui sebagai hak.
Maka kita menghadapi kemungkinan yang sangat mengganggu:
hukum dapat berlaku, tetapi manusia masih dapat mempertanyakan keadilannya.
Kalau begitu hukum dan keadilan mempunyai hubungan yang erat, tetapi keduanya tidak selalu dapat disamakan begitu saja.
Nomos dan Physis: Apakah Keadilan Dibuat Manusia?
Pada abad ke-5 SM, perdebatan intelektual Yunani semakin tajam.
Salah satu pasangan konsep yang menjadi penting adalah:
nomos dan physis.
Secara sederhana, nomos dapat menunjuk kepada aturan, kebiasaan, atau konvensi manusia.
Sementara physis menunjuk kepada alam atau kodrat.
Dari pertentangan inilah muncul pertanyaan yang sangat besar.
Apakah sesuatu dianggap adil karena manusia membuat aturan bahwa itulah yang adil?
Atau terdapat sesuatu yang adil berdasarkan alam atau kodrat, terlepas dari apa yang diputuskan manusia?
Mari kita buat sederhana.
Jika suatu kota mengatakan:
“X adalah adil.”
Apakah X menjadi adil karena kota tersebut mengatakannya?
Bagaimana jika kota lain mengatakan:
“X tidak adil.”
Apakah keadilan berubah ketika kita melewati batas kota?
Kalau jawabannya iya, keadilan tampaknya merupakan hasil kesepakatan manusia.
Tetapi kalau jawabannya tidak, kita harus mencari sesuatu di luar kesepakatan itu.
Sesuatu yang membuat sebuah aturan dapat diuji.
Dan pencarian terhadap sesuatu itulah yang kemudian membuka perdebatan panjang mengenai hukum alam, hak, moralitas, dan keadilan selama berabad-abad setelahnya.
Para Sophis Membuat Pertanyaannya Semakin Sulit
Di tengah perubahan politik dan intelektual Yunani, terutama Athena pada abad ke-5 SM, muncul kelompok guru dan pemikir yang kemudian dikenal sebagai Sophis.
Kita harus berhati-hati menggunakan istilah ini.
Para Sophis bukan satu kelompok dengan satu doktrin yang seragam.
Mereka mempunyai pandangan yang berbeda-beda.
Namun kehadiran mereka penting karena pembicaraan mengenai hukum, kebiasaan, alam, retorika, kekuasaan, dan kehidupan politik menjadi semakin kritis.
Jika hukum berbeda dari satu polis ke polis lainnya, bukankah itu menunjukkan bahwa banyak aturan sebenarnya dibuat manusia?
Jika aturan dibuat manusia, siapa yang membuatnya?
Untuk kepentingan siapa?
Dan mengapa saya harus menganggapnya adil?
Pertanyaan yang semula sederhana sekarang mulai menyentuh kekuasaan.
Bagaimana Jika Yang Kita Sebut “Adil” Hanyalah Kesepakatan?
Bayangkan sepuluh orang hidup bersama.
Delapan orang membuat aturan yang mengambil sebagian milik dua orang lainnya.
Delapan orang setuju.
Secara jumlah, mayoritas telah menentukan aturan.
Tetapi apakah persetujuan mayoritas otomatis menjadikannya adil?
Sekarang kita balik.
Satu orang adalah penguasa.
Ia membuat aturan yang menguntungkan dirinya.
Aturan itu berlaku kepada seluruh masyarakat.
Apakah karena aturan tersebut sah menurut kekuasaannya, maka aturan itu menjadi adil?
Pertanyaan seperti inilah yang membuat keadilan tidak dapat berhenti pada kata aturan.
Kita membutuhkan sesuatu untuk menilai aturan itu sendiri.
Tetapi apa?
Lalu Datang Pertanyaan yang Lebih Radikal
Dalam dialog Plato Gorgias, kita bertemu tokoh Callicles.
Penting untuk membedakan Callicles sebagai tokoh dialog dari Plato sendiri; kita tidak boleh begitu saja mengatakan bahwa semua yang diucapkan Callicles merupakan pandangan Plato.
