Menembus Batas Teknologi: Ketika Sebuah Mesin Menjadi Persoalan Kekuasaan Dunia
Ada sebuah kenyataan menarik dalam perkembangan teknologi modern.
Sebuah negara dapat memiliki kekuatan militer besar, cadangan devisa melimpah, jutaan tenaga kerja, dan industri manufaktur yang sangat luas.
Namun, seluruh kekuatan tersebut belum tentu cukup untuk menghasilkan sebuah mesin yang hanya mampu diproduksi oleh satu perusahaan di dunia.
Mesin itu adalah Extreme Ultraviolet Lithography (EUV), teknologi litografi ultraviolet ekstrem yang digunakan untuk membuat pola-pola sangat kecil pada chip semikonduktor modern.
Selama bertahun-tahun, ASML, perusahaan teknologi asal Belanda, menjadi satu-satunya produsen komersial sistem litografi EUV di dunia.
Mesin ini digunakan dalam proses pembuatan chip canggih untuk berbagai kebutuhan, mulai dari telepon pintar, pusat data, kecerdasan buatan, hingga sistem komputasi berperforma tinggi.
Di antara perusahaan yang menggunakan teknologi EUV adalah Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), perusahaan manufaktur semikonduktor asal Taiwan.
TSMC memproduksi chip untuk berbagai perusahaan teknologi global.
Namun, terdapat persoalan yang jauh lebih besar daripada hubungan antara perusahaan pembuat mesin dan perusahaan pembuat chip.
Teknologi EUV telah menjadi bagian dari persaingan strategis antara Amerika Serikat, China, dan negara-negara yang menguasai rantai pasok semikonduktor.
Amerika Serikat berusaha mempertahankan keunggulannya dalam teknologi komputasi canggih.
China berusaha mengurangi ketergantungannya pada teknologi asing.
Sementara itu, Belanda berada dalam posisi penting karena ASML merupakan salah satu perusahaan yang menguasai teknologi paling menentukan dalam industri tersebut.
Menurut saya, inilah gambaran bagaimana sebuah teknologi dapat berubah menjadi sumber kekuasaan ekonomi dan geopolitik.
Ketika kemampuan memproduksi teknologi tertentu hanya dimiliki segelintir perusahaan, penguasaan teknologi tersebut dapat memengaruhi posisi tawar negara-negara di dunia.
1. ASML: Perusahaan Belanda yang Menguasai Teknologi Sangat Langka
ASML bukan perusahaan yang lahir sebagai raksasa teknologi.
Sejarahnya justru dimulai dari sebuah kerja sama industri.
Pada 1 April 1984, Philips dan ASM International membentuk perusahaan bernama ASM Lithography di Belanda.
Perusahaan tersebut kemudian berkembang menjadi ASML.
Philips sendiri dikenal luas sebagai perusahaan elektronik yang menghasilkan berbagai produk konsumen.
Namun, sejarah Philips juga berkaitan erat dengan penelitian elektronika, semikonduktor, peralatan medis, dan teknologi industri.
Bahkan, terdapat hubungan historis yang menarik antara Philips, ASML, dan TSMC.
TSMC didirikan pada 1987 oleh Morris Chang melalui kerja sama yang melibatkan pemerintah Taiwan, Philips, serta investor lainnya.
Dengan demikian, Philips mempunyai peran dalam pembentukan dua perusahaan yang kemudian menjadi bagian sangat penting dari industri semikonduktor dunia.
Namun, keberhasilan ASML tidak muncul semata-mata karena modal awal dari Philips.
Perusahaan tersebut membutuhkan puluhan tahun penelitian dan pengembangan untuk membawa teknologi EUV menjadi sistem manufaktur yang layak digunakan secara komersial.
ASML juga tidak bekerja sendirian.
Teknologi yang digunakannya merupakan hasil kerja sama dengan berbagai perusahaan, lembaga penelitian, dan pemasok komponen khusus.
Salah satu mitra terpentingnya adalah perusahaan optik Jerman, ZEISS, yang mengembangkan sistem optik presisi untuk litografi.
Artinya, bahkan sebuah perusahaan yang menjadi satu-satunya pemasok komersial mesin EUV pun tidak sepenuhnya memproduksi seluruh teknologi tersebut secara mandiri.
Di balik satu mesin terdapat jaringan industri internasional yang sangat kompleks.
Keunggulan ASML bukan sekadar kemampuan merakit mesin, melainkan kemampuannya mengintegrasikan berbagai teknologi yang sangat sulit menjadi satu sistem produksi.
2. Mengapa Mesin EUV Begitu Sulit Dibuat?
Untuk memahami persoalan ini, kita perlu melihat bagaimana chip semikonduktor diproduksi.
Sebuah chip modern dapat mengandung miliaran transistor yang dibentuk melalui serangkaian proses manufaktur pada lempengan silikon atau wafer.
Transistor-transistor tersebut membentuk rangkaian elektronik yang memungkinkan prosesor melakukan pengolahan data.
Semakin maju teknologi manufakturnya, semakin besar peluang produsen untuk meningkatkan kepadatan transistor, efisiensi energi, dan kemampuan komputasi.
Salah satu tahapan penting dalam proses manufaktur adalah litografi.
