Dua Mesin Jerman dan Pelajaran Mahal tentang Ketergantungan Teknologi
Pada penghujung abad ke-20, China menghadapi sebuah persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar membangun jalur kereta api dan terowongan.
Negara tersebut membutuhkan teknologi yang belum sepenuhnya mampu diproduksi oleh industri dalam negerinya sendiri.
Salah satu contohnya adalah Tunnel Boring Machine (TBM), mesin penggali terowongan berukuran raksasa yang digunakan untuk menembus lapisan tanah dan batuan dalam pembangunan infrastruktur.
Pada Oktober 1996, China mendatangkan dua mesin TBM berdiameter sekitar 8,8 meter dari perusahaan Jerman, Wirth, untuk pembangunan Terowongan Qinling pada jalur kereta api Xi'an–Ankang.
Kedatangan mesin tersebut menjadi bagian penting dalam perkembangan teknologi konstruksi bawah tanah China.
Namun, memiliki mesin tidak sama dengan menguasai teknologi.
Sebuah negara dapat membeli peralatan tercanggih di dunia, tetapi pembelian itu tidak otomatis membuat negara tersebut mampu merancang, memproduksi, memperbaiki, atau mengembangkan teknologi yang sama.
Di sinilah persoalan sesungguhnya bermula.
China tidak hanya membutuhkan mesin untuk menggali terowongan. China membutuhkan kemampuan untuk membangun mesin tersebut dengan pengetahuan dan kekuatan industrinya sendiri.
Menurut saya, inilah perbedaan mendasar antara negara yang sekadar menggunakan teknologi dan negara yang menguasai teknologi.
Membeli teknologi dapat menyelesaikan kebutuhan hari ini. Menguasai teknologi dapat menentukan kemampuan sebuah bangsa menghadapi kebutuhan masa depannya.
1. Ketika Harga Teknologi Ditentukan oleh Pemilik Pengetahuan
Dalam berbagai cerita populer mengenai perkembangan industri China, disebutkan bahwa negara tersebut pernah mengeluarkan ratusan juta yuan untuk mendatangkan mesin penggali terowongan dari Jerman.
Kisah itu sering disertai gambaran mengenai tingginya biaya tenaga ahli asing, pemeliharaan, serta pengadaan komponen.
Akan tetapi, angka-angka yang beredar dalam cerita tersebut tidak seluruhnya memiliki dukungan dokumentasi yang memadai.
Catatan yang diterbitkan Hebei Daily pada 8 Februari 2006, misalnya, menjelaskan bahwa dua mesin Wirth didatangkan pada Oktober 1996. Laporan itu juga menggambarkan mahalnya biaya bantuan teknis asing, dengan nilai layanan teknis yang disebut mencapai 4 juta dolar AS.
Persoalan tersebut menunjukkan sesuatu yang lebih penting daripada besarnya tagihan.
Ketika suatu negara membeli teknologi yang tidak dikuasainya, negara tersebut berpotensi menghadapi beberapa bentuk ketergantungan sekaligus.
Pertama, ketergantungan pada produsen peralatan.
Kedua, ketergantungan pada tenaga ahli yang memahami sistem dan cara kerja mesin.
Ketiga, ketergantungan pada ketersediaan komponen, perangkat lunak, dan layanan pemeliharaan.
Keempat, keterbatasan untuk mengembangkan atau memodifikasi teknologi sesuai dengan kebutuhan sendiri.
Ketergantungan seperti ini tidak selalu berarti hubungan perdagangan yang merugikan. Membeli teknologi dari luar negeri merupakan kegiatan ekonomi yang wajar.
Namun, persoalan muncul ketika sebuah negara tidak mempunyai kemampuan alternatif.
Dalam kondisi tersebut, posisi tawarnya dapat melemah.
Negara itu mungkin memiliki uang untuk membeli mesin, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk menentukan masa depan penggunaan mesin tersebut.
Bagi saya, harga sebuah teknologi bukan hanya angka yang tercantum dalam kontrak pembelian. Ada pula harga yang harus dibayar ketika sebuah bangsa tidak memiliki pilihan selain bergantung pada pemilik teknologi.
2. China Memutuskan Tidak Selamanya Menjadi Pembeli
Perjalanan China menuju penguasaan teknologi TBM tidak terjadi dalam satu malam.
