PUSTAHA CATATAN

BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #002] [1810–1820]

Ketika Tambora Menggelapkan Langit: Runtuhnya Kekuasaan Lama, Tahun Tanpa Musim Panas, dan Dunia yang Mulai Berubah

Dipublikasikan 2 September 2026

Sampul BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #002] [1810–1820]

Dasawarsa Ketika Langit Mengubah Sejarah

Pada awal 1810, dunia masih bergerak di bawah bayang-bayang perang, kolonialisme, perbudakan, penyakit, dan ketergantungan manusia terhadap hasil panen. Revolusi Industri terus berkembang, tetapi mesin belum menguasai seluruh kehidupan. Sebagian besar manusia masih hidup di pedesaan, bekerja dengan tenaga tubuh dan hewan, serta bergantung pada tanah, hujan, dan perubahan musim.

Lima tahun kemudian, sebuah gunung di Pulau Sumbawa meletus dengan kekuatan luar biasa.

Letusan Gunung Tambora pada April 1815 menghancurkan permukiman, menewaskan manusia secara langsung, merusak pertanian, mencemari sumber air, dan memicu kelaparan serta penyakit di pulau-pulau sekitarnya. Material serta gas yang mencapai atmosfer kemudian memengaruhi iklim dalam skala yang jauh lebih luas.

Pada 1816, berbagai bagian Eropa dan Amerika Utara mengalami musim yang sangat dingin, basah, dan tidak menentu. Panen gagal, harga pangan meningkat, penyakit menyebar, dan masyarakat berpindah mencari kehidupan yang lebih baik. Periode tersebut kemudian dikenal sebagai Tahun Tanpa Musim Panas.

Namun, Tambora bukan satu-satunya kekuatan yang mengubah dasawarsa ini.

Perang Napoleon berakhir. Peta Eropa ditata kembali. Gerakan kemerdekaan berkembang di Amerika Latin. Britania menyerbu Jawa, menggulingkan pemerintahan kolonial Belanda-Prancis, lalu mengembalikan wilayah tersebut kepada Belanda beberapa tahun kemudian. Pandemi kolera pertama mulai bergerak keluar dari wilayah Bengal. Mesin, transportasi, ilmu pengetahuan, dan produksi industri terus berkembang.

Dunia pada 1810–1820 memperlihatkan bagaimana letusan gunung api, keadaan atmosfer, produksi pangan, peperangan, perdagangan, kekuasaan, penyakit, dan perpindahan manusia dapat saling bertemu dalam satu rangkaian sejarah.

Dalam satu dasawarsa, sebuah gunung di Nusantara mengguncang kehidupan di sekitarnya, mengubah langit dunia, dan memperlihatkan bahwa tidak ada wilayah di Bumi yang benar-benar berdiri sendiri.

1810–1820: Bumi Berada di Era Apa?

Dalam pembagian waktu geologi modern, periode 1810–1820 masih berada dalam kala Holosen. Istilah Antroposen telah digunakan dalam perdebatan ilmiah untuk menggambarkan masa ketika aktivitas manusia menjadi kekuatan besar yang memengaruhi sistem Bumi, tetapi belum ditetapkan sebagai kala geologi resmi.

Dalam sejarah peradaban, periode ini berada pada:

  • penghujung Perang Napoleon;
  • penataan kembali kekuasaan Eropa melalui Kongres Wina;
  • gelombang awal kemerdekaan Amerika Latin;
  • fase perkembangan Revolusi Industri;
  • bagian akhir Little Ice Age atau Zaman Es Kecil;
  • periode aktivitas Matahari rendah yang dikenal sebagai Dalton Minimum;
  • rangkaian gangguan iklim setelah letusan tak teridentifikasi sekitar 1808–1809;
  • letusan besar Tambora pada 1815;
  • krisis pangan dan Tahun Tanpa Musim Panas pada 1816;
  • serta awal pandemi kolera pertama pada 1817.

Seperti pada Catatan sebelumnya, rentang 1810–1820 digunakan sebagai kerangka satu dasawarsa. Peristiwa yang berlangsung melewati batas tahun tidak dipotong secara paksa, tetapi pembahasannya tetap berfokus pada keadaan dan perubahan yang terjadi dalam periode ini.

Penduduk Dunia dan Pertumbuhan yang Tidak Merata

Tidak pernah ada sensus dunia serentak pada 1810 atau 1820. Jumlah penduduk global pada masa tersebut merupakan hasil estimasi dan rekonstruksi historis.

Berdasarkan rangkaian data penduduk jangka panjang, jumlah manusia di dunia telah melampaui satu miliar jiwa pada awal abad ke-19 dan terus meningkat selama dasawarsa ini.

Pertumbuhan tersebut tidak terjadi secara merata. Asia menampung bagian terbesar penduduk dunia. Tiongkok dan wilayah Asia Selatan memiliki populasi sangat besar, sementara berbagai bagian Eropa juga mengalami pertumbuhan.

Namun, jumlah penduduk tidak menggambarkan kualitas kehidupan. Tingginya kematian bayi, penyakit menular, kekurangan pangan, peperangan, serta persalinan yang berbahaya masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Penduduk dunia tetap didominasi masyarakat pedesaan. Kota-kota tumbuh, terutama di pusat perdagangan dan industri, tetapi sebagian besar manusia masih bekerja dalam pertanian, peternakan, perikanan, kerajinan, dan perdagangan berskala lokal.

Kehidupan Manusia dan Ketergantungan terhadap Tanah

Bagi sebagian besar keluarga, kehidupan bergantung pada keberhasilan panen. Tidak adanya jaringan transportasi cepat, penyimpanan modern, pendingin, serta bantuan sosial yang luas membuat gangguan pertanian dapat berubah menjadi bencana kemanusiaan.

Ketika tanaman gagal tumbuh, dampaknya tidak berhenti pada berkurangnya makanan. Harga gandum, beras, kentang, dan bahan pangan lainnya dapat meningkat. Hewan ternak kekurangan pakan. Petani kehilangan pendapatan. Buruh kehilangan pekerjaan. Masyarakat miskin menjual barang, berutang, meninggalkan rumah, atau meminta bantuan.

Kelompok kaya masih memiliki kemampuan membeli pangan ketika harga meningkat. Sebaliknya, masyarakat miskin dapat kelaparan meskipun makanan tetap tersedia di pasar.

Karena itu, kelaparan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pangan yang diproduksi. Kelaparan juga berhubungan dengan harga, pendapatan, pengangkutan, distribusi, kekuasaan, peperangan, dan keputusan pemerintah.

Kesehatan dan Usia Harapan Hidup

Belum ada antibiotik, teori kuman belum diterima secara luas, dan hubungan antara air tercemar dengan berbagai penyakit belum dipahami seperti sekarang.

Cacar, malaria, tuberkulosis, tifus, disentri, demam kuning, infeksi pernapasan, serta penyakit setelah persalinan terus menyebabkan kematian. Luka yang pada masa modern dapat dirawat dengan mudah masih dapat berubah menjadi infeksi mematikan.

Vaksinasi cacar mulai menyebar ke berbagai wilayah setelah pengembangan metode Edward Jenner pada akhir abad ke-18. Namun, aksesnya belum merata. Kesulitan membawa bahan vaksin dalam perjalanan jauh, penolakan masyarakat, keterbatasan tenaga kesehatan, dan lemahnya pemerintahan menghambat penyebarannya.