Secara sederhana, litografi digunakan untuk memindahkan pola rangkaian ke permukaan wafer yang telah dilapisi bahan peka cahaya.
Namun, proses sebenarnya jauh lebih rumit daripada mencetak gambar pada sebuah permukaan.
Mesin harus bekerja dengan tingkat presisi yang luar biasa tinggi.
Sistem EUV menggunakan cahaya dengan panjang gelombang sekitar 13,5 nanometer.
Sebagai perbandingan, teknologi Deep Ultraviolet (DUV) berbasis laser argon-fluorida menggunakan panjang gelombang 193 nanometer.
Panjang gelombang yang jauh lebih pendek memungkinkan EUV membentuk pola sangat kecil dengan lebih efisien untuk lapisan tertentu pada chip canggih.
Tetapi menghasilkan dan mengendalikan cahaya EUV bukan pekerjaan sederhana.
ASML menggunakan teknologi laser-produced plasma untuk menghasilkan sumber cahaya tersebut.
Dalam sistem ini, tetesan timah berukuran sangat kecil ditembak menggunakan pulsa laser berenergi tinggi.
Proses tersebut membentuk plasma yang memancarkan cahaya ultraviolet ekstrem.
Peristiwa itu dapat berlangsung hingga puluhan ribu kali setiap detik.
Permasalahannya tidak berhenti pada pembentukan cahaya.
Cahaya EUV sangat mudah diserap oleh berbagai material, termasuk udara.
Karena itu, jalur optiknya harus berada dalam lingkungan vakum.
Cahaya kemudian diarahkan menggunakan sistem cermin khusus dengan permukaan yang diproduksi secara sangat presisi.
Sementara itu, wafer harus diposisikan dan digerakkan dengan ketelitian luar biasa.
Kesalahan kecil pada proses penyelarasan dapat menghasilkan cacat pada chip.
Mesin juga harus mampu mempertahankan kecepatan produksi, kestabilan termal, serta keandalan operasi.
Dengan kata lain, tantangan terbesar bukan hanya membuat sebuah mesin yang dapat menghasilkan cahaya EUV.
Tantangan sesungguhnya adalah membuat seluruh sistem bekerja secara terkoordinasi, stabil, dan cukup cepat untuk menghasilkan chip dalam jumlah besar.
Di sinilah letak kerumitan teknologinya.
Sebuah prototipe yang berhasil menghasilkan cahaya EUV belum tentu mampu menjadi mesin pembuat chip yang layak digunakan dalam industri.
3. Mesin Bernilai Ratusan Juta Dolar dan Kapasitas Produksi yang Terbatas
Harga sistem litografi EUV dapat mencapai ratusan juta dolar Amerika Serikat, bergantung pada generasi, konfigurasi, dan kemampuan teknologinya.
Mesin generasi terbaru dengan teknologi High Numerical Aperture atau High-NA EUV memiliki kompleksitas dan harga yang lebih tinggi dibandingkan sistem generasi sebelumnya.
Terdapat laporan yang menyebut harga beberapa sistem canggih tersebut mencapai sekitar 300 juta dolar AS atau lebih.
Namun, angka tersebut tidak boleh dianggap sebagai harga tetap seluruh mesin EUV.
Setiap generasi mesin mempunyai kemampuan dan nilai komersial yang berbeda.
Hal menarik lainnya adalah jumlah unit yang dijual setiap tahun.
Berdasarkan laporan tahunan ASML 2025, perusahaan tersebut mencatat penjualan 48 sistem litografi EUV sepanjang tahun tersebut.
Jumlah ini terlihat sangat kecil apabila dibandingkan dengan produksi mobil, komputer, atau perangkat elektronik konsumen.
Namun, membandingkan mesin EUV dengan produk manufaktur biasa merupakan kesalahan.
Setiap sistem membutuhkan komponen khusus, proses perakitan kompleks, pengujian, serta koordinasi dengan jaringan pemasok teknologi presisi.
Produksi tidak dapat ditingkatkan semudah menambah jumlah pekerja pada jalur perakitan biasa.
Kecepatan peningkatan kapasitas sangat bergantung pada ketersediaan komponen, kemampuan pemasok, fasilitas manufaktur, serta permintaan pelanggan.
Jumlah 48 sistem yang tercatat sebagai penjualan pada 2025 juga tidak otomatis berarti ASML hanya mampu memproduksi maksimal 48 unit setiap tahun.
Penjualan, pengiriman, pengakuan pendapatan, dan kapasitas produksi merupakan ukuran yang berbeda.
Bagi saya, angka ini memperlihatkan karakter industri teknologi tinggi.
Nilai strategis sebuah produk tidak selalu ditentukan oleh banyaknya barang yang diproduksi.
Dalam industri tertentu, produk yang hanya dihasilkan puluhan unit dapat mempunyai pengaruh sangat besar terhadap kemampuan produksi ribuan jenis perangkat lain.
Satu mesin dapat menjadi bagian penting dari industri yang menghasilkan miliaran komponen elektronik.
4. Ketika Amerika Serikat Membatasi Akses China terhadap Teknologi Chip
Persaingan semikonduktor menjadi semakin penting ketika Amerika Serikat memperketat pembatasan akses China terhadap teknologi tertentu.
