PUSTAHA CATATAN

BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #007] [1860–1870]

Perang Saudara Amerika mengakhiri perbudakan secara hukum tetapi meninggalkan luka mendalam, sementara perang, nasionalisme, dan imperialisme mengubah peta kekuasaan dunia. Terusan Suez, rel lintas benua, kabel telegraf, dinamit, dan penemuan ilmiah mempercepat zaman industri. Di Nusantara, gempa dan tsunami besar mengguncang Sumatra, kritik terhadap Tanam Paksa menguat, Perang Banjar berlanjut, dan pemerintahan kolonial memperluas kendalinya atas tanah, sumber daya, serta kehidupan masyarakat.

Dipublikasikan 3 September 2026

Sampul BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #007] [1860–1870]

Dunia 1860–1870: Satu Dasawarsa yang Mengubah Arah Sejarah

Pada awal 1860-an, dunia telah memiliki kereta api, kapal uap, telegraf, fotografi, pabrik besar, dan kemampuan memproduksi baja dalam jumlah yang terus meningkat.

Namun, sebagian besar manusia tetap hidup di pedesaan. Mereka bergantung pada tanah, hujan, sungai, ternak, tenaga tubuh, dan hasil panen. Mesin telah mengubah sebagian dunia, tetapi belum mengubah kehidupan semua orang.

Dasawarsa ini kemudian menghadirkan perubahan yang jauh lebih besar.

Perang Saudara Amerika menghancurkan sistem perbudakan secara hukum di Amerika Serikat, tetapi menewaskan ratusan ribu orang dan meninggalkan ketimpangan rasial yang panjang. Pemberontakan Taiping berakhir setelah menghancurkan wilayah luas di Tiongkok. Jepang memasuki perubahan politik yang kemudian dikenal sebagai Restorasi Meiji. Italia bergerak menuju penyatuan. Prusia mengalahkan Austria dan memperbesar pengaruhnya di wilayah Jerman.

Pada saat yang sama, Terusan Suez dibuka, rel kereta api pertama melintasi Amerika Utara, dan kabel telegraf trans-Atlantik berhasil menghubungkan Eropa dengan Amerika.

Ilmu pengetahuan juga bergerak cepat. James Clerk Maxwell menyatukan listrik, magnetisme, dan cahaya dalam satu kerangka teori. Gregor Mendel melakukan percobaan yang kelak menjadi dasar genetika. Dmitri Mendeleev menyusun tabel periodik unsur. Joseph Lister mulai menerapkan antiseptik dalam pembedahan.

Di Nusantara, gempa dan tsunami besar menghantam Sumatra pada 1861. Perang Banjar terus berkobar. Max Havelaar membawa kritik terhadap kolonialisme ke hadapan pembaca Belanda. Jalur kereta api pertama mulai dibangun dan beroperasi di Jawa. Pada batas akhir dasawarsa, Undang-Undang Agraria 1870 membuka tahap baru penguasaan tanah serta investasi swasta kolonial.

Pada 1860-an, manusia tidak hanya membangun jalan melintasi daratan dan terusan melintasi gurun. Manusia sedang membangun sistem dunia baru—lebih cepat, lebih ilmiah, lebih terhubung, tetapi tetap ditandai perang, penjajahan, dan perebutan sumber daya.

1860–1870: Bumi Berada di Era Apa?

Dalam pembagian geologi resmi, 1860–1870 berada dalam kala Holosen, yaitu masa yang dimulai sekitar 11.700 tahun lalu setelah berakhirnya zaman es terakhir.

Istilah Antroposen digunakan dalam pembahasan ilmiah untuk menggambarkan masa ketika aktivitas manusia menjadi pengaruh besar terhadap sistem Bumi. Namun, istilah itu belum ditetapkan sebagai kala geologi resmi dan waktu permulaannya masih diperdebatkan.

Dari sudut sejarah peradaban, dasawarsa ini berada pada masa:

  • Revolusi Industri yang semakin meluas;
  • peningkatan penggunaan batu bara;
  • awal pertumbuhan industri minyak;
  • produksi baja dalam jumlah besar;
  • pembangunan rel kereta dan kapal uap;
  • pembentukan jaringan telegraf internasional;
  • pertumbuhan perusahaan, bank, dan pasar global;
  • perluasan kolonialisme;
  • perkembangan ilmu kesehatan;
  • serta pembentukan negara-negara nasional baru.

Dasawarsa ini juga berada dekat akhir periode yang sering disebut Zaman Es Kecil. Akan tetapi, tidak ada satu tanggal pasti yang menandai berakhirnya periode tersebut, dan keadaan iklim tidak sama di seluruh dunia.

Populasi Dunia

Tidak terdapat sensus global yang menghitung seluruh manusia pada 1860-an. Perkiraan jumlah penduduk dunia merupakan rekonstruksi demografi yang disusun dari sensus nasional, catatan pajak, kelahiran, kematian, migrasi, dan penelitian modern.

Rekonstruksi yang tersedia menunjukkan jumlah penduduk dunia berada di kisaran 1,3 miliar jiwa dan terus bertambah.

Asia tetap menampung sebagian besar penduduk dunia, terutama di Tiongkok dan anak benua India. Eropa mengalami pertumbuhan kota serta perpindahan penduduk. Amerika menerima jutaan migran dari Eropa dan Asia.

Namun, pertumbuhan penduduk terganggu oleh:

  • perang;
  • kelaparan;
  • wabah;
  • kematian bayi;
  • kerja berbahaya;
  • perpindahan paksa;
  • dan rusaknya sumber penghidupan.

Angka populasi sering tampak rapi, tetapi kehidupan di baliknya tidak pernah sepenuhnya tercatat. Banyak masyarakat adat, penduduk pedalaman, pengembara, orang yang diperbudak, dan kelompok di luar administrasi tidak dihitung secara lengkap.

Kehidupan Sehari-hari Manusia

Sebagian besar penduduk dunia masih bekerja dalam pertanian, peternakan, perikanan, pertambangan, pelayaran, atau kerajinan.

Di pedesaan, kehidupan mengikuti musim. Hujan menentukan waktu menanam. Panen menentukan apakah keluarga memiliki makanan dan pendapatan. Penyakit hewan, hama, banjir, dan kekeringan dapat mengubah keadaan dalam waktu singkat.

Di kota industri, pekerjaan mengikuti jam pabrik.

Suara mesin, peluit kereta, asap batu bara, kepadatan rumah, dan pencemaran sungai menjadi bagian kehidupan masyarakat perkotaan.

Kehidupan seorang manusia sangat dipengaruhi oleh:

  • tempat kelahiran;
  • kepemilikan tanah;
  • jenis kelamin;
  • ras;
  • kelas sosial;
  • pendidikan;
  • agama;
  • serta kedudukannya sebagai manusia bebas, buruh terikat, atau orang yang diperbudak.

Kemajuan teknologi tidak langsung mengubah semua rumah. Sebagian besar masyarakat belum memiliki air leding, jamban sehat, penerangan gas, atau akses dokter.

Perempuan dan Anak-anak

Perempuan bekerja dalam pertanian, pabrik, tambang, rumah tangga, pasar, perdagangan, pelayanan kesehatan, dan pendidikan.

Namun, pekerjaan perempuan sering tidak dihitung sebagai produksi resmi. Mengambil air, memasak, menenun, menjaga anak, merawat orang sakit, dan membantu panen dianggap kewajiban keluarga meskipun membutuhkan waktu serta tenaga besar.

Anak-anak masih bekerja di berbagai industri. Mereka digunakan karena upahnya lebih rendah dan tubuhnya dianggap sesuai untuk ruang sempit di tambang atau di antara mesin.

Gerakan hak perempuan terus berkembang, terutama di Eropa dan Amerika Utara. Tuntutan meliputi:

  • hak atas pendidikan;
  • kepemilikan;
  • pekerjaan;
  • perlindungan hukum;
  • dan hak politik.

Namun, hak pilih perempuan belum diterapkan secara luas. Demokrasi yang berkembang masih terutama ditujukan kepada laki-laki, dan sering dibatasi kembali oleh kelas, ras, serta kepemilikan.

Kota, Industri, dan Sanitasi

Kota-kota industri tumbuh lebih cepat daripada kemampuan pemerintah menyediakan perumahan, air bersih, dan saluran pembuangan.

Asap batu bara mencemari udara. Limbah pabrik dan kotoran manusia masuk ke sungai. Permukiman pekerja dibangun berdekatan dengan pabrik serta jalur kereta.

Penyakit seperti kolera, tifus, tuberkulosis, dan disentri tetap menjadi ancaman.

Setelah penelitian John Snow dan berkembangnya gagasan mengenai mikroorganisme, hubungan antara lingkungan, air, dan penyakit mulai dipahami lebih baik. Namun, perubahan sanitasi membutuhkan biaya besar dan sering menghadapi kepentingan politik serta ekonomi.

Di London, pembangunan sistem saluran pembuangan modern di bawah arahan Joseph Bazalgette berkembang pada 1860-an. Pekerjaan tersebut membantu mengurangi pencemaran Sungai Thames dan risiko penyakit yang berkaitan dengan air.

Kota modern tidak hanya dibangun oleh gedung dan rel. Ia juga dibangun oleh saluran di bawah tanah yang jarang terlihat, tetapi menentukan apakah penduduknya dapat hidup atau terserang penyakit.

Kolera dan Penyakit Menular

Kolera tetap menyebar melalui jalur perdagangan, pelayaran, dan kota yang memiliki air tercemar.

Pandemi kolera keempat umumnya ditempatkan mulai 1863. Penyakit bergerak dari kawasan Asia Selatan menuju Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan wilayah lain melalui pergerakan manusia.

Pada 1865, wabah besar terjadi di sekitar jalur perjalanan haji dan kemudian menyebar ke berbagai kawasan.

Pengetahuan mengenai penyebab penyakit masih berkembang. Banyak dokter tetap mempercayai teori miasma, sementara bukti mengenai penularan melalui air dan mikroorganisme semakin kuat.

