PUSTAHA CATATAN

BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #009] [1880–1890]

Ketika listrik mulai menerangi kota, kendaraan bermotor pertama dikembangkan, dan kekuatan industri membagi wilayah Afrika melalui Konferensi Berlin, Bumi diguncang letusan Krakatau 1883 beserta tsunami yang menewaskan puluhan ribu manusia. Di Nusantara, Perang Aceh terus berkobar, perkebunan kolonial meluas, dan teknologi modern berkembang berdampingan dengan eksploitasi tanah serta tenaga manusia.

Dipublikasikan 3 September 2026

Sampul BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #009] [1880–1890]

Ketika Dunia Modern Mulai Menyalakan Lampunya

Periode 1880–1890 merupakan dasawarsa ketika listrik mulai menerangi sebagian kota, kendaraan bermotor pertama dikembangkan, ilmu mengenai mikroorganisme mengubah kedokteran, dan jaringan komunikasi semakin memperpendek jarak antarbenua.

Namun, cahaya kemajuan itu berdiri di tengah sisi gelap zaman. Negara-negara industri memperluas kekuasaan kolonialnya, masyarakat adat kehilangan wilayah, buruh bekerja dalam kondisi berbahaya, dan perlombaan memperoleh tanah serta sumber daya semakin kuat.

Di tengah perubahan tersebut, Bumi memperlihatkan kekuatannya melalui letusan Krakatau 1883. Ledakan, tsunami, dan gelombang tekanannya tidak hanya menghancurkan pesisir Selat Sunda, tetapi juga meninggalkan tanda yang dapat diamati di seluruh dunia.

Dalam satu dasawarsa, manusia belajar mengirimkan listrik, menggerakkan kendaraan tanpa kuda, dan mengenali penyebab penyakit. Namun, manusia masih menggunakan kemajuan itu untuk memperluas kekuasaan atas tanah dan kehidupan sesamanya.

1880–1890: Bumi Berada di Era Apa?

Fakta

Secara geologi, 1880–1890 berada dalam kala Holosen, yaitu periode yang dimulai sekitar 11.700 tahun lalu setelah berakhirnya zaman es terakhir.

Istilah Antroposen digunakan dalam pembahasan ilmiah modern untuk menggambarkan masa ketika aktivitas manusia menjadi kekuatan penting yang memengaruhi sistem Bumi. Namun, Antroposen belum ditetapkan sebagai kala geologi resmi.

Dalam sejarah peradaban, dekade ini berada pada masa yang sering disebut sebagai bagian dari Revolusi Industri Kedua. Periode tersebut ditandai oleh perkembangan:

  • baja dalam skala besar;
  • industri kimia;
  • jaringan listrik;
  • mesin pembakaran dalam;
  • produksi minyak bumi;
  • komunikasi melalui telegraf dan telepon;
  • jalur kereta api;
  • kapal uap;
  • serta produksi massal.

Pada saat yang sama, dekade ini menjadi bagian dari imperialisme baru, ketika negara-negara industri memperluas wilayah kekuasaan dan pengaruh ekonominya di Afrika, Asia, dan kawasan Pasifik.

Penduduk Dunia

Fakta dan Rekonstruksi

Tidak ada sensus global yang menghitung seluruh manusia secara bersamaan pada 1880–1890. Angka penduduk dunia pada masa ini merupakan hasil rekonstruksi dari sensus nasional, catatan pajak, perkiraan wilayah, serta penelitian demografi modern.

Berbagai rekonstruksi menempatkan jumlah penduduk dunia pada kisaran sekitar 1,4–1,5 miliar jiwa menjelang akhir dekade 1880-an. Angka tepatnya berbeda menurut sumber dan metode yang digunakan.

Asia tetap menjadi kawasan dengan jumlah penduduk terbesar. Tiongkok dan India menampung bagian besar populasi manusia, sedangkan Eropa mengalami pertumbuhan penduduk yang disertai urbanisasi serta migrasi besar ke benua lain.

Perpindahan manusia meningkat melalui:

  • migrasi dari Eropa menuju Amerika dan Australia;
  • perpindahan penduduk desa menuju kota industri;
  • pengangkutan buruh kontrak India dan Tiongkok;
  • perpindahan pekerja menuju perkebunan serta pertambangan;
  • pengungsian akibat perang, bencana, dan pengambilalihan tanah;
  • serta perluasan permukiman kolonial.

Catatan Penting

Pertumbuhan penduduk tidak berarti semua manusia hidup lebih lama atau lebih sehat. Angka kematian bayi masih tinggi, persalinan tetap berbahaya, penyakit menular merenggut banyak nyawa, dan akses terhadap makanan maupun layanan kesehatan sangat tidak merata.

Kehidupan Manusia dan Masyarakat

Sebagian besar manusia pada 1880-an masih hidup di pedesaan. Kehidupan mereka bergantung pada musim, tanah, air, ternak, hutan, dan hasil panen.

Di berbagai kota industri, kehidupan berubah lebih cepat. Pabrik, stasiun, pelabuhan, gudang, kawasan perdagangan, dan permukiman pekerja terus berkembang.

Kehidupan perkotaan menawarkan peluang kerja dan akses lebih besar terhadap barang, pendidikan, serta pelayanan tertentu. Namun, banyak pekerja tinggal di kawasan padat dengan:

  • sanitasi buruk;
  • air tercemar;
  • asap batu bara;
  • upah rendah;
  • jam kerja panjang;
  • kecelakaan kerja;
  • pekerjaan anak;
  • dan perlindungan sosial yang sangat terbatas.

Perbedaan kelas semakin terlihat antara pemilik modal, pejabat, pedagang besar, pemilik tanah, kelas menengah baru, buruh industri, petani, buruh perkebunan, serta masyarakat yang hidup di bawah pemerintahan kolonial.

Buruh, Perlawanan, dan Tuntutan Sosial

Pertumbuhan industri melahirkan kelompok buruh perkotaan yang semakin besar. Organisasi pekerja, serikat buruh, gerakan sosialis, dan tuntutan perbaikan upah berkembang di berbagai negara.

Tuntutan yang mulai diperjuangkan meliputi:

  • pengurangan jam kerja;
  • keselamatan di tempat kerja;
  • larangan atau pembatasan pekerjaan anak;
  • hak berkumpul;
  • hak membentuk serikat;
  • dan upah yang lebih layak.

Peristiwa Haymarket di Chicago pada 1886 menjadi salah satu simbol penting sejarah gerakan buruh. Sebuah demonstrasi yang berkaitan dengan tuntutan delapan jam kerja berubah menjadi kekerasan setelah sebuah bom dilemparkan dan polisi melepaskan tembakan.

Proses hukum setelah peristiwa tersebut menimbulkan perdebatan besar mengenai keadilan, kebebasan politik, dan perlakuan terhadap aktivis buruh.

Mesin mempercepat produksi, tetapi para pekerja mulai bertanya: siapakah yang menikmati hasil dari kecepatan itu?

