Pustaha: Pengertian, Sejarah, Isi, dan Jejak Pengetahuan dalam Tradisi Batak
Menelusuri Pustaha sebagai naskah tradisional Batak, dari makna dan bentuknya, aksara serta bahan yang digunakan, peran datu, hingga pengetahuan yang diwariskan melalui manuskrip tersebut.
Pustaha: Lebih dari Sekadar Buku Tua
Ketika kata Pustaha disebut, gambaran pertama yang muncul mungkin sebuah buku tua dengan aksara Batak yang sulit dibaca, lembaran berwarna kecokelatan, dan bentuk yang sangat berbeda dari buku modern.
Gambaran itu tidak sepenuhnya salah. Namun, Pustaha jauh lebih menarik apabila kita tidak berhenti pada bentuk fisiknya.
Di dalam berbagai koleksi museum, perpustakaan, dan katalog manuskrip, Pustaha muncul sebagai jejak dari sebuah tradisi pencatatan pengetahuan. Ada manuskrip yang memuat sistem ramalan, pengobatan, ritual, diagram, kalender, hingga berbagai bentuk pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaan seorang datu.
Karena itu, menyebut Pustaha hanya sebagai "buku kuno Batak" memang membantu sebagai pengertian awal, tetapi belum cukup untuk memahami apa yang sebenarnya sedang kita lihat.
Tulisan ini merupakan penelusuran redaksi PUSTAHA terhadap sejumlah katalog manuskrip, koleksi museum, dan kepustakaan yang membahas Pustaha. Tujuannya bukan untuk mengklaim kembali penelitian para ahli, melainkan menyusun keterangannya dalam bahasa yang lebih mudah dibaca: apa itu Pustaha, bagaimana bentuknya, siapa yang menggunakannya, apa yang dituliskan di dalamnya, dan mengapa manuskrip ini penting untuk memahami tradisi pengetahuan Batak.
Apa Itu Pustaha?
Dalam pengertian paling sederhana, Pustaha adalah manuskrip tradisional Batak.
Tetapi kata "manuskrip" di sini penting.
Pustaha bukan buku cetak seperti yang kita kenal sekarang. Banyak contoh yang masih bertahan dibuat dari lembaran kulit kayu yang dilipat-lipat menyerupai akordeon dan ditempatkan di antara sampul kayu.
Katalog The Metropolitan Museum of Art di New York, misalnya, menyebut salah satu koleksinya sebagai Pustaha (book of ritual knowledge). Objek dari masyarakat Batak Toba tersebut berasal dari abad ke-19 hingga awal abad ke-20 dan dibuat menggunakan kayu, kulit bagian dalam tumbuhan, tinta resin, serta serat.
Sementara itu, koleksi digital Asia and Pacific Museum mencatat Pustaha MAP 2554 sebagai manuskrip berbahasa dan beraksara Batak Toba, berbahan kulit kayu dan memiliki dua sampul kayu.
Dua contoh tersebut langsung memberi kita gambaran penting:
Pustaha adalah buku, tetapi ia lahir dari teknologi pembuatan buku yang berbeda dari buku modern.
Kertas industri, mesin cetak, penerbit, dan penjilidan modern bukanlah dunia tempat Pustaha lahir.
Ia berasal dari tradisi pengetahuan yang mempunyai material, aksara, cara penulisan, dan lingkungan penggunaannya sendiri.
Mengapa Disebut Pustaha?
Istilah Pustaha mempunyai kedekatan dengan kata pustaka, yang jejak katanya berhubungan dengan tradisi bahasa Sanskerta.
Namun dalam konteks Batak, kata tersebut berkembang menjadi istilah yang sangat khas.
Karena itu, ketika kita menemukan kata Pustaha dalam pembahasan sejarah Batak, yang sedang dibicarakan bukan sekadar "pustaka" dalam pengertian perpustakaan atau kumpulan buku modern.
Yang dimaksud adalah sebuah tradisi manuskrip.
Dalam bahasa yang sangat sederhana:
Pustaha adalah tempat pengetahuan tertentu dituliskan agar dapat dibaca, dipelajari, digunakan, dan diteruskan.
Kalimat itu penting karena menggeser perhatian kita dari bendanya menuju fungsinya.
Kulit kayu dapat menua.
Tinta dapat memudar.
Sampul kayu dapat rusak.
Namun sesuatu yang berusaha dipertahankan melalui semua material itu adalah informasi dan pengetahuan.
Pustaha Laklak: Ketika Kulit Kayu Menjadi Halaman Buku
Salah satu istilah yang sering muncul bersama Pustaha adalah Pustaha Laklak.
