PUSTAHA CATATAN
BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #006] [1850–1860]
Rel, kapal uap, dan telegraf mempercepat hubungan antarwilayah, sementara Perang Krimea, Pemberontakan Taiping, dan Pemberontakan India mengguncang kekuasaan besar dunia. Ilmu pengetahuan mulai mengubah pemahaman tentang penyakit dan asal-usul kehidupan. Di Nusantara, Tanam Paksa terus menghasilkan kekayaan bagi Belanda, ekspansi kolonial meluas, dan Perang Banjar pecah sebagai perlawanan terhadap campur tangan serta penguasaan asing.
Dipublikasikan 3 September 2026
![Sampul BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #006] [1850–1860]](https://eukbmnkglvmkyscopywa.supabase.co/storage/v1/object/public/note-covers/bumi-dari-masa-ke-masa-catatan-006-18501860/1788413444800-2de6bbbb-e538-4bf4-9f30-55a2e1e184af.webp)
Dunia 1850–1860: Ketika Jarak Mulai Dikalahkan
Pada awal 1850-an, sebagian besar manusia masih hidup tanpa listrik, telepon, kendaraan bermotor, antibiotik, atau saluran air bersih di rumah. Mayoritas penduduk dunia bekerja dalam pertanian, peternakan, kerajinan, perdagangan kecil, pertambangan, pelayaran, atau pekerjaan rumah tangga.
Namun, kemampuan manusia untuk mengubah dunia berkembang semakin cepat.
Rel kereta menghubungkan kota dan pelabuhan. Kapal uap bergerak lebih teratur melintasi sungai dan lautan. Jaringan telegraf menyampaikan pesan dalam hitungan menit. Proses Bessemer membuka kemungkinan produksi baja dalam jumlah besar. Fotografi menjadi lebih cepat dan lebih mudah diperbanyak. Pengeboran minyak komersial mulai menunjukkan sumber energi baru di bawah tanah.
Kemajuan pengetahuan juga mengubah cara manusia memandang kehidupan. John Snow menelusuri hubungan antara kolera dan air yang tercemar. Louis Pasteur memperlihatkan bahwa fermentasi berhubungan dengan mikroorganisme. Charles Darwin dan Alfred Russel Wallace mengembangkan penjelasan mengenai seleksi alam.
Namun, dasawarsa ini juga dipenuhi perang dan penderitaan.
Pemberontakan Taiping menghancurkan wilayah luas di Tiongkok. Perang Krimea mempertemukan kekuatan besar Eropa. Perlawanan 1857 mengguncang kekuasaan Perusahaan Hindia Timur Britania di India. Perang Candu Kedua kembali memaksa Tiongkok menghadapi kekuatan asing. Perbudakan membelah Amerika Serikat. Wabah kolera mengikuti jalur perdagangan dunia.
Di Nusantara, hasil Tanam Paksa terus mengalir ke kas Belanda. Gempa dan tsunami besar menghantam kawasan Laut Banda pada 1852. Telegraf pertama mulai dipasang di Jawa. Sekolah Dokter Djawa dibentuk di Batavia. Pada akhir dasawarsa, Perang Banjar dan perang melawan Kerajaan Bone memperlihatkan bahwa perluasan kolonial tidak berlangsung tanpa perlawanan.
Dunia 1850-an menemukan cara untuk mengirim pesan melampaui jarak, memproduksi logam lebih cepat, dan membaca perubahan kehidupan. Tetapi dunia belum menemukan cara membagikan kemajuan tanpa penaklukan, pemaksaan, dan ketimpangan.
1850–1860: Bumi Berada di Era Apa?
Dalam pembagian waktu geologi resmi, dasawarsa ini berada dalam kala Holosen, masa geologi yang dimulai sekitar 11.700 tahun lalu setelah berakhirnya zaman es terakhir.
Istilah Antroposen sering dipakai dalam pembahasan ilmiah untuk menggambarkan masa ketika aktivitas manusia menjadi kekuatan besar yang memengaruhi sistem Bumi. Namun, Antroposen belum ditetapkan sebagai kala geologi resmi dan waktu permulaannya masih diperdebatkan.
Dalam sejarah peradaban, 1850–1860 berada pada masa:
- perluasan Revolusi Industri;
- pertumbuhan kota dan pabrik;
- pembangunan jaringan kereta;
- penyebaran telegraf;
- perkembangan produksi baja;
- bertambahnya penggunaan batu bara;
- awal industri minyak modern;
- ekspansi kolonial Eropa;
- perdebatan besar mengenai perbudakan;
- serta perkembangan biologi, kedokteran, geologi, dan astronomi.
Industrialisasi belum berlangsung merata. Britania menjadi pusat industri terkemuka, sementara Belgia, Prancis, negara-negara Jerman, dan Amerika Serikat mengembangkan pabrik, tambang, rel, serta produksi logam.
Di banyak wilayah Asia, Afrika, Amerika Latin, dan kepulauan Pasifik, sebagian besar kehidupan tetap bergantung pada tanah, musim, tenaga manusia, hewan, sungai, dan kapal layar.
Karena itu, dunia 1850-an berada dalam beberapa tingkat perubahan sekaligus. Sebuah telegram dapat melintasi ratusan kilometer dalam hitungan menit, tetapi berita yang dikirim ke wilayah tanpa kabel tetap harus dibawa kapal selama berminggu-minggu.
Jumlah Penduduk Dunia
Tidak terdapat satu sensus global yang menghitung seluruh manusia pada 1850-an. Angka penduduk dunia merupakan rekonstruksi demografi berdasarkan sensus wilayah, catatan pajak, kelahiran, kematian, migrasi, serta penelitian modern.
Rekonstruksi yang tersedia menempatkan jumlah penduduk dunia sekitar 1,2 hingga 1,3 miliar jiwa pada pertengahan abad ke-19. Angka tersebut tidak boleh diperlakukan sebagai hasil penghitungan pasti.
Asia menampung sebagian besar penduduk dunia, terutama di Tiongkok dan anak benua India. Penduduk Eropa terus bertambah, tetapi kelaparan, penyakit, dan migrasi menyebabkan perubahan besar di wilayah tertentu.
Amerika Serikat mengalami pertumbuhan penduduk melalui kelahiran, perluasan wilayah, dan imigrasi dari Eropa serta Asia. Di Australia, kolonisasi Britania dan penemuan emas mempercepat masuknya pendatang.
Data tentang Afrika, masyarakat adat, wilayah pedalaman, serta penduduk yang hidup di luar administrasi negara jauh lebih terbatas. Banyak manusia tidak pernah masuk dalam sensus atau hanya dicatat sebagai tenaga kerja, pembayar pajak, budak, atau penduduk suatu wilayah.
Kehidupan Manusia dan Masyarakat
Bagi mayoritas manusia, kehidupan tetap bergantung pada pertanian.
Keluarga menanam biji-bijian, padi, jagung, kentang, umbi, sayuran, kapas, tebu, kopi, dan tanaman lain sesuai keadaan wilayah. Hewan digunakan untuk membajak, membawa barang, menyediakan susu, daging, kulit, dan tenaga.
Kehidupan sehari-hari sangat dipengaruhi oleh:
- musim;
- ketersediaan air;
- hasil panen;
- kepemilikan tanah;
- harga makanan;
- pajak;
- perang;
- penyakit;
- serta kedudukan sosial.
Di pedesaan, jarak menuju pasar dan kota dapat ditempuh berjam-jam atau berhari-hari. Di kota industri, manusia hidup lebih dekat dengan pabrik, tetapi menghadapi udara tercemar, hunian padat, dan sanitasi buruk.
Perbedaan antara kaya dan miskin terlihat dalam makanan, pakaian, rumah, pendidikan, kesehatan, dan kesempatan hidup.
Keluarga kaya dapat menggunakan kereta, mempekerjakan pelayan, mengirim anak ke sekolah, dan memperoleh perawatan dokter. Keluarga miskin sering bergantung pada seluruh tenaga anggota rumah tangga, termasuk perempuan dan anak-anak.
Perempuan, Anak-anak, dan Dunia Kerja
Perempuan bekerja dalam pertanian, pabrik tekstil, tambang, rumah tangga, pasar, pelayanan, pengolahan makanan, dan berbagai pekerjaan informal.
Namun, sebagian besar pekerjaan perempuan tidak dicatat sebagai kegiatan ekonomi resmi. Kerja mengasuh anak, memasak, mengambil air, merawat keluarga, memintal, dan membantu pertanian sering dianggap bagian dari kewajiban rumah tangga.
Anak-anak masih bekerja di pabrik, bengkel, tambang, pertanian, kapal, dan rumah tangga. Undang-undang mulai membatasi beberapa bentuk kerja anak di negara industri, tetapi pelaksanaannya tidak seragam.
Bahkan di tempat yang memiliki aturan, kemiskinan membuat penghasilan anak tetap penting bagi keluarga.
Gerakan hak perempuan mulai berkembang. Konvensi Seneca Falls di Amerika Serikat pada 1848 telah menyatakan tuntutan terhadap hak hukum dan politik perempuan. Pada 1850-an, gerakan tersebut berkembang, tetapi perempuan masih tidak memiliki hak politik yang setara di hampir seluruh dunia.
Kota Industri dan Lingkungan yang Memburuk
Kota-kota industri tumbuh dengan cepat, tetapi pembangunan perumahan dan sanitasi sering tertinggal.
Pabrik, rumah, gudang, rel, dan permukiman pekerja berdiri berdekatan. Asap batu bara menutupi udara. Sungai digunakan sebagai sumber air sekaligus tempat pembuangan limbah.
Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang sesuai bagi penyebaran:
- kolera;
- tifus;
- tuberkulosis;
- disentri;
- dan berbagai penyakit pernapasan.
Kota menghasilkan kekayaan dan pekerjaan, tetapi juga mengumpulkan kemiskinan dalam ruang yang sempit.
Pemerintah mulai memahami bahwa kesehatan kota tidak dapat ditangani hanya sebagai persoalan pribadi. Pembuangan limbah, penyediaan air, kepadatan hunian, dan kebersihan jalan semakin dipandang sebagai persoalan pemerintahan.
Kolera dan Penelusuran John Snow
Pada 1854, wabah kolera besar terjadi di London. Dokter John Snow memetakan tempat tinggal korban di kawasan Soho dan menemukan pengelompokan kasus di sekitar pompa air Broad Street.
Snow berpendapat bahwa kolera ditularkan melalui air yang tercemar, bukan semata-mata melalui udara buruk atau miasma.