Amerika Serikat menilai kemampuan produksi chip canggih mempunyai hubungan dengan keamanan nasional, kecerdasan buatan, komputasi berperforma tinggi, dan teknologi militer.
Sementara itu, China memandang penguasaan industri semikonduktor sebagai bagian penting dari kemandirian teknologi dan pembangunan ekonominya.
Dalam perkembangan pembatasan ekspor sejak akhir 2010-an, pemerintah Belanda tidak memberikan izin yang memungkinkan pengiriman sistem EUV ASML ke pelanggan di China.
ASML menyatakan bahwa perusahaan tersebut tidak pernah mengirim mesin EUV ke China.
Pembatasan kemudian berkembang dan mencakup beberapa jenis peralatan DUV canggih serta teknologi terkait.
Namun, hal ini tidak berarti seluruh produk ASML dilarang dijual ke China.
Perusahaan tersebut masih dapat menjual jenis peralatan tertentu sepanjang memenuhi ketentuan pengendalian ekspor yang berlaku.
Persoalan serupa terlihat dalam kasus Huawei.
Pada 2020, pemerintah Amerika Serikat memperluas pembatasan terhadap pasokan semikonduktor yang menggunakan teknologi tertentu asal Amerika Serikat.
TSMC kemudian menghentikan pengiriman produk kepada Huawei mulai 15 September 2020 untuk mematuhi pembatasan tersebut.
Peristiwa itu menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan teknologi dapat terdampak oleh kebijakan negara lain meskipun hubungan bisnisnya melibatkan perusahaan yang berada di wilayah berbeda.
Namun, terlalu sederhana apabila penurunan posisi Huawei dalam pasar telepon pintar hanya dikaitkan dengan satu kebijakan, atau apabila keberhasilan Apple dijelaskan semata-mata sebagai akibat pembatasan terhadap Huawei.
Persaingan pasar juga dipengaruhi kualitas produk, ekosistem perangkat lunak, jaringan distribusi, strategi bisnis, dan keputusan konsumen.
Meskipun demikian, pembatasan teknologi tetap mempunyai konsekuensi besar.
China menghadapi kenyataan bahwa sebagian teknologi terpenting bagi perkembangan industrinya tidak dapat diperoleh secara bebas melalui pembelian.
Menurut saya, peristiwa tersebut memperlihatkan kelemahan mendasar ketika suatu negara sangat bergantung pada teknologi strategis yang dikendalikan pihak lain.
Sebuah negara dapat mempunyai kemampuan finansial untuk membeli teknologi, tetapi kemampuan membeli tidak selalu berarti memiliki akses terhadap teknologi tersebut.
5. China Memulai Perjuangan Mengembangkan Mesin EUV Sendiri
Ketika akses terhadap teknologi tertentu semakin dibatasi, China memperkuat upayanya mengembangkan kemampuan semikonduktor dalam negeri.
Pengembangan tersebut melibatkan perusahaan, lembaga penelitian, tenaga ahli, dan dukungan kebijakan industri.
Namun, pekerjaan ini mempunyai tingkat kesulitan yang sangat tinggi.
China tidak cukup hanya mengembangkan satu perusahaan pembuat mesin.
Negara tersebut juga memerlukan penguasaan teknologi sumber cahaya, sistem optik, material khusus, sistem kendali, sensor, perangkat lunak, dan berbagai komponen presisi.
Pada 17 Desember 2025, Reuters menerbitkan laporan investigasi mengenai pengembangan prototipe mesin EUV di China.
Menurut laporan tersebut, para peneliti telah membangun sebuah prototipe di fasilitas penelitian dengan keamanan tinggi di Shenzhen.
Prototipe tersebut dilaporkan selesai pada awal 2025 dan sedang menjalani pengujian.
Reuters juga melaporkan keterlibatan sejumlah mantan insinyur ASML dalam upaya pengembangan teknologi tersebut.
Beberapa sumber yang diwawancarai Reuters menggambarkan adanya pengaturan kerahasiaan yang ketat.
Namun, terdapat satu informasi yang sangat penting untuk dipahami.
Pada saat laporan itu diterbitkan, prototipe tersebut dilaporkan sudah mampu menghasilkan cahaya EUV, tetapi belum berhasil menghasilkan chip yang berfungsi.
Artinya, China menunjukkan kemajuan dalam pengembangan sistem eksperimental, tetapi belum membuktikan kemampuan membuat chip canggih secara massal menggunakan mesin EUV domestik.
Reuters menyebut adanya target untuk menghasilkan chip menggunakan teknologi tersebut pada 2028.
Akan tetapi, sejumlah sumber dalam laporan itu menganggap 2030 sebagai target yang lebih realistis.
Kedua angka tersebut merupakan target dan perkiraan, bukan kepastian bahwa teknologi akan berhasil dikomersialkan pada tahun tersebut.
Bagi saya, kemajuan ini tetap mempunyai arti penting.
Sebuah prototipe dapat membuka jalan menuju pengembangan teknologi yang sebelumnya belum dapat dikuasai.