Pangan, Pertanian, dan Perdagangan

Pertanian tetap menjadi sumber kehidupan utama bagi sebagian besar penduduk dunia. Gandum, beras, jagung, kentang, sorgum, millet, singkong, serta tanaman pangan lokal menopang masyarakat.

Pertanian komersial berkembang karena kapal uap dan kereta api memungkinkan hasil panen diangkut ke pasar yang lebih jauh.

Komoditas dunia meliputi:

  • kapas;
  • gula;
  • kopi;
  • teh;
  • tembakau;
  • gandum;
  • daging;
  • wol;
  • karet;
  • rempah-rempah;
  • dan minyak nabati.

Perdagangan pangan internasional dapat membantu mengatasi kekurangan di satu tempat. Namun, perdagangan juga dapat mendorong tanah pertanian digunakan untuk komoditas ekspor sehingga masyarakat lokal semakin bergantung pada pasar.

Akses terhadap makanan tetap ditentukan oleh harga, upah, kepemilikan tanah, pajak, utang, transportasi, dan kebijakan pemerintah.

Ekonomi Dunia: Industri Tumbuh di Tengah Ketidakpastian

Perekonomian dunia masih menghadapi dampak krisis keuangan yang bermula pada 1873. Masa sesudahnya sering disebut Depresi Panjang, meskipun penggunaan istilah dan batas waktunya masih diperdebatkan.

Harga sejumlah barang dan hasil pertanian mengalami tekanan. Persaingan antara perusahaan meningkat, sementara industri besar mencari pasar serta sumber bahan mentah baru.

Pada saat yang sama, produksi baja, batu bara, mesin, dan barang pabrik terus bertambah di sejumlah negara. Amerika Serikat dan Jerman tumbuh menjadi pesaing industri Inggris.

Ekonomi internasional semakin dihubungkan oleh:

  • bank;
  • investasi;
  • perusahaan saham;
  • asuransi;
  • telegraf;
  • rel kereta api;
  • kapal uap;
  • dan pasar komoditas.

Standar emas semakin digunakan oleh negara-negara industri untuk mengatur nilai mata uang. Sistem ini membantu transaksi internasional, tetapi juga membatasi kebebasan pemerintah dalam menghadapi tekanan ekonomi tertentu.

Temuan Penelitian

Dekade 1880-an menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi tidak selalu berarti kesejahteraan merata. Keuntungan industri dapat meningkat bersamaan dengan upah rendah, ketimpangan, pengangguran, dan kehilangan tanah.

Energi: Batu Bara, Minyak, dan Listrik

Batu bara tetap menjadi bahan bakar utama dunia industri. Batu bara menggerakkan:

  • lokomotif;
  • kapal uap;
  • pabrik;
  • mesin tambang;
  • produksi besi dan baja;
  • serta pembangkit listrik awal.

Minyak bumi berkembang sebagai sumber penerangan, pelumas, dan bahan bakar. Industri pengeboran tumbuh di Amerika Serikat, kawasan Kaukasus, serta beberapa wilayah lain.

Listrik mulai memasuki kehidupan perkotaan. Pada 1882, stasiun pembangkit Pearl Street di New York mulai memasok listrik arus searah kepada pelanggan di kawasan terbatas.

Pembangunan sistem listrik memerlukan lebih dari sekadar lampu. Sistem itu membutuhkan:

  • generator;
  • pembangkit;
  • jaringan kabel;
  • sakelar;
  • pengukur;
  • serta peralatan pengaman.

Persaingan antara sistem arus searah dan arus bolak-balik berkembang pada akhir dekade. Penemuan dan pengembangan motor induksi serta sistem arus bolak-balik membantu memungkinkan transmisi listrik pada jarak yang lebih jauh.

Namun, sebagian besar penduduk dunia belum menikmati listrik. Bahkan di negara industri, penerangan listrik awal hanya tersedia di kawasan tertentu dan bagi masyarakat atau perusahaan yang mampu membayarnya.

Dunia Teknologi 1880–1890

Telepon Menjadi Jaringan

Telepon yang diperkenalkan pada dekade sebelumnya mulai berkembang menjadi jaringan komunikasi. Sentral telepon menghubungkan pelanggan dengan bantuan operator.

Jaringan tersebut terutama tersedia di kota, kantor pemerintahan, perusahaan, hotel, dan rumah masyarakat berpenghasilan tinggi.

Telepon belum menggantikan telegraf. Keduanya berkembang berdampingan:

  • telegraf digunakan untuk pesan tertulis jarak jauh;
  • telepon memungkinkan percakapan suara;
  • kabel bawah laut menghubungkan benua;
  • komunikasi menjadi alat perdagangan, diplomasi, dan militer.

Kendaraan Bermotor Pertama

Pada 1885–1886, Karl Benz mengembangkan dan mematenkan kendaraan yang dirancang untuk digerakkan oleh mesin pembakaran dalam.

Gottlieb Daimler, Wilhelm Maybach, dan penemu lain juga mengembangkan mesin serta kendaraan bermotor pada masa yang hampir bersamaan.

Karena banyak eksperimen berlangsung secara paralel, sejarah mobil tidak dapat disederhanakan menjadi karya satu orang.

Kendaraan tersebut masih mahal, lambat menurut ukuran modern, sulit dioperasikan, dan belum memiliki jalan maupun infrastruktur pendukung. Kuda, kereta, kapal, dan kereta api tetap mendominasi transportasi.

Namun, sebuah perubahan besar telah dimulai: kendaraan darat tidak lagi harus bergantung pada tenaga manusia, hewan, atau rel.

Sepeda Keselamatan

Pada pertengahan 1880-an, sepeda yang memiliki dua roda dengan ukuran lebih seimbang serta penggerak rantai mulai berkembang.

Desain yang disebut safety bicycle lebih mudah dan lebih aman digunakan dibandingkan sepeda beroda depan sangat besar.

Sepeda kemudian memperluas mobilitas masyarakat, memengaruhi pakaian, rekreasi, perdagangan, dan kemandirian perjalanan—termasuk bagi perempuan di sejumlah negara.

Fotografi dan Kamera untuk Masyarakat

Teknologi fotografi berkembang melalui pelat kering yang lebih praktis. Pada 1888, George Eastman memperkenalkan kamera Kodak dengan film gulung dan layanan pemrosesan.

Fotografi mulai bergerak dari pekerjaan yang memerlukan peralatan rumit menuju kegiatan yang dapat dilakukan lebih banyak orang.

Perubahan ini kelak memengaruhi:

  • dokumentasi keluarga;
  • jurnalisme;
  • penelitian ilmiah;
  • pemetaan;
  • kepolisian;
  • propaganda;
  • serta pencatatan perang dan kehidupan masyarakat.

Mesin Cetak dan Linotype

Mesin Linotype dikembangkan pada 1880-an dan mulai digunakan untuk menyusun baris-baris huruf logam secara mekanis.

Teknologi ini mempercepat pencetakan surat kabar dan buku. Informasi dapat diproduksi dalam jumlah lebih besar dan dengan biaya lebih rendah.

