PUSTAHA CATATAN

Jejak Sejarah Batak — Catatan #007: P'o-lü dan P'o-lu-shih dalam Sumber Tiongkok, Jejak Barus hingga Abad VI–VII

Penelusuran terhadap Bālūs membuka kemungkinan adanya jejak yang jauh lebih tua. Sejumlah peneliti, termasuk H. Kern dan Paul Pelliot, menghubungkan nama P'o-lü, P'o-lu, atau P'o-lu-shih dalam sumber Tiongkok dengan Barus serta perdagangan kamper dari Sumatra. Jika identifikasi tersebut benar, jaringan yang kelak berkaitan dengan Barus telah dikenal dunia luar beberapa abad sebelum Fansur dalam sumber Arab abad IX dan Pa-t’a dalam catatan Tiongkok abad XIII. Catatan #007 menelusuri sumber Tiongkok yang sebenarnya, bentuk nama yang tercatat, komoditas yang disebut, pendapat para ahli yang menghubungkannya dengan Barus, serta bantahan dan persoalan geografis yang membuat identifikasi tersebut belum dapat dianggap pasti.

Dipublikasikan 2 September 2026

Sampul Jejak Sejarah Batak — Catatan #007: P'o-lü dan P'o-lu-shih dalam Sumber Tiongkok, Jejak Barus hingga Abad VI–VII

JEJAK SEJARAH BATAK

Catatan #007 — P'o-lü dan P'o-lu-shih dalam Sumber Tiongkok, Jejak Barus hingga Abad VI–VII

Penelusuran berbasis teknologi AI · Dicatat oleh Armando Sinaga


Ketika Penelitian Kembali Bergerak Mundur

Jejak Sejarah Batak bermula dalam Catatan #001 dengan Pa-t'a pada awal abad XIII.

Kemudian penelitian bergerak kepada:

  • Ma-da pada 1285;
  • Marco Polo pada 1292;
  • Fansur dan Lobu Tua;
  • sumber Arab abad IX;
  • serta Bālūs.

Tetapi Catatan #006 meninggalkan sebuah petunjuk yang lebih tua.

Sumber Tiongkok mengenal istilah yang ditransliterasikan sebagai:

P'o-lü

dan kemudian:

P'o-lu-shih.

Sejumlah peneliti menghubungkan kedua bentuk tersebut dengan:

Barus.

Jika identifikasi itu benar, maka jejak nama yang berkaitan dengan Barus dapat dibawa kembali menuju sekitar abad VI–VII Masehi.

Namun ada masalah penting.

P'o-lü dalam sumber paling awal tidak selalu muncul sebagai nama sebuah kota atau kerajaan.

Ia muncul dalam hubungan dengan sebuah produk:

kamper.

Karena itu kita harus memisahkan tiga persoalan:

nama komoditas,

nama tempat asal komoditas,

dan

lokasi geografis tempat tersebut.


Abad VI: P'o-lü Hsiang

Paul Pelliot, ketika menelusuri sejarah nama Barus dan Fansur, menunjukkan bahwa sumber Tiongkok telah mengenal istilah:

婆律香 — p'o-lü hsiang

yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai:

“parfum P'o-lü.”

Selain itu dikenal pula:

婆律膏 — p'o-lü kao

atau:

“minyak/salep P'o-lü.”

Pelliot menghubungkan istilah tersebut dengan Barus.

Ia bahkan berpendapat bahwa bentuk rekonstruksi bunyi P'o-lü merupakan transkripsi yang sesuai untuk Barus.

Menurut pembahasannya, istilah tersebut telah dikenal setidaknya sejak paruh pertama abad VI.

Ini membawa penelitian kita sekitar:

tujuh abad sebelum Pa-t'a dalam Catatan #001.

Tetapi jangan terburu-buru.


Apa yang Sebenarnya Dikatakan Liang Shu?

Salah satu sumber yang dibicarakan adalah:

Liang Shu

atau Kitab Liang.