Callicles membawa pertentangan nomos dan physis ke arah yang provokatif.
Secara garis besar, ia menggugat norma konvensional yang mengekang mereka yang secara alamiah lebih kuat atau lebih unggul.
Dalam gambaran seperti ini, aturan kesetaraan dapat dilihat bukan sebagai kemenangan keadilan, melainkan sebagai alat banyak orang yang lebih lemah untuk membatasi mereka yang lebih kuat.
Sekarang persoalannya berbalik.
Selama ini mungkin kita menganggap hukum melindungi yang lemah dari yang kuat.
Tetapi Callicles memaksa kita mempertimbangkan pertanyaan:
Bagaimana jika aturan yang kita sebut adil justru dibuat oleh banyak orang yang lemah untuk membatasi orang yang lebih kuat?
Saya belum mengatakan ia benar.
Justru nilai pertanyaan tersebut terletak pada kemampuannya memaksa kita menguji dasar keyakinan kita sendiri.
Thrasymachus Mengajukan Tantangan yang Lebih Terkenal
Kemudian kita sampai kepada tokoh yang sangat penting dalam perjalanan menuju teori Plato:
Thrasymachus.
Ia muncul dalam Buku I Republic.
Dalam perdebatan dengan Socrates, Thrasymachus mengajukan pandangan terkenal bahwa:
keadilan adalah keuntungan pihak yang lebih kuat.
Tetapi kalimat ini tidak boleh kita baca terlalu cepat.
Apa maksudnya?
Thrasymachus mengarahkan perhatian kepada penguasa.
Setiap bentuk pemerintahan membuat hukum sesuai dengan kepentingannya.
Pemerintahan demokratis membuat hukum demokratis.
Pemerintahan tiranis membuat hukum tiranis.
Kemudian pihak yang berkuasa menyatakan bahwa menaati hukum tersebut adalah adil dan melanggarnya adalah tidak adil.
Jika demikian, muncul gambaran yang sangat gelap:
mereka yang mempunyai kekuasaan menentukan aturan, lalu aturan tersebut diberi nama keadilan.
Coba Kita Bawa Thrasymachus ke Kehidupan Sederhana
Kembali kepada dua petani.
Saya dan Anda bertetangga.
Tetapi kali ini Anda bukan hanya petani.
Anda juga orang yang mempunyai kekuasaan menentukan pembagian air.
Anda membuat aturan:
“Lahan saya mendapatkan air selama enam hari. Lahan Anda mendapatkan air selama satu hari.”
Kemudian ketika saya memprotes, Anda menjawab:
“Itulah aturannya.”
Apakah saya harus menerima bahwa aturan itu adil hanya karena Anda mempunyai kewenangan membuatnya?
Thrasymachus membantu kita melihat persoalan yang sejak awal mungkin tersembunyi:
siapa yang membuat aturan dapat menjadi sama pentingnya dengan apa isi aturan tersebut.
Dan lebih jauh lagi:
kepentingan siapa yang dilayani oleh aturan itu?
Tetapi Apakah Thrasymachus Benar?
Di sinilah saya harus berhati-hati.
Menemukan sebuah teori bukan berarti menerimanya sebagai kebenaran.
Jika keadilan benar-benar hanyalah kepentingan pihak yang lebih kuat, kita menghadapi konsekuensi besar.
Tidak ada alasan independen untuk mengatakan bahwa penguasa yang menindas telah berlaku tidak adil.
Selama ia cukup kuat untuk menentukan hukum, tindakannya dapat diberi nama keadilan.
Tetapi kita juga menemukan masalah lain.
Bagaimana jika penguasa salah membuat keputusan dan justru membuat aturan yang merugikan dirinya sendiri?
Apakah menaati aturan itu masih merupakan keuntungan pihak yang lebih kuat?
Socrates menggunakan persoalan seperti ini untuk menekan argumentasi Thrasymachus.
