PUSTAHA • ARTIKEL

Mulut Frankie MacDonald Terlalu Lebar untuk Sebuah Klaim Gempa: Ring of Fire Bukan Metode Prediksi

Frankie MacDonald berbicara tentang potensi gempa besar di Indonesia sebelum akhir 2026. PUSTAHA tidak sedang mengatakan klaim itu pasti salah—kami mencari sesuatu yang lebih mendasar: data apa yang digunakan, metode apa yang diterapkan, dan bagaimana Ring of Fire serta zona subduksi membawanya pada sebuah batas waktu?

Oleh Armando SinagaDipublikasikan 7 September 2026
Mulut Frankie MacDonald Terlalu Lebar untuk Sebuah Klaim Gempa: Ring of Fire Bukan Metode Prediksi

Ketika Klaim Gempa Besar Menjadi Viral

Nama Frankie MacDonald kembali menjadi pembicaraan di Indonesia setelah pernyataannya mengenai kemungkinan gempa besar di Indonesia beredar luas di media sosial dan diberitakan sejumlah media pada 7 September 2026.

Dalam pemberitaan yang beredar, Frankie dikaitkan dengan pernyataan mengenai gempa berkekuatan besar yang dapat memengaruhi Indonesia, termasuk Jawa dan Jakarta, dengan jendela waktu sebelum akhir 2026.

Besarnya magnitudo yang disebut, wilayah yang dibicarakan, serta adanya batas waktu membuat pernyataan tersebut pantas mendapatkan perhatian.

Namun PUSTAHA memilih tidak berhenti pada pertanyaan:

Apakah prediksi Frankie MacDonald akan benar?

Ada pertanyaan yang menurut kami harus datang lebih dahulu:

Bagaimana ia memperoleh kesimpulan tersebut?

Data apa yang digunakan?

Metode apa yang digunakan?

Apa indikatornya?

Bagaimana perhitungannya?

Dan bagaimana fakta bahwa Indonesia berada di Ring of Fire serta memiliki zona subduksi dapat menghasilkan sebuah jendela waktu yang berakhir pada 2026?

Itulah yang kami telusuri.


Apa Sebenarnya yang Dikatakan Frankie MacDonald?

Dalam salah satu unggahan Frankie MacDonald yang berhasil ditelusuri PUSTAHA, ia menyatakan Indonesia sudah sangat lama menunggu terjadinya gempa besar dan menyebut kemungkinan magnitudo 9,0 atau lebih maupun 7,0 atau lebih.

Ia juga menyebut Jawa, Jakarta, Asia Tenggara, zona subduksi, dan Pacific Ring of Fire.

Namun ada bagian yang sangat penting dari pernyataan Frankie sendiri.

Dalam unggahan yang sama ia juga mengatakan:

“we can't predict earthquakes” — kita tidak dapat memprediksi gempa.

Pernyataan itu penting karena menunjukkan bahwa Frankie sendiri mengakui keterbatasan kemampuan memprediksi gempa.

Persoalannya kemudian muncul ketika pernyataan mengenai bahaya gempa dikaitkan dengan magnitudo besar dan, dalam pemberitaan terbaru, jendela waktu sebelum akhir 2026.

PUSTAHA kemudian mencari bagian yang menurut kami paling penting:

metodenya.


Apa Metode yang Digunakan Frankie?

Sampai artikel ini disusun pada 7 September 2026, PUSTAHA belum menemukan dalam materi Frankie yang berhasil kami telusuri suatu penjelasan metodologis yang memperlihatkan bagaimana ia memperoleh batas waktu sebelum akhir 2026.

Kami menemukan penyebutan:

  • Pacific Ring of Fire;
  • zona subduksi;
  • potensi gempa besar;
  • Jawa dan Jakarta;
  • magnitudo besar;
  • serta berbagai imbauan kesiapsiagaan.

Tetapi kami belum menemukan penjelasan mengenai bagaimana seluruh informasi tersebut dihitung hingga menghasilkan jendela waktu 2026.