Karya tersebut merupakan sejarah resmi Dinasti Liang, dinasti Tiongkok Selatan yang memerintah pada 502–557 M.

Jane Drakard, dengan merujuk penelitian O.W. Wolters, menjelaskan bahwa Liang Shu menyebut p'o-lü perfume sebagai salah satu produk yang terdapat di Lang-ya-hsiu, sebuah wilayah di Semenanjung Melayu.

Informasi ini sangat penting.

Sebab sumber tersebut tidak mengatakan secara sederhana:

“Di Sumatra terdapat sebuah kota bernama Barus.”

Yang disebut adalah sebuah produk bernama atau berasal dari:

P'o-lü.

Dengan demikian Catatan #007 tidak akan menulis:

“Barus sudah tercatat sebagai kota di Tiongkok pada abad VI.”

Kalimat itu melampaui bukti yang sedang kita miliki.

Formulasi yang lebih aman adalah:

Sumber Tiongkok abad VI telah mengenal produk aromatik yang disebut p'o-lü hsiang; sejumlah peneliti kemudian menghubungkan unsur p'o-lü tersebut dengan nama Barus.


Bahkan Lebih Awal? T'ao Hung-ching

Jane Drakard juga mencatat penelitian Wolters mengenai sarjana dan ahli pengobatan Tiongkok:

T'ao Hung-ching (Tao Hongjing).

Ia hidup sekitar 456–536 M.

Menurut Wolters, T'ao Hung-ching telah mengenal produk tersebut dan memasukkannya dalam revisi karya materia medica pada periode akhir abad V hingga awal abad VI.

Ini membuka kemungkinan bahwa pengetahuan Tiongkok mengenai kamper yang kemudian dihubungkan dengan Barus sudah beredar sekitar:

akhir abad V atau awal abad VI.

Tetapi sekali lagi:

yang sedang kita lacak pada tahap ini adalah pengetahuan tentang komoditas.

Belum merupakan bukti langsung mengenai:

  • penduduk Barus;
  • kerajaan Barus;
  • masyarakat Batak;
  • atau bahkan lokasi persis bandar penghasilnya.

Kamper Membawa Nama Tempat ke Dunia

Mengapa sebuah produk dapat membawa nama tempat?

Dalam perdagangan jarak jauh hal seperti ini sangat umum.

Suatu barang dapat dikenal berdasarkan:

  • daerah asalnya;
  • pelabuhan tempat barang tersebut dibeli;
  • masyarakat yang memperdagangkannya;
  • atau nama yang diberikan pedagang perantara.

Kamper Sumatra merupakan komoditas bernilai tinggi.

Pohon Dryobalanops aromatica menghasilkan kamper alami yang terkenal.

Kawasan hutan di bagian utara Sumatra menjadi salah satu daerah penting penghasilnya.

Pada masa sejarah yang lebih muda, hubungan kamper dengan Barus sangat jelas.

Karena itu para peneliti mencoba membaca P'o-lü sebagai salah satu jejak awal nama Barus.

Tetapi hubungan tersebut tetap harus dibuktikan berdasarkan sumber.


Abad VII: T'ang Pen Ts'ao

Bukti kemudian menjadi lebih menarik.

Pada abad VII terdapat karya farmakologi Tiongkok:

T'ang pen ts'ao.

Pelliot menekankan bahwa teks ini menyatakan bahwa parfum dan salep kamper berasal dari:

negeri P'o-lü.

Ia menganggap bagian ini sangat penting karena P'o-lü tidak lagi hanya muncul sebagai unsur nama produk.

P'o-lü disebut sebagai negeri asalnya.

Jane Drakard juga menyoroti hal yang sama.

Menurut rangkumannya, T'ang pen ts'ao mencatat bahwa parfum dan salep kamper berasal dari negeri P'o-lu dan menggambarkan penampilannya menyerupai resin pinus putih.

Sekarang bukti kita berubah.

Pada abad VI:

P'o-lü terutama terlihat melalui nama produk.

