Kaspa Lampaui Bitcoin dalam Persentase Pasokan yang Ditambang, 96,81% KAS Diklaim Telah Terbit

Baru diluncurkan pada November 2021, Kaspa diklaim telah mencapai tingkat penerbitan pasokan lebih tinggi dibandingkan Bitcoin yang telah beroperasi sejak Januari 2009.

Kaspa kembali menjadi sorotan setelah akun MSB Intel mengunggah perbandingan persentase pasokan KAS dan Bitcoin pada 3 November 2026. Unggahan tersebut menyebut 96,81% dari total pasokan Kaspa telah ditambang, dibandingkan 95,74% pada Bitcoin. Perbandingan ini menyoroti perbedaan jadwal emisi kedua jaringan blockchain berbasis Proof-of-Work.

Cover artikel Kaspa Lampaui Bitcoin dalam Persentase Pasokan yang Ditambang, 96,81% KAS Diklaim Telah Terbit

Kaspa Lampaui Bitcoin dalam Persentase Pasokan yang Ditambang, 96,81% KAS Diklaim Telah Terbit

PUSTAHA.COM — BLOCKCHAIN | 3 November 2026

Kaspa (KAS) kembali menarik perhatian komunitas cryptocurrency setelah muncul perbandingan mengenai jumlah koin yang telah diterbitkan oleh jaringan Kaspa dan Bitcoin.

Akun X @MSBIntel pada 3 November 2026 mengunggah informasi yang menyebut bahwa sebanyak 96,81% dari total pasokan maksimum Kaspa telah ditambang, melampaui persentase Bitcoin yang disebut telah mencapai 95,74%.

Perbandingan tersebut menjadi menarik karena Kaspa baru diluncurkan pada November 2021, sedangkan Bitcoin telah beroperasi sejak Januari 2009.

Artinya, dalam waktu sekitar lima tahun, Kaspa diklaim telah menerbitkan proporsi pasokan maksimum yang lebih besar dibandingkan Bitcoin yang telah beroperasi hampir 18 tahun.

Namun, apa sebenarnya makna angka tersebut bagi masa depan kedua jaringan blockchain?

Perbedaan Kecepatan Penerbitan Kaspa dan Bitcoin

Kaspa dan Bitcoin sama-sama menggunakan mekanisme konsensus Proof-of-Work (PoW), yakni sistem yang melibatkan aktivitas komputasi penambang untuk mengamankan jaringan dan menghasilkan koin baru.

Meskipun menggunakan prinsip konsensus yang serupa, keduanya memiliki mekanisme penerbitan pasokan yang berbeda.

Bitcoin memiliki batas maksimum sekitar 21 juta BTC. Penerbitan koin baru dikurangi melalui mekanisme halving yang terjadi setiap 210.000 blok, atau kira-kira empat tahun sekali.

Sementara itu, Kaspa memiliki batas pasokan maksimum sekitar 28,7 miliar KAS, dengan mekanisme pengurangan emisi yang berlangsung secara bertahap setiap bulan.

Jadwal emisi Kaspa dirancang agar tingkat penerbitan koin berkurang sekitar setengahnya dalam periode satu tahun.

Perbedaan tersebut membuat sebagian besar pasokan Kaspa diterbitkan pada tahun-tahun awal operasional jaringan.

Apakah Kaspa Lebih Langka daripada Bitcoin?

Persentase pasokan yang telah diterbitkan tidak serta-merta membuktikan bahwa Kaspa lebih langka daripada Bitcoin.

Kelangkaan suatu aset digital perlu dinilai berdasarkan beberapa faktor, antara lain:

  1. Jumlah maksimum koin yang dapat diterbitkan.
  2. Jumlah koin yang telah beredar.
  3. Tingkat penerbitan koin baru.
  4. Permintaan pasar terhadap aset tersebut.
  5. Distribusi kepemilikan dan likuiditas pasar.

Bitcoin memiliki batas maksimum sekitar 21 juta BTC, sedangkan Kaspa sekitar 28,7 miliar KAS.

Dengan demikian, jumlah unit KAS jauh lebih besar daripada BTC.

Akan tetapi, perbandingan jumlah unit saja juga tidak cukup untuk menentukan nilai ekonomi suatu cryptocurrency.

Yang menjadi perhatian dalam perkembangan Kaspa adalah semakin kecilnya bagian pasokan maksimum yang belum diterbitkan.

Jika angka 96,81% tersebut akurat, berarti hanya sekitar 3,19% dari total pasokan maksimum KAS yang tersisa untuk diterbitkan melalui mekanisme jaringan.

Tantangan Baru bagi Para Penambang Kaspa

Semakin berkurangnya penerbitan koin baru menghadirkan persoalan penting mengenai insentif ekonomi bagi para penambang.

