PUSTAHA CATATAN
Jejak Sejarah Batak — Catatan #003: Marco Polo di Sumatra Tahun 1292 dan Jejak Masyarakat Pedalaman
Sekitar tahun 1292, Marco Polo singgah di Sumatra dalam perjalanan pulang dari Asia menuju Eropa. Catatannya menggambarkan sejumlah negeri, masyarakat pesisir dan kelompok pedalaman, termasuk cerita mengenai penduduk yang disebut hidup di kawasan pegunungan dan praktik kanibalisme yang kemudian berulang kali dikaitkan dengan gambaran awal tentang Batak. Namun apakah Marco Polo benar-benar sedang membicarakan leluhur atau masyarakat Batak? Catatan #003 menelusuri apa yang sebenarnya tertulis dalam naskah Marco Polo, lokasi yang dapat diidentifikasi, berbagai interpretasi para peneliti, serta bagian-bagian yang belum memiliki bukti autentik untuk dihubungkan langsung dengan Batak.
Dipublikasikan 2 September 2026

JEJAK SEJARAH BATAK
Catatan #003 — Marco Polo di Sumatra Tahun 1292 dan Jejak Masyarakat Pedalaman
Penelusuran berbasis teknologi AI · Dicatat oleh Armando Sinaga
Tahun 1292: Seorang Pengelana Eropa Tiba di Sumatra
Setelah dua catatan sebelumnya membawa penelusuran kita kepada sumber-sumber Tiongkok, Jejak Sejarah Batak kini memasuki sebuah sumber yang berbeda.
Sekitar tahun 1292, pengelana Venesia Marco Polo berada di Pulau Sumatra dalam perjalanan pulangnya dari Asia menuju dunia Barat.
Kehadirannya penting karena kali ini kita tidak hanya berhadapan dengan sebuah nama tempat yang tercatat dari kejauhan.
Marco Polo benar-benar berada di Sumatra.
Namun sejak awal harus diberikan batas yang tegas:
Marco Polo berada di Sumatra adalah satu hal.
Marco Polo bertemu atau mencatat orang Batak adalah hal lain yang masih harus dibuktikan.
Dalam catatan perjalanan yang dikaitkan dengannya, tidak ditemukan pernyataan sederhana yang dapat diterjemahkan menjadi:
“Saya bertemu orang Batak.”
Karena itu Catatan #003 tidak menggunakan Marco Polo sebagai bukti langsung keberadaan masyarakat Batak pada 1292.
Yang kita lakukan adalah menelusuri keterangannya mengenai masyarakat pesisir dan pedalaman Sumatra serta melihat mengapa keterangan tersebut kemudian ikut masuk dalam pembahasan sejarah Batak.
Marco Polo dan Perjalanan Pulang dari Asia
Marco Polo berasal dari Venesia.
Setelah bertahun-tahun berada di Asia dalam lingkungan kekuasaan Mongol, rombongan Polo meninggalkan Tiongkok melalui jalur laut.
Perjalanan tersebut membawa mereka melalui Asia Tenggara dan Samudra Hindia.
Dalam perjalanan inilah rombongan Marco Polo mencapai Sumatra.
Pulau yang sekarang kita kenal sebagai Sumatra tidak ditulisnya menggunakan nama geografis modern tersebut.
Dalam tradisi naskah perjalanan Marco Polo, pulau itu disebut Java the Less atau Java Minor.
Ini merupakan contoh penting mengapa Jejak Sejarah Batak tidak boleh memaksakan nama geografis masa kini kepada sumber abad XIII.
Kita mengetahui berdasarkan identifikasi geografis kemudian bahwa pulau yang sedang dibicarakannya adalah Sumatra.
Tetapi nama yang digunakan dalam teksnya berbeda.
Sebuah Pulau dengan Banyak Negeri
Marco Polo menggambarkan Java Minor sebagai pulau yang sangat besar.
Ia menyebut adanya beberapa kerajaan atau wilayah di pulau tersebut.