Pada abad VII:

P'o-lü juga tampil sebagai nama negeri asal produk tersebut.

Ini jauh lebih menarik secara geografis.


Tetapi Di Mana Negeri P'o-lü?

Inilah persoalannya.

Teks Tiongkok tidak memberikan koordinat modern.

Tidak tertulis:

“P'o-lü terletak di Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.”

Wilayah administratif tersebut tentu belum ada.

Nama modern hanya dapat digunakan untuk membantu orientasi pembaca.

Para peneliti harus menentukan lokasi P'o-lü melalui:

  • rekonstruksi bunyi Tionghoa kuno;
  • komoditas yang disebut;
  • rute pelayaran;
  • sumber lain;
  • dan perkembangan nama geografis kemudian.

Dari proses itulah muncul hipotesis:

P'o-lü = Barus.


Pelliot Mendukung Identifikasi Barus

Paul Pelliot merupakan salah satu pendukung penting identifikasi tersebut.

Ia menolak pendapat Friedrich Hirth dan W.W. Rockhill yang menganggap p'o-lü mungkin merupakan bentuk terpotong dari kata Sanskerta karpūra, yang berarti kamper.

Menurut Pelliot, penjelasan tersebut bermasalah secara fonetik dan tidak sesuai dengan teks yang digunakan.

Sebaliknya, ia menilai:

P'o-lü merupakan transkripsi yang sesuai dengan Barus.

Ini adalah argumentasi filologis.

Bukan hanya:

“namanya terdengar mirip.”

Pelliot mencoba merekonstruksi bunyi historis karakter Tiongkok dan membandingkannya dengan Barus.

Tetapi tetap harus dicatat:

itu adalah interpretasi ilmiah Pelliot.


Hirth dan Rockhill Berbeda Pendapat

Di sinilah prinsip penelitian kita kembali berlaku:

catat bukti, catat juga bantahannya.

Hirth dan Rockhill sebelumnya mempunyai interpretasi berbeda.

Mereka menghubungkan istilah p'o-lü dengan kata Sanskerta:

karpūra — kamper.

Jika interpretasi ini diterima, maka p'o-lü mungkin lebih berkaitan dengan nama komoditas daripada nama geografis Barus.

Pelliot menolaknya.

Artinya sejak awal sudah terdapat perdebatan mengenai apakah:

P'o-lü = Barus

atau

P'o-lü berkaitan dengan istilah kamper itu sendiri.

Catatan #007 tidak akan menyembunyikan perbedaan tersebut.


I-Tsing Membawa Nama Baru: P'o-lu-shih

Sekarang kita bergerak ke bagian paling menarik.

Pada paruh kedua abad VII, biksu Tiongkok:

I-Tsing / Yijing

melakukan perjalanan laut menuju India dan Asia Tenggara.

Dalam catatannya mengenai negeri-negeri di “Laut Selatan”, ia menyebut sebuah negeri bernama:

婆魯師 — P'o-lu-shih.

Pelliot merekonstruksi bentuk bunyinya kira-kira sebagai:

Barušī.

Sejak penelitian H. Kern, P'o-lu-shih kemudian banyak dihubungkan dengan:

Barus.

Jane Drakard mencatat bahwa identifikasi tersebut diterima oleh sejumlah peneliti karena dua alasan:

kemiripan bunyi

dan

posisinya dalam daftar geografis I-Tsing.


P'o-lu-shih Berada di Barat

I-Tsing menyusun daftar sejumlah negeri yang mengenal Buddhisme di kawasan Laut Selatan.

P'o-lu-shih ditempatkan pada bagian paling barat dalam daftar tersebut.

Setelah P'o-lu-shih muncul:

Mo-lo-yu

yang biasanya dihubungkan dengan Malayu.

Dalam bagian lain, I-Tsing menceritakan dua biksu Korea yang berlayar menuju P'o-lu-shih, di sebelah barat Sribhoga/Srivijaya, kemudian jatuh sakit dan meninggal di sana.

