PUSTAHA CATATAN
Jejak Sejarah Batak — Catatan #005: Fansur dan Ramni dalam Sumber Arab, Menelusuri Sumatra hingga Abad IX
Penelusuran terhadap Fansur membawa Jejak Sejarah Batak semakin jauh ke masa lampau. Sumber-sumber geografis dan pelayaran Arab telah mengenal berbagai nama di Sumatra sejak sekitar abad IX, termasuk Fansur dan nama yang ditransliterasikan sebagai Ramni/Rāmnī. Catatan #005 menelusuri siapa penulis yang mencatat nama-nama tersebut, apa yang sebenarnya mereka ketahui tentang pulau dan penduduknya, cerita mengenai masyarakat pedalaman yang ikut beredar, serta bagaimana penelitian modern mencoba menentukan lokasinya. Hubungannya dengan Batak tetap dicatat sebagai persoalan terbuka apabila belum ditemukan bukti autentik yang dapat memastikan identitas masyarakat yang dimaksud.
Dipublikasikan 2 September 2026

JEJAK SEJARAH BATAK
Catatan #005 — Fansur dan Ramni dalam Sumber Arab, Menelusuri Sumatra hingga Abad IX
Penelusuran berbasis teknologi AI · Dicatat oleh Armando Sinaga
Penelusuran Kembali Mundur Beberapa Abad
Catatan #004 membawa Jejak Sejarah Batak kepada bandar kuno Lobu Tua dan jaringan perdagangan internasional yang berkembang di kawasan pantai barat Sumatra sekitar abad IX–XI.
Namun satu pertanyaan belum terjawab:
Seberapa tua sebenarnya berita tertulis mengenai kawasan ini?
Penelusuran kemudian membawa kita kepada sumber-sumber berbahasa Arab.
Dan ternyata perjalanan harus kembali mundur.
Bukan ke abad XIII.
Bukan ke abad XI.
Melainkan setidaknya menuju abad IX Masehi.
Dalam dunia pelayaran Arab-Persia muncul nama-nama seperti:
Rāmnī / Ramni
dan
Fanṣūr / Fansur.
Nama-nama tersebut kelak menjadi sangat penting dalam usaha para sejarawan merekonstruksi geografi Sumatra sebelum tersedianya peta modern.
Namun sejak awal kita harus memberikan peringatan:
Ramni belum boleh otomatis disebut Batak.
Fansur juga belum boleh otomatis disebut Barus tanpa membahas perdebatan identifikasinya.
Dan masyarakat yang diceritakan sumber-sumber tersebut belum boleh otomatis disebut sebagai orang Batak.
Kita harus mengikuti sumbernya terlebih dahulu.
Tahun 851: Akhbār al-Ṣīn wa'l-Hind
Salah satu sumber Arab terpenting berasal dari pertengahan abad IX.
Karya tersebut dikenal dengan judul:
Akhbār al-Ṣīn wa'l-Hind
yang kurang lebih berarti:
Catatan/Kabar mengenai Tiongkok dan India.
Bagian awal tradisi teks tersebut lazim dihubungkan dengan informasi seorang pedagang bernama Sulayman.
Tahun 851 M sering digunakan dalam penelitian untuk menempatkan bagian awal sumber ini.
Sumber tersebut sangat penting karena berisi informasi dunia pelayaran Samudra Hindia menuju Asia Timur.
Kita sekarang berada sekitar empat setengah abad sebelum Marco Polo berada di Sumatra pada 1292.
Ramni
Dalam perjalanan menuju Serendib atau Sri Lanka, sumber Arab tersebut membicarakan sebuah wilayah yang disebut:
Ramni.
Variasi penulisannya kemudian muncul sebagai:
Rami
Ramni
Rāmnī
dan dalam penelitian kemudian sering dihubungkan dengan:
Lamuri/Lambri.
Sumber tersebut menggambarkan kawasan ini sebagai wilayah yang mempunyai beberapa penguasa atau raja.
Disebut pula adanya:
emas,
gajah,
kayu sepang,
bambu,
dan hasil alam lainnya.
Dalam tradisi sumber yang sama terdapat pula pembicaraan mengenai kamper.
Informasi ini memperlihatkan bahwa pada abad IX, para pelaut dan pedagang dari dunia Arab-Persia telah mempunyai pengetahuan mengenai wilayah-wilayah tertentu di bagian barat Asia Tenggara.
