PUSTAHA • ARTIKEL

Patahan Sumatera dan Zona Subduksi Sunda: Memahami Pertemuan Lempeng di Barat Sumatera

Menelusuri sistem subduksi di sebelah barat Sumatera, pergerakan lempeng, Palung Sunda, proses penunjaman, konvergensi miring, serta hubungannya dengan Sesar Besar Sumatera, gempa bumi, dan aktivitas vulkanik.

Dipublikasikan 3 September 2026
Patahan Sumatera dan Zona Subduksi Sunda: Memahami Pertemuan Lempeng di Barat Sumatera

Patahan Sumatera dan Zona Subduksi Sunda

Untuk memahami mengapa Pulau Sumatera memiliki Sesar Besar Sumatera, gunung api aktif, dan sejarah gempa bumi yang panjang, kita perlu meninggalkan daratan sejenak dan bergerak ke arah barat menuju Samudra Hindia.

Di bawah laut terdapat salah satu bagian terpenting dari sistem tektonik Indonesia: zona subduksi sepanjang Busur Sunda.

Di kawasan inilah litosfer samudra bergerak menuju Sumatera dan menunjam ke bawah lempeng atas.

Proses tersebut berlangsung sangat lambat jika dilihat dalam kehidupan manusia, tetapi terus bekerja selama waktu geologi dan menghasilkan deformasi kerak, gempa bumi, pembentukan magma, serta berbagai struktur tektonik yang membentuk kawasan Sumatera.

Sesar Besar Sumatera yang telah kita bahas pada artikel sebelumnya bukan struktur yang berdiri sendiri.

Keberadaannya berkaitan erat dengan cara konvergensi lempeng berlangsung secara miring di sepanjang Sumatera.

Apa Itu Zona Subduksi?

Zona subduksi adalah kawasan tempat satu lempeng litosfer bergerak masuk ke bawah lempeng lainnya dan kemudian turun menuju bagian dalam Bumi.

Pada sistem Sumatera, litosfer samudra dari sistem Indo-Australia bergerak menuju batas lempeng di sebelah barat Sumatera dan menunjam ke bawah lempeng atas yang secara regional sering disebut Lempeng Sunda.

Namun nomenklatur lempeng di kawasan ini memerlukan sedikit kehati-hatian.

Dalam literatur tektonik regional, hubungan tersebut sering dijelaskan sebagai konvergensi Indo-Australia dan Sunda.

Pada bagian tertentu di utara Sumatera dan Andaman, penelitian juga menggunakan istilah India Plate dan Burma microplate.

Sementara di bagian lain Sumatera dapat digunakan Australia Plate dan Sunda Plate.

Perbedaan istilah tersebut mencerminkan kompleksitas tektonik regional dan skala pembahasan yang digunakan oleh masing-masing penelitian.

Karena itu, dalam artikel ini istilah "sistem Indo-Australia" dan "Lempeng Sunda" digunakan sebagai penyederhanaan regional, tanpa bermaksud menyatakan bahwa seluruh kawasan dari selatan Sumatera hingga Andaman terdiri atas dua blok yang sepenuhnya sederhana dan seragam.

Di Mana Zona Subduksi Sumatera?

Zona subduksi berada di sebelah barat Pulau Sumatera.

Dari daratan Sumatera menuju Samudra Hindia, pembaca dapat membayangkan susunan konseptual sebagai berikut:

Samudra Hindia ↓ Lempeng samudra yang bergerak menuju Sumatera ↓ Palung Sunda ↓ Bidang kontak antarlempeng / megathrust ↓ Forearc atau busur muka ↓ Kepulauan di sebelah barat Sumatera, termasuk Mentawai ↓ Pulau Sumatera ↓ Pegunungan Barisan dan busur vulkanik ↓ Sesar Besar Sumatera di daratan

Susunan tersebut merupakan penyederhanaan untuk membantu memahami geometri regional.

Struktur sebenarnya berbentuk tiga dimensi, melengkung, memiliki kedalaman berbeda, dan jauh lebih kompleks daripada sebuah diagram dua dimensi.

Palung Sunda: Jejak Sistem Subduksi di Dasar Laut

Salah satu struktur penting di sebelah barat Sumatera adalah Palung Sunda atau Sunda Trench.

