PUSTAHA • CATATAN
DOSSIER KALDERA TOBA — Catatan #002: Formasi Sibaganding, Membaca Batuan yang Lebih Tua dari Toba
Penelusuran Dossier Kaldera Toba masih berada di Sibaganding. Catatan #002 membongkar apa yang disebut Formasi Sibaganding, hubungannya dengan Formasi Kualu dan Anggota Batugamping Sibaganding, serta perbedaan rentang umur yang tercatat dalam sejumlah sumber. Alih-alih memilih satu angka sebagai kepastian, PUSTAHA mengikuti bukti dan mencatat bagaimana para peneliti mencoba membaca sejarah batuan yang terbentuk jauh sebelum Kaldera Toba seperti yang kita kenal sekarang.
Dipublikasikan 5 September 2026

Melanjutkan Catatan #001
Catatan #001 membawa Dossier Kaldera Toba memasuki Sibaganding dari arah Pematangsiantar menuju Parapat.
Kita menemukan sesuatu yang sejak awal mengubah cara membaca kawasan ini: Sibaganding bukan sekadar tempat untuk melihat jejak letusan Toba. Di kawasan yang relatif kecil ini terdapat batuan beku, metamorf, sedimen, dan piroklastik yang merekam proses geologi dari masa yang sangat berbeda.
Sekarang penyelidikan berhenti pada sebuah nama yang terdengar sederhana:
Sibaganding.
Nama tersebut muncul sebagai nama kawasan, nama geosite, nama formasi dalam sebagian uraian stratigrafi, sekaligus muncul dalam istilah Anggota Batugamping Sibaganding pada Formasi Kualu.
Apakah semuanya berarti hal yang sama?
Ternyata tidak sesederhana itu.
Catatan Redaksi PUSTAHA
DOSSIER KALDERA TOBA merupakan catatan penelusuran dan pembelajaran PUSTAHA berdasarkan publikasi ilmiah, peta geologi, dokumen lembaga, dan sumber yang dapat diverifikasi.
Penulis bukan ahli geologi dan tidak mewakili Badan Geologi, BMKG, BRIN, pengelola Geopark Kaldera Toba, universitas, ataupun lembaga penelitian lainnya.
Ketika sumber menggunakan klasifikasi, nama satuan, atau rentang umur yang berbeda, Dossier tidak akan menyatukannya secara paksa.
Perbedaan tersebut akan dicatat.
Hal ini penting karena rekonstruksi sejarah geologi dibangun dari bukti yang tersisa, metode penelitian, pemetaan, fosil, hubungan antar-lapisan, analisis laboratorium, serta interpretasi yang dapat berkembang ketika data baru tersedia.
Apa Sebenarnya yang Disebut Formasi?
Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu memahami istilah yang akan berulang dalam Dossier ini.
Dalam stratigrafi, formasi pada dasarnya merupakan satuan batuan yang dapat dikenali berdasarkan karakteristik geologinya dan cukup berbeda untuk dipetakan sebagai suatu unit.
Karena itu, nama seperti Formasi Kualu, Formasi Bohorok, atau Formasi Sibaganding bukan sekadar nama sebuah tempat wisata atau desa.
Nama geografis sering digunakan untuk memberi nama satuan batuan karena kawasan tersebut menjadi lokasi penting tempat satuan itu tersingkap atau dipelajari.
Dokumentasi Geopark Kaldera Toba bahkan menyatakan bahwa lokasi tipe Formasi Sibaganding berada di daerah Sibaganding di sisi timurlaut Danau Toba.
Dengan demikian, nama sebuah tempat dapat sekaligus hidup dalam dua dunia:
Sibaganding sebagai wilayah geografis, dan
Sibaganding sebagai nama dalam pembagian stratigrafi.
Keduanya jangan otomatis dianggap identik.
Di Bawah Toba Ternyata Ada Cerita yang Jauh Lebih Tua
Dokumentasi mengenai batuan dasar Kaldera Toba menggambarkan urutan batuan yang jauh mendahului aktivitas vulkanik Kuarter Toba.
Dalam uraian Geopark Kaldera Toba, kawasan Toba disebut beralaskan rangkaian batuan Paleozoikum–Mesozoikum.
