PUSTAHA CATATAN

BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #010] [1890–1900]

Menjelang berakhirnya abad ke-19, sinar-X memperlihatkan bagian dalam tubuh, film menghidupkan gambar bergerak, radio mulai mengirimkan sinyal tanpa kabel, dan minyak menjadi sumber energi baru. Namun, persaingan kekaisaran memicu perang serta perluasan kolonial. Di Nusantara, industri minyak berkembang, eksploitasi tanah dan buruh berlanjut, sementara Perang Aceh memasuki babak baru hingga gugurnya Teuku Umar pada 1899.

Dipublikasikan 3 September 2026

Sampul BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #010] [1890–1900]

Dunia di Penghujung Abad ke-19

Periode 1890–1900 menjadi penutup satu abad yang telah mengubah hubungan manusia dengan Bumi. Ketika abad ke-19 dimulai, sebagian besar perjalanan masih mengandalkan kaki, hewan, angin, dan kapal layar. Menjelang tahun 1900, manusia telah memiliki lokomotif, kapal uap, mobil bermesin, jaringan listrik, telepon, film, sinar-X, serta komunikasi radio dalam tahap awal.

Ilmu pengetahuan mulai menembus sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat. Sinar-X memperlihatkan bagian dalam tubuh tanpa pembedahan. Penelitian mengenai radioaktivitas menunjukkan bahwa atom tidak sesederhana yang diperkirakan. Elektron ditemukan, film merekam gerakan, dan sinyal dapat dikirim tanpa kabel.

Namun, kemampuan baru itu tidak menghapus penderitaan. Kelaparan, wabah pes, perang kolonial, pengusiran masyarakat adat, eksploitasi buruh, dan persaingan kekaisaran tetap menjadi bagian besar kehidupan manusia.

Menjelang tahun 1900, manusia mulai melihat tulang di dalam tubuh dan mengirimkan sinyal melalui udara. Namun, dunia masih belum mampu melihat ketidakadilan yang berdiri tepat di hadapannya.

1890–1900: Bumi Berada di Era Apa?

Fakta

Secara geologi, periode 1890–1900 berada dalam kala Holosen, yaitu masa geologi yang dimulai sekitar 11.700 tahun lalu setelah berakhirnya zaman es terakhir.

Istilah Antroposen sering digunakan dalam pembahasan ilmiah modern untuk menggambarkan masa ketika aktivitas manusia memberi pengaruh besar terhadap sistem Bumi. Namun, Antroposen belum ditetapkan sebagai kala geologi resmi.

Dalam sejarah peradaban, dasawarsa ini berada pada beberapa perkembangan besar:

  • akhir abad ke-19;
  • bagian dari Revolusi Industri Kedua;
  • meluasnya penggunaan listrik, baja, dan minyak;
  • awal kendaraan bermotor;
  • kelahiran film;
  • perkembangan komunikasi radio;
  • kemajuan bakteriologi dan kedokteran;
  • pembentukan perusahaan industri berskala internasional;
  • perluasan imperialisme;
  • serta meningkatnya persaingan antarnegara.

Di Eropa, periode ini kadang ditempatkan dalam masa Belle Époque, terutama karena perkembangan seni, kota, teknologi, dan konsumsi. Namun, sebutan tersebut terutama menggambarkan pengalaman kelompok tertentu di Eropa dan tidak mewakili kehidupan buruh, masyarakat kolonial, korban perang, ataupun penduduk yang menghadapi kelaparan.

Penduduk Dunia

Fakta dan Rekonstruksi

Tidak terdapat sensus global yang menghitung semua manusia secara serentak pada 1890–1900. Jumlah penduduk dunia pada masa tersebut merupakan hasil rekonstruksi dari sensus, catatan pajak, laporan pemerintahan, dan penelitian demografi.

Berbagai dataset memperkirakan bahwa penduduk dunia mendekati 1,6 miliar jiwa pada sekitar tahun 1900. Angka tersebut merupakan estimasi dan dapat berbeda menurut sumber serta metode.

Sebagian besar penduduk tinggal di Asia. Tiongkok dan India menjadi dua kawasan berpenduduk sangat besar. Eropa mengalami pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan migrasi keluar dalam skala besar.

Migrasi berlangsung melalui:

  • perpindahan penduduk desa menuju kota industri;
  • migrasi jutaan orang Eropa menuju Amerika, Australia, dan wilayah lain;
  • pengiriman buruh kontrak India dan Tiongkok;
  • perpindahan pekerja menuju tambang, perkebunan, rel, dan pelabuhan;
  • pengungsian akibat perang, bencana, atau kelaparan;
  • serta pemindahan paksa masyarakat adat dari wilayahnya.

Angka populasi tidak dapat dipisahkan dari kondisi kehidupan. Kelahiran masih tinggi di banyak wilayah, tetapi kematian bayi, penyakit menular, kecelakaan kerja, kekurangan gizi, dan komplikasi persalinan juga masih tinggi.

Kehidupan Manusia dan Masyarakat

Sebagian besar manusia tetap hidup dari pertanian, peternakan, perikanan, hutan, dan perdagangan lokal.

Di kota industri, kehidupan mengikuti ritme baru. Peluit pabrik, jadwal kereta, jam kerja, surat kabar harian, lampu jalan, dan telepon mengubah cara manusia mengatur waktu.

Kota-kota besar menawarkan pekerjaan, pendidikan, hiburan, dan layanan baru. Namun, banyak penduduk hidup di permukiman padat yang menghadapi:

  • sanitasi buruk;
  • air tercemar;
  • polusi batu bara;
  • biaya sewa tinggi;
  • upah rendah;
  • pekerjaan anak;
  • kecelakaan industri;
  • serta wabah penyakit.

Barang-barang hasil produksi massal menjadi lebih mudah diperoleh oleh sebagian masyarakat. Toko serba ada, katalog belanja, iklan, dan merek dagang berkembang.

Di balik barang yang terlihat di kota, terdapat jaringan panjang pertambangan, perkebunan, pelayaran, kerja buruh, dan penguasaan kolonial.

Perempuan dan Perubahan Sosial

Perempuan bekerja di rumah, pertanian, pabrik tekstil, pelayanan domestik, pendidikan, kesehatan, serta perdagangan. Namun, pekerjaan mereka sering dibayar lebih rendah atau tidak tercatat sebagai kegiatan ekonomi.

Gerakan perempuan berkembang di berbagai negara dengan tuntutan:

  • pendidikan;
  • hak milik;
  • perlindungan pekerja;
  • hak dalam perkawinan;
  • dan hak politik.

Hak pilih perempuan belum berlaku secara luas. Selandia Baru menjadi negara berpemerintahan sendiri pertama yang memberikan hak pilih nasional kepada perempuan pada 1893, meskipun hak politik kelompok pribumi dan perempuan dalam berbagai konteks masih memiliki batas serta ketimpangan.

Buruh dan Konflik Industri

Industrialisasi menghasilkan kekayaan besar, tetapi hubungan antara pekerja dan pemilik perusahaan sering penuh ketegangan.

Para buruh menuntut:

  • delapan jam kerja;
  • upah lebih baik;
  • tempat kerja aman;
  • perlindungan dari pemecatan sewenang-wenang;
  • serta hak membentuk serikat.

Pemogokan besar terjadi di berbagai negara. Pemogokan Homestead 1892 dan Pullman 1894 di Amerika Serikat berakhir dengan kekerasan serta campur tangan aparat.

Gerakan buruh internasional berkembang. Perayaan 1 Mei memperoleh hubungan kuat dengan perjuangan pekerja dan tuntutan delapan jam kerja.

