PUSTAHA CATATAN

Jejak Sejarah Batak — Catatan #006: Bālūs dalam Sumber Arab, Benarkah Nama Kuno Barus?

Penelusuran sumber Arab abad pertengahan memunculkan sebuah persoalan baru: selain Fansur, beberapa teks juga mengenal nama yang ditransliterasikan sebagai Bālūs atau Balus. Sejumlah peneliti menghubungkannya dengan Barus di pantai barat Sumatra, sementara pembacaan ini sekaligus dapat menggoyahkan anggapan lama bahwa Fansur selalu identik dengan Barus. Catatan #006 menelusuri kemunculan Bālūs dalam sumber Arab, bentuk nama dan konteks geografisnya, pendapat para peneliti mengenai lokasinya, serta kemungkinan hubungannya dengan jaringan perdagangan pedalaman Sumatra. Apakah Bālūs benar-benar Barus, dan apakah sumber ini membawa kita lebih dekat kepada sejarah awal masyarakat Batak? Untuk sementara, jawabannya harus ditentukan oleh bukti—bukan kemiripan nama semata.

Dipublikasikan 2 September 2026

Sampul Jejak Sejarah Batak — Catatan #006: Bālūs dalam Sumber Arab, Benarkah Nama Kuno Barus?

JEJAK SEJARAH BATAK

Catatan #006 — Bālūs dalam Sumber Arab, Benarkah Nama Kuno Barus?

Penelusuran berbasis teknologi AI · Dicatat oleh Armando Sinaga


Sebuah Nama yang Tidak Boleh Dilewatkan

Catatan #005 membawa penelitian kepada tiga nama penting dalam sumber-sumber Arab mengenai Asia Tenggara:

Ramni, Fansur, dan Bālūs.

Fansur telah lama dihubungkan dengan Barus.

Namun kemudian muncul persoalan.

Beberapa penelitian modern menunjukkan bahwa sumber Arab mengenal Fansur dan Bālūs sebagai dua nama yang berbeda.

Jika demikian, kita tidak boleh langsung mengatakan:

Fansur = Barus

dan pada saat yang sama:

Bālūs = Barus

tanpa terlebih dahulu memeriksa bagaimana kedua nama itu muncul dalam sumber.

Catatan #006 karena itu dikhususkan untuk satu pertanyaan:

Apakah Bālūs adalah bentuk awal nama Barus?

Jawaban sementara ternyata tidak sederhana.


Bālūs dalam Dunia Geografi Arab

Salah satu teks yang sering dibicarakan berasal dari tradisi geografi Ibn Khurdādhbih, penulis Kitāb al-Masālik wa'l-Mamālik pada abad IX.

Dalam tradisi teks yang kemudian dikutip oleh para peneliti, disebut sebuah pulau bernama:

Bālūs

yang ditempatkan dalam jalur pelayaran antara tempat yang disebut Langabālūs dan Kilah.

Kilah biasanya dihubungkan dengan kawasan Kedah di Semenanjung Melayu.

Bālūs digambarkan menghasilkan:

  • kamper berkualitas tinggi,
  • pisang,
  • kelapa,
  • tebu,
  • dan beras.

Dalam sumber tersebut juga terdapat cerita bahwa penduduknya melakukan kanibalisme.

Berita semacam ini telah berulang kali dikutip dalam penelitian mengenai kapur barus dan perdagangan Asia Tenggara.

Namun kita harus berhati-hati.

Teks geografis Arab abad pertengahan mengalami proses:

penyalinan, penyuntingan, pengutipan, dan pengulangan oleh penulis berikutnya.

Karena itu tanggal seorang penulis tidak selalu sama dengan tanggal pasti setiap bentuk nama yang bertahan dalam manuskrip kemudian.


Persoalan Pertama: Abad IX atau Abad X?

Di sinilah ditemukan sebuah perbedaan penting.

Sebagian literatur modern Indonesia mengaitkan penyebutan Bālūs langsung dengan Kitāb al-Masālik wa'l-Mamālik karya Ibn Khurdādhbih sekitar pertengahan abad IX.