China sebenarnya telah memiliki pengalaman penelitian dan percobaan mesin penggali terowongan sejak beberapa dekade sebelumnya.
Namun, pengembangan mesin modern berskala industri masih menghadapi berbagai keterbatasan teknis.
Memasuki awal 2000-an, China mulai mempercepat pengembangan kemampuan dalam negeri.
Menurut sejarah perusahaan China Railway Engineering Equipment Group (CREG), pada Februari 2001 dibentuk lembaga penelitian mesin pelindung terowongan atau shield machine.
Pada Agustus 2002, sebuah basis pengembangan, perakitan, pengujian, manufaktur, dan pemeliharaan dibangun di Xinxiang.
Pengembangan teknologi tersebut juga berkaitan dengan Program 863, yaitu program penelitian dan pengembangan teknologi tinggi pemerintah China.
Langkah ini menunjukkan bahwa China tidak hanya berusaha membeli mesin dengan harga lebih murah.
China mulai membangun kemampuan untuk menghasilkan mesin sendiri.
Keputusan tersebut mengubah arah persoalan.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar:
"Berapa harga mesin yang harus kita beli?"
Melainkan:
"Pengetahuan apa yang harus kita kuasai agar mampu membuat mesin ini sendiri?"
Perubahan pertanyaan tersebut memiliki konsekuensi besar.
Membangun mesin penggali terowongan bukan pekerjaan sederhana.
Sebuah TBM modern dapat memiliki puluhan ribu komponen yang bekerja dalam satu sistem terintegrasi.
Mesin tersebut membutuhkan teknologi pemotongan batuan, mekanika, hidrolika, sistem penggerak, sensor, material berkekuatan tinggi, serta pengendalian elektronik.
Kesalahan pada satu sistem dapat memengaruhi keseluruhan proses penggalian.
Karena itu, menguasai teknologi TBM tidak cukup hanya dengan memahami bentuk mesinnya.
Yang harus dikuasai adalah hubungan antarkomponen, karakter material, kemampuan produksi presisi, dan cara mesin bekerja menghadapi kondisi geologi yang berbeda.
Dalam pandangan saya, pekerjaan terbesar China bukan sekadar meniru bentuk mesin asing.
Pekerjaan terbesarnya adalah mengubah pengetahuan yang sebelumnya berada di luar negeri menjadi kemampuan teknis dan industri yang dapat dikembangkan di dalam negeri.
3. Tahun 2008: Ketika China Membuktikan Kemampuan Industrinya
Tahun 2008 menjadi salah satu tonggak penting.
China Railway berhasil mengembangkan mesin shield komposit dengan sistem keseimbangan tekanan tanah atau Earth Pressure Balance (EPB), yang dikenal sebagai China Railway No. 1.
Mesin tersebut dikembangkan dengan hak kekayaan intelektual yang dimiliki pihak China.
Pada 6 Februari 2009, mesin itu mulai digunakan dalam pembangunan jalur metro di Tianjin.
Keberhasilan tersebut bukan semata-mata karena China berhasil menampilkan sebuah mesin hasil produksinya.
Mesin tersebut harus bekerja dalam kondisi proyek yang nyata.
Ia harus menggali, mempertahankan kestabilan tanah, menjaga keselamatan konstruksi, dan memenuhi persyaratan teknis.
Menurut laporan People's Daily yang diterbitkan pada Mei 2024, mesin China Railway No. 1 berhasil menyelesaikan pekerjaan penggalian pada proyek Tianjin Metro Line 3 sekitar empat bulan setelah mulai beroperasi, dengan penurunan permukaan tanah yang dikendalikan hingga sekitar 3 milimeter.
Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan rekayasa dalam negeri telah berkembang menjadi produk yang dapat diterapkan pada proyek sesungguhnya.
Namun, satu keberhasilan belum berarti semua persoalan teknologi langsung selesai.
China masih harus mengembangkan berbagai komponen penting, meningkatkan keandalan, memperbaiki efisiensi produksi, dan memperluas kemampuan menghadapi kondisi geologi yang berbeda.
Inilah bagian yang sering terlupakan ketika orang membicarakan keberhasilan teknologi suatu negara.
Penemuan atau pencapaian pertama bukanlah akhir perjuangan.
Sebuah mesin yang berhasil dibuat harus mampu diproduksi kembali, digunakan berulang kali, dirawat, diperbaiki, dan dikembangkan menjadi generasi berikutnya.