Namun, perlindungan tenaga kerja belum merata. Di wilayah kolonial, buruh kontrak dan pekerja paksa sering tidak memperoleh hak yang sama dengan pekerja di pusat negara penjajah.

Pangan, Pertanian, dan Kelaparan

Pertanian tetap menjadi dasar kehidupan dunia. Beras, gandum, jagung, kentang, sorgum, millet, singkong, dan tanaman lokal menjadi sumber pangan utama.

Kereta api dan kapal uap mempercepat pengangkutan hasil pertanian. Teknologi pendinginan memungkinkan daging serta bahan makanan tertentu dikirim dalam jarak jauh.

Namun, pangan yang bergerak melintasi dunia tidak selalu mencapai orang yang paling membutuhkannya.

Kelaparan dapat terjadi ketika:

  • hujan gagal;
  • panen rusak;
  • harga pangan naik;
  • penduduk kehilangan pekerjaan;
  • tanah digunakan untuk komoditas ekspor;
  • cadangan pangan tidak tersedia;
  • perang mengganggu distribusi;
  • atau pemerintah terlambat memberikan bantuan.

Kelaparan Rusia 1891–1892

Kegagalan panen melanda wilayah luas Kekaisaran Rusia pada 1891–1892. Kekeringan, cuaca buruk, kemiskinan, sistem pertanian, pajak, serta keterlambatan respons memperburuk keadaan.

Kelaparan disertai penyakit seperti kolera dan tifus. Jumlah korban berbeda menurut penelitian karena sulit memisahkan kematian langsung akibat kelaparan dari kematian akibat penyakit serta kekurangan gizi.

Krisis tersebut mendorong bantuan masyarakat sipil dan memperbesar kritik terhadap pemerintahan kekaisaran.

Kelaparan India 1896–1897 dan 1899–1900

Kekeringan dan kegagalan panen kembali melanda sebagian India Britania pada akhir 1890-an.

Krisis pangan berhubungan dengan variabilitas iklim, termasuk El Niño, tetapi dampaknya diperburuk oleh kemiskinan, pajak, kehilangan akses terhadap tanah, harga pangan, dan kebijakan kolonial.

Jutaan manusia terdampak. Estimasi kematian berbeda secara luas karena kualitas catatan, wilayah yang dihitung, dan hubungan antara kelaparan dengan penyakit.

Kelaparan berikutnya dimulai pada 1899 dan berlanjut melewati batas Catatan ini.

Hujan dapat gagal karena perubahan atmosfer dan laut. Namun, kelaparan massal terjadi ketika masyarakat tidak memiliki tanah, cadangan, pendapatan, atau perlindungan yang cukup untuk bertahan.

Ekonomi Dunia

Dekade 1890-an mengalami pertumbuhan industri sekaligus krisis keuangan.

Krisis Baring pada 1890 berhubungan dengan investasi besar dan kesulitan utang Argentina. Masalah tersebut mengancam lembaga keuangan London dan memperlihatkan betapa eratnya hubungan pasar dunia.

Kepanikan 1893 di Amerika Serikat menyebabkan:

  • kegagalan bank;
  • kebangkrutan perusahaan;
  • berhentinya pembangunan rel;
  • pengangguran besar;
  • dan penurunan produksi.

Perdagangan dunia semakin ditentukan oleh perusahaan besar, perbankan, bursa komoditas, asuransi, jaringan kabel, dan kapal uap.

Industri mulai mengalami konsolidasi. Perusahaan yang memiliki modal besar dapat membeli pesaing, mengendalikan harga, dan membangun jaringan lintas wilayah.

Komoditas penting meliputi:

  • batu bara;
  • minyak;
  • baja;
  • kapas;
  • gula;
  • kopi;
  • teh;
  • tembakau;
  • timah;
  • karet;
  • dan berbagai mineral.

Energi: Dari Batu Bara Menuju Zaman Minyak dan Listrik

Batu bara tetap menjadi sumber utama tenaga industri. Pabrik, lokomotif, kapal uap, pembangkit, dan industri baja membakar batu bara dalam jumlah yang terus meningkat.

Minyak bumi berkembang sebagai:

  • bahan bakar;
  • sumber minyak tanah;
  • pelumas;
  • dan bahan baku industri.

Jaringan listrik mulai meluas di kota-kota besar. Persaingan antara arus searah dan arus bolak-balik membantu mendorong inovasi pembangkit serta transmisi.

Pada 1895, pembangkit listrik tenaga air Niagara mulai menghasilkan listrik dan kemudian menyalurkannya menuju Buffalo. Proyek tersebut menjadi tonggak penting penggunaan tenaga air untuk pembangkitan listrik berskala besar.

Namun, sebagian besar manusia belum menggunakan listrik. Pedesaan, wilayah miskin, dan koloni tetap bergantung pada kayu, arang, minyak tanah, tenaga hewan, serta tenaga manusia.

Temuan Penelitian

Peningkatan pembakaran batu bara dan minyak menambah karbon dioksida ke atmosfer. Pada masa itu, emisi global masih jauh lebih rendah daripada masa modern, tetapi dasar ekonomi fosil yang kelak memengaruhi iklim Bumi telah berkembang semakin kuat.

Svante Arrhenius pada 1896 menerbitkan perhitungan awal mengenai kemungkinan hubungan antara karbon dioksida atmosfer dan suhu Bumi. Perhitungannya berbeda dari model modern, tetapi menjadi salah satu tonggak sejarah ilmu iklim.

Dunia Teknologi 1890–1900

Listrik Memasuki Kota

Penerangan listrik meluas ke jalan, pabrik, hotel, teater, dan rumah kelompok yang mampu membayar.

Motor listrik mulai digunakan untuk menggerakkan mesin, trem, lift, dan berbagai peralatan.

Elektrifikasi mengubah kehidupan malam. Toko dapat buka lebih lama, pabrik dapat memperpanjang kegiatan, dan jalan tertentu menjadi lebih terang.

Namun, listrik juga membawa risiko baru:

  • kebakaran;
  • sengatan listrik;
  • kabel tanpa standar;
  • kecelakaan pekerja;
  • dan persaingan perusahaan penyedia tenaga.

Telepon dan Telegraf

Jaringan telepon terus bertambah, tetapi penggunaannya masih terkonsentrasi di kota dan kalangan tertentu.

Telegraf tetap menjadi alat utama komunikasi jarak jauh. Kabel bawah laut membawa berita perdagangan, diplomasi, perang, dan harga komoditas.

Informasi menjadi semakin cepat, tetapi kendali atas jaringan berada di tangan negara serta perusahaan besar.

Kekuatan kolonial menggunakan telegraf untuk:

  • memerintah wilayah jauh;
  • mengirim perintah militer;
  • mengatur perdagangan;
  • dan memantau pelabuhan serta pemerintahan lokal.

Radio: Mengirim Sinyal Tanpa Kabel

Eksperimen Heinrich Hertz pada akhir 1880-an membuktikan keberadaan gelombang elektromagnetik.

Pada 1890-an, Guglielmo Marconi mengembangkan sistem telegraf tanpa kabel dan melakukan demonstrasi transmisi radio. Peneliti seperti Nikola Tesla, Alexander Popov, Oliver Lodge, dan tokoh lain juga berkontribusi terhadap perkembangan komunikasi nirkabel.

Karena itu, sejarah radio tidak tepat apabila hanya diberikan kepada satu penemu.

Pada masa tersebut, radio belum digunakan untuk siaran musik dan berita seperti pada abad ke-20. Penggunaannya masih berfokus pada pengiriman sinyal serta kode.