Usia harapan hidup ketika lahir tetap rendah, terutama akibat tingginya kematian bayi dan anak. Angka yang rendah tidak berarti semua manusia meninggal pada usia muda. Seseorang yang berhasil melewati masa kanak-kanak dapat hidup hingga usia lanjut, tetapi peluang untuk bertahan sejak kelahiran jauh lebih buruk dibandingkan masa modern.

Dunia yang Masih Dikuasai Pertanian

Pertanian merupakan dasar kehidupan dan perekonomian sebagian besar masyarakat. Beras, gandum, jagung, kentang, singkong, millet, sorgum, sagu, dan berbagai tanaman lokal menjadi sumber pangan utama.

Produksi pertanian sangat dipengaruhi oleh:

  • hujan dan panjang musim;
  • suhu;
  • banjir dan kekeringan;
  • hama dan penyakit tanaman;
  • ketersediaan benih;
  • kondisi tanah;
  • peperangan;
  • jumlah tenaga kerja;
  • kepemilikan tanah;
  • pajak;
  • serta kemampuan membawa hasil panen ke pasar.

Di banyak tempat, cadangan pangan tidak cukup untuk menghadapi kegagalan panen selama beberapa musim berturut-turut.

Ketika letusan Tambora mengganggu iklim setelah 1815, dampaknya bertemu dengan masyarakat yang telah dilemahkan peperangan, kemiskinan, ketimpangan, dan sistem distribusi pangan yang terbatas.

Energi dan Revolusi Industri

Pada 1810–1820, sebagian besar energi dunia masih berasal dari biomassa, tenaga manusia, hewan, air, dan angin. Namun, penggunaan batu bara dan mesin uap terus berkembang di Britania Raya serta pusat industri tertentu.

Mesin digunakan untuk memompa air dari tambang, menggerakkan pabrik, mengolah bahan, dan membantu transportasi. Produksi tekstil semakin terpusat dalam pabrik, meskipun pekerjaan rumah tangga dan kerajinan tradisional tetap bertahan.

Industrialisasi membawa peningkatan produksi, tetapi juga menciptakan persoalan baru:

  • jam kerja yang panjang;
  • penggunaan tenaga anak;
  • kecelakaan kerja;
  • kepadatan permukiman buruh;
  • pencemaran udara dan air;
  • ketimpangan antara pemilik modal dan pekerja;
  • serta meningkatnya kebutuhan batu bara dan bahan mentah.

Perubahan energi ini belum menguasai seluruh dunia. Namun, pola yang terbentuk semakin jelas: produksi yang lebih besar membutuhkan lebih banyak energi, bahan mentah, tenaga kerja, transportasi, dan pasar.

Perkembangan Mesin dan Transportasi

Pada 1814, George Stephenson membangun salah satu lokomotif uap awal yang berhasil digunakan untuk mengangkut batu bara. Lokomotif belum menjadi alat transportasi umum seperti pada masa berikutnya, tetapi percobaan tersebut menunjukkan bahwa mesin uap dapat menggerakkan kendaraan di atas rel.

Pada 1815, Humphry Davy memperkenalkan lampu keselamatan untuk membantu mengurangi risiko ledakan gas di pertambangan batu bara. Lampu ini menjadi contoh bagaimana pertumbuhan industri menciptakan bahaya baru sekaligus mendorong perkembangan teknologi untuk mengurangi bahaya tersebut.

Pada 1817, Karl Drais memperkenalkan kendaraan roda dua tanpa pedal yang dikenal sebagai draisine. Kendaraan tersebut sering dianggap sebagai salah satu pendahulu sepeda modern.

Kadang-kadang penciptaan draisine dihubungkan secara langsung dengan kematian kuda akibat krisis pangan setelah Tambora. Hubungan tersebut masuk akal sebagai konteks zaman, tetapi tidak boleh dinyatakan sebagai satu-satunya penyebab tanpa bukti yang cukup. Penemuan biasanya lahir dari gabungan kebutuhan, eksperimen, pengetahuan teknis, dan keadaan sosial.

Perang Napoleon Memasuki Tahap Akhir

Pada awal dasawarsa, Napoleon Bonaparte masih menguasai wilayah luas di Eropa. Namun, kekuasaannya menghadapi perlawanan dari berbagai negara.

Pada 1812, Napoleon memimpin invasi besar ke Rusia. Pasukan Prancis dan sekutunya memasuki wilayah Rusia, tetapi menghadapi perlawanan, jarak yang sangat luas, masalah pasokan, penyakit, kelaparan, dan cuaca dingin.

Moskow diduduki, tetapi tidak memberikan kemenangan politik yang diharapkan. Pasukan Napoleon kemudian mundur dalam keadaan sangat buruk. Banyak prajurit tewas, terluka, sakit, tertangkap, atau meninggalkan pasukan.

Kegagalan di Rusia melemahkan kekuasaan Napoleon. Negara-negara lawannya membentuk koalisi baru. Pada 1813, pasukan Napoleon dikalahkan dalam Pertempuran Leipzig.

Pada 1814, pasukan koalisi memasuki Paris. Napoleon turun takhta dan dibuang ke Pulau Elba.

Namun, pada 1815 ia kembali ke Prancis dan mengambil alih kekuasaan selama masa yang dikenal sebagai Seratus Hari. Upaya terakhir tersebut berakhir setelah kekalahannya dalam Pertempuran Waterloo pada 18 Juni 1815.

Napoleon kemudian dibuang ke Pulau Saint Helena di Atlantik Selatan.

Kongres Wina dan Penataan Ulang Eropa

Setelah bertahun-tahun perang, negara-negara besar Eropa berkumpul dalam Kongres Wina untuk menata kembali batas wilayah dan keseimbangan kekuasaan.

Tujuan utamanya bukan membentuk demokrasi untuk seluruh masyarakat Eropa, melainkan mencegah satu negara kembali mendominasi benua dan memulihkan kestabilan berdasarkan kepentingan kerajaan serta kekuatan besar.

Kongres Wina membantu membentuk tatanan Eropa setelah Napoleon. Wilayah dipertukarkan, kerajaan dipulihkan, dan persekutuan baru dibentuk.

Kongres tersebut juga membahas perdagangan budak. Deklarasi mengenai penghapusan perdagangan budak menunjukkan meningkatnya tekanan politik terhadap praktik tersebut. Namun, pelaksanaan larangan tidak berlangsung serentak dan perbudakan tetap bertahan di banyak wilayah.

Berakhirnya perang tidak langsung membawa kesejahteraan. Negara-negara menghadapi utang, veteran yang kembali, kerusakan, perubahan perdagangan, pengangguran, serta tekanan sosial.

Hanya sekitar satu tahun setelah Waterloo, krisis iklim dan pangan 1816 menimpa masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dari perang panjang.

Perang 1812 di Amerika Utara

Amerika Serikat dan Britania Raya berperang pada 1812–1815. Penyebabnya meliputi gangguan terhadap pelayaran, perekrutan paksa pelaut oleh Britania, pembatasan perdagangan selama Perang Napoleon, serta persaingan politik dan wilayah.

Pertempuran berlangsung di perbatasan Amerika Serikat dan Kanada, kawasan Danau Besar, pesisir Atlantik, dan wilayah lainnya.