Palung tersebut merupakan ekspresi morfologi dasar laut yang berkaitan dengan batas subduksi.

USGS menjelaskan bahwa tempat sistem thrust antarlempeng mencapai dasar laut ditandai oleh Sunda Trench, yang dapat ditelusuri sepanjang busur dari kawasan utara menuju Jawa.

Namun Palung Sunda dan megathrust tidak boleh dianggap sebagai benda yang sama.

Palung merupakan fitur topografi dasar laut.

Megathrust adalah bidang patahan besar pada antarmuka lempeng.

Sementara zona subduksi adalah keseluruhan sistem tempat satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya.

Dengan demikian:

Palung ≠ Megathrust ≠ Seluruh Zona Subduksi.

Ketiganya berhubungan erat, tetapi menggambarkan bagian yang berbeda dari sistem tektonik.

Apa yang Sebenarnya Menunjam?

Yang masuk ke bawah Sumatera bukan hanya lapisan tipis dasar laut.

Bagian litosfer samudra bergerak memasuki zona subduksi.

Ketika bergerak semakin dalam, slab yang menunjam dapat menghasilkan gempa pada kedalaman yang jauh lebih besar daripada gempa kerak dangkal.

Karena itu gempa di kawasan Sumatera dapat berasal dari beberapa lingkungan sumber yang berbeda.

Secara sederhana, antara lain:

  1. gempa pada antarmuka lempeng atau megathrust;
  2. gempa di dalam lempeng yang sedang menunjam atau intraslab;
  3. gempa pada sesar kerak di lempeng atas, termasuk Sesar Besar Sumatera;
  4. gempa pada struktur aktif lainnya di kawasan forearc maupun daratan.

Inilah sebabnya lokasi episentrum di sekitar Sumatera saja belum cukup untuk menentukan jenis sumber gempanya.

Kedalaman hiposenter, mekanisme sumber, distribusi gempa susulan, dan posisi terhadap struktur tektonik perlu dianalisis.

Mengapa Pertemuan Lempeng di Sumatera Bersifat Miring?

Salah satu kunci untuk memahami tektonik Sumatera adalah kata oblique, atau miring.

Arah gerakan relatif lempeng tidak tegak lurus sempurna terhadap arah Palung Sunda di sepanjang Sumatera.

Dengan kata lain, lempeng tidak hanya bergerak langsung menuju palung.

Gerak relatifnya juga memiliki komponen yang sejajar dengan arah busur dan palung.

Derajat kemiringan ini juga tidak seragam sepanjang seluruh sistem.

Penelitian tektonik menunjukkan bahwa obliquity atau kemiringan konvergensi berubah sepanjang Sumatera dan cenderung semakin nyata menuju bagian utara.

Fenomena inilah yang membantu menjelaskan mengapa deformasi Sumatera terbagi ke dalam beberapa struktur.

Slip Partitioning: Gerakan yang Terbagi

Bayangkan sebuah gaya bergerak secara diagonal.

Secara sederhana, gerakan diagonal tersebut dapat dipisahkan menjadi dua komponen:

komponen menuju atau melintasi palung

dan

komponen sejajar palung.

Pada Sumatera, pembagian deformasi semacam ini dikenal sebagai slip partitioning.

Sebagian besar deformasi kompresional antarlempeng diakomodasi pada sistem subduksi dan megathrust.

Sementara bagian penting dari komponen lateral atau sejajar busur diakomodasi oleh struktur strike-slip di lempeng atas, terutama Sesar Besar Sumatera.

Karena itulah Great Sumatran Fault memiliki gerakan dominan geser menganan.

Jadi keberadaan Sesar Sumatera di daratan bukan sebuah kebetulan yang terpisah dari subduksi di laut.

Keduanya merupakan bagian dari respons kawasan terhadap konvergensi lempeng yang miring.

Tetapi Pembagian Gerakan Tidak Selalu Sempurna

Diagram sederhana dapat memberi kesan seolah-olah seluruh gerakan tegak lurus palung masuk ke megathrust dan seluruh gerakan sejajar palung masuk ke Sesar Sumatera.

Alam tidak sesederhana itu.

Penelitian menunjukkan bahwa tingkat slip partitioning dapat berbeda sepanjang sistem.

