PUSTAHA • ARTIKEL

Aksara Batak dalam Pustaha: Membaca Jejak Tulisan dan Pengetahuan Batak

Menelusuri aksara Batak yang digunakan dalam manuskrip Pustaha, ragam bentuk tulisan dari berbagai tradisi Batak, cara aksara merekam bahasa dan pengetahuan, hingga tantangan membaca kembali naskah lama pada masa kini.

Oleh Armando SinagaDipublikasikan 11 September 2026
Aksara Batak dalam Pustaha: Membaca Jejak Tulisan dan Pengetahuan Batak

Ketika Pustaha Dibuka, Kita Berhadapan dengan Tulisan

Pada artikel sebelumnya kita telah melihat Pustaha sebagai manuskrip dan Pustaha Laklak sebagai salah satu bentuk buku berbahan kulit kayu dalam tradisi Batak.

Tetapi sebuah kulit kayu, seberapa tua pun usianya, belum menjadi sumber pengetahuan hanya karena ia dilipat dan diberi sampul.

Ada unsur lain yang membuat informasi dapat tinggal di atasnya:

tulisan.

Ketika sebuah Pustaha dibuka, kita menemukan garis, lengkungan, tanda, titik, diagram, dan rangkaian karakter yang bagi orang yang tidak mengenalnya mungkin tampak seperti simbol-simbol asing.

Itulah salah satu pintu menuju Surat Batak atau Aksara Batak.

Melalui aksara tersebut, bahasa dapat diubah menjadi tanda yang dapat ditinggalkan pada sebuah permukaan.

Ucapan yang sebelumnya hanya terdengar kemudian memperoleh bentuk.

Dan bentuk itu, apabila medianya bertahan, dapat hidup jauh lebih lama daripada orang yang pertama kali menuliskannya.

Tulisan ini merupakan penelusuran redaksi PUSTAHA terhadap hubungan Aksara Batak dengan manuskrip Pustaha, berdasarkan kajian mengenai Surat Batak, dokumentasi Unicode, serta katalog manuskrip yang masih dapat diperiksa.

Tujuannya bukan mengajarkan seluruh paleografi Batak dalam satu artikel.

Kita akan mulai dari pertanyaan yang lebih mendasar:

Tulisan apa yang terdapat dalam Pustaha? Bagaimana sistem aksara itu bekerja? Mengapa bentuknya dapat berbeda? Dan bagaimana tulisan dari manuskrip kulit kayu akhirnya dapat muncul kembali pada layar digital hari ini?


Aksara Batak atau Surat Batak?

Hari ini istilah Aksara Batak sangat umum digunakan.

Namun ketika kita masuk lebih dekat ke tradisi penulisannya, kita juga menemukan istilah Surat Batak.

Dalam pembahasan Uli Kozok mengenai tulisan Batak, istilah surat mempunyai arti yang lebih dekat kepada huruf atau tulisan, bukan hanya "surat" dalam pengertian sepucuk pesan seperti dalam bahasa Indonesia modern.

Karena itu, ketika kita menemukan istilah seperti:

Surat Batak

atau

Surat na Sampulu Sia

kita sedang berada dalam pembahasan mengenai sistem tulisan.

Dokumentasi Unicode juga mencatat nama si-sia-sia atau surat na sampulu sia, yang diterjemahkan sebagai "the nineteen letters".

Di sinilah satu hal perlu langsung ditegaskan.

Aksara Batak bukan hanya hiasan budaya.

Ia merupakan sebuah sistem tulisan.

Ada karakter dasar.

Ada nilai bunyi.

Ada tanda yang mengubah bunyi.

Ada aturan mengenai bagaimana karakter tersebut dibaca bersama.

Dan sistem itulah yang memungkinkan bahasa dituliskan.


Aksara Batak Bukan Alfabet Latin dengan Bentuk Berbeda

Kesalahan paling mudah ketika mulai mempelajari Aksara Batak adalah menganggapnya seperti alfabet Latin:

A = satu huruf.

B = satu huruf.

C = satu huruf.

Kemudian tinggal mengganti bentuknya.

Sistem Aksara Batak tidak bekerja persis seperti itu.

Unicode mengklasifikasikan Batak sebagai aksara yang berasal dari rumpun Brahmi.

Secara struktur, karakter konsonan mempunyai vokal bawaan /a/.