PUSTAHA juga belum menemukan dalam materi tersebut pemaparan model seismologi, dataset kegempaan tertentu, persamaan, analisis deformasi kerak, pengukuran GNSS, analisis slip deficit, kajian paleoseismologi, perubahan tegangan, model probabilitas, atau indikator terukur lainnya yang dinyatakan Frankie sebagai dasar untuk menghasilkan batas waktu tersebut.

Ini perlu ditulis dengan hati-hati:

PUSTAHA tidak menyatakan bahwa Frankie pasti tidak mempunyai metode.

Yang dapat kami katakan berdasarkan penelusuran adalah:

kami belum menemukan metode tersebut diperlihatkan dalam materi yang tersedia dan berhasil kami periksa.

Jika penjelasan metodologinya ada di tempat lain, kami membuka ruang koreksi dan akan mencatatnya.


Frankie Memiliki Cara Kerja untuk Informasi Cuaca

Ada fakta lain yang juga harus dicatat agar kritik ini adil.

Frankie bukan sosok yang sama sekali tidak mempunyai proses ketika membuat konten.

Pemberitaan Global News Kanada pada 2016, misalnya, menjelaskan bahwa dalam membuat laporan cuaca, Frankie terlebih dahulu melakukan riset menggunakan sumber seperti AccuWeather, The Weather Channel, dan situs lainnya sebelum membuat video prakiraan cuacanya.

Dengan demikian, tidak tepat jika PUSTAHA mengatakan:

“Frankie tidak mempunyai metode dalam melakukan apa pun.”

Kritik kami jauh lebih sempit dan spesifik:

Apa metode yang digunakannya untuk pernyataan mengenai gempa besar Indonesia dan batas waktu sebelum akhir 2026?

Metode membaca prakiraan cuaca dan metode untuk menentukan waktu terjadinya gempa adalah dua persoalan yang berbeda.


Apakah Frankie MacDonald Seorang Pakar Meteorologi?

Ini juga perlu diluruskan.

Dalam profil profesional yang dapat ditelusuri, Frankie MacDonald menyebut dirinya sebagai:

“Amateur Weatherman.”

Ia dikenal sebagai pengamat dan pembuat konten cuaca asal Sydney, Nova Scotia, Kanada.

Karena itu PUSTAHA memilih berhati-hati menggunakan istilah “pakar meteorologi” atau “ahli meteorologi” apabila istilah tersebut memberikan kesan bahwa Frankie memiliki kualifikasi akademik atau profesional tertentu yang belum dapat kami verifikasi.

Ini bukan persoalan merendahkan Frankie.

Seseorang tidak harus mempunyai gelar akademik untuk mempunyai pengamatan menarik atau gagasan yang layak didengar.

Namun ketika sebuah klaim disampaikan kepada publik dan kemudian diberitakan secara luas, identitas dan kapasitas sumber harus diterangkan secara tepat.

Terlebih ketika topiknya adalah gempa besar yang berpotensi menyangkut keselamatan masyarakat.


Ring of Fire Itu Nyata

Sekarang kita masuk ke bagian yang tidak boleh dicampuradukkan.

Indonesia memang berada dalam lingkungan tektonik yang sangat aktif.

Indonesia berada pada interaksi sejumlah lempeng tektonik dan memiliki banyak sumber gempa, termasuk zona subduksi yang dapat menghasilkan gempa besar.

Karena itu pembicaraan mengenai ancaman gempa Indonesia bukan sesuatu yang mengada-ada.

Istilah Ring of Fire juga bukan karangan Frankie.

Kawasan di sekitar Samudra Pasifik memang mempunyai aktivitas tektonik dan vulkanik yang sangat tinggi.

Jadi ketika Frankie mengatakan Indonesia berada di Ring of Fire dan memiliki zona subduksi, bagian tersebut mempunyai dasar geologi.

