Pustaha Laklak: Mengenal Manuskrip Kulit Kayu dan Tradisi Tulis Batak
Menelusuri apa itu Pustaha Laklak, bahan kulit kayu yang menjadi media tulis, bentuk lipatan dan sampulnya, aksara yang digunakan, hingga bagaimana manuskrip Batak ini menyimpan jejak pengetahuan dari masa lalu.
Pustaha Laklak: Ketika Kulit Kayu Menjadi Tempat Menyimpan Pengetahuan
Sebelum manusia menyimpan tulisan dalam komputer, sebelum kertas diproduksi dalam jumlah besar, bahkan jauh sebelum sebuah dokumen dapat dikirim ke seluruh dunia hanya dengan satu sentuhan, manusia telah menghadapi persoalan yang sama:
di mana sesuatu yang dianggap penting harus dicatat agar tidak hilang?
Dalam tradisi Batak, salah satu jawabannya dapat ditemukan pada Pustaha Laklak.
Sekilas bentuknya mungkin tampak sederhana. Lembaran berwarna kecokelatan dilipat berkali-kali, tulisan memenuhi permukaannya, kemudian bagian ujungnya dilindungi dengan sampul kayu.
Tetapi ketika benda itu dibuka, kita sebenarnya sedang melihat pertemuan beberapa hal sekaligus:
alam, keterampilan membuat media tulis, aksara, bahasa, pengetahuan, dan ingatan manusia.
Pustaha Laklak bukan hanya menarik karena usianya.
Ia menarik karena menunjukkan bagaimana sebuah masyarakat mengubah sesuatu yang berasal dari pohon menjadi media untuk menyimpan informasi.
Tulisan ini merupakan penelusuran redaksi PUSTAHA terhadap Pustaha Laklak berdasarkan kepustakaan, katalog manuskrip, koleksi museum dan perpustakaan yang dapat ditelusuri kembali.
Tujuannya sederhana: memahami benda ini mulai dari dasarnya.
Apa sebenarnya Pustaha Laklak? Apa arti laklak? Bagaimana kulit kayu dapat berubah menjadi halaman? Mengapa bentuknya dilipat? Apa yang dituliskan di atasnya? Dan bagaimana benda-benda tersebut dapat bertahan hingga sekarang?
Apa Itu Pustaha Laklak?
Secara sederhana, Pustaha Laklak adalah manuskrip atau buku tradisional Batak yang menggunakan kulit kayu sebagai media tulis.
Kata laklak berkaitan dengan kulit tumbuhan.
Sebuah tulisan mengenai Pustaha Laklak dalam publikasi kebudayaan pemerintah menjelaskan penggunaan kata laklak untuk kulit tumbuhan tertentu. Dalam konteks Pustaha, istilah tersebut kemudian menunjuk pada material kulit kayu yang dijadikan tempat menulis.
Karena itu, pengertian awal yang paling mudah adalah:
Pustaha = buku atau manuskrip.
Laklak = kulit kayu yang menjadi media tulisnya.
Maka istilah Pustaha Laklak membantu kita mengenali sebuah buku yang sangat berbeda dari buku modern.
Halaman-halamannya bukan lembaran kertas hasil industri.
Material dasarnya berasal dari pohon.
Namun pengertian tersebut baru menjelaskan bendanya.
Untuk memahami Pustaha Laklak lebih jauh, kita perlu melihat bagaimana benda tersebut dibuat dan digunakan.
Jangan Membayangkan Pustaha Laklak Seperti Buku Modern
Ketika mendengar kata "buku", kita biasanya membayangkan tumpukan lembaran kertas yang dijilid pada salah satu sisinya.
Pustaha Laklak mempunyai konstruksi yang berbeda.
Kulit kayu dibuat menjadi bidang memanjang kemudian dilipat berulang kali seperti akordeon.
Dalam kajian manuskrip, bentuk seperti ini sering disebut concertina atau leporello.
Library of Congress, misalnya, mendeskripsikan koleksi Pustaha Bataknya sebagai manuskrip tulisan tangan dengan bentuk lipatan akordeon.
Koleksi University of St Andrews memberikan contoh yang bahkan lebih mudah dibayangkan.
Salah satu manuskrip Batak yang mereka simpan terdiri atas dua strip kulit kayu dengan panjang masing-masing sekitar tiga meter. Material tersebut dilipat menjadi bidang-bidang kecil, dengan tulisan pada kedua sisinya, kemudian dilindungi oleh dua papan kayu.
Bayangkan itu sejenak.
Ketika tertutup, manuskrip tersebut tampak seperti sebuah buku berukuran relatif kecil.