Laklak merujuk pada bahan kulit kayu yang digunakan sebagai media tulis pada banyak manuskrip tersebut.
Bayangkan selembar bahan panjang yang berasal dari kulit kayu, dipersiapkan menjadi permukaan yang dapat ditulisi, kemudian dilipat berulang-ulang hingga membentuk halaman.
Hasil akhirnya berbeda dari buku berjilid yang kita buka halaman demi halaman.
Bentuknya lebih menyerupai leporello atau lipatan akordeon.
University of St Andrews, misalnya, menyimpan sebuah manuskrip Batak yang terdiri atas dua strip kulit kayu. Keterangan koleksinya menyebut panjang masing-masing sekitar tiga meter dan bentuknya berupa lipatan leporello, dengan folio kulit kayu dilindungi serta dilekatkan pada dua sampul kayu.
Ini membantu kita memahami sesuatu yang mungkin sulit dibayangkan hanya melalui istilah "buku kulit kayu".
Sebuah Pustaha yang tampak relatif kecil ketika tertutup sebenarnya dapat menyimpan permukaan tulisan yang panjang ketika seluruh lipatannya dibentangkan.
Dari Pohon Menjadi Tempat Menyimpan Pengetahuan
Di sinilah Pustaha menjadi sangat menarik apabila dilihat dari perspektif teknologi informasi.
Hari ini kita menyimpan tulisan dalam server, basis data, penyimpanan awan, telepon genggam, komputer, dan berbagai perangkat digital.
Beberapa abad lalu, teknologi itu tentu belum tersedia.
Tetapi kebutuhan manusia tetap sama:
bagaimana menyimpan sesuatu agar tidak hanya hidup dalam ingatan?
Pustaha memperlihatkan salah satu jawabannya.
Sebuah material dari alam diproses menjadi media tulis. Media itu kemudian diberi tanda menggunakan sebuah sistem aksara. Tanda-tanda tersebut membentuk bahasa. Bahasa menyimpan instruksi dan pengetahuan.
Kalau kita menariknya menjadi rantai sederhana:
kulit kayu → media tulis → aksara → bahasa → informasi → pengetahuan.
Di titik inilah Pustaha tidak lagi menarik hanya sebagai benda museum.
Ia juga menjadi bukti bahwa masyarakat Batak memiliki tradisi tulis dan sistem pencatatan pengetahuan.
Pustaha Ditulis dengan Aksara Batak
Pengetahuan yang terdapat dalam Pustaha tidak dituliskan dengan alfabet Latin seperti tulisan yang sedang Anda baca sekarang.
Manuskrip-manuskrip tersebut menggunakan aksara Batak, dengan variasi yang dapat berkaitan dengan tradisi bahasa dan aksara dari berbagai kelompok Batak.
Koleksi British Library menunjukkan contoh yang sangat jelas.
Manuskrip MSS Batak 10 dikatalogkan menggunakan aksara Simalungun. Sementara manuskrip Add MS 19382 dijelaskan memiliki bentuk aksara Mandailing Batak.
Artinya, ketika berbicara tentang Pustaha, kita juga tidak seharusnya membayangkannya sebagai tradisi yang sepenuhnya seragam.
Ada variasi.
Ada konteks daerah.
Ada perbedaan bahasa dan bentuk aksara.
Dan justru variasi tersebut membuat Pustaha menjadi pintu masuk yang sangat luas untuk mempelajari sejarah tulisan masyarakat Batak.
Siapa yang Menulis dan Menggunakan Pustaha?
Nama yang sangat penting dalam pembahasan Pustaha adalah datu.
Dalam banyak keterangan koleksi manuskrip, Pustaha berkaitan erat dengan pengetahuan dan praktik seorang datu.
Namun menerjemahkan datu hanya sebagai "dukun" dapat membuat pemahamannya terlalu sempit.
Dalam konteks tradisional yang tercermin dalam manuskrip, datu berhubungan dengan berbagai bidang pengetahuan: ritual, pengobatan, ramalan, penentuan waktu, formula tertentu, dan berbagai pengetahuan lain yang membutuhkan pembelajaran khusus.
University of St Andrews menjelaskan bahwa sebagian besar teks dalam koleksi manuskrip Bataknya berisi materi divinasi atau okultisme dan digunakan oleh datu. Keterangan yang sama juga menyebut adanya "language of instruction", bahasa instruksi yang berkaitan dengan lingkungan datu dan muridnya.
Hal ini memberi petunjuk bahwa Pustaha bukan sekadar buku yang diletakkan di suatu tempat lalu dibaca siapa saja.