Pada 1814, pasukan Britania membakar sejumlah bangunan pemerintahan di Washington. Perjanjian Ghent ditandatangani pada akhir 1814 dan mengakhiri perang, meskipun berita perdamaian belum segera mencapai seluruh pasukan karena komunikasi masih lambat.

Pertempuran New Orleans berlangsung pada Januari 1815 setelah perjanjian ditandatangani, memperlihatkan bagaimana jarak dan keterlambatan informasi dapat membuat manusia terus bertempur meskipun keputusan damai telah dibuat.

Gelombang Kemerdekaan Amerika Latin

Krisis monarki Spanyol akibat invasi Napoleon membantu membuka ruang bagi gerakan politik di Amerika Latin.

Sejak sekitar 1810, berbagai wilayah membentuk pemerintahan, menyatakan kedaulatan, atau memulai perjuangan melawan kekuasaan kolonial Spanyol. Proses tersebut tidak berlangsung seragam dan tidak langsung menghasilkan negara stabil.

Di kawasan yang sekarang menjadi Venezuela, Kolombia, Argentina, Chile, Meksiko, dan wilayah lain, perang kemerdekaan melibatkan kelompok dengan kepentingan berbeda.

Simón Bolívar menjadi salah satu tokoh penting dalam perjuangan di bagian utara Amerika Selatan. José de San Martín memainkan peranan besar di kawasan selatan.

Kemerdekaan tidak otomatis menghapus ketimpangan sosial, perbudakan, konflik rasial, atau persaingan antarkelompok. Namun, runtuhnya kendali kolonial Spanyol mengubah peta politik benua Amerika.

Pada 1819, kemenangan pasukan Bolívar dalam Pertempuran Boyacá membantu membuka jalan bagi pembentukan Republik Kolombia Raya atau Gran Colombia.

Perbudakan Belum Berakhir

Meskipun Britania melarang perdagangan budak pada 1807 dan Amerika Serikat melarang impor budak pada 1808, perbudakan tetap bertahan.

Larangan perdagangan tidak sama dengan pembebasan manusia yang telah diperbudak. Perdagangan ilegal juga tetap berlangsung melalui berbagai jalur.

Perkebunan gula, kapas, kopi, dan komoditas lain masih menggunakan tenaga orang yang diperbudak. Ekspansi produksi kapas di Amerika Serikat bahkan meningkatkan permintaan terhadap tenaga budak di dalam negeri.

Angkatan Laut Britania mulai melakukan operasi untuk menekan perdagangan budak Atlantik. Namun, wilayah laut sangat luas dan jaringan perdagangan manusia terus mencari cara menghindari larangan.

Dasawarsa ini menunjukkan bahwa perubahan hukum dapat menjadi langkah penting, tetapi hukum tidak langsung menghapus sistem ekonomi, kepentingan politik, dan kekerasan yang telah dibangun selama berabad-abad.

Kekaisaran dan Perdagangan di Asia

Kekaisaran Qing masih memerintah Tiongkok, tetapi menghadapi tekanan penduduk, persoalan pemerintahan, pemberontakan, dan peningkatan perdagangan asing.

Di Asia Selatan, Perusahaan Hindia Timur Britania terus memperluas pengaruhnya. Britania bukan hanya perusahaan dagang, tetapi semakin bertindak sebagai kekuatan teritorial dan militer.

Perang Inggris–Nepal berlangsung pada 1814–1816. Setelah perang tersebut, Perusahaan Hindia Timur memperoleh pengaruh baru dan mulai merekrut lebih banyak prajurit Gurkha.

Perang Inggris–Maratha Ketiga pada 1817–1818 melemahkan kekuatan Maratha dan memperluas dominasi Britania di India.

Perluasan kekuasaan Britania di Asia berhubungan dengan perdagangan, pajak, militer, penguasaan tanah, serta kebutuhan memperoleh bahan mentah dan pasar.

Awal Pandemi Kolera Pertama

Pada 1817, kolera mulai menyebar keluar dari wilayah Bengal dalam gelombang yang kemudian dikenal sebagai pandemi kolera pertama.

Kolera menyebabkan diare akut dan kehilangan cairan dengan sangat cepat. Penyakit tersebut menyebar terutama melalui makanan atau air yang tercemar bakteri Vibrio cholerae.

Pada masa itu, bakteri penyebab kolera belum diketahui. Hubungan antara penyakit, sanitasi, dan air tercemar belum dipahami secara lengkap.

Pergerakan tentara, pedagang, peziarah, kapal, dan penduduk membantu penyakit menyebar melalui jalur darat dan laut.

Pandemi tersebut memperlihatkan bahwa jaringan perdagangan dan pergerakan manusia tidak hanya membawa barang serta pengetahuan. Jaringan yang sama dapat membawa penyakit melintasi wilayah yang sangat luas.

Hubungan langsung antara perubahan iklim setelah Tambora dan munculnya pandemi kolera masih menjadi bahan penelitian. Perubahan hujan, suhu, kualitas air, kekurangan pangan, dan perpindahan manusia mungkin ikut memengaruhi keadaan yang memungkinkan penyakit menyebar. Namun, Tambora tidak boleh dinyatakan sebagai satu-satunya penyebab pandemi.

Aktivitas Matahari dan Dalton Minimum

Periode 1810–1820 berada dalam Dalton Minimum, yaitu masa ketika jumlah bintik Matahari relatif rendah dibandingkan beberapa periode lainnya.

Siklus Matahari ke-5 mencapai minimum sekitar 1810. Siklus berikutnya berlangsung dengan aktivitas yang tetap relatif rendah dan mencapai maksimum sekitar 1816.

Rekonstruksi aktivitas Matahari pada masa ini berasal dari catatan pengamatan bintik Matahari yang tidak selengkap data modern. Jumlah pengamat, kualitas teleskop, dan hari pengamatan berbeda-beda.

Aktivitas Matahari dapat memengaruhi energi yang mencapai sistem Bumi. Namun, cuaca ekstrem dan pendinginan setelah 1815 tidak boleh dijelaskan hanya melalui Dalton Minimum.

Penelitian menunjukkan bahwa aerosol sulfat dari Tambora memainkan peranan besar dalam gangguan iklim setelah letusan. Pada saat yang sama, keadaan laut, atmosfer, aktivitas Matahari, letusan sekitar 1808–1809, dan variasi alami iklim dapat ikut membentuk pola regional.

Tidak ada bukti ilmiah yang cukup untuk menyatakan bahwa rendahnya aktivitas Matahari menyebabkan letusan Tambora, gempa bumi, perang, atau wabah.

Gunung Tambora Sebelum Letusan

Gunung Tambora berada di Semenanjung Sanggar, Pulau Sumbawa, di wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia.

Sebelum 1815, Tambora merupakan gunung yang sangat tinggi. Rekonstruksi geologi memperkirakan ketinggiannya pernah mencapai sekitar 4.000 meter atau lebih sebelum puncaknya runtuh akibat letusan.

Aktivitas gunung diperkirakan telah meningkat sejak beberapa tahun sebelum letusan utama. Namun, belum ada lembaga pemantauan gunung api, alat seismik, satelit, sensor gas, peta bahaya, atau sistem evakuasi modern.