Belum terdapat antibiotik. Perawatan terutama berusaha mengganti cairan, meskipun terapi rehidrasi modern belum berkembang.

Jumlah korban global sulit ditentukan karena:

  • pencatatan kematian tidak seragam;
  • diagnosis sering tidak pasti;
  • banyak wilayah tidak memiliki lembaga statistik;
  • dan korban di pedesaan sering tidak masuk laporan.

Pasteur, Teori Kuman, dan Penolakan Generasi Spontan

Louis Pasteur melakukan percobaan yang menunjukkan bahwa mikroorganisme tidak muncul begitu saja dari benda mati dalam kondisi biasa.

Percobaan dengan labu berleher angsa membantu menentang gagasan generasi spontan. Mikroorganisme datang dari lingkungan dan dapat menyebabkan fermentasi serta pembusukan.

Temuan Pasteur membantu membangun dasar teori kuman.

Namun, teori kuman tidak langsung diterima oleh seluruh kalangan medis. Perubahan ilmu membutuhkan pengulangan percobaan, perdebatan, serta penerapan dalam kehidupan nyata.

Temuan tersebut kemudian membantu mengubah:

  • pengawetan makanan;
  • kebersihan;
  • pembedahan;
  • pemahaman penyakit;
  • dan pengembangan vaksin.

Joseph Lister dan Antiseptik

Dokter bedah Joseph Lister menerapkan prinsip antiseptik pada 1860-an dengan menggunakan asam karbolat untuk membersihkan luka, alat, dan lingkungan operasi.

Ia menghubungkan penelitian Pasteur mengenai mikroorganisme dengan infeksi setelah pembedahan.

Sebelum antiseptik, operasi yang secara teknis berhasil masih dapat berakhir dengan kematian akibat infeksi.

Penerapan Lister membantu menurunkan infeksi dalam praktiknya. Namun, metodenya tidak langsung diterima semua dokter. Sebagian menganggap prosedurnya rumit atau belum memahami dasar ilmiahnya.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa teknologi kedokteran bukan hanya soal alat baru. Perubahan kebiasaan, kebersihan, dan pemahaman yang tidak terlihat dapat menyelamatkan lebih banyak kehidupan.

Pangan, Pertanian, dan Perdagangan Dunia

Pertanian tetap menjadi dasar kehidupan sebagian besar manusia.

Pangan dunia meliputi:

  • gandum;
  • beras;
  • jagung;
  • kentang;
  • jelai;
  • umbi-umbian;
  • sagu;
  • daging;
  • hasil laut;
  • dan tanaman lokal.

Jaringan rel serta kapal uap meningkatkan kemampuan memindahkan gandum dan bahan pangan dari wilayah surplus menuju kota atau negara lain.

Namun, pasar tidak menjamin semua orang memperoleh makanan. Kelaparan dapat terjadi ketika:

  • penduduk tidak memiliki uang;
  • distribusi terganggu;
  • perang merusak pertanian;
  • tanah dikuasai kelompok tertentu;
  • atau kebijakan memprioritaskan ekspor.

Pupuk seperti guano dari pesisir Pasifik Amerika Selatan diperdagangkan untuk meningkatkan hasil pertanian. Penambangan dan pengiriman guano menghubungkan kebutuhan pertanian Eropa dengan tenaga kerja serta wilayah di seberang samudra.

Ekonomi Dunia dan Perluasan Kapitalisme Industri

Industri semakin membutuhkan modal besar. Pembangunan rel, pabrik, tambang, kapal, dan kabel telegraf tidak dapat dibiayai hanya oleh satu keluarga kecil.

Bank, bursa, perusahaan saham, dan lembaga asuransi memainkan peran semakin besar.

Perekonomian dunia menghubungkan:

  • kapas Amerika;
  • tekstil Britania;
  • guano Peru;
  • gula Karibia dan Jawa;
  • teh Tiongkok dan India;
  • kopi Brasil dan Nusantara;
  • emas Australia dan California;
  • serta batu bara Eropa, Amerika, dan Asia.

Satu perubahan di suatu kawasan dapat memengaruhi kawasan lain.

Ketika Perang Saudara Amerika mengganggu pasokan kapas, industri tekstil Britania mengalami Lancashire Cotton Famine. Pabrik mengurangi produksi dan pekerja kehilangan pekerjaan.

Industri kemudian mencari kapas dari India, Mesir, dan wilayah lain. Dengan demikian, perang di Amerika mengubah pertanian dan perdagangan di beberapa benua.

Energi: Batu Bara, Minyak, dan Tenaga Uap

Batu bara tetap menjadi sumber utama energi industri.

Batu bara menggerakkan:

  • lokomotif;
  • kapal uap;
  • mesin pabrik;
  • pompa tambang;
  • produksi besi dan baja;
  • serta sistem pemanas.

Minyak mulai berkembang sebagai komoditas industri setelah pengeboran komersial di Pennsylvania pada 1859. Minyak tanah digunakan untuk penerangan dan mulai menggantikan sebagian minyak paus serta bahan penerangan lain.

Konsumsi minyak masih jauh di bawah masa modern. Mesin pembakaran dalam belum mengubah transportasi secara luas.

Sebagian besar rumah tangga dunia tetap bergantung pada kayu, arang, sisa tanaman, dan tenaga hewan.

Namun, struktur ekonomi energi fosil mulai terbentuk: sumur, kilang, pipa, kereta pengangkut, kapal, dan pasar.

Lingkungan dan Dampak Industrialisasi

Pembakaran batu bara menghasilkan asap, jelaga, dan karbon dioksida. Tambang mengubah bentang alam dan mencemari air. Rel membutuhkan kayu, logam, batu, dan tanah.

Perkebunan komersial mendorong pembukaan hutan dan pengalihan penggunaan lahan.

Pada 1860-an, belum ada pengukuran global emisi seperti sekarang. Masyarakat terutama melihat dampak lokal:

  • udara kotor;
  • sungai tercemar;
  • hutan berkurang;
  • tanah terkikis;
  • serta penyakit di kota dan tambang.

Pengaruh jangka panjang gas rumah kaca terhadap suhu Bumi belum menjadi perhatian politik. Namun, dasar sistem industri beremisi tinggi terus diperbesar.

Cuaca dan Iklim Dunia

Catatan suhu permukaan dunia menjadi lebih banyak sejak pertengahan abad ke-19, tetapi cakupannya tetap tidak merata.

Eropa, Amerika Utara, dan jalur pelayaran tertentu memiliki lebih banyak pengamatan. Afrika, Asia bagian dalam, samudra, dan Belahan Bumi Selatan memiliki data lebih terbatas.

Karena itu, gambaran iklim global 1860-an merupakan gabungan pengukuran dan rekonstruksi.

Dunia masih relatif lebih sejuk dibandingkan akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21. Namun, perbedaan regional dan tahunan tetap besar.

Cuaca ekstrem terjadi dalam bentuk:

  • kekeringan;
  • musim dingin berat;
  • hujan berlebihan;
  • banjir;
  • badai;
  • dan gelombang panas.

Tidak setiap kejadian dapat langsung dianggap akibat perubahan iklim global. Penelusuran harus membedakan cuaca lokal, variasi alami, pengaruh gunung api, dan tren jangka panjang.

Badai Matahari dan Tata Surya

Setelah Peristiwa Carrington 1859, manusia semakin menyadari bahwa aktivitas Matahari dapat mengganggu teknologi di Bumi.

Pada 1860-an, pengamatan bintik Matahari, aurora, dan medan magnet terus berkembang.

Richard Carrington dan ilmuwan lain membantu menunjukkan bahwa bintik Matahari bergerak dengan kecepatan berbeda menurut lintangnya, menandakan rotasi Matahari yang tidak sama seperti benda padat.

Pada 1868, pengamatan spektrum Matahari saat gerhana membantu menemukan tanda unsur yang kemudian dinamai helium. Unsur tersebut dikenali melalui cahaya Matahari sebelum ditemukan di Bumi.

Penemuan ini menunjukkan bahwa manusia dapat mengetahui komposisi benda langit melalui cahaya tanpa harus mendatanginya.

Tidak ada bukti bahwa aktivitas Matahari menyebabkan perang, revolusi, atau gempa. Aktivitas Matahari dapat memengaruhi magnetosfer dan teknologi, tetapi tidak boleh digunakan sebagai penjelasan bagi semua peristiwa di Bumi.

Geologi: Membaca Bumi Melalui Batu dan Fosil

Ilmu geologi terus berkembang melalui survei, pertambangan, pembangunan rel, dan penggalian kanal.

Lapisan batuan yang terbuka membantu ilmuwan menyusun urutan sejarah Bumi. Fosil digunakan untuk membandingkan umur relatif formasi di wilayah berbeda.

Teori evolusi juga memengaruhi cara fosil dipahami. Fosil tidak lagi hanya dipandang sebagai makhluk yang hilang, tetapi sebagai bagian dari sejarah perubahan kehidupan.

Namun, umur absolut Bumi belum dapat dihitung dengan penanggalan radiometrik. Radioaktivitas belum ditemukan.

Pengetahuan geologi memiliki dua kegunaan yang berjalan bersama:

  • memahami sejarah planet;
  • dan menemukan batu bara, logam, minyak, serta bahan bangunan.

Dengan demikian, ilmu Bumi berkembang bersama kebutuhan industri dan kekuasaan negara.

Gempa Bumi Dunia

Gempa besar terjadi di beberapa wilayah selama 1860-an.

Gempa Mendoza di Argentina pada 1861 menghancurkan sebagian besar kota dan menewaskan banyak penduduk. Pada 1868, gempa serta tsunami Arica menghantam pesisir Peru–Cile dan mengirim gelombang melintasi Samudra Pasifik.

Gempa besar juga melanda wilayah Ekuador dan Kolombia pada 1868.

Tidak terdapat jaringan seismograf global. Magnitudo yang digunakan sekarang merupakan rekonstruksi ilmiah, bukan hasil pengukuran langsung pada masa kejadian.

