PUSTAHA CATATAN

Jejak Sejarah Batak — Catatan #001: Pa-t’a dalam Catatan Tiongkok Abad XIII

Pada awal abad XIII, Zhao Rugua mencatat sebuah negeri bernama Pa-t’a dalam Zhu Fan Zhi. Nama tersebut kemudian dikaitkan oleh sejumlah peneliti dengan Bata atau Batak, tetapi identifikasi ini juga diperdebatkan. Catatan #001 menelusuri sumber, pendapat yang mendukung maupun meragukannya, serta bukti yang tersedia untuk mengetahui sejauh mana Pa-t’a dapat ditempatkan dalam jejak awal sejarah Batak.

Dipublikasikan 2 September 2026

Sampul Jejak Sejarah Batak — Catatan #001: Pa-t’a dalam Catatan Tiongkok Abad XIII

JEJAK SEJARAH BATAK

Catatan #001 — Pa-t’a dalam Catatan Tiongkok Abad XIII

Penelusuran berbasis teknologi AI · Dicatat oleh Armando Sinaga


Jejak yang Membawa Kita ke Abad XIII

Penelusuran sejarah Batak dalam seri ini dimulai bukan dari sebuah silsilah, kerajaan, ataupun tokoh yang telah lebih dahulu dikenal dalam tradisi masyarakat Batak, melainkan dari jejak tertulis yang dapat diperiksa kembali sumbernya.

Salah satu jejak awal yang menarik perhatian terdapat dalam sumber Tiongkok dari awal abad XIII.

Nama yang muncul adalah Pa-t’a.

Pa-t’a menjadi penting karena sejumlah sarjana pada masa kemudian menghubungkan nama tersebut dengan Bata atau Batak. Akan tetapi, identifikasi tersebut bukan sebuah kesimpulan yang diterima tanpa perdebatan.

Sebagian peneliti menghubungkannya dengan Batak di Sumatra. Peneliti lain menempatkan Pa-t’a di tempat berbeda, bahkan di Semenanjung Malaya.

Karena itu, Catatan #001 tidak menetapkan bahwa Pa-t’a pasti merupakan Batak.

Catatan ini justru merekam sumber tersebut bersama sejarah perdebatan mengenai identitas Pa-t’a.


Zhao Rugua dan Zhu Fan Zhi

Nama Pa-t’a dikenal melalui karya Tiongkok yang sekarang lazim disebut Zhu Fan Zhi atau dalam romanisasi lama Chu-fan-chi, yang disusun oleh Zhao Rugua (dalam literatur lama sering ditulis Chau Ju-kua atau Chou Ju-kua).

Zhao Rugua hidup pada masa Dinasti Song.

Karyanya memberikan keterangan mengenai berbagai negeri dan jaringan perdagangan maritim yang berhubungan dengan dunia perdagangan Tiongkok.

Hal penting yang harus dicatat adalah bahwa keterangan Zhao Rugua mengenai negeri-negeri asing tidak boleh dibaca seperti laporan perjalanan modern.

Karya tersebut merupakan sumber Tiongkok mengenai dunia perdagangan maritim pada zamannya dan informasi di dalamnya dapat berasal dari pengetahuan yang beredar melalui jaringan pedagang dan pelayaran.

Karena itu, keberadaan sebuah nama dalam Zhu Fan Zhi merupakan bukti bahwa nama atau informasi mengenai tempat tersebut telah masuk ke dalam pengetahuan geografis-perdagangan yang dicatat di Tiongkok.

Tetapi identifikasi geografis nama-nama tersebut tetap membutuhkan penelitian.


Pa-t’a dalam Lingkungan San-fo-ts’i

Dalam pembahasan mengenai San-fo-ts’i, Zhao Rugua mencatat sejumlah negeri atau daerah yang berada dalam lingkungan kekuasaannya.

Di antara nama-nama tersebut terdapat:

Pa-t’a.

Dalam penelitian sejarah Asia Tenggara, San-fo-ts’i sangat sering dihubungkan dengan dunia politik dan perdagangan Sriwijaya. Namun penggunaan nama San-fo-ts’i dan perubahan politik di kawasan tersebut juga merupakan persoalan historiografi tersendiri.

Karena itu kita harus berhati-hati agar tidak menggambarkan keadaan awal abad XIII menggunakan batas negara dan pemerintahan masa kini.