Masyarakat di sekitar Tambora tidak memiliki informasi ilmiah yang dapat menjelaskan seberapa besar ancaman yang sedang tumbuh di bawah gunung.

Pada 5 April 1815, suara ledakan terdengar hingga wilayah yang jauh. Karena sumbernya belum diketahui, sebagian orang mengira suara tersebut berasal dari meriam atau pertempuran.

Kesalahan tersebut dapat dipahami dalam konteks zaman. Dunia sedang berada dalam perang, komunikasi sangat lambat, dan belum ada jaringan pemantauan gunung api yang dapat segera memastikan sumber suara.

Malam 10 April 1815

Pada malam 10 April 1815, Tambora memasuki fase letusan yang sangat dahsyat.

Catatan yang dihimpun pemerintah Britania di Jawa menggambarkan kolom api yang muncul dari puncak, kemudian menyatu di udara. Ledakan besar diikuti jatuhan material, aliran piroklastik, angin kuat, kegelapan, dan kehancuran luas.

Aliran piroklastik bergerak menuruni gunung dan mencapai laut di berbagai sisi semenanjung. Permukiman di sekitar gunung hancur. Material letusan menutupi tanah dan merusak tanaman.

Puncak Tambora runtuh dan membentuk kaldera besar, dengan lebar sekitar enam kilometer. Ketinggian gunung berkurang secara drastis.

Smithsonian Global Volcanism Program menyebut letusan Tambora 1815 sebagai letusan eksplosif terbesar dalam sejarah yang terdokumentasi. Perkiraan volumenya berbeda bergantung pada metode yang digunakan, tetapi skala letusannya ditempatkan pada Volcanic Explosivity Index 7.

Suara letusan terdengar hingga ratusan bahkan lebih dari seribu kilometer. Abu jatuh di Sumbawa, Lombok, Bali, Jawa, Sulawesi, dan wilayah lainnya dengan ketebalan berbeda.

Kehancuran di Sumbawa dan Pulau Sekitarnya

Dampak langsung letusan meliputi:

  • kematian akibat aliran piroklastik dan material letusan;
  • runtuhnya permukiman;
  • tertutupnya lahan pertanian oleh abu;
  • hilangnya ternak;
  • rusaknya sumber air;
  • kegelapan akibat abu;
  • gangguan pelayaran;
  • serta kemungkinan gelombang laut di sejumlah pesisir.

Bencana tidak berhenti ketika suara ledakan berakhir.

Tanaman pangan rusak. Air tercemar. Hewan mati atau tidak memiliki makanan. Masyarakat yang selamat kehilangan rumah, persediaan, ladang, dan alat untuk bertahan hidup.

Kelaparan serta penyakit kemudian menambah jumlah korban di Sumbawa, Lombok, Bali, dan wilayah lainnya.

Jumlah korban letusan Tambora berbeda menurut sumber dan metode perhitungan. Catatan penduduk pada 1815 tidak lengkap, sedangkan kematian terjadi melalui berbagai tahap.

Smithsonian menyebut perkiraan sekitar 60.000 kematian akibat letusan dan kelaparan sesudahnya. Penelitian lain menghasilkan rentang lebih rendah atau lebih tinggi. Karena itu, satu angka tidak boleh ditampilkan seolah-olah merupakan jumlah pasti.

Hal yang dapat dipastikan adalah bahwa korban tidak hanya berasal dari ledakan dan aliran piroklastik. Kelaparan, penyakit, rusaknya pertanian, hilangnya ternak, dan tercemarnya air memperpanjang bencana jauh setelah letusan utama.

Kesaksian yang Dikumpulkan Raffles

Ketika Tambora meletus, Jawa berada di bawah pemerintahan Britania dan Thomas Stamford Raffles menjabat sebagai Letnan Gubernur.

Raffles meminta laporan dari berbagai daerah untuk mengetahui sumber ledakan dan tingkat kerusakan. Salah satu orang yang dikirim ke Sumbawa adalah Letnan Owen Phillips.

Phillips bertemu dengan Raja Sanggar yang selamat dari letusan. Kesaksian tersebut menjadi salah satu sumber penting mengenai keadaan di sekitar Tambora.

Laporan dari berbagai daerah kemudian dihimpun dan diterbitkan melalui lingkungan ilmiah Batavia. Catatan tersebut sangat berharga karena letusan terjadi sebelum hadirnya kamera, telegraf, seismograf modern, dan pemantauan satelit.

Namun, laporan kolonial tetap harus dibaca secara kritis. Catatan tersebut dibuat melalui sudut pandang pejabat, pelaut, pedagang, dan penguasa tertentu. Suara masyarakat biasa yang meninggal, mengungsi, kehilangan keluarga, atau menghadapi kelaparan jauh lebih sedikit tersimpan.

Tambora tercatat karena beberapa laporan berhasil diselamatkan. Namun, sebagian besar suara korban tetap hilang bersama desa, keluarga, dan kehidupan yang dihancurkan letusan.

Material Letusan dan Atmosfer

Letusan besar dapat mengirimkan sulfur dioksida ke stratosfer. Gas tersebut bereaksi dan membentuk aerosol sulfat yang memantulkan sebagian radiasi Matahari kembali ke angkasa.

Abu vulkanik yang lebih berat jatuh relatif cepat, terutama dekat sumber letusan. Aerosol sulfat yang sangat kecil dapat bertahan lebih lama dan menyebar lebih luas melalui atmosfer.

Karena Tambora berada di daerah tropis dan letusannya sangat besar, materialnya dapat tersebar ke kedua belahan Bumi.

Dampak iklim tidak berlangsung dengan cara yang sama di setiap wilayah. Sebagian tempat mengalami pendinginan, hujan berlebihan, atau perubahan musim, sedangkan tempat lain dapat mengalami pola yang berbeda.

Letusan bukan tombol yang menurunkan suhu seluruh Bumi secara seragam. Dampaknya dibentuk oleh sirkulasi atmosfer, laut, musim, posisi geografis, dan keadaan iklim yang telah ada sebelumnya.

Tahun Tanpa Musim Panas 1816

Tahun 1816 kemudian dikenal sebagai Year Without a Summer atau Tahun Tanpa Musim Panas, terutama dalam sejarah Eropa dan Amerika Utara.

Berbagai wilayah mengalami suhu musim panas yang rendah, hujan berlebihan, embun beku, atau salju pada waktu yang tidak biasa. Kondisi tersebut merusak tanaman dan mengurangi hasil panen.

Penelitian iklim menunjukkan bahwa Tambora memainkan peranan besar dalam gangguan tersebut. Namun, pengaruh letusan tak teridentifikasi sekitar 1808–1809, Dalton Minimum, keadaan laut, dan variasi iklim internal juga menjadi bagian dari konteks dasawarsa yang dingin.

Sebuah penelitian pemodelan memperkirakan penurunan suhu global sekitar 1 derajat Celsius pada 1816 dan berkurangnya presipitasi global. Penelitian lain memberikan angka yang berbeda bergantung pada wilayah, jenis data, dan metode.

Penurunan satu derajat dalam rata-rata global mungkin terdengar kecil. Namun, perubahan tersebut dapat menghasilkan dampak regional yang besar ketika terjadi pada musim tanam dan bertemu dengan masyarakat yang memiliki cadangan pangan terbatas.