Tsunami melintasi lautan tanpa sistem peringatan. Informasi tentang gelombang hanya bergerak setelah kapal atau berita tiba, jauh lebih lambat daripada air yang datang.

Teknologi Dunia: Produksi Baja

Proses Bessemer dan metode produksi baja lainnya berkembang pada 1860-an.

Baja yang lebih murah dan tersedia dalam jumlah besar membantu pembangunan:

  • rel;
  • jembatan;
  • kapal;
  • mesin;
  • senjata;
  • dan bangunan.

Kualitas produksi belum selalu seragam. Pengendalian kandungan karbon dan fosfor masih menjadi persoalan teknis.

Namun, industri baja mulai mengubah skala pembangunan. Struktur yang sebelumnya terlalu mahal atau sulit dibuat menjadi lebih memungkinkan.

Baja memperkuat transportasi dan perdagangan, tetapi juga memperbesar daya hancur persenjataan.

Kabel Telegraf Trans-Atlantik 1866

Percobaan kabel telegraf trans-Atlantik pada 1858 gagal setelah beroperasi singkat.

Pada 1866, kabel baru berhasil dipasang dan berfungsi lebih andal antara Eropa dan Amerika Utara.

Pesan yang sebelumnya membutuhkan perjalanan kapal selama beberapa hari atau minggu dapat dikirim jauh lebih cepat.

Perubahan ini memengaruhi:

  • diplomasi;
  • harga pasar;
  • berita;
  • perbankan;
  • asuransi;
  • pelayaran;
  • dan operasi militer.

Namun, kabel bawah laut terutama menghubungkan pusat kekuasaan dan perdagangan. Banyak masyarakat belum memperoleh akses langsung.

Lautan masih memisahkan manusia secara fisik, tetapi tidak lagi sepenuhnya memisahkan keputusan, harga, dan perintah.

Rel Kereta Bawah Tanah Pertama

Metropolitan Railway dibuka di London pada 1863 dan menjadi jalur kereta bawah tanah perkotaan pertama.

Kereta masih menggunakan lokomotif uap. Asap dan uap di terowongan menjadi persoalan bagi penumpang serta pekerja.

Pembangunan bawah tanah menunjukkan bahwa kota mulai mencari ruang baru karena jalan di permukaan semakin padat.

Teknologi ini membutuhkan:

  • penggalian;
  • ventilasi;
  • struktur penahan;
  • koordinasi jadwal;
  • serta investasi besar.

Kereta bawah tanah kemudian mengubah cara kota berkembang, tetapi pada 1860-an teknologinya masih berada pada tahap awal.

Rel Lintas Benua Amerika Serikat

Rel kereta lintas benua pertama Amerika Serikat diselesaikan pada 1869 ketika jalur Union Pacific dan Central Pacific bertemu di Promontory Summit, Utah.

Rel tersebut menghubungkan jaringan timur dengan pantai Pasifik.

Pembangunannya menggunakan tenaga besar dari pekerja, termasuk banyak imigran Tiongkok di bagian barat serta pekerja Irlandia dan kelompok lain.

Rel mempercepat migrasi, perdagangan, pos, dan pergerakan militer. Namun, pembangunan juga menembus tanah masyarakat adat, mengganggu pergerakan bison, dan memperkuat kolonisasi wilayah barat.

Rel dapat dipandang sebagai prestasi teknik sekaligus alat perebutan tanah.

Terusan Suez 1869

Terusan Suez dibuka pada November 1869. Terusan tersebut menghubungkan Laut Tengah dan Laut Merah tanpa mengharuskan kapal mengitari ujung selatan Afrika.

Terusan memperpendek jalur pelayaran antara Eropa dan Asia bagi kapal yang dapat menggunakannya.

Pembangunannya melibatkan modal internasional, teknologi penggalian, diplomasi, dan tenaga kerja Mesir. Sistem kerja paksa atau corvée digunakan dalam tahap awal pembangunan dan menimbulkan penderitaan.

Terusan meningkatkan kepentingan strategis Mesir dan jalur menuju India serta Asia Tenggara.

Kapal layar menghadapi keterbatasan di kanal, sementara kapal uap memperoleh keuntungan lebih besar karena tidak bergantung pada arah angin.

Terusan Suez tidak hanya mengubah perdagangan. Ia mengubah peta kepentingan imperial dunia.

Dinamit dan Daya Ledak Baru

Alfred Nobel mematenkan dinamit pada 1867.

Ia mengembangkan cara membuat nitrogliserin lebih mudah ditangani dengan menyerapnya ke dalam bahan penstabil.

Dinamit digunakan untuk:

  • pertambangan;
  • terowongan;
  • pembangunan rel;
  • kanal;
  • dan konstruksi.

Teknologi tersebut mempercepat kemampuan manusia membelah batu dan mengubah bentang alam.

Namun, bahan peledak juga dapat digunakan dalam perang dan kekerasan politik. Seperti teknologi lain, dinamit tidak membawa tujuan moralnya sendiri. Penggunaannya ditentukan oleh manusia dan sistem kekuasaan.

Mesin Ketik dan Komunikasi Tertulis

Pada 1860-an, beberapa rancangan mesin ketik dikembangkan. Christopher Latham Sholes bersama rekan-rekannya memperoleh paten untuk salah satu rancangan pada 1868.

Mesin ketik komersial yang tersebar luas baru berkembang kemudian. Namun, gagasan penulisan mekanis telah terbentuk.

Teknologi ini kelak mengubah:

  • pekerjaan kantor;
  • administrasi;
  • penerbitan;
  • bisnis;
  • dan kesempatan kerja perempuan.

Pada tahap awal, mesin ketik belum menggantikan tulisan tangan. Ia masih memerlukan perbaikan mekanis, produksi, dan standar tata letak.

Maxwell dan Penyatuan Listrik, Magnetisme, serta Cahaya

James Clerk Maxwell mengembangkan persamaan yang menyatukan listrik dan magnetisme.

Teorinya menunjukkan bahwa perubahan medan listrik dan magnet dapat merambat sebagai gelombang, serta bahwa cahaya merupakan bentuk gelombang elektromagnetik.

Pada 1860-an, hal tersebut terutama merupakan pencapaian teori. Radio belum digunakan dalam komunikasi.

Namun, persamaan Maxwell kelak menjadi dasar bagi:

  • radio;
  • radar;
  • telekomunikasi;
  • elektronika;
  • dan teknologi nirkabel.

Pencapaian ini memperlihatkan bahwa teori yang tampak abstrak dapat menjadi fondasi teknologi beberapa dasawarsa kemudian.

Mendel dan Pola Pewarisan

Gregor Mendel melakukan percobaan pada tanaman kacang ercis dan mempresentasikan hasilnya pada 1865. Makalahnya diterbitkan pada 1866.

Ia mengamati pola pewarisan sifat melalui persilangan tanaman.

Mendel menyimpulkan bahwa sifat diwariskan melalui unsur-unsur terpisah yang kini dipahami sebagai gen.

Namun, penelitiannya tidak langsung dikenal luas. Arti pentingnya baru diakui kembali sekitar 1900.

Kisah Mendel menunjukkan bahwa penemuan ilmiah dapat ditemukan tetapi belum dipahami oleh zamannya.

Tabel Periodik Mendeleev

Pada 1869, Dmitri Mendeleev menyusun bentuk penting tabel periodik unsur.

Ia mengatur unsur berdasarkan pola sifat dan massa atom yang dikenal pada masa itu. Mendeleev meninggalkan ruang bagi unsur yang belum ditemukan dan memperkirakan beberapa sifatnya.

Ketika unsur baru kemudian ditemukan dengan sifat mendekati perkiraannya, kekuatan sistem periodik menjadi semakin jelas.

Tabel tersebut menunjukkan bahwa unsur kimia bukan kumpulan benda yang tidak berhubungan. Terdapat pola yang dapat digunakan untuk menjelaskan serta memprediksi.

Perang Saudara Amerika

Perang Saudara Amerika berlangsung pada 1861–1865 setelah negara-negara bagian selatan memisahkan diri dan membentuk Konfederasi.

Persoalan perbudakan menjadi sebab utama perpecahan, meskipun konflik juga melibatkan kekuasaan federal, ekonomi, politik, dan masa depan wilayah Amerika.

Perang menggunakan:

  • rel kereta;
  • telegraf;
  • kapal lapis baja;
  • senapan beralur;
  • fotografi;
  • balon pengamatan;
  • dan produksi industri.

Teknologi memungkinkan pasukan dan informasi bergerak lebih cepat, tetapi juga memperbesar skala pembunuhan.

Sekitar 620.000 hingga lebih dari 700.000 tentara diperkirakan meninggal, tergantung metode penelitian. Banyak kematian disebabkan penyakit, bukan luka pertempuran.

Korban sipil dan penderitaan orang yang diperbudak lebih sulit dihitung.

Proklamasi Emansipasi dan Penghapusan Perbudakan

Presiden Abraham Lincoln mengeluarkan Proklamasi Emansipasi yang berlaku pada 1 Januari 1863.

Proklamasi menyatakan kebebasan bagi orang-orang yang diperbudak di wilayah pemberontakan. Namun, tidak berlaku di semua wilayah Amerika Serikat dan bergantung pada kemenangan militer Union.

Hampir 200.000 laki-laki kulit hitam kemudian bertugas dalam angkatan darat dan laut Union.

Perbudakan secara hukum di seluruh Amerika Serikat dihapus melalui Amandemen ke-13 yang disahkan pada 1865.

Namun, penghapusan hukum tidak menciptakan kesetaraan langsung.

Mantan budak menghadapi:

  • kemiskinan;
  • kekerasan;
  • diskriminasi;
  • keterbatasan tanah;
  • sistem kerja eksploitatif;
  • dan upaya politik untuk mengurangi hak mereka.

Amandemen ke-14 pada 1868 memberikan dasar kewarganegaraan serta perlindungan hukum. Perjuangan menerapkannya tetap berlangsung.