Perdebatan kemudian bergerak kepada pertanyaan mengenai apa sebenarnya kepentingan penguasa dan apakah sebuah keahlian atau technē bekerja demi keuntungan pelakunya atau demi objek yang menjadi tanggung jawab keahlian tersebut.
Artinya, bahkan rumusan yang terdengar sangat tegas—
“keadilan adalah kepentingan pihak yang lebih kuat”
—ternyata tidak mengakhiri perdebatan.
Ia justru membukanya.
Sekarang Pertanyaan Saya Berubah
Pada awal Catatan ini saya bertanya:
“Jika hasil pertanian Anda lebih besar daripada hasil saya, apakah itu tidak adil bagi saya?”
Sekarang saya melihat bahwa pertanyaan tersebut masih terlalu cepat.
Sebelum mengatakan “tidak adil”, saya harus bertanya:
Mengapa hasilnya berbeda?
Apakah karena usaha?
Kemampuan?
Keadaan alam?
Keberuntungan?
Atau karena ada struktur dan aturan yang sengaja memberikan keuntungan kepada satu pihak?
Jika perbedaan itu berasal dari sebuah aturan, saya masih harus bertanya lagi:
siapa yang membuat aturan tersebut?
Atas dasar apa?
Untuk kepentingan siapa?
Dan bahkan setelah semua itu dijawab, masih ada pertanyaan:
Ukuran apa yang akan saya gunakan untuk mengatakan bahwa aturan tersebut adil atau tidak adil?
Inilah titik ketika pencarian keadilan mulai menjadi jauh lebih serius bagi saya.
Keadilan Ternyata Tidak Bisa Hanya Dirasakan
Sampai perkembangan kedua ini, satu hal mulai terlihat.
Perasaan dirugikan penting.
Ia dapat menjadi alasan kita mulai mempertanyakan sesuatu.
Tetapi perasaan dirugikan bukan bukti final bahwa ketidakadilan telah terjadi.
Demikian pula perasaan diuntungkan.
Keuntungan yang saya terima tidak membuktikan bahwa keadaan tersebut adil.
Kita membutuhkan alasan yang dapat diperiksa oleh orang lain.
Jika saya mengatakan:
“Ini tidak adil karena saya mendapatkan lebih sedikit.”
Anda berhak bertanya:
“Mengapa mendapatkan lebih sedikit berarti tidak adil?”
Dan saya harus mampu menjawabnya.
Di sinilah keadilan mulai bergerak dari perasaan menuju argumentasi.
Tetapi Kita Masih Belum Menemukan Jawabannya
Hesiod memperlihatkan hubungan keadilan dengan perilaku manusia, keputusan, dan kehidupan bersama.
Perkembangan masyarakat Yunani membawa kita kepada nomos.
Perdebatan nomos dan physis mempertanyakan apakah keadilan hanya hasil konvensi manusia atau mempunyai dasar yang lebih jauh.
Callicles mengguncang keyakinan mengenai kesetaraan dan kekuatan.
Thrasymachus membawa kita langsung kepada hubungan antara keadilan, hukum, kekuasaan, dan kepentingan.
Tetapi tidak satu pun dari perjalanan ini membuat pertanyaan kita selesai.
Justru sekarang muncul pertanyaan yang lebih mendasar:
Mengapa seseorang harus menjadi adil?
Bayangkan tidak ada polisi.
Tidak ada hakim.
Tidak ada kamera.
Tidak ada orang yang melihat.
Tidak ada seorang pun yang akan mengetahui apa yang kita lakukan.
Dan kita mempunyai kesempatan melakukan sesuatu yang menguntungkan diri sendiri dengan merugikan orang lain—
tanpa kemungkinan tertangkap.
Apakah kita masih akan memilih berlaku adil?
Jika jawabannya iya:
mengapa?
Jika jawabannya tidak:
mungkin selama ini kita berlaku adil bukan karena mencintai keadilan, tetapi karena takut terhadap akibat ketidakadilan.
Dan pertanyaan inilah yang membawa penelusuran saya kepada Plato.