Artinya sebuah karakter dasar tidak selalu dibaca sebagai konsonan telanjang seperti huruf Latin.

Karakter yang mewakili bunyi konsonan sekaligus membawa vokal bawaan dapat kemudian diubah dengan tanda tertentu.

Konsep seperti inilah yang membuat pembaca modern perlu memahami sistemnya terlebih dahulu daripada sekadar menghafal bentuk.


Ina ni Surat: Huruf Induk

Dalam pembelajaran Surat Batak kita menemukan istilah penting:

ina ni surat.

Secara sederhana, ini dapat dipahami sebagai huruf induk atau karakter dasar.

Nama tradisional surat na sampulu sia mengacu pada sembilan belas huruf.

Namun ketika kita membandingkan tradisi tulisan Batak dari berbagai wilayah, kita akan menemukan bahwa inventaris karakter dan bentuknya tidak sepenuhnya identik.

Ada bentuk yang digunakan dalam satu tradisi tetapi tidak dalam tradisi lainnya.

Ada pula karakter yang memiliki bentuk berbeda tetapi fungsi yang berhubungan.

Karena itu angka "sembilan belas" harus dipahami dalam konteks tradisi penamaan aksaranya, bukan digunakan secara serampangan untuk mengatakan bahwa semua varian Batak mempunyai daftar karakter yang identik dalam setiap keadaan.


Satu Karakter Dapat Membawa Bunyi Vokal

Mari kita sederhanakan prinsipnya.

Pada banyak karakter dasar Aksara Batak, bunyi konsonan membawa vokal /a/.

Jadi secara konseptual, karakter dasar untuk bunyi tertentu dapat dibaca seperti:

ba

bukan sekadar:

b

Ini berbeda dengan cara kita biasanya memandang huruf Latin.

Kalau bunyi vokalnya ingin diubah, sistem tulisan menyediakan tanda tambahan.

Tanda-tanda itulah yang membawa kita pada bagian berikutnya.


Anak ni Surat: Tanda yang Mengubah Pembacaan

Selain ina ni surat, terdapat anak ni surat.

Anak ni surat merupakan tanda yang ditempatkan dalam hubungan dengan karakter dasar untuk mengubah atau menambahkan nilai bunyi tertentu.

Dalam dokumentasi sistem Aksara Batak kita menemukan tanda untuk perubahan vokal serta tanda yang berkaitan dengan bunyi akhir tertentu.

Secara sederhana:

ina ni surat memberikan dasar.

anak ni surat memodifikasi pembacaannya.

Konsep ini penting karena menunjukkan bahwa membaca manuskrip Batak bukan hanya mengenali bentuk huruf satu per satu.

Pembaca harus memperhatikan hubungan antara karakter dasar dan tanda yang menyertainya.

Satu tanda kecil dapat mengubah cara sebuah karakter dibaca.


Pangolat: Ketika Vokal Bawaan Dihilangkan

Ada lagi istilah penting:

pangolat.

Dalam sistem tulisan Batak, tanda ini digunakan untuk menghilangkan vokal bawaan pada sebuah konsonan.

Unicode mencatat bahwa istilahnya sendiri dapat berbeda menurut tradisi.

Dalam Mandailing, Pakpak, dan Toba digunakan istilah pangolat.

Dalam Karo dikenal penengen.

Dalam Simalungun disebut panongonan.

Bahkan bentuk tandanya dapat berbeda.

Contoh sederhana ini sudah memperlihatkan sesuatu yang sangat penting:

kita tidak sedang berhadapan dengan satu sistem yang seluruh detail visual dan terminologinya identik di setiap wilayah Batak.

Ada keluarga tulisan yang berhubungan, tetapi di dalamnya terdapat variasi.


Aksara Batak Memiliki Beberapa Tradisi Regional

Dokumentasi Unicode membahas Aksara Batak dalam kaitannya dengan lima tradisi bahasa utama:

  • Karo;
  • Pakpak;
  • Simalungun;
  • Toba;
  • Mandailing.

Kelima tradisi tersebut mempunyai hubungan yang sangat dekat dalam sistem tulisannya.

Namun dekat bukan berarti sama persis.

Ada variasi bentuk karakter.

Ada karakter tertentu yang penggunaannya berkaitan dengan tradisi tertentu.

Ada perbedaan tanda.

