PUSTAHA CATATAN

Mengapa Saya Membangun PUSTAHA

PUSTAHA lahir dari keinginan sederhana namun panjang: menyimpan karya, peristiwa, kegelisahan, dan berbagai hal yang saya temui agar suatu hari dapat menjadi catatan bagi generasi berikutnya.

Sampul Mengapa Saya Membangun PUSTAHA

Mengapa Saya Membangun PUSTAHA

Saya membangun PUSTAHA karena saya menyadari bahwa tidak semua karya, perjalanan, peristiwa, dan cerita akan tercatat dengan sendirinya. Ada banyak hal yang mungkin tidak pernah diliput perusahaan media, tidak masuk buku sejarah, bahkan perlahan hilang karena tidak ada yang mendokumentasikannya.

Saya ingin memiliki sebuah tempat untuk menyimpan apa yang sempat saya lihat, saya rekam, saya pikirkan, dan saya kerjakan.

Bagi saya, perjalanan manusia selalu meninggalkan pelajaran. Apa yang hari ini terlihat sederhana mungkin memiliki arti berbeda bagi seseorang pada masa mendatang. Karena itu, salah satu alasan terbesar saya membangun PUSTAHA adalah keinginan untuk mewariskan sebagian dari apa yang ada dalam diri saya kepada generasi berikutnya.

Website menjadi pilihan karena catatan dapat disusun, dicari, diperbarui, dan disimpan secara lebih teratur. Saya ingin karya dan catatan itu mempunyai rumah yang jelas, bukan tercecer dan perlahan terlupakan.

Berawal dari Keterbatasan Sebuah Rumah Karya

Sebelum PUSTAHA, saya membangun Liedtexter sebagai rumah bagi karya musik saya. Dalam proses membangunnya, saya mulai menyadari sesuatu.

Saya tidak hanya ingin berbicara tentang musik.

Ada saat ketika saya lelah memikirkan musik dan ingin menulis sesuatu yang lain. Saya ingin mencatat sebuah peristiwa, menuliskan pemikiran, mendokumentasikan sesuatu yang saya lihat, membahas pengetahuan, sejarah, ataupun hal-hal yang sedang merisaukan pikiran saya.

Namun fondasi Liedtexter memang sejak awal saya bangun untuk musik. Jika semua hal saya masukkan ke sana, identitasnya akan menjadi tidak jelas.

Dari keterbatasan itulah gagasan PUSTAHA semakin menemukan bentuknya.

Saya membutuhkan sebuah rumah yang cukup luas untuk menampung berbagai cabang pemikiran saya, tetapi tetap mempunyai susunan yang rapi. Musik memiliki tempatnya. Catatan memiliki tempatnya. Peristiwa, informasi, pengetahuan, dan karya lainnya juga memiliki tempat masing-masing.

Dengan begitu, saya tidak harus berhenti berpikir hanya karena apa yang sedang saya pikirkan berada di luar satu bidang tertentu.

Mengapa Namanya PUSTAHA?

Nama PUSTAHA tidak saya pilih secara sembarangan.

Saya mengenal kata “pustaha” dari tradisi Batak sebagai istilah lama yang berkaitan dengan pustaka, tulisan, dan pengetahuan. Makna itu terasa sangat dekat dengan apa yang sedang ingin saya bangun: sebuah tempat yang menghimpun berbagai hal yang dapat saya kerjakan, temukan, pikirkan, ataupun dokumentasikan.

Nama ini telah melalui proses pemikiran dan penyaringan yang cukup panjang.

Saya pernah mencoba membangun berbagai proyek digital sebelumnya. Dari perjalanan itu saya belajar bahwa sebuah karya tidak cukup hanya dibuat karena kita menyukainya. Karya juga membutuhkan wadah yang sesuai agar dapat bertahan dan terus berkembang.

Mungkin perjalanan saya menjadi lebih rumit karena pikiran saya sering bercabang. Seandainya saya hanya ingin berkarya dalam musik, mungkin saya tidak membutuhkan perjalanan sepanjang ini.

Tetapi pada akhirnya, justru perjalanan tersebut yang membawa saya kepada PUSTAHA.

Mencatat Hal yang Mungkin Tidak Dicatat Orang Lain

Salah satu kekhawatiran saya adalah hilangnya cerita-cerita kecil.

