PUSTAHA CATATAN
Jejak Sejarah Batak — Catatan #004: Fansur dalam Catatan Arab-Persia, Jejak Sumatra Sebelum Abad XIII
Jauh sebelum Marco Polo tiba di Sumatra pada 1292 dan sebelum nama Pa-t’a dicatat dalam sumber Tiongkok abad XIII, para penulis Arab-Persia telah mengenal Fansur, sebuah nama yang kemudian kuat dikaitkan dengan kawasan Barus dan perdagangan kapur barus di pantai barat Sumatra. Catatan #004 membawa penelusuran mundur beberapa abad untuk memeriksa siapa yang pertama kali mencatat Fansur, apa yang sebenarnya mereka tuliskan, bagaimana para peneliti mengidentifikasi lokasinya, serta apakah terdapat bukti autentik yang menghubungkan masyarakat di balik jaringan perdagangan Fansur dengan leluhur Batak—atau hubungan tersebut baru merupakan rekonstruksi berdasarkan penelitian kemudian.
Dipublikasikan 2 September 2026

JEJAK SEJARAH BATAK
Catatan #004 — Fansur dalam Catatan Arab-Persia, Jejak Sumatra Sebelum Abad XIII
Penelusuran berbasis teknologi AI · Dicatat oleh Armando Sinaga
Penelusuran Ternyata Harus Mundur
Catatan #001 membawa kita kepada Pa-t’a pada awal abad XIII.
Catatan #002 mencatat Ma-da pada tahun 1285.
Catatan #003 membawa kita kepada Marco Polo yang berada di Sumatra sekitar tahun 1292.
Tetapi justru dari penelusuran terhadap Marco Polo muncul sebuah nama yang memaksa penelitian ini kembali beberapa abad ke belakang:
Fansur.
Marco Polo bukan orang pertama yang mengenal nama tersebut.
Jauh sebelum perjalanannya, nama yang ditransliterasikan sebagai Fansur, Fansūr, Pansur, atau bentuk lain yang berdekatan telah muncul dalam tradisi sumber asing mengenai perdagangan Asia.
Nama ini sangat penting karena dalam penelitian modern Fansur mempunyai hubungan kuat dengan kawasan yang kemudian dikenal sebagai Barus, sebuah kawasan pelabuhan di pantai barat Sumatra.
Dan di sinilah Jejak Sejarah Batak menemukan sesuatu yang berbeda.
Kita tidak lagi hanya berhadapan dengan sebuah nama dalam manuskrip.
Kita juga mempunyai bukti arkeologi.
Fansur dan Kapur Barus
Selama berabad-abad, kawasan ini terkenal karena sebuah komoditas yang sangat berharga:
kamper atau kapur barus.
Kamper merupakan bahan aromatik yang memiliki nilai tinggi dalam jaringan perdagangan Asia dan Timur Tengah.
Nama “barus” sendiri kemudian begitu erat dengan produk tersebut sehingga dalam berbagai bahasa muncul istilah yang berkaitan dengan kapur barus/camphor.
Sumber-sumber Arab dan Persia mengenal produk kamper dari kawasan Asia Tenggara, dan nama Fansur menjadi salah satu nama penting dalam pembicaraan mengenai komoditas tersebut.
Namun kita harus membedakan dua persoalan:
perdagangan kamper dari Fansur
dan
identitas masyarakat yang menghasilkan kamper tersebut.
Mengetahui tempat asal sebuah barang tidak otomatis memberitahu kita identitas etnis masyarakat yang mengambilnya dari hutan.
Dunia Abad IX Bukan Dunia Indonesia Modern
Ketika sumber-sumber awal tersebut membicarakan Fansur, belum terdapat negara Republik Indonesia.
Belum terdapat Provinsi Sumatera Utara.
Belum terdapat Kabupaten Tapanuli Tengah.
Bahkan batas-batas politik kawasan Sumatra pada masa itu tidak dapat dipaksakan mengikuti peta administratif sekarang.
Karena itu Catatan ini menggunakan istilah modern seperti “pantai barat Sumatra” atau “Barus” hanya untuk membantu orientasi pembaca.
Untuk memahami Fansur pada zamannya, kita harus membayangkan sebuah dunia yang dihubungkan oleh laut.
