PUSTAHA CATATAN

BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #008] [1870–1880]

Kekaisaran Jerman lahir, krisis ekonomi 1873 mengguncang pasar, dan kekeringan besar 1876–1878 memicu kelaparan di Asia, Afrika, serta Amerika Selatan. Telepon, fonograf, lampu listrik, dan teknologi industri mulai mengubah kehidupan manusia. Di Nusantara, modal swasta mengambil alih tanah melalui sistem ekonomi kolonial baru, perkebunan Deli berkembang, dan Perang Aceh pecah menjadi salah satu perlawanan terpanjang terhadap kekuasaan Belanda.

Dipublikasikan 3 September 2026

Sampul BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #008] [1870–1880]

Dunia Memasuki Zaman Industri yang Semakin Terhubung

Periode 1870–1880 merupakan salah satu dasawarsa ketika dunia lama dan dunia industri bertemu secara semakin nyata. Kekaisaran baru lahir, wilayah kolonial meluas, jalur kereta api bertambah, kapal uap mempercepat perjalanan, dan jaringan telegraf menghubungkan tempat-tempat yang sebelumnya dipisahkan oleh waktu berminggu-minggu.

Namun, kemajuan itu tidak dirasakan secara merata. Di satu tempat, manusia mulai mendengar suara yang direkam oleh fonograf dan berbicara melalui telepon. Di tempat lain, jutaan orang menghadapi kekeringan, gagal panen, kelaparan, penyakit, perang, kerja paksa, atau kehilangan tanah akibat perluasan kekuasaan kolonial.

Dekade ini memperlihatkan sebuah pertentangan besar: kemampuan manusia menguasai teknologi berkembang pesat, tetapi kemampuan dunia melindungi kehidupan manusia dari kelaparan, penyakit, perang, dan ketidakadilan masih sangat terbatas.

1870–1880: Bumi Berada di Era Apa?

Fakta

Secara geologi, 1870–1880 berada dalam kala Holosen, periode yang dimulai setelah berakhirnya zaman es terakhir sekitar 11.700 tahun lalu. Istilah Antroposen sering digunakan dalam pembahasan modern untuk menggambarkan masa ketika aktivitas manusia memberi pengaruh besar terhadap sistem Bumi, tetapi istilah tersebut belum ditetapkan sebagai kala geologi resmi.

Dalam sejarah manusia, periode ini berada pada beberapa persimpangan penting:

  • perkembangan Revolusi Industri Kedua;
  • perluasan penggunaan batu bara, baja, mesin uap, dan jaringan kereta api;
  • pertumbuhan telegraf serta munculnya telepon dan rekaman suara;
  • pembentukan Kekaisaran Jerman dan penyatuan Italia;
  • meningkatnya dominasi negara-negara industri Eropa;
  • perluasan perdagangan dan investasi lintas benua;
  • pertumbuhan kota-kota industri;
  • penguatan imperialisme dan kolonialisme;
  • serta munculnya krisis pangan global pada 1876–1878.

Industrialisasi belum merata. Inggris telah menjadi kekuatan industri utama, sedangkan Jerman, Amerika Serikat, Prancis, Belgia, dan beberapa negara lain sedang memperbesar kapasitas industrinya. Sebagian besar penduduk Asia, Afrika, Amerika Latin, dan wilayah kepulauan masih hidup dari pertanian, peternakan, perikanan, serta kerajinan.

Penduduk Dunia dan Persebaran Manusia

Fakta dan Rekonstruksi

Tidak pernah ada sensus serentak untuk seluruh dunia pada 1870–1880. Angka populasi global periode ini merupakan rekonstruksi demografis, bukan hasil penghitungan langsung terhadap setiap penduduk.

Berbagai dataset sejarah memperkirakan penduduk dunia pada dekade 1870-an telah mencapai sekitar 1,3 miliar jiwa, meskipun angka tepatnya berbeda menurut metode dan sumber.

Asia menampung bagian terbesar penduduk dunia. Tiongkok dan India merupakan dua kawasan berpenduduk sangat besar, sementara populasi Eropa berkembang seiring penurunan angka kematian di sejumlah wilayah, perbaikan pasokan pangan, industrialisasi, dan urbanisasi.

Perpindahan penduduk juga meningkat:

  • orang Eropa bermigrasi ke Amerika Utara, Amerika Selatan, Australia, dan wilayah koloni;
  • pekerja India dan Tiongkok dipindahkan melalui sistem buruh kontrak;
  • penduduk desa berpindah ke kota-kota industri;
  • perluasan perkebunan dan pertambangan menciptakan pusat-pusat permukiman baru;
  • perang, kelaparan, dan tekanan ekonomi memaksa sebagian masyarakat meninggalkan tempat tinggalnya.

Catatan Penting

Pertumbuhan penduduk tidak berarti kehidupan menjadi lebih aman bagi semua orang. Angka kelahiran tetap tinggi, tetapi kematian bayi, penyakit menular, kekurangan gizi, kecelakaan kerja, dan kematian ibu melahirkan masih menjadi bagian umum kehidupan.

Kehidupan Manusia dan Masyarakat

Sebagian besar manusia pada 1870–1880 masih hidup di desa dan bergantung langsung pada hasil tanah, air, ternak, hutan, serta musim. Rumah tangga menghasilkan atau memperoleh banyak kebutuhan dari lingkungan terdekat.

Di kota-kota industri, kehidupan berubah dengan cepat. Pabrik menarik pekerja dari pedesaan, tetapi pertumbuhan kota sering berlangsung lebih cepat daripada pembangunan sanitasi, perumahan, dan penyediaan air bersih.

Permukiman pekerja di sejumlah kota menghadapi:

  • kepadatan tinggi;
  • udara tercemar asap batu bara;
  • air minum yang dapat tercampur limbah;
  • jam kerja panjang;
  • kecelakaan kerja;
  • upah rendah;
  • pekerjaan anak;
  • serta risiko wabah penyakit.

Pembagian kelas sosial semakin terlihat. Pemilik tanah, pengusaha, pedagang, pejabat, dan pemilik pabrik menikmati sebagian besar keuntungan pertumbuhan ekonomi. Di bawahnya terdapat kelompok pekerja, petani penyewa, buruh perkebunan, buruh tambang, pelaut, pekerja rumah tangga, dan masyarakat kolonial yang sering memiliki perlindungan hukum sangat terbatas.

Gerakan buruh, perkumpulan pekerja, sosialisme, dan tuntutan reformasi mulai berkembang sebagai tanggapan terhadap kondisi tersebut. Pada saat yang sama, pemerintah di berbagai negara mencurigai atau membatasi organisasi pekerja karena dianggap dapat mengancam ketertiban politik.