Krisis Pangan di Eropa

Eropa baru keluar dari perang panjang ketika cuaca buruk melanda pertanian.

Hujan, suhu rendah, dan musim tanam yang terganggu menyebabkan hasil gandum, kentang, oat, serta tanaman lain menurun di sejumlah wilayah. Harga pangan meningkat dan masyarakat miskin menghadapi tekanan paling berat.

Krisis tersebut tidak disebabkan cuaca saja. Dampaknya diperburuk oleh:

  • kerusakan dan utang akibat perang;
  • kemiskinan;
  • distribusi pangan yang buruk;
  • ketimpangan kepemilikan tanah;
  • perdagangan yang terganggu;
  • kebijakan pemerintah;
  • serta terbatasnya perlindungan sosial.

Di beberapa kota dan daerah, kelangkaan serta mahalnya pangan memicu protes, kerusuhan pasar, pencurian, dan perpindahan penduduk.

Masyarakat menggunakan bahan pengganti untuk membuat roti atau makanan ketika tepung yang baik sulit diperoleh. Kekurangan gizi melemahkan tubuh dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit.

Krisis 1816–1817 sering dipandang sebagai salah satu krisis penghidupan besar terakhir di Eropa Barat sebelum sistem pertanian, transportasi, perdagangan, dan bantuan sosial berkembang lebih jauh.

Amerika Utara dan “Tahun Makarel”

Di wilayah New England, Amerika Serikat, suhu rendah dan embun beku merusak jagung serta tanaman lainnya. USGS mencatat penelitian yang memperkirakan hasil panen di sebagian New England mungkin turun sangat besar.

Tahun 1816 juga disebut sebagai Mackerel Year atau Tahun Makarel di sejumlah catatan New England. Ketika hasil pertanian buruk, ikan makarel menjadi sumber pangan penting bagi sebagian masyarakat pesisir.

Perubahan tersebut memperlihatkan kemampuan manusia beradaptasi dengan menggunakan sumber pangan lain. Namun, tidak semua keluarga tinggal dekat laut atau memiliki akses terhadap ikan.

Krisis pertanian ikut mendorong sebagian penduduk berpindah ke wilayah barat Amerika Serikat. Akan tetapi, migrasi tidak boleh dijelaskan hanya melalui Tambora. Harga tanah, perluasan wilayah, pertumbuhan penduduk, dan kebijakan politik juga memengaruhi perpindahan tersebut.

Asia dan Perubahan Musim

Dampak Tambora tidak terbatas pada Eropa dan Amerika Utara. Penelitian menemukan perubahan suhu, hujan, dan pola musim di berbagai bagian Asia.

Di Tiongkok, catatan sejarah dan rekonstruksi iklim menunjukkan keadaan dingin, banjir, serta kegagalan panen di sejumlah wilayah. Namun, dampaknya berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya.

Di Asia Selatan, perubahan monsun, kekeringan atau hujan berlebihan, keadaan pangan, dan penyebaran penyakit menjadi bagian dari krisis yang rumit.

Hubungan antara Tambora, perubahan monsun, kelaparan, dan kolera masih terus diteliti. Tidak seluruh bencana sosial pada periode tersebut dapat dikaitkan hanya kepada satu letusan.

Iklim dapat menciptakan tekanan, tetapi dampak akhirnya ditentukan pula oleh kemiskinan, perdagangan, sanitasi, konflik, pemerintahan, dan kemampuan masyarakat beradaptasi.

Dampak Budaya dan Ilmu Pengetahuan

Musim panas yang dingin dan basah pada 1816 memengaruhi kehidupan sosial dan budaya.

Di sekitar Danau Jenewa, Mary Shelley mulai mengembangkan cerita yang kemudian menjadi novel Frankenstein, diterbitkan pada 1818. John Polidori juga mengembangkan kisah yang kelak diterbitkan sebagai The Vampyre.

Hubungan antara cuaca buruk dan pertemuan para penulis tersebut terdokumentasi. Namun, tidak tepat menyatakan bahwa Tambora seorang diri “menciptakan” karya-karya itu. Letusan membentuk keadaan lingkungan, sementara karya lahir melalui pengalaman, imajinasi, percakapan, dan kemampuan penulis.

Warna langit dan matahari terbenam setelah letusan juga sering dihubungkan dengan lukisan seniman Eropa. Hubungan tersebut menarik, tetapi setiap lukisan harus dinilai berdasarkan waktu pembuatannya dan bukti sejarah, bukan hanya kemiripan warna.

Tambora juga mendorong penelitian mengenai hubungan gunung api dan iklim. Namun, masyarakat pada 1816 belum mengetahui bahwa cuaca aneh yang mereka alami berkaitan dengan letusan di Sumbawa. Hubungan tersebut baru dipahami melalui perkembangan ilmu pada masa berikutnya.

Nusantara pada Awal 1810-an

Pada awal periode ini, negara Indonesia belum terbentuk. Wilayah yang sekarang menjadi Indonesia terdiri atas kerajaan, kesultanan, komunitas adat, pusat perdagangan, dan daerah dengan tingkat pengaruh kolonial berbeda-beda.

Di Jawa, Herman Willem Daendels masih memerintah hingga 1811. Ia telah memperkuat militer, melakukan sentralisasi administrasi, dan membangun Jalan Raya Pos untuk mempercepat komunikasi serta pertahanan.

Namun, Belanda berada di bawah pengaruh Prancis dan Britania memandang Jawa sebagai bagian dari pertarungan global melawan Napoleon.

Nusantara tidak sepenuhnya berada di bawah satu pemerintahan. Banyak kerajaan dan kesultanan tetap mengatur wilayahnya. Pengaruh kolonial kuat di beberapa pusat, tetapi terbatas atau tidak langsung di berbagai daerah lainnya.

Britania Menyerbu Jawa pada 1811

Pada 1811, pasukan Britania menyerbu Jawa. Pemerintahan kolonial Belanda-Prancis dikalahkan dan Jawa berada di bawah kekuasaan Britania.

Thomas Stamford Raffles kemudian diangkat sebagai Letnan Gubernur Jawa dan menjabat sampai 1816.

Pergantian kekuasaan tersebut tidak berarti masyarakat Jawa memperoleh kemerdekaan. Kekuasaan kolonial hanya berpindah dari pemerintahan yang terhubung dengan Belanda dan Prancis kepada Britania.

Pemerintahan Britania berusaha mengubah administrasi, perpajakan, dan penguasaan tanah. Raffles dikenal melalui upaya menerapkan sistem sewa tanah atau land rent.

Dalam praktiknya, sistem tersebut menghadapi berbagai kesulitan:

  • data tanah dan hasil pertanian tidak lengkap;
  • struktur kekuasaan lokal sangat rumit;
  • kemampuan administrasi terbatas;
  • pembayaran uang tunai belum menjadi kebiasaan di seluruh wilayah;
  • serta masyarakat tetap menghadapi pajak dan tekanan pemerintah kolonial.

Reformasi kolonial tidak dapat dinilai hanya dari bahasa pembaruan. Pertanyaan pentingnya adalah siapa yang memperoleh kekuasaan, siapa yang membayar, dan bagaimana dampaknya terhadap masyarakat.

Penyerangan Keraton Yogyakarta pada 1812

Pada Juni 1812, pasukan Britania menyerang Keraton Yogyakarta.