Film dan Gambar Bergerak

Pada awal 1890-an, Kinetograph dan Kinetoscope yang dikembangkan oleh William K.L. Dickson bersama laboratorium Thomas Edison memungkinkan gambar bergerak direkam dan dilihat.

Pada 1895, Auguste dan Louis Lumière mengadakan pertunjukan film berbayar menggunakan Cinématographe di Paris.

Gambar bergerak mulai menjadi hiburan, dokumentasi, dan bentuk komunikasi baru.

Film kemudian digunakan untuk:

  • merekam kehidupan sehari-hari;
  • menunjukkan tempat jauh;
  • mendokumentasikan upacara;
  • hiburan;
  • propaganda;
  • dan membentuk ingatan masyarakat.

Apa yang direkam kamera tidak selalu merupakan gambaran lengkap. Kamera hanya menyimpan bagian yang dipilih oleh orang yang mengarahkannya.

Kendaraan Bermotor

Mobil bermesin pembakaran dalam mulai diproduksi dalam jumlah terbatas oleh perusahaan seperti Benz, Daimler, dan Peugeot.

Kendaraan tersebut masih mahal serta belum memiliki:

  • jalan yang memadai;
  • bengkel luas;
  • jaringan bahan bakar;
  • peraturan lalu lintas seragam;
  • atau sistem produksi massal.

Kuda, kereta, sepeda, trem, kapal, dan kereta api tetap menjadi alat transportasi utama.

Mesin diesel dikembangkan oleh Rudolf Diesel pada dekade ini. Mesin percobaan yang berhasil beroperasi pada 1890-an membuka jalan menuju jenis mesin yang lebih efisien untuk industri, kapal, dan transportasi pada masa berikutnya.

Fotografi dan Pers

Kamera Kodak dan film gulung memperluas penggunaan fotografi.

Foto digunakan dalam:

  • dokumentasi keluarga;
  • ilmu pengetahuan;
  • pemetaan;
  • kedokteran;
  • kepolisian;
  • perang;
  • dan pemberitaan.

Mesin cetak cepat, Linotype, telegraf, dan distribusi kereta memperbesar peredaran surat kabar.

Pers dapat menyebarkan informasi, tetapi juga dapat menyebarkan sensasi, propaganda, atau tuduhan yang belum terbukti.

Istilah yellow journalism digunakan untuk menggambarkan gaya pemberitaan sensasional yang berkembang dalam persaingan surat kabar Amerika Serikat. Pemberitaan mengenai Kuba dan ledakan kapal USS Maine ikut membentuk opini publik menjelang perang melawan Spanyol, meskipun pers bukan satu-satunya penyebab perang.

Sinar-X: Melihat Bagian Dalam Tubuh

Pada 1895, Wilhelm Conrad Röntgen menemukan jenis radiasi yang dapat menembus bahan tertentu dan menghasilkan bayangan tulang serta struktur dalam tubuh.

Ia menyebutnya sinar-X karena sifatnya belum diketahui.

Penemuan tersebut segera menarik perhatian dokter dan ilmuwan. Untuk pertama kalinya, bagian dalam tubuh dapat diperiksa tanpa operasi besar.

Namun, bahaya radiasi belum dipahami. Peneliti, tenaga medis, dan pasien dapat terpapar tanpa perlindungan yang memadai.

Radioaktivitas dan Perubahan Pemahaman tentang Atom

Pada 1896, Henri Becquerel menemukan bahwa garam uranium memancarkan radiasi tanpa harus terlebih dahulu terkena cahaya.

Marie dan Pierre Curie melanjutkan penelitian tersebut. Pada 1898, mereka mengumumkan unsur polonium dan radium.

Penemuan radioaktivitas mengguncang anggapan bahwa atom merupakan bagian materi yang tidak dapat berubah.

Manusia memperoleh pengetahuan baru, tetapi bahaya paparan radioaktif belum diketahui sepenuhnya.

Penemuan Elektron

Pada 1897, J.J. Thomson menunjukkan keberadaan partikel bermuatan negatif yang kemudian dikenal sebagai elektron.

Penemuan ini memberikan bukti bahwa atom memiliki struktur internal.

Perkembangan tersebut menjadi dasar bagi fisika atom, elektronika, komunikasi, dan berbagai teknologi abad ke-20.

Kesehatan, Penyakit, dan Wabah

Pandemi Pes Ketiga

Pandemi pes ketiga berkembang dari Tiongkok dan mencapai Hong Kong pada 1894.

Alexandre Yersin dan Shibasaburo Kitasato melakukan penelitian terhadap penyakit tersebut. Yersin mengidentifikasi bakteri yang kemudian dinamai Yersinia pestis.

Kapal uap dan perdagangan membawa manusia, tikus, serta kutu antarpelabuhan. Wabah kemudian menyebar ke berbagai bagian dunia dan berlanjut pada abad ke-20.

Hubungan antara tikus, kutu, bakteri, dan penularan penyakit belum langsung dipahami secara lengkap.

Pandemi memperlihatkan sisi lain keterhubungan global: jaringan perdagangan yang mengangkut barang juga dapat membawa penyakit.

Difteri dan Serum Antitoksin

Pada awal 1890-an, Emil von Behring dan Shibasaburo Kitasato mengembangkan serum antitoksin yang membantu pengobatan difteri.

Difteri merupakan penyakit berbahaya, terutama bagi anak-anak. Penggunaan serum menurunkan risiko kematian di tempat yang dapat memperoleh pengobatan.

Namun, produksi, kualitas, penyimpanan, serta distribusinya belum merata.

Malaria

Ronald Ross pada 1897 menunjukkan peranan nyamuk dalam penularan parasit malaria melalui penelitian pada burung. Penelitian lain kemudian memperjelas siklus penularan malaria manusia.

Pengetahuan ini mengubah upaya pencegahan penyakit di wilayah tropis.

Namun, malaria tidak langsung menghilang. Pengendalian memerlukan perubahan lingkungan, perlindungan dari gigitan nyamuk, pengobatan, serta layanan kesehatan yang luas.

Sanitasi dan Kesenjangan Kesehatan

Kota-kota tertentu membangun saluran air, sistem pembuangan limbah, pengumpulan sampah, dan laboratorium kesehatan.

Namun, akses terhadap layanan tetap timpang. Kawasan kaya memperoleh air bersih serta perawatan lebih cepat dibandingkan permukiman pekerja dan wilayah kolonial.

Antibiotik belum tersedia. Infeksi setelah luka, persalinan, operasi, atau penyakit pernapasan masih dapat menyebabkan kematian.

Cuaca dan Iklim Dunia

Pengamatan cuaca semakin terorganisasi melalui stasiun meteorologi, observatorium, kapal, dan jaringan telegraf.

Para peneliti mengukur:

  • suhu;
  • tekanan udara;
  • curah hujan;
  • arah angin;
  • kelembapan;
  • dan kondisi laut.

Namun, cakupan pengamatan masih tidak merata. Wilayah Eropa, Amerika Utara, kota, pelabuhan, dan pusat kolonial lebih banyak tercatat daripada pedalaman serta kawasan terpencil.

Data suhu global abad ke-19 memiliki ketidakpastian lebih besar daripada masa modern. Meskipun demikian, pengukuran menunjukkan bahwa dunia sedang bergerak keluar dari kondisi relatif sejuk abad-abad sebelumnya dan memasuki perubahan yang kemudian dipercepat oleh peningkatan gas rumah kaca.