Tetapi persoalannya bukan di sana.


Ring of Fire Menjelaskan “Mengapa Bisa”, Bukan “Kapan Terjadi”

Inilah perbedaan yang menjadi pusat tulisan ini.

Mengatakan:

“Indonesia mempunyai sumber gempa yang mampu menghasilkan gempa sangat besar.”

berbeda dengan mengatakan:

“Gempa besar akan atau berpotensi terjadi sebelum akhir 2026.”

Pernyataan pertama membicarakan bahaya kegempaan.

Pernyataan kedua telah memasukkan jendela waktu.

Begitu sebuah batas waktu dimasukkan, pertanyaan metodologis menjadi jauh lebih penting.

Mengapa 2026?

Mengapa bukan 2027?

Mengapa bukan 2030?

Apa indikator yang menunjukkan jendela waktunya?

Bagaimana indikator tersebut diukur?

Bagaimana ketidakpastiannya dihitung?

Ring of Fire bukan kalender.

Zona subduksi bukan jam hitung mundur gempa.

Keduanya dapat membantu menjelaskan mengapa suatu wilayah mempunyai bahaya gempa, tetapi keberadaannya sendiri tidak memberikan tanggal kapan gempa berikutnya akan terjadi.


Apa Kata Ilmu Seismologi?

U.S. Geological Survey (USGS) memberikan penjelasan yang sangat tegas mengenai persoalan ini.

Menurut USGS, ilmuwan saat ini belum mampu memprediksi gempa besar dengan menentukan secara andal waktu, lokasi, dan magnitudonya sebelum gempa terjadi.

Yang dapat dilakukan ilmuwan antara lain menghitung probabilitas terjadinya gempa dengan magnitudo tertentu pada suatu wilayah dalam rentang waktu tertentu berdasarkan data dan model.

Ini berbeda dengan mengatakan sebuah gempa tertentu akan terjadi pada waktu tertentu.

USGS juga membedakan earthquake prediction, earthquake forecast, dan earthquake early warning.

Peringatan dini gempa bahkan bukan prediksi.

Sistem peringatan dini bekerja setelah gempa sudah mulai terjadi, kemudian memanfaatkan perbedaan kecepatan perjalanan informasi dan gelombang seismik untuk memberikan peringatan sebelum guncangan kuat mencapai lokasi tertentu.

Di Indonesia, BMKG juga menjelaskan bahwa hingga saat ini belum tersedia metode ilmiah yang akurat untuk menentukan secara pasti kapan, di mana, dan berapa besar gempa akan terjadi.

BMKG melakukan penelitian terhadap berbagai prekursor atau fenomena yang mungkin berkaitan dengan proses sebelum gempa, tetapi penelitian semacam itu tidak sama dengan kemampuan menentukan tanggal gempa berikutnya.


Kritik Armando Sinaga: Saya Bukan Seismolog, Justru Karena Itu Saya Ingin Mendengar Penjelasannya

Saya, Armando Sinaga, bukan meteorolog.

Saya bukan seismolog.

Saya bukan geolog.

Saya bukan geofisikawan.

Saya juga bukan peneliti yang mempunyai keahlian profesional dalam menganalisis ataupun memprediksi kegempaan.

Saya tidak mempunyai kapasitas untuk mengatakan kapan gempa akan terjadi.

Posisi saya dalam tulisan ini hanyalah sebagai penulis PUSTAHA.com yang membaca, mendengar, mencari sumber, kemudian mencoba memahami sebuah pernyataan yang telah disampaikan kepada publik.

Justru karena saya bukan ahli, ketika seorang ahli—atau seseorang yang diperkenalkan kepada masyarakat dengan kesan sebagai seorang ahli—berbicara, saya ingin mengetahui:

Bagaimana ia sampai kepada kesimpulannya?

Dalam kasus Frankie MacDonald, pertanyaan saya sangat spesifik:

Bagaimana Anda sampai kepada pernyataan mengenai gempa besar Indonesia sebelum akhir 2026?