Penguasaan teknologi tidak dibuktikan hanya dengan kemampuan membuat satu produk. Penguasaan teknologi dibuktikan melalui kemampuan mempertahankan dan mengembangkan produksi tersebut.
4. Dari Menggunakan Teknologi Menjadi Menjual Teknologi
Setelah keberhasilan pengembangan mesin dalam negeri, industri TBM China mengalami pertumbuhan pesat.
China memiliki keuntungan penting: kebutuhan pembangunan infrastruktur yang sangat besar.
Pembangunan metro, jalur kereta api, terowongan jalan raya, proyek pengairan, dan berbagai infrastruktur bawah tanah menyediakan kesempatan bagi produsen dalam negeri untuk menguji dan mengembangkan teknologi mereka.
Setiap proyek memberikan pengalaman baru.
Setiap persoalan teknis dapat menjadi bahan penelitian.
Setiap perbaikan komponen dapat meningkatkan kemampuan produksi berikutnya.
Dengan demikian, proyek infrastruktur tidak hanya menghasilkan jalan, rel, dan terowongan.
Proyek-proyek tersebut juga membantu membangun pengetahuan industri.
Pada 2012, China Railway memenangkan kontrak penyediaan mesin untuk proyek metro di Kuala Lumpur, Malaysia.
Mesin buatan China kemudian digunakan pada proyek tersebut.
Peristiwa ini menunjukkan perubahan penting: kemampuan industri dalam negeri mulai berkembang menjadi produk yang diterima pasar internasional.
Perluasan pasar kemudian berlanjut.
Mesin buatan perusahaan China memasuki berbagai proyek di Asia, Eropa, Australia, dan wilayah lainnya.
Menurut informasi resmi CREG, perusahaan tersebut telah memasok peralatan penggalian terowongan ke puluhan negara, termasuk Jerman, Italia, Prancis, Denmark, Australia, dan Singapura.
Laporan pemerintah China pada 2024 juga menyebut bahwa produsen China telah menguasai hampir 70 persen pasar global mesin penggali terowongan.
Angka tersebut perlu dibaca sebagai estimasi pangsa pasar yang dilaporkan oleh sumber China, bukan bukti bahwa 70 persen dari seluruh mesin yang sedang beroperasi di dunia pasti merupakan produk China.
Walaupun demikian, perkembangan industrinya jelas menunjukkan perubahan yang besar.
China yang dahulu merupakan pelanggan utama teknologi asing kini menjadi salah satu pusat produksi dan pemasok mesin penggali terowongan dunia.
Tetapi kisah ini bukan berarti perusahaan Jerman telah kehilangan seluruh kemampuan atau pasarnya.
Produsen Jerman seperti Herrenknecht masih mengembangkan dan memasok mesin berteknologi tinggi, termasuk untuk proyek-proyek di China.
Perubahan sesungguhnya bukanlah hilangnya kemampuan Jerman.
Perubahannya adalah China tidak lagi hanya mempunyai satu pilihan: membeli dari luar negeri.
5. Rahasia yang Lebih Penting daripada Harga Murah
Banyak orang melihat keberhasilan industri China melalui satu hal: kemampuan menjual produk dengan harga kompetitif.
Namun, harga murah bukanlah keseluruhan penjelasan.
Kemampuan bersaing dalam harga dapat muncul dari berbagai faktor, seperti skala produksi, efisiensi manufaktur, jaringan pemasok, persaingan domestik, dukungan pembiayaan, dan kemajuan teknologi.
Dalam kasus mesin penggali terowongan, China membangun keterkaitan antara lembaga penelitian, produsen komponen, perusahaan konstruksi, industri material, dan pemerintah.
Ketika berbagai unsur tersebut berkembang bersama, kemampuan produksi dapat meningkat.
Perusahaan pembuat mesin tidak harus mengembangkan seluruh komponen secara sendirian.
Industri baja dapat menyediakan material khusus.
Produsen bantalan dan sistem penggerak dapat mengembangkan komponen presisi.
Lembaga penelitian dapat membantu memecahkan persoalan rekayasa.
Perusahaan konstruksi dapat memberikan data mengenai kinerja mesin dalam kondisi nyata.
Seluruh aktivitas tersebut membentuk ekosistem industri.
Inilah yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan menjual produk dengan harga rendah.
Sebuah negara yang mempunyai banyak pabrik belum tentu menguasai teknologi.