Dampak aerosol Krakatau 1883 berkurang pada awal dekade 1890-an. Tidak tepat menghubungkan seluruh anomali cuaca dekade ini dengan Krakatau.

El Niño, Kekeringan, dan Kerawanan Pangan

Variasi suhu Samudra Pasifik dan sistem monsun memengaruhi curah hujan di berbagai wilayah.

Peristiwa El Niño pada akhir 1890-an berhubungan dengan kekeringan di sejumlah kawasan tropis. Namun, dampaknya berbeda menurut tempat.

Kekeringan berubah menjadi bencana besar ketika bertemu dengan:

  • kemiskinan;
  • ketergantungan terhadap satu jenis tanaman;
  • hilangnya cadangan pangan;
  • pajak;
  • konflik;
  • dan tidak tersedianya bantuan.

Karena itu, perubahan cuaca harus dibaca bersama keadaan sosial serta politik.

Geologi dan Bencana Dunia

Teori tektonik lempeng belum tersedia. Para ahli geologi telah memetakan patahan, batuan, gunung api, dan gempa, tetapi belum memahami bahwa kerak Bumi terbagi menjadi lempeng-lempeng yang bergerak.

Seismograf berkembang pada akhir abad ke-19 dan memungkinkan getaran gempa direkam secara lebih sistematis.

Gempa Mino–Owari 1891

Gempa besar mengguncang wilayah Mino dan Owari di Jepang pada 1891.

Bangunan, jalan, jembatan, dan permukiman mengalami kerusakan berat. Ribuan manusia meninggal.

Patahan yang tampak di permukaan memberikan bukti penting mengenai pergerakan tanah saat gempa.

Bencana tersebut mendorong perkembangan teknik bangunan tahan gempa dan penelitian seismologi di Jepang.

Gempa dan Tsunami Sanriku 1896

Pada Juni 1896, gempa di lepas pantai timur laut Jepang menghasilkan tsunami besar yang menghantam pesisir Sanriku.

Guncangan yang dirasakan di darat tidak sebanding dengan besarnya tsunami. Hal tersebut membuat masyarakat tidak memperkirakan datangnya gelombang sangat tinggi.

Sekitar 22.000 orang diperkirakan meninggal, tetapi jumlahnya berbeda menurut catatan.

Peristiwa ini kemudian membantu pemahaman mengenai gempa tsunami, yaitu gempa yang dapat menghasilkan tsunami jauh lebih besar daripada perkiraan berdasarkan kekuatan guncangan yang dirasakan.

Gempa Assam 1897

Gempa besar mengguncang Assam dan kawasan sekitarnya pada 1897.

Gempa merusak bangunan, jalan, jembatan, serta mengubah permukaan tanah di wilayah luas.

Pengamatan terhadap bencana tersebut menjadi bagian penting perkembangan ilmu gempa dan geologi.

Badai dan Banjir

Badai tropis, banjir, kekeringan, longsor, dan kebakaran kota terus menimbulkan korban di berbagai wilayah.

Jumlah korban dalam arsip lama sering berbeda karena:

  • pencatatan tidak lengkap;
  • komunikasi terbatas;
  • wilayah terdampak luas;
  • kematian akibat penyakit setelah bencana;
  • dan banyak korban yang tidak teridentifikasi.

Lingkungan dan Perubahan Bentang Alam

Pertumbuhan industri memperbesar penambangan batu bara, logam, minyak, dan mineral.

Hutan dibuka untuk:

  • pertanian;
  • perkebunan;
  • peternakan;
  • permukiman;
  • jalan;
  • rel;
  • kapal;
  • dan pertambangan.

Sungai menerima limbah industri serta rumah tangga. Udara kota dipenuhi asap batu bara.

Perdagangan global meningkatkan perburuan satwa untuk kulit, bulu, gading, dan koleksi. Sejumlah populasi hewan mengalami penurunan besar.

Gerakan konservasi berkembang, tetapi perlindungan alam sering dilakukan tanpa mengakui hak masyarakat adat yang telah lama hidup di wilayah tersebut.

Tata Surya dan Astronomi

Fotografi, spektroskopi, serta teleskop yang lebih baik memungkinkan para astronom mempelajari komposisi serta gerakan benda langit.

Pada 1892, Amalthea—satelit kelima Jupiter yang diketahui—ditemukan oleh Edward Emerson Barnard.

Asteroid Eros ditemukan pada 1898. Orbitnya yang mendekati Bumi kemudian membantu pengukuran jarak astronomis.

Pada 1895, helium berhasil diidentifikasi di Bumi setelah sebelumnya diketahui melalui spektrum Matahari. Hal tersebut menunjukkan bagaimana unsur dapat ditemukan di langit sebelum berhasil diisolasi di planet kita sendiri.

Siklus Matahari 13 mencapai aktivitas maksimum sekitar pertengahan 1890-an. Aktivitas Matahari dapat memengaruhi medan magnet dan cuaca antariksa, tetapi tidak dapat digunakan untuk menjelaskan setiap perang, gempa, wabah, atau krisis ekonomi.

Geopolitik: Persaingan Kekaisaran Membesar

Pada dekade ini, kekuatan Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang memperluas pengaruhnya.

Persaingan tidak hanya berlangsung di darat, tetapi juga melalui:

  • angkatan laut;
  • jalur perdagangan;
  • pangkalan militer;
  • pelabuhan;
  • kabel telegraf;
  • perusahaan;
  • dan konsesi pertambangan.

Dunia menjadi semakin terhubung sekaligus semakin terbagi oleh kekuasaan kolonial.

Perang Tiongkok–Jepang 1894–1895

Dinasti Qing dan Jepang berperang terutama karena persaingan pengaruh di Korea.

Jepang memperoleh kemenangan besar di darat dan laut. Perjanjian Shimonoseki memaksa Tiongkok mengakui kemerdekaan Korea dan menyerahkan Taiwan serta Kepulauan Penghu kepada Jepang.

Perang tersebut menunjukkan perubahan perimbangan kekuatan di Asia. Jepang yang telah melakukan modernisasi Meiji muncul sebagai kekuatan militer regional.

Namun, kemenangan Jepang juga menjadi awal perluasan imperialisme Jepang terhadap masyarakat lain di Asia.

Kemenangan Etiopia di Adwa

Italia berusaha memperluas kekuasaan kolonialnya atas Etiopia. Pada 1896, pasukan Kaisar Menelik II mengalahkan pasukan Italia dalam Pertempuran Adwa.

Kemenangan tersebut membantu mempertahankan kemerdekaan Etiopia dan menjadi simbol penting perlawanan Afrika terhadap imperialisme Eropa.

Etiopia tetap menghadapi persoalan internal serta perluasan wilayahnya sendiri, tetapi Adwa membuktikan bahwa ekspansi kolonial Eropa bukan proses tanpa perlawanan.

Pembantaian Hamidian

Antara 1894 dan 1896, kekerasan besar terjadi terhadap masyarakat Armenia di Kesultanan Utsmaniyah.

Jumlah korban diperdebatkan, tetapi diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan ribu orang.

Peristiwa ini berhubungan dengan ketegangan politik, tuntutan reformasi, nasionalisme, agama, dan penggunaan kekerasan oleh negara serta kelompok bersenjata.

Perang Spanyol–Amerika 1898

Kuba telah berjuang melawan kekuasaan Spanyol. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Spanyol meningkat, terutama setelah kapal USS Maine meledak di Pelabuhan Havana pada Februari 1898.

Penyebab ledakan belum diketahui secara pasti saat itu. Pemberitaan sensasional ikut membentuk kemarahan masyarakat Amerika.