Pemberontakan Taiping Berakhir

Pemberontakan Taiping yang dimulai sekitar 1850 berakhir dengan jatuhnya Nanjing pada 1864.

Konflik antara Dinasti Qing dan gerakan Taiping menghancurkan kota, desa, pertanian, dan sistem perdagangan.

Jumlah korban diperkirakan mencapai puluhan juta, tetapi angka tepat tidak dapat dipastikan. Kematian berasal dari pertempuran, kelaparan, penyakit, dan kehancuran sosial.

Qing berhasil bertahan, tetapi semakin bergantung pada pasukan regional dan menghadapi tekanan asing.

Berakhirnya perang tidak langsung memulihkan masyarakat. Lahan rusak, keluarga tercerai, dan struktur kekuasaan berubah.

Prusia, Austria, dan Pembentukan Kekuatan Jerman

Pada 1866, Prusia berperang melawan Austria dan sekutunya.

Kemenangan Prusia mengakhiri dominasi Austria dalam urusan negara-negara Jerman dan membuka jalan bagi pembentukan Konfederasi Jerman Utara.

Prusia menggunakan organisasi militer, rel, mobilisasi, dan persenjataan modern secara efektif.

Penyatuan Jerman belum selesai pada akhir 1869. Kekaisaran Jerman baru diproklamasikan pada 1871.

Karena itu, dasawarsa ini harus dipahami sebagai tahap pembentukan, bukan penyelesaian penuh.

Penyatuan Italia

Gerakan penyatuan Italia berkembang melalui diplomasi, perang, revolusi, dan kampanye militer.

Pada 1861, Kerajaan Italia diproklamasikan. Namun, wilayah Venesia baru bergabung pada 1866, sedangkan Roma masih berada di bawah kekuasaan kepausan hingga 1870.

Giuseppe Garibaldi, Victor Emmanuel II, Camillo Cavour, serta berbagai kelompok lokal memiliki peran berbeda.

Penyatuan tidak berarti seluruh penduduk langsung memiliki pengalaman kebangsaan yang sama. Perbedaan ekonomi, bahasa, wilayah, dan politik tetap besar.

Restorasi Meiji di Jepang

Pada 1868, perubahan politik mengakhiri kekuasaan dominan Keshogunan Tokugawa dan memulihkan kedudukan politik kaisar dalam peristiwa yang dikenal sebagai Restorasi Meiji.

Perubahan tersebut dipengaruhi tekanan asing, konflik internal, perkembangan perdagangan, dan perdebatan mengenai masa depan Jepang.

Pemerintah baru mulai membangun negara yang lebih terpusat serta mempelajari teknologi, organisasi militer, pendidikan, dan industri Barat.

Modernisasi Jepang bukan penyalinan sederhana terhadap Eropa. Pemerintah dan masyarakat memilih, menyesuaikan, serta menggabungkan unsur baru dengan struktur yang telah ada.

Perubahan masih berada pada tahap awal di akhir 1860-an.

Perang Paraguay

Perang Paraguay atau Perang Triple Alliance berlangsung pada 1864–1870. Paraguay berperang melawan Brasil, Argentina, dan Uruguay.

Konflik menjadi salah satu perang paling menghancurkan dalam sejarah Amerika Selatan.

Jumlah korban masih diperdebatkan. Penduduk Paraguay mengalami kehilangan sangat besar akibat pertempuran, penyakit, kelaparan, dan kehancuran ekonomi.

Perang menunjukkan bahwa pembentukan negara, perebutan jalur sungai, perbatasan, dan kepentingan regional dapat menghasilkan bencana demografi.

Karena perang berakhir pada 1870, bagian akhirnya berada tepat pada batas periode berikutnya.

Kolonialisme di Afrika dan Asia

Pada 1860-an, penguasaan kolonial Eropa belum mencakup hampir seluruh Afrika seperti pada akhir abad ke-19. Namun, jalur menuju perluasan itu sedang dibangun.

Prancis memperkuat kekuasaan di Aljazair dan wilayah lain. Britania memperluas kepentingan di India, Afrika, dan Asia. Belanda memperkuat Hindia Belanda.

Perdagangan, misi keagamaan, survei, perusahaan, perjanjian, ekspedisi militer, serta pembangunan pelabuhan menjadi sarana penetrasi.

Terusan Suez kemudian meningkatkan kepentingan Eropa terhadap Mesir, Laut Merah, dan jalur ke Asia.

Imperialisme tidak hanya bergerak melalui penaklukan langsung. Ia juga bergerak melalui utang, perjanjian, monopoli, pengetahuan, dan penguasaan jalur transportasi.

NUSANTARA 1860–1870

Indonesia Belum Menjadi Negara

Pada 1860–1870, Republik Indonesia belum ada. Identitas kebangsaan Indonesia dalam pengertian politik modern belum terbentuk.

Nusantara terdiri atas:

  • wilayah yang diperintah langsung oleh Hindia Belanda;
  • kerajaan yang terikat perjanjian;
  • kesultanan yang mempertahankan sebagian kedaulatan;
  • masyarakat adat;
  • dan wilayah yang belum dikendalikan secara efektif oleh Belanda.

Jawa menjadi pusat administrasi serta pendapatan kolonial. Di luar Jawa, kekuasaan Belanda masih tidak merata dan sering bergantung pada pelabuhan, benteng, perjanjian, sekutu lokal, dan ekspedisi militer.

Aceh masih merdeka. Beberapa kerajaan di Bali tetap mempertahankan kekuasaan. Di Kalimantan dan Sulawesi, konflik kolonial terus berlangsung.

Nusantara belum menjadi satu negara, tetapi tanah, laut, hasil bumi, dan masyarakatnya semakin dihubungkan ke dalam satu sistem ekonomi kolonial yang berpusat di Batavia dan Belanda.

Penghapusan Perbudakan di Hindia Belanda

Pemerintah kolonial menetapkan penghapusan perbudakan mulai 1 Januari 1860 di wilayah Hindia Belanda yang berada dalam jangkauan hukumnya.

Namun, penghapusan secara hukum tidak berarti seluruh manusia langsung bebas dalam kenyataan.

Pelaksanaannya menghadapi beberapa persoalan:

  • kekuasaan kolonial tidak menjangkau seluruh wilayah;
  • bentuk ketergantungan berbeda antardaerah;
  • perdagangan manusia dapat berlangsung secara tersembunyi;
  • utang mengikat tenaga kerja;
  • dan kerja paksa pemerintah tetap ada.

Sistem Tanam Paksa juga tetap menggunakan pemaksaan terhadap tanah serta tenaga, meskipun secara hukum berbeda dari status perbudakan.

Karena itu, 1860 merupakan perubahan hukum penting, tetapi bukan akhir dari seluruh bentuk kerja tidak bebas di Nusantara.

Max Havelaar dan Kritik terhadap Kolonialisme

Pada 1860, Eduard Douwes Dekker menerbitkan novel Max Havelaar menggunakan nama pena Multatuli.

Novel tersebut mengkritik penyalahgunaan kekuasaan dalam pemerintahan kolonial, terutama penderitaan masyarakat Jawa akibat hubungan antara pejabat kolonial, elite lokal, dan sistem produksi.

Douwes Dekker pernah bekerja sebagai pejabat kolonial, termasuk sebagai asisten residen di Lebak pada 1856. Konfliknya dengan pemerintahan mengenai dugaan penyalahgunaan kekuasaan menjadi salah satu dasar novel tersebut.

Max Havelaar adalah karya sastra, bukan laporan statistik netral. Tokoh, susunan cerita, dan gaya penulisannya dibentuk untuk menyampaikan kritik.

Namun, novel tersebut menggunakan pengalaman dan pengetahuan tentang sistem kolonial yang nyata.

Pengaruhnya tidak langsung menghapus Tanam Paksa. Akan tetapi, karya itu membantu membawa persoalan penderitaan di Jawa ke dalam perdebatan masyarakat Belanda.

Ketika laporan administrasi mengubah manusia menjadi angka produksi, sastra mengembalikan wajah, suara, dan penderitaan yang hilang dari pembukuan.

Tanam Paksa Masih Berlangsung

Sistem Tanam Paksa belum berakhir pada 1860.

Pemerintah mulai mengurangi atau menghapus kewajiban terhadap beberapa tanaman, tetapi kopi dan gula tetap penting.

Pelaksanaannya berbeda menurut daerah. Di beberapa tempat, penduduk memperoleh pembayaran dan peluang ekonomi. Di tempat lain, beban tenaga, tanah, pengangkutan, dan tekanan pejabat sangat berat.

Tanaman ekspor meliputi:

  • kopi;
  • gula;
  • teh;
  • tembakau;
  • nila;
  • dan komoditas lain.

Keuntungan dari hasil tersebut tetap mengalir ke kas kolonial serta pasar Belanda.

Namun, kritik liberal di Belanda berkembang. Sebagian penentang mengecam penderitaan rakyat. Sebagian lainnya ingin mengganti monopoli pemerintah dengan perusahaan swasta.

Kedua kelompok dapat menolak Tanam Paksa dengan alasan berbeda: kemanusiaan atau kebebasan modal.

Ekonomi Jawa dan Perubahan Produksi

Jawa semakin terhubung dengan pasar dunia.

Pabrik gula menggunakan mesin uap dan membutuhkan pasokan tebu, air, kayu bakar, tenaga kerja, serta transportasi.

Kopi dari daerah pegunungan dikumpulkan melalui struktur pemerintahan desa dan pejabat lokal.

Ekonomi uang berkembang, tetapi tidak menggantikan seluruh pertukaran tradisional. Pajak, upah, sewa, dan pembelian barang membuat masyarakat semakin membutuhkan uang tunai.

Perubahan harga dunia dapat memengaruhi pendapatan dan target produksi. Ketergantungan terhadap tanaman ekspor membuat desa terhubung dengan keadaan pasar yang tidak dapat mereka kendalikan.

Kehidupan Petani dan Desa

Sebagian besar masyarakat Jawa tetap hidup di desa dan bekerja dalam pertanian.