Ketika materialnya dibentangkan, ternyata kita berhadapan dengan lembaran kulit kayu yang panjangnya dapat mencapai beberapa meter.
Jadi bentuk kecil sebuah Pustaha dapat menyembunyikan ruang tulis yang jauh lebih panjang daripada yang terlihat dari sampulnya.
Dari Mana Kulit Kayu Pustaha Berasal?
Pertanyaan berikutnya tentu:
kulit pohon apa yang digunakan?
Keterangan koleksi University of St Andrews mengidentifikasi material salah satu manuskripnya sebagai bagian kulit dalam atau bast dari alim, yang dicantumkan sebagai Aquilaria malaccensis.
Sumber-sumber Indonesia yang membahas Pustaha Laklak juga menyebut kulit kayu alim sebagai material yang digunakan.
Namun di sini kita perlu berhati-hati.
Keberadaan contoh yang telah diidentifikasi tidak berarti kita boleh menyimpulkan tanpa pemeriksaan bahwa setiap Pustaha yang pernah dibuat pasti berasal dari spesies pohon yang sama.
Material manuskrip perlu diperiksa berdasarkan bendanya, katalog koleksinya, atau penelitian teknis terhadap objek tersebut.
Ini penting karena Pustaha yang sekarang tersebar di berbagai koleksi mempunyai usia, asal, kondisi, dan riwayat yang berbeda.
Bagian Kulit Kayu yang Digunakan Bukan Sekadar Kulit Pohon Kasar
Istilah "buku kulit kayu" terkadang membuat kita membayangkan seseorang mengambil kulit luar pohon yang kasar kemudian langsung menulisinya.
Prosesnya tentu tidak sesederhana itu.
Material yang digunakan perlu menghasilkan permukaan yang memungkinkan tulisan dibuat dan bertahan.
Dalam istilah konservasi manuskrip, material tersebut sering dijelaskan sebagai inner bark atau bast—bagian kulit dalam tumbuhan.
Material itu dipersiapkan sehingga menjadi lembaran yang relatif rata dan cukup lentur untuk dilipat.
Di sinilah Pustaha Laklak juga dapat dilihat sebagai sebuah teknologi material.
Sebelum ada tulisan, harus ada media.
Sebelum media dapat ditulisi, material alam harus diolah.
Artinya sebuah Pustaha tidak dimulai ketika aksara pertama dituliskan.
Perjalanannya telah dimulai ketika manusia memilih dan mempersiapkan bahan yang akan menjadi tempat tulisan tersebut berada.
Kulit Kayu Panjang Itu Kemudian Dilipat
Setelah menjadi media tulis, lembaran panjang tersebut dibagi secara visual melalui lipatan-lipatan.
Lipatan itulah yang kemudian membentuk bidang seperti halaman.
Cara ini mempunyai keuntungan yang mudah kita pahami.
Lembaran yang panjang akan sulit disimpan apabila selalu dibiarkan terbentang.
Dengan melipatnya berulang-ulang, ukuran keseluruhan dapat diperkecil secara drastis.
Prinsipnya mirip peta kertas lipat.
Ketika dibuka, ukurannya besar.
Ketika dilipat, ia dapat dimasukkan ke tempat yang jauh lebih kecil.
Pustaha Laklak menerapkan prinsip serupa terhadap media tulisan.
Panjang ketika dibentangkan, ringkas ketika disimpan.
Sampul Kayu Melindungi Laklak
Pada banyak contoh Pustaha, kedua ujung lipatan kulit kayu ditempatkan atau dilekatkan pada sampul kayu.
Katalog Asia and Pacific Museum untuk manuskrip MAP 2554, misalnya, secara jelas mencatat keberadaan dua sampul kayu.
University of St Andrews juga mendokumentasikan manuskrip yang lembaran kulit kayunya dilindungi dan dilekatkan pada dua sampul kayu.
Secara praktis, fungsi konstruksi ini mudah dipahami.
Kulit kayu merupakan material yang dapat rusak.
Dengan menempatkannya di antara papan, bagian tulisan memperoleh perlindungan ketika manuskrip ditutup.
Pada beberapa Pustaha, sampul kayu juga dapat memiliki ukiran atau bentuk dekoratif.
Dengan demikian sampul tidak selalu sekadar penutup.
Ia dapat menjadi bagian dari identitas visual objek itu sendiri.
Laklak Kemudian Menjadi Permukaan untuk Aksara Batak
Setelah media tersedia, pengetahuan membutuhkan sistem tanda.
Di sinilah aksara Batak mengambil peran.