Namun orientalis Prancis Paul Pelliot, ketika membahas nama Barus dan Fansur, menulis bahwa bentuk Bālūs mulai ditemukan dalam teks Arab sekitar pertengahan abad X.

Pelliot kemudian menganggap Bālūs sebagai bentuk lain dari Barus.

Ia juga membedakan nama tersebut dari Fanṣūr, yang menurutnya telah muncul dalam sumber Arab sejak pertengahan abad IX.

Ini berarti kita mempunyai masalah kronologi.

VERSI A

Tradisi Ibn Khurdādhbih memungkinkan Bālūs ditarik menuju pertengahan abad IX.

VERSI B

Pembacaan Pelliot menempatkan kemunculan bentuk Bālūs dalam teks Arab sekitar pertengahan abad X.

Catatan ini tidak akan memilih salah satu tanpa pemeriksaan manuskrip Arab dan sejarah transmisinya secara lebih mendalam.

Karena itu statusnya:

KRONOLOGI MASIH MEMERLUKAN VERIFIKASI TEKSTUAL.


Apa yang Sebenarnya Dikatakan tentang Bālūs?

Gambaran yang berulang mengenai Bālūs sangat menarik.

Sumber tersebut menghubungkannya dengan:

kamper.

Ini segera mengingatkan kita kepada Barus.

Karena Barus selama berabad-abad dikenal sebagai kawasan penghasil dan pusat perdagangan kamper.

Tetapi kamper saja belum cukup untuk membuktikan identitas geografis.

Beberapa kawasan di Sumatra dan Kalimantan juga menghasilkan jenis-jenis kamper.

Karena itu kesamaan komoditas harus dipadukan dengan:

  • bentuk nama,
  • jalur pelayaran,
  • jarak perjalanan,
  • sumber Tiongkok,
  • bukti arkeologi,
  • serta sumber lain dari masa yang berdekatan.

Bālūs dan Barus: Kemiripan Nama

Secara bunyi, hubungan:

Bālūs → Barus

memang sangat menarik.

Dalam perpindahan nama melalui bahasa berbeda, perubahan bunyi l/r bukan sesuatu yang mustahil.

Pelliot bahkan secara tegas memandang Bālūs sebagai bentuk lain dari Barus.

Dalam kajiannya mengenai catatan Marco Polo, ia menyebut bahwa Bālūs yang muncul dalam sumber Muslim berhubungan dengan Barus dan bahwa nama tersebut juga digunakan untuk jenis kamper.

Tetapi kemiripan fonetik tetap merupakan:

argumen linguistik, bukan bukti tunggal.

Kita masih membutuhkan kesesuaian geografis.


Nama yang Lebih Tua Lagi: P'o-lu

Penelusuran kemudian membawa kita kembali kepada sumber Tiongkok.

Sejarawan H. Kern pada akhir abad XIX menghubungkan nama Tiongkok:

P'o-lu

dengan Barus.

Jane Drakard mencatat bahwa P'o-lu muncul dalam sumber Tiongkok sejak sekitar abad VII.

Jika identifikasi ini benar, maka bentuk nama yang berhubungan dengan Barus dapat lebih tua daripada Bālūs dalam sumber Arab.

Pelliot juga membahas bentuk Tiongkok p'o-lü dan P'o-lu-shih dan menganggapnya berhubungan dengan Barus.

Ia mencatat bahwa sumber Tiongkok mengenal istilah yang berhubungan dengan kamper sejak setidaknya paruh pertama abad VI.

Pada sekitar tahun 860, sumber Tiongkok Yu-yang tsa-tsu juga mencatat istilah untuk kamper yang oleh Pelliot dihubungkan dengan kapur barus.

Ini merupakan perkembangan penting.

Artinya jejak nama yang mungkin berhubungan dengan Barus dapat membawa kita:

lebih jauh ke belakang daripada sumber Arab abad IX.

Tetapi sekali lagi:

P'o-lu = Barus merupakan identifikasi ilmiah, bukan tulisan eksplisit “Barus” dalam huruf Latin modern.


O.W. Wolters Mengajukan Masalah Baru

Sejarawan O.W. Wolters tidak menerima begitu saja bahwa setiap P'o-lu atau Bālūs menunjuk tepat kepada Kota Barus modern.