Keluarga harus membagi tenaga antara:

  • menanam pangan;
  • memenuhi kewajiban pemerintah;
  • merawat ternak;
  • memperbaiki irigasi;
  • mengangkut hasil;
  • dan pekerjaan rumah tangga.

Desa bukan masyarakat yang sepenuhnya setara. Kepemilikan tanah, hubungan keluarga, kedudukan pejabat, serta kewajiban kerja menciptakan perbedaan.

Kepala desa memainkan peran penting sebagai penghubung antara rakyat dan pemerintah. Kedudukan tersebut dapat digunakan untuk membantu masyarakat, tetapi juga memungkinkan penyalahgunaan kekuasaan.

Catatan kolonial sering melihat desa sebagai unit produksi. Di baliknya terdapat keluarga yang harus mengatur makanan, utang, kesehatan, perkawinan, dan masa depan anak-anak.

Pangan dan Kesehatan Masyarakat

Krisis pangan besar 1840-an telah berlalu di banyak wilayah, tetapi kerentanan belum hilang.

Petani tetap bergantung pada:

  • hujan;
  • irigasi;
  • hasil padi;
  • harga pasar;
  • ketersediaan tanah;
  • dan waktu kerja.

Jika tanah serta tenaga terlalu banyak digunakan untuk tanaman ekspor, kemampuan keluarga menghasilkan pangan dapat berkurang.

Wabah kolera, cacar, malaria, disentri, dan penyakit lain tetap menjadi ancaman.

Sekolah Dokter Djawa terus berkembang, tetapi jumlah tenaga kesehatan masih sangat terbatas dibandingkan luas wilayah dan jumlah penduduk.

Masyarakat mengandalkan pengobatan lokal, tabib, dukun, jamu, pengetahuan keluarga, lembaga agama, serta tenaga medis kolonial yang tidak tersebar merata.

Pendidikan dan Sekolah Dokter Djawa

Sekolah Dokter Djawa di Batavia mendidik tenaga kesehatan pribumi untuk membantu pelayanan kolonial.

Kedudukan lulusan belum setara dengan dokter Eropa. Kurikulum, masa pendidikan, dan pengakuan profesional mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

Meskipun terbatas, lembaga tersebut menjadi ruang pendidikan penting bagi kelompok pribumi.

Pendidikan kolonial tidak dirancang untuk memberikan akses luas kepada seluruh rakyat. Tujuan utamanya sering berkaitan dengan kebutuhan pegawai, kesehatan, administrasi, dan pemerintahan.

Namun, pendidikan dapat melahirkan akibat yang melampaui tujuan pembentuknya. Pengetahuan memberi kemampuan membaca sistem dan kelak mengkritiknya.

Teknologi Dunia Mulai Masuk Lebih Jauh ke Jawa

Telegraf, kapal uap, mesin pabrik, dan percetakan semakin digunakan dalam pemerintahan serta perdagangan.

Jaringan telegraf berkembang dari jalur awal Batavia–Buitenzorg menuju kota-kota lain.

Teknologi tersebut mempercepat:

  • perintah pemerintah;
  • laporan produksi;
  • informasi perdagangan;
  • berita;
  • dan koordinasi keamanan.

Namun, masyarakat umum belum memiliki akses setara. Telegraf lebih dahulu melayani kekuasaan kolonial, militer, perusahaan, dan pejabat.

Kapal uap mempercepat pelayaran antarpelabuhan. Pemerintah dapat memindahkan pasukan serta perlengkapan lebih cepat menuju wilayah konflik.

Teknologi tidak hanya menghubungkan Nusantara. Ia juga memperkuat kemampuan kolonial mengawasinya.

Jalur Kereta Api Pertama di Hindia Belanda

Pembangunan jalur kereta api pertama di Jawa dimulai pada 1864. Jalur tersebut menghubungkan Semarang dengan wilayah Vorstenlanden melalui pembangunan bertahap.

Bagian pertama Semarang–Tanggung mulai beroperasi pada 1867.

Pembangunan dilakukan oleh perusahaan swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij.

Rel dirancang untuk mendukung:

  • pengangkutan gula;
  • hasil perkebunan;
  • barang;
  • penumpang;
  • dan hubungan antara pedalaman dengan pelabuhan.

Kereta mempercepat perjalanan, tetapi keuntungan awalnya lebih besar bagi perdagangan dan produksi kolonial.

Pembangunan rel membutuhkan tanah. Pembebasan lahan, penentuan jalur, penggunaan tenaga, dan perubahan nilai tanah dapat memengaruhi masyarakat setempat.

Rel pertama di Jawa tidak dibangun di ruang kosong. Ia melintasi sawah, desa, tanah kekuasaan, dan kehidupan yang telah ada jauh sebelum lokomotif datang.

Pelabuhan, Kapal Uap, dan Terusan Suez

Pembukaan Terusan Suez pada 1869 memengaruhi hubungan Eropa dengan Asia, termasuk Hindia Belanda.

Dalam jangka panjang, terusan memperpendek perjalanan antara Belanda dan Nusantara bagi kapal uap yang menggunakan jalur tersebut.

Perubahan ini mempercepat:

  • perjalanan pejabat;
  • pengiriman surat;
  • perdagangan;
  • perpindahan pasukan;
  • dan arus informasi.

Namun, dampaknya tidak langsung sama pada hari pembukaan. Armada, jadwal, pelabuhan, dan jaringan pengisian batu bara perlu menyesuaikan diri.

Nusantara semakin dekat dengan Eropa dalam ukuran waktu perjalanan, tetapi tidak menjadi lebih setara secara politik.

Gempa dan Tsunami Sumatra 1861

Pada 16 Februari 1861, gempa sangat besar terjadi di zona subduksi di sebelah barat Sumatra.

Gempa menghasilkan tsunami yang menghantam Kepulauan Nias, Batu, Simeulue, dan pesisir Sumatra. Desa-desa pesisir mengalami kehancuran dan ribuan orang diperkirakan meninggal.

Tidak terdapat alat pengukur gempa modern. Magnitudo sekitar Mw 8,5 merupakan hasil rekonstruksi berdasarkan:

  • perubahan tinggi daratan;
  • pertumbuhan mikroatol karang;
  • laporan sejarah;
  • luas wilayah terdampak;
  • dan pemodelan patahan.

Tinggi tsunami berbeda menurut lokasi. Beberapa rekonstruksi menunjukkan gelombang mencapai beberapa meter dan sekitar tujuh meter di tempat tertentu.

Angka korban tidak pasti karena dokumentasi terbatas.

Gempa tersebut menjadi bagian dari rangkaian gempa besar di sepanjang megathrust Sumatra, termasuk peristiwa 1797, 1833, dan gempa-gempa pada masa modern.

Gempa Lambat yang Berlangsung Puluhan Tahun

Penelitian modern terhadap pertumbuhan karang di sekitar Simeulue menemukan bukti bahwa sebelum gempa besar 1861, bagian lempeng mengalami pergeseran lambat selama sekitar 32 tahun.

Peristiwa tersebut disebut slow-slip event atau gempa lambat.

Tidak seperti gempa biasa yang melepaskan energi dalam hitungan detik atau menit, pergeseran lambat berlangsung sangat lama dan tidak selalu menghasilkan guncangan yang dirasakan manusia.

Penelitian ini tidak berarti satu gempa biasa berlangsung mengguncang selama 32 tahun. Yang berlangsung lama adalah pergeseran perlahan pada batas lempeng.

Peristiwa tersebut kemudian diakhiri oleh gempa besar 1861.

Masyarakat tidak merasakan tanah berguncang selama tiga dasawarsa. Namun, karang mencatat bahwa lempeng terus bergerak diam-diam sebelum melepaskan bencana besar.

Jejak Geologi dan Rekonstruksi Bencana Nusantara

Belum terdapat BMKG pada 1860-an. Tidak ada jaringan seismometer, buoy tsunami, satelit, atau pusat peringatan.

Pengetahuan bencana diperoleh melalui:

  • kesaksian penduduk;
  • laporan pemerintah;
  • surat kabar;
  • catatan kapal;
  • naskah lokal;
  • endapan tsunami;
  • perubahan garis pantai;
  • karang;
  • dan penelitian geologi modern.

Catatan kolonial tidak selalu menggambarkan pengalaman seluruh masyarakat. Daerah yang memiliki pelabuhan, benteng, pejabat, atau kepentingan perdagangan lebih mungkin terdokumentasi.

Karena itu, sedikitnya laporan dari suatu wilayah tidak membuktikan bahwa tidak ada korban atau kerusakan.

Cuaca dan Iklim Nusantara

Pengamatan cuaca mulai berkembang di beberapa pusat kolonial, tetapi belum mewakili seluruh kepulauan.

Nusantara memiliki perbedaan besar antara:

  • wilayah monsun;
  • daerah khatulistiwa;
  • pegunungan;
  • pantai;
  • pulau kecil;
  • kawasan kering;
  • dan wilayah hutan hujan.

Keadaan hujan di Jawa tidak dapat dianggap sama dengan Sumatra, Maluku, Bali, Timor, Sulawesi, Kalimantan, atau Papua.

Catatan iklim harus direkonstruksi melalui laporan hujan, panen, sungai, kapal, perkebunan, karang, dan sedimen.

Perubahan musim dapat memengaruhi pangan, tetapi akibat akhirnya ditentukan pula oleh tanah, tenaga kerja, distribusi, dan kebijakan kolonial.

Perang Banjar Berlanjut

Perang Banjar yang dimulai pada 1859 terus berlangsung pada awal 1860-an.

Pemerintah Belanda menghapus Kesultanan Banjar pada 1860 dan berusaha menempatkan wilayahnya di bawah kekuasaan kolonial langsung.

Namun, penghapusan melalui keputusan pemerintah tidak berarti perlawanan berakhir.

Pangeran Antasari, Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman, dan berbagai pemimpin serta masyarakat lokal melanjutkan perlawanan.