Pangan, Pertanian, dan Ancaman Kelaparan

Pertanian tetap menjadi fondasi kehidupan dan ekonomi dunia. Gandum, beras, jagung, kentang, sorgum, millet, serta berbagai tanaman lokal menjadi sumber pangan utama. Kapas, gula, teh, kopi, tembakau, karet, dan rempah-rempah semakin diproduksi sebagai komoditas perdagangan.

Kereta api dan kapal uap memungkinkan pangan diangkut lebih jauh. Namun, jaringan perdagangan tidak otomatis menjamin bahwa masyarakat miskin memperoleh makanan.

Akses terhadap pangan ditentukan pula oleh:

  • kepemilikan tanah;
  • harga;
  • upah dan daya beli;
  • utang;
  • pajak;
  • kebijakan pemerintah;
  • perang;
  • kualitas jalan dan transportasi;
  • serta kemampuan masyarakat menyimpan cadangan makanan.

Dengan demikian, suatu wilayah dapat mengalami kelaparan ketika makanan masih tersedia di pasar, tetapi penduduk kehilangan kemampuan untuk membelinya.

Krisis Iklim dan Kelaparan Global 1876–1878

Fakta

Antara 1875 dan 1878, kekeringan terjadi secara bersamaan di sebagian Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Krisis tersebut berhubungan dengan salah satu peristiwa El Niño terkuat yang diketahui pada abad ke-19, disertai perubahan suhu laut dan sirkulasi atmosfer di Samudra Hindia serta Atlantik.

Kekeringan dan kegagalan panen terjadi di berbagai wilayah, termasuk:

  • sebagian India;
  • Tiongkok utara;
  • Asia Tenggara;
  • Brasil bagian timur laut;
  • Afrika utara;
  • Afrika bagian selatan;
  • serta wilayah lain di kawasan tropis dan subtropis.

Kelaparan besar terjadi di India di bawah kekuasaan Inggris dan di sejumlah provinsi Tiongkok. Brasil, Afrika, dan kawasan lain juga mengalami penderitaan berat.

Perkiraan jumlah korban berbeda-beda karena pencatatan kependudukan tidak lengkap. Sejumlah penelitian memperkirakan kematian global mencapai puluhan juta jiwa. Angka yang kadang disebut melampaui 50 juta harus dipahami sebagai estimasi penelitian, bukan jumlah pasti yang dapat diverifikasi satu per satu.

Temuan Penelitian

Penelitian iklim modern menunjukkan bahwa bencana tersebut tidak hanya disebabkan oleh satu perubahan di Samudra Pasifik. Gabungan kondisi di Pasifik, Samudra Hindia, dan Atlantik membantu menciptakan kekeringan luas dan berkepanjangan.

Namun, kekeringan tidak dengan sendirinya menentukan besarnya kematian. Kebijakan kolonial, pajak, kemiskinan, perdagangan pangan, melemahnya cadangan lokal, hilangnya hak atas tanah, dan keterlambatan bantuan ikut mengubah kegagalan hujan menjadi kelaparan besar.

Cuaca menghancurkan panen, tetapi keputusan manusia menentukan siapa yang memperoleh makanan, siapa yang harus membelinya dengan harga tinggi, dan siapa yang dibiarkan menghadapi kelaparan.

Cuaca, Iklim, dan Pengamatan Bumi

Jaringan pengamatan cuaca pada 1870-an berkembang, tetapi belum mencakup seluruh dunia secara merata. Negara-negara Eropa, Amerika Serikat, wilayah pelabuhan, pangkalan militer, dan pusat kolonial memiliki lebih banyak catatan daripada daerah pedalaman.

Telegraf memungkinkan laporan cuaca dari beberapa tempat dikumpulkan dengan lebih cepat. Ini membantu perkembangan peta cuaca dan peringatan badai awal.

Namun, manusia belum memiliki:

  • satelit cuaca;
  • radar meteorologi;
  • pelampung laut otomatis;
  • model iklim komputer;
  • pengamatan global yang seragam;
  • atau sistem peringatan bencana modern.

Informasi mengenai iklim dekade ini berasal dari gabungan pengukuran instrumen, catatan kapal, dokumen pemerintahan, surat kabar, catatan panen, lingkaran pohon, inti es, karang, sedimen, dan sumber rekonstruksi lainnya.

Catatan suhu global modern yang menggunakan cakupan instrumen lebih luas umumnya dimulai sekitar 1850, tetapi ketidakpastian untuk abad ke-19 lebih besar daripada periode modern karena stasiun pengamatan masih jarang.

Bencana Alam dan Geologi Dunia

Gempa Bumi dan Tsunami

Beberapa gempa besar yang terdokumentasi pada dekade ini antara lain:

  • Gempa Owens Valley 1872 di California, salah satu gempa terbesar dalam sejarah kawasan tersebut;
  • Gempa Cúcuta 1875, yang menghancurkan kawasan perbatasan Kolombia dan Venezuela;
  • Gempa dan tsunami Iquique 1877 di pantai Pasifik Amerika Selatan, yang menghasilkan tsunami melintasi Samudra Pasifik.

Jumlah korban dalam catatan lama sering berbeda. Penyebabnya meliputi keterbatasan komunikasi, wilayah terdampak yang luas, perubahan batas administratif, dan pencatatan yang tidak seragam.

Badai dan Banjir

Pada 1876, siklon besar menghantam wilayah Bakerganj di Bengal—sekarang bagian dari Bangladesh. Gelombang badai dan banjir menewaskan sangat banyak orang. Estimasi korban yang sering dikutip mencapai sekitar 200.000 jiwa, tetapi angka tersebut berasal dari laporan sejarah dan harus diperlakukan sebagai perkiraan.

Bencana itu memperlihatkan kerentanan permukiman delta yang padat penduduk terhadap angin, gelombang badai, banjir, air tercemar, dan penyakit setelah bencana.

Ilmu Geologi

Geologi berkembang pesat melalui pemetaan, pertambangan, pembangunan jalur kereta api, dan ekspedisi ilmiah. Para ilmuwan telah menerima bahwa Bumi memiliki sejarah yang sangat panjang, meskipun mekanisme pergerakan benua dan lempeng tektonik belum diketahui.

Teori tektonik lempeng baru terbentuk pada abad ke-20. Karena itu, gempa dan gunung api pada 1870-an belum dapat dijelaskan melalui konsep pertemuan lempeng seperti yang digunakan saat ini.

Ekspedisi Challenger dan Penemuan Laut Dalam

Pada 1872–1876, kapal Inggris HMS Challenger menjalankan ekspedisi ilmiah untuk mempelajari samudra. Para peneliti mengukur kedalaman, suhu air, arus, komposisi dasar laut, dan mengumpulkan organisme dari kedalaman yang sebelumnya hampir tidak dikenal.