Pada masa sumber ini ditulis, belum terdapat negara Republik Indonesia, Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Tapanuli, Kabupaten Samosir, maupun batas administratif modern lainnya.

Yang sedang kita hadapi adalah dunia maritim Asia Tenggara abad XIII: jaringan pelabuhan, kerajaan, pusat perdagangan, daerah bawahan, serta masyarakat pedalaman yang hubungan politik dan ekonominya tidak selalu sama dengan batas wilayah masa sekarang.


Munculnya Dugaan Pa-t’a adalah Batak

Dalam perkembangan penelitian selanjutnya, sejumlah sarjana mencoba menentukan lokasi sebenarnya dari nama-nama geografis yang terdapat dalam sumber Tiongkok tersebut.

Salah satu nama yang menimbulkan perdebatan adalah Pa-t’a.

Dalam edisi dan terjemahan Chau Ju-Kua: His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteenth Centuries, Entitled Chu-fan-chi, Friedrich Hirth dan W.W. Rockhill mencatat pendapat Gustave Schlegel yang mengusulkan kemungkinan bahwa:

Pa-t’a adalah negeri Batta di Sumatra bagian utara.

Hirth dan Rockhill tidak menuliskannya sebagai kepastian. Mereka menggunakan formulasi kemungkinan.

Dengan demikian, hubungan:

Pa-t’a → Batta → Batak

merupakan sebuah identifikasi ilmiah yang diajukan kemudian, bukan pernyataan langsung Zhao Rugua bahwa masyarakat yang dimaksud adalah orang Batak sebagaimana kita mengenalnya sekarang.

Perbedaan ini sangat penting.


Rouffaer dan Identifikasi dengan Batak

Dalam literatur penelitian Indonesia juga dicatat bahwa Schlegel dan G.P. Rouffaer termasuk peneliti yang menduga Pa-t’a berhubungan dengan Batak.

Identifikasi tersebut kemudian masuk ke dalam sejumlah penulisan sejarah Indonesia.

R. Soekmono, misalnya, dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2 mencantumkan daftar daerah dalam lingkungan San-fo-ts’i dan menuliskan:

Pa-t’a (Batak).

Hal ini menunjukkan bahwa interpretasi Pa-t’a sebagai Batak kemudian memperoleh tempat yang cukup kuat dalam historiografi Indonesia.

Namun keberadaan interpretasi tersebut dalam buku sejarah tidak menghilangkan perdebatan mengenai lokasi aslinya.


Gerini: Pa-t’a Bukan Batak, Melainkan Pidada/Pedada

Pendapat berbeda dikemukakan oleh G.E. Gerini.

Dalam catatan Hirth dan Rockhill, Gerini tidak mengidentifikasi Pa-t’a sebagai negeri Batta.

Ia menghubungkannya dengan Pedada atau Pidada, yang disebut berhubungan dengan nama Pirada dalam sumber Portugis João de Barros.

Dengan demikian sudah terdapat setidaknya dua jalur interpretasi:

Schlegel → Pa-t’a kemungkinan Batta

sementara:

Gerini → Pa-t’a kemungkinan Pedada/Pidada

Perbedaan tersebut menunjukkan persoalan utama dalam membaca sumber Tiongkok kuno.

Nama asing dituliskan menggunakan karakter dan sistem bunyi Tiongkok. Berabad-abad kemudian para peneliti berusaha merekonstruksi tempat yang dimaksud dengan membandingkan bunyi, posisi geografis, urutan nama daerah, dan sumber lain.

Akibatnya, kemiripan bunyi saja belum cukup untuk menghasilkan kepastian.


Roland Braddell: Pa-t’a Mungkin Berada di Semenanjung Malaya

Perdebatan menjadi semakin penting karena terdapat pula pendapat yang membawa Pa-t’a keluar dari Sumatra.

Dalam pembahasan arkeologi Indonesia yang merangkum berbagai pendapat terdahulu, Roland Braddell disebut menempatkan Pa-t’a di kawasan Sungai Paka, di sebelah selatan Sungai Dungun, Terengganu.

Jika identifikasi ini benar, Pa-t’a berada di Semenanjung Malaya dan tidak berhubungan langsung dengan Batak di Sumatra.