Informasi geografis ini merupakan salah satu alasan mengapa Barus dianggap kandidat menarik.

Barus berada di pantai barat Sumatra.

Namun:

“berada di sebelah barat Srivijaya” belum cukup untuk menentukan satu titik lokasi.

Wilayah yang mungkin sesuai cukup luas.


Tidak Semua Peneliti Memilih Barus

Identifikasi P'o-lu-shih dengan Barus ternyata bukan satu-satunya pendapat.

Dalam historiografi Asia Tenggara terdapat pula peneliti yang pernah menghubungkan P'o-lu-shih dengan lokasi lain.

Jane Drakard menunjukkan bahwa O.W. Wolters bahkan mempertanyakan apakah P'o-lu dan Bālūs harus dipahami sebagai kota Barus modern.

Menurut Wolters, nama tersebut mungkin menunjuk kepada:

wilayah yang jauh lebih luas di bagian utara Sumatra,

dengan pusat perdagangan yang mungkin berada lebih dekat ke ujung utara pulau.

Ini sangat penting.

Karena mungkin kesalahan kita selama ini adalah membayangkan nama kuno seperti sebuah titik Google Maps.

Padahal sebuah nama dapat menunjuk:

  • negeri;
  • kawasan politik;
  • daerah produksi;
  • jaringan pelabuhan;
  • atau wilayah perdagangan.

Lang-p'o-lu-ssŭ

Sumber Dinasti Tang juga mengenal bentuk lain:

Lang-p'o-lu-ssŭ.

Pelliot merekonstruksinya sebagai kemungkinan:

Lang-Barus

atau

Lang-Balus.

Tetapi ia sendiri memberikan tanda tanya terhadap interpretasi tersebut karena terdapat kemungkinan kebingungan dengan Langbālūs, nama yang berhubungan dengan Kepulauan Nicobar.

Dengan demikian bahkan Pelliot—yang sangat mendukung hubungan P'o-lü dengan Barus—tidak menganggap semua bentuk nama dapat diselesaikan dengan mudah.

Ini contoh penting bagaimana penelitian seharusnya dilakukan.

Seorang ahli dapat sangat yakin pada satu identifikasi tetapi tetap mengatakan:

bagian lainnya belum pasti.


Sebuah Negeri Buddha?

Jika P'o-lu-shih memang Barus, muncul konsekuensi sejarah yang sangat menarik.

I-Tsing memasukkannya dalam daftar negeri di kawasan Laut Selatan yang mengenal atau menganut Buddhisme.

Artinya Barus pada abad VII mungkin mempunyai komunitas atau lingkungan Buddhis.

Tetapi perhatikan syaratnya:

JIKA P'o-lu-shih benar-benar Barus.

Tanpa identifikasi tersebut, kita tidak boleh menulis:

“Barus adalah kerajaan Buddha pada abad VII.”

Lebih aman menulis:

I-Tsing menyebut P'o-lu-shih dalam lingkungan negeri-negeri Buddhis Laut Selatan; sejumlah peneliti mengidentifikasinya dengan Barus.

Perbedaan satu kalimat ini sangat penting.


Sekitar Tahun 800: Chia Tan

Jane Drakard juga mencatat hubungan P'o-lu-shih dengan sebuah pelabuhan bernama:

P'o-lu

dalam uraian geografis Chia Tan / Jia Dan sekitar tahun 800 M.

Para peneliti menggunakan berita perjalanan tersebut untuk mencoba menghubungkan P'o-lu dengan jaringan pelayaran Samudra Hindia dan Sumatra.

Ini memperlihatkan bahwa bentuk nama tersebut tidak menghilang setelah abad VII.

Ia terus muncul dalam tradisi geografis Tiongkok.


Sekitar Tahun 860: Ku-pu P'o-lü

Kemudian sekitar pertengahan abad IX muncul sebuah bukti linguistik yang sangat menarik.