Pustaha yang masih tersimpan menunjukkan penggunaan berbagai bentuk aksara Batak.
British Library, misalnya, mengatalogkan MSS Batak 10 sebagai manuskrip dengan aksara Simalungun.
Sementara Add MS 19382 dikatalogkan memiliki bentuk aksara Mandailing Batak.
Koleksi Asia and Pacific Museum juga mempunyai Pustaha dalam bahasa dan aksara Batak Toba serta Simalungun.
Hal ini mengingatkan kita bahwa istilah Pustaha Laklak tidak berarti hanya satu bentuk tulisan Batak.
Tradisi manuskrip tersebut hadir dalam lingkungan masyarakat Batak yang memiliki variasi bahasa dan aksaranya sendiri.
Karena itu sebuah Pustaha harus dibaca berdasarkan konteks manuskripnya, bukan hanya berdasarkan bentuk fisiknya.
Tulisan Tidak Selalu Berwarna Hitam
Contoh manuskrip juga memperlihatkan penggunaan tinta.
Pada MAP 2554, Asia and Pacific Museum mencatat penggunaan tinta hitam, sementara warna merah digunakan untuk gambar dan penanda bagian tertentu.
Keterangan seperti ini mungkin tampak kecil.
Namun bagi kita yang ingin memahami Pustaha sebagai benda, informasi tersebut sangat penting.
Sebuah manuskrip bukan hanya:
kulit kayu + tulisan.
Ada pemilihan tinta.
Ada pembagian bagian.
Ada kemungkinan penggunaan warna.
Ada gambar.
Ada tanda.
Ada tata letak.
Dengan kata lain, Pustaha juga mempunyai organisasi visual informasi.
Tulisan dan Gambar Hidup Berdampingan
Pustaha tidak selalu berisi barisan aksara.
Beberapa manuskrip mempunyai gambar, diagram, tabel, dan penanda tertentu.
British Library Add MS 19379, misalnya, memuat gambar porhalaan, kalender yang berkaitan dengan divinasi, bersama sejumlah bagian poda dan gambar lainnya.
Manuskrip University of St Andrews juga dideskripsikan memiliki catatan, bagan, dan tabel.
Ini berarti ruang pada laklak digunakan bukan hanya untuk menyimpan kalimat.
Ia juga menjadi tempat untuk menyimpan informasi visual.
Bagi pembaca modern, konsep ini sebenarnya sangat familiar.
Ketika kalimat tidak cukup, kita membuat tabel.
Ketika hubungan sulit diterangkan, kita membuat diagram.
Ketika posisi penting, kita menggunakan peta.
Bentuk visual dalam Pustaha tentu memiliki sistem dan konteksnya sendiri, tetapi keberadaannya menunjukkan bahwa penyampaian pengetahuan melalui gambar bukanlah sesuatu yang baru.
Siapa yang Membaca Pustaha Laklak?
Inilah bagian yang membuat Pustaha berbeda dari bayangan kita tentang buku populer.
Pustaha mempunyai hubungan erat dengan datu.
Library of Congress menjelaskan Pustaha sebagai manuskrip divinasi yang digunakan oleh datu Batak, yaitu spesialis ritual.
University of St Andrews juga menjelaskan hubungan manuskrip dengan datu dan penggunaan bahasa instruksi tertentu.
Karena itu kita tidak boleh membayangkan Pustaha Laklak seperti buku yang dicetak ribuan eksemplar lalu dijual bebas kepada masyarakat.
Dalam konteks banyak manuskrip yang diketahui, pengetahuan di dalamnya berkaitan dengan lingkungan keahlian tertentu.
Datu mempelajari pengetahuan.
Pengetahuan dapat diajarkan kepada murid.
Pustaha menjadi salah satu media yang membantu pengetahuan tersebut dicatat.
Jadi selain menjadi benda, Pustaha juga berada di dalam sebuah hubungan antara pengetahuan, orang yang menguasainya, dan orang yang mempelajarinya.
Apa yang Ditulis di Atas Laklak?
Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk seluruh Pustaha.
Katalog manuskrip menunjukkan berbagai jenis isi.
Ada yang berkaitan dengan:
- divinasi atau ramalan;
- pengobatan tradisional;
- ritual;
- perlindungan;
- kalender;
- formula tertentu;
- diagram;
- kosmologi;
- serta berbagai bentuk pengetahuan dalam lingkungan datu.
Karena itu, mengatakan bahwa semua Pustaha Laklak adalah "buku mantra" terlalu menyederhanakan.
Mengatakan semuanya "buku pengobatan" juga tidak tepat.
Setiap manuskrip harus diperiksa berdasarkan teks yang benar-benar terdapat di dalamnya.