Dalam jaringan Proof-of-Work, penambang memperoleh pendapatan dari imbalan blok dan biaya transaksi sesuai aturan protokol.

Ketika emisi koin baru semakin kecil, pendapatan dari imbalan penerbitan juga akan menurun apabila faktor lainnya tidak berubah.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting bagi Kaspa: apakah pertumbuhan aktivitas jaringan dan pendapatan biaya transaksi pada masa mendatang mampu membantu mempertahankan insentif keamanan jaringan?

Pertanyaan serupa juga menjadi bagian dari perdebatan jangka panjang mengenai keberlanjutan ekonomi penambangan Bitcoin.

Meskipun demikian, penurunan imbalan penerbitan tidak otomatis berarti keamanan jaringan akan melemah.

Keamanan Proof-of-Work juga dipengaruhi harga aset, efisiensi perangkat penambangan, tingkat kesulitan jaringan, biaya energi, serta kondisi persaingan antarpenambang.

BlockDAG Menjadi Pembeda Teknologi Kaspa

Di luar persoalan pasokan, Kaspa memiliki pendekatan arsitektur jaringan yang berbeda dari Bitcoin.

Bitcoin menggunakan struktur blockchain dengan satu rantai utama yang menentukan urutan blok dalam konsensus.

Kaspa menggunakan arsitektur BlockDAG (Block Directed Acyclic Graph) dengan protokol konsensus GHOSTDAG.

Pendekatan ini memungkinkan sejumlah blok yang dibuat secara berdekatan tetap diperhitungkan dalam struktur konsensus, bukan semata-mata mengikuti pendekatan rantai linear tradisional.

Teknologi tersebut dirancang untuk mendukung produksi blok yang lebih cepat dengan tetap mempertahankan mekanisme Proof-of-Work.

Namun, keunggulan teknis tidak secara otomatis menjamin adopsi massal ataupun peningkatan nilai pasar.

Keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada keamanan, desentralisasi, penggunaan nyata, pengembangan ekosistem, serta kemampuan jaringan mempertahankan aktivitas ekonomi.

Apakah Berkurangnya Pasokan Akan Mendorong Harga KAS?

Penerbitan koin baru yang semakin kecil dapat mengurangi tekanan suplai baru ke pasar.

Secara teori, apabila permintaan tetap kuat atau meningkat sementara penerbitan baru menurun, kondisi tersebut dapat mendukung harga aset.

Namun, hubungan antara kelangkaan dan harga tidak bersifat otomatis.

Pasokan KAS yang telah beredar masih dapat diperjualbelikan oleh pemegangnya. Penjualan dari pemilik lama dapat menciptakan tekanan pasar yang jauh lebih besar daripada jumlah koin baru yang diterbitkan penambang.

Karena itu, persentase pasokan yang telah ditambang tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk memprediksi kenaikan harga KAS.

Investor juga perlu memperhatikan kapitalisasi pasar, likuiditas, aktivitas transaksi, perkembangan teknologi, dan risiko pasar cryptocurrency secara keseluruhan.

Kesimpulan: Kaspa Memasuki Tahap Emisi yang Semakin Rendah

Perbandingan pasokan Kaspa dan Bitcoin memperlihatkan dua pendekatan berbeda dalam distribusi aset digital berbasis Proof-of-Work.

Bitcoin menggunakan jadwal penerbitan yang berlangsung sangat panjang, sementara Kaspa menerbitkan sebagian besar pasokannya dalam periode awal jaringan.

Klaim bahwa 96,81% pasokan maksimum KAS telah ditambang menjadi perhatian penting untuk memahami perkembangan ekonomi jaringan Kaspa.

Namun, pencapaian tersebut tidak berarti Kaspa telah melampaui Bitcoin dalam kapitalisasi pasar, keamanan, tingkat adopsi, ataupun nilai ekonomi.

Pertanyaan terpenting bagi masa depan Kaspa bukan lagi sekadar berapa banyak koin yang telah ditambang, melainkan bagaimana jaringan tersebut membangun permintaan nyata, mempertahankan keamanan, dan menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan ketika penerbitan koin baru terus menurun.


Sumber dan referensi:

  • MSB Intel (@MSBIntel), unggahan X, 3 November 2026 — klaim perbandingan pasokan Kaspa dan Bitcoin.
  • Kaspa — https://kaspa.org
  • Bitcoin — https://bitcoin.org

Catatan redaksi: Persentase 96,81% dan 95,74% merupakan angka yang dikutip dari unggahan MSB Intel. Angka pasokan dapat berubah seiring penerbitan blok baru dan perlu dicocokkan dengan data jaringan pada waktu publikasi.

Redaksi Pustaha.com

PUSTAHA

INGAT · TULIS · RILIS