Dalam tradisi teks yang kemudian diterjemahkan dan disunting oleh Henry Yule dan Henri Cordier, enam nama yang dibahas antara lain:
Ferlec
Basma
Samara
Dagroian
Lambri
Fansur
Identifikasi tempat-tempat tersebut telah menjadi bahan penelitian panjang.
Ferlec biasanya dihubungkan dengan Perlak/Peureulak.
Samara mempunyai hubungan yang kuat dengan Samudra.
Lambri sering dikaitkan dengan Lamuri/Lamreh.
Fansur sangat penting karena nama tersebut berhubungan dengan Fansur/Pansur, nama yang sejak lama dikaitkan dengan kawasan Barus.
Namun tidak semua identifikasi nama Marco Polo mempunyai tingkat kepastian yang sama.
Karena itu nama asli yang terdapat dalam tradisi teks tetap harus dipertahankan ketika membahas sumber abad XIII.
Marco Polo Tinggal Sekitar Lima Bulan di Samara
Salah satu bagian paling penting dalam keterangannya adalah Samara.
Marco Polo menyatakan bahwa rombongannya tertahan di sana selama sekitar lima bulan karena keadaan angin tidak memungkinkan mereka melanjutkan perjalanan.
Rombongannya membuat perlindungan di dekat pantai.
Dalam salah satu versi teks yang diedit Yule dan Cordier disebutkan bahwa mereka menggali parit dan membuat pertahanan dari kayu.
Marco Polo menghubungkan tindakan tersebut dengan ketakutan terhadap kelompok yang digambarkannya sebagai pemakan manusia.
Keberadaan Polo selama beberapa bulan memberikan kesempatan baginya untuk memperoleh informasi mengenai masyarakat di sekitar kawasan tersebut.
Tetapi keberadaan selama lima bulan tidak berarti bahwa seluruh cerita yang kemudian dicatatnya merupakan sesuatu yang ia lihat dengan mata sendiri.
Perbedaan tersebut sangat penting.
Pesisir dan Pedalaman
Salah satu gambaran menarik muncul ketika Marco Polo membicarakan Ferlec.
Menurut keterangannya, pedagang Muslim—dalam teks Eropa abad pertengahan disebut Saracen—sering mengunjungi tempat tersebut.
Ia mengatakan bahwa masyarakat kota telah menerima Islam.
Tetapi kemudian Polo membedakan mereka dari masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan atau pedalaman.
Kelompok pedalaman tersebut digambarkan dengan bahasa Eropa abad pertengahan yang sangat kasar sebagai masyarakat liar dan pemakan daging manusia.
Informasi ini menarik bagi penelusuran sejarah masyarakat pedalaman Sumatra.
Namun sekali lagi:
Marco Polo tidak menyebut masyarakat perbukitan tersebut sebagai Batak.
Mengubah istilah “hill-people” atau penduduk pedalaman dalam teks Marco Polo langsung menjadi “orang Batak” akan menghasilkan kesimpulan yang tidak diberikan oleh sumber.
Dagroian dan Cerita Kanibalisme
Cerita yang jauh lebih rinci muncul ketika Marco Polo membicarakan sebuah negeri bernama Dagroian.
Menurut kisahnya, masyarakat di sana mempunyai bahasa sendiri.
Ia kemudian menceritakan sebuah kebiasaan yang menurut pandangan Eropa pada zamannya sangat mengejutkan.
Apabila seseorang sakit, menurut cerita tersebut, orang-orang tertentu yang dianggap mempunyai kemampuan spiritual diminta menentukan apakah orang sakit itu akan sembuh.
Jika diperkirakan tidak akan sembuh, Polo menceritakan bahwa orang tersebut kemudian dibunuh.
Tubuhnya kemudian dimasak dan dimakan oleh kerabatnya.
Tulang-tulangnya dikumpulkan dan ditempatkan di tempat tertentu.
Polo juga menceritakan bahwa tawanan asing yang tidak dapat membayar tebusan dapat dibunuh dan dimakan.