Pangeran Hidayatullah akhirnya ditangkap dan dibuang ke Cianjur pada 1862. Pangeran Antasari meninggal pada tahun yang sama akibat penyakit, yang sering disebut cacar.

Perlawanan utama mengalami kemunduran, tetapi konflik dan perlawanan setempat berlanjut setelah 1863.

Perang Banjar bukan hanya perang suksesi. Konflik tersebut berhubungan dengan:

  • kedaulatan kerajaan;
  • campur tangan Belanda;
  • pertambangan batu bara;
  • perdagangan sungai;
  • agama;
  • kekuasaan elite;
  • dan ketidakpuasan masyarakat.

Batu Bara dan Sungai Kalimantan

Tambang batu bara Pengaron serta wilayah pertambangan lain meningkatkan kepentingan kolonial terhadap Kalimantan selatan.

Batu bara diperlukan untuk kapal uap dan industri.

Sungai menjadi jalur utama karena hutan serta keadaan daratan membuat perjalanan darat sulit.

Penguasaan sungai berarti penguasaan terhadap:

  • perdagangan;
  • pergerakan pasukan;
  • pengangkutan hasil;
  • komunikasi;
  • dan hubungan dengan pedalaman.

Dalam perang, kapal uap kolonial memberikan daya angkut serta persenjataan. Namun, masyarakat lokal memiliki pengetahuan tentang sungai, rawa, hutan, dan jalur kecil.

Konflik Banjar memperlihatkan pertemuan antara teknologi industri dan pengetahuan medan lokal.

Perlawanan Setelah Pangeran Antasari

Meninggalnya Pangeran Antasari tidak mengakhiri seluruh perlawanan.

Tokoh-tokoh lokal dan keturunannya melanjutkan perjuangan dalam bentuk gerilya serta pertahanan wilayah.

Dokumen kolonial dapat menyebut keadaan telah “dipulihkan”, tetapi istilah tersebut menggambarkan sudut pandang pemerintah.

Bagi masyarakat, perlawanan dapat berlanjut dalam bentuk:

  • penolakan pajak;
  • serangan kecil;
  • perpindahan;
  • perlindungan terhadap pemimpin;
  • dan penghindaran terhadap administrasi.

Karena itu, akhir perang tidak selalu memiliki satu tanggal yang diterima semua pihak.

Kerajaan Bone dan Sulawesi Selatan

Perang Belanda–Bone 1859–1860 berakhir dengan perubahan hubungan politik antara Kerajaan Bone dan pemerintah kolonial.

Belanda memperkuat kedudukan dan memaksakan perjanjian yang mengurangi kedaulatan Bone.

Namun, Sulawesi Selatan tetap memiliki jaringan kerajaan, bangsawan, pedagang, pelaut, dan masyarakat yang tidak seluruhnya dapat dikendalikan dari Batavia.

Makassar menjadi pusat penting perdagangan dan administrasi kolonial. Pelaut Bugis dan Makassar terus bergerak melintasi Nusantara serta hingga Australia utara.

Perdagangan laut menunjukkan bahwa hubungan antarpulau telah ada jauh sebelum pemerintah kolonial berusaha menyatukannya secara administratif.

Aceh Masih Merdeka

Kesultanan Aceh tetap merdeka sepanjang 1860-an.

Aceh memiliki hubungan perdagangan lada dengan pedagang kawasan Selat Malaka, India, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika.

Belanda memperluas kekuasaan di Sumatra, tetapi belum menyerang Aceh dalam perang terbuka. Perang Aceh baru dimulai pada 1873.

Namun, ketegangan geopolitik telah meningkat. Perubahan hubungan Britania–Belanda dan kepentingan terhadap Selat Malaka memengaruhi kedudukan Aceh.

Aceh berusaha mempertahankan hubungan luar negeri serta kedaulatannya di tengah kekuatan kolonial yang semakin besar.

Bali dan Kerajaan yang Belum Sepenuhnya Dikuasai

Setelah ekspedisi Belanda pada 1846, 1848, dan 1849, Belanda memperoleh pengaruh lebih besar di Bali utara.

Namun, seluruh Bali belum berada di bawah pemerintahan langsung kolonial.

Kerajaan seperti Badung, Tabanan, Gianyar, dan Klungkung mempertahankan kekuasaan serta hubungan politik masing-masing.

Perdagangan, adat, agama, irigasi, pertanian, dan hubungan antarkerajaan tetap membentuk kehidupan masyarakat.

Belanda menggunakan perjanjian serta tekanan politik, tetapi penguasaan penuh atas berbagai kerajaan Bali baru terjadi melalui konflik pada masa berikutnya.

Maluku, Rempah, dan Perubahan Monopoli

Maluku telah lama menjadi pusat perdagangan cengkih dan pala.

Pada 1860-an, sejumlah unsur monopoli lama mulai dikurangi. Namun, perubahan hukum tidak langsung menghapus dampak berabad-abad pengendalian produksi.

Masyarakat Maluku tetap hidup melalui:

  • pertanian;
  • perikanan;
  • pelayaran;
  • perdagangan lokal;
  • dan jaringan desa.

Pengurangan monopoli dapat membuka perdagangan, tetapi juga menghadapkan produsen kepada perubahan harga pasar.

Wilayah yang lama diatur berdasarkan satu komoditas sering memerlukan waktu untuk membangun susunan ekonomi yang lebih beragam.

Kalimantan, Sumatra, dan Sumber Daya

Selain batu bara di Kalimantan, timah dari Bangka dan Belitung menjadi komoditas penting.

Pertambangan membutuhkan tenaga, modal, peralatan, transportasi, dan pengawasan.

Di Sumatra, lada, kopi, emas, hasil hutan, dan komoditas lain menghubungkan pedalaman dengan pantai.

Pengambilan sumber daya mengubah:

  • penggunaan tanah;
  • pola permukiman;
  • perpindahan pekerja;
  • hubungan antara kerajaan dan pedagang;
  • serta kepentingan kekuatan asing.

Belum terdapat pengukuran lengkap mengenai kerusakan hutan, kualitas air, atau kesehatan pekerja. Banyak dampak hanya dapat ditemukan secara tidak langsung melalui arsip dan penelitian lingkungan.

Kehidupan Masyarakat Nusantara

Mayoritas penduduk tetap hidup dalam desa, nagari, kampung, kerajaan, dan komunitas adat.

Makanan utama berbeda menurut daerah:

  • beras;
  • sagu;
  • jagung;
  • umbi;
  • ikan;
  • kelapa;
  • dan tanaman lokal.

Perempuan memiliki peran penting dalam pertanian, pasar, pengolahan makanan, tenun, dan rumah tangga. Namun, nama mereka jarang muncul dalam laporan pemerintah.

Pengetahuan diwariskan melalui keluarga, adat, lembaga agama, naskah, cerita lisan, lagu, dan pengalaman kerja.

Masyarakat tidak hanya menerima perubahan. Mereka menyesuaikan, menolak, bernegosiasi, berpindah, atau memanfaatkan peluang baru sesuai keadaan.

Undang-Undang Agraria 1870 sebagai Batas Perubahan

Pada 1870, pemerintah Belanda mengesahkan Agrarische Wet atau Undang-Undang Agraria serta Undang-Undang Gula.

Karena tahun 1870 menjadi batas antara Catatan #007 dan periode berikutnya, perubahan ini harus ditempatkan sebagai pintu menuju tahap baru, bukan sebagai keadaan yang telah berlaku sepanjang 1860-an.

Undang-Undang Agraria membuka kesempatan lebih besar bagi perusahaan swasta menyewa tanah dalam jangka panjang.

Pemerintah menyatakan ingin melindungi hak penduduk atas tanah. Namun, konsep tanah negara atau domeinverklaring kemudian memungkinkan tanah yang tidak dapat dibuktikan menurut sistem hukum kolonial dianggap sebagai tanah negara.

Hal tersebut menciptakan persoalan karena masyarakat lokal dapat menguasai tanah melalui adat tanpa dokumen tertulis yang diakui pemerintah kolonial.

Dengan demikian, berkurangnya Tanam Paksa tidak otomatis berarti berakhirnya eksploitasi. Kekuasaan dapat berpindah dari paksaan pemerintah menuju perkebunan swasta yang didukung hukum kolonial.

Hubungan Dunia dan Nusantara

Perubahan dunia pada 1860-an dapat dilihat kembali di Nusantara.

  • Baja memungkinkan pembangunan rel dan kapal lebih besar.
  • Telegraf mempercepat perintah pemerintah kolonial.
  • Kapal uap mempercepat pemindahan pasukan.
  • Terusan Suez memperpendek hubungan Eropa–Asia.
  • Permintaan pasar mengarahkan produksi kopi dan gula.
  • Ilmu geologi membantu mencari tambang.
  • Perusahaan swasta membutuhkan akses terhadap tanah.
  • Pengetahuan Wallace dari Nusantara membantu perkembangan biologi dunia.

Jaringan ini memperlihatkan bahwa sejarah dunia dan sejarah Nusantara tidak berjalan terpisah.

Rel di Jawa terhubung dengan pabrik gula. Pabrik terhubung dengan pasar Eropa. Pasar terhubung dengan bank dan kapal. Kapal membutuhkan batu bara. Batu bara meningkatkan kepentingan kolonial terhadap Kalimantan.

Di balik satu cangkir kopi, satu karung gula, atau satu kapal uap terdapat hubungan panjang antara tanah, tenaga, teknologi, modal, dan kekuasaan.