Karya Tiongkok:

Yu-yang tsa-tsu

membicarakan pohon penghasil “dragon-brain perfume”, istilah Tiongkok untuk kamper.

Dalam teks tersebut muncul bentuk:

ku-pu p'o-lü.

Pelliot menilai bentuk tersebut hampir pasti merupakan transkripsi dari:

kapur Barus.

Jika pembacaan ini benar, kita mempunyai sesuatu yang luar biasa.

Istilah kapur Barus atau bentuk yang sangat dekat dengannya telah masuk ke dalam pengetahuan Tiongkok sekitar abad IX.

Pelliot bahkan menilai ada kesalahan penyalinan karakter dalam teks dan berusaha memulihkan bentuk bacaannya berdasarkan linguistik historis.


Maka Apakah Barus Sudah Terbukti sejak Abad VI?

Jawabannya:

belum sesederhana itu.

Kita mempunyai beberapa tingkat bukti.

TINGKAT 1 — ABAD V–VI

Tiongkok mengenal produk p'o-lü hsiang.

Hubungannya dengan Barus merupakan interpretasi kuat sejumlah ahli, terutama Pelliot dan Wolters.

TINGKAT 2 — ABAD VII

T'ang pen ts'ao menyebut negeri P'o-lü sebagai asal kamper.

Sekarang unsur geografis menjadi lebih jelas.

TINGKAT 3 — ABAD VII

I-Tsing menyebut negeri P'o-lu-shih.

Sejak Kern, sejumlah ahli menghubungkannya dengan Barus.

Tetapi identifikasinya tidak diterima tanpa perdebatan.

TINGKAT 4 — ABAD IX

Yu-yang tsa-tsu mencatat bentuk ku-pu p'o-lü, yang oleh Pelliot dibaca sebagai kapur Barus.

Semakin mendekati abad IX, hubungan nama dengan Barus menjadi semakin menarik.


Tetapi Di Mana Orang Batak?

Sampai titik ini kita belum menemukan kata:

Batak.

Tidak ada sumber Tiongkok yang sedang dibahas yang mengatakan:

“P'o-lü dihuni orang Batak.”

Tidak ada pula yang mengatakan:

“P'o-lu-shih adalah kerajaan Batak.”

Maka kita tidak akan mengatakannya.

Namun pertanyaan mengenai masyarakat pedalaman tetap penting.


Kamper Tidak Berasal dari Pelabuhan

Kamper berasal dari pohon.

Pohon tersebut tumbuh di hutan.

Seseorang harus:

  • mengetahui lokasi pohonnya;
  • mengenali pohon yang mengandung kristal kamper;
  • mengambil hasilnya;
  • mengangkutnya;
  • dan memasukkannya ke jaringan perdagangan.

Pada abad XVII–XIX, sumber yang dibahas Jane Drakard menunjukkan bahwa pengumpulan kamper dan kemenyan di pedalaman Barus secara tradisional dilakukan oleh masyarakat Batak pegunungan yang membawa hasilnya menuju pantai.

Ini merupakan fakta penting.

Tetapi sumber tersebut berasal lebih dari seribu tahun setelah abad VI.

Karena itu kita tidak boleh menulis:

“Orang Batak sudah memasok kamper kepada Tiongkok sejak abad VI.”

Bukti yang kita miliki belum memungkinkan kesimpulan tersebut.


Pertanyaan yang Sah

Yang boleh kita tanyakan adalah:

Jika kamper dari kawasan utara Sumatra telah memasuki jaringan perdagangan internasional sejak abad VI atau sebelumnya, siapakah masyarakat lokal yang mengumpulkannya?

Apakah mereka leluhur masyarakat Batak?

Apakah terdapat kelompok lain?

Apakah beberapa masyarakat bekerja dalam satu jaringan?

Apakah identitas “Batak” bahkan sudah digunakan pada masa tersebut?

Kita belum mengetahui jawabannya.

Dan ketidaktahuan itu harus dicatat sebagai bagian dari sejarah penelitian.