Cerita ini kemudian menjadi salah satu gambaran kanibalisme Sumatra yang beredar luas dalam literatur Eropa.
Tetapi pertanyaan ilmiahnya adalah:
Apakah Marco Polo benar-benar menyaksikan praktik tersebut?
Apakah Marco Polo Melihatnya Sendiri?
Inilah bagian yang sering hilang ketika cerita Marco Polo diceritakan kembali.
Penelitian modern mengenai pembentukan citra kanibalisme Sumatra mengingatkan bahwa Marco Polo terutama berada di lingkungan pesisir.
Deskripsinya mengenai masyarakat pedalaman Ferlec dan Dagroian tidak dapat dengan mudah dianggap sebagai laporan pengamatan langsung.
Sangat mungkin sebagian informasi tersebut diperoleh melalui informan lokal, penguasa pelabuhan, pedagang, penerjemah, atau cerita yang beredar di kawasan pesisir.
Dengan demikian terdapat beberapa lapisan informasi:
Marco Polo berada di Sumatra — kuat.
Marco Polo mendengar cerita mengenai masyarakat pedalaman — terdapat dalam tradisi teks perjalanannya.
Marco Polo sendiri menyaksikan seluruh praktik yang diceritakan — tidak dapat dipastikan.
Masyarakat yang diceritakannya adalah Batak — belum terbukti.
Perbedaan empat lapisan tersebut harus dipertahankan.
Apakah Cerita Kanibalisme Itu Tentang Batak?
Di sinilah sumber Marco Polo mulai bersinggungan dengan historiografi Batak.
Pada abad-abad berikutnya, masyarakat Batak juga sering digambarkan oleh pengelana, pejabat kolonial, misionaris dan penulis Eropa melalui cerita mengenai kanibalisme.
Kemiripan tersebut menyebabkan cerita masyarakat pedalaman Sumatra dari sumber-sumber lebih tua kadang-kadang dihubungkan kembali dengan Batak.
Tetapi kemiripan sebuah cerita bukan bukti identitas masyarakat.
Kita tidak dapat menggunakan logika:
Marco Polo menceritakan masyarakat kanibal di Sumatra.
kemudian:
sumber Eropa kemudian menyebut kanibalisme di kalangan Batak.
lalu menyimpulkan:
maka masyarakat yang diceritakan Marco Polo pasti Batak.
Kesimpulan seperti itu membutuhkan bukti penghubung yang belum tersedia.
Bahkan Cerita Kanibalisme Lebih Tua daripada Marco Polo
Penelitian mengenai sumber Arab menunjukkan sesuatu yang semakin menarik.
Cerita tentang masyarakat yang digambarkan sebagai pemakan manusia di Sumatra telah beredar sebelum Marco Polo lahir.
Kajian G.R. Tibbetts terhadap sumber-sumber Arab mengenai Asia Tenggara menunjukkan adanya tradisi laporan mengenai masyarakat Sumatra dan kawasan sekitarnya yang dikaitkan dengan praktik kanibalisme.
Penelitian Indonesia kemudian menghubungkan beberapa berita Arab tersebut dengan kawasan seperti Fansur dan Lamuri.
Ini menghasilkan pertanyaan penting:
Apakah laporan-laporan tersebut menggambarkan praktik yang benar-benar terjadi?
Apakah praktik itu terbatas pada ritual atau hukuman tertentu?
Apakah laporan tersebut berasal dari cerita masyarakat pesisir mengenai kelompok pedalaman?
Atau apakah sebagian cerita berkembang menjadi stereotip tentang masyarakat yang dianggap berada di luar pusat perdagangan dan agama?
Pertanyaan tersebut belum dapat dijawab hanya dengan Marco Polo.
Dan karena sumber Arab tersebut lebih tua daripada 1292, sumber-sumber itu nantinya harus mendapatkan penelusuran tersendiri.