Sebaliknya, sebuah negara yang mempunyai kemampuan penelitian, desain, pengujian, produksi komponen, dan perakitan memiliki landasan lebih kuat untuk terus mengembangkan industrinya.
Kekuatan industri tidak hanya terletak pada banyaknya barang yang diproduksi, tetapi juga pada seberapa jauh pengetahuan dan kemampuan produksi berada di dalam negeri.
6. Pola yang Terlihat pada Mobil Listrik, Baterai, dan Teknologi Baru
Perkembangan mesin penggali terowongan dapat menjadi pintu masuk untuk memahami transformasi industri China yang lebih luas.
Dalam beberapa bidang teknologi, China memperlihatkan kemampuan memperluas produksi, membangun jaringan pemasok, dan bersaing dalam pasar internasional.
Industri kendaraan listrik merupakan salah satu contoh paling nyata.
Menurut International Energy Agency (IEA), China menyumbang hampir tiga perempat produksi mobil listrik dunia pada 2025.
Pada tahun yang sama, China juga memproduksi lebih dari 80 persen sel baterai kendaraan listrik secara global.
Perkembangan tersebut memperlihatkan kuatnya posisi China dalam rantai produksi teknologi transportasi dan penyimpanan energi.
Namun, perkembangan setiap industri tidak berlangsung melalui jalan yang sama.
Industri kendaraan listrik melibatkan persaingan antara produsen otomotif, kemajuan teknologi baterai, investasi, kebijakan pemerintah, dan perubahan permintaan konsumen.
Industri drone memiliki karakter pasar, kebutuhan teknis, dan persoalan regulasi yang berbeda.
Begitu pula dengan robot humanoid, yang masih menghadapi tantangan besar dalam kemampuan kerja, keandalan, biaya, serta penerapan komersial secara luas.
Karena itu, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa keberhasilan pada mesin terowongan otomatis menjamin keberhasilan pada seluruh bidang teknologi lainnya.
Yang dapat diamati adalah kesamaan pendekatan industri dalam beberapa sektor: pembangunan kapasitas penelitian, penguatan manufaktur, pengembangan pemasok, dan perluasan pasar.
China juga tidak hanya berkembang dengan cara mempelajari teknologi asing.
Perkembangannya melibatkan penelitian sendiri, kerja sama internasional, investasi, persaingan usaha, dan dalam sejumlah kasus pembelian hak kekayaan intelektual maupun aset teknologi dari perusahaan luar negeri.
Sebagai contoh, pada 2013, CREG memperoleh hak kekayaan intelektual dan aset tertentu dalam bisnis mesin penggali batuan keras dari perusahaan Jerman Wirth.
Fakta ini penting karena menunjukkan bahwa kemampuan industri dapat dibangun melalui berbagai jalan yang sah, bukan sekadar melalui peniruan teknologi.
Menurut saya, pembelajaran paling berharga dari China bukanlah bahwa negara lain harus menolak teknologi asing.
Sebaliknya, teknologi asing dapat menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan kemampuan dalam negeri apabila disertai proses pembelajaran, penelitian, dan pengembangan industri yang berkelanjutan.
7. Apakah Keberhasilan China Hanya karena Perintah Pemerintah?
Terdapat pandangan bahwa keberhasilan industri China terutama terjadi karena pemerintahnya mampu mengarahkan perusahaan, lembaga penelitian, dan sumber daya nasional menuju tujuan tertentu.
Peran pemerintah memang penting.
Kebijakan industri, pendanaan penelitian, pembangunan infrastruktur, dan pembentukan pasar domestik dapat membantu perusahaan mengembangkan teknologi baru.
Namun, menyederhanakan keberhasilan China menjadi sekadar hasil perintah pemerintah akan mengabaikan persoalan yang lebih kompleks.
Pemerintah dapat menetapkan tujuan, tetapi sebuah mesin tetap harus dirancang oleh insinyur.
Komponen tetap harus memenuhi standar teknis.
Material harus mampu menahan tekanan dan beban kerja.
Produk harus melewati pengujian.
Perusahaan juga harus menghadapi persaingan, risiko biaya, dan kemungkinan kegagalan.
Bahkan dukungan pemerintah yang besar tidak menjamin seluruh proyek teknologi akan berhasil.