Pelepasan pegangan pompa Broad Street menjadi simbol penting sejarah kesehatan masyarakat. Namun, wabah telah mulai menurun ketika tindakan itu dilakukan, sehingga peristiwa tersebut tidak boleh disederhanakan sebagai satu tindakan yang sendirian menghentikan seluruh wabah.
Arti penting penelitian Snow berada pada cara ia menggabungkan:
- lokasi korban;
- sumber air;
- perbandingan antarkelompok;
- pengamatan lapangan;
- dan penalaran epidemiologis.
Teori kuman belum sepenuhnya diterima. Penyebab bakteri kolera baru dikonfirmasi lebih jauh pada masa berikutnya. Meski demikian, penelitian Snow membantu menunjukkan bahwa pola penyakit dapat dibaca melalui data dan lingkungan.
Peta kematian menjadi alat penyelamat kehidupan. Untuk pertama kalinya, susunan titik-titik di atas jalan kota membantu memperlihatkan jalur tersembunyi sebuah wabah.
Perang Krimea dan Perawatan Florence Nightingale
Perang Krimea berlangsung pada 1853–1856. Kekaisaran Rusia berhadapan dengan Kesultanan Utsmaniyah yang didukung Britania, Prancis, dan kemudian Sardinia-Piedmont.
Pertempuran berlangsung terutama di kawasan Laut Hitam dan Semenanjung Krimea. Pengepungan Sevastopol menjadi salah satu pusat perang.
Banyak tentara meninggal bukan hanya akibat luka pertempuran, tetapi juga penyakit, cuaca, kekurangan makanan, sanitasi buruk, dan lemahnya pelayanan medis.
Florence Nightingale dan para perawat bekerja di rumah sakit militer Britania di Scutari. Ia membantu memperbaiki pengelolaan, kebersihan, pencatatan, ventilasi, dan perawatan.
Kontribusinya sering disederhanakan menjadi kisah seorang perempuan membawa lampu. Padahal, arti penting pekerjaannya juga terletak pada penggunaan statistik dan administrasi untuk menunjukkan hubungan antara kondisi rumah sakit dan kematian.
Perang Krimea juga menjadi salah satu perang awal yang diberitakan melalui telegraf dan diliput fotografer. Masyarakat dapat menerima laporan perang lebih cepat dan melihat gambaran medan perang melalui foto.
Louis Pasteur dan Dunia Mikroorganisme
Pada 1850-an, Louis Pasteur meneliti fermentasi. Ia menunjukkan bahwa proses tersebut berhubungan dengan aktivitas organisme mikroskopis, bukan hanya perubahan kimia spontan.
Penelitian ini membantu membentuk dasar mikrobiologi dan kemudian mendukung pemahaman bahwa mikroorganisme dapat berperan dalam penyakit dan pembusukan.
Namun, pada akhir 1850-an teori kuman belum sepenuhnya diterima atau diterapkan dalam kedokteran.
Dokter dapat menggunakan anestesi untuk melakukan operasi lebih lama, tetapi mereka belum memiliki antibiotik. Alat bedah dan tangan belum selalu disterilkan. Karena itu, pasien masih dapat meninggal akibat infeksi sesudah operasi.
Kemajuan kesehatan berjalan secara bertahap: pengamatan, percobaan, penolakan, perdebatan, kemudian penerapan.
Pangan, Kelaparan, dan Migrasi
Dampak Kelaparan Besar Irlandia masih terasa pada awal 1850-an. Kematian, migrasi, penggusuran, dan perubahan kepemilikan tanah telah mengurangi penduduk Irlandia secara besar.
Jutaan orang meninggalkan kampung halaman menuju Amerika Utara, Britania, Australia, dan wilayah lain.
Migrasi juga didorong oleh:
- kemiskinan;
- revolusi Eropa;
- kesempatan memperoleh tanah;
- pertambangan emas;
- pekerjaan industri;
- dan jaringan keluarga yang telah lebih dahulu berpindah.
Kapal migran sering padat dan tidak sehat. Penyakit dapat menyebar selama perjalanan. Mereka yang tiba di kota baru menghadapi diskriminasi, pekerjaan berat, serta hunian buruk.
Meskipun demikian, migrasi mengubah masyarakat. Bahasa, agama, keahlian, kebiasaan, dan tenaga kerja bergerak melintasi benua.
Ekonomi Dunia dan Perdagangan Global
Produksi industri dan perdagangan internasional terus meningkat pada 1850-an.
Komoditas utama yang menghubungkan berbagai kawasan antara lain:
- kapas;
- gula;
- kopi;
- teh;
- opium;
- gandum;
- beras;
- batu bara;
- besi;
- emas;
- dan rempah-rempah.
Namun, hubungan perdagangan tidak setara.
Kapas yang diolah di pabrik Britania banyak berasal dari perkebunan Amerika Serikat yang menggunakan tenaga orang-orang yang diperbudak. Teh dari Tiongkok diperdagangkan dalam sistem yang dipengaruhi perang dan perjanjian paksa. Kopi serta gula dari Jawa menghasilkan pendapatan besar bagi pemerintah Belanda.
Pasar dunia menyatukan produsen dan konsumen yang tidak pernah bertemu. Harga yang berubah di Eropa dapat mengubah tekanan produksi di perkebunan yang terletak ribuan kilometer jauhnya.
Kepanikan Finansial 1857
Pada 1857 terjadi krisis keuangan yang menyebar melalui jaringan perdagangan dan perbankan internasional.
Krisis dipengaruhi oleh spekulasi, perkembangan rel kereta, kegagalan lembaga keuangan, perubahan arus emas, serta ketidakstabilan perdagangan.
Bank dan perusahaan mengalami kesulitan. Harga jatuh, investasi berkurang, dan pekerja kehilangan pekerjaan.
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa konektivitas ekonomi membawa dua kemungkinan:
- pertumbuhan dapat menyebar dari satu negara ke negara lain;
- tetapi kepanikan dan kegagalan juga dapat menyebar melalui jalur yang sama.
Telegraf mempercepat informasi pasar. Kecepatan tersebut membantu perdagangan, tetapi juga dapat mempercepat penyebaran ketakutan.
Energi Dunia: Batu Bara dan Awal Industri Minyak
Batu bara menjadi sumber energi utama bagi pusat industri. Ia digunakan untuk:
- mesin pabrik;
- lokomotif;
- kapal uap;
- pembuatan besi dan baja;
- pemanasan;
- dan pemompaan tambang.
Biomassa tetap menjadi sumber energi terbesar bagi banyak masyarakat dunia. Kayu, arang, sisa tanaman, dan tenaga hewan masih mendominasi kehidupan sehari-hari di luar kawasan industri.
Pada 1859, Edwin Drake mengebor sumur minyak komersial di Pennsylvania, Amerika Serikat. Sumur tersebut bukan penggunaan minyak pertama dalam sejarah, tetapi menjadi tonggak penting perkembangan industri minyak modern.
Minyak terutama dicari untuk menghasilkan minyak tanah sebagai bahan penerangan. Kendaraan bermotor belum menjadi pengguna utama minyak.
Dasar peralihan energi kembali terbentuk. Setelah batu bara memperkuat mesin uap, minyak mulai muncul sebagai sumber energi komersial baru.
Pameran Besar 1851: Dunia Industri Memamerkan Dirinya
Great Exhibition diselenggarakan di Crystal Palace, London, pada 1851.
Pameran tersebut menampilkan mesin, tekstil, barang manufaktur, bahan mentah, karya seni, dan produk dari Britania serta berbagai wilayah dunia.
Crystal Palace sendiri dibangun dengan penggunaan besi dan kaca dalam skala besar. Bangunan itu menjadi simbol kemampuan industri menghasilkan komponen yang dapat dibuat, diangkut, dan dirakit secara terencana.
Namun, pameran juga menjadi panggung kekaisaran. Banyak bahan dan produk yang dipamerkan berasal dari wilayah kolonial.
Dengan demikian, pameran tidak hanya memperlihatkan kemampuan mesin. Ia juga memperlihatkan jangkauan kekuasaan, perdagangan, dan pengambilan sumber daya.
Dunia Teknologi: Rel Kereta Semakin Meluas
Jaringan rel berkembang pesat pada 1850-an. Rel menghubungkan tambang, pabrik, kota, kawasan pertanian, dan pelabuhan.
Kereta api mempercepat:
- perjalanan penumpang;
- pengiriman surat;
- distribusi makanan;
- pemindahan batu bara;
- pergerakan militer;
- dan penyebaran berita.
Rel juga membantu membentuk waktu yang lebih seragam. Ketika perjalanan masih lambat, setiap kota dapat menggunakan waktu Matahari setempat. Jadwal kereta menuntut penyelarasan jam agar keberangkatan dan kedatangan dapat diatur.
Namun, pembangunan rel membutuhkan tanah, modal, baja, kayu, dan tenaga kerja. Masyarakat dapat dipindahkan, bentang alam dipotong, dan hutan digunakan untuk bantalan rel atau bahan bakar.
Kereta mengurangi jarak, tetapi tidak menghapus ketimpangan antara pusat yang terhubung dan wilayah yang ditinggalkan.
Telegraf dan Kabel Bawah Laut
Jaringan telegraf darat berkembang di Eropa dan Amerika Utara. Pemerintah, perusahaan, surat kabar, dan militer mulai menggunakan komunikasi listrik.
Pada 1851, kabel telegraf bawah laut yang lebih andal menghubungkan Britania dan Prancis melalui Selat Inggris.
Pada 1858, kabel telegraf trans-Atlantik berhasil menghubungkan Eropa dan Amerika Utara. Pesan dapat menyeberangi samudra jauh lebih cepat daripada kapal.
Namun, kabel tersebut hanya berfungsi selama beberapa minggu sebelum gagal.
Kegagalan itu tidak menghapus arti pencapaiannya. Percobaan 1858 membuktikan bahwa komunikasi listrik antarbenua memungkinkan, meskipun teknologi kabel, isolasi, penguatan sinyal, dan pemasangannya masih harus diperbaiki.
Untuk pertama kalinya, manusia hampir memisahkan kecepatan informasi dari luasnya samudra. Laut tetap lebar, tetapi pesan tidak lagi harus menunggu layar dan angin.
Fotografi Menjadi Lebih Cepat
Proses kolodion pelat basah diperkenalkan pada 1851. Proses tersebut menghasilkan gambar yang lebih tajam dan waktu pencahayaan lebih singkat daripada sejumlah metode sebelumnya.