Ada pula perbedaan istilah.

Karena itu kita perlu berhati-hati ketika melihat sebuah Pustaha lalu langsung mengatakan:

"Ini aksara Batak Toba."

Kesimpulan seperti itu seharusnya dibuat berdasarkan pembacaan manuskrip, bentuk aksara, bahasa, provenans, atau katalog yang dapat dipertanggungjawabkan.


Pustaha Membuktikan Variasi Itu Benar-Benar Ada

Variasi tersebut bukan hanya teori dalam buku tata aksara.

Kita dapat menemukannya langsung dalam katalog manuskrip.

British Library, misalnya, mencatat manuskrip MSS Batak 10 menggunakan aksara Simalungun.

Manuskrip lain, Add MS 19382, dideskripsikan mempunyai bentuk tulisan Mandailing Batak.

Sementara koleksi lain menggunakan bentuk yang dikatalogkan sebagai Batak Toba.

Artinya, ketika kita mengatakan "Aksara Batak dalam Pustaha", istilah tersebut menaungi manuskrip yang dapat berasal dari tradisi tulisan yang berbeda.

Inilah alasan PUSTAHA tidak ingin memperlakukan seluruh manuskrip Batak sebagai satu benda yang seragam.

Pustaha mempunyai keragaman.

Aksaranya pun mempunyai keragaman.


Bahkan Batas Bentuk Aksara Tidak Selalu Bersih

Ada hal yang lebih menarik lagi.

Dalam diskusi teknis mengenai pengkodean Aksara Batak untuk Unicode, Uli Kozok menjelaskan bahwa batas antara lima gaya tulisan tersebut dalam tradisi manuskrip tidak selalu jelas.

Salah satu contoh yang diberikan adalah adanya manuskrip yang ditulis oleh orang Karo yang belajar di wilayah Toba.

Ini sangat penting.

Manusia bergerak.

Guru mempunyai murid.

Pengetahuan berpindah.

Orang belajar di tempat lain.

Akibatnya gaya tulisan tidak selalu mengikuti garis geografis secara sempurna.

Jadi sebuah manuskrip dapat membawa jejak perjalanan orang yang menulisnya, bukan hanya nama wilayah tempat benda tersebut akhirnya ditemukan.


Pustaha Bukan Buku Cetak: Tulisan Tangan Membawa Jejak Penulis

Hari ini dua buku dari mesin cetak yang sama dapat mempunyai huruf yang nyaris identik.

Pustaha hidup dalam dunia yang berbeda.

Ia ditulis dengan tangan.

Dan tulisan tangan membawa variasi.

Bayangkan tulisan tangan kita sendiri.

Huruf "A" yang saya tulis mungkin berbeda dari huruf "A" yang Anda tulis.

Bahkan tulisan orang yang sama dapat berubah ketika terburu-buru, ketika menggunakan alat berbeda, atau setelah bertahun-tahun.

Hal serupa harus kita ingat ketika melihat manuskrip lama.

Bentuk karakter mempunyai tradisi.

Tetapi manusia yang menuliskannya tetap mempunyai tangan.

Karena itu pembacaan manuskrip lama membutuhkan lebih dari sekadar tabel aksara modern.


Mengapa Membaca Pustaha Tidak Semudah Mempelajari Tabel Aksara?

Misalnya hari ini seseorang mempelajari seluruh karakter Aksara Batak dari sebuah buku.

Apakah besok ia otomatis dapat membaca semua Pustaha?

Belum tentu.

Ada beberapa lapisan persoalan.

Pertama, bentuk tulisan tangan lama dapat berbeda dari bentuk standar yang dipelajari sekarang.

Kedua, terdapat variasi regional.

Ketiga, kondisi manuskrip dapat buruk.

Tinta dapat memudar.

Kulit kayu dapat robek.

Sebagian karakter dapat hilang.

Keempat, mengenali aksara belum tentu berarti memahami bahasanya.

Dan kelima, sejumlah Pustaha menggunakan kosakata dan bahasa khusus yang berkaitan dengan lingkungan datu.

Maka kemampuan membaca bentuk karakter hanyalah pintu pertama.

Di belakangnya masih ada bahasa, konteks, istilah, dan sejarah.