Arah Perkembangan Catatan Berikutnya
Perkembangan Catatan #3: Plato dan Cincin Gyges — Apakah Kita Tetap Adil Jika Tidak Ada yang Melihat?
Pada perkembangan berikutnya, saya akan masuk lebih dalam ke Republic.
Bukan hanya untuk bertanya bagaimana Plato mendefinisikan keadilan.
Saya ingin memulai dari sebuah eksperimen pemikiran yang jauh lebih mengganggu:
Cincin Gyges.
Sebuah cincin yang membuat pemakainya tidak terlihat.
Tidak ada saksi.
Tidak ada hukuman.
Tidak ada reputasi yang harus dijaga.
Jika cincin itu berada di tangan saya—
apakah saya masih menjadi orang yang adil?
Dan jika saya hanya berlaku adil ketika orang lain dapat melihat saya, pertanyaannya menjadi lebih tajam:
Apakah saya benar-benar adil, atau saya hanya takut tertangkap?
HAL YANG BELUM TERJAWAB
Jika hukum, kebiasaan, kesepakatan masyarakat, bahkan kekuasaan belum dengan sendirinya membuktikan adanya keadilan, apa ukuran yang dapat kita gunakan untuk menentukan bahwa sesuatu benar-benar adil?
Mengapa manusia harus memilih berlaku adil apabila ketidakadilan justru memberikan keuntungan kepadanya?
Apakah manusia tetap akan berlaku adil ketika tidak ada hukum yang dapat menghukumnya, tidak ada masyarakat yang dapat menghakiminya, tidak ada seorang pun yang melihatnya, dan perbuatannya tidak mungkin diketahui?
Jika seseorang hanya berlaku adil karena takut dihukum atau takut diketahui orang lain, apakah ia benar-benar adil?
Pertanyaan inilah yang membawa penelusuran berikutnya kepada Plato dan kisah Cincin Gyges: sebuah pengujian tentang apakah manusia masih memilih keadilan ketika ia dapat melakukan ketidakadilan tanpa terlihat dan tanpa menanggung akibatnya.
SUMBER & REFERENSI
Digunakan sebagai rujukan akademik utama untuk menelusuri perkembangan gagasan keadilan Yunani sebelum dan menuju Plato, termasuk dikē dalam Hesiod, hubungan nomos dan keadilan, perdebatan nomos–physis, serta posisi Callicles dan Thrasymachus. Sumber ini membantu membedakan pandangan tokoh-tokoh dalam dialog Plato dari pandangan Plato sendiri.
Teks primer digunakan untuk memeriksa langsung perdebatan Socrates dan Thrasymachus dalam Buku I Republic, khususnya pernyataan bahwa yang adil adalah keuntungan pihak yang lebih kuat, hubungan antara penguasa dan hukum, serta sanggahan Socrates terhadap pandangan tersebut.
Digunakan sebagai pendamping akademik untuk memahami konteks argumentasi Buku I Republic, terutama posisi politik Thrasymachus mengenai hukum yang dibuat penguasa untuk kepentingannya sendiri, sanggahan Socrates, dan perkembangan perdebatan mengenai apakah kehidupan tidak adil lebih menguntungkan daripada kehidupan adil.
19 September 2026
Dari Mana Gagasan Keadilan Berasal?
Penelusuran awal tentang kata, gagasan, dan jejak pemikiran manusia mengenai keadilan sebelum membandingkan teori-teori yang berkembang dari masa klasik hingga modern.
indonesia

Dari Mana Gagasan Keadilan Berasal?
Pada Catatan induk, saya memulai dengan pertanyaan yang sangat sederhana:
Apa itu keadilan?
Namun ketika saya mencoba mencari jawabannya, muncul pertanyaan yang ternyata harus dijawab lebih dahulu:
Dari mana sebenarnya gagasan tentang keadilan berasal?
Apakah keadilan lahir dari hukum?
Apakah ia diciptakan oleh para filsuf?
Apakah manusia mulai mengenal keadilan setelah mengenal negara dan pengadilan?