Fotografi digunakan untuk:
- potret;
- dokumentasi bangunan;
- pemandangan;
- ilmu pengetahuan;
- survei;
- dan perang.
Perang Krimea menjadi salah satu konflik awal yang didokumentasikan melalui fotografi. Namun, keterbatasan peralatan dan waktu pencahayaan membuat foto lebih banyak merekam kamp, benteng, dan keadaan sesudah pertempuran daripada pertempuran yang sedang berlangsung.
Fotografi memberikan kesan bahwa suatu peristiwa dapat dilihat apa adanya. Padahal, fotografer tetap memilih sudut, objek, waktu, dan komposisi.
Foto adalah bukti penting, tetapi bukan jendela yang sepenuhnya bebas dari pilihan manusia.
Mesin Jahit dan Produksi Pakaian
Mesin jahit berkembang secara komersial pada 1850-an. Isaac Singer dan perusahaan lain membantu menyebarkan penggunaannya melalui perbaikan desain, produksi, pemasaran, dan penjualan cicilan.
Mesin jahit mempercepat pembuatan pakaian serta mengubah kerja penjahit dan produksi tekstil.
Teknologi tersebut dapat mengurangi waktu menjahit, tetapi juga mendorong produksi dalam bengkel yang mempekerjakan pekerja dengan upah rendah.
Seperti mesin industri lainnya, mesin jahit tidak otomatis membebaskan pekerja. Dampaknya bergantung pada siapa yang memiliki mesin, bagaimana produksi diatur, serta bagaimana hasilnya dibagikan.
Baja dan Proses Bessemer
Henry Bessemer mengumumkan proses baru untuk memproduksi baja pada 1856.
Proses Bessemer meniupkan udara melalui besi cair untuk mengurangi unsur pengotor. Setelah dikembangkan dan diperbaiki, metode ini memungkinkan baja diproduksi lebih cepat dan lebih murah.
Pada akhir dasawarsa, teknologi tersebut belum langsung mengubah seluruh industri dunia. Masalah pengendalian kandungan unsur dalam bijih masih harus diatasi.
Namun, proses itu membuka jalan menuju penggunaan baja dalam:
- rel;
- jembatan;
- kapal;
- mesin;
- bangunan;
- dan persenjataan.
Baja kemudian menjadi salah satu bahan utama industrialisasi tahap berikutnya.
Keselamatan Lift dan Bangunan Bertingkat
Pada 1850-an, Elisha Otis memperkenalkan mekanisme keselamatan untuk lift. Sistem tersebut dirancang untuk menahan kabin jika tali pengangkat putus.
Demonstrasi keselamatan pada 1854 membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lift.
Lift penumpang belum langsung menciptakan gedung pencakar langit. Bangunan tinggi juga membutuhkan struktur besi dan baja, fondasi, pompa, serta sistem lain.
Namun, lift mengubah batas praktis ketinggian bangunan. Lantai atas yang sebelumnya sulit dicapai kelak dapat menjadi ruang yang bernilai.
Ilmu Pengetahuan: Darwin, Wallace, dan Seleksi Alam
Alfred Russel Wallace melakukan penelitian lapangan di Kepulauan Melayu pada 1850-an. Ia mengamati penyebaran hewan dan perbedaan fauna antarpulau.
Pada 1858, tulisan Wallace mengenai seleksi alam dikirim kepada Charles Darwin. Makalah Wallace dan tulisan Darwin kemudian dipresentasikan bersama di Linnean Society of London.
Pada 1859, Darwin menerbitkan On the Origin of Species.
Darwin menjelaskan bahwa variasi terdapat dalam populasi, dan individu dengan sifat yang membantu bertahan serta berkembang biak lebih mungkin mewariskan sifat tersebut.
Seleksi alam tidak berarti makhluk hidup berubah karena sengaja menginginkan suatu sifat. Prosesnya berlangsung melalui variasi, pewarisan, perbedaan keberhasilan reproduksi, dan waktu yang panjang.
Wallace mengembangkan gagasan serupa secara mandiri. Karena itu, sejarah seleksi alam tidak boleh hanya mencatat Darwin dan menghilangkan peran Wallace.
Wallace di Kepulauan Melayu
Alfred Russel Wallace tiba di kawasan Kepulauan Melayu pada 1854 dan melakukan perjalanan hingga 1862.
Ia meneliti serangga, burung, mamalia, geografi, serta masyarakat di berbagai pulau. Pengamatannya membantu membentuk bidang biogeografi.
Wallace melihat perbedaan mencolok antara fauna Bali dan Lombok meskipun kedua pulau relatif berdekatan. Batas biogeografis yang kemudian dikenal sebagai Garis Wallace memisahkan kelompok fauna yang memiliki hubungan lebih kuat dengan Asia dari kelompok yang dipengaruhi sejarah geologi kawasan Australia.
Garis tersebut bukan tembok yang sepenuhnya memisahkan seluruh spesies. Ia merupakan zona perubahan biogeografi yang berkaitan dengan laut dalam, sejarah geologi, dan pergerakan organisme.
Perjalanan Wallace juga berlangsung dalam konteks kolonial. Ia menggunakan jaringan kapal, pelabuhan, pemandu, pemburu, kolektor, dan masyarakat lokal. Banyak pengetahuan serta pekerjaan orang-orang lokal tidak memperoleh pengakuan yang setara dalam sejarah ilmu pengetahuan.
Geologi dan Pemahaman Sejarah Bumi
Ilmu geologi terus berkembang melalui pemetaan batuan, penambangan, pembangunan rel, penggalian terowongan, serta pengumpulan fosil.
Pembangunan rel memperlihatkan lapisan batuan yang sebelumnya tertutup. Tambang membawa manusia masuk lebih dalam ke bawah permukaan. Fosil ditemukan dalam susunan lapisan yang membantu geolog menyusun urutan sejarah kehidupan.
Perdebatan tentang zaman es, pembentukan gunung, aktivitas gunung api, dan perubahan permukaan Bumi terus berlangsung.
Para ilmuwan memahami bahwa Bumi memiliki sejarah sangat panjang, tetapi belum dapat menghitung umurnya secara akurat. Penanggalan radiometrik belum tersedia karena radioaktivitas baru ditemukan pada akhir abad ke-19.
Geologi juga terhubung dengan industri. Pengetahuan tentang batuan membantu mencari:
- batu bara;
- bijih besi;
- emas;
- minyak;
- bahan bangunan;
- dan sumber air.
Gempa dan Bencana Dunia
Gempa besar terjadi di berbagai wilayah selama 1850-an. Di antaranya adalah gempa Wairarapa, Selandia Baru, pada 1855 dan gempa Fort Tejon di California pada 1857.
Gempa Wairarapa menyebabkan perubahan permukaan tanah yang dapat diamati. Gempa Fort Tejon memperlihatkan pergerakan besar pada sistem Sesar San Andreas.
Tidak ada seismograf modern yang merekam magnitudo gempa tersebut. Nilai magnitudo yang digunakan sekarang adalah rekonstruksi ilmiah berdasarkan panjang patahan, perpindahan tanah, intensitas guncangan, dan bukti geologi.
Banjir, badai, kekeringan, kebakaran, dan longsor juga terjadi. Namun, dokumentasi lebih lengkap biasanya tersedia untuk kota, pelabuhan, jalur perdagangan, dan wilayah kekuasaan.
Bencana di desa terpencil dapat meninggalkan sedikit atau bahkan tidak ada catatan tertulis.
Cuaca dan Iklim Dunia
Sekitar 1850 sering digunakan sebagai batas awal periode praindustri dalam penelitian iklim modern. Namun, penggunaan batas itu tidak berarti terdapat pengamatan global sempurna sejak tahun tersebut.
Catatan suhu berasal dari stasiun darat dan kapal yang penyebarannya tidak merata. Eropa dan Amerika Utara memiliki lebih banyak pengamatan dibandingkan banyak wilayah Afrika, Asia, samudra, dan Belahan Bumi Selatan.
Karena itu, suhu global abad ke-19 direkonstruksi menggunakan metode statistik dan gabungan berbagai bukti.
Dunia masih berada dekat bagian akhir rentang yang sering disebut Zaman Es Kecil, tetapi istilah itu tidak menggambarkan suhu yang sama di semua wilayah.
Cuaca tahunan dipengaruhi oleh variasi atmosfer dan laut, gunung api, aktivitas Matahari, serta keadaan regional.
Pada 1850-an, pembakaran batu bara dan perubahan penggunaan lahan terus menambah pengaruh manusia terhadap lingkungan. Namun, pemanasan akibat emisi gas rumah kaca belum tampak dengan pola dan skala seperti pada abad ke-20 dan ke-21.
Tata Surya dan Peristiwa Carrington 1859
Pada 1–2 September 1859, terjadi badai geomagnetik sangat kuat yang dikenal sebagai Peristiwa Carrington.
Astronom Richard Carrington mengamati semburan cahaya terang pada permukaan Matahari. Tidak lama kemudian, aurora terlihat hingga ke lintang yang tidak biasa.
Jaringan telegraf mengalami gangguan. Beberapa operator dilaporkan dapat menjalankan peralatan untuk sementara menggunakan arus listrik yang diinduksi oleh badai geomagnetik, sedangkan di tempat lain muncul percikan dan kerusakan.
Peristiwa tersebut menunjukkan hubungan langsung antara aktivitas Matahari dan teknologi di Bumi.
Namun, Peristiwa Carrington tidak boleh dihubungkan dengan gempa, perang, wabah, atau perilaku manusia tanpa bukti ilmiah.
Pada 1859, teknologi manusia telah berkembang cukup jauh sehingga badai dari Matahari untuk pertama kalinya meninggalkan jejak jelas di dalam jaringan komunikasi dunia.
Pemberontakan Taiping di Tiongkok
Pemberontakan Taiping dimulai sekitar 1850 dan berkembang menjadi perang saudara besar antara Dinasti Qing dan gerakan Taiping yang dipimpin Hong Xiuquan.
Pasukan Taiping merebut Nanjing pada 1853 dan menjadikannya ibu kota. Mereka menguasai wilayah luas di Tiongkok selatan dan tengah.
Gerakan tersebut menggabungkan gagasan keagamaan, perubahan sosial, penolakan terhadap Qing, serta ketidakpuasan ekonomi.
Perang menyebabkan:
- kehancuran kota dan desa;
- perpindahan penduduk;
- gangguan pertanian;
- kelaparan;
- wabah;
- dan kematian dalam jumlah sangat besar.