Contoh Pustaha Laklak yang Benar-Benar Masih Ada
Agar pembahasan ini tidak berhenti sebagai gambaran umum, mari melihat beberapa objek nyata.
Manuskrip MAP 2554
Asia and Pacific Museum menyimpan sebuah Pustaha dengan nomor katalog MAP 2554.
Katalog museum mencatat:
- berasal dari Sumatra Utara;
- menggunakan bahasa Batak Toba;
- menggunakan aksara Batak Toba;
- berbahan kulit kayu;
- mempunyai dua sampul kayu;
- menggunakan tinta hitam dan merah;
- dan diperkirakan berasal dari rentang abad ke-18 hingga abad ke-20.
Kondisinya sekarang sangat buruk.
Sebagian besar tinta telah memudar dan beberapa bagian kulit kayu mengalami kerusakan.
Karena teksnya hampir tidak terbaca, museum bahkan berhati-hati dalam menentukan isi manuskrip tersebut.
Ada kata yang berarti "sakit" yang masih dapat dikenali, sehingga muncul kemungkinan teks berkaitan dengan penyembuhan atau pembuatan ramuan tertentu.
Tetapi kemungkinan tersebut tidak dipaksakan menjadi kepastian.
Contoh ini mengajarkan sesuatu yang penting:
manuskrip harus berbicara sejauh bukti yang masih tersedia.
Sebuah Pustaha dengan Lembaran Sekitar Tiga Meter
Sekarang lihat contoh di University of St Andrews.
Manuskrip dengan ID ms71(o) terdiri atas dua strip kulit kayu.
Masing-masing panjangnya sekitar tiga meter.
Setiap bidang lipatan kira-kira berukuran 60 × 60 milimeter, dengan sekitar delapan baris tulisan pada setiap halaman menurut katalog koleksinya.
Tulisan terdapat pada kedua sisi.
Di dalamnya terdapat catatan, tabel dan bagan.
Katalog menyebut sebagian isinya bersifat divinasi, tetapi terdapat pula sebuah cerita yang tampaknya berkaitan dengan mitos penciptaan dunia.
Satu manuskrip saja sudah menunjukkan betapa berbahayanya menyederhanakan seluruh Pustaha menjadi satu jenis isi.
Pustaha dengan Porhalaan
British Library menyimpan Add MS 19379, yang diperkirakan berasal dari abad ke-18 hingga awal abad ke-19.
Pada bagian awal manuskrip terdapat gambar porhalaan.
Bagian-bagian berikutnya berisi sejumlah poda dan gambar.
Manuskrip tersebut juga mempunyai riwayat perjalanan yang menarik.
British Library mencatat kelompok manuskrip Add MS 19378–19385 dibeli dari Dr. E. G. Latham pada tahun 1853. Latham mendapatkannya dari Baron Oscar von Kessel, yang melakukan perjalanan di wilayah Batak pada 1844.
Jadi ketika melihat manuskrip tersebut sekarang, kita tidak hanya membaca teks lama.
Kita juga dapat mengikuti sebagian perjalanan bendanya.
Dari tanah Batak, berpindah tangan, kemudian masuk koleksi Eropa, dan akhirnya tercatat dalam katalog perpustakaan yang sekarang dapat ditelusuri melalui internet.
Pustaha dengan Aksara Simalungun
British Library juga menyimpan MSS Batak 10.
Katalognya mengidentifikasi aksara manuskrip tersebut sebagai Simalungun dan bahasa teksnya sebagai bentuk bahasa poda.
Salah satu bagian membahas divinasi menggunakan ayam.
Manuskrip ini diperkirakan berasal dari abad ke-18 hingga abad ke-19.
Contoh tersebut penting karena memperlihatkan bahwa pembahasan Pustaha Laklak tidak hanya berkaitan dengan Batak Toba.
Tradisi manuskrip Batak mempunyai keragaman regional yang perlu dihormati ketika kita membahasnya.
Pustaha Laklak Simalungun dan Mandailing Juga Terdokumentasi di Indonesia
Jejak tersebut juga terdapat dalam kepustakaan Indonesia.
Katalog Perpustakaan Balai Bahasa Sulawesi Selatan mencatat karya J.E. Saragih berjudul Pustaha Laklak No.252 Museum Simalungun & Pustaha Laklak Mandailing.
Keberadaan karya seperti ini penting karena menunjukkan bahwa Pustaha Laklak juga dipelajari berdasarkan tradisi manuskrip regional.
Dengan demikian, istilah Pustaha Laklak sebaiknya menjadi pintu masuk untuk melihat keragaman, bukan alasan untuk menghapus perbedaannya.