Di antara satuan yang disebut adalah batuan metamorf dan sedimen tua, Formasi Bohorok, Formasi Kualu, Formasi Sibaganding, kemudian Formasi Parapat.
Jauh setelah bagian-bagian sejarah tersebut berlangsung, aktivitas vulkanik yang berkaitan dengan kompleks Toba menghasilkan batuan dan endapan yang lebih muda.
Dengan kata lain:
sejarah Kaldera Toba tidak dimulai ketika gunung apinya meletus.
Jauh sebelum sistem vulkanik Toba berkembang, wilayah yang sekarang mengelilingi Danau Toba telah mempunyai sejarah laut, sedimentasi, deformasi, metamorfisme, magmatisme, dan perubahan lingkungan.
Sibaganding menjadi salah satu tempat untuk membaca bagian sejarah tersebut.
Formasi Kualu Datang Lebih Dahulu
Menurut uraian Geopark Kaldera Toba, Formasi Kualu ditempatkan pada umur Trias hingga Yura dalam Era Mesozoikum.
Formasi tersebut digambarkan antara lain tersusun oleh rangkaian batugamping dan disebut tersebar di sekitar pantai utara–timur Danau Toba, termasuk wilayah Sibaganding.
Dalam urutan yang diberikan sumber tersebut, Formasi Kualu kemudian ditutupi oleh satuan yang disebut Formasi Sibaganding.
Ini penting.
Sebab ketika kita nanti menemukan kata “Sibaganding” pada sebuah batu kapur, belum tentu yang sedang dibicarakan adalah Formasi Sibaganding.
Ada istilah lain yang harus diperhatikan:
Sibaganding Limestone Member, atau Anggota Batugamping Sibaganding, yang dalam peta/literatur tertentu ditempatkan sebagai bagian dari Formasi Kualu.
Inilah sumber potensi kebingungan yang harus kita pisahkan sejak sekarang.
Anggota Batugamping Sibaganding Tidak Otomatis Sama dengan Formasi Sibaganding
Penelitian Harga Putri Sitohang, Muhammad Rizqy Septyandy, dan Resty Intan Putri yang diterbitkan pada 2025 menggunakan Peta Geologi Lembar Sidikalang dan sebagian Sinabang sebagai kerangka geologi regional.
Dalam penjelasan mereka, wilayah penelitian sekitar 22 km² di Desa Sibaganding mencakup beberapa satuan regional.
Salah satunya disebut:
Kualu Formation — Sibaganding Limestone Member.
Penelitian tersebut menganalisis sampel batugamping secara megaskopis dan mikroskopis.
Untuk sampel limestone mudstone dan crystalline limestone yang mereka kaji, para penulis menempatkannya berdasarkan geologi regional pada Formasi Kualu, Anggota Batugamping Sibaganding, dan menyebut rentang Permian Akhir hingga Trias Akhir.
Sementara itu, halaman Batuan Dasar Toba Caldera milik Geopark Kaldera Toba memberikan uraian bahwa Formasi Kualu berumur Trias–Yura.
Lalu sumber yang sama menyebut sebuah Formasi Sibaganding yang berada di atas Formasi Kualu.
Jadi kita sekarang mempunyai sedikitnya dua penggunaan nama yang harus dibedakan:
Anggota Batugamping Sibaganding — bagian dari Formasi Kualu
dan
Formasi Sibaganding — satuan yang dalam uraian Geopark ditempatkan di atas Formasi Kualu.
Keduanya sama-sama membawa nama Sibaganding.
Tetapi keduanya tidak boleh langsung dianggap sebagai satu unit batuan yang sama.
Di Sini Perbedaan Sumber Mulai Terlihat
Justru pada tahap ini prinsip Dossier kita diuji.
Halaman Geopark Kaldera Toba mengenai batuan dasar menyatakan bahwa Formasi Kualu berumur Trias sampai Yura.
Penelitian Sibaganding 2025, ketika membahas sampel Anggota Batugamping Sibaganding dari Formasi Kualu berdasarkan geologi regional, menyebut Permian Akhir sampai Trias Akhir.