Dalam konteks tertentu, ia merupakan bagian dari proses pewarisan pengetahuan khusus.
Ada yang mengetahui.
Ada yang belajar.
Ada yang mengajarkan.
Dan ada media yang membantu pengetahuan tersebut diteruskan.
Media itu salah satunya adalah Pustaha.
Poda: Ketika Pustaha Berbicara dalam Bentuk Instruksi
Ketika katalog-katalog Pustaha dibaca lebih jauh, sebuah kata berulang kali muncul:
poda.
Dalam konteks manuskrip, istilah ini berkaitan dengan petunjuk, ajaran, atau instruksi mengenai suatu pengetahuan atau praktik.
Ini terlihat sangat jelas dalam katalog British Library.
Manuskrip Add MS 19379, misalnya, memuat sejumlah bagian yang diawali dengan istilah poda, termasuk pembahasan mengenai porhalaan dan materi lainnya.
Dengan demikian, sebagian isi Pustaha mempunyai sifat yang sangat praktis.
Ia tidak selalu menceritakan sesuatu sebagaimana novel menceritakan sebuah kisah.
Sebaliknya, bagian-bagiannya dapat berbicara seperti sebuah pedoman pengetahuan:
bagaimana sesuatu dilakukan, bagaimana tanda dibaca, bagaimana keadaan ditafsirkan, atau bagaimana sebuah tindakan ritual dijalankan menurut sistem pengetahuan pada zamannya.
Apa Isi Pustaha?
Pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan satu kalimat.
Tidak semua Pustaha mempunyai isi yang sama.
Katalog manuskrip yang masih tersedia justru menunjukkan keragaman tersebut.
Ada Pustaha yang berhubungan dengan:
- ramalan atau divinasi;
- kalender tradisional;
- pengobatan;
- ritual;
- mantra atau formula;
- perlindungan;
- diagram dan gambar simbolis;
- penentuan waktu;
- serta berbagai bentuk pengetahuan yang berada dalam lingkungan seorang datu.
Keragaman ini penting.
Kalau kita mengatakan bahwa "Pustaha adalah buku pengobatan", definisi itu terlalu sempit.
Kalau disebut hanya "buku ramalan", juga terlalu sempit.
Bahkan menyebutnya semata-mata "buku mantra" tidak cukup menggambarkan seluruh manuskrip yang telah dikatalogkan.
Lebih tepat mengatakan bahwa Pustaha merupakan wadah pencatatan berbagai pengetahuan khusus dalam tradisi Batak, sementara isi setiap manuskrip dapat berbeda.
Contoh Nyata: Pustaha dan Porhalaan
British Library menyimpan manuskrip dengan nomor koleksi Add MS 19379.
Katalog perpustakaan tersebut mencatat bahwa manuskrip ini antara lain memiliki gambar porhalaan, yaitu kalender yang berkaitan dengan sistem divinasi, bersama sejumlah poda atau instruksi lainnya.
Keterangan ini penting karena menunjukkan bahwa Pustaha tidak hanya berisi deretan tulisan.
Di dalamnya juga dapat ditemukan tabel, diagram, atau gambar yang merupakan bagian dari sistem pengetahuan yang dicatat.
Dengan kata lain, informasi tidak selalu disampaikan melalui kalimat.
Gambar pun dapat menjadi bahasa pengetahuan.
Hal tersebut sebenarnya sangat mudah kita pahami sekarang.
Dalam sebuah laporan modern, kita menggunakan grafik.
Dalam peta, kita menggunakan simbol.
Dalam ilmu pengetahuan, kita menggunakan diagram.
Dalam Pustaha, gambar dan tanda tertentu juga dapat menjadi bagian dari cara sebuah pengetahuan direkam.
Tentu sistem maknanya tidak boleh disamakan begitu saja dengan grafik modern. Namun prinsip dasarnya memperlihatkan sesuatu yang sangat manusiawi: informasi yang rumit sering membutuhkan lebih dari sekadar kalimat.
Ada Pustaha tentang Ramalan Menggunakan Ayam
Contoh lain bahkan lebih spesifik.
Katalog MSS Batak 10 di British Library mencatat sebuah teks mengenai bentuk divinasi menggunakan ayam.
Dalam deskripsi katalog tersebut, seekor ayam digunakan dalam prosedur tertentu dan posisi akhirnya kemudian diamati oleh datu sebagai bagian dari proses pembacaan tanda.
Kita tidak perlu menilai praktik itu menggunakan ukuran ilmu pengetahuan modern untuk memahami nilai sejarah manuskripnya.