Perkiraan jumlah korban untuk keseluruhan perang berbeda-beda dan dapat mencapai puluhan juta. Namun, perang baru berakhir pada 1864, sehingga korban keseluruhan tidak boleh ditempatkan seluruhnya sebagai korban periode 1850–1860.
Pada akhir Catatan ini, Pemberontakan Taiping masih berlangsung.
Pemberontakan India 1857
Pada 1857, pemberontakan besar terjadi terhadap pemerintahan Perusahaan Hindia Timur Britania di India.
Pemicu langsungnya sering dikaitkan dengan peluru senapan yang harus digigit sebelum digunakan dan dikabarkan dilumasi lemak sapi serta babi. Hal tersebut menyinggung keyakinan tentara Hindu dan Muslim.
Namun, pemberontakan memiliki penyebab yang lebih luas:
- aneksasi wilayah;
- perubahan politik;
- ketidakpuasan tentara;
- persoalan gaji dan kedudukan;
- tekanan ekonomi;
- campur tangan terhadap penguasa lokal;
- serta kekhawatiran terhadap agama dan masyarakat.
Pemberontakan melibatkan tentara, bangsawan, petani, pemimpin lokal, dan penduduk kota dengan kepentingan yang tidak selalu sama.
Kekerasan dilakukan oleh berbagai pihak. Setelah pemberontakan ditumpas, Britania mengakhiri pemerintahan Perusahaan Hindia Timur melalui Government of India Act 1858. India kemudian diperintah langsung atas nama Kerajaan Britania.
Perang Candu Kedua
Perang Candu Kedua dimulai pada 1856. Britania dan Prancis berperang melawan Kekaisaran Qing untuk memperoleh konsesi perdagangan, diplomatik, dan akses yang lebih luas.
Konflik ini melanjutkan tekanan yang telah dimulai melalui Perang Candu Pertama.
Pada 1858, Perjanjian Tianjin ditandatangani, tetapi konflik belum benar-benar selesai. Pertempuran berlanjut dan penyelesaian berikutnya baru terjadi pada 1860.
Karena Catatan ini berakhir pada batas 1860, hasil akhir perang harus ditempatkan dengan hati-hati sebagai peristiwa yang melampaui akhir dasawarsa.
Perang tersebut kembali memperlihatkan bagaimana kekuatan industri menggunakan kapal, senjata, diplomasi, dan perdagangan untuk membatasi kedaulatan negara lain.
Jepang dan Kedatangan Armada Perry
Komodor Matthew Perry tiba di Jepang pada 1853 dengan kapal-kapal Amerika Serikat. Ia membawa tuntutan agar Jepang membuka hubungan dan menyediakan akses bagi kapal Amerika.
Konvensi Kanagawa ditandatangani pada 1854. Perjanjian tersebut membuka pelabuhan tertentu dan mengakhiri sebagian kebijakan pembatasan hubungan luar negeri Jepang.
Tekanan asing menimbulkan perdebatan dan ketegangan di dalam pemerintahan Tokugawa.
Pembukaan Jepang bukan satu peristiwa sederhana ketika negara yang sepenuhnya tertutup tiba-tiba mengenal dunia. Jepang sebelumnya masih memiliki hubungan terbatas dengan Belanda, Tiongkok, Korea, Ryukyu, dan Ainu.
Yang berubah adalah besarnya tekanan militer dan perluasan perjanjian dengan kekuatan Barat.
Perbudakan dan Perpecahan Amerika Serikat
Perbudakan tetap menjadi dasar ekonomi perkebunan di Amerika Serikat bagian selatan. Kapas menjadi komoditas penting bagi industri tekstil dunia.
Compromise of 1850 dan Fugitive Slave Act berusaha mengatur keseimbangan politik antara negara bagian bebas dan negara bagian budak.
Kansas–Nebraska Act 1854 membuka kemungkinan penentuan status perbudakan melalui keputusan penduduk wilayah. Kekerasan kemudian terjadi dalam peristiwa yang dikenal sebagai Bleeding Kansas.
Pada 1857, keputusan Mahkamah Agung dalam perkara Dred Scott menyatakan bahwa orang keturunan Afrika yang diperbudak maupun bebas tidak dianggap warga negara Amerika Serikat menurut putusan tersebut dan membatasi kemampuan Kongres melarang perbudakan di wilayah federal.
Pada 1859, John Brown menyerang gudang senjata federal di Harpers Ferry dengan tujuan memicu perlawanan terhadap perbudakan. Serangan gagal dan Brown dihukum mati.
Pada akhir dasawarsa, perpecahan mengenai perbudakan semakin tajam. Perang Saudara Amerika belum dimulai, tetapi dasarnya sudah semakin terlihat.
Gerakan Nasionalisme dan Italia
Nasionalisme terus mengubah Eropa. Pada 1859, Kerajaan Sardinia-Piedmont dan Prancis berperang melawan Kekaisaran Austria.
Pertempuran seperti Magenta dan Solferino membantu membuka jalan menuju penyatuan Italia.
Namun, penyatuan Italia belum selesai pada akhir 1859. Berbagai kerajaan, negara kepausan, dan wilayah yang dikuasai kekuatan asing masih memiliki kedudukan berbeda.
Pengalaman menyaksikan korban Pertempuran Solferino mendorong Henry Dunant menulis tentang perlunya bantuan kemanusiaan bagi tentara yang terluka. Gagasan tersebut kemudian membantu lahirnya Komite Palang Merah Internasional pada dasawarsa berikutnya.
Dunia pada Akhir 1859
Menjelang 1860, dunia telah memiliki:
- jaringan kereta yang semakin luas;
- telegraf antarkota dan lintas negara;
- percobaan kabel trans-Atlantik;
- fotografi yang lebih praktis;
- proses baru produksi baja;
- awal pengeboran minyak komersial;
- kemajuan epidemiologi;
- penelitian mikroorganisme;
- dan teori seleksi alam yang dipublikasikan.
Namun, dunia juga menghadapi:
- perang besar;
- pemberontakan;
- perbudakan;
- wabah;
- kerja paksa;
- imperialisme;
- dan kerusakan lingkungan.
Teknologi memperbesar kemampuan manusia, tetapi tidak menentukan bagaimana kemampuan itu digunakan.
NUSANTARA 1850–1860
Indonesia Belum Terbentuk
Pada 1850–1860, negara Republik Indonesia belum ada. Istilah Indonesia belum menjadi identitas politik nasional sebagaimana pada abad ke-20.
Wilayah yang kelak menjadi Indonesia terdiri atas:
- daerah kekuasaan langsung Hindia Belanda;
- kerajaan yang terikat perjanjian;
- kesultanan yang mempertahankan kedaulatan;
- komunitas adat;
- wilayah perdagangan;
- serta kawasan yang belum berada di bawah pengawasan kolonial efektif.
Jawa menjadi pusat administrasi dan pendapatan kolonial. Namun, kekuasaan Belanda di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua masih berbeda-beda.
Peta kolonial dapat menggambarkan wilayah sebagai milik Belanda, tetapi klaim di atas peta tidak selalu berarti penguasaan nyata terhadap tanah, penduduk, hukum, dan kehidupan sehari-hari.
Pemerintahan Hindia Belanda
Batavia menjadi pusat pemerintahan kolonial. Gubernur jenderal mengatur wilayah melalui jaringan residen, asisten residen, kontrolir, bupati, pejabat pribumi, dan kepala desa.
Jumlah pejabat Eropa relatif sedikit dibandingkan jumlah penduduk. Karena itu, pemerintah kolonial bergantung pada elite lokal untuk:
- menarik pajak;
- mengatur tenaga;
- menyampaikan perintah;
- mengawasi tanaman;
- dan menjaga ketertiban.
Struktur tersebut menciptakan pemerintahan berlapis. Perintah kolonial dapat berubah ketika diteruskan melalui pejabat daerah dan desa.
Sebagian elite memperoleh kedudukan dan keuntungan. Sebagian menghadapi tekanan untuk memenuhi target. Rakyat berada pada bagian terbawah dari sistem yang sulit mereka lawan secara terbuka.
Tanam Paksa Memasuki Masa Penghasilan Besar
Sistem Tanam Paksa atau Cultuurstelsel terus menjadi dasar penting ekonomi kolonial di Jawa.
Desa dan petani diwajibkan menyediakan tanah atau tenaga untuk menghasilkan tanaman ekspor. Pelaksanaan berbeda menurut wilayah dan jenis tanaman.
Komoditas utama meliputi:
- kopi;
- gula;
- nila;
- teh;
- tembakau;
- kayu manis;
- dan tanaman lain.
Kopi menjadi salah satu sumber keuntungan terbesar. Gula membutuhkan perkebunan, irigasi, pabrik, kayu bakar, hewan pengangkut, dan tenaga dalam jumlah besar.
Hasilnya dikirim menuju pelabuhan dan dijual melalui jaringan perdagangan Belanda.
Surplus kolonial atau batig slot membantu keuangan negeri Belanda. Pendapatan dari Jawa digunakan untuk anggaran negara, pembayaran utang, pembangunan, serta kepentingan lain di Eropa.
Namun, angka keuntungan tidak menunjukkan seluruh biaya sosial yang ditanggung masyarakat penghasilnya.
Kehidupan Petani di Bawah Tanam Paksa
Dalam aturan resmi, tanah dan waktu kerja yang digunakan untuk tanaman pemerintah memiliki batas tertentu. Dalam pelaksanaannya, beban dapat melampaui ketentuan.
Petani dapat menghadapi:
- penggunaan lahan terbaik untuk tanaman ekspor;
- waktu kerja yang panjang;
- kewajiban mengangkut hasil;
- kerja di pabrik;
- tekanan kepala desa dan pejabat;
- pajak tanah;
- serta risiko gagal panen.
Keadaan berbeda antardaerah. Tidak tepat menyatakan seluruh petani Jawa mengalami kondisi yang sama atau sama sekali tidak memperoleh penghasilan.
Sebagian masyarakat menemukan peluang ekonomi melalui pekerjaan, perdagangan, pengangkutan, atau pembayaran hasil. Namun, peluang itu berada dalam sistem yang sangat dikendalikan pemerintah dan tidak memiliki pembagian kekuasaan yang setara.
Penelitian modern menunjukkan bahwa dampak Tanam Paksa berbeda menurut tanaman, tanah, pengawasan, dan keadaan lokal. Meski demikian, unsur pemaksaan dan prioritas terhadap pendapatan kolonial tetap menjadi ciri utamanya.