Di Antara Ramni dan Fansur
Dalam tradisi berita Arab tersebut muncul pula nama:
Fansur.
Fansur terkenal berkaitan dengan kamper bermutu tinggi.
Dalam banyak penelitian kemudian, nama Fansur dihubungkan dengan Barus di pantai barat Sumatra.
Hubungan tersebut menjadi begitu kuat sehingga istilah:
kamper Fansuri
sering ditempatkan dalam hubungan dengan kapur barus.
Penelitian arkeologi Indonesia juga telah lama menggunakan sumber Arab tersebut ketika membahas sejarah kapur barus.
Salah satu publikasi Balai Arkeologi Medan menyebut Akhbār al-Ṣīn wa'l-Hind tahun 851 sebagai salah satu berita Arab awal mengenai Fansur sebagai penghasil kamper berkualitas tinggi.
Tetapi identifikasi geografis tersebut ternyata tidak sesederhana yang dahulu diperkirakan.
Ibn Khurdādhbih
Pada abad IX kita juga menemukan nama penting lainnya:
Ibn Khurdādhbih.
Ia merupakan seorang ahli geografi dan pejabat pada dunia Abbasiyah.
Karyanya yang terkenal adalah:
Kitāb al-Masālik wa'l-Mamālik
atau:
Kitab Jalan-jalan dan Kerajaan-kerajaan.
Dalam tradisi informasi geografis yang dikaitkan dengannya terdapat keterangan mengenai sebuah pulau bernama Ram(n)i.
Kawasan tersebut digambarkan mempunyai:
badak,
bambu,
kayu sepang,
serta pohon kamper yang tinggi.
Sekali lagi kita menemukan kombinasi:
pulau/wilayah + hasil hutan + kamper.
Tetapi tidak terdapat kata Batak di dalam berita tersebut.
Apa Hubungan Ramni dengan Lamuri?
Para peneliti kemudian mencoba menentukan lokasi Ramni.
Salah satu identifikasi yang banyak digunakan adalah:
Ramni → Lamuri.
Lamuri dikenal dari berbagai sumber lain sebagai sebuah wilayah di ujung utara Sumatra.
Nama tersebut kemudian muncul dalam berbagai bentuk dalam sumber asing.
Marco Polo pada akhir abad XIII, misalnya, mengenal nama:
Lambri.
Tetapi hubungan Ramni dengan Lamuri tetap merupakan hasil rekonstruksi geografis dan linguistik.
Kita tidak boleh memperlakukan perubahan:
Ramni → Lamuri → Lambri
seolah-olah ketiganya tertulis dengan bentuk sama dalam sumber aslinya.
Abu Zayd al-Sirafi
Sekitar awal abad X, tradisi Akhbār al-Ṣīn wa'l-Hind mendapatkan tambahan penting dari:
Abu Zayd al-Hasan al-Sirafi.
Ia mengumpulkan dan menyampaikan berbagai informasi mengenai India, Tiongkok dan kawasan di antaranya berdasarkan jaringan pengetahuan para pelaut dan pedagang.
Dalam tradisi tersebut Ramni kembali muncul.
Ramni digambarkan sebagai kawasan yang luas dan kaya akan berbagai hasil alam.
Di antaranya disebut:
kayu sepang
dan
kamper.
Ini menunjukkan bahwa informasi mengenai kawasan tersebut tidak hanya muncul sekali.
Pengetahuan tentangnya terus beredar di dunia pelayaran Samudra Hindia.
Ibn Rusta
Sekitar akhir abad IX atau awal abad X, ahli geografi:
Ibn Rusta
juga memberikan informasi mengenai kawasan Asia Tenggara.
Dalam pembahasan mengenai negeri Maharaja, muncul nama:
Fansur.
Salah satu informasi yang menarik bukan hanya mengenai komoditas.
Terdapat pula cerita mengenai sebuah bentuk pengadilan dengan besi panas.
Dalam cerita tersebut, seseorang yang dituduh melakukan pelanggaran menjalani ujian menggunakan besi panas untuk menentukan kesalahannya.
Apakah praktik tersebut benar-benar berlangsung?
Kita belum dapat memastikannya hanya berdasarkan berita ini.
Tetapi sesuai prinsip Jejak Sejarah Batak:
ceritanya tetap kita catat.
Statusnya adalah:
tercatat dalam sumber — kebenaran praktiknya membutuhkan bukti tambahan.