Ekspedisi tersebut menjadi salah satu dasar ilmu oseanografi modern.

Temuannya menunjukkan bahwa laut dalam bukan wilayah tanpa kehidupan. Samudra memiliki bentang alam, organisme, suhu, dan susunan kimia yang dapat dipelajari secara sistematis.

Ketika manusia mulai menghubungkan benua dengan kabel dan kapal uap, mereka juga mulai menemukan bahwa bagian terbesar permukaan Bumi masih merupakan dunia yang hampir tidak dikenal.

Kondisi Lingkungan dan Perubahan Bentang Alam

Industrialisasi dan perdagangan komoditas mempercepat perubahan lingkungan.

Hutan dibuka untuk:

  • pertanian;
  • perkebunan;
  • peternakan;
  • bahan bakar;
  • pembangunan kota;
  • jalur kereta api;
  • pertambangan;
  • dan perluasan permukiman.

Di kota industri, pembakaran batu bara menghasilkan jelaga dan polusi udara. Sungai digunakan sebagai sumber air, jalur angkutan, sekaligus tempat pembuangan limbah rumah tangga dan industri.

Pertambangan batu bara, logam, dan mineral memperluas penggalian tanah serta kebutuhan tenaga kerja. Namun, belum tersedia sistem pengawasan lingkungan seperti pada masa modern.

Pada 1872, Yellowstone ditetapkan sebagai taman nasional di Amerika Serikat. Peristiwa tersebut kerap disebut sebagai tonggak awal gerakan taman nasional. Akan tetapi, sejarah konservasi ini juga berhubungan dengan pengusiran, pembatasan, atau pengabaian hubungan masyarakat adat dengan wilayah yang kemudian dijadikan kawasan lindung.

Energi dan Revolusi Industri Kedua

Batu bara tetap menjadi sumber energi utama bagi industri, kapal uap, lokomotif, produksi besi, dan pemanasan kota di sejumlah negara.

Penggunaan minyak bumi juga tumbuh setelah berkembangnya industri pengeboran pada dekade sebelumnya. Minyak tanah digunakan untuk penerangan sebelum listrik tersedia luas.

Sumber tenaga dunia pada masa itu meliputi:

  • tenaga manusia;
  • tenaga hewan;
  • kayu bakar;
  • arang;
  • tenaga air;
  • tenaga angin;
  • batu bara;
  • dan minyak bumi yang penggunaannya sedang berkembang.

Tenaga listrik mulai menunjukkan potensi besar, tetapi belum menjadi bagian umum kehidupan rumah tangga. Pembangkit, jaringan distribusi, motor listrik, dan standar kelistrikan masih berada dalam tahap awal.

Temuan Penelitian

Periode ini merupakan bagian dari perubahan panjang menuju ekonomi berenergi fosil. Peningkatan pembakaran batu bara dan minyak menambah emisi karbon dioksida, meskipun jumlah tahunan saat itu masih jauh lebih kecil daripada masa modern.

Para ilmuwan masa tersebut belum memahami perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca seperti yang dipahami sekarang. Hubungan antara karbon dioksida dan panas telah mulai dibahas secara ilmiah, tetapi pengukuran global dan model iklim belum tersedia.

Ekonomi Dunia dan Kepanikan 1873

Ekonomi internasional semakin terhubung melalui perdagangan, investasi, perbankan, kapal uap, telegraf, dan jaringan rel.

Pertumbuhan pesat jalur kereta api mendorong kebutuhan akan:

  • baja dan besi;
  • batu bara;
  • lahan;
  • tenaga kerja;
  • kredit;
  • serta modal investasi.

Spekulasi berkembang. Ketika perusahaan dan lembaga keuangan mengalami kegagalan pada 1873, kepanikan menyebar di Eropa dan Amerika Serikat.

Akibatnya meliputi:

  • kebangkrutan bank dan perusahaan;
  • jatuhnya investasi;
  • pengangguran;
  • tekanan terhadap upah;
  • serta kesulitan bagi pekerja dan petani.

Periode setelah 1873 sering disebut Long Depression atau Depresi Panjang. Namun, istilah, awal, akhir, dan kedalaman krisis masih diperdebatkan oleh sejarawan ekonomi karena produksi tetap tumbuh di beberapa negara dan sektor.

Krisis tersebut menunjukkan bahwa telegraf, perbankan, dan pasar internasional tidak hanya mempercepat perdagangan. Sistem yang semakin terhubung juga memungkinkan ketakutan, kegagalan kredit, dan kerugian menyebar lebih cepat.

Industri, Baja, dan Perubahan Produksi

Metode produksi baja menjadi semakin efisien melalui proses Bessemer dan teknologi lainnya. Baja yang lebih murah membantu pembangunan:

  • rel kereta api;
  • jembatan;
  • kapal;
  • mesin;
  • senjata;
  • gedung;
  • dan peralatan industri.

Pabrik berkembang menjadi sistem produksi dalam skala besar. Tenaga kerja diatur berdasarkan waktu, kecepatan mesin, pembagian tugas, dan target produksi.

Jam bukan lagi sekadar penanda waktu. Dalam dunia industri, waktu menjadi bagian dari pengendalian tenaga kerja.

Kondisi buruh berbeda menurut negara dan jenis industri. Sejumlah pekerja memperoleh pendapatan dari industri baru, tetapi banyak pula yang menghadapi jam kerja panjang, tempat kerja berbahaya, dan tidak adanya perlindungan sosial.

Dunia Teknologi 1870–1880

Telegraf dan Kabel Bawah Laut

Telegraf telah mengubah kecepatan komunikasi. Pesan yang sebelumnya harus dibawa oleh kapal atau kurir dapat dikirim dalam hitungan menit atau jam.

Kabel bawah laut menghubungkan benua dan mempercepat:

  • berita politik;
  • transaksi perdagangan;
  • informasi harga;
  • komunikasi militer;
  • laporan cuaca;
  • serta pengelolaan wilayah kolonial.

Namun, jaringan tersebut dikuasai terutama oleh negara, perusahaan, dan kekuatan imperialis. Teknologi komunikasi juga menjadi alat pengendalian wilayah.

Telepon

Pada 1876, Alexander Graham Bell memperoleh paten Amerika Serikat yang berkaitan dengan telepon dan memperagakan transmisi suara. Perkembangan telepon melibatkan banyak eksperimen dan tokoh sehingga sejarahnya tidak dapat disederhanakan sebagai karya satu orang saja.

Pada akhir dekade, jaringan telepon awal mulai dibangun di beberapa kota. Jangkauannya masih terbatas, kualitas suaranya belum sempurna, dan penggunaannya terutama tersedia bagi lembaga, perusahaan, atau masyarakat yang mampu membayar.