Tidak semua peristiwa akan menjadi berita nasional. Tidak semua tempat akan ditulis dalam buku sejarah. Tidak semua orang yang pernah melakukan sesuatu akan dikenal publik.

Padahal, sesuatu yang kecil bagi kita hari ini belum tentu tidak berarti bagi orang lain pada masa depan.

Karena itulah saya ingin PUSTAHA dapat menyimpan peristiwa yang sempat saya lihat atau rekam, bersama karya dan pemikiran yang saya hasilkan.

Dalam melihat sebuah peristiwa, saya juga tidak ingin berhenti pada pertanyaan tentang apa yang sedang terjadi. Saya ingin melihat dampaknya, mencoba mundur untuk memahami apa yang terjadi sebelumnya, kemudian mencari penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan melalui sumber, data, ataupun pengetahuan yang relevan.

PUSTAHA bukan dimaksudkan sekadar menjadi tempat mengejar apa yang sedang ramai. Saya ingin ia menjadi salah satu catatan pelengkap.

Dibangun untuk Siapa Saja

PUSTAHA saya bangun untuk siapa saja yang dapat menjangkaunya.

Saya tidak tahu siapa yang kelak akan membaca tulisan-tulisan di sini. Mungkin seseorang datang karena mencari informasi. Mungkin karena menemukan sebuah lagu. Mungkin sedang mencari sejarah suatu tempat. Atau mungkin secara tidak sengaja menemukan satu catatan lama melalui mesin pencari.

Saya juga tidak tahu seperti apa PUSTAHA sepuluh atau dua puluh tahun mendatang.

Harapan saya sederhana: semoga pada waktunya PUSTAHA dapat menjadi catatan sejarah pelengkap dan menjadi tempat bagi karya-karya yang mungkin tidak sempat dikenal secara luas pada zamannya.

Saya berharap PUSTAHA dapat memberikan beribu manfaat, baik bagi saya dalam menjalani proses berkarya maupun bagi siapa saja yang membacanya.

Sebuah Proyek yang Terlalu Besar?

Saya menyadari PUSTAHA adalah proyek yang ambisius.

Terlebih lagi, proyek ini saya mulai dan bangun secara independen dengan keterbatasan yang saya miliki. Salah satu kekhawatiran terbesar saya adalah biaya untuk mempertahankan dan mengembangkannya.

Bahkan saya sendiri terkadang berpikir bahwa mimpi ini terlalu besar untuk seseorang dengan kemampuan dan sumber daya yang terbatas seperti saya.

Namun saya juga tidak ingin keterbatasan menjadi alasan untuk tidak memulai.

Saya tidak tahu seberapa jauh PUSTAHA akan berkembang. Saya tidak dapat menjanjikan bahwa seluruh gagasan yang ada di kepala saya akan berhasil diwujudkan. Yang dapat saya lakukan sekarang adalah membangunnya sedikit demi sedikit, menulis satu demi satu, dan menyimpan apa yang masih sempat saya simpan.

Karena sesuatu yang besar tidak selalu harus dimulai dengan keadaan yang besar.

Jika Suatu Hari Saya Tidak Ada

Ada satu pemikiran yang menjadi alasan paling pribadi mengapa saya ingin semua ini tetap tercatat.

Jika suatu hari saya sudah tidak ada, saya tidak berharap semua orang mengenal nama saya.

Cukuplah jika masih ada satu atau dua orang yang menemukan catatan ini.

Saya ingin mereka mengetahui bahwa pernah ada seseorang yang mempunyai mimpi sangat besar, meskipun mungkin sebagian dari mimpi itu belum sempat terwujud.

Dan jika orang yang menemukan tulisan ini sedang berada dalam keadaan yang sulit, merasa terlalu kecil untuk mempunyai cita-cita besar, atau hampir menyerah karena keterbatasannya sendiri, saya berharap catatan ini dapat menyalakan kembali sedikit api semangat dalam dirinya.

Bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya.

Selama masih ada kesempatan untuk belajar, berpikir, menulis, membuat sesuatu, dan bertumbuh, selalu ada sesuatu yang masih dapat diperjuangkan.

Mungkin itulah warisan paling sederhana yang ingin saya tinggalkan melalui PUSTAHA.