Pangan, Penyakit, dan Pemulihan yang Tidak Merata
Krisis pangan dan wabah yang terjadi pada akhir 1840-an masih memengaruhi sejumlah wilayah Jawa pada awal 1850-an.
Cirebon, Demak, Grobogan, dan daerah lain mengalami tingkat penderitaan yang berbeda. Penyebabnya merupakan gabungan antara:
- hasil panen;
- cuaca;
- penyakit;
- beban kerja;
- penggunaan tanah;
- kemiskinan;
- distribusi makanan;
- dan kebijakan pemerintah.
Jumlah korban tidak dapat dihitung dengan pasti karena pencatatan penduduk serta penyebab kematian belum seragam.
Setelah krisis, pemulihan tidak berlangsung bersamaan. Keluarga yang telah kehilangan ternak, benih, tanah, atau anggota produktif memerlukan waktu lebih lama untuk membangun kembali kehidupan.
Peningkatan produksi ekspor tidak otomatis membuktikan kesejahteraan masyarakat. Sebuah wilayah dapat menghasilkan komoditas bernilai tinggi sementara keluarga tertentu tetap kekurangan makanan.
Perdagangan, Pelabuhan, dan Pelayaran
Batavia, Semarang, dan Surabaya menjadi pelabuhan penting bagi perdagangan Jawa. Makassar menghubungkan kawasan barat dan timur Nusantara. Pelabuhan di Sumatra terhubung dengan Selat Malaka serta Samudra Hindia.
Singapura terus berkembang sebagai pelabuhan bebas Britania dan menjadi pesaing serta penghubung utama perdagangan kawasan.
Komoditas yang diperdagangkan meliputi:
- kopi;
- gula;
- beras;
- rempah;
- timah;
- hasil hutan;
- tekstil;
- garam;
- tembakau;
- dan berbagai barang kebutuhan.
Kapal layar lokal tetap memainkan peran besar. Kapal Bugis, Makassar, Melayu, Jawa, dan komunitas pelaut lain menjaga hubungan antarpulau.
Kapal uap mulai memperkuat kemampuan pemerintah kolonial memindahkan pejabat, pasukan, surat, dan barang. Teknologi pelayaran menjadi alat perdagangan sekaligus pengawasan.
Teknologi di Hindia Belanda
Teknologi modern tidak hadir di Nusantara secara merata. Penerapannya terutama mengikuti kebutuhan pemerintahan, militer, perkebunan, dan perdagangan.
Perubahan penting meliputi:
- bertambahnya penggunaan kapal uap;
- pembangunan fasilitas pelabuhan;
- penggunaan mesin di pabrik gula;
- perkembangan percetakan;
- pengumpulan data administrasi;
- dan pemasangan telegraf.
Pada 1856, jalur telegraf pertama di Hindia Belanda menghubungkan Batavia dengan Buitenzorg—sekarang Bogor.
Jalur tersebut mempercepat komunikasi pemerintahan antara pusat administrasi dan kota penting di pedalaman Jawa Barat.
Namun, telegraf bukan layanan yang langsung dinikmati sebagian besar rakyat. Ia terutama menjadi alat negara, perdagangan, dan pengelolaan kolonial.
Ketika pesan kolonial dapat bergerak melalui kawat, kemampuan pemerintah memberi perintah menjadi lebih cepat. Tetapi suara masyarakat desa belum memperoleh jalur yang sama untuk mencapai pusat kekuasaan.
Jalan dan Belum Hadirnya Kereta Api
Pada 1850-an, jalan darat, sungai, gerobak, hewan angkut, dan kapal tetap menjadi sarana utama pemindahan barang di Nusantara.
Jaringan kereta api belum beroperasi di Jawa dalam periode ini. Jalur kereta api pertama di Hindia Belanda baru mulai dibangun pada 1860-an.
Meskipun demikian, kebutuhan untuk mengangkut gula, kopi, dan hasil perkebunan sudah mendorong perdebatan serta perencanaan transportasi yang lebih cepat.
Ketiadaan rel berarti hasil tanaman masih sangat bergantung pada:
- tenaga manusia;
- kerbau dan kuda;
- gerobak;
- sungai;
- jalan;
- dan kapal.
Biaya pengangkutan tidak hanya berupa uang. Ia juga berupa waktu dan tenaga masyarakat yang diwajibkan membawa hasil menuju gudang atau pabrik.
Sekolah Dokter Djawa
Pada 1851, pemerintah kolonial mendirikan pendidikan bagi calon tenaga kesehatan pribumi di Batavia. Lembaga ini dikenal sebagai Sekolah Dokter Djawa dan menjadi salah satu pendahulu pendidikan kedokteran yang kemudian berkembang menjadi STOVIA.
Pembentukan sekolah berkaitan dengan kebutuhan tenaga medis untuk menangani penyakit dan memberikan pelayanan di wilayah kolonial.
Pendidikan awalnya terbatas dan kedudukan lulusannya tidak setara dengan dokter Eropa. Namun, lembaga ini menjadi bagian penting sejarah pendidikan kedokteran di Indonesia.
Pada masa berikutnya, pendidikan medis ikut melahirkan kelompok terdidik yang memiliki peran dalam perubahan sosial dan kebangkitan nasional.
Namun, akibat jangka panjang tersebut belum boleh dipindahkan seluruhnya ke keadaan 1850-an. Pada dasawarsa ini, lembaganya masih berada pada tahap awal.
Pengamatan Alam Sebelum BMKG
Belum terdapat lembaga bernama BMKG pada 1850-an.
Catatan cuaca, gempa, dan keadaan laut berasal dari:
- observatorium;
- laporan pemerintah;
- pelabuhan;
- kapal;
- perkebunan;
- militer;
- misionaris;
- surat kabar;
- naskah lokal;
- dan kesaksian masyarakat.
Pengamatan belum merata. Daerah yang penting bagi perdagangan dan pemerintahan lebih mungkin memiliki catatan dibandingkan pulau kecil atau kawasan pedalaman.
Karena itu, bagian ini disebut Jejak Cuaca, Geologi, dan Rekonstruksi Bencana Nusantara, bukan “data BMKG tahun 1850-an”.
Informasi modern dari BMKG dan lembaga geologi dapat digunakan untuk menafsirkan kembali kejadian sejarah, tetapi tidak boleh disebut sebagai pengukuran yang dilakukan pada saat peristiwanya terjadi.
Cuaca dan Iklim Nusantara
Nusantara dipengaruhi angin monsun, perairan tropis, pegunungan, arus laut, serta interaksi atmosfer–samudra.
Musim tidak berlangsung sama di seluruh kepulauan. Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, dan Papua memiliki pola hujan yang berbeda.
Belum tersedia data suhu serta curah hujan yang lengkap untuk seluruh Nusantara pada 1850-an.
Keadaan iklim harus direkonstruksi melalui:
- laporan panen;
- tinggi muka sungai;
- catatan kekeringan dan banjir;
- jurnal kapal;
- pertumbuhan karang;
- sedimen;
- dan arsip perkebunan.
Kekeringan atau hujan berlebihan dapat merusak panen. Namun, dampaknya bergantung pada cadangan pangan, penguasaan tanah, irigasi, kemiskinan, serta kewajiban produksi.
Cuaca dapat menjadi pemicu krisis, tetapi struktur ekonomi menentukan kemampuan masyarakat untuk bertahan.
Gempa dan Tsunami Laut Banda 1852
Pada 26 November 1852, gempa besar mengguncang kawasan Laut Banda dan diikuti tsunami yang merusak permukiman di Maluku.
Laporan sejarah menyebut guncangan berlangsung lama. Tsunami mencapai Kepulauan Banda serta sejumlah wilayah di Seram, Saparua, Haruku, dan pulau lain.
Rumah, perahu, kebun, dan permukiman pesisir mengalami kerusakan. Korban jiwa dilaporkan, tetapi jumlahnya tidak dapat dipastikan.
Tidak terdapat seismograf modern pada 1852. Karena itu, magnitudo dan mekanisme gempa merupakan hasil rekonstruksi, bukan pengukuran langsung.
Sejumlah penelitian mengusulkan gempa sangat besar dengan estimasi magnitudo sekitar 8,4–8,8. Penelitian lain mengusulkan mekanisme sesar normal dengan perkiraan yang berbeda.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sumber gempa 1852 masih diperdebatkan.
Tinggi tsunami juga berbeda menurut lokasi dan sumber. Beberapa rekonstruksi menunjukkan gelombang dapat mencapai sekitar delapan meter di tempat tertentu, tetapi angka itu tidak berlaku untuk seluruh pantai.
Pada 1852, penduduk Maluku menghadapi laut yang berubah menjadi bencana tanpa sirene, jaringan sensor, atau komunikasi darurat. Yang tersisa adalah kesaksian, kerusakan, dan jejak alam yang dibaca kembali oleh ilmu pengetahuan modern.
Mengapa Gempa Banda Penting Dicatat?
Gempa 1852 memperlihatkan bahwa bencana besar Nusantara tidak hanya berasal dari zona subduksi Sumatra dan Jawa.
Kawasan timur Indonesia memiliki susunan tektonik sangat rumit akibat pertemuan serta interaksi beberapa lempeng dan mikroblok.
Peristiwa sejarah membantu ilmuwan memahami sumber bahaya yang memiliki masa ulang panjang. Sebuah patahan dapat tampak tenang selama beberapa generasi, tetapi ketenangan tersebut tidak berarti tidak berbahaya.
Catatan 1852 juga memperlihatkan pentingnya menggabungkan:
- laporan kolonial;
- kesaksian masyarakat;
- waktu kedatangan gelombang;
- tinggi genangan;
- perubahan daratan;
- dan pemodelan modern.
Alfred Russel Wallace di Nusantara
Wallace melakukan penelitian di wilayah yang sekarang menjadi Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Timor-Leste.
Ia mengumpulkan spesimen dengan bantuan masyarakat lokal. Salah satu pembantunya yang dikenal dalam catatan adalah Ali, seorang pemuda dari Sarawak yang ikut dalam banyak perjalanan dan membantu memperoleh spesimen burung.
Di Ternate, Wallace menyusun gagasan mengenai seleksi alam dan mengirimkan tulisannya kepada Darwin pada 1858.
Nusantara bukan sekadar latar belakang bagi teori ilmiah Eropa. Keragaman hayati, geologi pulau, masyarakat, pemandu, pelaut, dan kolektor lokal ikut memungkinkan pengetahuan tersebut terbentuk.