Namun, meningkatnya kemampuan mencetak tidak berarti semua informasi menjadi benar. Surat kabar juga digunakan untuk propaganda, kepentingan politik, iklan, dan pembentukan opini publik.

Kartu Berlubang dan Pengolahan Data

Herman Hollerith mengembangkan sistem kartu berlubang untuk mengolah data sensus Amerika Serikat 1890. Pekerjaan pengembangannya berlangsung pada akhir 1880-an.

Mesin tersebut membantu menghitung serta mengelompokkan data dalam jumlah besar secara lebih cepat daripada pencatatan manual.

Teknologi ini menjadi salah satu tahap penting dalam sejarah panjang pengolahan data mekanis yang kemudian mengarah menuju komputer modern.

Kota yang Berubah

Penggunaan baja, lift, listrik, dan teknologi bangunan memungkinkan gedung dibuat lebih tinggi.

Home Insurance Building di Chicago, yang diselesaikan pada pertengahan 1880-an, sering disebut sebagai salah satu gedung pencakar langit awal. Namun, definisi “pencakar langit pertama” masih diperdebatkan.

Kereta listrik dan trem mulai digunakan di beberapa kota. Jaringan transportasi tersebut mendorong perluasan kota menuju kawasan pinggiran.

Kemajuan itu juga menciptakan kebutuhan baru:

  • pasokan listrik;
  • pengaturan lalu lintas;
  • pemadam kebakaran;
  • saluran air;
  • pembuangan limbah;
  • dan perencanaan kota.

Ilmu Pengetahuan dan Kesehatan

Robert Koch dan Bakteri Penyebab Penyakit

Pada 1882, Robert Koch mengumumkan penemuan bakteri penyebab tuberkulosis, yang sekarang dikenal sebagai Mycobacterium tuberculosis.

Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit paling mematikan pada masa tersebut, terutama di kota padat dengan perumahan buruk, kekurangan gizi, serta ventilasi yang terbatas.

Pada 1883–1884, Koch dan tim penelitiannya mengidentifikasi bakteri yang berkaitan dengan kolera melalui penyelidikan di Mesir dan India.

Temuan ini memperkuat gagasan bahwa penyakit tertentu disebabkan oleh mikroorganisme tertentu.

Vaksin Rabies

Pada 1885, Louis Pasteur dan rekan-rekannya memberikan pengobatan setelah paparan rabies kepada Joseph Meister, seorang anak yang digigit anjing.

Anak tersebut bertahan hidup. Peristiwa itu menjadi salah satu tonggak penting perkembangan vaksin dan imunologi.

Namun, prosedur serta standar pengujian pada masa tersebut belum sama dengan standar kedokteran modern. Keberhasilan itu harus dipahami dalam konteks ilmu pengetahuan abad ke-19.

Sanitasi dan Kesehatan Masyarakat

Pemahaman tentang kuman mendorong perbaikan:

  • sterilisasi peralatan;
  • kebersihan rumah sakit;
  • pengelolaan limbah;
  • penyediaan air bersih;
  • pemeriksaan makanan;
  • dan karantina.

Penerapan perbaikan tersebut tidak terjadi serentak. Banyak masyarakat masih belum memiliki akses terhadap air aman, rumah sakit, dokter, atau obat-obatan.

Penyakit yang masih mengancam manusia meliputi:

  • tuberkulosis;
  • kolera;
  • malaria;
  • cacar;
  • tifus;
  • demam tifoid;
  • disentri;
  • campak;
  • difteri;
  • dan infeksi setelah melahirkan atau operasi.

Antibiotik belum ditemukan. Infeksi yang saat ini dapat diobati masih dapat menyebabkan kematian.

Cuaca dan Iklim Dunia

Jaringan pengamatan cuaca berkembang melalui stasiun meteorologi, observatorium, kapal, dan telegraf.

Telegraf memungkinkan laporan cuaca dari berbagai tempat dikumpulkan dan disusun menjadi peta. Peringatan badai awal mulai dikirim ke pelabuhan dan wilayah pesisir.

Namun, pengamatan belum merata. Wilayah Eropa, Amerika Utara, pelabuhan besar, dan pusat kolonial memiliki catatan yang lebih banyak daripada pedalaman Afrika, Asia, Amerika Selatan, dan kepulauan terpencil.

Rekonstruksi iklim periode ini berasal dari:

  • termometer;
  • pengukur tekanan udara;
  • catatan hujan;
  • laporan kapal;
  • arsip panen;
  • lingkaran pohon;
  • karang;
  • sedimen;
  • inti es;
  • dan berbagai sumber proksi.

Ketidakpastian data suhu global abad ke-19 lebih besar daripada masa modern karena jumlah serta persebaran stasiun masih terbatas.

Letusan Krakatau 1883

Tanda-Tanda Awal

Krakatau merupakan kompleks gunung api di Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatra.

Aktivitas yang terlihat jelas dimulai pada Mei 1883. Kapal dan penduduk melihat kepulan abu serta mendengar ledakan. Aktivitas berlanjut selama beberapa bulan.

Pada masa itu belum tersedia:

  • seismograf modern yang mengelilingi gunung;
  • satelit;
  • pemantauan deformasi dengan GPS;
  • sensor gas otomatis;
  • model penyebaran tsunami;
  • atau sistem evakuasi terpadu.

Masyarakat mengetahui bahaya melalui pengamatan langsung, suara ledakan, abu, perubahan laut, laporan kapal, dan berita telegraf.

Puncak Letusan 26–27 Agustus 1883

Aktivitas meningkat hebat pada 26 Agustus. Pada 27 Agustus, beberapa ledakan besar terjadi dan sebagian besar kompleks gunung runtuh membentuk kaldera.

Ledakan menghasilkan:

  • kolom abu yang sangat tinggi;
  • aliran dan gelombang piroklastik;
  • gelombang tekanan atmosfer;
  • hujan abu;
  • kegelapan di sekitar Selat Sunda;
  • serta tsunami yang menghantam pesisir Jawa dan Sumatra.

Sebagian besar korban meninggal akibat tsunami, bukan akibat suara ledakan.

Smithsonian Global Volcanism Program mencatat lebih dari 36.000 kematian. Angka yang sering disebut adalah sekitar 36.000–37.000 jiwa, tetapi jumlah sebenarnya dapat berbeda karena catatan penduduk tidak sempurna.

Permukiman di pesisir Banten dan Lampung hancur. Anjer, Merak, dan berbagai desa di sekitar Selat Sunda mengalami kerusakan sangat berat. Telok Betong—sekarang bagian dari Bandar Lampung—juga terdampak besar.

Gelombang piroklastik melintasi permukaan laut dan mencapai pantai Sumatra. Kapal-kapal menghadapi gelombang, abu, batu apung, dan perubahan permukaan laut.

Suara dan Gelombang Tekanan

Ledakan Krakatau terdengar hingga ribuan kilometer. Laporan menyebut suara tersebut terdengar di Australia dan kawasan Samudra Hindia.