Fonograf

Thomas Edison memperkenalkan fonograf pada 1877. Untuk pertama kalinya, suara dapat direkam dan diputar kembali melalui perangkat mekanis.

Penemuan tersebut mengubah hubungan manusia dengan suara. Ucapan dan musik yang sebelumnya hanya dapat didengar ketika seseorang menghasilkannya mulai dapat disimpan.

Lampu Listrik

Pada 1879, tim Thomas Edison mendemonstrasikan lampu pijar praktis dengan masa nyala yang lebih berguna. Akan tetapi, lampu listrik bukan hasil pekerjaan satu orang. Banyak peneliti dan penemu telah mengembangkan cahaya listrik, filamen, sistem tenaga, serta komponen pendukung sebelumnya.

Perubahan besar tidak hanya terletak pada bola lampu, tetapi pada keseluruhan sistem:

  • pembangkit;
  • kabel;
  • sakelar;
  • meter;
  • dan distribusi listrik.

Penerangan listrik belum langsung tersedia luas pada 1879. Penyebaran besar-besaran baru terjadi pada dekade-dekade berikutnya.

Mesin Pembakaran Dalam

Nikolaus Otto mengembangkan mesin empat langkah yang berhasil pada 1876. Teknologi ini menjadi salah satu dasar perkembangan mesin pembakaran dalam.

Mobil belum menjadi alat transportasi umum, tetapi prinsip teknis yang kelak menggerakkan kendaraan bermotor sedang dibangun.

Mesin Ketik

Mesin ketik komersial berkembang pada 1870-an. Produksi mesin Remington membantu memperkenalkan pengetikan mekanis dan susunan papan ketik QWERTY.

Teknologi ini kemudian mengubah pekerjaan kantor, administrasi, penerbitan, dan peluang kerja bagi perempuan—meskipun perubahan itu berlangsung bertahap.

Transportasi dan Perjalanan

Kereta api menjadi lambang kecepatan zaman industri. Rel menghubungkan daerah pertanian, tambang, pelabuhan, kota, dan pusat pemerintahan.

Kapal uap semakin menggantikan kapal layar pada rute penting. Terusan Suez, yang dibuka pada 1869, memperpendek jalur laut antara Eropa dan Asia karena kapal tidak lagi harus mengitari ujung selatan Afrika.

Perubahan ini membawa beberapa akibat:

  • perjalanan dan pengiriman surat menjadi lebih cepat;
  • pasukan dapat dipindahkan dengan lebih efisien;
  • hasil perkebunan dapat mencapai pasar internasional;
  • bahan mentah dari koloni lebih mudah dibawa ke pusat industri;
  • barang hasil pabrik dapat masuk lebih jauh ke pasar kolonial.

Dengan demikian, transportasi modern tidak hanya menghubungkan manusia. Ia juga memperkuat jaringan ekonomi dan kekuasaan kolonial.

Ilmu Pengetahuan dan Kedokteran

Teori Kuman

Pada dekade ini, bukti bahwa mikroorganisme dapat menyebabkan penyakit semakin kuat.

Louis Pasteur dan ilmuwan lain mengembangkan penelitian mengenai fermentasi, mikroorganisme, serta hubungan antara kuman dan penyakit. Pada 1876, Robert Koch menunjukkan hubungan antara bakteri tertentu dan penyakit antraks.

Temuan tersebut membantu membangun dasar bakteriologi modern.

Antisepsis

Gagasan Joseph Lister mengenai penggunaan antiseptik dalam operasi mulai menyebar. Penerimaannya tidak seragam dan tidak semua rumah sakit segera mengubah praktiknya.

Ketika prinsip kebersihan dan antisepsis diterapkan dengan benar, risiko infeksi setelah operasi dapat dikurangi. Namun, antibiotik belum ditemukan dan banyak infeksi tetap mematikan.

Penyakit Menular

Masyarakat masih menghadapi:

  • kolera;
  • cacar;
  • tuberkulosis;
  • malaria;
  • tifus;
  • demam tifoid;
  • disentri;
  • campak;
  • dan berbagai penyakit pernapasan.

Vaksinasi cacar telah digunakan, tetapi cakupan dan penerapannya berbeda-beda. Sistem air bersih, pembuangan limbah, dan kesehatan masyarakat perlahan berkembang di sebagian kota.

Malaria belum diketahui disebabkan oleh parasit yang ditularkan nyamuk. Penemuan organisme penyebab malaria baru diumumkan pada 1880, sehingga berada tepat setelah batas Catatan ini.

Tata Surya dan Astronomi

Astronomi pada 1870-an mengalami perubahan melalui teleskop, fotografi, dan spektroskopi. Para ilmuwan tidak hanya mengamati posisi benda langit, tetapi mulai menganalisis cahaya untuk mengetahui komposisi bintang dan Matahari.

Transit Venus 1874

Transit Venus pada 1874 diamati oleh ekspedisi dari berbagai negara. Salah satu tujuannya adalah memperbaiki pengukuran jarak antara Bumi dan Matahari.

Pengamatan menghadapi masalah cuaca, keterbatasan peralatan, dan kesulitan menentukan waktu kontak secara tepat. Meskipun hasilnya tidak selalu seakurat yang diharapkan, kegiatan tersebut memperlihatkan meningkatnya kerja sama ilmiah internasional.

Bulan-Bulan Mars

Pada 1877, Asaph Hall menemukan dua satelit Mars yang kemudian dinamai Phobos dan Deimos.

Pada tahun yang sama, posisi Mars yang relatif dekat dengan Bumi mendorong pengamatan lebih rinci terhadap permukaannya.

Aktivitas Matahari

Periode ini melintasi bagian dari Siklus Matahari 11 dan memasuki Siklus 12. Catatan bintik Matahari membantu para ilmuwan mempelajari perubahan aktivitas Matahari.

Aktivitas Matahari dapat memengaruhi cuaca antariksa dan medan magnet Bumi. Namun, tidak ada dasar ilmiah untuk menyatakan bahwa setiap perang, gempa, wabah, atau krisis ekonomi pada dekade ini disebabkan oleh aktivitas Matahari.

Geopolitik: Kekaisaran Baru dan Perimbangan Kekuatan

Perang Prancis–Prusia dan Lahirnya Kekaisaran Jerman

Perang Prancis–Prusia berlangsung pada 1870–1871. Prancis mengalami kekalahan, dan Napoleon III kehilangan kekuasaan.

Pada Januari 1871, Kekaisaran Jerman diproklamasikan di Versailles di bawah Kaisar Wilhelm I. Negara-negara Jerman—dengan dominasi Prusia—bersatu menjadi kekuatan besar baru di Eropa.