Kebijakan industri dapat menghasilkan kemajuan, tetapi juga dapat menimbulkan pemborosan, kelebihan kapasitas produksi, persaingan harga yang merugikan, serta ketergantungan pada subsidi.
Dalam pandangan saya, keberhasilan teknologi tidak cukup dijelaskan melalui kekuatan pemerintah ataupun kemampuan perusahaan secara terpisah.
Yang lebih menentukan adalah bagaimana kebijakan, ilmu pengetahuan, pembiayaan, dunia pendidikan, perusahaan, dan kebutuhan pasar dapat saling mendukung.
Negara dapat memberikan arah.
Lembaga pendidikan dan penelitian membangun pengetahuan.
Industri mengubah pengetahuan menjadi produk.
Pasar menguji apakah produk tersebut benar-benar dibutuhkan dan mampu bersaing.
Ketika hubungan itu bekerja secara produktif, kemandirian teknologi mempunyai peluang untuk berkembang.
8. Pertanyaan Besar: Apakah Negara yang Tidak Menguasai Teknologi Benar-Benar Merdeka Secara Ekonomi?
Di sinilah saya melihat persoalan yang lebih mendasar.
Kemerdekaan politik dan kemandirian teknologi merupakan dua hal yang berbeda.
Sebuah negara dapat memiliki pemerintahan sendiri, wilayah sendiri, dan kewenangan menentukan kebijakan ekonominya.
Namun, dalam kegiatan ekonomi modern, negara tersebut tetap dapat bergantung pada teknologi yang diproduksi pihak lain.
Ketergantungan itu dapat muncul pada perangkat komunikasi, mesin industri, sistem energi, peralatan kesehatan, teknologi pertahanan, perangkat lunak, hingga infrastruktur digital.
Apakah ketergantungan semacam itu otomatis menghilangkan kemerdekaan ekonomi?
Tidak.
Perdagangan dan pembagian kerja internasional justru menjadi bagian penting dari perkembangan ekonomi dunia.
Bahkan negara-negara industri maju saling bergantung dalam berbagai rantai pasok teknologi.
Tidak realistis apabila setiap negara harus memproduksi seluruh kebutuhannya sendiri.
Namun, ketergantungan menjadi persoalan strategis ketika suatu negara tidak mampu memperoleh, memperbaiki, mengganti, atau mengembangkan teknologi yang sangat menentukan keselamatan dan keberlangsungan ekonominya.
Dalam keadaan tersebut, gangguan perdagangan, pembatasan ekspor, konflik geopolitik, atau keputusan perusahaan pemasok dapat memengaruhi kemampuan negara menjalankan kegiatan penting.
Karena itu, kemandirian teknologi tidak harus berarti memproduksi semuanya sendiri.
Kemandirian dapat berarti memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi penting, menguasai sistem yang digunakan, membangun pemasok alternatif, serta mempertahankan kegiatan ekonomi ketika menghadapi gangguan.
Bagi saya, kedaulatan teknologi bukan berarti menutup diri dari dunia. Kedaulatan teknologi berarti mempunyai pengetahuan, kemampuan, dan pilihan ketika menghadapi dunia.
9. Pelajaran bagi Indonesia: Sampai Kapan Kita Hanya Menjadi Pasar?
Perjalanan industri China menghadirkan pertanyaan yang juga relevan bagi Indonesia.
Indonesia merupakan pasar besar bagi kendaraan, perangkat elektronik, mesin industri, teknologi komunikasi, dan berbagai produk modern lainnya.
Kita menggunakan teknologi dalam hampir setiap kegiatan ekonomi.
Namun, penggunaan teknologi secara luas belum tentu menunjukkan kemampuan memproduksi dan mengembangkannya.
Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya berapa banyak produk teknologi yang digunakan masyarakat Indonesia.
Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa jauh Indonesia menguasai pengetahuan dan kemampuan industri di balik produk-produk tersebut.
Apakah industri nasional mampu merancang komponen penting?
Apakah perguruan tinggi dan lembaga penelitian terhubung dengan kebutuhan industri?
Apakah pengadaan peralatan dari luar negeri memberikan kesempatan bagi tenaga ahli Indonesia untuk meningkatkan kemampuannya?
Apakah investasi asing turut memperluas kemampuan produksi dan penelitian dalam negeri?
Dan apakah perusahaan Indonesia mempunyai peluang untuk berkembang dari pemasok komponen menjadi pengembang teknologi sendiri?