Berapa Umur Pustaha Laklak?
Pertanyaan mengenai usia harus dijawab dengan sangat hati-hati.
Kita tidak dapat mengambil umur satu manuskrip lalu menganggapnya sebagai umur seluruh tradisi Pustaha.
Katalog yang tersedia menunjukkan rentang berbeda.
British Library mempunyai manuskrip yang ditempatkan pada abad ke-18 hingga ke-19.
St Andrews mencatat manuskripnya pada abad ke-19.
Asia and Pacific Museum memiliki koleksi dengan rentang penanggalan yang berbeda pula.
Artinya:
umur sebuah Pustaha adalah umur objek tertentu berdasarkan penanggalan atau perkiraan yang diberikan terhadap manuskrip tersebut.
Sementara pertanyaan kapan tradisi Pustaha pertama kali muncul adalah persoalan sejarah yang jauh lebih besar dan tidak boleh dijawab hanya berdasarkan manuskrip tertua yang kebetulan masih tersimpan dalam sebuah museum.
Manuskrip tertua yang diketahui bukan otomatis manuskrip pertama yang pernah dibuat.
Mengapa Laklak Bisa Bertahan Ratusan Tahun?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya berkaitan dengan ilmu konservasi.
Kulit kayu adalah material organik.
Ia dapat rusak karena air.
Kelembapan dapat memengaruhinya.
Serangga dapat menyerangnya.
Tinta dapat memudar.
Lipatan dapat melemah.
Permukaan dapat terkelupas.
Penelitian René Teygeler dan Henk Porck mengenai sebuah Pustaha di Dutch Royal Library bahkan melakukan analisis teknis terhadap kulit kayu dan tinta untuk memahami pembuatan serta karakter manuskrip tersebut.
Jadi ketika sebuah Pustaha berusia ratusan tahun masih berada di depan kita, keberadaannya tidak boleh dianggap sesuatu yang otomatis.
Ia telah melewati perjalanan material yang panjang.
Dan setiap kerusakan dapat berarti hilangnya sebagian informasi yang pernah dituliskan di sana.
Ketika Tinta Hilang, Pengetahuan Ikut Menghilang
MAP 2554 memberikan contoh yang sangat jelas.
Tinta pada sebagian besar manuskrip telah memudar.
Beberapa bagian mengalami kemungkinan kerusakan akibat air.
Sebagian kulit kayunya bahkan hilang.
Sekarang bayangkan satu huruf menghilang.
Kemudian satu kata.
Kemudian satu baris.
Kemudian satu halaman.
Pada akhirnya bukan hanya benda yang rusak.
informasi ikut rusak.
Inilah hubungan paling mendasar antara konservasi benda dan konservasi pengetahuan.
Menjaga material berarti membantu menjaga kemungkinan bagi generasi berikutnya untuk membaca informasi yang masih tersisa.
Tidak Semua Pustaha Laklak yang Terlihat Tua Adalah Manuskrip Tua
Ini bagian yang sangat penting bagi pembaca masa kini.
Pustaha Laklak sekarang juga dibuat sebagai kerajinan dan suvenir.
Publikasi arkeologi pemerintah mengenai Pustaha Laklak bahkan pernah membahas persoalan reproduksi tersebut. Dalam pembahasannya, dengan merujuk penelitian Uli Kozok, disebutkan adanya Pustaha yang dibuat untuk pasar suvenir dan tulisan yang tidak selalu merupakan teks manuskrip lama yang bermakna.
Artinya kita harus membedakan setidaknya dua hal:
Pustaha Laklak sebagai manuskrip historis, dan
Pustaha Laklak sebagai reproduksi atau kerajinan modern.
Keduanya dapat mempunyai nilai dalam konteks masing-masing.
Kerajinan modern dapat menjadi ekspresi budaya dan produk ekonomi.
Namun benda modern tidak boleh diberi riwayat palsu seolah-olah merupakan manuskrip berusia ratusan tahun.
Usia harus dibuktikan.
Provenans harus diperiksa.
Teks perlu dibaca.
Material dapat dianalisis.
Katalog dan riwayat koleksi perlu ditelusuri.
Tampilan tua bukan bukti usia.
Mengapa Perbedaan Manuskrip Asli dan Reproduksi Penting?
Karena tanpa perbedaan itu, sejarah dapat berubah menjadi dekorasi.
Bayangkan sebuah Pustaha modern dibuat tahun ini, kemudian beberapa puluh tahun kemudian dijual tanpa keterangan.
Orang berikutnya menyebutnya berumur seratus tahun.