Deformasi dapat didistribusikan ke berbagai struktur di forearc, lempeng atas, bahkan di dalam lempeng yang menunjam.

Peristiwa gempa besar strike-slip di Samudra Hindia pada April 2012 menjadi salah satu contoh penting bahwa deformasi kawasan tidak terbatas pada megathrust dan Sesar Sumatera.

Karena itu diagram dua komponen sangat berguna untuk memahami konsep dasar, tetapi tidak boleh dianggap sebagai gambaran lengkap seluruh deformasi tektonik Sumatera.

Apa Itu Forearc?

Di antara palung dan busur vulkanik Sumatera terdapat kawasan yang dikenal sebagai forearc atau busur muka.

Pada Sumatera, kawasan ini mencakup sistem kompleks yang melibatkan prisma akresi, cekungan forearc, kepulauan di sebelah barat Sumatera, dan berbagai struktur tektonik.

Kepulauan Mentawai merupakan salah satu bagian yang paling dikenal dari kawasan forearc Sumatera.

Posisinya sangat penting karena berada di antara palung dan daratan utama Sumatera.

Namun Kepulauan Mentawai bukan "garis megathrust".

Bidang megathrust berada di bawah kawasan yang jauh lebih luas dan merupakan antarmuka antara lempeng yang menunjam dengan lempeng atas.

Di kawasan forearc sendiri juga terdapat struktur patahan lainnya.

Struktur tersebut akan dibahas secara khusus dalam artikel tersendiri.

Apa Itu Megathrust?

Ketika lempeng samudra mulai menunjam, terdapat bidang kontak sangat luas antara lempeng yang turun dan lempeng yang berada di atasnya.

Bidang patahan antarlempeng tersebut dikenal sebagai megathrust.

Bagian tertentu dari bidang ini dapat terkunci selama suatu periode.

Meskipun bagian antarmuka terkunci, gerakan lempeng secara regional terus berlangsung.

Akibatnya deformasi elastik dan tegangan dapat terakumulasi.

Ketika suatu bagian bidang patahan akhirnya mengalami rupture, pergeseran dapat terjadi secara tiba-tiba dan menghasilkan gempa bumi.

Jika rupture sangat besar dan menyebabkan perpindahan dasar laut yang signifikan, perubahan tersebut dapat memindahkan kolom air dan menghasilkan tsunami.

Namun tidak setiap gempa di zona subduksi menghasilkan tsunami besar.

Besarnya tsunami dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lokasi rupture, kedalaman, mekanisme patahan, luas rupture, jumlah dan distribusi slip, deformasi dasar laut, serta kondisi batimetri dan pesisir.

Gempa Megathrust Bukan Gempa Sesar Sumatera

Perbedaan ini penting karena kedua istilah sering tercampur dalam percakapan umum.

Gempa Sesar Sumatera

umumnya merupakan gempa kerak yang berkaitan dengan pergerakan strike-slip pada sistem patahan daratan.

Gempa megathrust

terjadi pada bidang kontak antarlempeng di zona subduksi.

Keduanya dapat menghasilkan guncangan kuat.

Tetapi lokasi, geometri, mekanisme patahan, dimensi sumber, dan potensi tsunaminya dapat berbeda.

Karena itu sebuah gempa di Sumatera tidak boleh langsung disebut sebagai gempa megathrust ataupun gempa Sesar Sumatera sebelum sumbernya dianalisis.

Mengapa Megathrust Dapat Menghasilkan Gempa Sangat Besar?

Salah satu karakter penting zona subduksi adalah ukuran bidang kontak antarlempengnya yang sangat luas.

Rupture dapat dalam kondisi tertentu melibatkan bidang patahan yang panjang dan lebar.

Semakin luas area rupture dan semakin besar slip rata-rata, secara umum semakin besar pula momen seismik yang dapat dihasilkan.

Sejarah Sumatera menunjukkan kemampuan sistem subduksi tersebut menghasilkan gempa besar.

Peristiwa Sumatra–Andaman 26 Desember 2004 merupakan contoh ekstrem.

USGS menetapkan peristiwa tersebut sebagai gempa Mw 9,1 yang terjadi akibat thrust faulting pada antarmuka lempeng di kawasan utara Sumatera–Andaman.

Rupture gempa tersebut berkembang sepanjang bagian yang sangat panjang dari sistem subduksi dan menghasilkan tsunami dahsyat di Samudra Hindia.