Atau gagasan tentang adil dan tidak adil sebenarnya jauh lebih tua daripada teori-teori yang kemudian mencoba menjelaskannya?
Saya mulai dari kata yang setiap hari kita gunakan sendiri:
adil.
Kata “Adil” yang Kita Gunakan Ternyata Memiliki Perjalanan Panjang
Dalam bahasa Indonesia kita mengenal kata adil, kemudian membentuk kata keadilan.
Penelusuran kebahasaan menunjukkan bahwa adil merupakan salah satu kosakata bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dalam penelitian mengenai kosakata bahasa Arab dalam bahasa Indonesia, mencatat bentuk Arab عَادِل (‘ādil) menjadi adil dalam bahasa Indonesia.
Artinya, kata yang sekarang terasa sangat biasa dalam bahasa kita sendiri mempunyai perjalanan kebahasaan yang panjang sebelum menjadi bagian dari kosakata Indonesia.
Tetapi di sini saya menemukan satu hal yang penting.
Asal kata “adil” tidak sama dengan asal gagasan tentang keadilan.
Bahasa Indonesia boleh saja memperoleh kata adil melalui perjalanan bahasa tertentu, tetapi bukan berarti manusia baru mengenal gagasan keadilan sejak kata tersebut masuk ke dalam bahasa Indonesia.
Karena ketika penelusuran diperluas ke peradaban lain, manusia ternyata telah membicarakan persoalan yang sekarang kita hubungkan dengan keadilan sejak masa yang sangat jauh.
Jadi, Apakah Ada Satu Orang yang Menciptakan Keadilan?
Sampai pada tahap penelusuran ini, saya tidak menemukan dasar yang cukup untuk mengatakan:
“Keadilan ditemukan oleh orang ini.”
atau:
“Keadilan lahir pada tahun ini.”
atau bahkan:
“Keadilan berasal dari satu bangsa tertentu.”
Justru kita harus membedakan setidaknya tiga hal:
- kata yang digunakan untuk menyebut keadilan;
- gagasan manusia mengenai sesuatu yang adil dan tidak adil;
- teori filsafat yang kemudian mencoba menjelaskan apa itu keadilan.
Ketiganya tidak selalu lahir pada tempat dan waktu yang sama.
Sebuah masyarakat dapat mempunyai gagasan mengenai benar dan salah, hak, kewajiban, pembagian, hukuman, atau perlakuan yang patut tanpa menggunakan kata keadilan sebagaimana yang kita gunakan sekarang.
Karena itu pencarian “siapa pencipta keadilan?” tampaknya sejak awal harus diperbaiki.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
Sejauh apa kita dapat menemukan jejak manusia yang sudah memikirkan persoalan yang sekarang kita sebut keadilan?
Bahkan Sebelum Plato, Keadilan Sudah Dibicarakan
Ketika berbicara mengenai filsafat keadilan, nama Plato sangat mudah muncul.
Tetapi Plato bukan titik awal keberadaan gagasan keadilan.
Dalam tradisi Yunani sendiri, sebelum Plato, kita sudah menemukan pembicaraan mengenai dikē, salah satu istilah Yunani yang berhubungan dengan keadilan.
Sekitar abad ke-8 hingga ke-7 sebelum Masehi, Hesiod dalam Works and Days telah membicarakan dikē dan menghubungkannya dengan kehidupan manusia, hukum atau kebiasaan (nomos), keputusan yang lurus maupun menyimpang, serta perilaku seperti suap, sumpah palsu, pencurian dan kecurangan.
Ini sangat penting bagi penelusuran saya.
Sebab artinya, ketika Plato kemudian membahas keadilan secara mendalam, ia tidak sedang menciptakan kata atau persoalan keadilan dari ruang kosong.
Ia masuk ke dalam sebuah pertanyaan yang telah hidup sebelumnya.
Bahasa Yunani Bahkan Membedakan Beberapa Pengertian
Penelusuran terhadap pemikiran Yunani memperlihatkan sesuatu yang menarik.
Mereka tidak hanya mempunyai satu bentuk kata untuk semua persoalan yang kita terjemahkan sebagai “keadilan”.