Namun, prototipe juga dapat menghadapi kegagalan teknis, biaya tinggi, dan hambatan pengembangan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun.
China telah menunjukkan upaya untuk membangun kemampuan EUV sendiri. Tetapi upaya tersebut belum sama dengan keberhasilan menandingi kemampuan produksi komersial ASML.
6. Perkembangan Oktober 2026: China Memperlihatkan Prototipe Sumber Cahaya EUV
Perkembangan terbaru memperlihatkan bahwa upaya China tidak berhenti pada laporan mengenai fasilitas penelitian di Shenzhen.
Pada Oktober 2026, sebuah perusahaan teknologi asal Shanghai, Langdao Silex, memperkenalkan prototipe sistem sumber cahaya EUV yang dikembangkan di China.
Sistem tersebut ditampilkan dalam ajang China International Industry Fair di Shanghai.
Laporan South China Morning Post pada 15 Oktober 2026 menyebut bahwa perusahaan tersebut mengklaim sekitar 90 persen komponen prototipenya berasal dari dalam negeri.
Perwakilan perusahaan juga menyatakan bahwa sebagian besar komponen inti dikembangkan secara mandiri.
Sumber cahaya merupakan salah satu komponen utama mesin litografi EUV.
Tanpa sumber cahaya yang memadai, mesin tidak dapat melakukan proses pemaparan pola menggunakan teknologi tersebut.
Namun, sumber cahaya bukan keseluruhan mesin litografi.
Sistem EUV lengkap masih membutuhkan teknologi optik, sistem penyelarasan, pengendalian gerak wafer, penanganan reticle, ruang vakum, perangkat lunak, serta integrasi antarkomponen.
Laporan industri juga mengungkapkan bahwa prototipe sumber cahaya Langdao Silex masih berada pada tahap pengembangan dan belum memiliki tingkat kemampuan setara dengan sumber cahaya pada mesin produksi EUV modern ASML.
Perusahaan memperkirakan masih membutuhkan beberapa tahun untuk menuju produksi komersial.
Angka kandungan lokal yang diumumkan juga merupakan klaim perusahaan yang perlu dibedakan dari hasil audit teknologi independen.
Walaupun demikian, perkembangan ini menunjukkan adanya kegiatan pengembangan industri EUV yang semakin terbuka di China.
Dari laporan prototipe sistem pada 2025 hingga demonstrasi komponen pada Oktober 2026, terlihat bahwa China berusaha menguasai berbagai bagian penting teknologi litografi.
Menurut saya, kemajuan tersebut layak diperhatikan tanpa harus dibesar-besarkan.
Sebuah negara tidak harus langsung menghasilkan produk sempurna untuk menunjukkan adanya perkembangan kemampuan teknologi.
Namun, penguasaan komponen tertentu juga belum cukup untuk menyatakan bahwa negara tersebut telah menguasai keseluruhan sistem.
Kemajuan teknologi harus dinilai berdasarkan kemampuan yang sudah dibuktikan, bukan hanya berdasarkan target yang diumumkan.
7. Mengapa Menghasilkan Cahaya EUV Belum Berarti Mampu Membuat Chip 3 Nanometer?
Inilah persoalan teknis yang sering tidak dipahami dalam berbagai pemberitaan.
Ada perbedaan besar antara menghasilkan cahaya EUV, membangun mesin litografi EUV, dan memproduksi chip canggih secara massal.
Menghasilkan cahaya EUV adalah satu pencapaian.
Mengarahkan cahaya tersebut melalui sistem optik presisi untuk membentuk pola pada wafer merupakan pencapaian lain.
Memproduksi chip dengan tingkat cacat rendah dan hasil produksi yang ekonomis adalah persoalan berikutnya.
Ketiganya saling berhubungan, tetapi tidak dapat dianggap sebagai satu keberhasilan yang sama.
Dalam industri semikonduktor, terdapat istilah manufacturing yield, yaitu proporsi produk yang memenuhi persyaratan kualitas dari keseluruhan produk yang dihasilkan.
Sebuah proses produksi mungkin berhasil menghasilkan chip yang berfungsi.
Namun, apabila sebagian besar chip gagal memenuhi persyaratan, biaya produksinya dapat menjadi terlalu tinggi untuk bersaing secara komersial.
Selain itu, sistem litografi harus mampu bekerja dengan kecepatan dan kestabilan yang sesuai dengan kebutuhan pabrik.
Perusahaan pembuat chip tidak hanya membutuhkan mesin yang dapat bekerja sekali.
Mereka membutuhkan mesin yang dapat bekerja berulang kali dengan tingkat keandalan tinggi.
Hal lain yang perlu dipahami adalah penggunaan istilah 3 nanometer atau 3 nm.
Dalam industri semikonduktor modern, angka 3 nm merupakan nama generasi proses manufaktur, bukan ukuran tunggal yang secara harfiah menggambarkan seluruh bagian transistor.
EUV memang digunakan dalam produksi berbagai generasi chip canggih, termasuk teknologi kelas 3 nm.
Namun, mesin EUV bukan satu-satunya perangkat yang menentukan kemampuan sebuah pabrik menghasilkan chip tersebut.
Pabrik tetap membutuhkan berbagai tahapan lain, seperti deposisi material, etsa, pengujian, dan pengendalian proses.