Ibn al-Faqih
Sekitar 903 M, ahli geografi:
Ibn al-Faqih
juga menyebut Fansur.
Dalam tradisi teksnya, Fansur dikaitkan dengan kawasan Zābaj, istilah yang digunakan sumber Arab untuk suatu kekuasaan besar di Asia Tenggara.
Ia menghubungkan kawasan tersebut dengan berbagai komoditas seperti:
cengkih,
cendana,
kamper,
dan pala.
Fansur kembali muncul dalam jaringan komoditas Asia.
Sekarang kita mempunyai beberapa lapisan berita yang saling berdekatan waktunya.
Al-Mas'udi
Pada abad X muncul seorang penulis besar dunia Islam:
Abu al-Hasan al-Mas'udi.
Ia menulis karya terkenal:
Murūj al-Dhahab wa Ma'ādin al-Jawhar
atau Meadows of Gold and Mines of Gems.
Dalam tradisi geografis yang dikaitkan dengannya, sebuah kawasan bernama:
Rāmin/Ramni
digambarkan mempunyai penduduk yang cukup banyak dan diperintah oleh para raja.
Daerah tersebut juga dihubungkan dengan tambang emas.
Yang sangat menarik:
Fansur disebut berada dekat dengan Ramni.
Fansur kembali dikaitkan dengan kamper yang terkenal.
Dengan demikian pada sekitar abad X, dalam tradisi pengetahuan Arab terdapat gambaran mengenai:
Ramni
dan
Fansur
sebagai dua nama yang mempunyai hubungan geografis cukup dekat.
Cerita Gempa, Badai dan Kamper
Sumber-sumber lama juga memuat sebuah cerita menarik.
Produksi kamper Fansuri dikatakan meningkat pada tahun-tahun ketika terjadi:
badai,
petir,
dan
gempa bumi.
Apakah terdapat hubungan ilmiah antara gempa bumi dengan produksi kamper?
Catatan #005 tidak mempunyai bukti yang memungkinkan kita memastikan hubungan tersebut.
Tetapi ceritanya penting.
Karena itu kita mencatat:
Cerita tersebut terdapat dalam tradisi sumber Arab.
Namun:
kami belum menemukan bukti autentik yang membuktikan hubungan sebab-akibat antara gempa bumi dan banyaknya produksi kamper.
Dengan demikian cerita tetap tersimpan tanpa diubah menjadi fakta ilmiah.
Cerita tentang Kanibalisme
Ada bagian lain yang lebih sensitif.
Dalam beberapa tradisi sumber Arab mengenai Ramni dan wilayah sekitar Sumatra terdapat cerita mengenai:
pemakan manusia.
Cerita mengenai kanibalisme di Sumatra ternyata jauh lebih tua daripada Marco Polo.
Ini penting karena Catatan #003 telah menemukan bahwa Marco Polo pada 1292 juga mencatat cerita mengenai masyarakat tertentu di Sumatra yang melakukan praktik tersebut.
Sekarang kita mengetahui bahwa Marco Polo bukan sumber awal cerita semacam itu.
Cerita serupa telah beredar dalam jaringan pengetahuan Arab-Persia beberapa abad sebelumnya.
Tetapi sekali lagi:
keberadaan cerita tidak membuktikan bahwa seluruh penduduk Ramni melakukan kanibalisme.
Lebih jauh lagi:
tidak ada dasar dalam sumber ini untuk langsung menyebut masyarakat yang dimaksud sebagai Batak.
Dari Mana Cerita Itu Berasal?
Kita tidak mengetahui dengan pasti.
Informasi dapat berasal dari:
pelaut,
pedagang,
penerjemah,
penduduk pesisir,
cerita mengenai kelompok pedalaman,
atau pengulangan informasi dari sumber yang lebih tua.
Cerita tentang masyarakat asing juga sering berubah ketika berpindah dari satu bahasa dan kebudayaan kepada kebudayaan lainnya.
Karena itu kita harus membedakan:
sumber mencatat cerita tentang kanibalisme
dengan:
kanibalisme tersebut telah terbukti secara arkeologis dan masyarakat pelakunya telah berhasil diidentifikasi.
Untuk bagian kedua, Catatan #005 belum mempunyai bukti autentik yang cukup.
Fansur = Barus?