Pedagang bergerak antara Teluk Persia, India, Sri Lanka, Asia Tenggara dan Tiongkok.
Kapal membawa keramik, kaca, logam, tekstil, rempah-rempah, getah aromatik dan berbagai komoditas lainnya.
Di salah satu jaringan tersebut terdapat kawasan penghasil kamper yang dikenal dunia luar.
Jejak Arab-Persia
Sumber Arab-Persia merupakan salah satu alasan kita harus memundurkan penelusuran jauh sebelum Marco Polo.
Kajian G.R. Tibbetts mengenai teks-teks Arab yang mengandung informasi tentang Asia Tenggara mengumpulkan berbagai berita geografis dan perdagangan dari penulis Muslim abad pertengahan.
Dalam tradisi sumber tersebut muncul nama-nama tempat dan produk Sumatra yang berhubungan dengan perdagangan internasional.
Fansur kemudian dikenal sebagai salah satu nama yang terkait dengan kamper berkualitas tinggi.
Akan tetapi sumber-sumber tersebut memiliki persoalan yang sama dengan banyak sumber geografis kuno.
Para penulis tidak selalu mengunjungi sendiri semua tempat yang mereka gambarkan.
Informasi dapat berpindah dari:
pelaut,
pedagang,
nahkoda,
penguasa pelabuhan,
penulis geografi,
dan penyalin naskah.
Karena itu setiap berita harus diperiksa berdasarkan umur manuskrip, sumber informasi, bentuk nama, dan kesesuaiannya dengan bukti lain.
Dari Cerita Menuju Tanah: Lobu Tua
Di sinilah Fansur menjadi jauh lebih menarik daripada sekadar sebuah nama.
Di kawasan Barus terdapat situs arkeologi penting bernama:
Lobu Tua.
Penggalian arkeologi Indonesia-Prancis yang kemudian diterbitkan di bawah penyuntingan Claude Guillot menghasilkan bukti adanya sebuah permukiman perdagangan kuno.
Analisis material, terutama keramik impor, menunjukkan aktivitas di Lobu Tua sejak sekitar pertengahan atau bagian akhir abad IX hingga sekitar akhir abad XI atau awal abad XII.
Artinya, sekitar 300–400 tahun sebelum Marco Polo, telah terdapat komunitas perdagangan internasional di kawasan tersebut.
Ini bukan mitos.
Ini bukan hanya cerita yang disalin dari seorang pengelana.
Benda-bendanya ditemukan di tanah.
Apa yang Ditemukan?
Penggalian Lobu Tua menghasilkan berbagai jenis material.
Di antaranya terdapat:
- keramik Tiongkok;
- pecahan kaca;
- keramik dari jaringan perdagangan Timur Tengah;
- benda-benda yang menunjukkan hubungan dengan India Selatan;
- serta berbagai material lain yang menunjukkan keterlibatan kawasan tersebut dalam perdagangan jarak jauh.
Kajian terhadap keramik Tiongkok membantu para arkeolog menentukan periode hunian situs.
Beberapa temuan mempunyai kemiripan dengan material yang ditemukan di pusat perdagangan Timur Tengah seperti Siraf, Samarra dan Fustat.
Bukti tersebut menunjukkan bahwa Lobu Tua bukan sebuah permukiman yang sepenuhnya terisolasi.
Ia berada dalam jaringan perdagangan internasional yang sangat luas. :contentReference[oaicite:1]{index=1}
Sebuah Bandar dengan Banyak Bangsa
Penelitian Claude Guillot dan tim menggambarkan Lobu Tua sebagai sebuah bandar kosmopolitan.
Pada masa aktivitasnya, terdapat indikasi kehadiran orang-orang dari:
India Selatan,
Timur Tengah,
kemungkinan Persia,
serta hubungan dengan Jawa dan kawasan Asia lainnya.
Agama dan kebudayaan berbeda juga bertemu di kawasan perdagangan tersebut.
Gambaran ini penting.
Barus/Fansur pada periode tersebut tidak boleh dibayangkan sebagai kota milik satu kelompok etnis saja.
Pelabuhan perdagangan internasional biasanya menjadi tempat pertemuan banyak masyarakat.
Tetapi Siapa yang Mengambil Kamper dari Hutan?