Karena itu, keberhasilan membuat mesin EUV belum otomatis berarti berhasil membangun seluruh ekosistem manufaktur chip tercanggih.
Memiliki mesin merupakan satu tahap. Menguasai proses produksi merupakan tahap yang jauh lebih luas.
8. China Sudah Membuktikan Kemampuan Membuat Chip Canggih Tanpa EUV
Meskipun China belum memiliki sistem EUV domestik yang terbukti mampu menjalankan produksi komersial setara ASML, perkembangan industri semikonduktornya tidak dapat dianggap berhenti.
Pada 2023, Huawei memperkenalkan Mate 60 Pro.
Analisis teknis oleh TechInsights menemukan bahwa perangkat tersebut menggunakan prosesor Kirin 9000S yang diproduksi oleh Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC).
Prosesor tersebut dibuat menggunakan teknologi manufaktur kelas 7 nm.
Penemuan ini menjadi perhatian internasional karena China menghadapi berbagai pembatasan akses terhadap peralatan manufaktur semikonduktor canggih.
Yang menarik, produksi chip kelas 7 nm tidak selalu membutuhkan mesin EUV.
Teknologi DUV dapat digunakan melalui proses multi-patterning, yaitu pembentukan pola melalui beberapa tahap pemaparan dan pemrosesan.
Teknik tersebut memungkinkan pembuatan struktur yang lebih kecil daripada kemampuan satu kali pemaparan.
Namun, pendekatan ini dapat membutuhkan lebih banyak tahapan produksi.
Konsekuensinya dapat berupa peningkatan biaya, waktu produksi, serta tantangan dalam mempertahankan tingkat keberhasilan manufaktur.
Karena itu, keberhasilan menghasilkan chip kelas 7 nm menggunakan DUV tidak otomatis berarti teknologi tersebut mempunyai efisiensi yang sama dengan proses EUV modern.
Tetapi pencapaian tersebut tetap membuktikan bahwa kemampuan manufaktur tidak sepenuhnya berhenti akibat keterbatasan akses terhadap satu jenis mesin.
Bagi saya, perkembangan ini menunjukkan karakter persaingan teknologi yang sebenarnya.
Ketika satu jalur pengembangan menghadapi hambatan, para insinyur dapat mencoba jalur teknis alternatif.
Alternatif tersebut mungkin lebih mahal, kurang efisien, atau memiliki keterbatasan.
Namun, keberadaannya dapat memperluas pilihan teknologi sebuah negara.
Dalam dunia rekayasa, keterbatasan tidak selalu menghentikan inovasi. Terkadang keterbatasan justru mendorong pencarian pendekatan teknis yang berbeda.
9. Mantan Insinyur ASML, Kerahasiaan Penelitian, dan Persoalan Pengetahuan
Salah satu bagian paling menarik dari laporan Reuters adalah dugaan keterlibatan mantan tenaga ahli ASML dalam pengembangan sistem EUV di China.
Hal tersebut menimbulkan persoalan yang lebih luas mengenai bagaimana pengetahuan teknologi berpindah antarnegara.
Dalam sejarah industri modern, perpindahan tenaga ahli merupakan salah satu sarana penyebaran pengetahuan.
Insinyur dapat membawa pengalaman, keterampilan, dan pemahaman teknis yang diperoleh selama bekerja.
Namun, terdapat perbedaan antara keterampilan profesional yang dimiliki seseorang dan informasi rahasia perusahaan yang dilindungi hukum.
Rekayasa balik atau reverse engineering juga perlu dibedakan dari pencurian rahasia dagang.
Dalam keadaan tertentu, rekayasa balik terhadap produk yang diperoleh secara sah dapat menjadi kegiatan yang diperbolehkan.
Sebaliknya, penggunaan informasi rahasia perusahaan tanpa izin dapat menimbulkan pelanggaran hukum.
Karena itu, setiap tuduhan mengenai pencurian atau pelanggaran kekayaan intelektual harus diperiksa berdasarkan bukti yang spesifik.
Dalam cerita yang beredar mengenai proyek EUV China, terdapat klaim bahwa kelompok insinyur bekerja secara sangat terpisah, penggunaan perangkat komunikasi dibatasi, dan sebagian tenaga ahli dilarang meninggalkan negara.
Pengaturan keamanan yang ketat memang masuk akal dalam proyek teknologi strategis.
Namun, rincian ekstrem mengenai isolasi seluruh kelompok insinyur, larangan perjalanan, atau pemutusan hubungan dengan dunia luar tidak boleh dinyatakan sebagai fakta umum tanpa dokumentasi yang dapat diverifikasi.
Laporan Reuters memberikan gambaran mengenai kerahasiaan dan pengaturan identitas dalam proyek tertentu, tetapi laporan tersebut tidak membuktikan semua klaim yang beredar.
Menurut saya, persoalan paling menarik bukan sekadar bagaimana China memperoleh pengetahuan dari luar negeri.
Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan itu dapat berubah menjadi kemampuan industri yang berkelanjutan.
Pengetahuan seseorang mungkin membantu memecahkan persoalan tertentu.