Ada dikē, yang dapat berkaitan dengan keadilan atau tatanan yang adil.
Ada dikaiosynē, yang dapat menunjuk keadilan sebagai suatu kebajikan atau sifat.
Ada pula to dikaion, yang kurang lebih menunjuk kepada “yang adil” atau “apa yang adil”.
Perbedaan istilah ini memberi petunjuk bahwa pertanyaan mengenai keadilan sudah berkembang menjadi persoalan yang cukup rumit bahkan sebelum kita sampai kepada teori keadilan modern.
Tetapi sekali lagi:
Yunani bukan berarti titik kelahiran mutlak keadilan.
Yang dapat kita katakan dengan lebih hati-hati adalah bahwa sumber-sumber Yunani kuno memberikan salah satu jejak tertulis yang sangat penting dalam perkembangan pemikiran sistematis mengenai keadilan, dan kemudian menjadi sangat berpengaruh terhadap sejarah filsafat Barat.
Kemudian Kita Bertemu dengan Iustitia
Perjalanan istilah juga membawa kita kepada bahasa Latin.
Kata bahasa Inggris justice, misalnya, ditelusuri melalui bahasa Prancis Lama justice menuju bahasa Latin iustitia.
iustitia berkaitan dengan iustus—yang berhubungan dengan sesuatu yang benar, patut, adil, atau sesuai hukum—dan pada lapisan berikutnya berkaitan pula dengan ius, yaitu hak atau hukum.
Dari jalur inilah kemudian lahir keluarga kata yang masih dapat kita kenali dalam berbagai bahasa Eropa dan istilah hukum modern.
Ini kembali menunjukkan sesuatu yang menarik:
bahasa yang berbeda membangun kosakata keadilannya melalui sejarah yang berbeda pula.
Kita di Indonesia mengatakan keadilan.
Dalam bahasa Inggris terdapat justice.
Tradisi Yunani mengenal dikē dan dikaiosynē.
Tradisi Latin mengenal iustitia.
Bahasa Arab mempunyai keluarga kata ‘adl.
Kata-katanya berbeda.
Sejarah bahasanya berbeda.
Konteks kebudayaannya juga berbeda.
Namun semuanya membawa kita kepada pertanyaan manusia yang serupa:
bagaimana manusia seharusnya memperlakukan manusia lainnya?
Apakah Keadilan Berasal dari Hukum?
Sekarang saya kembali kepada pertanyaan awal.
Mungkin keadilan berasal dari hukum?
Tetapi persoalannya tidak sesederhana itu.
Jika keadilan sama persis dengan hukum, berarti setiap hal yang sah menurut hukum otomatis adil.
Pertanyaan itu sendiri akan menimbulkan persoalan baru.
Bagaimana jika sebuah aturan dibuat oleh pihak yang berkuasa untuk kepentingannya sendiri?
Bagaimana jika sebuah aturan berlaku sah tetapi kemudian dipandang masyarakat sebagai sesuatu yang tidak patut?
Apakah kita harus mengatakan:
“Karena itu hukum, maka itu pasti adil”?
Di sinilah saya mulai melihat mengapa keadilan kemudian menjadi persoalan filsafat yang begitu panjang.
Manusia bukan hanya bertanya:
Apa hukumnya?
Manusia juga bertanya:
Apakah hukumnya adil?
Dua pertanyaan itu ternyata tidak selalu identik.
Apakah Keadilan Berarti Semua Orang Mendapatkan Hal yang Sama?
Kemudian muncul persoalan berikutnya.
Jika kita tidak cukup mengatakan “yang sesuai hukum adalah adil”, mungkin keadilan berarti kesamaan.
Semua mendapatkan jumlah yang sama.
Semua diperlakukan sama.
Sekilas ini terdengar sangat masuk akal.
Tetapi saya kembali kepada contoh yang sejak awal mengganggu pikiran saya.
Saya dan Anda adalah petani.
Kita bertetangga.
Kita menanam tanaman yang sama.