Gelombang tekanan atmosfer direkam oleh barograf di berbagai tempat dan mengelilingi Bumi beberapa kali.

Krakatau menjadi salah satu bencana pertama yang dapat ditelusuri hampir secara global melalui jaringan instrumen, kapal, surat kabar, telegraf, dan observatorium.

Sebelum manusia memiliki satelit, Bumi telah mengirimkan berita letusan itu melalui udara, laut, cahaya, abu, dan alat pengukur tekanan di berbagai benua.

Dampak terhadap Atmosfer dan Iklim

Letusan menyuntikkan sulfur dioksida dan partikel ke atmosfer bagian atas. Aerosol sulfat memantulkan sebagian cahaya Matahari dan berhubungan dengan penurunan suhu global sementara.

Berbagai sumber memperkirakan pendinginan global mencapai beberapa persepuluh derajat Celsius dalam periode setelah letusan. Besaran dan lamanya perubahan berbeda menurut dataset serta wilayah.

Debu dan aerosol menghasilkan pemandangan Matahari terbenam berwarna merah, lingkaran cahaya, dan fenomena optik yang diamati di berbagai negara.

Tidak setiap kejadian cuaca setelah 1883 dapat dinyatakan sebagai akibat Krakatau. Hubungan sebab-akibat harus diuji melalui data dan penelitian, bukan hanya berdasarkan waktu yang berdekatan.

Perubahan Bentuk Krakatau

Letusan menghancurkan Danan dan Perbuwatan serta menyisakan sebagian Rakata. Runtuhnya wilayah gunung membentuk kaldera yang sebagian besar berada di bawah laut.

Pulau Anak Krakatau belum ada pada 1883. Kerucut yang kemudian dinamai Anak Krakatau baru muncul dari kawasan kaldera pada 1927.

Pembedaan ini penting agar gambar dan narasi sejarah tidak menempatkan bentuk gunung modern ke dalam keadaan 1883.

Banjir Sungai Kuning 1887

Pada September 1887, Sungai Kuning di Tiongkok meluap dan menjebol tanggul di wilayah Henan.

Air menyebar ke dataran rendah, menghancurkan permukiman, lahan pertanian, dan jalur kehidupan masyarakat.

Jumlah korban sangat tidak pasti. Berbagai sumber sejarah menyebut angka ratusan ribu hingga lebih dari satu juta orang apabila kematian akibat kelaparan dan penyakit setelah banjir ikut dihitung.

Angka tersebut harus diperlakukan sebagai estimasi, bukan jumlah pasti.

Besarnya bencana berhubungan dengan:

  • hujan lebat;
  • sedimentasi sungai;
  • posisi dasar sungai yang semakin tinggi;
  • ketergantungan pada tanggul;
  • kepadatan penduduk di dataran banjir;
  • kerusakan pertanian;
  • dan penyakit setelah bencana.

Gempa dan Bencana Lain

Gempa Charleston 1886 mengguncang wilayah tenggara Amerika Serikat dan menimbulkan kerusakan luas. Peristiwa tersebut menjadi salah satu gempa paling penting dalam sejarah kawasan timur Amerika Utara.

Gempa besar juga terjadi di Riviera Liguria pada 1887 dan merusak wilayah Italia serta Prancis.

Badai, banjir, kekeringan, kebakaran kota, letusan gunung, dan kecelakaan pertambangan terus menimbulkan korban di berbagai belahan dunia.

Catatan bencana masa itu tidak lengkap. Peristiwa di kota besar lebih mungkin terdokumentasi daripada bencana yang terjadi di desa terpencil atau wilayah kolonial.

Kondisi Lingkungan Bumi

Industrialisasi memperbesar penggunaan batu bara dan bahan mentah. Asap pabrik mencemari udara, sementara limbah rumah tangga serta industri masuk ke sungai.

Hutan dibuka untuk:

  • perkebunan;
  • pertanian;
  • peternakan;
  • kayu bangunan;
  • bahan bakar;
  • pertambangan;
  • rel kereta api;
  • dan perluasan permukiman.

Perburuan komersial dan perubahan habitat menekan sejumlah populasi satwa.

Gerakan konservasi mulai muncul, tetapi sering memisahkan perlindungan alam dari hak masyarakat adat. Di beberapa wilayah, kawasan konservasi dibentuk dengan membatasi masyarakat yang sebelumnya telah hidup dan mengelola wilayah tersebut.

Tata Surya dan Astronomi

Astronomi berkembang melalui teleskop, fotografi, spektroskopi, serta pengukuran yang semakin teliti.

Para astronom mempelajari:

  • bintik Matahari;
  • spektrum cahaya bintang;
  • posisi planet;
  • komet;
  • nebula;
  • dan gerakan benda langit.

Pada 1882, transit Venus kembali diamati dari berbagai tempat di dunia. Pengamatan tersebut digunakan untuk membantu memperbaiki perhitungan jarak Bumi–Matahari.

Komet Besar 1882 menjadi salah satu komet paling terang yang diamati pada abad ke-19. Komet itu termasuk kelompok komet yang melintas sangat dekat dengan Matahari.

Fotografi astronomi memungkinkan cahaya dari benda langit dikumpulkan lebih lama daripada kemampuan mata manusia. Langit mulai tidak hanya digambar, tetapi juga direkam.

Aktivitas Matahari berada dalam siklus alamiahnya. Perubahan Matahari dapat memengaruhi cuaca antariksa dan medan magnet Bumi, tetapi tidak dapat digunakan untuk menjelaskan setiap gempa, letusan, perang, wabah, atau krisis ekonomi.

Geopolitik dan Imperialisme Dunia

Konferensi Berlin 1884–1885

Konferensi Berlin diselenggarakan atas undangan Kanselir Jerman Otto von Bismarck. Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat membahas aturan perdagangan, pelayaran, dan pengakuan klaim kolonial di Afrika.

Masyarakat serta kerajaan Afrika tidak memperoleh kedudukan yang setara dalam perundingan tersebut.

Konferensi Berlin tidak membagi setiap wilayah Afrika secara langsung dalam satu pertemuan. Namun, aturan mengenai pendudukan efektif dan pengakuan klaim membantu mempercepat perebutan serta penjajahan Afrika.

Batas-batas kolonial kemudian sering dibuat tanpa memperhatikan hubungan etnis, bahasa, perdagangan, kerajaan, atau kehidupan masyarakat setempat.

Negara Bebas Kongo

Pada 1885, Negara Bebas Kongo memperoleh pengakuan internasional sebagai wilayah yang berada di bawah kekuasaan pribadi Raja Leopold II dari Belgia.

Nama “negara bebas” tidak menggambarkan kebebasan masyarakatnya. Sistem eksploitasi yang berkembang kemudian menggunakan kekerasan, penyanderaan, kerja paksa, dan hukuman untuk memperoleh karet serta sumber daya lain.

Kekejaman besar di Kongo semakin terungkap pada dekade-dekade berikutnya.