Menurut rangkuman Jane Drakard, Wolters berpendapat bahwa P'o-lu dalam sumber Tiongkok dan Bālūs dalam sumber Arab mungkin menunjuk kepada wilayah yang lebih luas di bagian utara Sumatra.

Bahkan pusat pelabuhannya mungkin berada lebih dekat ke ujung utara pulau.

Dengan kata lain:

Bālūs mungkin merupakan nama kawasan, bukan satu titik kota.

Ini penting sekali.

Sebuah nama kuno tidak selalu bekerja seperti nama kota modern.

Satu nama dapat menunjuk:

  • wilayah politik,
  • daerah perdagangan,
  • kawasan produksi,
  • pelabuhan,
  • teluk,
  • atau jaringan beberapa permukiman.

Karena itu peta modern tidak boleh dipaksakan langsung kepada teks abad IX atau X.


Jane Drakard dan Masalah Dua Nama

Pada 1989, Jane Drakard menerbitkan penelitian penting:

“An Indian Ocean Port: Sources for the Earlier History of Barus.”

Drakard meninjau berbagai sumber asing tentang sejarah awal Barus.

Ia menekankan bahwa persoalan tersebut rumit karena adanya apa yang disebutnya sebagai semacam:

double nomenclature

atau penggunaan dua nama.

Sumber tertentu mengenal:

Barus/Bālūs

sementara sumber Arab juga sangat sering mengenal:

Fansur.

Drakard menunjukkan bahwa para peneliti sejak lama berusaha menentukan bagaimana kedua nama tersebut saling berhubungan.


Lalu Catatan #005 Membawa Bantahan Baru

Pada Catatan #005 kita menemukan penelitian Edmund Edwards McKinnon dan Nurdin A.R.

Mereka mengajukan argumentasi lebih radikal.

Menurut mereka:

Fansur dan Bālūs adalah dua lokasi yang berbeda.

Salah satu alasan utama mereka adalah bahwa sumber Arab menyebut keduanya tetapi tidak menyamakannya.

Mereka kemudian mengusulkan:

Fansur = kawasan Lhok Pancu, Aceh Besar

sedangkan Bālūs dapat tetap berhubungan dengan Barus.

Jika argumentasi ini benar, maka kita memperoleh struktur yang berbeda:

Fansur ≠ Barus

dan

Bālūs ≈ Barus.

Tetapi statusnya masih:

INTERPRETASI PENELITI.


Masalah Langabālūs

Satu nama lagi membuat persoalan semakin rumit:

Langabālūs.

Beberapa sumber geografis Arab membicarakan Langabālūs bersama Bālūs.

Dalam penelitian modern, Langabālūs sering dikaitkan dengan kepulauan di Samudra Hindia, khususnya lingkungan Nicobar.

Karena itu keberadaan unsur “bālūs” dalam Langabālūs tidak berarti seluruh nama tersebut berhubungan langsung dengan Barus.

Bahkan Pelliot sendiri mencatat kemungkinan kebingungan antara bentuk Lang-Barus/Lang-Balus dan Langabālūs serta menyebut persoalan tersebut masih terbuka.

Maka kita tidak boleh menggunakan kesamaan suku kata sebagai bukti otomatis.


Cerita Kanibalisme Kembali Muncul

Sumber mengenai Bālūs juga membawa cerita kanibalisme.

Ini membuat Bālūs mudah sekali dihubungkan dengan Batak karena banyak penulis Eropa pada masa kemudian juga mengaitkan masyarakat Batak dengan kanibalisme.

Tetapi hubungan seperti itu sangat berbahaya secara metodologis.

Cerita kanibalisme tersebar luas dalam literatur geografis dunia kuno dan abad pertengahan.

Kelompok yang tidak dikenal sering ditempatkan di pinggiran dunia dan diberikan gambaran:

  • liar,
  • telanjang,
  • pemakan manusia,
  • atau mempunyai kebiasaan aneh.

Karena itu:

Bālūs + cerita kanibalisme ≠ Batak.