Saya Tidak Menuntut Prediksi Seorang Ahli Harus Selalu Benar

Saya sudah berkali-kali membaca prediksi atau proyeksi ahli yang kemudian tidak terjadi persis seperti yang diperkirakan.

Bagi saya itu tidak otomatis membuat orang tersebut bodoh atau tidak kompeten.

Sebab sebelum kesimpulan diberikan, biasanya terdapat sesuatu yang dapat saya ikuti.

Ada data.

Ada pengamatan.

Ada hipotesis.

Ada model.

Ada perhitungan.

Ada asumsi.

Ada probabilitas.

Ada ketidakpastian.

Sebagai orang awam, mungkin saya tidak memahami seluruh persamaan matematikanya.

Tetapi setidaknya saya dapat mengetahui:

“Oh, ternyata data inilah yang membuat mereka mempertimbangkan kemungkinan tersebut.”

Atau:

“Ternyata perubahan inilah yang sedang diamati.”

Atau:

“Model inilah yang menghasilkan probabilitas tersebut.”

Kemudian kalau prediksinya ternyata meleset, masih ada sesuatu yang dapat dipelajari.

Kita bisa memeriksa metodenya.

Kita bisa menemukan asumsi yang salah.

Kita bisa memperbaiki modelnya.

Bahkan kegagalan dapat menghasilkan pengetahuan.

Itulah perbedaannya.


Kalau Frankie Memiliki Metode, Tunjukkan — Walaupun Nantinya Salah

Saya tidak meminta Frankie menjamin bahwa gempa besar benar-benar akan terjadi sebelum akhir 2026.

Anggaplah Frankie mempunyai metode sendiri.

Anggaplah ia mengolah suatu data.

Anggaplah ada pola tertentu yang menurutnya penting.

Anggaplah perhitungannya kemudian menghasilkan kesimpulan bahwa gempa besar mempunyai kemungkinan terjadi sebelum akhir 2026.

Baik.

Tunjukkan metodenya.

Biarkan metode tersebut diperiksa.

Mungkin seismolog kemudian mengatakan metodenya salah.

Mungkin datanya terlalu sedikit.

Mungkin asumsinya keliru.

Mungkin korelasi yang ditemukan tidak mempunyai kemampuan prediktif.

Mungkin hasilnya akhirnya gagal total.

Tidak masalah.

Setidaknya sekarang kita mengetahui mengapa Frankie mengatakan 2026.

Ada sesuatu yang dapat diperiksa.

Ada sesuatu yang dapat dibantah.

Ada sesuatu yang dapat dipelajari.


Contohnya Saya Sendiri

Mari saya tempatkan diri saya sendiri sebagai contoh agar arah kritik ini tidak disalahpahami.

Anggaplah besok saya menulis di PUSTAHA:

“Sumatera Utara berpotensi mengalami gempa M8 sebelum akhir 2027.”

Jangan langsung percaya kepada saya.

Jangan percaya hanya karena nama saya Armando Sinaga.

Jangan percaya hanya karena saya mempunyai PUSTAHA.

Jangan percaya hanya karena saya sudah menulis banyak artikel mengenai gempa, patahan Sumatera, gunung api, atau Kaldera Toba.

Tanyakan:

Armando, dari mana M8 itu?

Mengapa Sumatera Utara?

Mengapa 2027?

Apa datanya?

Apa metodenya?

Bagaimana perhitungannya?

Kalau saya menjawab:

“Karena Sumatera berada di Ring of Fire dan mempunyai zona subduksi.”

maka saya sebenarnya belum menjawab pertanyaan tersebut.

Saya baru menjelaskan mengapa kawasan itu mempunyai ancaman gempa.

Saya belum menjelaskan mengapa saya menentukan M8 dan 2027.

Masyarakat berhak menolak memperlakukan perkataan saya sebagai sebuah prediksi ilmiah sampai saya menunjukkan bagaimana kesimpulan itu diperoleh.