Yang penting bagi penelusuran ini adalah fakta bahwa prosedur tersebut dicatat secara tertulis.
Artinya ada sebuah sistem.
Ada prosedur.
Ada istilah.
Ada orang yang mempelajarinya.
Dan ada upaya untuk menyimpan pengetahuan mengenai prosedur tersebut dalam sebuah manuskrip.
Bagi sejarah pengetahuan, keberadaan catatan semacam itu sangat berharga karena memberikan kesempatan kepada generasi sekarang untuk melihat bagaimana masyarakat pada masa tertentu memahami dan menafsirkan dunianya.
Ada Pula Pustaha tentang Ramalan Jeruk
Salah satu manuskrip Batak yang sangat menarik dalam koleksi British Library adalah Add MS 4726.
Katalog British Library menyebutnya sebagai Pustaha, Batak manuscript on the lemon oracle dan menjelaskan bahwa manuskrip lipat tersebut ditulis dalam aksara Batak Toba serta berhubungan dengan panampuhi, suatu bentuk ramalan menggunakan jeruk.
Sekali lagi kita menemukan pola yang sama.
Pustaha bukan sekadar menyebut sebuah konsep.
Ia dapat menyimpan prosedur pengetahuan yang sangat spesifik.
Contoh seperti inilah yang membuat manuskrip menjadi sangat penting.
Tanpa tulisan, banyak rincian sistem pengetahuan lama mungkin hanya bergantung pada transmisi lisan dan dapat berubah atau hilang ketika generasi berganti.
Pustaha Juga Berhubungan dengan Pengobatan
Hubungan Pustaha dengan pengobatan juga muncul dalam berbagai koleksi.
Sebuah Pustaha dengan nomor MAP 2554 dalam koleksi Asia and Pacific Museum berada dalam kondisi yang sangat buruk sehingga sebagian besar teksnya tidak lagi terbaca.
Namun katalog museum mencatat keberadaan kata yang berarti "sakit", sehingga terdapat kemungkinan teks tersebut berkaitan dengan petunjuk penyembuhan atau pembuatan suatu obat dalam sistem pengetahuan tradisional.
Perhatikan kehati-hatian keterangan itu.
Museum tidak mengatakan secara pasti bahwa manuskrip tersebut adalah buku pengobatan.
Mereka mengatakan bahwa kondisi teks membuat topiknya sulit ditentukan dan hanya memberikan kemungkinan berdasarkan bagian yang masih dapat dikenali.
Cara seperti inilah yang juga perlu digunakan ketika membaca manuskrip sejarah.
Kalau bukti tidak cukup, jangan mengubah kemungkinan menjadi kepastian.
Satu kata yang terbaca tidak otomatis memberi kita hak untuk menyimpulkan seluruh isi sebuah buku.
Tidak Semua Pustaha Masih Bisa Dibaca dengan Utuh
Pustaha adalah benda fisik.
Karena itu ia tunduk pada persoalan yang sama seperti benda tua lainnya:
kelembapan, air, serangga, perubahan suhu, tinta yang memudar, material yang rapuh, kehilangan bagian, dan kerusakan akibat perjalanan waktu.
Pustaha MAP 2554 tadi merupakan contoh nyata.
Katalog mencatat bahwa kondisinya sangat buruk, tinta telah memudar pada sebagian besar manuskrip dan beberapa halaman mengalami kerusakan yang mungkin berkaitan dengan air.
Keterangan sederhana itu membawa kita pada kenyataan yang lebih besar:
pengetahuan dapat hilang bukan hanya karena manusia berhenti mengingatnya, tetapi juga karena media tempat pengetahuan tersebut disimpan ikut rusak.
Itulah salah satu alasan konservasi manuskrip menjadi penting.
Mengapa Banyak Pustaha Berada di Luar Indonesia?
Ketika mencari Pustaha melalui katalog digital hari ini, kita akan menemukan manuskrip Batak di berbagai institusi luar Indonesia.
British Library memilikinya.
The Metropolitan Museum of Art memilikinya.
University of St Andrews memilikinya.
Museum-museum dan koleksi Eropa lainnya juga menyimpan manuskrip Batak.
Bagaimana benda-benda dari Sumatra bisa berada begitu jauh?
Jawabannya tidak tunggal.
Sebagian manuskrip berpindah melalui perjalanan kolektor, pejabat kolonial, peneliti, pedagang, pemberian, pembelian, dan berbagai jaringan pengumpulan benda pada masa lalu.
Katalog British Library bahkan memungkinkan kita menelusuri sebagian riwayat tersebut.