Sampai titik ini pembaca mungkin menganggap jawabannya sudah jelas:
Fansur adalah Barus.
Memang demikianlah identifikasi yang sangat luas digunakan dalam historiografi.
Hubungan Fansur dengan kamper dan hubungan Barus dengan kapur barus menjadi salah satu alasan utama identifikasi tersebut.
Penelitian Barus oleh Claude Guillot dan berbagai peneliti lainnya juga memperkuat pentingnya kawasan Barus dalam jaringan perdagangan internasional.
Arkeologi Lobu Tua yang dibahas dalam Catatan #004 menunjukkan aktivitas internasional di kawasan Barus sejak sekitar abad IX.
Dengan demikian terdapat kesesuaian kronologis yang sangat menarik:
sumber Arab berbicara tentang perdagangan kawasan ini pada abad IX,
sementara
arkeologi menunjukkan aktivitas internasional di Barus sekitar periode tersebut.
Tetapi penelitian ilmiah tidak berhenti di sini.
Muncul Bantahan: Fansur Mungkin Bukan Barus
Penelitian Edmund Edwards McKinnon dan Nurdin A.R. mengajukan sebuah interpretasi berbeda.
Mereka mempertanyakan identifikasi Fansur dengan Barus.
Menurut argumentasi mereka, sumber-sumber Arab menyebut:
Fansur
dan
Bālūs
sebagai dua tempat yang berbeda.
Jika Bālūs merupakan Barus, maka menurut argumentasi tersebut:
Fansur tidak mungkin sekaligus Barus.
Mereka kemudian mengajukan lokasi alternatif untuk Fansur:
kawasan Lhok Pancu di bagian utara Sumatra, dekat ujung barat laut pulau tersebut.
Dalam geografi modern, kawasan yang mereka maksud berada di sekitar Aceh Besar.
Ini merupakan perdebatan yang sangat penting.
Mengapa Lhok Pancu?
McKinnon dan Nurdin mengajukan beberapa alasan.
Pertama, sumber Arab dianggap menempatkan Fansur dekat dengan Ramni/Lamri.
Kedua, lokasi Lamri/Lamuri secara umum ditempatkan di kawasan bagian utara Sumatra.
Ketiga, mereka memperhatikan nama:
Pancu.
Mereka menghubungkannya dengan bentuk Fansur/Pancur, yang berkaitan dengan sumber air.
Keempat, Lhok Pancu mempunyai posisi strategis pada jalur pelayaran kuno antara Samudra Hindia dan kawasan Selat Melaka.
Dari kombinasi bukti tekstual, linguistik dan geografis tersebut mereka mengusulkan bahwa Fansur abad pertengahan mungkin harus dicari di kawasan Pancu, bukan Barus.
Maka Apa yang Harus Kita Percaya?
Untuk Jejak Sejarah Batak, jawabannya sederhana:
kita tidak harus memilih sebelum bukti memungkinkan kita memilih.
Kita catat keduanya.
INTERPRETASI A
Fansur = Barus
Didukung oleh tradisi historiografi yang panjang, hubungan kuat kedua nama dengan kamper, dan pentingnya bukti arkeologi perdagangan internasional di kawasan Barus.
INTERPRETASI B
Fansur ≠ Barus
McKinnon dan Nurdin menunjukkan bahwa beberapa sumber Arab tampaknya membedakan Fansur dari Bālūs dan mengajukan kawasan Lhok Pancu sebagai alternatif lokasi Fansur.
Dengan demikian identifikasi Fansur tetap merupakan persoalan penelitian.
Mengapa Perdebatan Ini Sangat Penting bagi Sejarah Batak?
Jika Fansur adalah Barus, maka sumber Arab abad IX membawa kita sangat dekat dengan wilayah yang pada masa kemudian mempunyai hubungan ekonomi dan geografis kuat dengan masyarakat Batak.
Jika Fansur ternyata berada di Aceh Besar, hubungan tersebut menjadi berbeda.
Inilah alasan mengapa satu perubahan identifikasi geografis dapat mengubah seluruh rekonstruksi sejarah.
Kita tidak boleh memilih Barus hanya karena pilihan tersebut lebih menarik bagi penelitian Batak.
Bukti harus menentukan arah penelitian.
Lalu Bagaimana dengan Bālūs?
Nama Bālūs/Balus menjadi sangat penting.
Jika memang sumber Arab membedakan Bālūs dari Fansur, maka kita harus bertanya:
apakah Bālūs justru merupakan Barus?