Karena itu, sejarah ilmu pengetahuan harus mencatat tempat dan tenaga yang membuat penemuan mungkin terjadi.
Garis Wallace dan Sejarah Geologi Nusantara
Perbedaan fauna antara Bali dan Lombok membantu Wallace memahami bahwa jarak geografis yang dekat tidak selalu berarti sejarah alam yang sama.
Laut dalam di antara kelompok pulau menjadi penghalang bagi banyak hewan darat, bahkan ketika permukaan laut turun pada zaman es.
Wilayah barat Nusantara memiliki hubungan biogeografis lebih kuat dengan Asia. Kawasan di sebelah timur menunjukkan unsur fauna yang berkaitan dengan Australia dan sejarah pulau-pulau samudra.
Pengetahuan modern memperluas serta memperbaiki pemahaman Wallace melalui teori lempeng tektonik, perubahan muka laut, genetika, dan fosil.
Namun, pengamatan dasarnya tetap penting: sejarah kehidupan tidak hanya ditentukan oleh iklim, tetapi juga oleh geologi dan keterpisahan wilayah.
Kerajaan dan Kesultanan di Luar Jawa
Kekuasaan Belanda di luar Jawa belum sepenuhnya terbentuk.
Aceh masih menjadi kesultanan merdeka dan menguasai hubungan perdagangan penting di Sumatra utara.
Di Kalimantan terdapat Kesultanan Banjar serta berbagai kerajaan dan masyarakat Dayak dengan hubungan politik yang kompleks.
Di Sulawesi, Kerajaan Bone, Gowa, serta kekuatan Bugis dan Makassar mempertahankan struktur politik masing-masing.
Di Bali, kerajaan-kerajaan tetap memiliki kedaulatan yang tidak sepenuhnya tunduk kepada Belanda.
Di Maluku, pengaruh kolonial telah berlangsung lama, tetapi kehidupan masyarakat tetap ditentukan pula oleh desa, adat, pelayaran, pertanian, dan perdagangan lokal.
Papua serta banyak wilayah pedalaman belum berada dalam pengawasan kolonial yang efektif.
Campur Tangan Belanda di Kesultanan Banjar
Pada 1850-an, konflik mengenai suksesi Kesultanan Banjar semakin membesar.
Pemerintah Belanda mendukung Tamjidillah, sementara banyak bangsawan dan masyarakat memberikan dukungan kepada Pangeran Hidayatullah.
Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan siapa yang menjadi sultan. Wilayah Banjar memiliki kepentingan ekonomi besar, termasuk:
- batu bara;
- perdagangan sungai;
- hasil hutan;
- tanah;
- dan jalur menuju pedalaman Kalimantan.
Campur tangan Belanda dalam suksesi mempertemukan persoalan kerajaan, ekonomi, agama, masyarakat, dan kekuasaan kolonial.
Ketegangan akhirnya berkembang menjadi perang pada 1859.
Perang Banjar 1859
Perlawanan pecah di berbagai wilayah Kesultanan Banjar pada 1859.
Tokoh-tokoh yang kemudian berperan penting meliputi:
- Pangeran Antasari;
- Pangeran Hidayatullah;
- Demang Lehman;
- Tumenggung Antasari dan pemimpin lokal lainnya;
- ulama;
- bangsawan;
- serta masyarakat dari berbagai kelompok.
Serangan diarahkan terhadap pos kolonial, pertambangan, dan jaringan kekuasaan Belanda.
Perang Banjar tidak boleh dipahami sebagai satu pertempuran atau hanya perselisihan keluarga kerajaan. Konflik berkembang dari campuran:
- campur tangan suksesi;
- penguasaan ekonomi;
- ketidakpuasan masyarakat;
- pertahanan kedaulatan;
- dan penolakan terhadap perluasan kolonial.
Pada akhir 1859, perang masih berlangsung. Karena itu, akibat dan akhir keseluruhan konflik tidak boleh diselesaikan dalam Catatan ini.
Batu Bara dalam Konflik Banjar
Pertambangan batu bara menjadi salah satu unsur ekonomi penting di Kalimantan selatan.
Tambang Oranje Nassau di Pengaron dikembangkan pemerintah kolonial sejak pertengahan abad ke-19. Batu bara dibutuhkan untuk kapal uap, industri, dan kepentingan pemerintahan.
Keberadaan tambang membuat wilayah Banjar lebih penting bagi ekonomi kolonial.
Hubungan antara batu bara dan perang tidak berarti konflik hanya terjadi karena satu tambang. Namun, penguasaan sumber energi, jalur sungai, tenaga kerja, dan wilayah memperbesar kepentingan Belanda untuk mempertahankan pengaruhnya.
Di sini terlihat hubungan antara Revolusi Industri dunia dan konflik lokal Nusantara: kapal uap memerlukan batu bara, sementara penguasaan batu bara membutuhkan kendali atas tanah serta masyarakat.
Perang Bone 1859
Pada 1859, Belanda melancarkan ekspedisi militer terhadap Kerajaan Bone di Sulawesi Selatan.
Ketegangan meningkat setelah perubahan kepemimpinan di Bone dan perselisihan mengenai kedudukan kerajaan terhadap Belanda.
Pasukan kolonial mendarat dan merebut Watampone, tetapi menghadapi perlawanan serta wabah penyakit. Kolera melemahkan pasukan Belanda dan mendorong penarikan sebagian kekuatan.
Belanda kemudian mempersiapkan ekspedisi berikutnya pada akhir 1859. Penyelesaian utama konflik berlangsung pada awal 1860, sehingga melintasi batas Catatan ini.
Perang Bone memperlihatkan bahwa Belanda menggunakan:
- armada laut;
- pasukan kolonial;
- perjanjian;
- persaingan elite;
- dan sekutu lokal.
Perang tersebut bukan hanya benturan antara “Belanda” dan “penduduk Sulawesi” sebagai dua kelompok tunggal. Kerajaan, bangsawan, dan kelompok lokal memiliki kepentingan serta persekutuan yang berbeda.
Penyakit sebagai Kekuatan dalam Perang
Dalam Perang Krimea, penyakit membunuh banyak tentara Eropa. Dalam ekspedisi Bone, kolera juga melemahkan pasukan kolonial.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pada abad ke-19, hasil perang tidak hanya ditentukan oleh senjata dan jumlah pasukan.
Faktor lain meliputi:
- air bersih;
- makanan;
- sanitasi;
- medan;
- cuaca;
- pengetahuan lokal;
- dan daya tahan tubuh.
Tentara yang memiliki senjata lebih maju tetap dapat dikalahkan oleh penyakit yang tidak terlihat.
Perbudakan di Hindia Belanda
Perbudakan masih berlangsung di berbagai wilayah Hindia Belanda pada 1850-an.
Bentuk dan kedudukannya berbeda menurut tempat. Orang yang diperbudak bekerja dalam rumah tangga, pertanian, pelabuhan, perdagangan, dan lingkungan kekuasaan.
Pemerintah Belanda menetapkan penghapusan perbudakan di wilayah yang dikuasainya mulai 1 Januari 1860.
Karena tanggal tersebut berada tepat di luar tahun penuh terakhir dasawarsa 1850-an, pelaksanaannya harus dibahas sebagai batas perubahan, bukan sebagai keadaan yang telah selesai selama seluruh periode.
Penghapusan hukum juga tidak langsung menghapus semua bentuk ketergantungan, utang, kerja paksa, dan perdagangan manusia—terutama di wilayah yang belum dikuasai efektif oleh pemerintah kolonial.
Agama, Pendidikan, dan Penyebaran Pengetahuan
Islam menjadi bagian penting kehidupan masyarakat di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan wilayah lain. Pesantren, surau, masjid, ulama, pedagang, serta perjalanan haji menghubungkan komunitas dengan jaringan pengetahuan yang luas.
Hindu berkembang kuat di Bali. Kekristenan menyebar melalui gereja dan kegiatan misionaris di beberapa wilayah. Kepercayaan adat tetap menjadi dasar kehidupan banyak masyarakat.
Pendidikan berlangsung melalui:
- keluarga;
- lembaga agama;
- kerajaan;
- guru lokal;
- praktik kerja;
- tradisi lisan;
- dan sekolah kolonial yang masih terbatas.
Kemampuan membaca dan menulis tidak dapat diukur dengan satu angka untuk seluruh Nusantara. Sistem aksara, bahasa, dan tradisi pengetahuan berbeda-beda menurut wilayah.
Percetakan dan Catatan Tertulis
Percetakan digunakan oleh pemerintah, misionaris, lembaga pendidikan, dan kelompok masyarakat tertentu.
Dokumen dicetak dalam bahasa Belanda, Melayu, Jawa, dan bahasa lain. Namun, produksi bacaan masih terbatas dan belum menjangkau seluruh penduduk.
Banyak kehidupan masyarakat tetap diwariskan melalui:
- cerita lisan;
- silsilah;
- nyanyian;
- hikayat;
- babad;
- lontar;
- surat;
- dan naskah tulisan tangan.
Arsip kolonial cenderung mencatat pajak, produksi, pejabat, perdagangan, dan konflik. Karena itu, pengalaman perempuan, petani miskin, budak, pekerja, dan masyarakat pedalaman sering tidak dicatat secara rinci.
Hubungan Dunia dan Nusantara
Perubahan dunia 1850-an dapat ditemukan kembali dalam kehidupan Nusantara.
Revolusi Industri meningkatkan kebutuhan terhadap bahan mentah, bahan bakar, dan pasar. Kapal uap membutuhkan batu bara. Pabrik dan konsumen Eropa membutuhkan kopi, gula, teh, serta komoditas tropis.
Telegraf mempercepat pengendalian kolonial. Kapal uap mempercepat pemindahan pasukan. Ilmu geologi membantu mencari tambang. Administrasi menghitung hasil, pajak, dan tenaga.
Pada saat yang sama, Nusantara memberi sumbangan besar terhadap pengetahuan dunia. Perjalanan Wallace menunjukkan bagaimana keragaman hayati dan geologi kepulauan membantu membentuk teori evolusi serta biogeografi.
Hubungannya tidak seimbang, tetapi tidak satu arah.
Nusantara bukan sekadar penerima teknologi Eropa. Tanah, manusia, laut, tumbuhan, hewan, dan pengetahuan lokalnya ikut membentuk ekonomi serta ilmu pengetahuan dunia.