Tidak ada sumber yang sedang diperiksa dalam Catatan #006 yang secara eksplisit menyebut masyarakat Bālūs sebagai:

Batak.


Apakah Cerita Kanibalisme Itu Benar?

Catatan #006 tidak mempunyai bukti yang cukup untuk menjawabnya.

Sumber memang mencatat cerita tersebut.

Maka ceritanya tidak boleh dihapus.

Namun formulasi kita harus:

TERCATAT DALAM SUMBER

bukan:

TERBUKTI SECARA HISTORIS.

Kami belum menemukan bukti autentik dalam penelusuran ini yang dapat memastikan siapa masyarakat yang dimaksud atau apakah praktik tersebut benar terjadi dalam bentuk yang digambarkan sumber Arab.


Kapur Barus sebagai Petunjuk yang Lebih Berguna

Daripada terlalu fokus kepada cerita sensasional, petunjuk yang lebih kuat justru:

kamper.

Pelliot menunjukkan hubungan erat antara bentuk nama Barus dan istilah kamper dalam sumber Asia.

Sumber Arab juga mengenal jenis kamper yang disebut berhubungan dengan Bālūs.

Pada masa berikutnya istilah kapur barus menjadi sangat luas dikenal.

Ini memperlihatkan bahwa nama geografis Barus/Bālūs kemungkinan mempunyai hubungan kuat dengan jaringan perdagangan komoditas aromatik.

Namun komoditas tersebut kembali membawa kita kepada pertanyaan lama:

siapa masyarakat pedalaman yang mengumpulkannya?


Barus Tidak Hidup Tanpa Pedalaman

Bukti arkeologi Lobu Tua memperlihatkan bandar kosmopolitan yang terhubung dengan:

India Selatan,

Timur Tengah,

Tiongkok,

dan berbagai jaringan Asia.

Situs tersebut aktif terutama sekitar akhir abad IX sampai awal abad XII.

Publikasi penelitian Barus yang disunting Claude Guillot menunjukkan betapa besarnya hubungan perdagangan internasional kawasan tersebut.

Tetapi kamper berasal dari pedalaman berhutan.

Artinya selalu ada dua dunia yang harus kita hubungkan:

pelabuhan

dan

kawasan produksi.

Pelabuhan meninggalkan lebih banyak benda asing.

Penduduk pedalaman jauh lebih sulit terlihat dalam bukti arkeologi pelabuhan.


Apakah Penduduk Pedalaman Itu Batak?

Ini adalah pertanyaan utama proyek kita.

Jawabannya untuk Catatan #006 tetap:

belum dapat dipastikan.

Kawasan yang kemudian dikenal sebagai tanah Batak mempunyai hubungan ekonomi yang sangat kuat dengan Barus pada periode sejarah yang lebih muda.

Sumber-sumber abad XVII dan sesudahnya akan memberikan bukti jauh lebih jelas tentang hubungan masyarakat Batak dengan Barus, kemenyan dan kamper.

Tetapi kita tidak boleh mengambil bukti abad XVII lalu memindahkannya ke abad IX.

Itu berarti melompati sekitar delapan abad sejarah.


Tradisi Batak Tetap Harus Dicatat

Penelitian terhadap Lobu Tua juga menyebut keberadaan kronik atau tradisi Batak yang menghubungkan kawasan Barus dengan masyarakat asing seperti India Selatan dan “Arab”.

Kajian terhadap Lobu Tua bahkan menilai kemungkinan adanya penduduk lokal Batak di kawasan Barus bersama masyarakat kosmopolitan lainnya.

Tetapi hal tersebut tetap harus ditempatkan dengan hati-hati.

Tradisi Batak yang dicatat berabad-abad kemudian tidak otomatis membuktikan identitas masyarakat Bālūs abad IX atau X.

Yang dapat kita katakan adalah:

tradisi tersebut menunjukkan bahwa Barus kemudian menjadi bagian penting dalam ingatan historis masyarakat Batak.

Pertanyaan mengenai seberapa tua hubungan itu masih terbuka.


Satu Bukti dari Masa yang Jauh Lebih Muda

Beberapa abad sesudah sumber Arab awal, kita menemukan kesaksian Portugis yang jauh lebih eksplisit.