Peristiwa tersebut dikenal sebagai Geger Sepehi. Keraton diserbu, kekayaan serta naskah dirampas, dan Sultan Hamengkubuwono II diturunkan dari kekuasaan.

Penyerangan ini menjadi salah satu peristiwa penting dalam hubungan antara pemerintahan kolonial Britania dan kekuasaan Jawa.

British Museum menyebut Raffles sebagai tokoh yang mengizinkan serangan terhadap salah satu istana Jawa paling kuat. Pernyataan tersebut penting karena gambaran Raffles sebagai pembaru dan ilmuwan tidak boleh menghapus peranannya dalam penggunaan kekuatan militer kolonial.

Peristiwa ini juga memperlihatkan bahwa pengumpulan benda, naskah, pengetahuan, dan karya budaya pada masa kolonial dapat berlangsung bersamaan dengan perang, perampasan, dan ketimpangan kekuasaan.

Palembang dan Perebutan Pengaruh

Pergantian kekuasaan kolonial juga memengaruhi hubungan dengan Kesultanan Palembang.

Palembang memiliki kedudukan penting karena perdagangan, wilayah, dan sumber daya, termasuk timah di Bangka. Britania dan Belanda memiliki kepentingan terhadap kawasan tersebut.

Hubungan antara Raffles, pejabat Britania, dan Kesultanan Palembang diwarnai perjanjian, konflik, tuduhan, serta perebutan pengaruh.

Peristiwa Palembang memperlihatkan bahwa sejarah Nusantara pada masa ini tidak hanya terjadi di Jawa. Sumatra, Bangka, Maluku, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan kepulauan lainnya memiliki perjalanan politik serta hubungan kolonial masing-masing.

Kehidupan Masyarakat Nusantara

Sebagian besar masyarakat Nusantara hidup dari pertanian, perikanan, perdagangan, pelayaran, kerajinan, peternakan, dan pemanfaatan hutan.

Beras menjadi makanan penting di banyak wilayah, tetapi sagu, jagung, singkong, umbi-umbian, hasil laut, dan tanaman lokal juga menopang kehidupan masyarakat.

Pasar, sungai, jalur darat, pantai, dan pelabuhan menghubungkan desa dengan pusat kekuasaan serta perdagangan antarpulau.

Masyarakat Nusantara memiliki pengetahuan mengenai musim, arah angin, arus laut, bintang, gunung, obat-obatan, tanaman, serta tanda-tanda alam. Pengetahuan tersebut diwariskan melalui keluarga, pekerjaan, komunitas, tradisi lisan, naskah, dan lembaga keagamaan.

Namun, banyak catatan yang bertahan berasal dari pejabat kolonial. Kehidupan petani, nelayan, perempuan, pekerja, masyarakat adat, dan korban bencana lebih jarang ditulis dari sudut pandang mereka sendiri.

Tambora dalam Kehidupan Lokal

Bagi dunia, Tambora kemudian dikenal karena dampak iklim global. Namun, bagi masyarakat Sumbawa, Lombok, Bali, dan wilayah sekitarnya, letusan itu pertama-tama adalah bencana langsung.

Rumah hilang. Keluarga terpisah. Lahan tertutup material. Air menjadi sulit digunakan. Ternak mati. Perdagangan terganggu. Masyarakat kelaparan dan berpindah.

Menempatkan dampak global di atas penderitaan lokal akan menghasilkan gambaran sejarah yang tidak seimbang.

Tahun Tanpa Musim Panas penting bagi sejarah dunia, tetapi kehancuran di sekitar Tambora terjadi lebih dahulu dan ditanggung oleh masyarakat yang suaranya paling sedikit tersimpan dalam arsip.

Dunia mengingat musim panas yang hilang pada 1816. Masyarakat di sekitar Tambora telah kehilangan rumah, pangan, keluarga, dan masa depan sejak malam letusan pada 1815.

Berakhirnya Pemerintahan Britania di Jawa

Setelah Napoleon dikalahkan dan politik Eropa ditata kembali, wilayah kolonial Belanda dikembalikan melalui perjanjian antara kekuatan Eropa.

Pada 1816, pemerintahan Britania di Jawa berakhir dan kekuasaan kolonial Belanda dipulihkan.

Pergantian tersebut kembali menunjukkan bahwa masa depan masyarakat Nusantara sering diputuskan melalui perundingan kekuatan asing.

Bagi masyarakat, perubahan bendera pemerintahan tidak otomatis menghapus pajak, monopoli, kewajiban kerja, atau campur tangan kolonial.

Belanda kemudian membangun kembali pemerintahannya di Jawa dan wilayah lain. Sistem yang berkembang setelah 1816 akan menjadi bagian penting dalam pembentukan Hindia Belanda.

Namun, pada akhir dasawarsa ini, kekuasaan kolonial Belanda masih belum mencakup seluruh kepulauan secara langsung dan merata.

Raffles di Bengkulu dan Berdirinya Singapura

Setelah meninggalkan Jawa, Raffles kemudian bertugas di Bengkulu pada 1818.

Pada 1819, ia terlibat dalam pembentukan pusat perdagangan Britania di Singapura. Lokasinya berada di jalur strategis antara Samudra Hindia, Selat Malaka, Laut Cina Selatan, dan kepulauan Asia Tenggara.

Pendirian Singapura sebagai pusat perdagangan Britania mengubah keseimbangan kekuasaan dan jaringan perdagangan kawasan.

Namun, wilayah tersebut bukan ruang kosong. Ia berada dalam dunia politik Melayu yang memiliki penguasa, masyarakat, perjanjian, dan konflik internal.

Seperti perluasan kekuasaan kolonial lainnya, berdirinya Singapura harus dipahami sebagai hasil perdagangan, strategi geopolitik, perjanjian yang tidak setara, serta persaingan antara Britania dan Belanda.

Jejak Alam dan Rekonstruksi Bencana Nusantara

Pada 1810–1820 belum ada BMKG, jaringan seismograf, satelit cuaca, pengukur gas gunung api, sistem peringatan dini, atau komunikasi darurat modern.

Karena itu, keadaan alam dan bencana Nusantara pada masa tersebut ditelusuri melalui:

  • laporan pemerintahan kolonial;
  • catatan kerajaan dan masyarakat;
  • jurnal perjalanan;
  • laporan pelayaran;
  • surat pribadi;
  • surat kabar lama;
  • katalog gunung api;
  • endapan abu;
  • inti es;
  • lingkaran pohon;
  • sedimen;
  • karang;
  • endapan tsunami;
  • serta penelitian geologi dan paleoklimatologi modern.

Letusan Tambora menjadi contoh penting bagaimana sumber sejarah dan bukti alam dapat saling melengkapi.

Kesaksian manusia menjelaskan suara ledakan, kegelapan, jatuhan abu, kelaparan, dan kehancuran. Penelitian geologi menjelaskan volume material, aliran piroklastik, pembentukan kaldera, dan penyebaran abu. Inti es serta rekonstruksi iklim menunjukkan bahwa dampaknya mencapai atmosfer global.

Tidak semua bencana lain pada periode ini memiliki bukti selengkap Tambora. Ketiadaan catatan tidak berarti tidak ada gempa, tsunami, banjir, kekeringan, atau letusan lain. Namun, peristiwa yang belum didukung bukti memadai tidak boleh dimasukkan sebagai fakta pasti.