Untuk koleksi Add MS 19378–19385, misalnya, British Library mencatat bahwa manuskrip-manuskrip tersebut dibeli dari Dr. E. G. Latham pada 1853. Latham mendapatkannya dari Baron Oscar von Kessel, yang melakukan perjalanan di wilayah Batak pada 1844.
Satu catatan katalog saja sudah membuka sebuah cerita panjang:
Batak → perjalanan seorang Eropa → perpindahan kepemilikan → koleksi British Library → katalog digital → dapat ditelusuri kembali dari Sumatra hari ini.
Riwayat setiap manuskrip tentu harus diperiksa masing-masing dan tidak boleh disamaratakan.
Namun penyebaran koleksi tersebut menjelaskan mengapa penelitian mengenai Pustaha sekarang juga membutuhkan penelusuran lintas negara.
Seberapa Banyak Pustaha yang Masih Ada?
Jumlah pastinya tidak mudah ditentukan.
University of St Andrews, ketika menjelaskan koleksinya, mengutip ahli manuskrip Batak Uli Kozok yang memperkirakan sekitar seribu hingga dua ribu Pustaha diketahui keberadaannya, terutama dalam koleksi Belanda dan Jerman serta Perpustakaan Nasional Indonesia.
Angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai estimasi berdasarkan pengetahuan dan inventarisasi yang tersedia, bukan sebagai sensus final seluruh Pustaha yang pernah dibuat.
Sebab kita menghadapi beberapa kemungkinan:
masih ada manuskrip dalam koleksi pribadi;
ada manuskrip yang belum terdokumentasi dengan baik;
ada yang mungkin telah hilang;
dan mungkin ada koleksi yang belum sepenuhnya tersedia secara digital.
Karena itu pertanyaan "berapa jumlah Pustaha di dunia?" masih lebih aman dijawab sebagai perkiraan berdasarkan katalog dan penelitian yang tersedia, bukan angka mutlak.
Pustaha yang Kita Kenal Sekarang Hanyalah yang Berhasil Bertahan
Ada satu persoalan yang sering terlupakan ketika berbicara tentang benda sejarah.
Apa yang berada di museum sekarang bukan berarti seluruh benda yang pernah ada.
Yang kita lihat adalah yang berhasil bertahan.
Bayangkan berapa banyak Pustaha yang mungkin pernah dibuat selama beberapa generasi.
Sebagian rusak.
Sebagian terbakar.
Sebagian terurai.
Sebagian hilang.
Sebagian dibawa keluar daerah.
Sebagian mungkin masih berada di tangan keluarga.
Sebagian akhirnya masuk museum.
Karena itu koleksi Pustaha yang tersedia sekarang dapat dipandang sebagai fragmen dari sebuah tradisi yang jauh lebih besar.
Kita sedang membaca sisa-sisa yang selamat dari perjalanan waktu.
Apakah Pustaha Sama dengan Buku Modern?
Secara fisik: tidak.
Secara sosial: tidak selalu.
Secara fungsi: ada titik pertemuan yang menarik.
Buku modern dapat digunakan untuk menyimpan ilmu, petunjuk, cerita, sejarah, rumus, pengalaman, hukum, atau pemikiran.
Pustaha juga merupakan media penyimpanan informasi, tetapi berada dalam sistem sosial dan tradisi pengetahuan yang berbeda.
Karena itu kita harus berhati-hati.
Menyebut Pustaha sebagai "buku" membantu pembaca modern memahami bentuk dasarnya.
Tetapi kalau konsep buku modern dipaksakan seluruhnya kepada Pustaha, konteks aslinya justru bisa hilang.
Pustaha harus dipahami dalam dunianya sendiri.
Siapa yang menulisnya?
Siapa yang membacanya?
Untuk apa teks digunakan?
Bahasa apa yang digunakan?
Bagaimana pengetahuan diturunkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sama pentingnya dengan membaca isi tulisannya.
Pustaha Adalah Bukti Tradisi Menulis
Ada hal yang menurut redaksi PUSTAHA sangat penting dari seluruh penelusuran ini.
Pustaha memperlihatkan bahwa pengetahuan tidak hanya diwariskan melalui ucapan.
Ada sesuatu yang dianggap cukup penting sehingga perlu ditulis.
Menulis adalah tindakan melawan keterbatasan ingatan manusia.
Ucapan hidup selama seseorang masih mendengarnya dan mengingatnya.
Tulisan mempunyai kemungkinan hidup lebih lama daripada penulisnya.
Seorang datu dapat meninggal.
Muridnya dapat berpindah.
Sebuah kampung dapat berubah.