Pertanyaan ini belum selesai dalam Catatan #005.
Tetapi sekarang kita mempunyai jalur penelitian baru.
Bukan hanya:
Fansur → Barus
melainkan:
Fansur ?
dan
Bālūs ?
Kedua nama tersebut harus ditelusuri secara terpisah.
Apakah Ada Orang Batak dalam Catatan Ini?
Sampai titik ini:
belum ada nama Batak yang dapat kita tunjuk secara autentik dalam sumber Arab abad IX–X yang sedang dibahas.
Yang kita temukan adalah:
Ramni,
Fansur,
Bālūs,
hasil hutan,
emas,
kamper,
pelabuhan,
para raja,
masyarakat lokal,
dan cerita mengenai masyarakat tertentu.
Hubungan semua itu dengan sejarah Batak masih harus dibangun melalui bukti lain.
Tetapi Ada Sebuah Mata Rantai Ekonomi
Walaupun identitas masyarakat belum diketahui, ada sesuatu yang tidak boleh diabaikan:
kamper berasal dari pedalaman.
Sumber-sumber Arab menunjukkan adanya permintaan internasional.
Pelabuhan menghubungkan produk tersebut dengan jaringan perdagangan.
Artinya terdapat masyarakat lokal yang mengetahui kawasan penghasil kamper dan terlibat, secara langsung atau melalui perantara, dalam rantai perdagangan tersebut.
Siapa mereka?
Pada abad XVII–XIX terdapat sumber yang jauh lebih jelas mengenai keterlibatan masyarakat Batak pedalaman dalam pengumpulan kamper dan kemenyan untuk perdagangan Barus.
Tetapi kita tidak boleh memproyeksikan keadaan abad XVII kembali ke abad IX tanpa bukti.
Jarak waktunya sekitar delapan abad.
Karena itu hubungan tersebut adalah:
pertanyaan penelitian, bukan kesimpulan.
Sekali Lagi: Kita Menemukan Catatan yang Lebih Tua
Catatan #001 dimulai pada awal abad XIII.
Catatan #005 sekarang membawa penelusuran kepada sekitar:
851 M.
Artinya kita telah mundur hampir empat abad dari kandidat awal penelitian.
Nomor catatan tetap #005 karena nomor tersebut merekam perjalanan penelusuran kita.
Kelak dalam Catatan Akhir, seluruh bukti akan disusun berdasarkan kronologi sejarah sebenarnya.
Status Bukti Catatan #005
TERVERIFIKASI SEBAGAI SUMBER
Tradisi teks Arab abad IX–X memuat nama seperti Ramni dan Fansur serta informasi mengenai hasil alam dan jaringan perdagangan kawasan Asia Tenggara.
TERVERIFIKASI DALAM HISTORIOGRAFI
Akhbār al-Ṣīn wa'l-Hind bertanggal sekitar 851 merupakan salah satu sumber Arab awal yang digunakan para peneliti untuk membahas Ramni dan Fansur.
TERCATAT
Sumber Arab menggambarkan kawasan tersebut sebagai penghasil emas, kamper, kayu sepang dan berbagai hasil alam lainnya.
TERCATAT SEBAGAI CERITA
Terdapat cerita mengenai kanibalisme, kebiasaan masyarakat, serta hubungan antara badai/gempa dan produksi kamper.
Cerita tersebut tetap dicatat.
Namun kami belum menemukan bukti autentik yang dapat memastikan seluruh cerita tersebut benar-benar terjadi sebagaimana diceritakan.
INTERPRETASI UTAMA
Ramni sering dihubungkan dengan Lamuri/Lambri.
Fansur secara luas dihubungkan dengan Barus.
INTERPRETASI ALTERNATIF
McKinnon dan Nurdin mempertanyakan Fansur = Barus dan mengajukan kawasan Lhok Pancu sebagai lokasi alternatif berdasarkan pembacaan sumber Arab, geografi dan toponimi.
BELUM TERVERIFIKASI
Belum ditemukan bukti autentik dalam Catatan #005 yang dapat memastikan bahwa masyarakat Ramni, Fansur atau Bālūs pada abad IX–X merupakan masyarakat yang pada saat itu telah dikenal sebagai Batak.