Rangkaian Peristiwa Penting 1860–1870

  • 1860: perbudakan secara resmi dihapus di wilayah Hindia Belanda yang berada dalam jangkauan hukum kolonial.
  • 1860: Max Havelaar diterbitkan oleh Multatuli.
  • 1860: pemerintah Belanda menghapus Kesultanan Banjar secara administratif.
  • 1861: Perang Saudara Amerika dimulai.
  • 1861: Kerajaan Italia diproklamasikan.
  • 1861: gempa dan tsunami besar menghantam Sumatra serta Kepulauan Nias.
  • 1862: Pangeran Hidayatullah dibuang ke Cianjur.
  • 1862: Pangeran Antasari meninggal, tetapi perlawanan Banjar berlanjut.
  • 1863: Proklamasi Emansipasi berlaku di wilayah pemberontakan Amerika Serikat.
  • 1863: Metropolitan Railway dibuka di London.
  • 1863: pandemi kolera keempat mulai berkembang.
  • 1864: Pemberontakan Taiping berakhir dengan jatuhnya Nanjing.
  • 1864: pembangunan jalur kereta api pertama di Jawa dimulai.
  • 1864: Perang Paraguay dimulai.
  • 1865: Perang Saudara Amerika berakhir.
  • 1865: Amandemen ke-13 menghapus perbudakan di Amerika Serikat.
  • 1865: Gregor Mendel mempresentasikan hasil percobaan pewarisan sifat.
  • 1865: Joseph Lister mulai mengembangkan praktik pembedahan antiseptik.
  • 1866: kabel telegraf trans-Atlantik yang lebih andal berhasil dipasang.
  • 1866: Prusia mengalahkan Austria.
  • 1866: Venesia bergabung dengan Kerajaan Italia.
  • 1867: bagian pertama jalur kereta Semarang–Tanggung mulai beroperasi.
  • 1867: Alfred Nobel mematenkan dinamit.
  • 1868: Restorasi Meiji berlangsung di Jepang.
  • 1868: pengamatan spektrum Matahari menghasilkan penemuan tanda helium.
  • 1868: gempa dan tsunami Arica melintasi Samudra Pasifik.
  • 1868: Amandemen ke-14 Amerika Serikat memberikan dasar kewarganegaraan dan perlindungan hukum.
  • 1869: Terusan Suez dibuka.
  • 1869: rel lintas benua pertama Amerika Serikat diselesaikan.
  • 1869: Mendeleev menyusun tabel periodik.
  • 1870: Undang-Undang Agraria dan Undang-Undang Gula Belanda membuka tahap baru ekonomi kolonial.

Fakta, Temuan Penelitian, dan Ketidakpastian

FAKTA YANG TERDOKUMENTASI

  • Max Havelaar diterbitkan pada 1860.
  • gempa dan tsunami Sumatra terjadi pada 1861;
  • Perang Saudara Amerika berlangsung pada 1861–1865;
  • Proklamasi Emansipasi berlaku pada 1863;
  • Pemberontakan Taiping berakhir pada 1864;
  • pembangunan rel pertama di Jawa dimulai pada 1864;
  • kabel telegraf trans-Atlantik berhasil beroperasi lebih andal pada 1866;
  • jalur Semarang–Tanggung dibuka pada 1867;
  • Restorasi Meiji berlangsung pada 1868;
  • Terusan Suez dibuka pada 1869;
  • rel lintas benua Amerika Serikat diselesaikan pada 1869;
  • dan tabel periodik Mendeleev diperkenalkan pada 1869.

TEMUAN PENELITIAN

  • mikroorganisme berhubungan dengan fermentasi, pembusukan, dan penyakit;
  • antiseptik dapat menurunkan infeksi pembedahan;
  • sifat biologis diwariskan melalui pola yang dapat ditelusuri;
  • listrik, magnetisme, dan cahaya merupakan bagian dari gejala elektromagnetik;
  • serta gempa besar Sumatra 1861 didahului pergeseran lambat yang terekam dalam pertumbuhan karang.

REKONSTRUKSI ATAU ESTIMASI

  • jumlah penduduk dunia;
  • jumlah korban perang;
  • magnitudo gempa sejarah;
  • tinggi tsunami;
  • jumlah korban gempa Sumatra;
  • suhu global;
  • serta dampak ekonomi kolonial terhadap setiap rumah tangga.

HAL YANG MASIH DIPERDEBATKAN

  • angka pasti korban Pemberontakan Taiping;
  • jumlah kematian Perang Saudara Amerika;
  • rincian korban Perang Banjar;
  • luas wilayah tsunami Sumatra 1861;
  • pembagian manfaat dan kerugian Tanam Paksa;
  • serta batas tepat antara perubahan iklim alami dan awal pengaruh industri.

Kesimpulan Catatan #007

Dasawarsa 1860–1870 memperlihatkan dunia yang semakin terhubung oleh baja, batu bara, rel, kapal, dan kabel.

Informasi melintasi Atlantik melalui telegraf. Kapal dapat melewati Terusan Suez. Rel menembus benua dan pedalaman Jawa. Dinamit mempercepat penggalian gunung. Ilmu pengetahuan menemukan pola dalam unsur, pewarisan sifat, mikroorganisme, dan cahaya.

Namun, teknologi yang sama juga memperbesar kekuasaan negara serta perusahaan.

Rel membawa penumpang dan makanan, tetapi juga pasukan serta kolonisasi. Kapal uap membawa surat, tetapi juga senjata. Telegraf menyebarkan berita, tetapi juga mempercepat perintah militer. Dinamit membuka terowongan, tetapi dapat pula menghancurkan manusia.

Perang Saudara Amerika menghapus perbudakan secara hukum, tetapi tidak menghapus rasisme dan ketimpangan. Pemberontakan Taiping berakhir, tetapi meninggalkan kehancuran. Restorasi Meiji membuka perubahan besar Jepang, tetapi prosesnya baru dimulai.

Di Nusantara, Max Havelaar membuka perdebatan tentang penderitaan kolonial. Namun, kritik tidak langsung mengakhiri sistem yang menghasilkan keuntungan.

Gempa dan tsunami Sumatra 1861 kembali memperlihatkan bahwa Bumi menyimpan sejarahnya di dalam karang. Perang Banjar menunjukkan bahwa keputusan kolonial menghapus kesultanan tidak menghapus perlawanan masyarakat.

Rel pertama di Jawa menjadi simbol perubahan: perjalanan semakin cepat, tetapi tujuan awal jalurnya berkaitan erat dengan pemindahan komoditas dari tanah kolonial menuju pasar.

Pada batas akhir dasawarsa, Undang-Undang Agraria 1870 membuka tahap baru. Paksaan pemerintah mulai digantikan secara bertahap oleh perluasan perusahaan swasta. Bentuk kekuasaan berubah, tetapi perebutan tanah dan tenaga belum berakhir.

Analisis Penulis — Armando Sinaga

Setelah membandingkan berbagai bukti, terlihat bahwa 1860-an merupakan masa ketika teknologi, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan geopolitik menyatu semakin erat.

Rel bukan hanya alat transportasi. Ia adalah jalur yang menghubungkan tanah, tambang, perkebunan, pelabuhan, pasar, dan militer.

Telegraf bukan hanya alat komunikasi. Ia mengubah kecepatan pemerintahan, perang, perdagangan, serta pengambilan keputusan.

Terusan Suez bukan hanya saluran air. Ia mengubah nilai strategis wilayah, memperpendek jalan kekaisaran, dan mempercepat pengambilan hasil dari Asia.

Pola lain terlihat dalam perubahan dari Tanam Paksa menuju sistem perusahaan swasta. Berakhirnya satu sistem yang memaksa tidak selalu berarti berakhirnya eksploitasi. Kekuasaan dapat berganti bentuk—dari perintah pemerintah menjadi kontrak, sewa, konsesi, dan hukum tanah yang tidak dipahami masyarakat.

Gempa Sumatra memberi pelajaran lain. Perubahan besar tidak selalu dimulai dengan suara keras. Penelitian karang menunjukkan bahwa lempeng dapat bergeser perlahan selama puluhan tahun sebelum pecah dalam gempa besar.

Hal serupa dapat menjadi perumpamaan bagi masyarakat: tekanan ekonomi, politik, dan sosial dapat berlangsung lama sebelum terlihat sebagai perang atau perlawanan.

Namun, perumpamaan tersebut adalah analisis penulis, bukan kesimpulan geologi bahwa gempa dan revolusi disebabkan mekanisme yang sama.

Sejarah sering mencatat ledakan, perang, dan bencana sebagai permulaan. Padahal, banyak perubahan telah bergerak diam-diam jauh sebelum dunia menyadarinya.

Catatan Penelusuran

Catatan ini bukan daftar lengkap seluruh peristiwa yang terjadi pada 1860–1870.

Masih banyak kehidupan, bencana, konflik, penemuan, perubahan lingkungan, dan peristiwa di daerah tertentu yang tidak pernah dicatat, belum terdigitalisasi, tersimpan dalam bahasa yang belum ditelusuri, atau belum dapat diverifikasi melalui bukti yang tersedia.

Istilah “dunia” tidak berarti seluruh negeri, kerajaan, masyarakat, pulau, dan kelompok manusia telah terwakili secara seimbang.

Wilayah yang memiliki pemerintahan tertulis, surat kabar, lembaga ilmiah, perusahaan, dan arsip kolonial meninggalkan lebih banyak dokumen dibandingkan masyarakat yang mengandalkan tradisi lisan.

Sumber kolonial dapat menyimpan fakta penting, tetapi dibuat dalam kepentingan pemerintahan, perpajakan, perdagangan, pemetaan, atau militer. Karena itu, sumber tersebut harus dibandingkan dengan penelitian ilmiah, naskah lokal, tradisi masyarakat, dan bukti alam.

Angka penduduk, jumlah korban, magnitudo gempa, tinggi tsunami, suhu, serta hasil ekonomi disebut sebagai estimasi atau rekonstruksi apabila tidak berasal dari pengukuran langsung.

Peristiwa pada tahun 1870 ditempatkan sebagai batas perubahan. Akibat penuh Undang-Undang Agraria, Undang-Undang Gula, dan perubahan politik dunia tidak dipindahkan seluruhnya ke dalam dasawarsa 1860-an.

Bumi dari Masa ke Masa merangkum gambaran berdasarkan dokumen, arsip, penelitian ilmiah, data, kesaksian, dan bukti alam yang masih dapat ditemukan.