Pertanyaan inilah yang sangat penting bagi Jejak Sejarah Batak.
Kamper tidak tumbuh di atas kapal.
Ia tidak muncul di gudang pelabuhan dengan sendirinya.
Kamper berasal dari pohon yang tumbuh di kawasan berhutan.
Seseorang harus:
mengetahui lokasi pohonnya,
memasuki kawasan hutan,
mengenali pohon yang menghasilkan kamper,
mengambil hasilnya,
membawanya keluar,
dan menghubungkannya dengan jaringan perdagangan di pelabuhan.
Dengan kata lain, di belakang bandar internasional Fansur terdapat masyarakat lokal pedalaman.
Tetapi siapakah mereka?
Penduduk Lokal Justru Sulit Terlihat
Di sinilah penelitian arkeologi memberikan jawaban yang sangat jujur.
Dalam pembahasan mengenai Lobu Tua, Claude Guillot dan Ludvik Kalus menyatakan bahwa penduduk setempat tentu ada—setidaknya karena kamper berasal dari pohon yang tumbuh di pedalaman.
Namun masyarakat lokal tersebut tidak tampak secara jelas dalam peninggalan arkeologi Lobu Tua. :contentReference[oaicite:2]{index=2}
Pernyataan tersebut sangat penting untuk penelitian kita.
Artinya:
keberadaan masyarakat lokal dapat diduga kuat secara ekonomi, tetapi identitas mereka tidak otomatis dapat ditentukan dari benda-benda yang ditemukan di bandar.
Di sinilah godaan terbesar muncul.
Karena Barus sekarang berada dekat dengan wilayah yang selama berabad-abad mempunyai hubungan kuat dengan masyarakat Batak, sangat mudah mengatakan:
“Mereka pasti orang Batak.”
Tetapi penelitian ilmiah tidak boleh bekerja dengan kata pasti tanpa bukti.
Apakah Mereka Leluhur Batak?
Kemungkinan tersebut layak ditelusuri.
Namun pada tahap Catatan #004, kita belum mempunyai bukti autentik yang cukup untuk mengatakan:
“Orang yang mengambil kamper dari pedalaman Fansur pada abad IX adalah orang Batak.”
Bisa saja terdapat hubungan dengan populasi yang kemudian menjadi bagian masyarakat Batak.
Bisa pula identitas masyarakat lokal saat itu lebih kompleks daripada kategori etnis yang dikenal kemudian.
Identitas etnis dapat berubah selama berabad-abad.
Nama kelompok dapat muncul, berkembang, bergabung, terpecah atau diberikan oleh masyarakat luar.
Karena itu keberadaan suatu populasi di wilayah yang kemudian menjadi wilayah Batak tidak otomatis membuktikan bahwa mereka menggunakan identitas “Batak” pada abad IX.
Tetapi Ada Tradisi Batak tentang Lobu Tua
Menariknya, penelitian mengenai Barus juga mencatat adanya kronik atau tradisi Batak yang berbicara tentang Lobu Tua.
Dalam rangkuman penelitian Claude Guillot disebut adanya kronik kerajaan Batak yang menghubungkan pendirian Lobu Tua dengan orang India Selatan dan juga menyebut keberadaan “Arab” di tempat tersebut.
Hal yang menarik adalah bahwa sebagian unsur tradisi tersebut mempunyai kemiripan dengan bukti arkeologi mengenai kehadiran jaringan India Selatan dan Timur Tengah. :contentReference[oaicite:3]{index=3}
Namun metode kita tetap sama.
Tradisi tersebut harus dicatat.
Tetapi:
tradisi bukan otomatis bukti bahwa seluruh detail ceritanya benar.
Kita harus mencari kapan tradisi tersebut pertama kali direkam, siapa yang merekamnya, dari siapa cerita diperoleh, serta seberapa jauh jarak waktunya dari peristiwa yang diceritakan.
Ketika Tradisi dan Arkeologi Bersinggungan
Kasus Lobu Tua sangat menarik karena memberikan contoh bagaimana sebuah tradisi dapat diuji terhadap arkeologi.