Perang dimulai pada April 1898 dan berlangsung singkat. Amerika Serikat mengalahkan kekuatan Spanyol di Kuba dan Filipina.

Melalui Perjanjian Paris:

  • Spanyol melepaskan klaim atas Kuba;
  • Puerto Riko diserahkan kepada Amerika Serikat;
  • Guam diserahkan kepada Amerika Serikat;
  • dan Filipina diserahkan kepada Amerika Serikat dengan pembayaran 20 juta dolar.

Amerika Serikat juga menganeksasi Hawaii pada 1898.

Perang tersebut menandai kemunduran kekaisaran Spanyol dan kebangkitan Amerika Serikat sebagai kekuatan kolonial di Karibia serta Pasifik.

Revolusi dan Perang Filipina

Masyarakat Filipina telah melawan kekuasaan Spanyol sejak 1896. Emilio Aguinaldo dan kelompok revolusioner memproklamasikan kemerdekaan Filipina pada 12 Juni 1898.

Namun, Perjanjian Paris memindahkan kekuasaan dari Spanyol kepada Amerika Serikat tanpa mengakui sepenuhnya kemerdekaan yang diproklamasikan rakyat Filipina.

Pertempuran antara pasukan Filipina dan Amerika Serikat pecah pada Februari 1899.

Perang Filipina–Amerika kemudian berlanjut melewati batas Catatan ini. Ribuan tentara dan sangat banyak warga sipil meninggal akibat pertempuran, penyakit, kelaparan, dan penghancuran permukiman.

Bagi rakyat Filipina, berakhirnya satu kekuasaan kolonial tidak langsung menghasilkan kemerdekaan. Penjajah lama pergi, tetapi kekuatan baru datang membawa klaimnya sendiri.

Perang Boer Kedua Dimulai

Pada Oktober 1899, perang pecah antara Inggris dan republik-republik Boer di Afrika Selatan.

Konflik berhubungan dengan kekuasaan politik, wilayah, serta kekayaan tambang emas.

Perang berlanjut hingga 1902 dan akan dibahas lebih jauh pada Catatan berikutnya. Dalam tahap selanjutnya, Inggris menggunakan kebijakan bumi hangus dan kamp konsentrasi yang menyebabkan penderitaan besar masyarakat sipil.

Krisis Fashoda 1898

Pasukan Inggris dan Prancis bertemu di Fashoda, Sudan, dalam persaingan menguasai wilayah Afrika.

Krisis hampir memicu perang antara kedua negara, tetapi diselesaikan melalui diplomasi dan mundurnya Prancis.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa perebutan Afrika juga dapat membawa kekuatan Eropa menuju konflik langsung satu sama lain.

Perlombaan Senjata dan Bayangan Perang Besar

Negara-negara meningkatkan kekuatan angkatan laut, artileri, senapan, rel militer, dan industri baja.

Aliansi mulai mengeras. Hubungan Prancis–Rusia berkembang menjadi aliansi pada 1890-an, sementara Jerman memperluas kekuatan ekonomi serta militernya.

Belum ada Perang Dunia, tetapi beberapa unsur yang akan membentuk konflik abad ke-20 telah terlihat:

  • nasionalisme;
  • perlombaan senjata;
  • aliansi;
  • imperialisme;
  • persaingan pasar;
  • dan konflik wilayah.

Nusantara Sebelum Republik Indonesia

Pada 1890–1900, Republik Indonesia belum terbentuk.

Kepulauan yang kini disebut Indonesia terdiri atas:

  • wilayah pemerintahan langsung Hindia Belanda;
  • kerajaan dan kesultanan yang terikat perjanjian;
  • masyarakat adat dengan tingkat kemandirian berbeda;
  • serta daerah yang masih melakukan perlawanan terhadap perluasan kolonial.

Belanda semakin memperkuat klaim atas kepulauan, tetapi kekuasaan nyata tidak sama di setiap wilayah.

Istilah “Indonesia” mulai digunakan dalam lingkungan akademik Eropa pada abad ke-19 sebagai istilah geografis dan etnologis. Namun, identitas politik kebangsaan Indonesia baru berkembang lebih jelas pada abad ke-20.

Ekonomi Kolonial di Nusantara

Undang-Undang Agraria 1870 telah membuka jalan bagi perusahaan swasta untuk memperoleh sewa tanah dalam jangka panjang.

Pada 1890-an, ekonomi ekspor Hindia Belanda bertumpu pada komoditas seperti:

  • gula;
  • kopi;
  • teh;
  • tembakau;
  • kina;
  • timah;
  • kopra;
  • dan minyak bumi.

Harga komoditas dunia sangat memengaruhi perusahaan, pendapatan pemerintah, dan kehidupan masyarakat.

Petani lokal tidak selalu memperoleh manfaat ketika harga ekspor meningkat. Mereka dapat menghadapi:

  • sewa tanah;
  • pajak;
  • kewajiban kerja;
  • utang;
  • berkurangnya lahan pangan;
  • dan ketergantungan terhadap perusahaan atau pedagang.

Krisis Gula dan Kopi

Industri gula Jawa menghadapi tekanan dari persaingan gula bit Eropa dan perubahan harga dunia.

Perusahaan berusaha meningkatkan efisiensi melalui mesin, irigasi, varietas tanaman, rel perkebunan, dan pengaturan tenaga kerja.

Perkebunan kopi juga mengalami perubahan. Penyakit karat daun kopi telah merusak tanaman Arabika di berbagai wilayah sejak akhir abad sebelumnya. Produksi kemudian menyesuaikan melalui perpindahan kawasan tanam dan penggunaan varietas lain pada masa berikutnya.

Krisis komoditas menunjukkan bahwa masyarakat perkebunan di Nusantara dapat terkena dampak keputusan dan perubahan pasar yang terjadi jauh di Eropa.

Berdirinya Perusahaan Minyak Royal Dutch

Cadangan minyak telah ditemukan di Telaga Said, dekat Pangkalan Brandan, Sumatra Utara, pada 1885.

Pada 1890, perusahaan yang dikenal sebagai Royal Dutch Petroleum Company dibentuk untuk mengembangkan sumber minyak di Hindia Belanda.

Kilang dan fasilitas produksi berkembang di Pangkalan Brandan. Minyak dibawa melalui jaringan pipa, penyimpanan, pelabuhan, serta kapal.

Industri tersebut mengubah kawasan melalui:

  • masuknya modal;
  • pembangunan jalan dan fasilitas;
  • perekrutan tenaga kerja;
  • pertumbuhan permukiman;
  • dan keterhubungan dengan pasar internasional.

Royal Dutch dan Shell Transport baru membentuk kelompok usaha bersama pada 1907. Karena itu, tidak tepat menyebut perusahaan tahun 1890 sebagai Royal Dutch Shell dalam bentuk korporasi yang muncul kemudian.

Dari tanah Sumatra, minyak mulai memasuki mesin ekonomi dunia. Namun, hak menentukan penggunaan sumber daya itu belum berada di tangan masyarakat yang kelak membentuk negara Indonesia.

Pertambangan Ombilin

Tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto mulai dikembangkan dalam skala industri pada 1890-an.

Jalur kereta api dibangun untuk membawa batu bara dari pedalaman Sumatra Barat menuju pelabuhan Emmahaven—sekarang Teluk Bayur.

Pertambangan membutuhkan:

  • modal;
  • tenaga kerja;
  • rel;
  • jembatan;
  • terowongan;
  • gudang;
  • dan pelabuhan.

Buruh tambang terdiri atas pekerja bebas, buruh kontrak, dan narapidana yang dikenal dalam sejarah sebagai orang rantai.