Perjanjian Frankfurt menyerahkan Alsace dan sebagian Lorraine kepada Jerman serta membebankan pembayaran ganti rugi kepada Prancis. Kehilangan wilayah tersebut meninggalkan ketegangan yang bertahan lama.

Komune Paris

Setelah kekalahan Prancis, pemberontakan dan pemerintahan revolusioner yang dikenal sebagai Komune Paris muncul pada 1871.

Komune bertahan selama sekitar dua bulan sebelum ditumpas dengan kekerasan. Peristiwa ini menjadi simbol penting bagi gerakan sosialis, revolusioner, dan buruh di berbagai negara.

Penyatuan Italia

Pada 1870, pasukan Italia memasuki Roma setelah pasukan Prancis yang melindungi Negara Gereja ditarik akibat perang melawan Prusia. Roma kemudian menjadi bagian Kerajaan Italia dan pada 1871 ditetapkan sebagai ibu kota.

Penyatuan politik Italia semakin lengkap, meskipun perbedaan ekonomi dan sosial antardaerah masih besar.

Perang Rusia–Turki dan Kongres Berlin

Perang Rusia–Turki berlangsung pada 1877–1878. Kekalahan Kesultanan Utsmaniyah mengubah perimbangan kekuatan di Balkan.

Kongres Berlin 1878 meninjau kembali penyelesaian perang. Serbia, Montenegro, dan Rumania memperoleh pengakuan kemerdekaan, sedangkan Bulgaria mendapatkan pemerintahan otonom dalam susunan yang dibatasi.

Keputusan tersebut tidak menyelesaikan seluruh persoalan. Persaingan nasionalisme, agama, kekaisaran, dan wilayah terus berkembang di Balkan.

Kolonialisme dan Perebutan Dunia

Pada 1870-an, kekuatan Eropa memperluas pengaruh politik, militer, dan ekonominya. Perebutan formal Afrika secara besar-besaran baru mencapai puncaknya setelah 1880, tetapi landasannya telah terbentuk.

Wilayah kolonial menyediakan:

  • bahan mentah;
  • lahan perkebunan;
  • hasil tambang;
  • tenaga kerja murah;
  • pelabuhan strategis;
  • serta pasar bagi barang industri.

Teknologi kapal uap, senjata modern, telegraf, dan obat-obatan memperbesar kemampuan negara industri memasuki serta mengendalikan wilayah jauh.

Namun, kolonialisme tidak berlangsung tanpa perlawanan. Masyarakat di Asia, Afrika, Amerika, dan kepulauan Pasifik menegosiasikan, menghindari, atau melawan perluasan tersebut dengan cara berbeda-beda.

Amerika Serikat Setelah Perang Saudara

Masa Rekonstruksi berusaha membentuk kembali Amerika Serikat setelah berakhirnya perbudakan dan Perang Saudara.

Amandemen ke-15, yang diratifikasi pada 1870, melarang penolakan hak pilih berdasarkan ras, warna kulit, atau status perbudakan sebelumnya. Laki-laki Afrika-Amerika mengikuti politik dan menduduki jabatan publik di sejumlah wilayah.

Namun, pencapaian tersebut menghadapi:

  • kekerasan kelompok supremasi kulit putih;
  • intimidasi pemilih;
  • diskriminasi;
  • sistem bagi hasil yang mempertahankan kemiskinan;
  • dan melemahnya perlindungan pemerintah federal.

Berakhirnya Rekonstruksi pada 1877 membuka jalan bagi penguatan segregasi dan pencabutan hak-hak warga kulit hitam di negara-negara bagian Selatan.

Pada saat bersamaan, perluasan permukiman, rel kereta api, pertambangan, dan peternakan terus menekan masyarakat adat Amerika dari tanah mereka.

Perbudakan Belum Berakhir di Seluruh Dunia

Meskipun perdagangan budak Atlantik dan perbudakan telah dilarang di sejumlah negara, perbudakan belum hilang secara global.

Puerto Riko menghapus perbudakan pada 1873. Di Kuba, Perang Sepuluh Tahun berakhir pada 1878, tetapi penghapusan perbudakan secara penuh baru terjadi kemudian. Brasil masih mempertahankan perbudakan hingga 1888.

Selain perbudakan formal, kerja paksa, utang, hukuman kontrak, dan buruh kontrak menciptakan keadaan yang membatasi kebebasan pekerja di berbagai wilayah kolonial.

Nusantara Sebelum Terbentuknya Indonesia

Pada 1870–1880, belum ada negara bernama Republik Indonesia. Kepulauan yang kini menjadi Indonesia terdiri atas berbagai kerajaan, kesultanan, komunitas adat, wilayah mandiri, dan daerah yang berada pada tingkat penguasaan kolonial berbeda-beda.

Istilah Hindia Belanda merujuk pada wilayah pemerintahan kolonial Belanda. Namun, peta klaim Belanda tidak selalu sama dengan kekuasaan nyata di lapangan.

Beberapa wilayah diperintah langsung melalui pejabat kolonial. Wilayah lain dikelola melalui kerajaan atau penguasa lokal yang terikat perjanjian. Di tempat lain, kekuasaan Belanda masih ditolak atau sangat terbatas.

Karena itu, keadaan Nusantara pada masa ini tidak dapat digambarkan sebagai satu masyarakat yang seragam.

Urutan Perubahan Politik dan Ekonomi di Nusantara

Untuk memahami keadaan 1870-an, beberapa perkembangan sebelumnya perlu disusun secara runtut:

  • Pada awal abad ke-19, kekuasaan kolonial Belanda dipulihkan setelah periode pendudukan Inggris di Jawa.
  • Sejak 1830, pemerintah kolonial menjalankan Cultuurstelsel atau Sistem Tanam Paksa, terutama di Jawa.
  • Penduduk di berbagai daerah diwajibkan menyediakan tanah atau tenaga untuk tanaman ekspor seperti kopi, gula, dan nila.
  • Kritik terhadap penderitaan rakyat, penyalahgunaan kekuasaan, dan monopoli negara meningkat di Belanda.
  • Pembukaan Terusan Suez pada 1869 mempercepat hubungan Eropa–Asia.
  • Pada 1870, Undang-Undang Agraria dan Undang-Undang Gula membuka jalan bagi investasi swasta yang lebih besar.
  • Pada 1871, Perjanjian Sumatra antara Inggris dan Belanda mengubah perimbangan kekuatan di kawasan serta mengurangi hambatan diplomatik bagi ekspansi Belanda di Sumatra.
  • Pada 1873, Belanda menyatakan perang terhadap Kesultanan Aceh.