Hata Poda: Ketika Kita Bisa Membaca Huruf tetapi Belum Tentu Memahami Isinya

Library of Congress menjelaskan bahwa manuskrip Pustaha dalam koleksinya ditulis dalam bahasa esoterik lama yang mereka sebut Hata Poda.

Istilah poda juga sering muncul pada katalog Pustaha sebagai bagian dari judul atau pembukaan suatu instruksi.

Ini menunjukkan perbedaan penting antara:

membaca aksara

dan

memahami teks.

Seseorang dapat mengenali karakter satu per satu tetapi masih tidak memahami maksud kalimat.

Persis seperti seseorang yang mampu membaca alfabet Latin tetapi belum tentu memahami sebuah teks berbahasa Latin, Belanda, atau Jerman.

Aksara adalah sistem tulis.

Bahasa adalah sistem bahasa.

Keduanya berhubungan, tetapi bukan hal yang sama.


Karena Itu "Aksara Batak" Bukan "Bahasa Batak"

Ini kesalahpahaman yang cukup mudah terjadi.

Aksara bukan bahasa.

Huruf Latin yang kita gunakan sekarang dapat menulis:

Bahasa Indonesia,

Bahasa Inggris,

Bahasa Batak Toba,

Bahasa Jawa,

Bahasa Jerman,

dan banyak bahasa lain.

Hurufnya dapat sama, tetapi bahasanya berbeda.

Begitu pula Aksara Batak.

Ia adalah sistem tulisan yang digunakan untuk menuliskan bahasa-bahasa Batak tertentu.

Maka ketika menemukan sebuah manuskrip, dua pertanyaan perlu dibedakan:

Aksara apa yang digunakan?

dan

Bahasa apa yang dituliskan?

Jawabannya tidak selalu dapat diperoleh hanya dengan melihat bentuk satu karakter.


Aksara Mengubah Suara Menjadi Jejak

Sekarang kita kembali pada persoalan paling mendasar.

Bayangkan seorang datu menyampaikan sebuah poda kepada muridnya secara lisan.

Selama hanya diucapkan, pengetahuan tersebut bergantung pada:

orang yang berbicara,

orang yang mendengar,

dan kemampuan seseorang mengingatnya.

Tulisan mengubah keadaan itu.

Bunyi diwakili oleh tanda.

Tanda diletakkan pada laklak.

Laklak dilipat.

Pustaha disimpan.

Kemudian seseorang yang memahami sistem tulisan dapat mencoba membacanya kembali.

Secara sederhana:

suara → bahasa → aksara → manuskrip → penyimpanan informasi.

Di sinilah Aksara Batak mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan Pustaha.

Tanpa sistem tulisan, kulit kayu hanyalah media.

Dengan tulisan, media itu dapat menjadi pembawa informasi lintas generasi.


Tetapi Tulisan Tidak Menjamin Informasi Akan Bertahan Selamanya

Aksara dapat memperpanjang umur informasi.

Namun tidak membuatnya abadi.

Jika kulit kayu rusak, karakter dapat hilang.

Jika tinta memudar, kata dapat terputus.

Jika bahasa tidak lagi dipahami, tulisan dapat tetap terlihat tetapi maknanya menjadi sulit dijangkau.

Jika tidak ada orang yang mampu membaca bentuk aksara lama, manuskrip dapat berubah menjadi benda yang dipandang tetapi tidak dimengerti.

Jadi pelestarian tulisan mempunyai setidaknya tiga lapisan:

menjaga bendanya,

menjaga kemampuan membaca aksaranya,

dan

menjaga pengetahuan mengenai bahasa serta konteksnya.

Ketiganya penting.


Dari Goresan Tangan ke Karakter Digital

Di sinilah perjalanan Aksara Batak menjadi sangat menarik.

Dahulu karakter dituliskan secara manual pada bambu, kulit kayu, atau media lainnya.

Sekarang Aksara Batak juga dapat hadir sebagai karakter komputer.

Hal ini dimungkinkan antara lain melalui Unicode.

Unicode adalah standar internasional yang memberikan identitas numerik kepada karakter sehingga komputer dari berbagai sistem dapat mengenali tulisan secara konsisten.

Aksara Batak mempunyai blok tersendiri:

U+1BC0–U+1BFF.

Artinya karakter Batak tidak lagi harus diperlakukan sebagai gambar.

Komputer dapat mengenalinya sebagai karakter teks.