Penggunaan narapidana dengan rantai dan pengawasan ketat menjadi salah satu sisi gelap pembangunan industri kolonial.

Timah, Perkebunan, dan Perubahan Lingkungan

Penambangan timah di Bangka serta Belitung terus berkembang. Pertambangan mengubah tanah, air, dan kehidupan masyarakat setempat.

Di Sumatra Timur, perkebunan tembakau Deli tetap berkembang. Buruh Tiongkok dan Jawa bekerja di bawah kontrak yang diperkuat oleh sistem poenale sanctie.

Perkebunan serta pertambangan mengubah lingkungan melalui:

  • pembukaan hutan;
  • penggalian tanah;
  • perubahan aliran air;
  • pembangunan jalan;
  • pembentukan permukiman;
  • dan peningkatan kebutuhan kayu serta bahan bakar.

Catatan produksi sering lebih lengkap daripada catatan penderitaan buruh dan masyarakat yang kehilangan akses terhadap tanah.

Perang Aceh Memasuki Babak Baru

Perang Aceh telah berlangsung sejak 1873. Pada 1890-an, Belanda masih belum sepenuhnya menguasai wilayah serta masyarakat Aceh.

Perlawanan dipimpin oleh berbagai kelompok:

  • ulama;
  • uleebalang;
  • pemimpin lokal;
  • pejuang bergerak;
  • serta masyarakat desa.

Belanda menggabungkan operasi militer, perjanjian politik, pengumpulan informasi, dan usaha memecah hubungan antarkelompok Aceh.

Snouck Hurgronje dan Pengetahuan untuk Penaklukan

Christiaan Snouck Hurgronje melakukan penelitian mengenai Islam dan masyarakat Aceh. Ia tinggal di Hindia Belanda dan menjadi penasihat pemerintah kolonial.

Snouck menyarankan agar Belanda:

  • membedakan urusan ibadah dari gerakan politik;
  • bekerja sama dengan sebagian uleebalang;
  • mengawasi jaringan ulama;
  • serta menggunakan kekuatan terhadap kelompok yang terus melakukan perlawanan.

Pengetahuannya mengenai masyarakat tidak digunakan hanya untuk tujuan akademik. Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari strategi kolonial.

Hal ini memperlihatkan bahwa penelitian dapat digunakan untuk memahami masyarakat, tetapi juga dapat digunakan untuk mengendalikan dan menaklukkannya.

Strategi Teuku Umar

Pada 1893, Teuku Umar mendekati pihak Belanda dan menerima kedudukan serta perlengkapan militer.

Pada 1896, ia kembali kepada pihak Aceh dengan membawa senjata, amunisi, dan pasukan yang diperolehnya selama bekerja sama dengan Belanda.

Tindakan tersebut mempermalukan pemerintah kolonial dan menunjukkan bahwa kerja sama yang terlihat di permukaan dapat menjadi bagian dari strategi perlawanan.

Teuku Umar kemudian terus memimpin perjuangan di Aceh Barat.

Gugurnya Teuku Umar pada 1899

Belanda memperoleh informasi mengenai pergerakan Teuku Umar dan menyiapkan penyergapan di sekitar Meulaboh.

Pada Februari 1899, Teuku Umar gugur dalam pertempuran.

Kematiannya menjadi pukulan besar, tetapi perlawanan Aceh tidak berhenti. Cut Nyak Dhien dan para pemimpin lain melanjutkan perjuangan.

Jumlah, lokasi, dan rincian peristiwa dapat berbeda dalam sumber kolonial, sejarah lokal, dan tradisi masyarakat. Karena itu, semua catatan perlu dibandingkan dengan hati-hati.

Teuku Umar gugur, tetapi perang yang telah berlangsung lebih dari seperempat abad belum berakhir. Kematian seorang pemimpin tidak selalu berarti berakhirnya alasan sebuah masyarakat untuk melawan.

Van Heutsz dan Serangan Kolonial

Joannes Benedictus van Heutsz diangkat menjadi gubernur sipil dan militer Aceh pada 1898.

Dengan dukungan nasihat Snouck Hurgronje, operasi Belanda menjadi lebih agresif. Pasukan bergerak dalam unit yang lebih kecil dan mengejar pusat-pusat perlawanan.

Strategi tersebut memperluas kendali kolonial, tetapi juga menghasilkan kekerasan, penghancuran, pengungsian, dan korban di kalangan masyarakat.

Perang Aceh berlanjut memasuki abad ke-20.

Perang Lombok 1894

Pada 1894, Belanda melakukan intervensi militer di Lombok dalam konflik yang melibatkan penguasa Bali di Lombok dan masyarakat Sasak.

Pasukan Belanda sempat mengalami serangan serta kerugian besar, kemudian mengirim kekuatan tambahan.

Mataram dan Cakranegara akhirnya jatuh. Istana serta pusat kekuasaan dijarah, sementara banyak benda, naskah, emas, dan pusaka dibawa oleh pasukan kolonial.

Salah satu naskah yang ditemukan adalah salinan Nagarakretagama, karya abad ke-14 yang memuat informasi penting mengenai Majapahit.

Penemuan nilai sejarah naskah tersebut tidak dapat dipisahkan dari konteks perang serta pengambilannya sebagai rampasan kolonial.

Perlawanan Sisingamangaraja XII

Di wilayah Batak, Sisingamangaraja XII melanjutkan perlawanan terhadap perluasan kekuasaan Belanda.

Perlawanan berlangsung melalui wilayah pegunungan, hutan, kampung, dan jaringan masyarakat.

Belanda memperluas administrasi, pos militer, jalan, dan pengaruhnya di Tapanuli. Misi Kristen juga berkembang, tetapi hubungan antara kegiatan misi, masyarakat lokal, dan kekuasaan kolonial tidak selalu sederhana atau sama di setiap tempat.

Sisingamangaraja XII belum gugur pada periode ini. Perlawanan berlanjut hingga awal abad ke-20 dan akan dibahas kembali dalam Catatan berikutnya.

Kehidupan Masyarakat Nusantara

Mayoritas penduduk bekerja sebagai:

  • petani;
  • nelayan;
  • pengrajin;
  • pedagang;
  • buruh perkebunan;
  • pekerja tambang;
  • pelaut;
  • buruh pelabuhan;
  • dan pekerja rumah tangga.

Kehidupan masyarakat berbeda menurut wilayah, adat, agama, lingkungan, perdagangan, serta hubungan dengan kekuasaan lokal maupun kolonial.

Di Jawa, kepadatan penduduk semakin tinggi. Tanah menjadi sumber kehidupan sekaligus sumber konflik antara kebutuhan pangan, perkebunan, pajak, dan pertumbuhan penduduk.

Di Sumatra, perkebunan, pertambangan, dan minyak menarik migrasi serta membentuk kota-kota baru.

Di wilayah yang belum sepenuhnya dikuasai Belanda, masyarakat mempertahankan pemerintahan, hukum adat, dan jaringan perdagangannya sendiri.

Pendidikan dan Tumbuhnya Kelompok Terpelajar

Pendidikan kolonial masih terbatas berdasarkan ras, kelas, lokasi, dan kebutuhan pemerintahan.

Sekolah Dokter Djawa di Batavia berkembang dan pada 1898 mengalami pembaruan yang kemudian berhubungan dengan pembentukan STOVIA.

Sekolah misi, pesantren, surau, pendidikan kerajaan, pengajaran keluarga, serta tradisi tulis lokal tetap memainkan peranan penting.