Jika ditemukan hubungan yang cukup kuat dengan objek penelitian kita, kronologi Jejak Sejarah Batak harus mencatatnya.
Fansur: Nama yang Harus Kita Perhatikan
Di antara tempat-tempat yang dicatat Marco Polo terdapat Fansur.
Nama ini penting.
Fansur telah lama dikaitkan dengan kawasan penghasil kapur barus di bagian barat Sumatra.
Marco Polo memberikan perhatian khusus kepada kapur dari Fansur.
Kapur barus Sumatra merupakan komoditas bernilai tinggi dalam jaringan perdagangan internasional jauh sebelum kedatangan Marco Polo.
Kawasan Fansur/Barus nantinya menjadi sangat penting bagi Jejak Sejarah Batak karena hubungan antara pelabuhan pantai barat, masyarakat pedalaman, perdagangan hasil hutan, dan wilayah yang pada masa kemudian dihuni masyarakat Batak harus ditelusuri.
Tetapi sekali lagi:
Barus tidak otomatis berarti Batak.
Keberadaan perdagangan di Barus tidak dengan sendirinya membuktikan identitas etnis para produsen, pedagang, pengangkut atau penguasa wilayah pedalaman pada suatu periode tertentu.
Hubungan tersebut harus dibangun melalui bukti.
Jangan Membayangkan Provinsi Sumatera Utara Tahun 1292
Pada masa Marco Polo tidak ada wilayah administratif bernama Provinsi Sumatera Utara.
Tidak ada Republik Indonesia.
Tidak ada Provinsi Aceh dalam pengertian administratif modern.
Tidak ada Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Samosir, ataupun batas-batas pemerintahan sekarang.
Karena itu apabila nama seperti Aceh, Sumatera Utara, Perlak atau Barus modern digunakan dalam Catatan ini, penggunaannya hanya untuk membantu pembaca memahami perkiraan lokasi.
Dunia yang dilihat Marco Polo merupakan dunia pelabuhan, kerajaan kecil, masyarakat pesisir, komunitas pedagang internasional dan masyarakat pedalaman.
Batas kekuasaan dan identitas masyarakatnya tidak boleh dipaksakan mengikuti peta politik abad XXI.
Sebuah Peringatan tentang Bahasa Marco Polo
Bahasa yang digunakan dalam terjemahan lama perjalanan Marco Polo sering menyebut masyarakat tertentu sebagai:
“wild”,
“beasts”,
“idolaters”,
atau istilah serupa.
Istilah tersebut tidak boleh diterima oleh penelitian modern sebagai deskripsi ilmiah tentang tingkat peradaban suatu masyarakat.
Istilah tersebut mencerminkan cara seorang penulis dan pembaca Eropa abad pertengahan menggambarkan masyarakat yang mempunyai agama, adat dan kehidupan berbeda dari mereka.
Karena itu Jejak Sejarah Batak mencatat istilah tersebut sebagai bagian dari sumber, bukan sebagai penilaian kita terhadap masyarakat Sumatra abad XIII.
Masalah Lain: Naskah Marco Polo
Ada persoalan sumber lain yang tidak boleh dilewatkan.
Catatan perjalanan Marco Polo tidak sampai kepada dunia modern dalam sebuah naskah asli tunggal yang ditulis langsung olehnya dan tetap utuh.
Kisah perjalanan tersebut berhubungan dengan Rustichello da Pisa, yang menuliskan kisah Marco Polo ketika keduanya berada dalam tahanan di Genoa pada akhir abad XIII.
Kemudian beredar berbagai manuskrip dengan perbedaan teks.
Akibatnya para editor modern harus membandingkan berbagai versi naskah.
Edisi Henry Yule yang kemudian direvisi Henri Cordier menjadi salah satu edisi klasik yang sangat sering digunakan dalam penelitian berbahasa Inggris.
Keadaan manuskrip ini berarti bahwa ketika kita mengutip Marco Polo, kita juga harus memperhatikan edisi dan versi teks yang digunakan.