Hubungan antara Tambora, Pangan, Penyakit, dan Migrasi

Letusan Tambora memperlihatkan rangkaian hubungan yang panjang:

  • letusan mengeluarkan material dan sulfur;
  • aerosol menyebar melalui atmosfer;
  • keseimbangan energi Bumi berubah;
  • suhu dan pola hujan terganggu di berbagai wilayah;
  • musim tanam berubah;
  • hasil pertanian menurun;
  • harga pangan meningkat;
  • masyarakat miskin mengalami kelaparan;
  • kekurangan gizi meningkatkan kerentanan terhadap penyakit;
  • konflik sosial dan perpindahan penduduk terjadi;
  • serta pemerintah menghadapi tekanan untuk bertindak.

Namun, rangkaian tersebut bukan hubungan otomatis yang sama di setiap tempat.

Daerah dengan cadangan pangan, jalur perdagangan, pemerintahan yang mampu memberi bantuan, dan masyarakat yang lebih sejahtera memiliki peluang lebih besar menghadapi gangguan.

Daerah dengan kemiskinan, peperangan, ketimpangan, sanitasi buruk, dan transportasi terbatas lebih mudah berubah menjadi pusat krisis.

Dengan demikian, bencana alam menjadi bencana kemanusiaan melalui pertemuannya dengan keadaan sosial.

Apa yang Berubah Selama 1810–1820?

Dalam dasawarsa ini:

  • kekuasaan Napoleon mencapai kehancurannya;
  • Perang Napoleon berakhir;
  • Kongres Wina menata ulang peta Eropa;
  • Amerika Serikat dan Britania berperang;
  • gerakan kemerdekaan berkembang di Amerika Latin;
  • Britania memperluas kekuasaan di Asia Selatan;
  • Jawa dikuasai Britania pada 1811;
  • Keraton Yogyakarta diserang pada 1812;
  • Tambora meletus dahsyat pada 1815;
  • Tahun Tanpa Musim Panas terjadi pada 1816;
  • krisis pangan, penyakit, dan migrasi melanda berbagai wilayah;
  • pemerintahan kolonial Belanda kembali ke Jawa pada 1816;
  • pandemi kolera pertama mulai menyebar pada 1817;
  • lokomotif, lampu keselamatan tambang, dan kendaraan roda dua awal mulai dikembangkan;
  • serta Singapura dibentuk sebagai pusat perdagangan Britania pada 1819.

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa sejarah tidak bergerak melalui satu jalur.

Perang mengubah pemerintahan. Pemerintahan mengubah perdagangan. Perdagangan mengubah penggunaan tanah. Mesin mengubah kebutuhan energi. Letusan mengubah atmosfer. Atmosfer memengaruhi pertanian. Gangguan pangan memengaruhi kesehatan, migrasi, ekonomi, dan kestabilan masyarakat.

Kesimpulan Catatan #002

Periode 1810–1820 merupakan salah satu dasawarsa paling penting untuk memahami hubungan antara Bumi dan peradaban manusia.

Dalam politik, kekuasaan Napoleon runtuh dan peta Eropa ditata kembali. Di Amerika Latin, perjuangan kemerdekaan melemahkan kekuasaan kolonial Spanyol. Di Asia, Britania memperluas pengaruhnya, sedangkan Jawa mengalami pergantian dari pemerintahan Belanda-Prancis kepada Britania dan kembali lagi kepada Belanda.

Dalam teknologi, mesin uap terus berkembang. Lokomotif awal, lampu keselamatan tambang, dan kendaraan roda dua memperlihatkan perubahan kemampuan manusia.

Namun, peristiwa paling menentukan bagi sistem Bumi dalam periode ini berasal dari Tambora.

Letusan tersebut menghancurkan kehidupan di sekitar Sumbawa dan pulau-pulau terdekat. Setelah itu, dampaknya menjalar melalui atmosfer, memengaruhi iklim, pertanian, pangan, penyakit, dan perpindahan manusia di berbagai wilayah.

Tambora tidak sendirian menyebabkan seluruh krisis. Perang, kemiskinan, ketimpangan, kebijakan pemerintah, sanitasi, distribusi pangan, dan keadaan iklim sebelumnya ikut menentukan besarnya penderitaan.

Tetapi tanpa Tambora, sejarah 1815–1817 kemungkinan tidak akan berlangsung dengan bentuk yang sama.

Sebuah gunung tidak mengenal batas kerajaan, negara, bahasa, atau benua. Ketika materialnya mencapai atmosfer, seluruh dunia dapat menjadi bagian dari peristiwa yang sama.

Analisis Penulis — Armando Sinaga

Catatan #001 memperlihatkan manusia mulai memperbesar kekuatannya melalui batu bara, mesin, perdagangan, dan perluasan kekuasaan.

Catatan #002 memperlihatkan sisi lain hubungan manusia dengan Bumi: sebesar apa pun kerajaan, pasukan, dan teknologi pada masa itu, manusia tetap sangat rentan terhadap perubahan alam.

Napoleon dapat menggerakkan pasukan besar melintasi Eropa, tetapi pasokan, penyakit, jarak, dan cuaca membantu menghancurkan kekuatan militernya di Rusia.

Pemerintah dapat menggambar ulang peta Eropa melalui Kongres Wina, tetapi tidak dapat memerintahkan musim panas kembali normal pada 1816.

Pedagang dapat membawa barang melintasi samudra, tetapi jalur yang sama juga dapat membawa penyakit.

Pemerintah kolonial dapat berganti dari Belanda kepada Britania dan kembali kepada Belanda, tetapi masyarakat biasa tetap harus menghadapi pajak, kerja, perang, kelaparan, dan bencana.

Tambora memperlihatkan bahwa peristiwa lokal dapat menghasilkan akibat global. Namun, dampak global itu tidak dibagikan secara merata. Masyarakat miskin, masyarakat terjajah, petani kecil, pekerja, serta penduduk yang tidak memiliki cadangan menanggung penderitaan paling besar.

Dari bukti tersebut muncul satu pertanyaan:

Apabila satu letusan pada 1815 dapat mengganggu pangan, kesehatan, ekonomi, dan kehidupan manusia di berbagai benua, seberapa siap peradaban menghadapi gangguan serupa ketika dunia menjadi semakin padat dan saling bergantung?

Pertanyaan itu tidak dijawab melalui ketakutan atau ramalan. Jawabannya harus dicari melalui bukti, perbandingan antarperiode, serta kemampuan manusia belajar dari apa yang pernah terjadi.

Catatan Penelusuran

Catatan ini bukan daftar lengkap seluruh peristiwa yang terjadi di Bumi selama 1810–1820.

Masih banyak kehidupan, bencana, konflik, wabah, penemuan, perubahan lingkungan, serta peristiwa daerah yang mungkin tidak pernah dicatat, belum terdigitalisasi, tersimpan dalam bahasa yang belum berhasil ditelusuri, atau belum dapat dibuktikan melalui sumber yang tersedia.

Angka korban Tambora berbeda menurut sumber. Hal tersebut dipengaruhi keterbatasan pencatatan penduduk, luasnya wilayah terdampak, serta sulitnya memisahkan kematian langsung dari kematian akibat kelaparan dan penyakit.