Barus Mungkin Bukan Satu Kota yang Tidak Pernah Berpindah

Arkeologi kembali memberikan peringatan penting.

Permukiman Lobu Tua yang kita bahas pada Catatan #004 terutama berkembang sekitar akhir abad IX hingga awal abad XII.

Jika sumber Tiongkok abad VI–VII memang berbicara mengenai Barus, maka muncul pertanyaan:

di manakah pusat Barus pada abad VI–VII?

Belum tentu berada tepat di Lobu Tua.

Nama Barus mungkin menunjuk:

  • kawasan produksi;
  • wilayah pesisir;
  • sebuah pelabuhan yang kemudian berpindah;
  • atau suatu jaringan perdagangan.

Karena itu tidak benar jika kita menggambar satu titik Lobu Tua pada peta lalu menganggap seluruh berita sejak abad VI berasal dari titik yang sama.


Sebuah Jejak yang Kini Mendekati 1.500 Tahun

Sekarang perjalanan penelitian kita mengalami perubahan besar.

Catatan #001 dimulai pada awal abad XIII.

Catatan #007 membawa kemungkinan jejak Barus menuju:

abad VI Masehi.

Sekitar 1.500 tahun sebelum masa kita sekarang.

Tetapi semakin jauh kita mundur, semakin tipis bukti mengenai identitas masyarakat.

Kita mengetahui produknya.

Kita mengenal beberapa nama geografis.

Kita mengetahui jaringan perdagangan.

Tetapi orang-orang yang berada di balik jaringan tersebut masih sulit terlihat.


Status Bukti Catatan #007

TERVERIFIKASI — SUMBER TIONGKOK

Sumber Tiongkok awal mengenal istilah p'o-lü hsiang dan p'o-lü kao dalam hubungan dengan kamper.

TERVERIFIKASI — ABAD VII

T'ang pen ts'ao menggunakan P'o-lü sebagai negeri asal kamper.

TERVERIFIKASI — I-TSING

I-Tsing/Yijing pada abad VII mencatat sebuah negeri bernama P'o-lu-shih dalam lingkungan negeri-negeri Laut Selatan.

INTERPRETASI KUAT

H. Kern, Paul Pelliot dan sejumlah peneliti kemudian menghubungkan P'o-lü/P'o-lu-shih dengan Barus.

Pelliot mendukung identifikasi tersebut melalui rekonstruksi fonetik dan hubungan dengan kamper.

INTERPRETASI BERBEDA

Hirth dan Rockhill sebelumnya menghubungkan unsur p'o-lü dengan kata Sanskerta karpūra.

Pelliot menolak interpretasi tersebut.

INTERPRETASI GEOGRAFIS ALTERNATIF

O.W. Wolters memperingatkan bahwa P'o-lu/Bālūs mungkin menunjuk kawasan lebih luas di utara Sumatra dan tidak harus identik dengan titik Kota Barus modern.

TERCATAT — SEKITAR ABAD IX

Yu-yang tsa-tsu memuat bentuk ku-pu p'o-lü, yang oleh Pelliot ditafsirkan sebagai transkripsi kapur Barus.

BELUM TERVERIFIKASI

Belum terdapat bukti autentik dalam sumber yang diperiksa yang menyebut masyarakat P'o-lü atau P'o-lu-shih sebagai Batak.

TIDAK BOLEH DISIMPULKAN

Catatan #007 tidak membuktikan keberadaan:

  • kerajaan Batak abad VI;
  • kota Batak bernama Barus pada abad VI;
  • masyarakat Batak pengekspor kamper ke Tiongkok sejak abad VI;
  • atau batas politik Barus seperti wilayah administratif modern.

Kesimpulan Sementara

Catatan #007 membawa Jejak Sejarah Batak jauh melampaui titik awal penelitian.

Sumber Tiongkok menunjukkan bahwa komoditas yang disebut p'o-lü telah dikenal setidaknya sekitar abad VI dan bahwa pada abad VII terdapat sebuah negeri P'o-lü yang dikaitkan dengan kamper.