Apa yang Dapat Kita Pastikan?
Berdasarkan sumber yang diperiksa, beberapa hal dapat dinyatakan dengan cukup kuat.
Pertama, Marco Polo berada di Sumatra sekitar 1292 dalam perjalanan pulangnya dari Asia.
Kedua, ia menggambarkan sejumlah wilayah yang disebut Ferlec, Basma, Samara, Dagroian, Lambri dan Fansur.
Ketiga, ia tinggal sekitar lima bulan di kawasan yang disebut Samara karena kondisi pelayaran.
Keempat, tradisi teks perjalanannya memuat cerita mengenai masyarakat pedalaman dan praktik kanibalisme.
Kelima, tidak terdapat dasar dalam sumber tersebut untuk secara otomatis menyebut seluruh masyarakat pedalaman yang diceritakannya sebagai Batak.
Apa yang Tidak Dapat Kita Pastikan?
Kita belum mempunyai bukti autentik yang memungkinkan Catatan ini mengatakan:
Marco Polo bertemu orang Batak.
Kita juga belum dapat membuktikan bahwa masyarakat perbukitan Ferlec yang diceritakannya merupakan masyarakat Batak.
Kita belum dapat membuktikan bahwa masyarakat Dagroian merupakan Batak.
Dan kita tidak dapat memastikan bahwa seluruh praktik kanibalisme yang diceritakan Marco Polo merupakan pengamatan langsungnya sendiri.
Karena itu cerita tersebut tetap kita catat, tetapi status buktinya harus ikut dicatat.
Tradisi, Cerita dan Rumor Tetap Bagian dari Catatan
Jejak Sejarah Batak tidak akan membuang sebuah cerita hanya karena belum dapat dibuktikan.
Apabila sebuah cerita telah beredar selama berabad-abad, keberadaan cerita tersebut sendiri merupakan fakta historiografis.
Tetapi kita harus membedakan:
fakta bahwa sebuah cerita pernah dicatat
dengan
fakta bahwa peristiwa di dalam cerita benar-benar terjadi.
Dalam kasus Marco Polo:
Autentik sebagai tradisi teks: terdapat cerita mengenai masyarakat pemakan manusia di Sumatra.
Belum terbukti autentik sebagai kejadian yang disaksikan langsung: tidak seluruh praktik yang diceritakan dapat dibuktikan sebagai pengalaman mata Marco Polo sendiri.
Belum terbukti hubungannya dengan Batak: tidak tersedia bukti yang cukup untuk mengidentifikasi masyarakat tersebut secara langsung sebagai Batak.
Dengan cara inilah cerita tetap tersimpan tanpa diubah menjadi fakta.
Status Bukti Catatan #003
TERVERIFIKASI
Marco Polo berada di Sumatra sekitar tahun 1292 dan tradisi teks perjalanannya memberikan keterangan mengenai sejumlah wilayah serta masyarakat di pulau tersebut.
TERCATAT DALAM SUMBER
Marco Polo menceritakan masyarakat pedalaman tertentu yang digambarkan melakukan kanibalisme.
KEMUNGKINAN SUMBER INFORMASI
Penelitian modern menunjukkan bahwa sebagian cerita mengenai masyarakat pedalaman kemungkinan diperoleh dari informan dan lingkungan pesisir, bukan melalui pengamatan langsung Marco Polo.
BELUM TERVERIFIKASI
Belum ditemukan bukti autentik yang memungkinkan kita memastikan bahwa kelompok pedalaman yang digambarkan Marco Polo adalah masyarakat Batak.
TIDAK DAPAT DISIMPULKAN
Catatan Marco Polo tidak dapat digunakan sendirian sebagai bukti bahwa orang Batak pada 1292 melakukan praktik kanibalisme.
KESIMPULAN SEMENTARA
Catatan Marco Polo merupakan salah satu sumber luar yang sangat penting untuk memahami keadaan Sumatra pada penghujung abad XIII.