Keadaan iklim 1816 juga tidak sama di seluruh dunia. Istilah Tahun Tanpa Musim Panas terutama menggambarkan pengalaman di Eropa dan Amerika Utara. Wilayah lain mengalami pola suhu dan hujan yang berbeda.

Hubungan antara Tambora, perubahan monsun, krisis pangan, migrasi, dan pandemi kolera masih memiliki bagian yang diperdebatkan. Karena itu, hubungan yang belum pasti tidak diperlakukan sebagai fakta tunggal.

Arsip kolonial lebih banyak mencatat pemerintah, pejabat, militer, perdagangan, dan elite. Kehidupan masyarakat biasa—terutama masyarakat adat, petani, nelayan, perempuan, anak-anak, pekerja, manusia yang diperbudak, serta korban bencana—lebih sedikit terdokumentasi dari sudut pandang mereka sendiri.

Bumi dari Masa ke Masa merangkum gambaran umum berdasarkan dokumen sejarah, kesaksian, arsip, penelitian ilmiah, dataset, katalog kebencanaan, dan sumber institusional yang dapat ditelusuri kembali.

Ketika suatu angka merupakan estimasi atau rekonstruksi, informasi tersebut dinyatakan sebagai estimasi atau rekonstruksi. Ketika bukti belum menghasilkan kepastian, ketidakpastian tetap dipertahankan.

Apa yang tertulis dalam Catatan ini bukanlah seluruh sejarah dunia. Ini adalah bagian dari sejarah yang masih berhasil ditemukan, dikumpulkan, dan dicatat kembali agar jejaknya tidak ikut hilang oleh waktu.

Sebab sejarah bukan hanya tentang peristiwa yang mengguncang dunia. Sejarah juga tentang manusia yang menanggung akibatnya, meskipun nama mereka tidak pernah masuk ke dalam arsip.

Sumber dan Referensi

Seluruh sumber daring berikut diakses pada 2 September 2026.

  1. Smithsonian Institution, Global Volcanism Program. Tambora. Data geologi, sejarah letusan, kaldera, material, dan perkiraan korban.
    https://volcano.si.edu/volcano.cfm?vn=264040

  2. Smithsonian Institution, Global Volcanism Program. Bulletin of the Global Volcanism Network: Tambora.
    https://volcano.si.edu/reports_bgvn.cfm?IssueMonth=08&IssueYear=2011

  3. NOAA National Centers for Environmental Information. Significant Volcanic Eruption: Tambora 1815.
    https://www.ngdc.noaa.gov/hazel/view/hazards/volcano/event-more-info/367

  4. US Geological Survey. New England’s 1816 “Mackerel Year,” Volcanoes and Climate Change Today.
    https://www.usgs.gov/news/featured-story/new-englands-1816-mackerel-year-volcanoes-and-climate-change-today

  5. J. Kandlbauer, P. O. Hopcroft, P. J. Valdes, dan R. S. J. Sparks. Climate and Carbon Cycle Response to the 1815 Tambora Volcanic Eruption. Journal of Geophysical Research: Atmospheres, 2013. DOI: 10.1002/2013JD019767.
    https://agupubs.onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/2013JD019767

  6. Christoph C. Raible dan rekan-rekan. Tambora 1815 as a Test Case for High Impact Volcanic Eruptions: Earth System Effects. Wiley Interdisciplinary Reviews: Climate Change, 2016.
    https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6686350/

  7. John T. Fasullo dan rekan-rekan. The Amplifying Influence of Increased Ocean Stratification on a Future Year Without a Summer. Nature Communications, 2017.
    https://repository.library.noaa.gov/view/noaa/45593

  8. N. Wilson dan rekan-rekan. Impact of the Tambora Volcanic Eruption of 1815 on Islands and Relevance to Future Sunlight-Blocking Catastrophes. Scientific Reports, 2023.
    https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9985606/

  9. Robert B. Stothers. The Great Tambora Eruption in 1815 and Its Aftermath. Science, Volume 224, 1984.
    https://www.jstor.org/stable/1692039

  10. J. Kandlbauer dan R. S. J. Sparks. New Estimates of the 1815 Tambora Eruption Volume. Journal of Volcanology and Geothermal Research, 2014.
    https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0377027314002601

  11. European Geosciences Union Blogs. The Great Eruption of Tambora, April 1815. Memuat pembahasan laporan Raffles, kesaksian Raja Sanggar, dan penelitian geologi.
    https://blogs.egu.eu/network/volcanicdegassing/2015/04/03/the-great-eruption-of-tambora-april-1815/

  12. Sri Margana dan kajian terkait dalam Patrawidya. A Narration of the Impacts of the Tambora Eruption on Nature and Society.
    https://patrawidya.kemenbud.go.id/index.php/patrawidya/article/view/289

  13. World Health Organization. Cholera. Penjelasan mengenai penyebab dan penularan kolera.
    https://www.who.int/health-topics/cholera

  14. World Health Organization. Cholera Studies: World Incidence. Pembahasan sejarah kolera sebelum dan sejak pandemi 1817.
    https://iris.who.int/bitstream/handle/10665/266014/PMC2542277.pdf

  15. N. Howard-Jones. The Scientific Background of the International Sanitary Conferences, 1851–1938. World Health Organization, 1975.
    https://iris.who.int/bitstreams/015e0941-c8ec-4b77-8f07-81d52bc14bb1/download

  16. UK Parliament. The Congress of Vienna and Abolition of the Slave Trade.
    https://committees.parliament.uk/committee/326/petitions-committee/news/99318/the-congress-of-vienna-and-abolition-of-the-slave-trade/

  17. British Museum. Collecting and Empire. Pembahasan Raffles, pemerintahan Britania di Jawa, dan penyerangan terhadap keraton Jawa.
    https://www.britishmuseum.org/visit/object-trails/collecting-and-empire-trail

  18. British Museum. Collecting and Empire: Large Print Guide.
    https://www.britishmuseum.org/sites/default/files/2024-10/Collecting_and_empire_large_print_guide.pdf

  19. British Museum. The History of Java; Raffles 1817. Catatan bibliografi karya Thomas Stamford Raffles.
    https://www.britishmuseum.org/collection/term/BIB6886

  20. National Library Board Singapore. Raffles in Southeast Asia. Sumber dan panduan mengenai Raffles di Jawa, Bengkulu, dan kawasan Asia Tenggara.
    https://reference.nlb.gov.sg/guides/singapore/history/raffles-sea/

  21. Nationaal Archief Nederland. Arsip pemerintahan dan koleksi peta Hindia Timur.
    https://www.nationaalarchief.nl/

  22. Our World in Data. Population. Dataset penduduk historis dunia.
    https://ourworldindata.org/grapher/population

  23. Our World in Data. Population Sources. Penjelasan sumber serta metode rekonstruksi penduduk historis.
    https://ourworldindata.org/population-sources

  24. Our World in Data. Global Primary Energy Use by Source. Rekonstruksi penggunaan energi historis.
    https://ourworldindata.org/grapher/global-primary-energy-by-source

  25. NASA Technical Reports Server. Kajian mengenai interaksi gunung api, iklim, dan Dalton Minimum.
    https://ntrs.nasa.gov/api/citations/19910012328/downloads/19910012328.pdf