Rangkaian Peristiwa Penting 1850–1860
- 1850: Pemberontakan Taiping mulai berkembang di Tiongkok.
- 1850: ketegangan mengenai perbudakan di Amerika Serikat diatur sementara melalui Compromise of 1850.
- 1851: Great Exhibition dibuka di Crystal Palace, London.
- 1851: proses fotografi kolodion pelat basah diperkenalkan.
- 1851: kabel telegraf bawah laut menghubungkan Britania dan Prancis.
- 1851: pendidikan Dokter Djawa dibentuk di Batavia.
- 1852: gempa dan tsunami besar menghantam kawasan Laut Banda.
- 1853: Perang Krimea dimulai.
- 1853: pasukan Taiping merebut Nanjing.
- 1853: Komodor Perry tiba di Jepang.
- 1854: John Snow menelusuri wabah kolera di London.
- 1854: Konvensi Kanagawa membuka sebagian hubungan Jepang dengan Amerika Serikat.
- 1854: Alfred Russel Wallace mulai meneliti Kepulauan Melayu.
- 1854: Kansas–Nebraska Act memperbesar konflik mengenai perbudakan di Amerika Serikat.
- 1855: gempa besar Wairarapa terjadi di Selandia Baru.
- 1856: Perang Krimea berakhir melalui Perjanjian Paris.
- 1856: Perang Candu Kedua dimulai.
- 1856: Henry Bessemer mengumumkan proses produksi baja baru.
- 1856: jalur telegraf Batavia–Buitenzorg mulai beroperasi.
- 1857: pemberontakan besar terjadi di India.
- 1857: krisis keuangan internasional menyebar.
- 1857: gempa besar Fort Tejon terjadi di California.
- 1858: pemerintahan Perusahaan Hindia Timur di India berakhir dan diambil alih Kerajaan Britania.
- 1858: gagasan seleksi alam Wallace dan Darwin dipresentasikan bersama.
- 1858: kabel telegraf trans-Atlantik pertama sempat beroperasi sebelum gagal.
- 1859: sumur minyak komersial Drake dibor di Pennsylvania.
- 1859: On the Origin of Species diterbitkan.
- 1859: Peristiwa Carrington mengganggu jaringan telegraf.
- 1859: Perang Banjar dimulai.
- 1859: Belanda melancarkan ekspedisi militer terhadap Bone.
- 1859: perang melawan Austria membuka jalan menuju penyatuan Italia.
- 1 Januari 1860: penghapusan perbudakan secara resmi mulai berlaku di wilayah Hindia Belanda yang berada dalam jangkauan hukum kolonial; pelaksanaannya tidak serta-merta menghapus semua bentuk kerja tidak bebas.
Fakta, Temuan Penelitian, dan Ketidakpastian
FAKTA YANG TERDOKUMENTASI
- Great Exhibition diselenggarakan pada 1851.
- Gempa dan tsunami Laut Banda terjadi pada 1852.
- Perang Krimea berlangsung pada 1853–1856.
- Wallace melakukan penelitian di Kepulauan Melayu mulai 1854.
- John Snow meneliti wabah kolera London pada 1854.
- jalur telegraf Batavia–Buitenzorg mulai digunakan pada 1856;
- Perang Candu Kedua dimulai pada 1856;
- Pemberontakan India terjadi pada 1857;
- pemerintahan Perusahaan Hindia Timur di India diakhiri pada 1858;
- On the Origin of Species diterbitkan pada 1859;
- Peristiwa Carrington terjadi pada 1859;
- pengeboran minyak komersial Drake berlangsung pada 1859;
- Perang Banjar dimulai pada 1859;
- dan ekspedisi Belanda terhadap Bone berlangsung pada 1859.
TEMUAN PENELITIAN
- Kolera menyebar terutama melalui air dan makanan yang terkontaminasi;
- seleksi alam dikembangkan secara mandiri oleh Darwin dan Wallace;
- Garis Wallace berkaitan dengan sejarah geologi dan biogeografi kepulauan;
- kerja paksa dan beban Sistem Tanam Paksa memiliki dampak demografis yang berbeda menurut wilayah;
- serta bencana 1852 memperlihatkan ancaman gempa dan tsunami besar di kawasan Laut Banda.
REKONSTRUKSI ATAU ESTIMASI
- jumlah penduduk dunia;
- magnitudo gempa Laut Banda 1852;
- tinggi tsunami di setiap lokasi;
- jumlah korban perang dan wabah;
- suhu global;
- serta pengaruh ekonomi Tanam Paksa terhadap setiap rumah tangga.
HAL YANG MASIH DIPERDEBATKAN
- mekanisme patahan yang menghasilkan gempa dan tsunami Laut Banda 1852;
- jumlah korban sejumlah konflik;
- pembagian manfaat ekonomi Tanam Paksa;
- serta tingkat penguasaan nyata Belanda di berbagai wilayah luar Jawa.
Kesimpulan Catatan #006
Dasawarsa 1850–1860 memperlihatkan dunia yang semakin mampu menaklukkan jarak.
Rel menghubungkan kota. Kapal uap menghubungkan pelabuhan. Telegraf menghubungkan pemerintahan dan pasar. Kabel mulai menembus dasar laut. Fotografi menyimpan pemandangan perang. Baja dan minyak membuka dasar industri baru.
Ilmu pengetahuan juga bergerak maju. John Snow membaca wabah melalui peta. Pasteur memperlihatkan peran mikroorganisme dalam fermentasi. Darwin dan Wallace menjelaskan bagaimana kehidupan berubah melalui seleksi alam.
Namun, pengetahuan dan teknologi tidak mengakhiri kekerasan.
Pemberontakan Taiping menyebabkan kehancuran besar di Tiongkok. Perang Krimea menunjukkan kegagalan logistik dan kesehatan tentara. Pemberontakan India mengakhiri kekuasaan Perusahaan Hindia Timur, tetapi memperkuat pemerintahan imperial Britania. Perang Candu Kedua kembali memaksakan kepentingan asing terhadap Qing.
Di Nusantara, teknologi dan ilmu pengetahuan memiliki dua wajah.
Telegraf dan kapal uap mempercepat komunikasi serta perjalanan, tetapi juga memperkuat kemampuan pemerintah kolonial mengatur produksi dan mengirim pasukan.
Sekolah Dokter Djawa membuka jalan pendidikan kesehatan, tetapi didirikan dalam struktur masyarakat kolonial yang tidak setara.
Penelitian Wallace di Nusantara membantu mengubah ilmu biologi dunia, tetapi banyak pemandu dan pekerja lokal tetap tidak dikenal.
Tanam Paksa menghasilkan surplus bagi Belanda, sementara tanah serta tenaga rakyat menjadi bagian dari mesin perdagangan global.
Perang Banjar dan Perang Bone menunjukkan bahwa perluasan kekuasaan kolonial bertemu dengan kerajaan, masyarakat, dan pemimpin yang memiliki kehendak politik sendiri.
Gempa serta tsunami Banda 1852 kembali mengingatkan bahwa sejarah Nusantara juga ditulis oleh kekuatan Bumi. Ketika alat pengukuran belum tersedia, ingatan masyarakat dan jejak geologi menjadi arsip yang tersisa.
Pada 1850-an, manusia menemukan bahwa pesan dapat bergerak melalui kawat dan spesies dapat berubah sepanjang waktu. Namun, pelajaran terbesar dasawarsa ini mungkin lebih sederhana: kemampuan baru tidak menjamin keadilan baru.
Analisis Penulis — Armando Sinaga
Setelah membandingkan bukti dari berbagai wilayah, terlihat bahwa teknologi pada dasawarsa ini tidak pernah berdiri sendiri.
Telegraf membutuhkan kawat, logam, modal, tenaga, dan perlindungan negara. Kapal uap membutuhkan batu bara dan pelabuhan. Baja membutuhkan tambang serta pabrik. Industri membutuhkan bahan mentah. Bahan mentah membutuhkan tanah dan tenaga kerja.
Rangkaian tersebut menghubungkan pabrik di Eropa dengan tambang Kalimantan, perkebunan Jawa, kapas Amerika, teh Tiongkok, dan pelabuhan Asia.
Karena itu, sejarah teknologi bukan hanya sejarah penemu dan mesin. Ia juga sejarah pekerja, tambang, hutan, tanah, energi, kerajaan, perang, dan masyarakat yang wilayahnya menjadi sumber bahan.
Pola kedua adalah bahwa informasi menciptakan kekuasaan. Pemerintah yang menerima laporan lebih cepat dapat memberikan perintah lebih cepat. Pedagang yang mengetahui harga lebih dahulu memperoleh keuntungan. Militer yang memiliki komunikasi lebih baik dapat mengoordinasikan pasukan.
Pembangunan telegraf Batavia–Buitenzorg memperlihatkan pola tersebut dalam skala lokal. Teknologi komunikasi tiba sebagai bagian dari administrasi kolonial sebelum menjadi sarana umum bagi rakyat.
Pola ketiga adalah bahwa ilmu pengetahuan sering berkembang di wilayah yang berada dalam hubungan kekuasaan tidak seimbang. Wallace memperoleh bukti penting di Nusantara, tetapi perjalanan dan pengumpulannya bergantung pada pengetahuan lokal, pelaut, pemburu, dan asisten yang lebih jarang dicatat.
Pola keempat adalah hubungan antara energi dan geopolitik. Batu bara tidak hanya menggerakkan kapal. Kebutuhan terhadap batu bara meningkatkan nilai strategis tambang serta wilayah tempat sumber itu ditemukan. Dalam konflik Banjar, kepentingan terhadap tanah, sungai, dan pertambangan menjadi bagian dari pertarungan kekuasaan yang lebih besar.
Untuk memahami sebuah teknologi, jangan hanya melihat benda yang berhasil dibuat. Telusurilah pula bahan yang diambil, tenaga yang digunakan, tanah yang dikuasai, dan kekuasaan yang diperbesar olehnya.
Catatan Penelusuran
Catatan ini bukan daftar lengkap seluruh peristiwa yang terjadi pada 1850–1860.
Masih banyak kehidupan, bencana, konflik, penemuan, perubahan lingkungan, dan peristiwa di daerah tertentu yang mungkin tidak pernah dicatat, belum terdigitalisasi, tersimpan dalam bahasa yang belum ditelusuri, atau belum dapat diverifikasi melalui bukti yang tersedia.
Istilah “dunia” tidak berarti setiap negeri, kerajaan, masyarakat, pulau, atau kelompok manusia telah terwakili secara seimbang.