Inggris Menduduki Mesir

Pada 1882, pasukan Inggris menduduki Mesir setelah pemberontakan Urabi.

Terusan Suez menjadi salah satu kepentingan utama karena merupakan jalur strategis yang menghubungkan Eropa dengan Asia, terutama India.

Mesir secara resmi masih berada dalam lingkungan Kesultanan Utsmaniyah, tetapi Inggris memegang kekuasaan nyata yang semakin besar.

Perang Mahdi di Sudan

Pemberontakan yang dipimpin Muhammad Ahmad al-Mahdi berkembang di Sudan melawan pemerintahan Mesir yang didukung Inggris.

Pasukan Mahdi merebut Khartoum pada 1885. Jenderal Inggris Charles Gordon terbunuh dalam peristiwa tersebut.

Konflik berlanjut dan menjadi bagian dari perebutan kekuasaan kolonial di Afrika timur laut.

Prancis di Indochina

Prancis memperluas kekuasaannya di Vietnam dan berperang melawan Dinasti Qing dalam Perang Tiongkok–Prancis 1884–1885.

Pada 1887, Prancis membentuk Uni Indochina yang mencakup wilayah Vietnam dan Kamboja di bawah struktur kolonial. Laos baru dimasukkan kemudian.

Pembentukan tersebut menghubungkan pemerintahan, pajak, infrastruktur, dan perdagangan wilayah dengan kepentingan kolonial Prancis.

Inggris Menguasai Burma Hulu

Perang Inggris–Burma Ketiga berlangsung pada 1885. Inggris menyingkirkan Raja Thibaw dan menganeksasi Burma Hulu.

Kerajaan Burma berakhir, tetapi perlawanan bersenjata berlanjut di berbagai daerah.

Penguasaan Burma memperkuat posisi Inggris antara India, Tiongkok, dan Asia Tenggara.

Jepang pada Masa Meiji

Jepang melanjutkan modernisasi melalui pendidikan, militer, industri, perbankan, kereta api, dan pembaruan pemerintahan.

Konstitusi Kekaisaran Jepang diumumkan pada 1889.

Modernisasi memperkuat kemampuan Jepang mempertahankan diri dari tekanan Barat. Namun, perubahan tersebut juga membangun fondasi bagi perluasan kekuatan militer dan imperialisme Jepang pada masa berikutnya.

Amerika Serikat dan Masyarakat Pribumi

Amerika Serikat terus memperluas permukiman, pertanian, pertambangan, dan rel kereta api ke wilayah barat.

Kebijakan pemerintah memindahkan masyarakat adat ke reservasi dan menghancurkan banyak dasar kehidupan mereka. Sekolah asrama digunakan untuk memisahkan anak-anak pribumi dari bahasa, keluarga, serta kebudayaannya.

Dawes Act 1887 membagi tanah komunal suku menjadi bidang individual. Kebijakan ini menyebabkan hilangnya wilayah masyarakat adat dalam skala besar.

Chinese Exclusion Act 1882 membatasi imigrasi pekerja Tiongkok dan menjadi salah satu contoh penting diskriminasi rasial dalam hukum imigrasi Amerika Serikat.

Perbudakan Dihapuskan di Brasil

Brasil menghapuskan perbudakan pada 1888 melalui Lei Áurea atau Undang-Undang Emas.

Brasil merupakan negara terakhir di kawasan Amerika yang secara resmi menghapuskan perbudakan.

Namun, penghapusan hukum tidak langsung memberikan tanah, pendidikan, pekerjaan layak, atau perlindungan yang setara kepada mantan budak. Warisan perbudakan tetap hidup melalui kemiskinan, diskriminasi, dan ketimpangan kepemilikan tanah.

Nusantara Sebelum Indonesia Terbentuk

Pada 1880–1890, negara Republik Indonesia belum ada. Wilayah yang sekarang disebut Indonesia terdiri atas kerajaan, kesultanan, masyarakat adat, daerah pemerintahan kolonial langsung, serta wilayah yang belum sepenuhnya dikuasai Belanda.

Istilah Hindia Belanda digunakan untuk administrasi kolonial Belanda. Namun, klaim pada peta tidak selalu mencerminkan kekuasaan nyata di lapangan.

Belanda menguasai Jawa dan sejumlah pusat penting dengan lebih kuat, tetapi masih menghadapi perlawanan serta keterbatasan kekuasaan di Aceh, Bali, Lombok, pedalaman Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan berbagai kepulauan lainnya.

Karena itu, sejarah Nusantara tidak boleh diperlakukan hanya sebagai sejarah pemerintah kolonial. Di dalamnya terdapat sejarah masyarakat, kerajaan, bahasa, agama, perdagangan, pertanian, dan perlawanan lokal.

Urutan Perubahan di Nusantara Menjelang 1880-an

Beberapa perkembangan sebelumnya membentuk keadaan dekade ini:

  • Sistem Tanam Paksa diberlakukan sejak 1830, terutama di Jawa.
  • Kritik terhadap penderitaan dan penyalahgunaan sistem tersebut meningkat.
  • Terusan Suez dibuka pada 1869 dan mempercepat hubungan Eropa–Asia.
  • Undang-Undang Agraria 1870 membuka jalan bagi penyewaan tanah jangka panjang kepada perusahaan.
  • Perusahaan swasta memperluas perkebunan di Jawa dan Sumatra.
  • Perjanjian Sumatra 1871 mengurangi hambatan diplomatik bagi ekspansi Belanda.
  • Perang Aceh dimulai pada 1873.
  • Pada 1880, pemerintah kolonial memberlakukan peraturan buruh yang memperkuat pengawasan terhadap pekerja kontrak di Sumatra Timur.

Dekade 1880-an melanjutkan perubahan dari eksploitasi yang banyak dikelola negara menuju eksploitasi yang semakin melibatkan perusahaan swasta.

Perang Aceh Terus Berlangsung

Belanda telah menduduki pusat kesultanan dan menyatakan Aceh dianeksasi pada 1874. Namun, perlawanan tidak berakhir.

Pejuang Aceh menggunakan pengetahuan mengenai hutan, perbukitan, sungai, dan jaringan masyarakat. Perang berkembang menjadi perlawanan bergerak yang sulit dihentikan oleh operasi militer konvensional.

Belanda menghadapi:

  • serangan berulang;
  • medan yang sulit;
  • penyakit tropis;
  • biaya perang tinggi;
  • masalah logistik;
  • dan keterbatasan informasi tentang masyarakat Aceh.

Pada pertengahan 1880-an, Belanda memusatkan pertahanannya di sekitar Kutaraja melalui sistem garis pertahanan yang dikenal sebagai Garis Konsentrasi. Langkah ini menunjukkan bahwa klaim penguasaan wilayah lebih luas daripada kendali nyata.

Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar

Cut Nyak Dhien telah kehilangan suaminya, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, dalam perang pada 1878. Sekitar 1880, ia menikah dengan Teuku Umar dan melanjutkan perjuangan melawan Belanda.