Ini bukan perbedaan kecil yang boleh kita hapus begitu saja.
Tetapi kita juga tidak boleh buru-buru mengatakan:
“Salah satu sumber pasti salah.”
Ada beberapa kemungkinan yang perlu diperiksa lebih jauh.
Bisa saja sumber sedang menggunakan pembagian stratigrafi yang berbeda.
Bisa saja rentang yang disebut berlaku terhadap unit atau anggota tertentu, bukan keseluruhan formasi.
Bisa pula terjadi perkembangan atau perbedaan interpretasi pemetaan regional.
Dan bisa saja penyederhanaan informasi pada bahan edukasi geopark menghasilkan rentang yang lebih umum daripada publikasi teknis.
Dossier belum mempunyai dasar yang cukup untuk memilih salah satu sebagai keputusan final.
Maka keduanya kita catat.
Bahkan Dalam Satu Sumber Geopark Ada Rentang yang Perlu Diperhatikan
Ada hal lain yang menarik.
Pada halaman Batuan Dasar Toba Caldera, Geopark Kaldera Toba terlebih dahulu menyebut Formasi Sibaganding mempunyai kisaran umur Kapur sampai Eosen.
Namun beberapa paragraf kemudian, halaman yang sama menyebut batuan Formasi Sibaganding mempunyai kisaran umur Kapur sampai Oligosen.
Artinya, bahkan pada satu halaman sumber terdapat dua penyajian rentang yang tidak sepenuhnya sama:
Kapur–Eosen
dan
Kapur–Oligosen.
Dossier ini tidak akan diam-diam memilih salah satunya.
Kita mencatat keduanya.
Perbedaan tersebut bisa berasal dari cara penyusunan teks, penggunaan referensi berbeda, pembagian stratigrafi tertentu, atau bahkan kemungkinan ketidakkonsistenan editorial.
Tanpa menemukan rujukan primer yang menjadi dasar masing-masing kalimat, kita tidak mempunyai alasan untuk menetapkan penyebabnya.
Karena itu statusnya adalah:
PERLU VERIFIKASI LEBIH LANJUT.
Seberapa Tua Itu?
Untuk memberikan gambaran kepada pembaca, periode-periode yang sedang kita bicarakan berada sangat jauh sebelum manusia.
Permian berakhir sekitar 252 juta tahun lalu.
Trias berlangsung kira-kira 252–201 juta tahun lalu.
Yura sekitar 201–145 juta tahun lalu.
Kapur sekitar 145–66 juta tahun lalu.
Eosen sekitar 56–34 juta tahun lalu.
Oligosen sekitar 34–23 juta tahun lalu.
Angka batas zaman geologi sendiri ditetapkan dan diperbarui melalui skala waktu geologi internasional, sehingga angka tersebut digunakan sebagai kerangka waktu, bukan umur langsung sebuah batu tertentu di Sibaganding.
Tetapi perbandingannya sudah menunjukkan sesuatu yang luar biasa:
sebagian sejarah batuan yang sedang kita telusuri dapat mendahului letusan Youngest Toba Tuff sekitar 74 ribu tahun lalu dengan selisih puluhan hingga ratusan juta tahun.
Kita seperti sedang membaca buku yang beberapa babnya dipisahkan oleh rentang waktu yang hampir sulit dibayangkan.
Apa Isi Formasi Sibaganding Menurut Dokumentasi Geopark?
Dokumentasi Geopark menggambarkan Formasi Sibaganding sebagai rangkaian yang antara lain terdiri dari:
- batugamping bioklastika,
- batupasir glaukonitan,
- batulumpur,
- dan konglomerat.
Sumber tersebut juga menginterpretasikan lingkungan pengendapannya dari sublitoral laut terbuka yang kemudian berlanjut menuju lingkungan fluviatil.
Kalimat ini membawa kita pada gambaran yang sama sekali berbeda dari Danau Toba sekarang.
Batuan tersebut merekam lingkungan sedimentasi yang ada jauh sebelum bentang Kaldera Toba modern terbentuk.
Tetapi kita harus berhati-hati dengan cara mengatakannya.