I-Tsing kemudian mencatat P'o-lu-shih, yang sejak H. Kern telah dihubungkan oleh sejumlah ahli dengan Barus.

Paul Pelliot memberikan salah satu argumentasi filologis terkuat untuk hubungan tersebut.

Namun bukti belum memungkinkan kita menyatakan seluruh identifikasi itu sebagai kepastian.

Yang dapat dikatakan dengan aman adalah:

Dunia Tiongkok telah mengenal nama dan produk yang oleh sejumlah ahli dihubungkan dengan Barus sejak sekitar abad VI–VII, tetapi lokasi tepat P'o-lü/P'o-lu-shih dan identitas masyarakat di balik perdagangan kamper tersebut masih menjadi persoalan penelitian.

Dan mengenai Batak:

hingga penelusuran Catatan #007 dilakukan, kami belum menemukan sumber Tiongkok abad VI–VII yang secara autentik menyebut masyarakat P'o-lü atau P'o-lu-shih sebagai Batak.

Hubungannya masih harus dicari.


Daftar Sumber dan Pustaka

  1. Liang Shu (梁書 / Book of Liang). Sejarah resmi Dinasti Liang (502–557), disusun pada awal Dinasti Tang. Bagian yang dibahas dalam historiografi modern memuat p'o-lü hsiang dalam daftar produk Lang-ya-hsiu. Catatan #007 menggunakan sumber ini melalui pembahasan filologis Pelliot, Wolters, dan Drakard; teks Tiongkok aslinya masih perlu diperiksa secara khusus sebelum nomor juan dan halaman edisi tertentu dicantumkan.

  2. Tao Hongjing / T'ao Hung-ching (456–536). Tradisi revisi Bencao jing jizhu / materia medica Tiongkok. Menurut pembahasan O.W. Wolters yang dikutip Jane Drakard, produk p'o-lü telah dikenal dalam tradisi farmakologi pada akhir abad V–awal abad VI.

  3. Tang bencao / T'ang pen ts'ao (新修本草 / Xinxiu bencao). Disusun pada abad VII, secara tradisional bertanggal 659 M. Sumber farmakologi Tang yang menurut Pelliot dan kajian kemudian menyebut P'o-lü sebagai negeri asal kamper.

  4. Yijing / I-Tsing (635–713). Catatan perjalanan dan biografi biksu-biksu Buddhis yang melakukan perjalanan melalui Laut Selatan. Menyebut P'o-lu-shih sebagai salah satu negeri dalam jaringan maritim Asia Tenggara. Edisi dan terjemahan klasik yang penting termasuk karya Édouard Chavannes dan J. Takakusu.

  5. Duan Chengshi. Youyang zazu / Yu-yang tsa-tsu. Dinasti Tang, abad IX. Memuat berita mengenai pohon kamper dan bentuk yang dibaca Pelliot sebagai ku/ko-pu p'o-lü, yang dihubungkannya dengan kapur Barus.

  6. Pelliot, Paul. Notes on Marco Polo, Vol. II. Paris: Imprimerie Nationale, 1959–1963. Pembahasan “Fansur” memuat kajian panjang mengenai P'o-lü, P'o-lu-shih, Bālūs, Fansur dan kapur Barus serta rekonstruksi fonetik nama-nama tersebut.

  7. Drakard, Jane. “An Indian Ocean Port: Sources for the Earlier History of Barus.” Archipel, No. 37, 1989, pp. 53–82. DOI: 10.3406/arch.1989.2562. Kajian utama yang membandingkan sumber Tiongkok, Arab, Eropa dan bukti geografis mengenai sejarah awal Barus.

  8. Wolters, O.W. Early Indonesian Commerce: A Study of the Origins of Srivijaya. Ithaca, New York: Cornell University Press, 1967. Digunakan untuk pembahasan p'o-lü perfume, jaringan perdagangan awal dan persoalan lokasi Barus/P'o-lu.