Generasi dapat berganti.
Tetapi sebuah Pustaha yang bertahan masih dapat berbicara berabad-abad kemudian—meskipun untuk memahaminya kita membutuhkan kemampuan bahasa, paleografi, filologi, sejarah, antropologi, dan pengetahuan lain.
Dalam pengertian itulah Pustaha menjadi lebih dari sekadar benda.
Ia adalah jejak dari keputusan manusia untuk mencatat sesuatu.
Dari Pustaha Kita Mengetahui bahwa Pengetahuan Memerlukan Media
Setiap zaman mempunyai media penyimpanannya.
Ada batu.
Ada tulang.
Ada bambu.
Ada daun.
Ada kulit kayu.
Ada kertas.
Ada pita magnetik.
Ada cakram.
Ada server.
Ada penyimpanan digital.
Teknologinya berubah, tetapi persoalannya tetap sama:
bagaimana agar informasi tidak hilang?
Pustaha memberi kita contoh dari jawaban masyarakat Batak pada suatu masa.
Mereka menggunakan material yang tersedia, mengembangkan tradisi tulisan, dan mencatat pengetahuan yang dianggap penting dalam konteks kehidupan mereka.
Hari ini kita menggunakan teknologi yang jauh berbeda.
Namun ratusan tahun kemudian, pertanyaan dasarnya ternyata masih sama.
Ketika Pustaha Berubah Menjadi Objek Museum
Ada perubahan besar ketika sebuah Pustaha berpindah dari lingkungan tempat ia digunakan menuju museum.
Dahulu, sebuah Pustaha dapat menjadi benda yang memiliki fungsi.
Sekarang banyak Pustaha menjadi objek koleksi, konservasi, penelitian, dan pameran.
Perubahan konteks ini penting.
Benda yang dahulu mungkin hanya dipahami oleh lingkungan tertentu sekarang dapat difoto dengan resolusi tinggi, dikatalogkan, diterjemahkan, diteliti, dan bahkan dilihat melalui internet oleh seseorang yang berada ribuan kilometer jauhnya.
Ironis sekaligus menarik:
teknologi digital sekarang membantu kulit kayu tua memperoleh kehidupan baru sebagai informasi.
Manuskripnya tetap berada di ruang penyimpanan museum.
Tetapi gambarnya dapat menyeberangi benua dalam hitungan detik.
Digitalisasi Membawa Pustaha Memasuki Zaman Baru
Digitalisasi tidak menggantikan manuskrip asli.
Foto bukanlah kulit kayu.
Layar komputer bukanlah sampul kayu.
File digital tidak dapat sepenuhnya menggantikan pengalaman meneliti material asli.
Tetapi digitalisasi memberikan sesuatu yang sebelumnya hampir mustahil:
akses.
Seorang pelajar di Sumatra dapat melihat katalog manuskrip yang berada di London.
Seorang peneliti dapat membandingkan koleksi dari beberapa negara.
Masyarakat Batak dapat menemukan kembali jejak manuskrip leluhurnya yang secara fisik berada jauh dari tanah asalnya.
Dan publik yang sebelumnya tidak mengetahui Pustaha dapat mulai mengenalnya.
Dengan demikian perjalanan Pustaha belum berhenti.
Ia hanya memasuki medium baru.
Pustaha Bukan Alasan untuk Meromantisasi Masa Lalu
Menghargai Pustaha tidak berarti kita harus menerima seluruh isi manuskrip sebagai kebenaran ilmiah modern.
Ini harus dibedakan dengan tegas.
Sistem ramalan tradisional bukan meteorologi modern.
Pengobatan dalam manuskrip tidak otomatis setara dengan kedokteran berbasis bukti.
Kosmologi tradisional tidak otomatis sama dengan astronomi.
Namun perbedaan tersebut tidak menghilangkan nilai sejarah Pustaha.
Justru di situlah kepentingannya.
Manuskrip membantu kita mengetahui bagaimana manusia pada suatu zaman memahami penyakit, alam, waktu, keberuntungan, ancaman, kehidupan, kematian, dan berbagai persoalan lain.
Kita tidak harus mempercayai seluruh sistem pengetahuan masa lalu untuk mempelajarinya.
Kita hanya perlu memperlakukannya secara jujur sesuai konteks zamannya.
Jangan Pula Menganggap Pengetahuan Lama sebagai Sesuatu yang Primitif
Kesalahan sebaliknya juga perlu dihindari.
Karena sebagian isi Pustaha berhubungan dengan ritual dan divinasi, mudah sekali bagi pembaca modern untuk menilainya dengan satu kata: primitif.