Teuku Umar dikenal menggunakan strategi yang berubah mengikuti keadaan. Peranan serta manuvernya menjadi semakin penting pada dekade berikutnya.

Kisah mereka harus ditempatkan dalam perjuangan masyarakat Aceh yang lebih luas. Perang tidak digerakkan oleh satu atau dua tokoh saja, tetapi melibatkan ulama, uleebalang, keluarga, jaringan desa, dan masyarakat yang mempertahankan wilayahnya.

Belanda memiliki senjata, kapal, dan telegraf. Aceh memiliki masyarakat yang tidak menganggap sebuah pengumuman aneksasi sebagai akhir dari kemerdekaannya.

Peraturan Kuli 1880 dan Poenale Sanctie

Perkebunan Sumatra Timur membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar. Buruh didatangkan terutama dari Tiongkok dan kemudian semakin banyak dari Jawa serta daerah lain.

Pada 1880, pemerintah kolonial memberlakukan Koelie Ordonnantie atau Peraturan Kuli. Sistem ini disertai poenale sanctie, yaitu sanksi pidana terhadap buruh yang dianggap melanggar kontrak, termasuk melarikan diri dari perkebunan.

Secara resmi, mereka disebut buruh kontrak. Dalam praktiknya, kebebasan mereka sangat terbatas.

Buruh menghadapi:

  • kontrak yang tidak selalu dipahami;
  • utang;
  • pengawasan ketat;
  • hukuman;
  • kekerasan;
  • penyakit;
  • tempat tinggal buruk;
  • dan angka kematian tinggi.

Sistem tersebut membantu perusahaan memastikan pasokan tenaga kerja, tetapi mengorbankan hak manusia yang bekerja di dalamnya.

Perkebunan Deli dan Perubahan Sumatra Timur

Perkebunan tembakau Deli berkembang pesat karena kualitas tembakaunya memperoleh permintaan tinggi di pasar internasional.

Perusahaan memperoleh konsesi tanah melalui kesepakatan dengan penguasa lokal dan dukungan struktur kolonial.

Perluasan perkebunan mengubah:

  • hutan;
  • pola kepemilikan tanah;
  • hubungan masyarakat Melayu dan Karo;
  • aliran migrasi;
  • susunan penduduk;
  • dan ekonomi Sumatra Timur.

Kota Medan berkembang sebagai pusat administrasi dan perkebunan. Jaringan jalan, gudang, serta fasilitas perdagangan dibangun untuk mendukung ekspor.

Kemajuan ekonomi perkebunan tidak dapat dipisahkan dari tanah masyarakat, tenaga buruh, dan kekuasaan kolonial yang melindungi perusahaan.

Ekonomi Jawa dan Perkebunan Swasta

Di Jawa, gula, kopi, teh, kina, tembakau, serta berbagai hasil perkebunan tetap penting.

Penghapusan Sistem Tanam Paksa berlangsung bertahap. Tidak semua kewajiban tanam berakhir pada 1870, dan penanaman kopi wajib masih bertahan di sejumlah wilayah.

Perusahaan swasta menyewa tanah dan mengembangkan produksi. Pabrik gula menggunakan mesin, jaringan irigasi, serta kereta atau trem perkebunan untuk mengangkut tebu.

Masyarakat desa menghadapi perubahan dalam:

  • penggunaan tanah;
  • kebutuhan tenaga;
  • sistem sewa;
  • utang;
  • pajak;
  • dan ketergantungan terhadap harga pasar.

Pertumbuhan ekspor menghasilkan keuntungan, tetapi manfaatnya tidak terbagi secara setara.

Penemuan Minyak di Sumatra

Pada 1885, Aeilko Jans Zijlker memperoleh hasil pengeboran minyak yang menjanjikan di Telaga Said, dekat Pangkalan Brandan, Sumatra Utara.

Penemuan tersebut menjadi salah satu dasar perkembangan industri minyak modern di Hindia Belanda.

Perusahaan yang kemudian berkembang menjadi bagian penting sejarah Royal Dutch baru dibentuk pada 1890, sehingga pembahasannya akan dilanjutkan dalam Catatan berikutnya.

Penemuan minyak menunjukkan perubahan arah sumber daya Nusantara. Tanah tidak lagi hanya menghasilkan tanaman ekspor; bagian bawah tanahnya juga mulai dicari untuk memenuhi kebutuhan energi industri dunia.

Timah, Batu Bara, dan Pertambangan

Pertambangan timah di Bangka dan Belitung tetap penting bagi ekonomi kolonial. Timah diperlukan untuk berbagai kebutuhan industri dan perdagangan.

Cadangan batu bara Ombilin di Sumatra Barat telah diketahui sejak dekade sebelumnya, tetapi pembangunan pertambangan serta jalur pengangkutannya berkembang lebih besar setelah periode ini.

Eksplorasi geologi kolonial memetakan mineral, batu bara, minyak, dan bentang alam. Pengetahuan ilmiah yang dihasilkan berguna bagi geologi, tetapi sering diarahkan terutama untuk kepentingan ekonomi serta penguasaan sumber daya.

Kereta Api, Pelabuhan, dan Telegraf

Jaringan rel di Jawa terus berkembang. Kereta api menghubungkan perkebunan, kota, pabrik, dan pelabuhan.

Rel membantu mengangkut:

  • gula;
  • kopi;
  • teh;
  • hasil bumi;
  • penumpang;
  • surat;
  • dan pasukan kolonial.

Pelabuhan Tanjung Priok dikembangkan pada akhir abad ke-19 untuk menggantikan keterbatasan pelabuhan lama Sunda Kelapa. Fasilitas baru memungkinkan kapal yang lebih besar serta arus barang yang lebih cepat menuju Batavia.

Telegraf mempercepat laporan pemerintahan, harga komoditas, perintah militer, dan berita bencana.

Ketika Krakatau meletus, telegraf membantu kabar bencana menyebar melalui jaringan internasional. Peristiwa lokal di Selat Sunda segera menjadi berita dunia.

Pemberitaan Krakatau sebagai Peristiwa Global

Letusan Krakatau terjadi ketika dunia telah dihubungkan oleh kabel telegraf bawah laut dan surat kabar dalam jumlah besar.

Laporan dari Batavia dan wilayah sekitarnya dikirim menuju Singapura, India, Eropa, dan Amerika.

Karena itu, Krakatau sering dipandang sebagai salah satu bencana alam pertama yang menjadi peristiwa media global.

Namun, laporan kolonial tidak selalu memberi ruang yang sama kepada suara masyarakat lokal. Banyak nama, pengalaman keluarga, desa, dan kisah penyintas tidak masuk ke arsip resmi.

Pemberontakan Banten 1888

Pada Juli 1888, pemberontakan terjadi di Cilegon dan wilayah sekitarnya di Banten.

Peristiwa tersebut melibatkan pemimpin agama, petani, serta jaringan masyarakat yang menentang pejabat dan struktur kolonial.