Tanah kita memiliki keadaan yang relatif sama.
Tetapi hasil pertanian Anda dua kali lebih banyak daripada hasil pertanian saya.
Saya kemudian berkata:
“Ini tidak adil.”
Tetapi tunggu dahulu.
Apa yang membuatnya tidak adil?
Apakah Anda mencuri hasil pertanian saya?
Apakah Anda mengambil tanah saya?
Apakah ada aturan yang sengaja dibuat untuk menguntungkan Anda dan merugikan saya?
Atau ternyata Anda bekerja lebih lama, merawat tanaman lebih baik, memilih benih berbeda, mempunyai pengetahuan yang lebih baik, atau sekadar mengalami keadaan alam yang lebih menguntungkan?
Sekarang persoalannya berubah.
Perbedaan hasil ternyata belum otomatis membuktikan ketidakadilan.
Sebaliknya, hasil yang sama juga belum tentu membuktikan keadilan.
Dari sinilah saya mulai memahami mengapa manusia membutuhkan teori.
Karena kata “adil” yang terlihat sederhana ternyata mulai pecah menjadi banyak pertanyaan.
Adil berdasarkan apa?
Sama dalam hal apa?
Hak siapa?
Kewajiban siapa?
Apakah usaha harus diperhitungkan?
Apakah kebutuhan harus diperhitungkan?
Apakah keadaan awal seseorang harus diperhitungkan?
Apakah hasil akhirnya yang harus sama?
Atau justru kesempatan awalnya?
Dan siapa yang berhak menentukan ukurannya?
Temuan Penting dari Penelusuran Pertama Ini
Setelah mencoba menelusuri asal-usulnya, saya justru tidak menemukan satu titik sederhana yang dapat disebut sebagai:
“Di sinilah keadilan lahir.”
Dan mungkin memang tidak seharusnya demikian.
Keadilan tampaknya bukan sebuah benda yang suatu hari ditemukan seseorang, lalu diwariskan kepada manusia lainnya.
Ia merupakan persoalan manusia yang berkembang bersama kehidupan sosial manusia itu sendiri.
Manusia hidup bersama.
Manusia mempunyai kepentingan.
Manusia mempunyai kebutuhan.
Manusia memiliki sesuatu.
Manusia menginginkan sesuatu.
Manusia membuat aturan.
Manusia melanggar aturan.
Manusia mempunyai kekuasaan atas manusia lainnya.
Dan selama semua itu terjadi, pertanyaan mengenai apa yang patut diterima seseorang dan bagaimana seseorang seharusnya diperlakukan akan terus muncul.
Berbagai peradaban kemudian memberinya nama.
Para pemikir mencoba menjelaskannya.
Hukum mencoba merumuskannya.
Masyarakat mencoba menerapkannya.
Dan perdebatan mengenai maknanya terus berjalan sampai sekarang.
Jadi, Dari Mana Keadilan Berasal?
Jika pertanyaannya adalah dari mana kata “adil” dalam bahasa Indonesia berasal, kita dapat menelusuri jalur kebahasaannya dan menemukan pengaruh bahasa Arab.
Jika pertanyaannya adalah dari mana kata “justice” berasal, kita menemukan perjalanan yang berbeda melalui Prancis Lama dan Latin iustitia.
Jika pertanyaannya adalah siapa yang pertama kali membuat teori besar mengenai keadilan, kita akan memasuki sejarah filsafat dan menemukan sejumlah pemikir yang harus dibahas sesuai zamannya.
Tetapi jika pertanyaannya adalah:
“Siapa manusia pertama yang memikirkan keadilan?”
saya belum menemukan dasar yang memungkinkan kita memberikan satu nama.
Dan justru itu menjadi temuan pertama saya.
Kita dapat menelusuri kata.
Kita dapat menelusuri teks.
Kita dapat menelusuri teori.
Tetapi kita tidak boleh begitu saja menyamakan ketiganya lalu mengatakan bahwa pada satu titik tertentu “keadilan diciptakan”.