Jika tradisi mengatakan terdapat orang India Selatan di Lobu Tua, sementara penggalian menemukan material India Selatan dan kemudian sebuah prasasti Tamil ditemukan di kawasan tersebut, terdapat kesesuaian sebagian antara tradisi dan bukti material.
Tetapi kesesuaian satu bagian tidak otomatis membuktikan semua bagian tradisi.
Setiap unsur harus diuji sendiri.
Ini akan menjadi prinsip penting ketika nanti Jejak Sejarah Batak memasuki tarombo, turi-turian dan kisah asal-usul masyarakat Batak.
Tahun 1088: Sebuah Batu Mulai Berbicara
Kemudian kita mendapatkan bukti yang jauh lebih kuat.
Di Lobu Tua ditemukan sebuah prasasti berbahasa Tamil.
Prasasti tersebut bertanggal 1088 M.
Prasasti ini berhubungan dengan sebuah organisasi pedagang Tamil yang dikenal sebagai Ayyavole 500 atau kelompok “Lima Ratus”.
Kajian Y. Subbarayalu terhadap prasasti tersebut menunjukkan adanya komunitas atau organisasi pedagang Tamil yang beraktivitas di Barus pada akhir abad XI.
Inilah salah satu jangkar kronologis terkuat yang kita miliki.
Sekarang kita tidak hanya mempunyai:
cerita,
nama dalam buku,
atau interpretasi geografis.
Kita mempunyai:
sebuah prasasti bertanggal.
Kajian terhadap prasasti tersebut juga memperkuat identifikasi Barus kuno dengan kawasan yang sedang diteliti setidaknya pada akhir abad XI. :contentReference[oaicite:4]{index=4}
Perdagangan Internasional Sudah Berlangsung
Dengan menggabungkan arkeologi Lobu Tua dan prasasti Tamil 1088, kita memperoleh gambaran yang jauh lebih kokoh.
Pada abad IX–XI, kawasan Barus/Fansur telah terhubung dengan jaringan perdagangan yang menjangkau:
India Selatan,
Timur Tengah,
Tiongkok,
Jawa,
dan berbagai kawasan lain di Asia.
Kamper menjadi salah satu alasan penting jaringan tersebut datang ke kawasan pantai barat Sumatra.
Namun masyarakat yang menyediakan komoditas dari pedalaman masih menjadi bagian yang paling sulit terlihat.
Dan justru di situlah pertanyaan sejarah Batak mulai menjadi sangat menarik.
Pantai dan Pedalaman Tidak Bisa Dipisahkan
Sebuah pelabuhan seperti Fansur tidak dapat hidup hanya dari orang-orang yang datang menggunakan kapal.
Barang dagangan harus datang dari suatu tempat.
Kamper dan hasil hutan menghubungkan pantai dengan pedalaman.
Kemungkinan terdapat jalur-jalur yang digunakan untuk membawa hasil hutan dari daerah produksi menuju bandar.
Tetapi Catatan #004 tidak akan menggambarkan jalur tersebut secara rinci tanpa bukti.
Kita tidak akan menulis:
“Pedagang Batak berjalan melalui hutan menuju Barus.”
kecuali terdapat sumber yang mendukung kalimat tersebut.
Formulasi yang dapat dipertanggungjawabkan adalah:
Keberadaan perdagangan kamper menunjukkan adanya hubungan ekonomi antara bandar dan kawasan penghasil di pedalaman, tetapi identitas masyarakat serta jalur distribusinya masih memerlukan penelitian.
Sebuah Kemungkinan Besar, Tetapi Belum Sebuah Kepastian
Secara geografis, penelitian Fansur membawa kita semakin dekat dengan kawasan yang kelak mempunyai hubungan kuat dengan masyarakat Batak.
Secara ekonomi, kita melihat sebuah komoditas dari pedalaman.
Secara arkeologis, kita melihat sebuah bandar internasional.
Secara tekstual, kita melihat nama Fansur beredar dalam jaringan pengetahuan dunia luar.
Tetapi satu mata rantai masih belum ditemukan secara meyakinkan:
siapakah masyarakat pedalaman yang memasok barang-barang tersebut?
Apakah mereka sudah dapat disebut Batak?
Apakah mereka leluhur langsung sebagian masyarakat Batak?
Apakah istilah Batak belum digunakan pada masa tersebut?