Kita tidak boleh berdiri di Sibaganding lalu berkata:
“Di sinilah dahulu laut berada,”
hanya berdasarkan pemandangan sekarang.
Yang lebih tepat adalah:
“Satuan batuan yang oleh sumber geologi ditempatkan dalam Formasi Sibaganding diinterpretasikan terbentuk dalam lingkungan pengendapan yang mencakup kondisi sublitoral laut terbuka hingga fluviatil.”
Perbedaannya terlihat kecil.
Secara ilmiah, perbedaannya sangat besar.
Yang pertama adalah klaim langsung kita.
Yang kedua adalah penyampaian hasil interpretasi geologi dengan atribusi yang jelas.
Bagaimana Peneliti Membaca Batuan Sibaganding?
Penelitian 2025 memberikan kesempatan menarik untuk melihat bagaimana pekerjaan geologi dilakukan.
Para peneliti tidak sekadar melihat sebuah batu dari kejauhan.
Penelitian tersebut dilakukan melalui tahapan pra-lapangan, lapangan, dan pascalapangan.
Sampel diambil untuk mewakili unit batuan di daerah penelitian.
Kemudian karakter batuan diperiksa secara megaskopis dan mikroskopis menggunakan mikroskop polarisasi.
Komposisi mineral dihitung dan klasifikasi petrologi digunakan untuk membantu menentukan nama serta karakter batuannya.
Dari sepuluh sampel sayatan tipis dan tiga sampel tanpa sayatan tipis yang dianalisis, penelitian tersebut mengidentifikasi keragaman yang luar biasa.
Di wilayah penelitian terdapat batuan yang mereka klasifikasikan sebagai antara lain:
- diorit kuarsa,
- quartzolite,
- hornfels,
- mylonite,
- slate,
- tuf kristal,
- tuf vitrik,
- batugamping,
- batulempung,
- batupasir sangat halus,
- dan konglomerat.
Ini memperkuat satu kesimpulan penting dari Catatan #001:
Sibaganding bukan satu tebing dengan satu cerita.
Enam Fase yang Dibaca Penelitian 2025
Berdasarkan karakter batuan dan geologi regional, Sitohang dan rekan-rekan membagi proses geologi daerah penelitian menjadi enam fase utama.
Pertama, proses metamorfisme.
Batuan metamorf menunjukkan adanya perubahan batuan akibat kondisi tekanan, temperatur, dan deformasi.
Kedua, fase lingkungan laut dangkal.
Keberadaan batuan karbonat digunakan untuk menginterpretasikan periode sedimentasi dalam lingkungan laut dangkal atau platform karbonat.
Ketiga, fase milonitisasi.
Mylonite yang ditemukan menunjukkan adanya deformasi kuat pada zona geser. Penelitian tersebut menghubungkannya dengan struktur sesar regional yang mempunyai arah dominan tertentu dan menginterpretasikan proses tersebut dalam konteks Neogen.
Keempat, fase sedimentasi dan transisi lingkungan pengendapan.
Konglomerat, batupasir, dan batulempung merekam kondisi transportasi serta pengendapan yang berbeda.
Kelima, fase intrusi magmatik.
Keberadaan batuan beku intrusif menunjukkan episode aktivitas magma.
Keenam, fase aktivitas vulkanik.
Tuf kristal dan tuf vitrik menunjukkan proses vulkanik yang datang kemudian.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa keseluruhan rangkaian menggambarkan sejarah geologi kompleks dari masa pra-Tersier hingga Kuarter.
Dan di sinilah Sibaganding mulai menunjukkan nilai sebenarnya bagi Dossier kita.
Di tempat yang relatif kecil, batuan dapat membawa kita melintasi bagian besar sejarah geologi kawasan.
Batuan Kapur Membawa Kita Kembali ke Laut
Dua sampel batugamping dalam penelitian 2025 sangat relevan dengan penelusuran kita.
Satu diidentifikasi sebagai limestone mudstone, sedangkan lainnya sebagai crystalline limestone.
Peneliti menghubungkan keduanya dengan Formasi Kualu, Anggota Batugamping Sibaganding berdasarkan geologi regional.
Batugamping pada dasarnya dapat menyimpan informasi mengenai lingkungan tempat material karbonat dahulu terbentuk dan mengalami perubahan.