Pemilik berikutnya mengatakan benda itu warisan dari beberapa abad lalu.
Cerita berkembang.
Benda tetap sama.
Tetapi sejarahnya berubah melalui ucapan.
Di sinilah dokumentasi menjadi penting.
Museum menggunakan nomor inventaris.
Perpustakaan mencatat asal koleksi.
Peneliti memeriksa tulisan.
Konservator memeriksa material.
Semua itu dilakukan agar kita dapat membedakan:
apa yang diketahui, apa yang diperkirakan, dan apa yang hanya diceritakan.
Apakah Pustaha Laklak Masih Dibuat Sekarang?
Ya, bentuk Pustaha Laklak masih dapat ditemukan dalam produksi kerajinan dan reproduksi budaya.
Penelitian mengenai reproduksi manuskrip Batak di Kabupaten Samosir juga mendokumentasikan upaya menyalin kembali naskah lama dan kaitannya dengan revitalisasi budaya serta kepentingan komersial.
Fenomena ini menarik.
Sebab sebuah bentuk teknologi lama ternyata tidak sepenuhnya mati.
Ia berubah fungsi.
Dahulu kulit kayu dapat menjadi tempat pencatatan pengetahuan dalam lingkungan datu.
Sekarang bentuk serupa juga dapat hadir sebagai:
kerajinan,
suvenir,
objek seni,
alat pendidikan,
reproduksi budaya,
atau media untuk memperkenalkan aksara Batak.
Perubahan fungsi tersebut adalah bagian dari perjalanan kebudayaan.
Yang penting adalah keterangan mengenai benda tersebut harus jujur.
Reproduksi disebut reproduksi.
Manuskrip historis disebut manuskrip historis apabila bukti mendukungnya.
Pustaha Laklak dan Tradisi Tulis Batak
Di balik seluruh pembahasan mengenai kulit kayu, sampul, tinta dan lipatan, terdapat sesuatu yang jauh lebih besar.
Pustaha Laklak adalah bukti material tradisi tulis.
Ada aksara yang harus diketahui.
Ada bahasa yang harus dipahami.
Ada material yang harus disiapkan.
Ada teknik menulis.
Ada cara mengorganisasi teks.
Ada pengetahuan yang dianggap perlu dicatat.
Semua unsur tersebut tidak muncul secara kebetulan.
Mereka menunjukkan sebuah lingkungan budaya di mana tulisan mempunyai fungsi.
Karena itu Pustaha Laklak bukan hanya penting bagi sejarah benda.
Ia juga penting bagi sejarah literasi dan pengetahuan masyarakat Batak.
Dari Laklak Kita Bisa Membaca Teknologi Masa Lalu
Kita sering menganggap teknologi selalu berarti mesin.
Padahal teknologi pada dasarnya adalah cara manusia menggunakan pengetahuan dan alat untuk menyelesaikan persoalan.
Dalam pengertian itu, Pustaha Laklak adalah teknologi.
Persoalannya:
bagaimana menyimpan tulisan?
Jawabannya:
cari material yang dapat diolah menjadi permukaan tulis.
Persoalannya:
bagaimana membuat material panjang mudah disimpan?
Jawabannya:
lipat.
Persoalannya:
bagaimana melindungi lembarannya?
Jawabannya:
tempatkan di antara sampul kayu.
Persoalannya:
bagaimana menyimpan informasi?
Jawabannya:
gunakan aksara.
Dari sudut pandang ini, sebuah Pustaha Laklak adalah hasil dari serangkaian solusi teknis.
Sederhana menurut ukuran teknologi sekarang, tetapi sangat masuk akal dalam lingkungan material tempat ia lahir.
Dari Pohon Menjadi Data
Mari kita tarik perjalanan itu menjadi sangat sederhana:
pohon
↓
kulit dalam
↓
laklak
↓
permukaan tulis
↓
aksara
↓
kata
↓
pengetahuan
↓
manuskrip
↓
koleksi
↓
digitalisasi
↓
data yang dapat kita telusuri hari ini
Perjalanan tersebut luar biasa.
Sesuatu yang dahulu berada dalam tubuh sebuah pohon akhirnya dapat muncul sebagai gambar digital pada layar seseorang yang hidup ratusan atau ribuan kilometer dari tempat manuskrip itu dibuat.
Teknologinya berubah berkali-kali.
Tetapi informasinya terus mencoba bertahan.
Digitalisasi Tidak Menggantikan Laklak Asli
Ketika museum memotret atau memindai Pustaha, kita memperoleh akses yang luar biasa.
Kita dapat memperbesar gambar.
Membandingkan tulisan.