Pertanyaan tersebut tidak berarti Indonesia harus mengikuti seluruh kebijakan industri China.
Indonesia memiliki kondisi ekonomi, struktur industri, kapasitas penelitian, dan kebutuhan pembangunan yang berbeda.
Tidak semua teknologi harus dikembangkan dari awal.
Dalam sejumlah bidang, bekerja sama dengan perusahaan internasional mungkin lebih efisien.
Dalam bidang lain, pengembangan kemampuan sendiri dapat memiliki nilai strategis yang lebih besar.
Yang diperlukan adalah kemampuan menentukan prioritas, membangun kompetensi, serta menjaga kesinambungan penelitian dan produksi.
Jika Indonesia hanya berfokus pada pembelian produk jadi, pertumbuhan konsumsi teknologi belum tentu menghasilkan peningkatan kemampuan industri nasional.
Sebaliknya, apabila kebutuhan pasar dapat dihubungkan dengan pendidikan teknik, penelitian, investasi produktif, dan pengembangan pemasok lokal, konsumsi teknologi dapat menjadi salah satu pendorong pertumbuhan industri.
Menurut saya, persoalan yang perlu dijawab bukan apakah Indonesia mampu membuat seluruh teknologi yang saat ini digunakan.
Persoalan utamanya adalah:
Teknologi apa yang paling penting bagi masa depan Indonesia, dan langkah nyata apa yang sedang dilakukan agar bangsa ini semakin mampu menguasainya?
10. Penutup: Dua Mesin dan Perubahan Posisi Sebuah Bangsa
Kisah mesin penggali terowongan China tidak seharusnya dipahami sebagai cerita sederhana tentang kekalahan Jerman atau kemenangan China.
Jerman tetap mempunyai industri rekayasa yang kuat.
China juga masih terhubung dengan teknologi, perdagangan, dan rantai pasok internasional.
Namun, terdapat perubahan nyata yang tidak dapat diabaikan.
Pada 1990-an, China mendatangkan mesin penggali terowongan modern dari luar negeri untuk menjawab kebutuhan pembangunannya.
Memasuki abad ke-21, negara tersebut memperluas penelitian dan kemampuan manufaktur.
Pada 2008, salah satu tonggak pengembangan mesin shield modern dalam negeri berhasil dicapai.
Pada 2009, mesin itu digunakan dalam proyek konstruksi nyata.
Beberapa tahun kemudian, mesin buatan China mulai memasuki pasar internasional.
Kini, perusahaan-perusahaan China menjadi bagian penting dalam industri peralatan terowongan dunia.
Perjalanan tersebut mengajarkan bahwa ketergantungan teknologi bukanlah keadaan yang harus berlangsung selamanya.
Tetapi perubahan tidak cukup hanya dengan keinginan politik, besarnya investasi, atau semangat nasionalisme.
Perubahan membutuhkan pengetahuan, tenaga ahli, penelitian, kemampuan produksi, pengujian, pengalaman industri, dan waktu.
Sebuah negara dapat membeli mesin dalam satu transaksi.
Namun, kemampuan untuk merancang, memproduksi, dan mengembangkan mesin membutuhkan pembangunan pengetahuan yang jauh lebih panjang.
Bagi saya, di situlah pelajaran paling penting dari perjalanan teknologi China.
Bangsa yang hanya membeli teknologi akan terus membutuhkan kemampuan pihak lain. Bangsa yang mempelajari, menguasai, dan mengembangkan teknologi mempunyai kesempatan lebih besar untuk menentukan pilihannya sendiri.
Dua mesin yang didatangkan dari Jerman pada 1990-an bukanlah keseluruhan cerita kebangkitan industri China.
Namun, kisah itu memberikan gambaran tentang satu persoalan mendasar yang dapat dihadapi oleh negara mana pun.
Ketika teknologi menjadi bagian penting dari kekuatan ekonomi dan posisi tawar internasional, kemampuan untuk menguasainya tidak lagi hanya menjadi urusan para insinyur.
Ia juga menjadi persoalan pembangunan nasional, strategi ekonomi, pendidikan, penelitian, dan masa depan sebuah bangsa.
Pertanyaannya bagi Indonesia bukan sekadar kapan kita mampu membeli teknologi terbaru.
Pertanyaannya adalah kapan kita semakin mampu menciptakan, mengembangkan, dan menentukan arah teknologi yang kita butuhkan sendiri.