Bagaimana Aksara Batak Masuk Unicode?

Proses itu bukan terjadi secara otomatis.

Pada 2008, Michael Everson dan Uli Kozok mengajukan proposal pengkodean Aksara Batak ke Universal Character Set.

Proposal tersebut mendokumentasikan struktur aksara, variasi karakter, tanda vokal, pangolat, tanda baca, serta penggunaan pada tradisi Karo, Mandailing, Pakpak, Simalungun, dan Toba.

Aksara Batak kemudian masuk dalam Unicode Standard versi 6.0 pada 2010.

Ini merupakan perubahan teknologi yang sangat besar.

Sistem tulisan yang dahulu hidup pada permukaan material tradisional kini memperoleh tempat dalam sistem pengkodean karakter global.


Apa Artinya Aksara Batak Ada di Unicode?

Artinya secara teknis karakter Batak dapat:

ditulis sebagai teks digital,

disimpan dalam basis data,

dicari,

disalin,

diproses perangkat lunak,

ditampilkan melalui font yang mendukungnya,

dan dikirim melalui jaringan digital.

Ini berbeda dengan sekadar memotret sebuah Pustaha.

Foto Pustaha menghasilkan gambar tulisan.

Unicode memungkinkan kita menghasilkan teks digital yang terdiri atas karakter Batak.

Perbedaannya sangat besar.

Sebuah gambar dapat dilihat.

Teks yang dikodekan dapat diproses oleh komputer.


Dari Laklak Menuju Basis Data

Sekarang bayangkan perjalanan sebuah karakter.

Ratusan tahun lalu, seseorang menuliskannya dengan tangan di atas kulit kayu.

Hari ini bentuk tulisan tersebut dapat dipelajari oleh ahli.

Karakter yang mewakili sistem tulisannya kemudian memiliki kode Unicode.

Kode tersebut dapat disimpan di server.

Kemudian muncul kembali sebagai bentuk karakter pada layar telepon.

Perjalanannya dapat kita gambarkan:

tangan manusia

laklak

Pustaha

manuskrip bertahan

penelitian

dokumentasi aksara

Unicode

font

komputer

internet

layar kita hari ini

Media berubah total.

Tetapi prinsipnya tetap:

sebuah tanda mewakili informasi.


Apakah Bentuk Digital Sama Persis dengan Tulisan pada Pustaha?

Tidak.

Ini juga harus ditegaskan.

Font digital membutuhkan bentuk karakter yang dapat digunakan secara konsisten.

Tulisan tangan manuskrip mempunyai variasi yang jauh lebih besar.

Unicode sendiri terutama menentukan karakter, bukan memaksa setiap karakter selalu mempunyai satu bentuk visual yang identik.

Font dapat menampilkan gaya yang berbeda.

Manuskrip bahkan dapat memperlihatkan variasi yang tidak mudah direduksi menjadi satu bentuk standar.

Karena itu jangan menggunakan font komputer sebagai satu-satunya ukuran untuk menentukan apakah bentuk pada Pustaha "benar" atau "salah".

Manuskrip adalah bukti sejarah.

Font adalah implementasi digital.

Keduanya berhubungan tetapi tidak identik.


Aksara Batak yang Kita Lihat Sekarang Adalah Hasil Perjalanan Panjang

Sebuah sistem tulisan tidak membeku dalam satu bentuk untuk selamanya.

Cara orang menulis dapat berubah.

Material berubah.

Fungsi berubah.

Pendidikan berubah.

Standarisasi muncul.

Percetakan membawa tuntutan baru.

Komputer membawa tuntutan baru lagi.

Ketika aksara masuk ke Unicode, variasi sejarah harus diterjemahkan menjadi sebuah sistem yang dapat diproses komputer.

Itulah sebabnya dokumentasi teknis Unicode justru sangat menarik bagi kajian budaya.

Di sana kita dapat melihat bagaimana warisan tulisan lama dinegosiasikan dengan kebutuhan teknologi modern.


Jangan Menganggap Satu Bentuk sebagai Satu-satunya Aksara Batak yang "Asli"

Karena terdapat variasi Karo, Pakpak, Simalungun, Toba, dan Mandailing, klaim bahwa hanya satu bentuk modern merupakan satu-satunya Aksara Batak yang sah perlu dihadapi dengan hati-hati.