Tomé Pires, dalam Suma Oriental pada awal abad XVI, menulis mengenai kerajaan Baros dan menyatakan bahwa Baros juga disebut Panchur/Fansur, serta bahwa keduanya merupakan satu kerajaan, bukan dua.

Kesaksian ini sangat penting karena menunjukkan bahwa pada awal abad XVI kedua nama dapat digunakan untuk kawasan yang sama.

Namun:

sumber abad XVI tidak otomatis membuktikan bahwa Fansur dan Bālūs juga menunjuk tempat yang sama pada abad IX.

Nama geografis dapat berubah selama tujuh abad.

Inilah mengapa McKinnon dan Nurdin masih dapat mempertanyakan identifikasi Fansur awal dengan Barus meskipun Pires kemudian menyamakan keduanya.


Apa yang Sekarang Dapat Kita Susun?

Untuk sementara, perkembangan nama dapat direkonstruksi sebagai berikut:

abad VI–VII Sumber Tiongkok mengenal bentuk seperti P'o-lü / P'o-lu / P'o-lu-shih, yang oleh sejumlah peneliti dihubungkan dengan Barus.

sekitar abad IX Sumber Arab mulai mengenal Fanṣūr/Fansur.

abad IX atau X Tradisi Arab mengenal Bālūs, tetapi tanggal kemunculan tepatnya masih perlu diperiksa berdasarkan transmisi manuskrip.

akhir abad IX–awal XII Arkeologi memperlihatkan aktivitas bandar internasional di Lobu Tua, kawasan Barus.

1088 M Prasasti Tamil memberikan jangkar kronologis kuat keberadaan komunitas pedagang India Selatan di Lobu Tua.

awal abad XVI Tomé Pires secara eksplisit menyamakan Baros dengan Panchur/Fansur.

Tetapi hubungan semua tahap tersebut masih memerlukan kehati-hatian.


Temuan yang Lebih Tua daripada Catatan #005

Catatan #005 membawa kita kepada sekitar 851 M.

Namun Catatan #006 sekarang membuka kemungkinan bahwa bentuk Tiongkok yang dihubungkan dengan Barus telah dikenal sejak:

abad VI–VII M.

Ini berarti penelitian kita kembali menemukan jejak yang lebih tua daripada catatan sebelumnya.

Apakah itu benar-benar Barus?

Sejumlah ahli mengatakan demikian.

Tetapi ada juga perdebatan mengenai cakupan wilayah yang dimaksud.

Karena itu temuan tersebut harus menjadi objek penelusuran tersendiri.

Nomor Catatan tidak perlu diubah.

Catatan #006 justru merekam saat ketika penelitian kita menyadari:

jejak yang mungkin berhubungan dengan Barus ternyata dapat ditarik beberapa abad lebih jauh ke belakang.


Status Bukti Catatan #006

TERVERIFIKASI — SUMBER ARAB

Nama Bālūs terdapat dalam tradisi geografi Arab dan dihubungkan dengan kamper serta hasil alam lainnya.

PERLU VERIFIKASI TEKSTUAL LANJUT

Tanggal paling awal kemunculan bentuk Bālūs masih memerlukan pemeriksaan lebih dalam.

Sebagian literatur menghubungkannya dengan Ibn Khurdādhbih abad IX, sementara Pelliot menempatkan bentuk tersebut mulai sekitar pertengahan abad X.

INTERPRETASI KUAT

Sejumlah ahli menghubungkan:

Bālūs → Barus.

Kemiripan nama dan hubungan dengan kamper mendukung interpretasi tersebut.

INTERPRETASI ALTERNATIF

O.W. Wolters berpendapat bahwa Bālūs mungkin menunjuk kawasan lebih luas di utara Sumatra, bukan semata-mata Kota Barus modern.

PERDEBATAN

Hubungan antara:

Fansur

dan

Bālūs

masih diperdebatkan.

Sebagian historiografi menghubungkan Fansur dengan Barus.

McKinnon dan Nurdin justru membedakan Fansur dan Bālūs dan menempatkan Fansur di sekitar Lhok Pancu.