Dengan demikian terdapat perbedaan geografis yang sangat besar:

Pa-t’a = Batak di Sumatra

atau

Pa-t’a = lokasi lain di Sumatra

atau bahkan

Pa-t’a = kawasan di Semenanjung Malaya.


Paul Pelliot Menolak Identifikasi Pa-t’a dengan Batak

Perdebatan tidak berhenti pada alternatif lokasi.

Sinolog Prancis terkemuka Paul Pelliot memberikan kritik yang jauh lebih tegas.

Dalam tulisannya Encore à propos des voyages de Tcheng Houo yang diterbitkan pada 1936, Pelliot membahas identifikasi Pa-t’a yang sebelumnya digunakan berdasarkan Hirth dan Rockhill.

Menurut Pelliot, identifikasi tersebut keliru.

Argumennya penting untuk dicatat.

Pelliot menilai bentuk Pa-t’a mengandaikan rekonstruksi bunyi yang lebih dekat kepada bentuk seperti Batap atau Bartap, bukan secara sederhana “Batak”.

Ia juga berpendapat bahwa negeri tersebut bukan berada di Sumatra, melainkan di Semenanjung Malaya.

Dengan demikian, keberatan Pelliot bukan sekadar karena ia mempunyai lokasi alternatif. Ia juga mengajukan persoalan linguistik/fonetik dalam menghubungkan transkripsi Tiongkok Pa-t’a dengan nama Batak.

Ini merupakan bantahan serius terhadap identifikasi Pa-t’a = Batak.


Mengapa Para Peneliti Bisa Berbeda Pendapat?

Perbedaan tersebut memperlihatkan kesulitan penelitian sejarah kawasan Asia Tenggara sebelum tersedia dokumentasi geografis modern.

Ada beberapa persoalan.

Pertama, transkripsi nama asing dalam sumber Tiongkok.

Nama tempat dari Asia Tenggara harus direpresentasikan menggunakan sistem tulisan dan bunyi Tiongkok. Bentuk tertulis yang sampai kepada kita tidak selalu dapat dikembalikan dengan pasti kepada nama aslinya.

Kedua, perubahan bunyi selama berabad-abad.

Cara karakter Tiongkok diucapkan pada masa Zhao Rugua tidak selalu sama dengan pengucapan bahasa Mandarin modern.

Ketiga, urutan geografis dalam sumber lama tidak selalu merupakan peta perjalanan yang presisi.

Keempat, nama suatu pelabuhan, kerajaan, sungai atau wilayah dapat berubah, berpindah, atau hilang.

Kelima, terdapat risiko bahwa kemiripan bunyi membuat peneliti menghubungkan dua nama yang sebenarnya tidak berhubungan.

Karena alasan-alasan tersebut, Pa-t’a menjadi contoh penting bagaimana satu kata dalam sebuah sumber abad XIII dapat menghasilkan perdebatan selama lebih dari satu abad penelitian modern.


Bagaimana Penelitian Indonesia Mencatat Pa-t’a?

Interpretasi Pa-t’a sebagai Batak kemudian cukup dikenal dalam penulisan sejarah Indonesia.

Arkeolog dan sejarawan Indonesia R. Soekmono, misalnya, menuliskan Pa-t’a dengan keterangan "(Batak)" ketika membahas daerah-daerah yang disebut dalam sumber Zhao Rugua.

Di sisi lain, publikasi penelitian arkeologi Indonesia juga mencatat adanya perbedaan pendapat antara Schlegel, Rouffaer, Gerini, dan Braddell.

Dengan demikian, bahkan dalam literatur Indonesia sendiri sebenarnya tersedia jejak bahwa identifikasi tersebut tidak tunggal.

Ini penting karena pembaca modern mungkin menemukan buku yang langsung menuliskan:

Pa-t’a = Batak

tanpa mengetahui bahwa tanda sama dengan tersebut merupakan hasil interpretasi historiografis, bukan kalimat yang secara eksplisit ditulis Zhao Rugua.


Penilaian Daniel Perret dan Arsip Nasional Republik Indonesia

Dalam pengantar sebuah dokumen VOC tahun 1701 yang diterbitkan kembali oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dalam proyek Harta Karun, sejarawan Daniel Perret kembali membahas sumber-sumber awal mengenai Batak.