Perubahan tersebut menandai perpindahan bertahap dari eksploitasi yang didominasi negara menuju masa ekonomi kolonial liberal yang memberi ruang lebih luas kepada perusahaan swasta.

Undang-Undang Agraria 1870

Undang-Undang Agraria kolonial 1870 bertujuan antara lain menyediakan kepastian bagi perusahaan Eropa untuk menyewa tanah dalam jangka panjang.

Aturan tersebut juga menyatakan perlindungan tertentu terhadap tanah penduduk. Namun, penerapan prinsip domeinverklaring memungkinkan pemerintah menyatakan tanah sebagai domain negara apabila hak kepemilikannya tidak dapat dibuktikan menurut persyaratan kolonial.

Masalahnya, banyak masyarakat Nusantara mengelola tanah berdasarkan hukum adat, ingatan kolektif, hubungan marga, atau penguasaan komunal—bukan sertifikat tertulis seperti yang dikehendaki administrasi kolonial.

Akibatnya, tanah yang memiliki hubungan sosial dan adat dengan masyarakat dapat diperlakukan sebagai tanah negara dan disewakan kepada perusahaan.

Catatan Penting

Sistem Tanam Paksa tidak berakhir seketika pada 1870. Penghapusannya berlangsung bertahap dan berbeda menurut komoditas serta wilayah. Penanaman kopi wajib, misalnya, bertahan jauh lebih lama di sejumlah daerah.

Pertumbuhan Perkebunan Swasta

Setelah 1870, perkebunan swasta berkembang di Jawa dan Sumatra. Tanaman ekspor meliputi:

  • gula;
  • kopi;
  • teh;
  • tembakau;
  • nila;
  • kina;
  • dan komoditas lainnya.

Modal, mesin, pabrik, dan jaringan perdagangan menghubungkan perkebunan dengan pasar internasional. Akan tetapi, hubungan produksi sering menempatkan penduduk lokal dan buruh kontrak pada posisi lemah.

Perluasan perkebunan mengubah:

  • penggunaan tanah;
  • hubungan kerja;
  • pola permukiman;
  • pengelolaan air;
  • hutan;
  • dan struktur kekuasaan setempat.

Perkebunan Tembakau Deli

Kawasan Deli di Sumatra Timur berkembang menjadi pusat perkebunan tembakau. Deli Maatschappij telah didirikan pada 1869 dan kegiatan perkebunan meluas pada 1870-an.

Pengusaha memperoleh konsesi tanah melalui hubungan dengan penguasa lokal. Tenaga kerja didatangkan, terutama dari Tiongkok, dan kemudian dari Jawa serta wilayah lain.

Kehidupan buruh perkebunan menghadapi disiplin ketat, utang, penyakit, kekerasan, dan keterbatasan kebebasan. Peraturan Kuli atau Koelie Ordonnantie yang terkenal baru diberlakukan pada 1880, tepat di luar batas utama Catatan ini, tetapi dasar sistem buruh kontrak yang represif telah terbentuk selama 1870-an.

Pembukaan perkebunan juga mengubah hutan dan bentang alam Sumatra Timur menjadi kawasan produksi komoditas untuk pasar dunia.

Perang Aceh Dimulai

Latar Belakang

Kesultanan Aceh berada di ujung utara Sumatra dan memiliki posisi strategis di dekat Selat Malaka. Aceh mempertahankan hubungan diplomatik serta perdagangan dengan dunia luar.

Perjanjian Sumatra 1871 antara Inggris dan Belanda membantu mengubah keadaan geopolitik. Belanda memperoleh ruang lebih besar untuk memperluas pengaruhnya di Sumatra, sementara kekhawatiran terhadap hubungan Aceh dengan kekuatan asing meningkat.

Ekspedisi Pertama 1873

Pada Maret 1873, pemerintah kolonial Belanda menyatakan perang terhadap Aceh. Ekspedisi militer pertama mendarat pada April.

Pasukan Belanda gagal memperoleh kemenangan yang diharapkan. Panglimanya, Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler, tewas di dekat Masjid Raya Baiturrahman.

Kegagalan itu memperlihatkan bahwa Aceh tidak dapat dikuasai melalui satu serangan singkat.

Ekspedisi Kedua dan Pendudukan Dalam

Ekspedisi kedua dilancarkan pada akhir 1873 dengan kekuatan yang lebih besar. Pasukan Belanda berhasil menduduki Dalam atau pusat kediaman sultan pada awal 1874.

Sultan Mahmud Syah meninggal pada Januari 1874, ketika kolera menyebar di tengah perang. Belanda kemudian menyatakan Aceh telah dianeksasi.

Namun, pernyataan tersebut tidak sama dengan penguasaan nyata.

Perlawanan berlanjut melalui jaringan ulama, uleebalang, pemimpin lokal, dan masyarakat. Medan, penyakit, logistik, serta perlawanan bergerak membuat perang berlangsung jauh lebih lama daripada perkiraan Belanda.

Pada peta kolonial, Aceh dapat diumumkan telah dikuasai. Di lapangan, perang baru saja memasuki tahap yang lebih panjang.

Perang Aceh akan berlanjut dan dibahas kembali dalam Catatan-catatan berikutnya.

Kehidupan Lokal di Tengah Perubahan

Kehidupan masyarakat Nusantara tetap beragam.

Penduduk bekerja sebagai:

  • petani sawah dan ladang;
  • nelayan;
  • pedagang;
  • pengrajin;
  • buruh pelabuhan;
  • buruh perkebunan;
  • penambang;
  • pelaut;
  • pegawai kerajaan;
  • pejabat kolonial tingkat rendah;
  • guru;
  • dan tenaga kesehatan.

Di banyak wilayah, pasar mingguan, sungai, jalur laut, dan pelabuhan menjadi pusat pertukaran. Uang semakin penting, tetapi barter, pembayaran dalam hasil bumi, dan hubungan utang tetap berlangsung.

Lapisan sosial kolonial membedakan penduduk Eropa, Timur Asing, dan Bumiputra dalam administrasi serta hukum. Kategori tersebut menyederhanakan masyarakat yang sesungguhnya jauh lebih beragam dan ikut menghasilkan ketimpangan hak.

Transportasi dan Komunikasi di Hindia Belanda

Jaringan kereta api di Jawa berkembang pada 1870-an.

Jalur Semarang menuju wilayah kerajaan di Jawa bagian tengah telah dikembangkan oleh perusahaan swasta. Jalur Batavia–Buitenzorg selesai pada 1873. Pemerintah kolonial kemudian mengembangkan jaringan kereta api negara, termasuk jalur awal di Jawa Timur yang mulai beroperasi pada akhir dekade.