Atau apakah terdapat beberapa kelompok berbeda?
Catatan #004 belum mempunyai bukti autentik yang dapat menjawabnya secara pasti.
Dan karena itu kita mencatat:
belum diketahui.
Catatan tentang Klaim yang Lebih Tua
Dalam berbagai tulisan populer dapat ditemukan klaim bahwa Barus telah dikenal sejak ribuan tahun sebelum Masehi, bahkan kadang-kadang dikaitkan dengan Mesir kuno dan berbagai peradaban sangat tua.
Klaim-klaim tersebut tetap layak dicatat sebagai bagian dari cerita yang beredar.
Namun Jejak Sejarah Batak tidak akan mengubahnya menjadi fakta hanya karena sering diulang.
Untuk setiap klaim seperti itu kita membutuhkan:
dokumen,
penanggalan,
artefak,
prasasti,
atau penelitian akademik yang dapat diperiksa.
Apabila bukti autentiknya belum dapat ditemukan, maka statusnya tetap cerita, hipotesis, atau klaim yang belum terverifikasi.
Catatan #004 Lebih Tua daripada Catatan #001
Temuan ini juga menunjukkan sifat sebenarnya dari proyek Jejak Sejarah Batak.
Catatan #001 membahas awal abad XIII.
Catatan #004 sekarang membawa kita ke abad IX–XI.
Dengan demikian Catatan #004 membahas bukti yang secara kronologis lebih tua daripada Catatan #001.
Nomor catatan tidak diubah.
Nomor tersebut merekam urutan penelusuran, bukan urutan kejadian sejarah.
Pada akhir proyek, seluruh temuan akan disusun kembali berdasarkan kronologi sebenarnya.
Dengan demikian pembaca dapat melihat dua perjalanan sekaligus:
perjalanan sejarah
dan
perjalanan menemukan sejarah.
Status Bukti Catatan #004
TERVERIFIKASI — ARKEOLOGI
Situs Lobu Tua menunjukkan aktivitas permukiman/perdagangan kira-kira sejak pertengahan atau bagian akhir abad IX hingga sekitar akhir abad XI atau awal abad XII.
TERVERIFIKASI — JARINGAN INTERNASIONAL
Temuan arkeologi menunjukkan hubungan perdagangan dengan berbagai kawasan Asia, termasuk Tiongkok, India Selatan dan Timur Tengah.
TERVERIFIKASI — PRASASTI
Sebuah prasasti Tamil dari Lobu Tua bertanggal 1088 M memberikan bukti langsung keberadaan jaringan pedagang Tamil di kawasan tersebut.
TERCATAT DALAM SUMBER ASING
Fansur dikenal dalam tradisi sumber asing dan mempunyai hubungan kuat dengan perdagangan kamper.
TERCATAT DALAM TRADISI
Terdapat tradisi/kronik Batak mengenai Lobu Tua yang antara lain berbicara mengenai kehadiran masyarakat asing.
Tradisi tersebut harus ditelusuri lebih lanjut berdasarkan umur dan sejarah transmisinya.
INTERPRETASI
Fansur secara luas dihubungkan oleh penelitian dengan kawasan Barus.
BELUM TERVERIFIKASI
Belum ditemukan bukti autentik yang cukup dalam Catatan #004 untuk memastikan bahwa masyarakat pedalaman pemasok kamper pada abad IX–XI sudah mengidentifikasi diri atau diidentifikasi oleh masyarakat sezamannya sebagai Batak.
TIDAK DAPAT DISIMPULKAN
Keberadaan Barus/Fansur tidak dapat digunakan sendirian sebagai bukti bahwa masyarakat Batak telah mempunyai sebuah kerajaan, kota pelabuhan, atau negara pada abad IX.
KESIMPULAN SEMENTARA
Fansur/Barus memberikan salah satu jejak material dan tekstual paling penting bagi penelitian masyarakat di bagian utara Sumatra sebelum abad XIII.
Bukti arkeologi menunjukkan adanya sebuah bandar internasional dan perdagangan kamper yang membutuhkan hubungan dengan kawasan pedalaman.
Tetapi identitas masyarakat lokal yang berada di belakang jaringan tersebut belum dapat dipastikan sebagai Batak berdasarkan bukti yang telah diperiksa.