Peristiwa tersebut merupakan bukti sejarah tentang kemampuan sistem subduksi menghasilkan gempa sangat besar, tetapi tidak dapat digunakan untuk menentukan tanggal kejadian serupa berikutnya.

Mengapa Ada Gunung Api di Sumatera?

Subduksi tidak hanya berkaitan dengan gempa bumi.

Ketika slab samudra turun semakin dalam, mineral dan material yang mengandung air mengalami perubahan akibat meningkatnya tekanan dan temperatur.

Fluida yang dilepaskan dari slab dapat masuk ke mantle wedge atau mantel di atas slab.

Kehadiran fluida tersebut membantu menurunkan temperatur pelelehan batuan mantel dan mendorong terbentuknya magma.

Sebagian magma kemudian dapat bergerak naik melalui kerak.

Dalam jangka waktu geologi, proses tersebut berkontribusi terhadap terbentuknya busur vulkanik Sumatera.

Pegunungan Barisan dan rangkaian gunung api Sumatera berada dalam lingkungan tektonik tersebut.

Namun penting untuk menghindari penyederhanaan:

bukan berarti setiap gempa subduksi akan memicu letusan gunung api.

Gempa tektonik dan aktivitas magmatik dapat berada dalam sistem regional yang sama, tetapi hubungan antara suatu gempa tertentu dan perubahan aktivitas sebuah gunung api harus dibuktikan dengan data pemantauan dan penelitian.

Mengapa Gempa Bisa Semakin Dalam ke Arah Daratan?

Slab tidak berhenti tepat di bawah palung.

Setelah memasuki zona subduksi, lempeng terus turun ke dalam mantel.

Karena itu sumber gempa yang berkaitan dengan slab dapat ditemukan pada kedalaman yang berbeda dan secara umum membentuk pola yang mengikuti lempeng yang menunjam.

Distribusi gempa tersebut membantu ahli seismologi memperkirakan geometri slab di bawah permukaan.

Gempa dangkal dekat palung dapat berkaitan dengan struktur yang berbeda dari gempa pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer.

Karena itu informasi "kedalaman gempa" memiliki arti penting dalam interpretasi tektonik.

Sistem Sumatera Jika Dilihat dari Samping

Secara konseptual, penampang Sumatera dapat dibayangkan seperti berikut:

SAMUDRA HINDIA ↓ Litosfer samudra bergerak menuju Sumatera ↓ PALUNG SUNDA
\ MEGATHRUST
\ SLAB MENUNJAM ____________________ FOREARC Kepulauan Mentawai ↓ PULAU SUMATERA ↓ PEGUNUNGAN BARISAN BUSUR VULKANIK ↓ SESAR SUMATERA

Diagram tersebut bukan gambar berskala dan hanya digunakan untuk menjelaskan hubungan posisi secara sederhana.

Pada kondisi sebenarnya, megathrust, slab, forearc, sesar, dan sistem magmatik memiliki geometri tiga dimensi yang jauh lebih kompleks.

Sumatera Jika Dilihat dari Atas

Jika dilihat dari atas, gambaran yang berbeda muncul.

Palung Sunda memanjang di Samudra Hindia sejajar secara umum dengan Sumatera.

Sementara Sesar Besar Sumatera memanjang mengikuti daratan dan Pegunungan Barisan.

Di antara keduanya terdapat kawasan forearc dan kepulauan di barat Sumatera.

Karena arah konvergensi lempeng miring terhadap palung, deformasi tidak hanya menghasilkan gerakan thrust pada batas lempeng tetapi juga komponen geser yang didistribusikan melalui sistem patahan lainnya.

Inilah hubungan mendasar antara zona subduksi dan Sesar Besar Sumatera.

Apakah Seluruh Zona Subduksi Selalu Terkunci?

Tidak.

Tingkat coupling atau penguncian antarlempeng dapat berbeda dari satu tempat ke tempat lain dan dapat berubah dalam ruang maupun waktu.

Ada bagian yang dapat mengalami penguncian lebih kuat, bagian yang mengalami creep atau pergeseran lebih stabil, dan bagian dengan perilaku yang lebih kompleks.