Penelitian tersebut menginterpretasikan limestone mudstone sebagai terbentuk pada lingkungan laut yang relatif tenang atau perairan relatif dangkal.
Crystalline limestone menunjukkan perubahan tekstur akibat proses diagenesis.
Sekali lagi, informasi ini tidak berarti setiap batu kapur yang terlihat dari kendaraan di jalur Sibaganding dapat langsung diberi identitas tersebut.
Sampel penelitian mempunyai lokasi dan konteks geologi tertentu.
Kemiripan visual bukan bukti identitas geologi.
Prinsip itu akan terus kita bawa ke lapangan.
Dari Laut, Deformasi, Magma, Hingga Toba
Sekarang bayangkan seluruh urutan tersebut secara sederhana.
Ada batuan yang merekam sedimentasi.
Ada batuan yang kemudian mengalami metamorfisme.
Ada deformasi yang menghasilkan batuan seperti mylonite.
Ada aktivitas magma yang menghasilkan atau mengintrusi batuan beku.
Kemudian ada aktivitas vulkanik yang meninggalkan material piroklastik.
Pada sampel tuf vitrik yang dianalisis penelitian 2025, penulis mengaitkannya berdasarkan geologi regional dengan Tuf Toba berumur Pleistosen.
Dengan demikian, dalam wilayah penelitian yang sama terdapat batuan yang secara regional ditempatkan pada sejarah pra-Tersier serta produk vulkanik Kuarter.
Itulah sebabnya istilah “batuan Toba” harus digunakan dengan sangat hati-hati.
Toba modern berdiri di atas panggung geologi yang jauh lebih tua daripada sistem vulkaniknya sendiri.
Jadi, Apakah Tebing Sibaganding Berumur 100–250 Juta Tahun?
Sekarang kita kembali kepada kalimat yang sangat mudah menjadi judul viral.
“Tebing menuju Parapat berumur ratusan juta tahun.”
Apakah kita boleh mengatakannya?
Belum dalam bentuk seluas itu.
Dokumentasi Geopark memang menggunakan rentang Mesozoikum dan pada materi Geosite Sibaganding memberikan gambaran sekitar 100–250 juta tahun untuk batu kapur tua di kawasan tersebut.
Tetapi setelah menelusuri sumber lebih jauh, kita menemukan pembagian yang lebih kompleks.
Ada Formasi Kualu.
Ada Anggota Batugamping Sibaganding.
Ada Formasi Sibaganding dalam uraian stratigrafi lain.
Rentang umur yang diberikan sumber pun tidak identik.
Karena itu Dossier mengambil posisi:
Ada batuan sangat tua di kawasan Sibaganding yang jauh mendahului vulkanisme Kuarter Toba.
Tetapi:
umur setiap tebing atau singkapan tertentu tidak boleh ditentukan hanya berdasarkan lokasinya berada di Sibaganding.
Itulah pernyataan yang lebih kuat secara ilmiah.
Sebuah Masalah Nama yang Justru Sangat Penting
Penelusuran ini mengajarkan sesuatu yang mungkin tidak terlihat menarik pada awalnya.
Nama geologi sangat penting.
Jika kita keliru menganggap Anggota Batugamping Sibaganding dari Formasi Kualu sebagai sesuatu yang identik dengan Formasi Sibaganding, kita dapat mencampurkan dua posisi stratigrafi dan kemudian menghasilkan kesimpulan umur yang keliru.
Perbedaan nomenklatur juga dapat muncul akibat sejarah pemetaan, perubahan korelasi stratigrafi, atau penggunaan terminologi yang berbeda oleh peneliti.
Karena itu setiap kali Dossier menemukan nama suatu satuan, kita akan bertanya:
Siapa yang menamainya?
Peta atau publikasi mana yang digunakan?
Apakah itu formasi, anggota, atau hanya nama lokasi?
Bagaimana umur satuan tersebut ditentukan?
Pertanyaan seperti inilah yang mencegah kita mengubah informasi geologi yang kompleks menjadi cerita yang salah hanya karena namanya terdengar sama.
Apa yang Akan Kita Katakan di Lapangan?