Kelompok kecil masyarakat pribumi yang memperoleh pendidikan Barat mulai tumbuh. Dari kelompok inilah kemudian muncul dokter, guru, pegawai, wartawan, dan tokoh pergerakan awal.

Namun, pendidikan belum dirancang sebagai hak seluruh penduduk. Pemerintah kolonial terutama menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan administrasi dan tenaga kerja.

“Utang Kehormatan” dan Awal Kritik Baru

Pada 1899, Conrad Theodor van Deventer menerbitkan tulisan Een Eereschuld atau “Utang Kehormatan”.

Ia berpendapat bahwa Belanda memiliki utang moral kepada penduduk Hindia karena kekayaan yang telah diambil melalui sistem kolonial.

Tulisan tersebut membantu memperkuat gagasan yang kemudian melahirkan Politik Etis.

Politik Etis secara resmi diumumkan pada awal abad ke-20, sehingga pelaksanaannya akan dibahas dalam Catatan berikutnya.

Kritik ini penting, tetapi tetap lahir dalam kerangka kolonial. Penduduk Nusantara belum memperoleh hak menentukan pemerintahan dan masa depannya sendiri.

Transportasi dan Komunikasi di Hindia Belanda

Jaringan kereta api di Jawa serta Sumatra berkembang untuk mengangkut:

  • hasil perkebunan;
  • batu bara;
  • gula;
  • kopi;
  • penumpang;
  • surat;
  • dan pasukan.

Pelabuhan Tanjung Priok memperkuat hubungan Batavia dengan jalur perdagangan internasional.

Kapal uap menghubungkan pulau-pulau dan pusat perdagangan. Koninklijke Paketvaart Maatschappij atau KPM, yang mulai beroperasi pada 1891, mengembangkan pelayaran antarpulau di Hindia Belanda.

Jaringan tersebut mempercepat pergerakan manusia serta barang, tetapi juga membantu pemerintah kolonial:

  • mengendalikan wilayah;
  • memindahkan pasukan;
  • mengawasi perdagangan;
  • dan mengikat kepulauan ke dalam satu ekonomi kolonial.

Telegraf menghubungkan pemerintahan daerah dengan Batavia dan dunia internasional. Telepon mulai digunakan dalam lingkungan terbatas, terutama di pusat kota, perusahaan, dan pemerintahan.

Pers dan Informasi di Nusantara

Surat kabar berkembang dalam bahasa Belanda, Melayu, Tionghoa-Melayu, dan bahasa lainnya.

Pers membawa:

  • berita perdagangan;
  • informasi pemerintahan;
  • iklan;
  • kabar bencana;
  • peristiwa luar negeri;
  • dan perdebatan masyarakat.

Namun, kebebasan pers dibatasi. Pemerintah kolonial dapat mengawasi, memperingatkan, atau menghukum penerbit yang dianggap mengganggu ketertiban.

Meskipun demikian, media cetak membantu membentuk ruang komunikasi baru yang kelak penting bagi kesadaran kebangsaan.

Kesehatan di Nusantara

Malaria, kolera, cacar, disentri, tuberkulosis, penyakit kulit, infeksi, dan kekurangan gizi masih menjadi ancaman utama.

Layanan kesehatan lebih mudah ditemukan di:

  • pusat pemerintahan;
  • kota;
  • kawasan militer;
  • perkebunan besar;
  • dan pertambangan.

Masyarakat di desa atau daerah terpencil mengandalkan tabib, dukun, jamu, pengetahuan adat, keluarga, serta jaringan keagamaan.

Ilmu bakteriologi mulai digunakan oleh kedokteran kolonial. Namun, tujuan kesehatan kolonial juga berkaitan dengan perlindungan tentara, pegawai, buruh, dan produktivitas ekonomi.

Pandemi pes ketiga belum mencapai Jawa dalam skala besar pada dekade ini. Wabah pes besar di Jawa baru tercatat pada awal abad ke-20, sehingga tidak boleh ditempatkan terlalu dini.

Jejak Meteorologi, Geofisika, dan Kebencanaan Nusantara

Lembaga yang sekarang bernama BMKG belum ada dalam bentuknya saat ini.

Pengamatan cuaca dan geofisika dilakukan melalui observatorium kolonial, pelabuhan, kapal, perkebunan, dan stasiun pengamatan tertentu.

Nama yang tepat untuk bagian ini adalah:

Jejak Pengamatan Bumi di Nusantara

Data masa tersebut dapat ditemukan melalui:

  • laporan observatorium Batavia;
  • arsip pemerintahan Hindia Belanda;
  • catatan kapal;
  • laporan perkebunan;
  • surat kabar;
  • katalog gempa;
  • penelitian gunung api;
  • tradisi lisan;
  • dan rekonstruksi ilmiah modern.

Setelah Krakatau 1883, perhatian terhadap gunung api, tekanan atmosfer, gempa, dan tsunami meningkat.

Namun, jaringan pemantauan tetap terbatas. Bencana di daerah terpencil dapat tidak tercatat atau hanya bertahan dalam ingatan masyarakat.

Cuaca, Pertanian, dan Kehidupan Lokal

Nusantara dipengaruhi oleh monsun serta variabilitas laut-atmosfer seperti El Niño.

Perubahan awal atau panjang musim hujan dapat memengaruhi:

  • penanaman padi;
  • ketersediaan air;
  • perkebunan;
  • kebakaran lahan;
  • pelayaran;
  • dan kesehatan.

Dampak cuaca tidak sama di seluruh kepulauan. Kekeringan di Jawa tidak otomatis berarti keadaan serupa di Sumatra, Sulawesi, Maluku, atau Papua.

Setiap klaim mengenai kekeringan, banjir, dan gagal panen lokal harus diperiksa melalui sumber wilayah yang lebih khusus.

Dunia dan Nusantara dalam Satu Sistem

Pada akhir abad ke-19, dunia dan Nusantara telah terhubung melalui sistem yang semakin rapat.

Alurnya dapat dilihat sebagai berikut:

  • perusahaan memperoleh modal dari Eropa;
  • pemerintah kolonial menyediakan konsesi tanah serta pertambangan;
  • buruh direkrut atau dipindahkan;
  • hasil produksi dibawa melalui rel;
  • kapal uap mengangkutnya menuju pasar internasional;
  • telegraf menyampaikan harga dan perintah;
  • bank menyediakan kredit;
  • dan keuntungan mengalir melalui jaringan perusahaan.

Minyak Sumatra menyalakan mesin dan lampu. Batu bara Ombilin menggerakkan transportasi serta industri. Gula Jawa memasuki pasar Eropa. Timah Bangka dan Belitung digunakan oleh dunia industri.

Namun, masyarakat lokal tidak memiliki kekuasaan yang setara dalam menentukan pengelolaan tanah, tenaga kerja, dan sumber daya tersebut.

Apa yang Berubah Sepanjang 1890–1900?

Dalam satu dasawarsa:

  • populasi dunia mendekati 1,6 miliar jiwa;
  • listrik meluas di kota-kota;
  • mobil mulai diproduksi;
  • mesin diesel dikembangkan;
  • film menjadi bentuk hiburan dan dokumentasi;
  • sinyal radio mulai dikirim tanpa kabel;
  • sinar-X ditemukan;
  • radioaktivitas diketahui;
  • elektron ditemukan;
  • serum difteri dikembangkan;
  • bakteri penyebab pes diidentifikasi;
  • hubungan nyamuk dengan malaria semakin dipahami;
  • ilmu mengenai karbon dioksida dan suhu Bumi mulai dihitung;
  • Jepang mengalahkan Dinasti Qing;
  • Etiopia mengalahkan Italia di Adwa;
  • Amerika Serikat mengalahkan Spanyol dan memperoleh wilayah seberang laut;
  • rakyat Filipina memproklamasikan kemerdekaan tetapi menghadapi penjajah baru;
  • Perang Boer Kedua dimulai;
  • perusahaan minyak Royal Dutch berdiri;
  • Tambang Ombilin berkembang;
  • Belanda menaklukkan Lombok;
  • strategi kolonial di Aceh menjadi lebih agresif;
  • dan Teuku Umar gugur pada 1899.