Tetapi pembangunan industri tetap membutuhkan fasilitas penelitian, pemasok komponen, kemampuan manufaktur, serta generasi tenaga ahli berikutnya.
Sebuah negara tidak menjadi penguasa teknologi hanya karena berhasil merekrut orang yang mengetahui cara kerja teknologi tersebut. Negara itu harus mampu mengembangkan dan mempertahankan pengetahuannya sendiri.
10. Apakah China Akan Mengakhiri Dominasi ASML Sebelum 2030?
Pertanyaan ini menarik, tetapi jawabannya belum dapat dipastikan.
China mempunyai beberapa kekuatan yang mendukung ambisi pengembangan teknologi semikonduktornya.
Negara tersebut memiliki pasar domestik yang besar, industri manufaktur luas, lembaga penelitian, perusahaan teknologi, serta sumber daya untuk mendukung proyek jangka panjang.
Namun, pengembangan mesin EUV menghadapi tantangan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperbesar anggaran.
Sistem optik harus memenuhi persyaratan presisi.
Sumber cahaya harus mempunyai daya dan kestabilan yang mencukupi.
Komponen harus bekerja secara terintegrasi.
Mesin harus dapat digunakan secara terus-menerus dalam lingkungan manufaktur.
Kemudian, kemampuan tersebut harus dapat direproduksi melalui proses produksi yang konsisten.
ASML sendiri membutuhkan waktu penelitian yang panjang untuk mengembangkan EUV menuju penggunaan komersial secara luas.
Pengalaman tersebut menunjukkan betapa sulitnya mengubah teknologi eksperimental menjadi produk industri yang matang.
Karena itu, menyatakan bahwa China pasti akan menyamai atau melampaui ASML sebelum 2030 merupakan kesimpulan yang terlalu jauh dari bukti yang tersedia.
Namun, menyatakan bahwa China tidak mungkin mengembangkan teknologi tersebut juga tidak mempunyai dasar yang cukup.
Perkembangan prototipe pada 2025 dan demonstrasi komponen pada 2026 menunjukkan adanya kemajuan yang perlu terus diamati.
Terdapat beberapa pertanyaan penting yang dapat digunakan untuk menilai perkembangannya.
Pertama, apakah China berhasil mengintegrasikan sumber cahaya dan sistem optik menjadi mesin litografi lengkap?
Kedua, apakah mesin tersebut mampu menghasilkan pola dengan presisi yang diperlukan untuk proses manufaktur canggih?
Ketiga, apakah mesin dapat menghasilkan chip yang berfungsi secara konsisten?
Keempat, apakah tingkat keberhasilan produksi cukup tinggi untuk penggunaan industri?
Kelima, apakah China mampu memproduksi mesin tersebut dalam jumlah yang memenuhi kebutuhan pasarnya?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan menentukan apakah China benar-benar mampu mengurangi ketergantungan terhadap ASML.
Bukan sekadar keberadaan sebuah prototipe.
11. Jika China Berhasil, Apa yang Akan Berubah?
Apabila China pada akhirnya mampu memproduksi mesin EUV sendiri dengan kemampuan yang kompetitif, dampaknya dapat melampaui industri semikonduktor dalam negeri.
Pertama, China berpotensi mengurangi ketergantungan pada pemasok mesin litografi asing untuk teknologi tertentu.
Kedua, perusahaan manufaktur semikonduktor China dapat memperoleh lebih banyak pilihan dalam pengadaan peralatan.
Ketiga, kemampuan produksi chip domestik berpotensi meningkat apabila mesin tersebut didukung oleh ekosistem manufaktur yang memadai.
Keempat, posisi China dalam rantai pasok teknologi global dapat berubah.
Namun, tidak berarti keberhasilan China otomatis akan menghancurkan bisnis ASML.
ASML memiliki pengalaman industri yang panjang, jaringan pelanggan internasional, kemampuan penelitian, dan hubungan dengan pemasok teknologi khusus.
Perusahaan tersebut juga terus mengembangkan generasi mesin yang lebih maju, termasuk High-NA EUV.
Dengan demikian, persaingan teknologi tidak akan berhenti ketika China berhasil menghasilkan mesin pertama.
Persaingan justru dapat memasuki tahap baru mengenai efisiensi, keandalan, kapasitas produksi, biaya operasional, dan kemampuan teknologi generasi berikutnya.
Terdapat kemungkinan bahwa dunia nantinya mempunyai lebih dari satu pusat pengembangan teknologi EUV.
Apabila hal itu terjadi, produsen chip mungkin memperoleh pilihan pemasok yang lebih luas.
Namun, kemungkinan tersebut tetap bergantung pada keberhasilan teknis, ekonomi, dan kebijakan perdagangan.
Bagi saya, persoalan yang paling penting bukan apakah satu perusahaan akan kehilangan seluruh pasarnya.
Yang lebih besar adalah bagaimana perubahan penguasaan teknologi dapat memengaruhi hubungan antarnegara.
Ketika teknologi strategis tidak lagi bergantung pada satu pemasok, keseimbangan posisi tawar dalam industri dapat berubah.
12. Pembatasan Teknologi: Mempertahankan Keunggulan atau Mendorong Pesaing Menjadi Mandiri?
Terdapat persoalan menarik dalam hubungan antara pembatasan teknologi dan inovasi.