Kereta api mempercepat pengangkutan:

  • gula;
  • kopi;
  • tembakau;
  • hasil perkebunan;
  • penumpang;
  • surat;
  • dan pasukan.

Jaringan telegraf juga mempercepat komunikasi pemerintahan, militer, dan perdagangan. Kapal uap serta Terusan Suez mempersingkat perjalanan menuju Eropa.

Namun, pembangunan infrastruktur terutama diarahkan pada kebutuhan administrasi kolonial dan ekspor. Manfaat bagi masyarakat lokal ada, tetapi tidak selalu menjadi tujuan utamanya.

Kesehatan di Nusantara

Masyarakat menghadapi malaria, cacar, kolera, disentri, penyakit pernapasan, kekurangan gizi, dan berbagai penyakit lain.

Akses terhadap dokter serta rumah sakit sangat terbatas, khususnya di luar pusat pemerintahan dan militer. Pengetahuan pengobatan lokal, jamu, tabib, dukun, serta jaringan keluarga tetap memiliki peranan penting.

Sekolah Dokter Djawa di Batavia melatih tenaga medis pribumi, meskipun jumlahnya masih kecil dan kedudukannya dalam struktur kesehatan kolonial belum setara dengan dokter Eropa.

Penyakit juga memengaruhi operasi militer. Dalam Perang Aceh, kolera dan penyakit tropis menyerang pasukan maupun masyarakat. Kematian tidak hanya terjadi akibat pertempuran, tetapi juga akibat kondisi perkemahan, air, sanitasi, dan wabah.

Cuaca, Iklim, dan Bencana di Nusantara

Catatan meteorologi pada 1870-an belum merata. Pengamatan lebih sering dilakukan di Batavia, pelabuhan, perkebunan, pusat pemerintahan, atau lokasi tertentu yang dianggap penting oleh administrasi kolonial.

Karena lembaga bernama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika belum ada, bagian ini tidak dapat disebut sebagai “catatan BMKG pada 1870-an”.

Nama yang lebih tepat adalah:

Jejak Meteorologi, Geofisika, dan Kebencanaan Nusantara

Informasi mengenai cuaca dan bencana pada masa ini dapat ditelusuri melalui:

  • arsip pemerintahan Hindia Belanda;
  • laporan perkebunan;
  • catatan pelayaran;
  • surat kabar lama;
  • laporan militer;
  • catatan kerajaan dan masyarakat lokal;
  • katalog gempa dan tsunami historis;
  • penelitian geologi modern;
  • serta rekonstruksi BMKG, Badan Geologi, dan lembaga penelitian masa kini.

Kekeringan global 1876–1878 kemungkinan turut memengaruhi pola hujan di sebagian Asia Tenggara, tetapi dampaknya tidak seragam di seluruh Nusantara. Penelitian lokal diperlukan sebelum menghubungkan setiap kegagalan panen atau kekeringan daerah secara langsung dengan El Niño.

Nusantara berada di kawasan pertemuan lempeng dan jalur gunung api aktif. Namun, pengetahuan mengenai tektonik lempeng belum tersedia. Masyarakat dan pejabat kolonial mencatat gempa, letusan, gelombang laut, atau suara dari gunung berdasarkan apa yang mereka lihat dan rasakan.

Tidak semua peristiwa tercatat. Bencana di daerah terpencil dapat hanya bertahan dalam ingatan masyarakat, tradisi lisan, atau perubahan bentang alam.

Ekonomi Dunia dan Nusantara Saling Terhubung

Tembakau Deli, gula Jawa, kopi, teh, dan hasil bumi lainnya bergerak menuju pasar internasional. Permintaan serta harga di Eropa dapat memengaruhi pembukaan lahan dan kehidupan pekerja di Nusantara.

Sebaliknya, krisis keuangan di Eropa dan Amerika dapat mengurangi modal, perdagangan, atau harga komoditas.

Hubungan tersebut membentuk pola baru:

  • modal berasal dari pusat keuangan;
  • tanah diperoleh melalui hukum kolonial;
  • buruh direkrut dari wilayah lain;
  • hasil produksi dibawa dengan kereta api;
  • kapal uap mengangkutnya ke pasar dunia;
  • berita harga dikirim melalui telegraf;
  • keuntungan terbesar mengalir kepada perusahaan dan pemodal.

Nusantara tidak berada di luar sejarah dunia. Perubahan yang terjadi di perkebunan Sumatra atau pabrik gula Jawa menjadi bagian dari pembentukan ekonomi global.

Apa yang Berubah Sepanjang 1870–1880?

Dalam sepuluh tahun, dunia mengalami perubahan besar:

  • Jerman lahir sebagai kekaisaran dan kekuatan baru Eropa;
  • penyatuan Italia semakin lengkap;
  • Prancis mengalami kekalahan, revolusi, dan pergantian pemerintahan;
  • Kesultanan Utsmaniyah kehilangan pengaruh di Balkan;
  • krisis keuangan 1873 memperlihatkan keterhubungan pasar internasional;
  • kekeringan 1876–1878 berkembang menjadi kelaparan global;
  • penggunaan baja, batu bara, rel, dan kapal uap meningkat;
  • telepon mulai membawa suara melalui kabel;
  • fonograf menyimpan suara manusia;
  • lampu listrik praktis mulai dikembangkan;
  • teori kuman memperkuat dasar kedokteran modern;
  • ekspedisi Challenger membuka pengetahuan baru tentang laut dalam;
  • perusahaan swasta memperoleh akses semakin besar terhadap tanah di Hindia Belanda;
  • perkebunan Deli berkembang;
  • dan Perang Aceh dimulai tanpa dapat diselesaikan melalui kemenangan cepat.

Kemajuan, penderitaan, dan ekspansi kekuasaan terjadi dalam dunia yang sama.

Kesimpulan Catatan #008

Periode 1870–1880 bukan hanya masa munculnya telepon, fonograf, mesin baru, dan cahaya listrik. Dekade ini juga merupakan masa ketika jaringan ekonomi, politik, dan teknologi semakin mengikat berbagai wilayah dunia.

Jaringan tersebut dapat membawa barang, berita, pengetahuan, dan manusia dengan lebih cepat. Namun, jaringan yang sama juga membawa tentara, eksploitasi tanah, buruh kontrak, ketergantungan pasar, dan krisis keuangan.

Kelaparan 1876–1878 memperlihatkan bahwa bencana tidak dapat dipahami hanya dari cuaca. Kekeringan memang merusak panen, tetapi besarnya korban dibentuk pula oleh kemiskinan, kebijakan, distribusi pangan, kolonialisme, dan kemampuan pemerintah merespons penderitaan.