Daftar Sumber dan Pustaka
-
Guillot, Claude (ed.). Histoire de Barus, Sumatra: Le Site de Lobu Tua I — Études et Documents. Paris: École des Hautes Études en Sciences Sociales, 1998.
-
Guillot, Claude (ed.). Lobu Tua, Sejarah Awal Barus. Terjemahan Indonesia, antara lain oleh Daniel Perret. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia/École française d'Extrême-Orient, 2002; edisi berikutnya diterbitkan Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Penelitian ini memuat hasil arkeologi Lobu Tua serta pembahasan sumber Tamil, Armenia, Tiongkok, kamper dan kemenyan.
-
Subbarayalu, Y. “The Tamil Merchant-Guild Inscription at Barus: A Rediscovery.” Dalam Histoire de Barus, Sumatra: Le Site de Lobu Tua I. Membahas prasasti perkumpulan pedagang Tamil di Lobu Tua yang bertanggal 1088 M.
-
Guillot, Claude & Ludvik Kalus. Kajian mengenai Barus/Fansur dan bukti sejarah serta arkeologi kawasan tersebut. Penelitian mereka mencatat bahwa Lobu Tua merupakan situs awal penting dan bahwa penduduk lokal, meskipun tentu berperan dalam penyediaan kamper, tidak tampak jelas dalam tinggalan arkeologinya.
-
Tibbetts, G.R. A Study of the Arabic Texts Containing Material on South-East Asia. Leiden: E.J. Brill, 1979. Kajian penting mengenai berita geografis dan perdagangan Asia Tenggara dalam tradisi teks Arab.
-
Polo, Marco. Il Milione / The Travels of Marco Polo. Akhir abad XIII. Digunakan sebagai sumber pembanding karena Marco Polo kemudian mencatat Fansur ketika berada di Sumatra sekitar 1292.
-
Perret, Daniel dan penelitian Indonesia-Prancis mengenai Barus. Digunakan untuk membantu menempatkan temuan arkeologi, sumber tertulis dan perkembangan historiografi Barus dalam konteks Sumatra.
Catatan Kritis tentang Identifikasi Fansur dan Barus
Identifikasi Fansur dengan Barus mempunyai dukungan kuat dalam historiografi dan penelitian arkeologi.
Namun istilah tersebut tidak harus diasumsikan selalu menunjuk titik permukiman yang persis sama sepanjang berabad-abad.
Sebuah nama geografis dapat menunjuk bandar, kawasan produksi, wilayah perdagangan atau daerah yang pusat permukimannya berubah.
Karena itu penelitian mengenai Fansur harus memperhatikan periode masing-masing sumber.
Lobu Tua memberikan bukti sangat kuat untuk aktivitas kawasan Barus pada abad IX–XI, tetapi bukti tersebut tidak otomatis menentukan lokasi persis setiap penyebutan Fansur yang lebih tua.
Pertanyaan yang Dibawa ke Catatan Berikutnya
Catatan #004 meninggalkan pertanyaan yang jauh lebih besar:
Seberapa tua sebenarnya nama Fansur dalam sumber Arab-Persia?
Siapa penulis paling awal yang menyebutnya?
Apa bentuk nama yang terdapat dalam manuskrip?
Apakah lokasi yang dimaksud benar-benar Barus?
Dan apabila perdagangan kamper sudah berlangsung sebelum berdirinya permukiman Lobu Tua sekitar abad IX, di manakah pusat perdagangan sebelumnya berada?
Pertanyaan terakhir sangat penting.
Sebab penelitian arkeologi membuka kemungkinan bahwa sejarah perdagangan kamper di kawasan ini lebih tua daripada Lobu Tua sendiri.
Jika bukti itu ditemukan, perjalanan Jejak Sejarah Batak harus mundur lagi.
Dan jika pada perjalanan mundur tersebut kita menemukan cerita, legenda, atau tradisi yang lebih tua tetapi tidak mempunyai bukti autentik, cerita itu tetap akan dicatat dengan statusnya yang sebenarnya:
tercatat sebagai tradisi — belum terbukti sebagai fakta sejarah.
JEJAK SEJARAH BATAK
Catatan #004
Penelusuran berbasis teknologi · Dicatat oleh Armando Sinaga