Mempelajari bentuk.
Membaca katalog.
Menghubungkan satu manuskrip dengan manuskrip lain.
Namun gambar digital tetap bukan manuskrip asli.
Kita tidak dapat merasakan ketebalan kulit kayunya.
Tidak dapat memeriksa serat secara langsung.
Tidak dapat melihat seluruh karakter material hanya melalui layar.
Karena itu digitalisasi dan konservasi fisik bukan dua hal yang saling menggantikan.
Keduanya saling melengkapi.
Objek asli menjaga material.
Digitalisasi memperluas akses terhadap informasi mengenai objek.
Mengapa Pustaha Laklak Penting Sekarang?
Karena ia menjawab beberapa pertanyaan sekaligus.
Bagaimana masyarakat Batak menulis?
Media apa yang digunakan?
Bagaimana buku dibuat sebelum kertas modern mendominasi?
Apa yang dianggap penting untuk dicatat?
Siapa yang memiliki pengetahuan tertentu?
Bagaimana tulisan dan gambar digunakan bersama?
Bagaimana benda berpindah dari Sumatra ke museum dunia?
Bagaimana manuskrip dirawat?
Bagaimana pengetahuan lama dipelajari kembali melalui teknologi digital?
Satu Pustaha dapat membawa kita ke seluruh pertanyaan tersebut.
Karena itu nilainya jauh melampaui keindahan sebuah benda tua.
Pustaha Laklak Bukan Sekadar Kulit Kayu
Setelah menelusuri materialnya, mungkin sekarang pengertian "buku kulit kayu" terasa terlalu kecil.
Kulit kayu hanyalah mediumnya.
Di atas media itu terdapat aksara.
Di dalam aksara terdapat bahasa.
Melalui bahasa terdapat pengetahuan.
Di belakang pengetahuan terdapat manusia.
Dan di belakang manuskrip yang sekarang berada di museum terdapat perjalanan sejarah yang panjang.
Maka ketika kita melihat Pustaha Laklak, sebenarnya kita sedang melihat beberapa lapisan sekaligus:
benda, tulisan, pengetahuan, manusia, dan waktu.
Hubungan Pustaha Laklak dengan Pustaha
Pustaha Laklak sebaiknya tidak dipisahkan dari pembahasan Pustaha secara keseluruhan.
Istilah Pustaha membawa kita pada tradisi manuskrip dan pengetahuan Batak secara lebih luas.
Sementara Pustaha Laklak membantu kita melihat salah satu aspek yang paling nyata dari tradisi tersebut:
medianya.
Kulit kayu itulah yang memungkinkan tulisan memiliki tempat.
Lipatan memungkinkan tulisan disimpan.
Sampul membantu melindunginya.
Aksara membuat informasi dapat direkam.
Karena itu artikel ini merupakan kelanjutan dari penelusuran PUSTAHA mengenai manuskrip Batak.
Untuk pembahasan mengenai pengertian Pustaha, datu, isi manuskrip, poda, porhalaan dan perjalanan koleksinya secara lebih luas, baca juga:
Pustaha: Pengertian, Sejarah, Isi, dan Jejak Pengetahuan dalam Tradisi Batak.
Catatan PUSTAHA
Tulisan ini merupakan hasil penelusuran dan penyusunan redaksi PUSTAHA berdasarkan katalog manuskrip, publikasi pemerintah, koleksi museum dan perpustakaan, serta kepustakaan yang membahas tradisi tulis Batak.
Tidak semua Pustaha Laklak mempunyai material, ukuran, umur, aksara, isi, kondisi, atau riwayat kepemilikan yang sama.
Keterangan mengenai suatu manuskrip dalam artikel ini harus dipahami sebagai keterangan mengenai objek yang dirujuk, kecuali terdapat dasar yang cukup untuk menerangkannya sebagai karakteristik yang lebih umum.
PUSTAHA juga membedakan antara manuskrip historis dengan reproduksi, kerajinan, atau Pustaha Laklak yang dibuat pada masa modern.
Jika penelitian baru, pemeriksaan material, pembacaan teks, atau katalog terbaru menghasilkan keterangan yang berbeda, artikel ini dapat diperbarui.
Bagi kami, Pustaha Laklak membawa satu pelajaran sederhana:
media boleh berubah, tetapi manusia selalu mencari cara agar sesuatu yang dianggap penting tidak hilang bersama waktu.
Dahulu salah satu medianya adalah kulit kayu.
Hari ini kita menelusurinya melalui layar digital.