Penilaian seperti itu terlalu sederhana.
Sebuah manuskrip yang memiliki terminologi, prosedur, diagram, aturan, metode pengajaran, dan sistem interpretasi menunjukkan adanya struktur pengetahuan, terlepas dari apakah kesimpulan sistem tersebut sesuai dengan ilmu pengetahuan modern.
Tugas sejarah bukan menertawakan manusia masa lalu.
Tugas sejarah adalah mencoba memahami mengapa mereka berpikir demikian, bagaimana pengetahuan itu dibentuk, dan bagaimana ia digunakan dalam kehidupan mereka.
Pustaha sebagai Jendela untuk Membaca Masyarakat Batak
Dari satu manuskrip, kita mungkin menemukan tulisan.
Dari tulisan, kita menemukan bahasa.
Dari bahasa, kita menemukan istilah.
Dari istilah, kita menemukan konsep.
Dari konsep, kita dapat mulai melihat cara manusia memahami dunianya.
Karena itu Pustaha dapat menjadi pintu menuju pembahasan yang jauh lebih luas:
aksara Batak, bahasa, sejarah intelektual, ritual, pengobatan tradisional, kalender, hubungan guru dan murid, material budaya, perjalanan koleksi kolonial, konservasi manuskrip, hingga digitalisasi warisan budaya.
Satu benda kecil ternyata dapat membuka begitu banyak pintu.
Lalu, Mengapa Website Ini Bernama PUSTAHA?
Sampailah penelusuran ini pada pertanyaan yang sangat dekat dengan kami sendiri.
Mengapa website ini menggunakan nama PUSTAHA?
PUSTAHA.com tidak mengklaim dirinya sebagai Pustaha tradisional.
Kami juga tidak sedang mencoba menggantikan makna historis Pustaha Batak.
Justru sebaliknya.
Nama PUSTAHA dipilih karena kami melihat sebuah gagasan yang sangat sederhana tetapi kuat di balik tindakan manusia menulis:
sesuatu diingat, kemudian dituliskan, agar dapat diteruskan.
Medium kita berbeda.
Pustaha lama menggunakan material yang tersedia pada zamannya.
PUSTAHA.com hidup pada zaman internet, basis data, foto digital, video, audio, dan penyimpanan daring.
Tetapi ada satu benang yang kami tarik sebagai filosofi:
INGAT — TULIS — RILIS.
Apa yang dianggap layak diingat, kita coba telusuri.
Apa yang telah ditelusuri, kita tuliskan.
Apa yang telah dituliskan, kita rilis agar dapat dibaca kembali.
PUSTAHA.com Bukan Museum dan Bukan Lembaga Penelitian
Batas ini juga perlu kami tuliskan dengan jelas.
PUSTAHA.com bukan museum.
PUSTAHA.com bukan universitas.
PUSTAHA.com bukan lembaga arkeologi, filologi, sejarah, atau penelitian.
Kami tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan kebenaran akademik mengenai manuskrip Batak.
Tulisan ini merupakan hasil penelusuran dan penyusunan redaksi berdasarkan sumber-sumber yang dapat diperiksa kembali.
Jika penelitian baru memberikan penjelasan yang lebih kuat, tulisan dapat diperbarui.
Jika terdapat perbedaan pendapat ilmiah, perbedaan itu seharusnya dicatat.
Jika ditemukan kesalahan, kesalahan harus diperbaiki tanpa menghapus jejak bahwa pengetahuan kita pernah berkembang.
Bagi kami, sikap seperti itu justru merupakan bagian dari menghormati pengetahuan.
Dari Kulit Kayu ke Layar Digital
Ada jarak waktu yang sangat panjang antara seseorang yang dahulu menorehkan aksara pada lembaran kulit kayu dan seseorang yang sekarang membaca artikel ini melalui layar telepon genggam.
Materialnya berubah.
Teknologinya berubah.
Bahasanya berubah.
Cara manusia menemukan informasi pun berubah.
Namun satu kebutuhan tetap bertahan:
manusia tidak ingin semuanya hilang.
Itulah mengapa kita menulis.
Dan mungkin di situlah Pustaha lama dan PUSTAHA digital dapat dipertemukan—bukan sebagai benda yang sama, bukan pula sebagai institusi yang sama, tetapi melalui satu tindakan manusia yang terus berulang dari generasi ke generasi:
mengingat, mencatat, dan meneruskan.
Catatan PUSTAHA
Artikel ini disusun sebagai penelusuran redaksi terhadap Pustaha dan tradisi manuskrip Batak berdasarkan katalog museum, perpustakaan, koleksi manuskrip, dan sumber kepustakaan yang dapat ditelusuri.