  9. Hirth, Friedrich & W.W. Rockhill. Chau Ju-Kua: His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteenth Centuries, Entitled Chu-fan-chi. St. Petersburg: Imperial Academy of Sciences, 1911. Penting sebagai pembanding interpretasi istilah p'o-lü dan sumber Tiongkok mengenai perdagangan Asia Tenggara.

  10. Kern, H. Penelitian filologis akhir abad XIX mengenai nama-nama geografis Asia Tenggara dalam sumber Tiongkok. Kern merupakan salah satu sarjana awal yang mengusulkan hubungan P'o-lu-shih dengan Barus; identifikasi ini kemudian dibahas kembali oleh Wolters, Pelliot dan Drakard.

  11. Guillot, Claude (ed.). Histoire de Barus, Sumatra: Le Site de Lobu Tua I — Études et Documents. Paris: Association Archipel / École des Hautes Études en Sciences Sociales, 1998. Digunakan sebagai pembanding arkeologis terhadap tradisi sumber tertulis mengenai Barus.

  12. Tibbetts, G.R. A Study of the Arabic Texts Containing Material on South-East Asia. London: Royal Asiatic Society, Oriental Translation Fund, New Series, Vol. 44, 1979. Digunakan untuk membandingkan perkembangan nama Barus/Bālūs dan Fansur dalam tradisi Arab dengan berita Tiongkok.


Catatan tentang Ketelitian Sumber

Dalam Catatan #007 sengaja tidak dicantumkan nomor halaman atau nomor juan untuk sumber Tiongkok primer apabila belum diperiksa langsung pada edisi yang dapat diverifikasi.

Informasi tersebut tidak akan ditebak.

Beberapa sumber primer Tiongkok bertahan melalui:

  • edisi berbeda;
  • manuskrip tidak lengkap;
  • kutipan dalam karya kemudian;
  • serta rekonstruksi filologis modern.

Karena itu transliterasi seperti:

P'o-lü, P'o-lu, P'o-lu-shih, Lang-p'o-lu-ssŭ

harus dipahami sebagai sistem romanisasi yang digunakan penelitian terdahulu, bukan ejaan modern Mandarin.

Penelitian selanjutnya dapat menambahkan:

  • karakter Tiongkok asli;
  • rekonstruksi bunyi;
  • juan;
  • edisi;
  • dan nomor halaman,

setelah masing-masing diverifikasi secara langsung.


Pertanyaan yang Dibawa ke Catatan Berikutnya

Catatan #007 menghasilkan sebuah pertanyaan yang bahkan lebih tua.

Jika produk p'o-lü sudah dikenal oleh dunia Tiongkok sekitar abad VI, dan mungkin bahkan dalam tradisi materia medica akhir abad V:

seberapa tua sebenarnya perdagangan kamper Sumatra?

Apakah arkeologi mendukung jaringan perdagangan sebelum abad VI?

Apakah sumber India, Tamil, Sanskerta, Arab-Persia, atau sumber dunia Mediterania mengenal produk tersebut lebih awal?

Dan apakah nama Barusai dalam Geographia karya Claudius Ptolemaeus/Ptolemy pada abad II Masehi, yang pernah dihubungkan sejumlah peneliti dengan Barus, benar-benar mempunyai hubungan dengan kawasan ini?

Jika iya, perjalanan kita mungkin harus mundur lagi hampir empat abad.

Tetapi hubungan itu tidak akan diterima hanya karena namanya mirip.

Catat sumbernya. Catat interpretasinya. Catat bantahannya. Dan biarkan bukti menentukan seberapa jauh kita dapat melangkah.


JEJAK SEJARAH BATAK Catatan #007

Penelusuran berbasis teknologi · Dicatat oleh Armando Sinaga

Jejak Sejarah Batak — Catatan #007: P'o-lü dan P'o-lu-shih dalam Sumber Tiongkok, Jejak Barus hingga Abad VI–VII | PUSTAHA