Ketika PUSTAHA kelak berdiri di kawasan Sibaganding, narasi yang aman dapat berbunyi:
“Di kawasan Sibaganding terdapat batuan dengan umur dan sejarah pembentukan yang sangat berbeda. Literatur geologi bahkan menggunakan nama Sibaganding dalam beberapa konteks stratigrafi. Karena itu kami tidak akan menentukan umur sebuah tebing hanya dari penampilannya. Kami sedang mencoba mencocokkan apa yang terlihat di lapangan dengan peta dan penelitian yang sudah diterbitkan.”
Kalimat itu mungkin tidak sesensasional:
“Saya sedang berdiri di depan batu berumur 200 juta tahun.”
Tetapi justru itulah posisi PUSTAHA.
Jika suatu singkapan nantinya dapat dicocokkan secara kuat dengan unit geologi tertentu, barulah informasi yang lebih spesifik dapat diberikan dengan menyebut sumbernya.
Perbedaan yang Dicatat Dossier #002
Untuk menjaga jejak penelitian, berikut perbedaan penting yang ditemukan sejauh ini.
Pertama — umur Formasi Kualu.
Dokumentasi Geopark Kaldera Toba menyebut Trias–Yura.
Penelitian Sibaganding 2025 menyebut sampel Anggota Batugamping Sibaganding dalam Formasi Kualu berdasarkan geologi regional sebagai Permian Akhir–Trias Akhir.
Status: belum disatukan.
Kedua — umur Formasi Sibaganding dalam dokumentasi Geopark.
Pada satu bagian disebut Kapur–Eosen.
Pada bagian lain halaman yang sama disebut Kapur–Oligosen.
Status: terdapat ketidakkonsistenan yang memerlukan penelusuran sumber stratigrafi primer.
Ketiga — penggunaan nama Sibaganding.
Terdapat istilah Geosite Sibaganding, Formasi Sibaganding, dan Anggota Batugamping Sibaganding dari Formasi Kualu.
Status: ketiganya tidak boleh dianggap sinonim.
Tingkat Keyakinan Catatan #002
TINGGI
Bahwa wilayah Sibaganding memiliki keragaman batuan dan sejarah geologi kompleks. Hal ini didukung penelitian petrografi 2025 dan pemetaan geologi regional yang digunakan penelitian tersebut.
TINGGI
Bahwa penelitian 2025 mengidentifikasi batuan beku, metamorf, piroklastik, serta sedimen dalam daerah penelitian Sibaganding dan membagi sejarah proses geologinya ke dalam beberapa fase.
TINGGI
Bahwa nomenklatur Kualu Formation — Sibaganding Limestone Member digunakan dalam penelitian 2025 berdasarkan geologi regional.
SEDANG
Untuk penyederhanaan rentang umur berbagai satuan berdasarkan materi edukasi Geopark, karena terdapat perbedaan rentang dan nomenklatur yang perlu dibandingkan dengan peta serta publikasi stratigrafi primer.
BELUM DITETAPKAN
Umur sebuah tebing tertentu yang nantinya direkam PUSTAHA di jalan Sibaganding–Parapat tanpa terlebih dahulu memastikan posisi dan unit geologinya.
Apa yang Berubah dari Pemahaman Kita?
Pada Catatan #001 kita mengetahui bahwa Sibaganding mempunyai batuan yang jauh lebih tua daripada letusan Toba sekitar 74 ribu tahun lalu.
Catatan #002 membuat pemahaman tersebut lebih presisi.
Kita sekarang mengetahui bahwa mengatakan “Formasi Sibaganding” saja belum cukup.
Ada persoalan nomenklatur dan stratigrafi yang harus dipisahkan.
Kita juga menemukan bahwa umur yang dicantumkan oleh sumber tidak selalu sama.
Alih-alih menjadi kelemahan, hal tersebut justru menunjukkan bagaimana Dossier harus bekerja:
jangan menghapus ketidakpastian untuk membuat cerita terlihat sederhana.
Pertanyaan Berikutnya
Tetapi sebuah pertanyaan jauh lebih menarik sekarang muncul.