Pertanyaan Baru Setelah Mengetahui Asal-usulnya
Penelusuran pertama ini ternyata belum menjawab pertanyaan induk:
Apa itu keadilan?
Tetapi sekarang pertanyaannya menjadi lebih tajam.
Kita telah mengetahui bahwa gagasan tentang keadilan tidak dapat begitu saja diberikan kepada satu pencipta.
Kita juga menemukan bahwa jauh sebelum teori modern, manusia sudah memperdebatkan perilaku yang adil dan tidak adil.
Maka sekarang saya ingin masuk lebih dalam.
Jika manusia sejak dahulu sudah berbicara tentang keadilan:
siapa yang pertama-tama mencoba menjelaskan keadilan secara sistematis?
Apa yang mereka maksud dengan adil?
Apakah adil berarti taat kepada hukum?
Apakah adil berarti memberikan bagian yang sama?
Apakah adil berarti memberikan kepada seseorang sesuai dengan haknya?
Atau justru keadilan adalah sesuatu yang ditentukan oleh mereka yang mempunyai kekuasaan?
Pertanyaan terakhir itu sangat menarik.
Sebab ribuan tahun lalu pun sudah muncul pertentangan mengenai apakah keadilan benar-benar mempunyai nilai pada dirinya sendiri atau hanyalah sesuatu yang ditentukan oleh pihak yang lebih kuat.
Dan dari sinilah penelusuran berikutnya akan dimulai.
Arah Perkembangan Catatan Berikutnya
Perkembangan Catatan #2: Dari Hesiod hingga Perdebatan Yunani Kuno — Ketika Keadilan Mulai Dipertanyakan
Pada perkembangan berikutnya saya akan masuk ke sumber-sumber Yunani lebih dalam: dari gambaran awal dikē, perubahan hubungan antara keadilan dan nomos, hingga munculnya pertanyaan yang jauh lebih tajam tentang hukum, kekuasaan, kepentingan, dan keadilan.
Dari sana barulah perjalanan menuju Socrates, Plato, Aristoteles, dan teori-teori keadilan sesudahnya dapat kita ikuti tanpa melompati sejarah pemikirannya.
HAL YANG BELUM TERJAWAB
Jika gagasan tentang keadilan telah dipikirkan manusia sejak masa yang sangat tua, bagaimana manusia kemudian mencoba menentukan ukurannya?
Apakah keadilan berarti menaati hukum? Apakah berarti memperlakukan semua orang secara sama? Apakah setiap orang harus menerima bagian yang sama, atau justru menerima sesuatu berdasarkan hak, usaha, kebutuhan, maupun keadaan masing-masing?
Lalu siapa yang menentukan ukuran tersebut? Apakah masyarakat, hukum, penguasa, atau terdapat prinsip keadilan yang seharusnya tetap berlaku sekalipun bertentangan dengan kepentingan pihak yang berkuasa?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang belum terjawab dan akan membawa penelusuran berikutnya kepada pemikiran Yunani kuno, sebelum kemudian bergerak menuju Socrates, Plato, Aristoteles, dan perkembangan teori keadilan sesudahnya.
SUMBER & REFERENSI
Digunakan untuk menelusuri sejarah penyerapan kosakata bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan sebagai dasar pembahasan jalur kebahasaan kata “adil”. Publikasi disusun oleh Erwina Burhanuddin, Abdul Gaffar Ruskhan, dan R.B. Chrismanto serta diterbitkan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa pada 1993.
Digunakan untuk pembahasan istilah Yunani dikē, dikaiosynē, dan to dikaion, serta jejak pembicaraan mengenai keadilan dalam Works and Days karya Hesiod sekitar 700 SM. Sumber ini juga menunjukkan bahwa perdebatan tentang keadilan telah berkembang sebelum Plato
Digunakan secara khusus untuk menelusuri sejarah kata bahasa Inggris justice, dari Old French justice menuju Latin iustitia, iustus, dan kaitannya dengan ius. Sumber ini digunakan untuk sejarah istilah, bukan sebagai sumber utama teori filsafat keadilan