KESIMPULAN SEMENTARA
Sumber Arab abad IX membawa pengetahuan tertulis mengenai kawasan Sumatra dan perdagangan hasil alam jauh lebih tua daripada Pa-t'a, Ma-da maupun Marco Polo.
Namun hubungan sumber-sumber tersebut dengan sejarah Batak masih berada pada tingkat konteks geografis, ekonomi dan kemungkinan hubungan masyarakat pedalaman, bukan identifikasi etnis yang telah terbukti.
Daftar Sumber dan Pustaka
-
Akhbār al-Ṣīn wa'l-Hind (Kabar/Catatan mengenai Tiongkok dan India). Tradisi teks Arab, bagian awal bertanggal sekitar 851 M, berkaitan dengan informasi pedagang Sulayman. Sumber awal mengenai jaringan pelayaran Samudra Hindia, Ramni dan Fansur.
-
Abu Zayd al-Hasan al-Sirafi. Tambahan dan penyusunan tradisi Akhbār al-Ṣīn wa'l-Hind, awal abad X. Memuat berbagai berita pelaut dan pedagang mengenai India, Tiongkok dan Asia Tenggara.
-
Ibn Khurdādhbih. Kitāb al-Masālik wa'l-Mamālik. Abad IX. Sumber geografis Arab-Persia penting mengenai jalur perdagangan dan negeri-negeri Asia.
-
Ibn Rusta. Kitāb al-A'lāq al-Nafīsa. Akhir abad IX–awal abad X. Memuat informasi geografis mengenai dunia Asia dan berita yang dikaitkan dengan Fansur.
-
Ibn al-Faqih. Kitāb al-Buldān. Sekitar awal abad X. Menyebut Fansur dalam hubungan dengan Zābaj dan perdagangan komoditas.
-
al-Mas'udi. Murūj al-Dhahab wa Ma'ādin al-Jawhar. Abad X. Memuat informasi geografis mengenai kawasan Samudra Hindia, Ramni dan Fansur.
-
Tibbetts, G.R. A Study of the Arabic Texts Containing Material on South-East Asia. Leiden: E.J. Brill, 1979. Kajian penting yang membandingkan sumber-sumber Arab mengenai Asia Tenggara dan digunakan untuk menelusuri perubahan nama geografis serta informasi perdagangan.
-
Balai Arkeologi Medan. “Kapur Barus: Pohon dan Sumber Tertulis Asing.” Dalam publikasi arkeologi mengenai sumber Arab dan Tiongkok tentang kapur barus. Digunakan untuk membandingkan Akhbār al-Ṣīn wa'l-Hind, Fansur dan tradisi sumber lainnya.
-
Guillot, Claude (ed.). Histoire de Barus, Sumatra: Le Site de Lobu Tua I — Études et Documents. Paris: École des Hautes Études en Sciences Sociales, 1998. Digunakan bersama temuan Catatan #004 untuk membandingkan sumber tertulis dengan bukti arkeologi kawasan Barus.
-
McKinnon, Edmund Edwards & Nurdin A.R. “Mediaeval Fansur: A Long-Lost Harbor in Aceh.” Kajian yang mengajukan lokasi alternatif Fansur di kawasan Lhok Pancu dan mempertanyakan penyamaan Fansur dengan Barus.
Catatan Metodologis
Catatan #005 menunjukkan mengapa identifikasi nama kuno harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Kemiripan nama tidak merupakan bukti tunggal.
Kesesuaian komoditas juga tidak selalu cukup.
Lokasi harus dibandingkan menggunakan:
sumber sezaman,
linguistik historis,
arkeologi,
geografi pelayaran,
dan
sumber dari kebudayaan lain.
Apabila terdapat perbedaan pendapat, semua pendapat yang mempunyai sumber layak harus dicatat.
Catatan untuk Penelusuran Selanjutnya
Penelitian sekarang mempunyai pertanyaan baru yang sangat penting:
Jika Fansur dan Bālūs memang dua tempat berbeda, di manakah Bālūs sebenarnya?
Dan yang lebih penting bagi Jejak Sejarah Batak:
apakah salah satu dari nama kuno tersebut membawa kita lebih dekat kepada masyarakat pedalaman yang kemudian dikenal sebagai Batak?
Kita belum mengetahui jawabannya.
Tetapi sekarang kita tahu ke mana harus mencari.
JEJAK SEJARAH BATAK
Catatan #005
Penelusuran berbasis teknologi · Dicatat oleh Armando Sinaga