Masih banyak yang belum tercatat—termasuk kehidupan dan peristiwa di wilayah yang tidak meninggalkan arsip. Catatan ini adalah gambaran umum dari bukti yang masih dapat kami telusuri. Apa yang berhasil ditemukan kami rangkum dan catat kembali, agar jejaknya tidak ikut hilang oleh waktu.

Sumber dan Referensi

  1. Our World in Data. Population and Demography. Rekonstruksi penduduk dunia dan sumber data historis.
    https://ourworldindata.org/population
    https://ourworldindata.org/population-sources

  2. Our World in Data. Energy Production and Consumption.
    https://ourworldindata.org/energy-production-consumption

  3. Intergovernmental Panel on Climate Change. Climate Change 2021: The Physical Science Basis. Cambridge University Press, 2021.
    https://www.ipcc.ch/report/ar6/wg1/

  4. Met Office Hadley Centre. HadCRUT5 Global Temperature Dataset.
    https://www.metoffice.gov.uk/hadobs/hadcrut5/

  5. NOAA National Centers for Environmental Information. Paleoclimatology.
    https://www.ncei.noaa.gov/products/paleoclimatology

  6. World Health Organization. Cholera.
    https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cholera

  7. World Health Organization. The Rise of International Cooperation in Health.
    https://iris.who.int/bitstreams/5de40c8e-4a0d-4085-a838-0fa84103af0a/download

  8. Science History Institute. Louis Pasteur.
    https://www.sciencehistory.org/education/scientific-biographies/louis-pasteur/

  9. Royal College of Surgeons of Edinburgh. Joseph Lister and Antiseptic Surgery.
    https://museum.rcsed.ac.uk/surgeon-hall-museums/joseph-lister

  10. UK Parliament. Public Health and Sanitary Reform in Nineteenth-Century Britain.
    https://www.parliament.uk/about/living-heritage/transformingsociety/towncountry/towns/

  11. U.S. National Archives. The Emancipation Proclamation.
    https://www.archives.gov/exhibits/featured-documents/emancipation-proclamation

  12. U.S. National Archives. Black Soldiers in the United States Military During the Civil War.
    https://www.archives.gov/education/lessons/blacks-civil-war

  13. U.S. National Archives. The 13th Amendment: Abolition of Slavery.
    https://www.archives.gov/milestone-documents/13th-amendment

  14. U.S. National Archives. The 14th Amendment: Citizenship Rights and Equal Protection.
    https://www.archives.gov/milestone-documents/14th-amendment

  15. Library of Congress. Civil War Maps, Photographs, and Primary Sources.
    https://www.loc.gov/collections/civil-war-maps/
    https://www.loc.gov/pictures/collection/civwar/

  16. Encyclopaedia Britannica. American Civil War.
    https://www.britannica.com/event/American-Civil-War

  17. Encyclopaedia Britannica. Taiping Rebellion.
    https://www.britannica.com/event/Taiping-Rebellion

  18. Encyclopaedia Britannica. Meiji Restoration.
    https://www.britannica.com/event/Meiji-Restoration

  19. Encyclopaedia Britannica. Unification of Italy.
    https://www.britannica.com/place/Italy/Unification

  20. Encyclopaedia Britannica. Seven Weeks’ War: Prussia and Austria, 1866.
    https://www.britannica.com/event/Seven-Weeks-War

  21. Encyclopaedia Britannica. War of the Triple Alliance.
    https://www.britannica.com/event/War-of-the-Triple-Alliance

  22. Suez Canal Authority. History of the Suez Canal.
    https://www.suezcanal.gov.eg/English/About/SuezCanal/Pages/CanalHistory.aspx

  23. Institution of Engineering and Technology. History of Submarine Telegraphy.
    https://ethw.org/Telegraph

  24. Science Museum Group. Transatlantic Telegraph Cable Collections.
    https://collection.sciencemuseumgroup.org.uk/

  25. National Park Service, United States. The First Transcontinental Railroad.
    https://www.nps.gov/gosp/learn/historyculture/index.htm

  26. Transport for London. History of the London Underground.
    https://www.ltmuseum.co.uk/collections/stories/transport/metropolitan-line

  27. Nobel Prize. Alfred Nobel and the Invention of Dynamite.
    https://www.nobelprize.org/alfred-nobel/alfred-nobels-life-and-work/

  28. Science Museum Group. The Bessemer Process and Steel Production.
    https://www.sciencemuseum.org.uk/objects-and-stories/henry-bessemer

  29. MacTutor History of Mathematics, University of St Andrews. James Clerk Maxwell.
    https://mathshistory.st-andrews.ac.uk/Biographies/Maxwell/

  30. University of Cambridge. James Clerk Maxwell and Electromagnetism.
    https://www.cam.ac.uk/stories/james-clerk-maxwell

  31. Mendel Museum, Masaryk University. Gregor Mendel and the Experiments on Plant Hybrids.
    https://mendelmuseum.muni.cz/en/

  32. Royal Society of Chemistry. Dmitri Mendeleev and the Periodic Table.
    https://www.rsc.org/periodic-table/history/about

  33. NASA Science. Helium and Solar Spectroscopy.
    https://science.nasa.gov/sun/

  34. NOAA Space Weather Prediction Center. Solar Activity and Geomagnetic Storms.
    https://www.swpc.noaa.gov/phenomena/geomagnetic-storms

  35. U.S. Geological Survey. Historic Earthquakes.
    https://earthquake.usgs.gov/earthquakes/events/

  36. NOAA National Centers for Environmental Information. Global Historical Tsunami Database.
    https://www.ngdc.noaa.gov/hazel/view/hazards/tsunami/search

  37. Meltzner, Aron J., dkk. A 32-Year-Long Slow Slip Event Before the 1861 Sumatra Earthquake. Nature Geoscience, 2021.

  38. Nanyang Technological University Singapore. Study of Ancient Corals Reveals the Slowest Earthquake Ever Recorded.
    https://www.ntu.edu.sg/news/detail/study-of-ancient-corals-in-indonesia-reveals-slowest-earthquake-ever-recorded

  39. Newcomb, K. R., dan W. R. McCann. Seismic History and Seismotectonics of the Sunda Arc. Journal of Geophysical Research, 1987.

  40. Harris, Ron, dan Jonathan Major. Waves of Destruction in the East Indies: The Wichmann Catalogue of Earthquakes and Tsunamis in the Indonesian Region. Geological Society, London, Special Publications.
    https://geology.byu.edu/0000017e-60a1-d5b7-a7ff-78e7b3880001/2016-harris-and-major-eq-catalog-small-pdf

  41. Multatuli. Max Havelaar, or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company. Pertama diterbitkan pada 1860.
    https://www.dbnl.org/tekst/mult001maxh01_01/

  42. Fasseur, Cornelis. The Politics of Colonial Exploitation: Java, the Dutch, and the Cultivation System. Cornell Southeast Asia Program, 1992.

  43. Elson, R. E. Village Java under the Cultivation System, 1830–1870. Allen & Unwin, 1994.

  44. Van Niel, Robert. Java under the Cultivation System. KITLV Press, 1992.

  45. Ricklefs, M. C. A History of Modern Indonesia Since c. 1200. Stanford University Press.

  46. Saleh, M. Idwar. Agrarian Radicalism and Movements of Native Insurrection in South Kalimantan, 1858–1865. Archipel, 1975.
    https://www.persee.fr/doc/arch_0044-8613_1975_num_9_1_1225

  47. Ahyat, Ita Syamtasiyah. Politics and Economy of the Banjarmasin Sultanate in the Period of Expansion of Dutch Colonialism. Tawarikh, 2012.
    https://journals.mindamas.com/index.php/tawarikh/article/download/540/538

  48. Böhmer, Karl E. Violence Begets Violence: Anticolonial Mobilisation in Nineteenth-Century Borneo. Studia Historiae Ecclesiasticae, 2019.
    https://scielo.org.za/scielo.php?pid=S1017-04992019000100011&script=sci_arttext

  49. Cribb, Robert, dan Audrey Kahin. Historical Dictionary of Indonesia. Scarecrow Press, 2004.

  50. Georgetown Journal of International Affairs. Domein Verklaring: Colonial Legal Legacies and Community Access to Land in Indonesia.
    https://gjia.georgetown.edu/society-culture/domein-verklaring-colonial-legal-legacies-and-community-access-to-land-in-indonesia/

  51. Encyclopaedia Britannica. Indonesia: The Culture System and Liberal Period.
    https://www.britannica.com/place/Indonesia/The-Culture-System

  52. PT Kereta Api Indonesia. Sejarah Perkeretaapian Indonesia.
    https://www.kai.id/corporate/about_kai/

  53. Arsip Nasional Republik Indonesia. Khazanah Arsip Pemerintahan Hindia Belanda.
    https://anri.go.id/

  54. Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. Informasi Geologi dan Kebencanaan Indonesia.
    https://geologi.esdm.go.id/

  55. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Katalog Gempa Bumi dan Informasi Seismotektonik Indonesia. Digunakan sebagai konteks modern dan rekonstruksi, bukan sebagai pengamatan langsung tahun 1860-an.
    https://www.bmkg.go.id/gempabumi/

Tanggal akses sumber daring: 3 September 2026.

Catatan Koreksi dan Pemeriksaan Ulang

Informasi dalam Catatan ini dihimpun dari sumber dan bukti yang dapat kami telusuri. Pembaca dipersilakan memeriksa, membandingkan, dan melakukan cek ulang melalui dokumen atau sumber lain.

Keterbatasan arsip, perbedaan bahasa, perubahan penafsiran ilmiah, kesalahan sumber lama, serta kekeliruan dalam penelusuran atau penulisan tetap mungkin terjadi.

Apabila ditemukan bukti yang lebih kuat, data yang lebih tepat, atau koreksi yang dapat diverifikasi, Catatan ini dapat diperbaiki dan diperbarui tanpa mengubah tujuan utamanya: menyimpan jejak perjalanan Bumi dan kehidupan manusia agar tidak hilang oleh waktu.