Perret menyebut bahwa pada awal abad XIII Zhao Rugua menulis mengenai sebuah negeri bernama Pa-t’a yang berada di bawah San-fo-ts’i.

Ia kemudian menyatakan bahwa hubungan antara Pa-t’a dan Bata secara umum diterima.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa identifikasi Pa-t’a dengan Bata tetap mempunyai dukungan dalam penelitian modern.

Namun untuk kepentingan Catatan Jejak Sejarah Batak, pernyataan tersebut harus dibaca berdampingan dengan keberatan Pelliot serta alternatif lokasi yang pernah diajukan Gerini dan Braddell.

Dengan demikian kita tidak memilih satu pendapat dan menghapus pendapat lainnya.


Ada Petunjuk Lain pada Abad XIII: Ma-da

Daniel Perret juga mencatat petunjuk lain yang menarik.

Sejarah resmi Dinasti Yuan, Yuanshi, mencatat kedatangan utusan dari sebuah tempat bernama Ma-da ke istana Kaisar Tiongkok pada 1285.

Menurut penjelasan yang dikutip Perret, terdapat kemungkinan bahwa suku kata ma dalam konteks dialek Fujian dapat berkaitan dengan bunyi ba. Karena itu Ma-da juga pernah dipertimbangkan sebagai kemungkinan yang berhubungan dengan Bata.

Namun sekali lagi:

kemungkinan bukan kepastian.

Keterangan Ma-da menjadi petunjuk tambahan yang harus ditelusuri tersendiri dan tidak boleh digunakan begitu saja untuk membuktikan Pa-t’a = Batak.

Catatan mengenai Ma-da layak mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut dalam rangkaian penelusuran berikutnya.


Apa yang Sebenarnya Bisa Kita Simpulkan?

Berdasarkan sumber dan perdebatan yang telah diperiksa dalam Catatan #001, terdapat satu fakta yang dapat dinyatakan dengan aman:

Sumber Tiongkok awal abad XIII mencatat nama Pa-t’a.

Yang belum dapat dinyatakan sebagai fakta tanpa kualifikasi adalah:

Pa-t’a pasti Batak.

Hubungan tersebut merupakan hasil identifikasi para peneliti kemudian.

Schlegel mengusulkan hubungan dengan Batta.

Rouffaer juga dikaitkan dengan identifikasi Pa-t’a sebagai Batak.

Soekmono menggunakan identifikasi Pa-t’a (Batak) dalam sejarah Indonesia.

Daniel Perret menyatakan hubungan Pa-t’a dan Bata secara umum diterima.

Namun Gerini mengajukan Pedada/Pidada.

Braddell mengarahkannya ke kawasan Sungai Paka di Terengganu.

Paul Pelliot secara tegas menilai identifikasi Pa-t’a dengan Batak keliru berdasarkan pertimbangan fonetik dan geografis.

Oleh sebab itu, Jejak Sejarah Batak tidak menetapkan Pa-t’a sebagai bukti mutlak keberadaan Batak pada awal abad XIII.

Pa-t’a kita tempatkan sebagai:

salah satu kandidat jejak tertulis awal yang telah lama dikaitkan dengan Batak, tetapi identifikasinya masih mempunyai sejarah perdebatan ilmiah.


Mengapa Catatan Ini Tetap Penting?

Justru ketidakpastian tersebut membuat Pa-t’a penting untuk dicatat.

Sejarah tidak hanya terdiri dari jawaban yang telah selesai.

Sejarah juga terdiri dari sumber, pembacaan, perdebatan, koreksi, dan perubahan pengetahuan.

Apabila suatu hari ditemukan bukti baru yang memperkuat Pa-t’a sebagai Batak, Catatan #001 menjadi rekaman mengenai bagaimana identifikasi tersebut berkembang.

Sebaliknya, apabila penelitian baru membuktikan secara meyakinkan bahwa Pa-t’a berada di Semenanjung Malaya dan sama sekali bukan Batak, catatan ini tetap memiliki nilai karena merekam bagaimana nama tersebut pernah ditempatkan dalam historiografi Batak.

Karena tujuan proyek ini bukan mempertahankan satu versi sejarah.

Tujuannya adalah mencatat jejaknya.