Sumber tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara masyarakat pelabuhan dan masyarakat pedalaman serta merekam cerita mengenai kelompok-kelompok yang hidup jauh dari pusat perdagangan pesisir.
Namun hubungan langsung antara kelompok tersebut dan masyarakat Batak belum dapat dibuktikan secara autentik berdasarkan sumber Marco Polo saja.
Daftar Sumber dan Pustaka
-
Polo, Marco. Il Milione / The Travels of Marco Polo. Kisah perjalanan yang dikaitkan dengan Marco Polo dan Rustichello da Pisa, akhir abad XIII. Digunakan sebagai sumber dasar mengenai perjalanan Marco Polo melalui Sumatra.
-
Yule, Henry. The Book of Ser Marco Polo, the Venetian, Concerning the Kingdoms and Marvels of the East. Edisi kedua. London: John Murray, 1875.
-
Yule, Henry & Henri Cordier. The Book of Ser Marco Polo, the Venetian, Concerning the Kingdoms and Marvels of the East. Edisi yang direvisi Henri Cordier. London: John Murray, 1903. Volume II. Lihat terutama bagian mengenai “Java the Less”, Ferlec, Basma, Samara, Dagroian, Lambri dan Fansur.
-
Hill, A.H. “Hikayat Raja-Raja Pasai.” Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, Vol. 33, Part 2, 1960. Pembahasannya membandingkan keterangan Marco Polo mengenai kerajaan-kerajaan di bagian utara Sumatra dengan tradisi sejarah Pasai.
-
Tibbetts, G.R. A Study of the Arabic Texts Containing Material on South-East Asia. Leiden: E.J. Brill, 1979. Digunakan untuk menempatkan laporan mengenai masyarakat Sumatra dalam tradisi sumber Arab yang lebih tua.
-
Damanik, Erond L. Kajian mengenai rumor kanibalisme, identitas Batak, dan etnohistori Sumatra bagian utara. Digunakan sebagai penelitian modern Indonesia untuk membandingkan perkembangan gambaran masyarakat pedalaman Sumatra dalam sumber asing.
Catatan Metodologis
Catatan #003 membedakan antara:
keberadaan Marco Polo di Sumatra,
apa yang tertulis dalam tradisi naskah perjalanannya,
informasi yang mungkin diperolehnya dari orang lain,
dan
interpretasi peneliti modern.
Istilah geografis modern digunakan hanya sebagai penunjuk lokasi bagi pembaca masa kini.
Cerita mengenai kanibalisme dicatat karena terdapat dalam sumber dan mempunyai pengaruh panjang terhadap gambaran masyarakat Sumatra.
Pencatatan cerita tersebut bukan pernyataan bahwa cerita itu terbukti benar, dan bukan pula bukti bahwa masyarakat yang diceritakan merupakan orang Batak.
Jika kemudian ditemukan bukti yang mendukung, membantah atau mengubah interpretasi tersebut, semuanya harus ditambahkan ke dalam rangkaian Jejak Sejarah Batak.
Jejak yang Belum Selesai
Marco Polo ternyata membawa penelitian kita kepada sesuatu yang lebih tua.
Sebelum kedatangannya pada 1292, para penulis Arab dan Persia telah mengenal nama-nama seperti Fansur, Ramni/Rami, dan kawasan lain di Sumatra.
Sebagian sumber tersebut bahkan berasal dari beberapa abad sebelumnya.
Artinya, perjalanan kita belum tentu harus terus bergerak maju dari tahun 1292.
Jika sumber yang lebih tua tersebut dapat dikaitkan secara ilmiah dengan masyarakat, wilayah pedalaman, perdagangan, atau kebudayaan yang kemudian berhubungan dengan Batak, maka sumber itu juga harus dicatat.
Jejak sejarah tidak boleh diabaikan hanya karena ditemukan setelah nomor catatan telah dibuat.
JEJAK SEJARAH BATAK
Catatan #003
Penelusuran berbasis teknologi · Dicatat oleh Armando Sinaga