Jika sebagian batuan Sibaganding terbentuk ketika kawasan ini mempunyai lingkungan laut, bagaimana batuan tersebut akhirnya berada pada kawasan pegunungan tinggi di sekitar Kaldera Toba sekarang?
Apa yang mengangkat, melipat, mematahkan, mengubah, atau menyingkap batuan tersebut?
Dan ketika kita melihat lapisan batuan yang tampak miring atau terdeformasi di sepanjang jalur menuju Parapat, proses apa yang sebenarnya sedang kita lihat?
Untuk menjawabnya, kita belum boleh meninggalkan Sibaganding.
Catatan berikutnya akan menelusuri:
lipatan, deformasi, metamorfisme dan struktur geologi Sibaganding.
Di sana perjalanan mulai bergeser dari pertanyaan “berapa umur batuannya?” menuju pertanyaan yang lebih besar:
“Apa yang telah terjadi pada batuan tersebut setelah terbentuk?”
Sumber & Referensi
-
Sitohang, H.P., Septyandy, M.R., & Putri, R.I. (2025). Study Petrogenesis and Phase of Rock Formation in the Sibaganding Area, Girsang Sipangan Bolon District, Simalungun Regency, North Sumatra Province. Proceedings of the International Conference on Tropical Studies and Its Application (ICTROPS 2024), Advances in Engineering Research 263, hlm. 127–140. Atlantis Press. DOI: 10.2991/978-94-6463-732-8_12.
-
Aldiss, D.T., Whandoyo, R., Ghazali, S.A., & Kusyono. (1983). Peta Geologi Lembar Sidikalang dan (Sebagian) Sinabang, Sumatra. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung. Peta ini menjadi salah satu rujukan geologi regional yang digunakan dalam penelitian Sibaganding 2025.
-
Geopark Kaldera Toba. (2024). Batuan Dasar Toba Caldera. Dokumentasi mengenai stratigrafi batuan dasar kawasan Toba, termasuk Formasi Kualu, Formasi Sibaganding, dan Formasi Parapat. https://calderatobageopark.org/2024/10/batuan-dasar-toba-caldera/
-
Geopark Kaldera Toba. Geodiversity. Uraian geodiversitas dan stratigrafi kawasan Kaldera Toba, termasuk lokasi tipe serta lingkungan pengendapan Formasi Sibaganding. https://calderatobageopark.org/geodiversity/
-
Geopark Kaldera Toba. Geosite Sibaganding — Simalungun. Dokumentasi objek geologi kawasan Sibaganding, termasuk Monkey Forest, Batu Gantung dan Batu Kapur. https://calderatobageopark.org/geosite-sibaganding-simalungun/
-
Barber, A.J., Crow, M.J., & Milsom, J.S. (eds.) (2005). Sumatra: Geology, Resources and Tectonic Evolution. Geological Society, London, Memoirs 31. Digunakan sebagai salah satu rujukan regional oleh penelitian Sibaganding 2025.
Tanggal penelusuran sumber: 5 September 2026.
Catatan Penutup PUSTAHA
Dossier ini tidak menetapkan umur batuan berdasarkan perkiraan visual.
Angka umur, nama formasi, lingkungan pengendapan dan interpretasi proses geologi yang disebutkan dalam Catatan #002 berasal dari sumber yang dicantumkan atau dijelaskan sebagai interpretasi sumber tersebut.
Jika penelitian berikutnya memberikan klasifikasi atau umur berbeda, informasi tersebut akan dicatat sebagai bagian dari perkembangan pengetahuan, bukan disembunyikan agar catatan lama terlihat selalu benar.
PUSTAHA bukan lembaga penelitian geologi.
Kami sedang membaca penelitian orang-orang yang memang bekerja di bidang tersebut, mencoba memahaminya, mendokumentasikan lokasi yang kelak kami kunjungi, dan meninggalkan jejak bacaan agar dapat diperiksa kembali.
Karena semakin jauh penelusuran ini berjalan, satu hal semakin jelas:
tebing Sibaganding bukan hanya dinding di pinggir jalan menuju Parapat.
Ia adalah kumpulan halaman dari sejarah Bumi yang tidak semuanya ditulis pada waktu yang sama.