Manuskrip sendiri memperlihatkan variasi.

Dokumentasi Unicode memperlihatkan variasi.

Kajian tulisan Batak juga memperlihatkan variasi.

Bahkan dalam tradisi manuskrip, batas gaya dapat bercampur karena manusia belajar dan bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain.

Keragaman itu bukan kelemahan.

Justru keragaman tersebut adalah bagian dari sejarah aksara.


Apakah Semua Orang Batak Dahulu Membaca Pustaha?

Kita juga tidak boleh melompat dari keberadaan aksara menuju kesimpulan bahwa seluruh masyarakat Batak pada masa tertentu mempunyai tingkat literasi yang sama atau membaca Pustaha seperti masyarakat modern membaca buku.

Banyak Pustaha yang diketahui mempunyai hubungan khusus dengan datu dan lingkungan pengetahuan tertentu.

Karena itu keberadaan tradisi tulis membuktikan adanya sistem tulisan dan praktik pencatatan, tetapi tidak otomatis memberi kita statistik mengenai tingkat literasi seluruh penduduk.

Untuk pertanyaan seperti itu diperlukan penelitian sejarah yang lebih khusus.

Ini salah satu prinsip yang terus kita gunakan dalam penelusuran PUSTAHA:

bukti harus dibiarkan mengatakan apa yang memang dapat dikatakannya—tidak lebih.


Aksara Batak dalam Pustaha Adalah Jejak Pengetahuan

Ketika sebuah karakter masih dapat dibaca pada kulit kayu yang berusia ratusan tahun, sebenarnya terjadi sesuatu yang luar biasa.

Orang yang menulisnya mungkin telah lama tiada.

Dunia tempat ia hidup telah berubah.

Bahasa mungkin berkembang.

Kampung berubah.

Negara berubah.

Teknologi berubah.

Tetapi gerakan tangannya masih meninggalkan jejak.

Kita tidak mendengar suaranya.

Kita tidak melihat wajahnya.

Namun melalui tulisan, sebagian informasi yang pernah ia ketahui masih mempunyai kemungkinan untuk dibaca.

Itulah kekuatan aksara.

Tulisan membuat manusia dapat meninggalkan informasi melampaui umur biologisnya.


Pustaha, Laklak, dan Aksara Tidak Dapat Dipisahkan

Sekarang tiga bagian penelusuran kita mulai bertemu.

Pustaha adalah manuskrip dan lingkungan pengetahuan yang lebih luas.

Laklak merupakan salah satu media material tempat tulisan itu berada.

Aksara Batak adalah sistem tanda yang memungkinkan bahasa dan informasi dicatat.

Ketiganya membentuk hubungan:

media + tulisan + informasi.

Tanpa media, tulisan tidak mempunyai tempat.

Tanpa tulisan, informasi tidak direkam dalam bentuk teks.

Tanpa manusia yang memahami sistemnya, tulisan sulit kembali menjadi pengetahuan.

Karena itu memahami Pustaha tidak cukup hanya melihat bendanya.

Kita juga harus mencoba memahami cara benda itu berbicara.

Dan salah satu suaranya adalah Aksara Batak.


Dari Surat Batak ke Layar Digital

Ada sesuatu yang menarik ketika artikel ini ditulis pada 2026.

Kita sedang membicarakan aksara yang dahulu dituliskan pada kulit kayu menggunakan sebuah medium yang sama sekali berbeda dengan perangkat yang kita gunakan sekarang.

Tulisan ini disimpan di server.

Dibaca melalui internet.

Ditemukan melalui mesin pencari.

Dapat dibuka dari telepon genggam.

Tetapi pokok persoalannya sama dengan yang dihadapi manusia pada masa Pustaha:

bagaimana sebuah pengetahuan dicatat agar dapat ditemukan kembali?

Dahulu jawabannya dapat berupa laklak.

Hari ini salah satu jawabannya adalah data digital.


Catatan PUSTAHA

Tulisan ini merupakan hasil penelusuran dan penyusunan redaksi PUSTAHA berdasarkan kajian mengenai Surat Batak, dokumentasi Unicode, proposal pengkodean Aksara Batak, serta katalog manuskrip yang dapat ditelusuri kembali.

Istilah Aksara Batak digunakan sebagai istilah umum untuk keluarga tradisi tulisan yang mempunyai variasi Karo, Pakpak, Simalungun, Toba, dan Mandailing.