Status Bukti Catatan #001

TERVERIFIKASI:
Nama Pa-t’a terdapat dalam tradisi sumber Tiongkok yang dibahas melalui Zhu Fan Zhi/Chu-fan-chi Zhao Rugua.

INTERPRETASI YANG MENDUKUNG:
Pa-t’a pernah diidentifikasi atau dihubungkan dengan Batta/Batak oleh sejumlah peneliti, termasuk Schlegel dan Rouffaer, dan identifikasi tersebut kemudian digunakan dalam sebagian historiografi Indonesia.

INTERPRETASI ALTERNATIF:
Gerini menghubungkannya dengan Pedada/Pidada. Braddell menempatkannya di kawasan Sungai Paka di Semenanjung Malaya.

BANTAHAN:
Paul Pelliot menilai identifikasi Pa-t’a dengan Batak keliru dan mengajukan keberatan berdasarkan rekonstruksi bunyi serta lokasi geografis.

KESIMPULAN SEMENTARA:
Pa-t’a merupakan kandidat penting dalam pencarian jejak tertulis awal Batak, tetapi berdasarkan bukti yang diperiksa dalam Catatan #001, identitas Pa-t’a sebagai Batak belum layak diperlakukan sebagai kepastian sejarah.

STATUS PENELUSURAN:
Terbuka. Kesimpulan dapat diperbarui apabila ditemukan sumber primer, penelitian linguistik historis, epigrafi, arkeologi, atau kajian lain yang memberikan bukti lebih kuat.


Daftar Sumber dan Pustaka

  1. Zhao Rugua (Chau Ju-kua). Zhu Fan Zhi / Chu-fan-chi. Awal abad XIII. Sumber Tiongkok mengenai negeri-negeri dan perdagangan maritim Asia.

  2. Hirth, Friedrich & W.W. Rockhill. Chau Ju-Kua: His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteenth Centuries, Entitled Chu-fan-chi. St. Petersburg: Imperial Academy of Sciences, 1911. Lihat pembahasan Pa-t’a, khususnya catatan pada halaman 66.

  3. Pelliot, Paul. “Encore à propos des voyages de Tcheng Houo.” T'oung Pao, 1936. Pelliot menolak identifikasi Pa-t’a dengan Batak dan membahas persoalan rekonstruksi bunyi serta lokasinya di Semenanjung Malaya.

  4. Soekmono, R. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius. Dalam pembahasan sumber Zhao Rugua, Pa-t’a dicantumkan sebagai Batak.

  5. Perret, Daniel. “Inquiry of a Chinese Trader about the Batak People in North Sumatra, 1 March 1701.” Dalam Harta Karun: Hidden Treasures on Indonesian and Asian-European History from the VOC Archives in Jakarta, Dokumen 9. Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia, 2013. Pengantar tulisan membahas Pa-t’a, Ma-da, serta perkembangan sumber awal mengenai Batak.

  6. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Harta Karun: Inquiry of a Chinese Trader about the Batak People in North Sumatra, 1 March 1701. Sumber arsip: ANRI HR 2521, fols. 113–114. Digunakan terutama untuk pengantar historiografis Daniel Perret mengenai sumber-sumber awal Batak.

  7. Proceedings Pertemuan Ilmiah Arkeologi V, Jilid I. Publikasi penelitian arkeologi Indonesia. Memuat rangkuman perbedaan identifikasi Pa-t’a oleh Schlegel, Rouffaer, Gerini, dan Braddell.


Catatan Metodologis

Nama geografis modern dalam Catatan #001 hanya digunakan untuk membantu pembaca mengenali perkiraan lokasi yang dibahas oleh para peneliti.

Nama seperti Indonesia, Sumatera Utara, Malaysia, dan Terengganu dalam konteks penjelasan modern tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa pembagian politik dan administratif tersebut telah ada pada abad XIII.

Demikian pula istilah “Batak” tidak diterapkan secara otomatis kepada setiap penduduk pedalaman bagian utara Sumatra pada periode tersebut tanpa dukungan sumber.

Catatan ini membedakan antara apa yang tertulis dalam sumber, identifikasi yang dibuat peneliti kemudian, dan kesimpulan yang dapat ditarik berdasarkan bukti yang tersedia.


JEJAK SEJARAH BATAK
Catatan #001

Penelusuran berbasis teknologi · Dicatat oleh Armando Sinaga