Latar belakangnya kompleks dan mencakup:

  • tekanan ekonomi;
  • pajak;
  • ketidakpuasan terhadap pemerintahan kolonial;
  • perubahan sosial;
  • otoritas keagamaan;
  • serta ketegangan lokal.

Dampak Krakatau dan penderitaan masyarakat setelah bencana kadang ditempatkan sebagai bagian dari keadaan sosial Banten menjelang pemberontakan. Namun, letusan tidak boleh dijadikan satu-satunya penyebab. Hubungan langsungnya perlu dinilai melalui arsip dan penelitian sejarah.

Pemerintah kolonial menumpas pemberontakan serta menangkap, membuang, atau menghukum orang-orang yang dianggap terlibat.

Kehidupan Masyarakat Nusantara

Sebagian besar penduduk hidup sebagai petani, nelayan, pedagang, pengrajin, peternak, atau pekerja yang berhubungan dengan perkebunan.

Kehidupan sehari-hari berbeda menurut wilayah. Masyarakat Jawa, Sunda, Batak, Aceh, Minangkabau, Melayu, Dayak, Bugis, Makassar, Bali, Maluku, Papua, dan kelompok lainnya memiliki susunan sosial, bahasa, adat, serta hubungan politik yang berbeda.

Pasar, sungai, pelabuhan, jalur darat, dan laut menghubungkan masyarakat. Kapal tradisional tetap menjadi alat penting meskipun kapal uap berkembang.

Lapisan hukum kolonial membedakan penduduk ke dalam kategori seperti Eropa, Timur Asing, dan Bumiputra. Pembagian tersebut memengaruhi pengadilan, pendidikan, permukiman, pekerjaan, dan hak masyarakat.

Pendidikan dan Pengetahuan di Hindia Belanda

Pendidikan formal kolonial hanya dapat diakses sebagian kecil penduduk. Sekolah berbeda menurut status sosial, keturunan, lokasi, dan kebutuhan pemerintah.

Sekolah Dokter Djawa di Batavia melatih tenaga medis pribumi. Jumlah lulusan masih terbatas dan kedudukannya belum setara dengan dokter Eropa.

Pendidikan agama, pesantren, surau, sekolah misi, pengajaran keluarga, dan tradisi lokal tetap menjadi jalur penting penyebaran pengetahuan.

Kemampuan membaca serta menulis berkembang tidak hanya dalam bahasa Belanda atau Melayu, tetapi juga melalui berbagai aksara dan bahasa daerah.

Kesehatan di Nusantara

Masyarakat menghadapi malaria, cacar, kolera, disentri, tuberkulosis, penyakit kulit, infeksi, serta kekurangan gizi.

Perkebunan dan barak buruh dapat menciptakan keadaan yang mempermudah penyebaran penyakit. Lingkungan lembap, air yang tidak aman, kepadatan hunian, dan kelelahan memperburuk risiko kesehatan.

Layanan kesehatan lebih banyak tersedia di pusat pemerintahan, militer, perkebunan besar, atau kota. Penduduk desa mengandalkan pengobatan lokal, jamu, tabib, dukun, keluarga, dan pengetahuan tradisional.

Teori kuman mulai memengaruhi kedokteran kolonial, tetapi penerapannya belum merata.

Jejak Meteorologi, Geofisika, dan Kebencanaan Nusantara

BMKG belum berdiri dengan nama serta struktur seperti sekarang pada dekade 1880-an. Karena itu, tidak tepat menulis “laporan BMKG tahun 1883”.

Pengamatan pada masa tersebut dilakukan melalui observatorium, stasiun kolonial, pelabuhan, kapal, perkebunan, dan pejabat daerah.

Informasi mengenai cuaca serta bencana dapat ditelusuri melalui:

  • arsip Hindia Belanda;
  • laporan kapal;
  • data observatorium;
  • surat kabar;
  • catatan perkebunan;
  • laporan militer;
  • tradisi lisan;
  • katalog gempa dan tsunami;
  • serta penelitian geologi modern.

Letusan Krakatau mendorong penelitian lebih sistematis mengenai gunung api, gelombang atmosfer, tsunami, dan penyebaran abu.

Laporan Rogier Verbeek mengenai Krakatau menjadi salah satu kajian penting. Ia menggabungkan observasi lapangan, kesaksian, pemetaan, serta data dari berbagai lokasi untuk merekonstruksi peristiwa tersebut.

Dunia dan Nusantara dalam Satu Jaringan

Dekade 1880-an memperlihatkan bahwa dunia dan Nusantara telah terhubung melalui satu jaringan besar.

Hubungannya dapat ditelusuri sebagai berikut:

  • modal Eropa membiayai perkebunan di Sumatra dan Jawa;
  • hukum kolonial menyediakan akses terhadap tanah;
  • buruh didatangkan dari Tiongkok, Jawa, dan wilayah lain;
  • rel membawa hasil produksi menuju pelabuhan;
  • kapal uap mengangkut komoditas melalui Terusan Suez;
  • telegraf mengirimkan harga dan perintah;
  • bank serta perusahaan mengatur keuntungan;
  • sementara risiko kerja, kehilangan tanah, dan kerusakan lingkungan terutama ditanggung masyarakat setempat.

Krakatau menunjukkan hubungan dalam arah yang berbeda. Bencana terjadi di Selat Sunda, tetapi gelombang laut, tekanan udara, aerosol, cahaya langit, dan berita mengenainya menyebar ke seluruh dunia.

Nusantara bukan wilayah yang berdiri di luar sejarah global. Tanah, laut, tenaga manusia, hasil perkebunan, mineral, bencana, dan perlawanannya telah menjadi bagian dari perjalanan dunia.

Apa yang Berubah Sepanjang 1880–1890?

Dalam sepuluh tahun:

  • listrik mulai digunakan sebagai sistem penerangan kota;
  • telepon berkembang menjadi jaringan;
  • kendaraan bermotor pertama dibuat;
  • sepeda modern mulai terbentuk;
  • kamera menjadi lebih mudah digunakan;
  • mesin pengolah data mekanis dikembangkan;
  • bakteri penyebab tuberkulosis dan kolera berhasil diidentifikasi;
  • vaksin rabies digunakan kepada manusia;
  • negara-negara Eropa mempercepat perebutan Afrika;
  • Inggris menduduki Mesir dan Burma Hulu;
  • Prancis membentuk Indochina;
  • Brasil menghapuskan perbudakan;
  • Jepang memperkuat negara serta industrinya;
  • banjir Sungai Kuning menewaskan manusia dalam jumlah sangat besar;
  • Krakatau meletus dan mengubah Selat Sunda;
  • Perang Aceh terus berlanjut;
  • Peraturan Kuli memperkuat pengendalian buruh kontrak;
  • perkebunan Deli meluas;
  • minyak ditemukan di Sumatra Utara;
  • dan pemberontakan Banten 1888 memperlihatkan ketegangan di bawah kolonialisme.

Dunia semakin modern, tetapi modernitas berjalan bersama imperialisme, ketimpangan, dan perlawanan.