Istilah, isi manuskrip, penanggalan, asal, dan interpretasi mengenai suatu Pustaha dapat berbeda antara satu koleksi dan koleksi lainnya. Karena itu, PUSTAHA tidak menganggap seluruh manuskrip Batak mempunyai isi, usia, fungsi, atau sejarah kepemilikan yang sama.
Keterangan mengenai ritual, divinasi, pengobatan tradisional, dan praktik lainnya dalam artikel ini ditempatkan dalam konteks sejarah dan kebudayaan. Penyebutannya bukan rekomendasi untuk menggantikan ilmu pengetahuan, kedokteran, atau layanan profesional modern.
Artikel ini dapat dikembangkan apabila katalog baru, digitalisasi manuskrip, penelitian, atau sumber primer lain memberikan informasi tambahan.
Ditulis oleh Armando Diterbitkan oleh PUSTAHA INGAT — TULIS — RILIS
Sumber & Referensi
-
British Library — Archives and Manuscripts Catalogue. MSS Batak 10: Pustaha. Koleksi Oriental Manuscripts. Manuskrip berbahasa Batak dan beraksara Simalungun; katalog memuat keterangan mengenai teks divinasi menggunakan ayam serta ilustrasi di dalam manuskrip. Diakses 11 September 2026. https://searcharchives.bl.uk/catalog/032-003895108
-
British Library — Archives and Manuscripts Catalogue. Add MS 19379: Pustaha. Koleksi Additional Manuscripts. Katalog mencatat porhalaan, sejumlah poda, gambar, serta riwayat perolehan kelompok manuskrip Add MS 19378–19385. Diakses 11 September 2026. https://searcharchives.bl.uk/catalog/032-002096018
-
British Library — Archives and Manuscripts Catalogue. Add MS 19382: Pustaha. Manuskrip dengan aksara Mandailing Batak dan keterangan mengenai kondisi serta struktur manuskrip. Diakses 11 September 2026. https://searcharchives.bl.uk/catalog/032-002096021
-
British Library — Archives and Manuscripts Catalogue. Add MS 4726: Pustaha, Batak manuscript on the lemon oracle. Manuskrip lipat beraksara Batak Toba yang membahas panampuhi atau ramalan menggunakan jeruk. Diakses 11 September 2026.
-
The Metropolitan Museum of Art, New York. Pustaha (book of ritual knowledge). Koleksi masyarakat Batak Toba, Sumatra, Indonesia; abad ke-19–awal abad ke-20; bahan kayu, bast, tinta resin, dan serat. Object Number 1988.143.133. Diakses 11 September 2026. https://www.metmuseum.org/art/collection/search/315441
-
Asia and Pacific Museum — Digital Library of Manuscripts and Printed Books. Manuscript MAP 2554: Pustaha. Manuskrip Batak Toba berbahan kulit kayu dengan dua sampul kayu; katalog juga mencatat kondisi preservasi dan kemungkinan kandungan teks berdasarkan bagian yang masih terbaca. Diakses 11 September 2026. https://manuskrypty.muzeumazji.pl/en-manuscript-2554/
-
Asia and Pacific Museum. Indonesian Manuscripts Collection. Katalog koleksi manuskrip dari Sumatra Utara, termasuk sejumlah Pustaha Batak Toba dan Simalungun. Diakses 11 September 2026. https://manuskrypty.muzeumazji.pl/en-collection-indonesian/
-
University of St Andrews Libraries and Museums. Batak manuscript on tree bark, ID ms71(o). Keterangan koleksi mengenai material, bentuk leporello, penggunaan oleh datu, serta estimasi jumlah Pustaha yang diketahui berdasarkan Uli Kozok. Diakses 11 September 2026. https://collections.st-andrews.ac.uk/item/batak-manuscript-on-tree-bark/2067673
-
Kementerian Pariwisata Republik Indonesia — Indonesia.travel. Museum Negeri Sumatera Utara: Sejarah, Koleksi, dan Budayanya. Memuat keterangan mengenai koleksi naskah Batak pada kulit kayu atau Pustaha Laklak di Museum Negeri Sumatera Utara. Diakses 11 September 2026.
-
Perpustakaan Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Kemendikdasmen. J.E. Saragih, Pustaha Laklak No. 252 Museum Simalungun & Pustaha Laklak Mandailing. Katalog bibliografis karya mengenai manuskrip Pustaha Laklak Simalungun dan Mandailing. Diakses 11 September 2026.
PUSTAHA — INGAT · TULIS · RILIS