TERCATAT SEBAGAI CERITA

Sumber Arab menyebut penduduk Bālūs sebagai kanibal.

Catatan tersebut disimpan sebagai bagian dari tradisi sumber.

Namun kebenaran historis cerita dan identitas masyarakat yang dimaksud belum dapat dipastikan.

BELUM TERVERIFIKASI

Belum ada bukti autentik yang memungkinkan Catatan #006 menyatakan bahwa masyarakat Bālūs pada abad IX–X adalah masyarakat Batak.

TEMUAN BARU

Sumber Tiongkok yang dihubungkan oleh sejumlah ahli dengan nama Barus mungkin membawa jejak tersebut kembali hingga abad VI–VII.

Hal ini perlu ditelusuri dalam Catatan berikutnya.


Kesimpulan Sementara

Bālūs merupakan salah satu nama paling penting dalam usaha memahami sejarah awal Barus.

Hubungannya dengan kamper dan kemiripan namanya memberikan alasan kuat bagi sejumlah peneliti untuk mengidentifikasinya dengan Barus.

Tetapi bukti tidak mengizinkan kita menyederhanakan persoalan.

Bālūs mungkin menunjuk:

Barus,

kawasan yang lebih luas di utara Sumatra,

atau suatu nama geografis yang cakupannya berubah selama berabad-abad.

Lebih penting lagi, sumber Bālūs belum memberikan bukti langsung tentang masyarakat Batak.

Maka Catatan #006 tidak menyimpulkan:

“Bālūs adalah negeri Batak.”

Yang dapat kita simpulkan adalah:

Bālūs merupakan kandidat kuat nama awal yang berhubungan dengan Barus dan jaringan perdagangan kamper di Sumatra, tetapi identifikasi geografis serta identitas masyarakatnya masih memerlukan bukti lebih lanjut.

Dan sekali lagi:

catat bukti, catat juga bantahannya.


Daftar Sumber dan Pustaka

  1. Ibn Khurdādhbih. Kitāb al-Masālik wa'l-Mamālik. Abad IX. Sumber geografis Arab-Persia yang dalam tradisi teksnya memuat berita mengenai Bālūs, Langabālūs, Kilah, kamper dan berbagai komoditas. Penanggalan tepat kemunculan bentuk Bālūs perlu diperiksa melalui sejarah manuskrip dan edisi teks.

  2. Tibbetts, G.R. A Study of the Arabic Texts Containing Material on South-East Asia. Oriental Translation Fund, New Series, Vol. 44. London: Royal Asiatic Society, 1979. Kajian komparatif utama mengenai geografer Arab dan teks navigasi yang memuat Bālūs, Fansur, Ramni/Lamuri, Langabālūs dan berbagai nama Asia Tenggara. Edisi cetak ulang tersedia melalui Brill.

  3. Pelliot, Paul. Kajian mengenai nama Barus, Fansur dan sumber-sumber Asia dalam catatan atas Marco Polo. Pelliot membahas bentuk Tiongkok P'o-lü/P'o-lu-shih, bentuk Arab Bālūs serta Fanṣūr, dan menghubungkan Bālūs dengan Barus.

  4. Drakard, Jane. “An Indian Ocean Port: Sources for the Earlier History of Barus.” Archipel, Vol. 37, 1989, pp. 53–82. DOI: 10.3406/arch.1989.2562. Kajian penting mengenai sumber awal Barus, P'o-lu, Bālūs, Fansur dan persoalan lokasi bandar kuno.

  5. Wolters, O.W. Early Indonesian Commerce: A Study of the Origins of Srivijaya. Ithaca: Cornell University Press, 1967. Digunakan dalam perdebatan mengenai identifikasi P'o-lu/Bālūs dan cakupan geografis nama tersebut di bagian utara Sumatra.

  6. Guillot, Claude (ed.). Histoire de Barus, Sumatra: Le Site de Lobu Tua I — Études et Documents. Paris: École des Hautes Études en Sciences Sociales, 1998. 281 hlm. ISBN 2-910513-27-0. Memuat penelitian sejarah, epigrafi, keramik dan perdagangan Lobu Tua.