Di Nusantara, Undang-Undang Agraria 1870 membuka zaman investasi swasta yang lebih luas. Perkebunan, rel, kapal uap, dan telegraf menghubungkan kepulauan dengan ekonomi dunia, tetapi keuntungan dan bebannya terbagi secara tidak setara.

Perang Aceh memperlihatkan batas antara klaim kekuasaan dan kenyataan. Belanda dapat menyatakan aneksasi, tetapi masyarakat yang mempertahankan wilayahnya tidak berhenti melawan hanya karena sebuah pernyataan ditulis dalam dokumen kolonial.

Dunia menjadi semakin terhubung, tetapi keterhubungan tidak selalu berarti kesetaraan. Pada dekade ini, kabel, rel, kapal, uang, senjata, cuaca, dan kekuasaan mulai membentuk satu sistem yang dampaknya dapat menyeberangi benua.

Analisis Penulis — Armando Sinaga

Jika bukti dari periode 1870–1880 dibandingkan, terlihat bahwa teknologi tidak pernah berdiri sendiri.

Kereta api dapat membawa makanan menuju wilayah yang membutuhkan, tetapi juga dapat mengangkut komoditas keluar dari daerah yang sedang kekurangan. Telegraf dapat mempercepat peringatan dan bantuan, tetapi juga mempercepat perintah militer serta transaksi pasar. Hukum dapat menyatakan melindungi tanah masyarakat, tetapi cara hukum menentukan bukti kepemilikan dapat membuat masyarakat kehilangan tanahnya.

Kelaparan global 1876–1878 memperlihatkan hubungan yang sangat jelas antara Bumi dan sistem manusia. Laut dan atmosfer mengubah pola hujan. Kekeringan merusak panen. Akan tetapi, keputusan mengenai pajak, perdagangan, cadangan pangan, kepemilikan tanah, dan bantuan menentukan seberapa jauh perubahan alam berubah menjadi kematian massal.

Di Nusantara, hubungan itu tampak melalui pembukaan perkebunan, perubahan penggunaan tanah, perekrutan buruh, pembangunan rel, dan perang untuk memperluas kekuasaan. Modernisasi datang, tetapi tidak datang sebagai kekuatan netral. Ia mengikuti kepentingan pihak yang memiliki modal, teknologi, hukum, dan senjata.

Menurut penulis, pelajaran terpenting dari dekade ini adalah bahwa kemajuan harus diukur bukan hanya dari mesin yang berhasil diciptakan, tetapi juga dari kehidupan siapa yang dilindungi dan kehidupan siapa yang dikorbankan.

Sebuah zaman tidak dapat disebut maju hanya karena suaranya dapat dikirim melalui kabel dan malamnya dapat diterangi listrik. Kemajuan juga harus dinilai dari apakah manusia yang lapar memperoleh makanan, yang sakit memperoleh pertolongan, dan yang lemah memperoleh keadilan.

Catatan Penelusuran

Catatan ini bukan daftar lengkap seluruh peristiwa yang terjadi pada 1870–1880. Masih banyak kehidupan, bencana, konflik, penemuan, perubahan lingkungan, serta peristiwa di berbagai wilayah yang tidak pernah tercatat, belum terdigitalisasi, hilang bersama arsip, atau belum dapat kami telusuri melalui bukti yang tersedia.

Sejumlah angka mengenai penduduk, korban perang, korban bencana, dan korban kelaparan merupakan estimasi. Perbedaan angka dapat terjadi akibat keterbatasan sensus, pencatatan yang tidak seragam, perubahan wilayah, kematian yang tidak dilaporkan, dan metode rekonstruksi yang berbeda.

Istilah, nama tempat, dan batas wilayah yang digunakan pada masa tersebut tidak selalu sama dengan keadaan sekarang. Nama “Indonesia” digunakan hanya untuk membantu pembaca mengenali wilayah geografis masa kini; negara Republik Indonesia belum terbentuk pada 1870–1880.

Masih banyak yang belum tercatat—termasuk kehidupan dan peristiwa di wilayah yang tidak meninggalkan arsip. Catatan ini menyajikan gambaran umum berdasarkan dokumen, data, penelitian, dan bukti yang masih dapat ditelusuri, kemudian dirangkum kembali agar jejaknya tidak hilang oleh waktu.

Sumber dan Referensi

Populasi, Ekonomi, dan Kehidupan Dunia

Iklim dan Kelaparan 1876–1878

  • Deepti Singh, Richard Seager, Benjamin I. Cook, Michael Cane, Mingfang Ting, Naomi Naik, dan lainnya, Climate and the Global Famine of 1876–78, Journal of Climate, Vol. 31, No. 23, 2018, hlm. 9445–9467:
    https://journals.ametsoc.org/view/journals/clim/31/23/jcli-d-18-0159.1.xml

  • NASA Goddard Institute for Space Studies, Singh et al. 2018: Climate and the Global Famine of 1876–78:
    https://www.giss.nasa.gov/pubs/abs/si00300e.html

  • Mike Davis, Late Victorian Holocausts: El Niño Famines and the Making of the Third World, Verso, 2001. Buku ini berpengaruh tetapi interpretasi serta estimasi korbannya perlu dibandingkan dengan penelitian lain.

  • IPCC, Climate Change 2021: The Physical Science Basis, khususnya pembahasan rekonstruksi iklim, variabilitas internal, dan perubahan iklim historis:
    https://www.ipcc.ch/report/ar6/wg1/

Teknologi, Komunikasi, dan Kelistrikan

Ilmu Pengetahuan, Kesehatan, dan Laut

Geologi, Gempa, dan Bencana

Geopolitik Dunia

Hindia Belanda dan Nusantara

Pemeriksaan Kebencanaan Indonesia Masa Kini

Catatan Koreksi dan Pemeriksaan Ulang

Informasi dalam Catatan ini dihimpun dari sumber dan bukti yang dapat kami telusuri. Pembaca dipersilakan memeriksa, membandingkan, serta melakukan cek dan ricek melalui dokumen atau sumber lain.

Keterbatasan arsip, perbedaan bahasa, perubahan penafsiran ilmiah, ketidaktepatan sumber lama, dan kekeliruan dalam penelusuran atau penulisan tetap mungkin terjadi. Angka sejarah—terutama jumlah penduduk, korban perang, bencana, wabah, dan kelaparan—dapat berbeda antara satu penelitian dan penelitian lainnya.

Apabila ditemukan bukti yang lebih kuat, data yang lebih tepat, atau koreksi yang dapat diverifikasi, Catatan ini dapat diperbaiki dan diperbarui tanpa mengubah tujuan utamanya: menyimpan jejak perjalanan Bumi dan kehidupan manusia agar tidak hilang oleh waktu.

BUMI DARI MASA KE MASA
Oleh Armando Sinaga