Pembatasan ekspor dapat mengurangi kemampuan suatu negara memperoleh mesin, perangkat lunak, atau komponen yang dibutuhkan untuk mengembangkan industri strategis.
Dalam jangka pendek, pembatasan tersebut dapat memperlambat pengembangan teknologi tertentu.
Namun, dalam jangka panjang, pembatasan juga dapat meningkatkan dorongan untuk mengembangkan alternatif domestik.
Dua keadaan ini tidak selalu saling bertentangan.
Sebuah pembatasan dapat memperlambat kemajuan pada satu bidang sekaligus meningkatkan investasi dalam penelitian pada bidang yang sama.
Amerika Serikat dan sekutunya memandang sebagian pembatasan semikonduktor sebagai langkah untuk mengurangi risiko keamanan nasional serta mempertahankan kendali atas penyebaran teknologi sensitif.
China memandang pembatasan tersebut sebagai salah satu alasan penting untuk memperkuat penguasaan teknologi dalam negeri.
Perbedaan kepentingan ini memperlihatkan bahwa semikonduktor bukan lagi sekadar persoalan perdagangan biasa.
Industri tersebut telah menjadi bagian dari kebijakan keamanan, pembangunan ekonomi, dan persaingan strategis.
Namun, kita juga perlu menghindari satu kesimpulan yang terlalu sederhana.
Tidak semua pembatasan otomatis membuat negara yang dibatasi menjadi lebih kuat.
Ada proyek penelitian yang berhasil.
Ada pula yang gagal, membutuhkan biaya terlalu besar, atau tidak mampu menghasilkan produk yang kompetitif.
Keberhasilan tetap bergantung pada kapasitas penelitian, sumber daya manusia, ketersediaan komponen, dan kemampuan industri.
Menurut saya, pembatasan teknologi menciptakan sebuah dilema.
Negara pemilik teknologi ingin mempertahankan keunggulannya.
Sementara negara yang mengalami pembatasan mempunyai dorongan lebih besar untuk mengurangi ketergantungan.
Hasil akhirnya tidak dapat ditentukan hanya dari besarnya tekanan politik.
Tekanan dapat menjadi alasan untuk membangun kemandirian, tetapi kemampuan ilmiah dan industri tetap menjadi penentu keberhasilannya.
13. Pelajaran dari China: Menguasai Teknologi Lebih Sulit daripada Membelinya
Perjalanan China dalam industri semikonduktor mengingatkan saya pada perkembangan negara tersebut dalam bidang teknologi lainnya.
Dahulu, China banyak menggunakan teknologi, mesin, dan peralatan industri yang dikembangkan oleh perusahaan asing.
Seiring waktu, berbagai perusahaan dalam negeri berkembang menjadi produsen teknologi untuk pasar domestik maupun internasional.
Namun, perjalanan setiap industri tidak selalu sama.
Keberhasilan China dalam produksi kendaraan listrik, baterai, atau mesin penggali terowongan tidak berarti bahwa keberhasilan serupa pasti terjadi pada litografi EUV.
Setiap bidang mempunyai hambatan teknologi dan struktur industri yang berbeda.
Meski demikian, terdapat pelajaran yang dapat ditarik.
Membangun kemampuan teknologi membutuhkan lebih dari sekadar membeli produk terbaru.
Negara memerlukan tenaga ahli yang memahami prinsip kerja teknologi tersebut.
Negara juga membutuhkan lembaga penelitian, industri komponen, kemampuan pengujian, sistem pendidikan, serta kerja sama antara dunia usaha dan pemerintah.
Dalam perkembangan industri modern, kemandirian juga tidak harus berarti memproduksi seluruh komponen sendiri.
Bahkan perusahaan teknologi terkemuka dunia bergantung pada jaringan pemasok internasional.
Karena itu, kemandirian yang realistis dapat berarti penguasaan kemampuan penting, keberadaan pemasok alternatif, serta kemampuan mempertahankan kegiatan industri ketika menghadapi gangguan.
Kisah China menunjukkan bahwa kemampuan teknologi merupakan sesuatu yang dibangun secara bertahap.
Tidak cukup dengan keputusan politik.
Tidak cukup dengan anggaran besar.
Tidak cukup pula dengan mendatangkan seorang ahli dari luar negeri.
Semua unsur tersebut harus mampu menghasilkan pengetahuan, proses produksi, dan produk yang benar-benar berfungsi.
Menurut saya, kemajuan teknologi tidak dimulai ketika suatu bangsa berhasil membeli mesin tercanggih, melainkan ketika bangsa tersebut mulai mampu memahami, memperbaiki, dan mengembangkan teknologi yang digunakannya.
14. Indonesia dan Masa Depan Kedaulatan Teknologi
Persaingan antara China dan ASML juga memberikan pertanyaan penting bagi Indonesia.
Indonesia menggunakan berbagai teknologi semikonduktor dalam kehidupan sehari-hari.
Telepon pintar, kendaraan, perangkat komunikasi, komputer, mesin industri, dan berbagai sistem digital bergantung pada chip.