  7. Guillot, Claude (ed.). Histoire de Barus, Sumatra: Le Site de Lobu Tua II — Étude archéologique et Documents. Paris: École des Hautes Études en Sciences Sociales, 2003. 339 hlm. ISBN 2-910513-40-8.

  8. Guillot, Claude (ed.). Lobu Tua, Sejarah Awal Barus. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia / École française d'Extrême-Orient, 2002. 281 hlm. ISBN 979-461-392-4. Edisi Indonesia dari penelitian Lobu Tua.

  9. Stéphan, N. “Le camphre dans les sources arabes et persanes.” Dalam Claude Guillot (ed.), Histoire de Barus, Sumatra: Le Site de Lobu Tua I. Kajian khusus mengenai kamper dalam tradisi Arab-Persia; tercantum dalam daftar isi resmi volume tersebut.

  10. McKinnon, Edmund Edwards & Nurdin A.R. “Fansur sebagai Kota Tua Islam.” Indonesian Journal of Islamic History and Culture, Vol. 1, No. 1, 2020, pp. 21–31. DOI: 10.22373/ijihc.v1i1.502. Mengajukan lokasi Fansur di Lhok Pancu dan mempertanyakan penyamaan Fansur dengan Barus.

  11. McKinnon, Edmund Edwards & Nurdin A.R. “Mediaeval Fansur: A Long-Lost Harbor in Aceh.” Kajian yang menegaskan bahwa sumber Arab menyebut Fansur dan Bālūs sebagai lokasi berbeda serta mengajukan Lhok Pancu sebagai kandidat Fansur.

  12. Sumber Tiongkok abad VI–IX, termasuk tradisi Liang shu, catatan I-ching, Hsin T'ang shu, dan Yu-yang tsa-tsu, sebagaimana dibahas oleh Pelliot. Bentuk P'o-lü, P'o-lu-shih dan istilah yang berhubungan dengan kapur barus akan ditelusuri secara khusus dalam Catatan berikutnya.


Catatan Metodologis

Dalam Catatan #006, beberapa kesimpulan sengaja ditahan.

Kami belum memeriksa secara langsung seluruh manuskrip Arab asli yang memuat Bālūs dan seluruh varian bacaannya.

Karena itu:

  • tanggal paling awal Bālūs tidak dipaksakan;
  • Bālūs tidak langsung disamakan dengan Kota Barus modern;
  • Fansur tidak otomatis dianggap nama lain dari Bālūs untuk seluruh periode;
  • cerita kanibalisme tidak digunakan sebagai bukti identitas Batak;
  • dan hubungan Barus dengan masyarakat Batak tidak diproyeksikan mundur tanpa bukti sezaman.

Jika pemeriksaan sumber primer kemudian menghasilkan pembacaan yang berbeda, temuan tersebut akan dicatat dalam Catatan berikutnya.


Jejak yang Akan Kita Kejar Berikutnya

Catatan #006 membawa penelitian kepada sesuatu yang mungkin jauh lebih tua:

P'o-lü / P'o-lu / P'o-lu-shih dalam sumber Tiongkok abad VI–VII.

Jika identifikasi para ahli dengan Barus benar, maka kita tidak lagi berada pada tahun 851.

Kita dapat kembali menuju periode sekitar abad VI Masehi.

Tetapi pertanyaannya tetap sama:

Apa sebenarnya yang tertulis dalam sumber Tiongkok tersebut?

Apakah yang dimaksud benar-benar Barus?

Apakah nama tersebut menunjuk kota, kawasan, atau hanya komoditas kamper?

Dan yang paling penting bagi Jejak Sejarah Batak:

apakah ada sesuatu dalam sumber-sumber tersebut yang benar-benar dapat membawa kita kepada masyarakat pedalaman Sumatra?

Itulah jejak berikutnya.


JEJAK SEJARAH BATAK Catatan #006

Penelusuran berbasis teknologi · Dicatat oleh Armando Sinaga

Jejak Sejarah Batak — Catatan #006: Bālūs dalam Sumber Arab, Benarkah Nama Kuno Barus? | PUSTAHA