Kesimpulan Catatan #009

Periode 1880–1890 merupakan masa ketika manusia mulai membangun unsur-unsur dunia yang kita kenal sekarang: listrik, kendaraan bermotor, komunikasi suara, fotografi massal, pengolahan data, ilmu bakteri, dan jaringan industri internasional.

Namun, teknologi tidak menghapus ketidakadilan. Banyak penemuan digunakan terlebih dahulu oleh negara, perusahaan, militer, dan kelompok yang memiliki modal.

Konferensi Berlin memperlihatkan bagaimana wilayah serta masyarakat dapat dibicarakan oleh kekuatan asing tanpa keterlibatan mereka. Sistem perkebunan kolonial di Nusantara menunjukkan bagaimana hukum, modal, transportasi, dan tenaga kerja dapat disusun menjadi satu mesin ekonomi.

Krakatau memberikan pelajaran yang berbeda. Dalam beberapa jam, sebuah sistem gunung api mengubah pulau, laut, atmosfer, kehidupan masyarakat, dan bahkan warna langit di tempat-tempat yang sangat jauh.

Manusia telah memiliki telegraf untuk menyebarkan berita bencana, tetapi belum memiliki alat yang cukup untuk memperingatkan serta mengevakuasi seluruh masyarakat pesisir.

Pada 1880-an, manusia mulai menyalakan kota dengan listrik. Namun, letusan Krakatau mengingatkan bahwa cahaya terbesar zaman itu masih berasal dari kekuatan Bumi yang belum sepenuhnya dipahami manusia.

Analisis Penulis — Armando Sinaga

Setelah membandingkan perkembangan teknologi, ekonomi, kolonialisme, dan bencana pada periode ini, terlihat bahwa kekuatan utama dekade 1880-an adalah keterhubungan.

Listrik menghubungkan mesin dengan jaringan tenaga. Telegraf dan telepon menghubungkan komunikasi. Kereta api menghubungkan perkebunan dengan pelabuhan. Kapal uap menghubungkan koloni dengan pasar. Bank menghubungkan modal dengan tanah yang terletak ribuan kilometer jauhnya.

Namun, keterhubungan tersebut tidak dibangun dalam hubungan yang setara.

Orang yang menentukan kontrak sering tidak bekerja di perkebunan. Orang yang menikmati harga komoditas sering tidak kehilangan tanah. Orang yang membuat peta kolonial tidak selalu memahami kehidupan masyarakat yang tinggal di dalam batas-batasnya.

Krakatau memperlihatkan jenis hubungan yang tidak berada di bawah kendali kekaisaran. Gelombang tekanannya tidak mengenal batas negara. Tsunaminya tidak memeriksa status sosial. Aerosolnya bergerak mengikuti atmosfer Bumi.

Tetapi dampak terhadap manusia tetap tidak setara. Masyarakat pesisir yang tidak memiliki peringatan, kendaraan, bangunan kuat, atau jalur evakuasi menerima beban terbesar.

Menurut penulis, dekade ini mengajarkan bahwa kemajuan teknologi tanpa keadilan dapat memperbesar kemampuan manusia, tetapi tidak selalu memperbesar keselamatan dan kebebasan.

Sejarah tidak hanya perlu mencatat siapa yang menemukan mesin, tetapi juga siapa yang mengoperasikannya; tidak hanya siapa yang membuka perkebunan, tetapi juga siapa yang kehilangan tanah; tidak hanya seberapa kuat Krakatau meletus, tetapi juga nama-nama kehidupan yang hilang dan tidak sempat masuk ke dalam arsip.

Menuju Catatan #010 — Bumi 1890–1900

Sejumlah perubahan dalam Catatan ini akan berlanjut pada dekade berikutnya:

  • penyebaran listrik dan telepon;
  • pertumbuhan kendaraan bermotor;
  • berkembangnya industri minyak;
  • persaingan imperialisme;
  • eksploitasi Negara Bebas Kongo;
  • perlawanan terhadap kolonialisme;
  • Perang Aceh;
  • perkembangan perusahaan minyak di Sumatra;
  • perluasan perkebunan serta pertambangan;
  • kemajuan bakteriologi;
  • munculnya sinar-X;
  • radio;
  • film;
  • dan perubahan politik menuju abad ke-20.

Pembahasannya akan dilanjutkan dalam BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #010] [1890–1900].

Catatan Penelusuran

Catatan ini bukan daftar lengkap seluruh peristiwa yang berlangsung pada 1880–1890. Masih banyak kehidupan, bencana, konflik, penemuan, perubahan lingkungan, dan peristiwa di berbagai wilayah yang tidak pernah dicatat, belum terdigitalisasi, hilang bersama arsip, atau belum dapat kami telusuri melalui bukti yang tersedia.

Angka mengenai penduduk, korban perang, korban bencana, dan kematian akibat penyakit merupakan estimasi apabila tidak berasal dari pencatatan langsung yang dapat diverifikasi.

Istilah serta batas wilayah masa lalu tidak selalu sama dengan keadaan sekarang. Nama “Indonesia” digunakan untuk membantu pembaca mengenali wilayah geografisnya; Republik Indonesia belum terbentuk pada 1880–1890.

Masih banyak yang belum tercatat—termasuk kehidupan dan peristiwa di wilayah yang tidak meninggalkan arsip. Catatan ini menyajikan gambaran umum berdasarkan dokumen, data, penelitian, dan bukti yang masih dapat ditelusuri, kemudian dirangkum kembali agar jejaknya tidak hilang oleh waktu.

Sumber dan Referensi

Populasi, Ekonomi, dan Kehidupan Dunia

Krakatau, Geologi, dan Iklim

Teknologi dan Industri

Kesehatan dan Kedokteran

Geopolitik dan Kolonialisme

Nusantara dan Hindia Belanda

Pemeriksaan Kebencanaan Indonesia Masa Kini

Catatan Koreksi dan Pemeriksaan Ulang

Informasi dalam Catatan ini dihimpun dari sumber dan bukti yang dapat kami telusuri. Pembaca dipersilakan memeriksa, membandingkan, serta melakukan cek dan ricek melalui dokumen atau sumber lain.

Keterbatasan arsip, perbedaan bahasa, perubahan penafsiran ilmiah, ketidaktepatan sumber lama, dan kekeliruan dalam penelusuran atau penulisan tetap mungkin terjadi.

Angka sejarah—terutama jumlah penduduk, korban perang, bencana, wabah, dan kelaparan—dapat berbeda antara satu penelitian dan penelitian lainnya. Penyebutan suatu angka tidak selalu berarti seluruh korban berhasil diidentifikasi.

Apabila ditemukan bukti yang lebih kuat, data yang lebih tepat, atau koreksi yang dapat diverifikasi, Catatan ini dapat diperbaiki dan diperbarui tanpa mengubah tujuan utamanya: menyimpan jejak perjalanan Bumi dan kehidupan manusia agar tidak hilang oleh waktu.

BUMI DARI MASA KE MASA
Oleh Armando Sinaga