PUSTAHA tidak menganggap seluruh manuskrip menggunakan bentuk aksara, bahasa, ejaan, istilah, atau gaya tulisan yang sama.

Identifikasi aksara sebuah Pustaha tertentu sebaiknya didasarkan pada pembacaan manuskrip dan sumber katalog atau penelitian yang relevan.

Artikel ini juga tidak dimaksudkan sebagai panduan paleografi lengkap untuk membaca manuskrip Batak lama. Kemampuan membaca karakter modern tidak otomatis cukup untuk menafsirkan teks Pustaha karena terdapat persoalan variasi tulisan tangan, kondisi manuskrip, bahasa, istilah, dan konteks sejarah.

Jika penelitian atau katalog baru memberikan keterangan yang lebih kuat, artikel ini dapat dikembangkan dan diperbarui.

Untuk memahami konteks bendanya secara lebih luas, baca juga:

Pustaha: Pengertian, Sejarah, Isi, dan Jejak Pengetahuan dalam Tradisi Batak

serta:

Pustaha Laklak: Mengenal Manuskrip Kulit Kayu dan Tradisi Tulis Batak


Sumber & Referensi

  1. Everson, Michael & Uli Kozok. Proposal for Encoding the Batak Script in the UCS. Universal Multiple-Octet Coded Character Set / UC Berkeley Script Encoding Initiative, 7 Oktober 2008. Dokumentasi struktur dan variasi Aksara Batak untuk Karo, Mandailing, Pakpak, Simalungun, dan Toba. Diakses 11 September 2026.
    https://escholarship.org/uc/item/0q292328

  2. The Unicode Consortium. The Unicode Standard, Version 17.0 — Chapter 17.6: Batak. Dokumentasi resmi blok Aksara Batak, struktur aksara, vokal bawaan, tanda vokal, serta variasi pangolat/penengen/panongonan. Diakses 11 September 2026.
    https://unicode.org/versions/Unicode17.0.0/core-spec/chapter-17/

  3. The Unicode Consortium. Batak — Unicode Character Names, U+1BC0–U+1BFF. Daftar karakter dan catatan mengenai penggunaan bentuk tertentu dalam tradisi Karo, Pakpak, Simalungun, Toba, dan Mandailing. Diakses 11 September 2026.
    https://www.unicode.org/charts/nameslist/n_1BC0.html

  4. Library of Congress, Asian Division. Batak Materials — Southeast Asian Rare Books and Manuscripts in the Asian Reading Room. Keterangan mengenai Pustaha tulisan tangan, bentuk manuskrip, penggunaan oleh datu, Hata Poda, material kulit dalam pohon alim, diagram dan kalender. Diakses 11 September 2026.
    https://guides.loc.gov/southeast-asian-rare-books-manuscripts/batak

  5. British Library — Archives and Manuscripts Catalogue. Add MS 19382: Pustaha. Katalog mengidentifikasi manuskrip dengan bentuk aksara Mandailing Batak dan memuat keterangan mengenai teks di dalamnya. Diakses 11 September 2026.
    https://searcharchives.bl.uk/catalog/032-002096021

  6. British Library — Archives and Manuscripts Catalogue. MSS Batak 10: Pustaha. Manuskrip yang dikatalogkan menggunakan aksara Simalungun dan bahasa Poda. Diakses 11 September 2026.
    https://searcharchives.bl.uk/catalog/032-003895108

  7. Kozok, Uli. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak. École française d'Extrême-Orient (EFEO) bersama Kepustakaan Populer Gramedia, 2009. Kajian mengenai sejarah, struktur, variasi dan perkembangan tradisi tulisan Batak.

  8. University of St Andrews Libraries and Museums. Batak Manuscript on Tree-bark, ID ms71(o). Katalog manuskrip kulit kayu Batak dengan tulisan pada kedua sisi, diagram dan tabel serta keterangan mengenai penggunaannya. Diakses 11 September 2026.
    https://collections.st-andrews.ac.uk/item/batak-manuscript-on-tree-bark/2067673


Ditulis oleh Armando
Diterbitkan oleh PUSTAHA

PUSTAHA — INGAT · TULIS · RILIS

PUSTAHA • DISKUSI

Komentar

Memuat komentar...