Namun, menggunakan teknologi tidak selalu berarti menguasai kemampuan untuk memproduksinya.
Pertanyaannya bukan apakah Indonesia harus segera membangun mesin EUV sendiri.
Membangun industri semikonduktor canggih membutuhkan investasi, tenaga ahli, infrastruktur, dan kemampuan teknis yang sangat besar.
Indonesia juga tidak harus memulai dari tahapan teknologi yang paling rumit.
Terdapat banyak bidang yang dapat dikembangkan secara bertahap, seperti desain chip, pengujian semikonduktor, pengemasan, rekayasa material, perangkat elektronik industri, dan berbagai teknologi pendukung lainnya.
Setiap bidang memiliki kebutuhan dan peluang yang berbeda.
Yang terpenting adalah membangun kemampuan yang dapat berkembang secara berkelanjutan.
Indonesia perlu melihat teknologi bukan hanya sebagai barang yang dapat diimpor.
Teknologi juga merupakan pengetahuan yang dapat dipelajari, dikembangkan, dan digunakan untuk memperkuat kemampuan industri nasional.
Dalam pandangan saya, persoalan terbesar sebuah negara bukanlah bahwa negara tersebut masih membutuhkan teknologi dari luar negeri.
Semua negara modern mempunyai hubungan ketergantungan ekonomi dan teknologi.
Persoalan menjadi lebih serius ketika ketergantungan tersebut tidak disertai peningkatan kemampuan dalam negeri.
Apabila suatu negara terus membeli teknologi tanpa memperluas penguasaan pengetahuannya, negara tersebut berisiko terus tertinggal dalam bagian industri yang menghasilkan nilai tambah tinggi.
Sebaliknya, kemampuan untuk mengembangkan teknologi dapat membuka kesempatan memperkuat industri dan memperbesar pilihan ekonomi nasional.
Kedaulatan teknologi bukan berarti menolak kerja sama dengan negara lain. Kedaulatan teknologi berarti memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan tanpa selalu bergantung pada satu pihak.
15. Penutup: Pertarungan Sesungguhnya Bukan Hanya tentang Mesin
Kisah ASML dan China memperlihatkan sebuah perubahan dalam cara teknologi memengaruhi hubungan antarnegara.
Pada masa lalu, kekuatan ekonomi sering dikaitkan dengan penguasaan sumber daya alam, perdagangan, tenaga kerja, dan kemampuan produksi barang.
Semua unsur tersebut tetap penting.
Namun, dalam ekonomi modern, kemampuan mengembangkan teknologi yang sulit digantikan mempunyai nilai strategis yang semakin besar.
ASML menunjukkan bagaimana perusahaan yang tumbuh dari kerja sama industri dapat menjadi pemasok teknologi penting bagi produsen semikonduktor dunia.
China menunjukkan bagaimana pembatasan akses terhadap teknologi dapat mendorong pembangunan kemampuan penelitian dan manufaktur dalam negeri.
Keduanya memperlihatkan bahwa pengetahuan ilmiah dan kemampuan industri mempunyai hubungan erat dengan kekuatan ekonomi.
Hingga Oktober 2026, belum terdapat bukti terbuka yang cukup untuk menyatakan bahwa China telah berhasil mengoperasikan mesin EUV domestik yang setara dengan sistem produksi komersial ASML.
Namun, laporan mengenai prototipe sistem di Shenzhen dan pengembangan sumber cahaya EUV di Shanghai menunjukkan bahwa upaya menuju kemampuan tersebut sedang berlangsung.
Apakah China akan berhasil?
Pertanyaan itu belum dapat dijawab secara pasti.
Apakah dominasi ASML akan berakhir?
Hal tersebut juga belum dapat dipastikan karena ASML terus mengembangkan teknologinya sendiri.
Tetapi satu hal dapat dipelajari dari perkembangan ini.
Teknologi yang sangat sulit dikuasai dapat menjadi sumber keunggulan ekonomi dan posisi tawar yang besar.
Karena itu, penguasaan teknologi tidak lagi hanya menjadi urusan perusahaan dan laboratorium penelitian.
Ia juga mempunyai hubungan langsung dengan kebijakan industri, keamanan nasional, pendidikan, ekonomi, dan masa depan suatu bangsa.
Bagi saya, terdapat satu pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar apakah China akan mampu menyaingi ASML.
Mengapa sebuah negara harus menunggu sampai akses terhadap teknologi dibatasi sebelum menyadari pentingnya membangun kemampuan teknologinya sendiri?
Pertanyaan tersebut tidak hanya berlaku bagi China.
Pertanyaan itu juga relevan bagi Indonesia dan negara-negara lain yang sedang berusaha memperkuat kemampuan industrinya.
Sebab dalam dunia yang semakin bergantung pada semikonduktor, kecerdasan buatan, dan infrastruktur digital, kemampuan menciptakan serta mengembangkan teknologi akan menjadi salah satu penentu penting posisi ekonomi suatu bangsa.
Masa depan tidak hanya dibentuk oleh negara yang paling banyak menggunakan teknologi, tetapi juga oleh mereka yang mampu menguasai pengetahuan, mengembangkan kemampuan industri, dan menciptakan teknologi yang dibutuhkan dunia.