Abad ke-19 berakhir bukan dalam ketenangan, melainkan dengan dunia yang semakin kuat, cepat, terhubung, dan bersenjata.

Kesimpulan Catatan #010

Periode 1890–1900 menjadi jembatan menuju abad modern.

Manusia mulai melihat bagian dalam tubuh, memahami struktur atom, merekam gambar bergerak, membangkitkan listrik dalam skala besar, dan mengirim sinyal tanpa kabel.

Namun, kemajuan ilmu berjalan berdampingan dengan imperialisme. Kapal, kereta, telegraf, senjata, kedokteran, dan pengetahuan sosial digunakan tidak hanya untuk meningkatkan kehidupan, tetapi juga untuk memperluas serta mempertahankan kekuasaan.

Di Nusantara, minyak, batu bara, perkebunan, pelabuhan, dan jaringan transportasi memperkuat ekonomi kolonial. Perang Aceh, Perang Lombok, dan perlawanan Sisingamangaraja XII menunjukkan bahwa perluasan kekuasaan Belanda tidak diterima tanpa perlawanan.

Menjelang tahun 1900, unsur-unsur yang kelak membentuk abad ke-20 telah tersedia:

  • energi fosil;
  • listrik;
  • industri massal;
  • media;
  • nasionalisme;
  • imperialisme;
  • persaingan militer;
  • ilmu modern;
  • dan masyarakat yang mulai menuntut haknya.

Abad ke-19 tidak benar-benar berakhir. Mesin, batas wilayah, perusahaan, ketimpangan, dan konflik yang dibentuknya ikut memasuki abad berikutnya bersama seluruh umat manusia.

Analisis Penulis — Armando Sinaga

Setelah membandingkan perkembangan dunia dan Nusantara, terlihat bahwa akhir abad ke-19 bukan hanya masa penemuan. Ini merupakan masa ketika pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan kekuasaan mulai digabungkan menjadi satu sistem.

Sinar-X dapat membantu dokter menyelamatkan pasien. Namun, teknologi juga memungkinkan senjata dibuat lebih kuat. Kereta dapat membawa penumpang dan makanan, tetapi juga dapat mengangkut batu bara, komoditas, dan tentara kolonial. Penelitian mengenai masyarakat dapat memperluas pengetahuan, tetapi juga dapat digunakan untuk menemukan cara paling efektif menaklukkan perlawanan.

Kisah Snouck Hurgronje di Aceh menunjukkan bahwa ilmu tidak selalu berdiri di luar kekuasaan. Pengetahuan mengenai agama, adat, dan susunan masyarakat dapat berubah menjadi alat militer ketika digunakan oleh penjajah.

Penemuan minyak di Sumatra juga memperlihatkan sebuah pola yang terus berulang: sumber daya ditemukan di suatu wilayah, tetapi keputusan dan keuntungan utamanya dikendalikan dari tempat yang jauh.

Menurut penulis, modernitas tidak dapat diukur hanya melalui jumlah mesin, panjang rel, produksi minyak, atau terangnya kota. Modernitas juga harus dinilai dari siapa yang memiliki hak atas tanah, siapa yang menguasai pengetahuan, siapa yang menikmati hasil pembangunan, dan siapa yang menanggung risikonya.

Manusia memasuki abad ke-20 dengan kemampuan melihat lebih jauh daripada sebelumnya. Pertanyaannya bukan lagi apakah manusia memiliki pengetahuan, tetapi untuk siapa pengetahuan itu digunakan.

Menuju Catatan #011 — Bumi 1900–1905

Memasuki abad ke-20, periode Catatan akan mulai dipadatkan menjadi sekitar lima tahun agar perubahan yang semakin cepat dapat dicatat dengan lebih rinci.

Pembahasan berikutnya akan mencakup:

  • Politik Etis di Hindia Belanda;
  • berlanjutnya Perang Aceh;
  • perlawanan Sisingamangaraja XII;
  • Perang Boer;
  • Pemberontakan Boxer;
  • perkembangan radio dan film;
  • penerbangan awal;
  • industri minyak serta kendaraan;
  • perubahan ilmu fisika;
  • pertumbuhan nasionalisme;
  • serta hubungan baru antara teknologi, kekaisaran, dan masyarakat.

Pembahasannya akan dilanjutkan dalam BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #011] [1900–1905].

Catatan Penelusuran

Catatan ini bukan daftar lengkap seluruh peristiwa yang berlangsung pada 1890–1900.

Masih banyak kehidupan, bencana, konflik, penemuan, perubahan lingkungan, dan peristiwa di berbagai wilayah yang tidak pernah dicatat, belum terdigitalisasi, hilang bersama arsip, atau belum dapat kami telusuri melalui bukti yang tersedia.

Angka mengenai penduduk, korban perang, korban bencana, kelaparan, dan wabah merupakan estimasi apabila tidak berasal dari pencatatan langsung yang dapat diverifikasi.

Nama serta batas wilayah masa lalu tidak selalu sama dengan keadaan sekarang. Istilah “Indonesia” digunakan untuk membantu mengenali wilayah geografisnya; Republik Indonesia belum terbentuk pada periode ini.

Masih banyak yang belum tercatat—termasuk kehidupan dan peristiwa di wilayah yang tidak meninggalkan arsip. Catatan ini menyajikan gambaran umum berdasarkan dokumen, data, penelitian, dan bukti yang masih dapat ditelusuri, kemudian dirangkum kembali agar jejaknya tidak hilang oleh waktu.

Sumber dan Referensi

Populasi, Ekonomi, dan Kehidupan Dunia

Teknologi, Film, Listrik, dan Komunikasi

Fisika dan Kedokteran

Iklim dan Lingkungan

Bencana dan Geologi

Geopolitik

Nusantara dan Hindia Belanda

Pemeriksaan Kebencanaan Indonesia Masa Kini

Catatan Koreksi dan Pemeriksaan Ulang

Informasi dalam Catatan ini dihimpun dari sumber serta bukti yang dapat kami telusuri. Pembaca dipersilakan memeriksa, membandingkan, dan melakukan cek serta ricek melalui dokumen atau sumber lain.

Keterbatasan arsip, perbedaan bahasa, perubahan penafsiran ilmiah, ketidaktepatan sumber lama, dan kekeliruan dalam penelusuran atau penulisan tetap mungkin terjadi.

Angka sejarah—terutama jumlah penduduk, korban perang, bencana, wabah, dan kelaparan—dapat berbeda antara satu penelitian dan penelitian lainnya. Penyebutan suatu angka tidak selalu berarti seluruh korban telah teridentifikasi.

Apabila ditemukan bukti yang lebih kuat, data yang lebih tepat, atau koreksi yang dapat diverifikasi, Catatan ini dapat diperbaiki dan diperbarui tanpa mengubah tujuan utamanya: menyimpan jejak perjalanan Bumi dan kehidupan manusia agar tidak hilang oleh waktu.

BUMI DARI MASA KE MASA
Oleh Armando Sinaga

BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #010] [1890–1900] | PUSTAHA