Wilayah yang memiliki pemerintahan tertulis, surat kabar, observatorium, perusahaan, dan arsip kolonial meninggalkan lebih banyak dokumen dibandingkan masyarakat yang mengandalkan tradisi lisan.
Sumber kolonial harus dibaca secara kritis. Dokumen tersebut dapat menyimpan fakta penting, tetapi sering dibuat untuk kepentingan pemerintahan, pajak, produksi, perdagangan, pemetaan, atau militer.
Angka penduduk, jumlah korban, magnitudo gempa, tinggi tsunami, suhu, serta hasil ekonomi harus disebut sebagai estimasi atau rekonstruksi apabila tidak berasal dari pengukuran langsung.
Untuk peristiwa yang dimulai sebelum 1860 tetapi berlanjut melewati batas periode—seperti Pemberontakan Taiping, Perang Candu Kedua, Perang Banjar, dan Perang Bone—Catatan ini hanya menggambarkan keadaannya sampai batas waktu yang sedang ditelusuri.
Bumi dari Masa ke Masa merangkum gambaran berdasarkan dokumen, arsip, penelitian ilmiah, data, kesaksian, dan bukti alam yang masih dapat ditemukan.
Masih banyak yang belum tercatat—termasuk kehidupan dan peristiwa di wilayah yang tidak meninggalkan arsip. Catatan ini adalah gambaran umum dari bukti yang masih dapat kami telusuri. Apa yang berhasil ditemukan kami rangkum dan catat kembali, agar jejaknya tidak ikut hilang oleh waktu.
Sumber dan Referensi
-
Our World in Data. Population and Demography. Rekonstruksi penduduk dunia dan sumber data historis.
https://ourworldindata.org/population
https://ourworldindata.org/population-sources -
Our World in Data. Energy Production and Consumption.
https://ourworldindata.org/energy-production-consumption -
Intergovernmental Panel on Climate Change. Climate Change 2021: The Physical Science Basis. Cambridge University Press, 2021.
https://www.ipcc.ch/report/ar6/wg1/ -
Met Office Hadley Centre. HadCRUT Global Temperature Dataset.
https://www.metoffice.gov.uk/hadobs/hadcrut5/ -
NOAA National Centers for Environmental Information. Paleoclimatology.
https://www.ncei.noaa.gov/products/paleoclimatology -
World Health Organization. The Rise of International Cooperation in Health. Pembahasan sejarah kolera dan John Snow.
https://iris.who.int/bitstreams/5de40c8e-4a0d-4085-a838-0fa84103af0a/download -
World Health Organization. Stories from Public Health. WHO, 2012.
https://iris.who.int/bitstream/handle/10665/44700/9789241564366_eng.pdf -
The John Snow Society. John Snow and the Broad Street Pump.
https://johnsnowsociety.org/ -
Science History Institute. Louis Pasteur and Fermentation.
https://www.sciencehistory.org/education/scientific-biographies/louis-pasteur/ -
Florence Nightingale Museum. Florence Nightingale and the Crimean War.
https://www.florence-nightingale.co.uk/ -
UK Parliament. The Crimean War.
https://www.parliament.uk/about/living-heritage/transformingsociety/private-lives/relationships/collections1/parliament-and-the-crimean-war/ -
Office of the Historian, U.S. Department of State. Historical Summary of the Crimean War and Treaty of Paris.
https://history.state.gov/historicaldocuments/frus1945Berlinv02/d1370 -
UK Parliament. East India Company and Raj, 1785–1858.
https://www.parliament.uk/about/living-heritage/evolutionofparliament/legislativescrutiny/parliament-and-empire/parliament-and-the-american-colonies-before-1765/east-india-company-and-raj-1785-1858/ -
The National Archives, United Kingdom. Indian Uprising of 1857.
https://www.nationalarchives.gov.uk/education/resources/indian-independence/ -
Office of the Historian, U.S. Department of State. The Opening to Japan, 1853.
https://history.state.gov/milestones/1830-1860/opening-to-japan -
Office of the Historian, U.S. Department of State. The Opening to China and Treaty Relations.
https://history.state.gov/milestones/1830-1860/china-1 -
Natural History Museum, London. Charles Darwin: History’s Most Famous Biologist.
https://www.nhm.ac.uk/discover/charles-darwin-most-famous-biologist.html -
Natural History Museum, London. What Is Natural Selection?
https://www.nhm.ac.uk/discover/what-is-natural-selection.html -
Natural History Museum, London. On the Origin of Species, First Edition 1859.
https://www.nhm.ac.uk/discover/museum-highlights-charles-darwin.html -
The Linnean Society of London. Darwin–Wallace Papers on Evolution, 1858.
https://www.linnean.org/learning/who-was-wallace -
Wallace Correspondence Project. Alfred Russel Wallace in the Malay Archipelago.
https://wallaceletters.info/ -
Wallace Online. The Malay Archipelago and Wallace’s Scientific Works.
https://wallace-online.org/ -
Library of Congress. Samuel Morse Papers and Telegraph History.
https://www.loc.gov/collections/samuel-morse-papers-at-the-library-of-congress/ -
Institution of Engineering and Technology. History of the Transatlantic Telegraph Cable.
https://www.theiet.org/membership/library-and-archives/the-iet-archives -
Science Museum Group. The Transatlantic Telegraph Cable.
https://collection.sciencemuseumgroup.org.uk/ -
Victoria and Albert Museum. The Great Exhibition of 1851.
https://www.vam.ac.uk/articles/the-great-exhibition -
Science Museum Group. Bessemer Process and the Production of Steel.
https://www.sciencemuseum.org.uk/objects-and-stories/henry-bessemer -
Smithsonian National Museum of American History. Transportation, Industry, and Nineteenth-Century Technology Collections.
https://americanhistory.si.edu/collections/subjects/transportation -
Library of Congress. Daguerreotypes and Early Photography.
https://www.loc.gov/pictures/collection/dag/ -
National Portrait Gallery, London. Photography and the Wet Collodion Process.
https://www.npg.org.uk/collections/explore/glossary-of-art-terms/wet-collodion -
Smithsonian National Museum of American History. The Sewing Machine and Industrial Production.
https://americanhistory.si.edu/collections/subject-groups/sewing-machines -
American Oil & Gas Historical Society. Edwin Drake and the 1859 Oil Well.
https://aoghs.org/petroleum-pioneers/american-oil-history/ -
NASA Science. The Carrington Event and Solar Storms.
https://science.nasa.gov/science-research/heliophysics/the-carrington-event/ -
NOAA Space Weather Prediction Center. Solar Storms and Geomagnetic Activity.
https://www.swpc.noaa.gov/phenomena/geomagnetic-storms -
U.S. Geological Survey. The 1857 Fort Tejon Earthquake and San Andreas Fault.
https://earthquake.usgs.gov/earthquakes/events/1857forttejon/ -
New Zealand GeoNet. The 1855 Wairarapa Earthquake.
https://www.geonet.org.nz/about/earthquake/wairarapa1855 -
Fisher, TszMan L., dan Ron A. Harris. Reconstruction of the 1852 Banda Arc Megathrust Earthquake and Tsunami. Natural Hazards, 2016.
https://link.springer.com/article/10.1007/s11069-016-2345-6 -
Ringer, H., dkk. Methodological Reconstruction of Historical Seismic Events from Anecdotal Accounts of Destructive Tsunamis: The Great 1852 Banda Arc Earthquake and Tsunami. Journal of Geophysical Research: Solid Earth, 2021.
https://agupubs.onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1029/2020JB021107 -
Cummins, Phil R., dkk. A Low-Angle Normal Fault Earthquake and Tsunami: The 1852 Banda Sea Earthquake, Eastern Indonesia.
https://hull-repository.worktribe.com/output/2598062/a-low-angle-normal-fault-earthquake-and-tsunami-the-1852-banda-sea-earthquake-eastern-indonesia -
Smithsonian Institution, Global Volcanism Program. Volcanoes of Indonesia.
https://volcano.si.edu/volcanolist_countries.cfm?country=Indonesia -
Fasseur, Cornelis. The Politics of Colonial Exploitation: Java, the Dutch, and the Cultivation System. Cornell Southeast Asia Program, 1992.
-
Elson, R. E. Village Java under the Cultivation System, 1830–1870. Allen & Unwin, 1994.
-
Van Niel, Robert. Java under the Cultivation System. KITLV Press, 1992.
-
de Zwart, Pim, dan Daniel Gallardo-Albarrán. Demographic Effects of Colonialism: Forced Labour and Mortality in Java, 1834–1879. Wageningen University & Research, 2022.
https://edepot.wur.nl/561817 -
Cribb, Robert, dan Audrey Kahin. Historical Dictionary of Indonesia. Scarecrow Press, 2004.
-
Ricklefs, M. C. A History of Modern Indonesia Since c. 1200. Stanford University Press.
-
Saleh, M. Idwar. Agrarian Radicalism and Movements of Native Insurrection in South Kalimantan, 1858–1865. Archipel, 1975.
https://www.persee.fr/doc/arch_0044-8613_1975_num_9_1_1225 -
Böhmer, Karl E. Violence Begets Violence: Anticolonial Mobilisation of Ressentiment in Nineteenth-Century Borneo. Studia Historiae Ecclesiasticae, 2019.
https://scielo.org.za/scielo.php?pid=S1017-04992019000100011&script=sci_arttext -
Gibson, Thomas. Islamic Narrative and Authority in Southeast Asia. Palgrave Macmillan, 2007.
-
de Moor, J. A. Warmakers in the Archipelago: Dutch Expeditions in Nineteenth-Century Indonesia. Dalam Imperialism and War: Essays on Colonial Wars in Asia and Africa. Brill, 1989.
-
Arsip Nasional Republik Indonesia. Khazanah Arsip Pemerintahan Hindia Belanda.
https://anri.go.id/ -
Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. Informasi Geologi dan Kebencanaan Indonesia.
https://geologi.esdm.go.id/ -
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Katalog Gempa Bumi dan Informasi Seismotektonik Indonesia. Digunakan sebagai konteks modern, bukan sebagai data pengukuran langsung tahun 1850-an.
https://www.bmkg.go.id/gempabumi/ -
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sejarah Pendidikan Kedokteran di Indonesia dan Sekolah Dokter Djawa.
https://fk.ui.ac.id/sejarah/ -
Museum Kebangkitan Nasional, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sejarah Sekolah Dokter Djawa dan STOVIA.
https://muskitnas.net/
Tanggal akses sumber daring: 3 September 2026.