Untuk memperkirakan kondisi tersebut, peneliti menggunakan data seperti GNSS/GPS, seismologi, pengamatan deformasi, geologi, paleogeodesi, paleotsunami, serta pemodelan geofisika.

Karena kondisi bawah laut sulit diamati secara langsung, penelitian zona subduksi terus berkembang.

Inilah salah satu alasan peta sumber dan bahaya gempa perlu diperbarui ketika data dan metode baru tersedia.

Peta Gempa Indonesia Juga Terus Diperbarui

Indonesia tidak menggunakan satu peta sumber gempa untuk selamanya.

Pusat Studi Gempa Nasional atau PuSGeN melakukan pemutakhiran model sumber dan bahaya gempa berdasarkan perkembangan penelitian.

Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024, yang diterbitkan pada 2025, merupakan pembaruan terhadap Peta Gempa 2017.

Pemutakhiran tersebut antara lain mencakup geometri dan segmentasi sumber gempa, penambahan sumber gempa aktif, skenario rupture, magnitudo potensial, slip rate, serta pembaruan metode pemodelan bahaya.

Hal ini menunjukkan prinsip penting dalam ilmu kebumian:

peta tektonik merupakan representasi pengetahuan terbaik berdasarkan data yang tersedia pada suatu waktu, bukan sesuatu yang kebal terhadap pembaruan.

Zona Subduksi Bukan Garis Ramalan Gempa

Peta yang menunjukkan zona subduksi atau megathrust sering disalahartikan sebagai peta lokasi "gempa yang akan segera terjadi".

Interpretasi tersebut tidak tepat.

Peta sumber gempa menunjukkan struktur yang secara ilmiah diketahui atau dimodelkan mampu menghasilkan gempa.

Peta tersebut sangat penting untuk penilaian bahaya, desain bangunan, perencanaan infrastruktur dan mitigasi.

Tetapi keberadaan sebuah segmen megathrust tidak memberi tahu kita tanggal dan jam rupture berikutnya.

Demikian pula istilah seperti seismic gap, coupling, slip deficit, atau potensi magnitudo harus dibaca dalam konteks penelitian yang menghasilkannya.

Pandangan PUSTAHA: Dari Ketakutan Menuju Pemahaman

Bagi PUSTAHA, memahami zona subduksi Sumatera bukan berarti mencari wilayah mana yang akan mengalami gempa berikutnya.

Pertanyaan tersebut belum dapat dijawab secara pasti oleh ilmu pengetahuan saat ini.

Hal yang jauh lebih berguna adalah memahami mengapa gempa terjadi dan bagaimana masyarakat dapat hidup lebih aman di kawasan tektonik aktif.

Sumatera telah berada dalam lingkungan subduksi jauh sebelum kota, jalan, pelabuhan, dan permukiman modern dibangun.

Proses tektonik tersebut akan terus berlangsung dalam skala waktu geologi.

Manusia tidak dapat menghentikan pergerakan lempeng.

Namun manusia dapat meningkatkan kualitas bangunan, memahami jalur evakuasi, merencanakan tata ruang, menjaga sistem peringatan dini, melakukan pendidikan kebencanaan, dan menggunakan hasil penelitian sebagai dasar pengambilan keputusan.

Karena itu pengetahuan tentang gempa seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan:

"Seberapa besar gempanya?"

Tetapi berkembang menjadi:

"Apa yang sudah kita lakukan agar masyarakat lebih siap ketika gempa terjadi?"

Selanjutnya: Masuk ke Bidang Megathrust Sumatera

Kini hubungan dasarnya mulai terlihat.

Zona subduksi adalah sistem besarnya.

Palung Sunda merupakan salah satu ekspresi permukaannya di dasar laut.

Megathrust merupakan bidang patahan antarlempeng.

Forearc berada di antara palung dan busur vulkanik.

Sesar Besar Sumatera mengakomodasi bagian penting dari deformasi lateral akibat konvergensi miring.

Dan busur vulkanik berkembang sebagai konsekuensi jangka panjang proses subduksi.

Tetapi kita belum membedah bagian yang paling banyak dibicarakan ketika membahas ancaman gempa besar Sumatera:

Megathrust Sumatera.