Sumber & Referensi
-
Kozok, Uli. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak. École française d'Extrême-Orient (EFEO) dan Kepustakaan Populer Gramedia, 2009. Karya mengenai sejarah tulisan Batak dan tradisi Pustaha Laklak. Diakses 11 September 2026.
https://publications.efeo.fr/en/livres/648_surat-batak-sejarah-perkembangan-tulisan-batak -
Library of Congress. Batak Materials — Southeast Asian Rare Books and Manuscripts in the Asian Reading Room. Memuat keterangan mengenai koleksi manuskrip Pustaha Batak tulisan tangan dalam bentuk lipatan akordeon serta hubungannya dengan datu. Diakses 11 September 2026.
https://guides.loc.gov/southeast-asian-rare-books-manuscripts/batak -
University of St Andrews Libraries and Museums. Batak manuscript on tree-bark, ID ms71(o). Katalog manuskrip kulit kayu Batak berbentuk leporello; dua strip kulit kayu dengan panjang sekitar tiga meter masing-masing, sampul kayu, tulisan pada kedua sisi, serta keterangan mengenai aksara dan isi. Diakses 11 September 2026.
https://collections.st-andrews.ac.uk/item/batak-manuscript-on-tree-bark/2067673 -
Asia and Pacific Museum — Digital Library of Manuscripts and Printed Books. Manuscript MAP 2554: Pustaha. Manuskrip Batak Toba berbahan kulit kayu dengan dua sampul kayu, tinta hitam dan merah, beserta dokumentasi kondisi konservasinya. Diakses 11 September 2026.
https://manuskrypty.muzeumazji.pl/en-manuscript-2554/ -
Asia and Pacific Museum. Indonesian Manuscripts Collection. Koleksi manuskrip Sumatra Utara, termasuk Pustaha berbahan kulit bagian dalam pohon serta manuskrip dalam tradisi Batak Toba dan Simalungun. Diakses 11 September 2026.
https://manuskrypty.muzeumazji.pl/en-collection-indonesian/ -
British Library — Archives and Manuscripts Catalogue. Add MS 19379: Pustaha. Manuskrip abad ke-18–awal abad ke-19 yang memuat porhalaan, sejumlah poda, tabel dan gambar; katalog juga mencatat sebagian riwayat perpindahan koleksi. Diakses 11 September 2026.
https://searcharchives.bl.uk/catalog/032-002096018 -
British Library — Archives and Manuscripts Catalogue. MSS Batak 10: Pustaha. Manuskrip Batak dengan aksara Simalungun dan bahasa poda, termasuk teks mengenai bentuk divinasi menggunakan ayam. Diakses 11 September 2026.
https://searcharchives.bl.uk/catalog/032-003895108 -
British Library — Archives and Manuscripts Catalogue. Add MS 19382: Pustaha. Katalog manuskrip dengan bentuk aksara Mandailing Batak, diperkirakan berasal dari abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Diakses 11 September 2026.
https://searcharchives.bl.uk/catalog/032-002096021 -
Saragih, J.E. Pustaha Laklak No.252 Museum Simalungun & Pustaha Laklak Mandailing. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Rekaman bibliografis tersedia melalui Perpustakaan Balai Bahasa Sulawesi Selatan. Diakses 11 September 2026.
https://pustakabbsulsel.kemendikdasmen.go.id/bulian/index.php?id=5831&p=show_detail -
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Haba No. 43/2007 — Info Budaya, bagian "Pustaha Laklak". Memuat pembahasan mengenai pengertian laklak, Pustaha Laklak sebagai media penyimpanan informasi, aksara dan unsur visual di dalamnya. Diakses 11 September 2026.
https://repositori.kemendikdasmen.go.id/27807/1/2007-Haba%2043.pdf -
Nasoichah, Churmatin. Pustaha Laklak: Antara Karya Sastra dan Souvenir. Dalam Sangkhakala, publikasi arkeologi. Membahas Pustaha Laklak, material kulit kayu alim, serta persoalan produksi Pustaha sebagai suvenir dan reproduksi modern dengan merujuk antara lain pada Uli Kozok. Diakses 11 September 2026.
https://repositori.kemendikdasmen.go.id/7700/1/SANGKAKALA%2023-2009.pdf -
Teygeler, René & Henk Porck. Technical Analysis and Conservation of a Bark Manuscript in the Dutch Royal Library. The Paper Conservator, Vol. 19. Kajian teknis dan konservasi terhadap sebuah manuskrip kulit kayu yang diidentifikasi sebagai Pustaha Batak. Diakses 11 September 2026.
Ditulis oleh Armando
Diterbitkan oleh PUSTAHA
PUSTAHA — INGAT · TULIS · RILIS