Pada artikel berikutnya PUSTAHA akan membahas bagaimana megathrust dibagi menjadi beberapa bagian atau segmen, bagaimana ilmuwan mempelajari penguncian dan rupture masa lalu, gempa besar yang pernah terjadi, bagaimana tsunami dapat terbentuk, serta apa sebenarnya yang dimaksud ketika sebuah penelitian menyebut "potensi magnitudo".

Pembahasan tersebut akan tetap membedakan secara tegas antara catatan sejarah, hasil penelitian, model bahaya, dan prediksi yang memang belum dapat dilakukan secara pasti.


Catatan Redaksi PUSTAHA

Artikel ini disusun sebagai materi informasi dan edukasi berdasarkan sumber resmi, publikasi ilmiah, serta literatur yang tersedia pada saat penulisan. Penyederhanaan tertentu digunakan untuk membantu pembaca memahami sistem tektonik yang secara ilmiah jauh lebih kompleks.

Terminologi lempeng, batas struktur, geometri zona subduksi, segmentasi megathrust, laju pergerakan, coupling, dan parameter sumber gempa dapat berbeda menurut model, lokasi, metode penelitian, serta perkembangan data.

PUSTAHA tidak menggunakan artikel ini untuk memprediksi kapan, di mana, atau seberapa besar gempa bumi berikutnya akan terjadi. Informasi mengenai potensi sumber gempa tidak sama dengan prediksi waktu kejadian.

Untuk informasi gempa bumi terkini, peringatan dini tsunami, dan arahan kebencanaan di Indonesia, masyarakat dianjurkan mengikuti informasi resmi BMKG serta instansi pemerintah yang berwenang.

PUSTAHA berupaya menyajikan informasi secara akurat dan mencantumkan sumber yang dapat ditelusuri. Apabila pembaca menemukan kekeliruan data, penulisan, sumber, atau informasi yang memerlukan pembaruan, silakan menghubungi PUSTAHA melalui menu Kontak yang tersedia di situs ini agar dapat ditinjau dan diperbaiki.

Sumber dan Referensi

  1. U.S. Geological Survey (USGS), "Seismicity of the Earth 1900–2012: Sumatra and Vicinity." Open-File Report 2010–1083-L. Referensi mengenai sistem subduksi Sumatra–Andaman, konvergensi Indo-Australia–Sunda, Sunda Megathrust, Sesar Sumatera, dan distribusi seismisitas regional.

  2. U.S. Geological Survey (USGS), "Tsunami Generation from the 2004 M=9.1 Sumatra-Andaman Earthquake." Pacific Coastal and Marine Science Center. Digunakan untuk penjelasan mengenai Sunda Trench, interplate thrust/megathrust, konvergensi miring, dan hubungan dengan Great Sumatran Fault.

  3. U.S. Geological Survey (USGS), "M 9.1 – 2004 Sumatra–Andaman Islands Earthquake." Referensi mengenai mekanisme thrust gempa 26 Desember 2004 dan lingkungan tektonik Sumatra–Andaman.

  4. Baroux, E., Avouac, J.-P., Bellier, O., & Sébrier, M. (1998). "Slip-partitioning and fore-arc deformation at the Sunda Trench, Indonesia." Terra Nova. Digunakan untuk pembahasan konvergensi miring, slip partitioning, deformasi forearc, dan peranan Great Sumatran Fault.

  5. Ishii, M., Kiser, E., & Geist, E. L. (2013). "Mw 8.6 Sumatran earthquake of 11 April 2012: rare seaward expression of oblique subduction." Geology, 41(3), 319–322. DOI: 10.1130/G33783.1. Digunakan sebagai referensi mengenai kompleksitas deformasi akibat subduksi miring dan gempa intralempeng Samudra Hindia tahun 2012.

  6. Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), Kementerian Pekerjaan Umum. "Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024." Diterbitkan 2025. ISBN 978-602-9095-53-1. Referensi nasional untuk pemutakhiran sumber gempa, segmentasi, geometri, slip rate, magnitudo potensial, skenario rupture, dan pemodelan bahaya gempa Indonesia.

  7. Wirth, E. A., Sahakian, V. J., Wallace, L. M., & Melnick, D. (2022). "The occurrence and hazards of great subduction zone earthquakes." Nature Reviews Earth & Environment. Digunakan sebagai referensi umum mengenai karakter gempa besar zona subduksi dan faktor yang memengaruhi bahaya gempa serta tsunami.