Standar yang saya gunakan terhadap Frankie harus berlaku juga kepada saya.


Sekarang Bayangkan Saya Membawa Data

Situasinya berbeda apabila saya mengatakan:

Saya menggunakan dataset tertentu.

Ini sumber datanya.

Ini rentang waktunya.

Ini parameter yang saya analisis.

Ini model yang saya gunakan.

Ini asumsi saya.

Ini perhitungannya.

Ini hasilnya.

Ini margin kesalahannya.

Ini tingkat ketidakpastiannya.

Dan berdasarkan seluruh proses tersebut saya memperoleh suatu probabilitas.

Sekarang ada sesuatu yang dapat diuji.

Seorang ahli mungkin kemudian mengatakan:

“Armando, analisismu salah.”

Bagus.

Tunjukkan bagian yang salah.

Mungkin parameter saya memang tidak relevan.

Mungkin model saya tidak dapat digunakan untuk tujuan tersebut.

Mungkin saya salah memahami datanya.

Saya mendapatkan sesuatu untuk dipelajari.

Metode yang salah masih dapat diperiksa.

Sementara sebuah kesimpulan tanpa jalan metodologis membuat pembaca tidak mengetahui apa yang sebenarnya harus diperiksa.


Bahkan Kalau Gempa Itu Benar-Benar Terjadi

Sekarang mari kita memberikan ruang paling besar kepada Frankie.

Anggaplah sebelum 31 Desember 2026 Indonesia benar-benar mengalami gempa sangat besar.

Apakah saya akan langsung mengatakan:

“Frankie terbukti memiliki kemampuan memprediksi gempa”?

Belum.

Saya akan kembali kepada pertanyaan yang sama:

Bagaimana ia mengetahuinya sebelum kejadian?

Apakah terdapat metode yang telah diperlihatkan sebelumnya?

Apakah metode tersebut menghasilkan lokasi, rentang magnitudo dan jendela waktu?

Apakah metode tersebut dapat diterapkan kembali?

Apakah orang lain dapat menguji atau mereplikasinya?

Atau sebuah gempa kemudian kebetulan masuk ke dalam rentang klaim yang sebelumnya sangat luas?

Kejadian yang sesuai dengan sebuah pernyataan memang menarik.

Tetapi dalam ilmu pengetahuan, hasil yang terlihat cocok tidak otomatis membuktikan proses yang menghasilkan klaim tersebut benar.

Sebaliknya, apabila batas waktu berakhir dan kejadian yang dimaksud tidak terjadi, itu juga harus dicatat.

Prediksi yang berhasil tidak boleh menjadi satu-satunya yang diingat.

Prediksi yang gagal juga merupakan bagian dari rekam jejak.


Pertanyaan kepada Media: Mengapa Tidak Bertanya “Bagaimana Menghitungnya?”

Kritik PUSTAHA tidak berhenti pada Frankie.

Klaim seperti ini kemudian mendapatkan kekuatan jauh lebih besar ketika diberitakan media.

Perlu dicatat secara adil bahwa tidak semua media Indonesia memberitakannya tanpa kritik. Sejumlah pemberitaan menyebut Frankie sebagai pengamat cuaca amatir dan memberikan konteks bahwa gempa belum dapat diprediksi secara tepat.

Itu penting dan patut dicatat.

Namun fenomena pemberitaannya tetap menyisakan pertanyaan.

Ketika sebuah klaim memuat:

Indonesia.

Jakarta/Jawa.

M7.

M9 atau lebih.

Sebelum akhir 2026.

bukankah pertanyaan jurnalistik yang paling menarik justru:

“Bagaimana Anda mendapatkan angka tersebut?”

Siapa sumbernya?

Apa kompetensinya?

Dalam kapasitas apa ia berbicara?

Apa datanya?

Apa metodenya?

Apa perhitungannya?

Apakah pendekatannya mempunyai dasar dalam penelitian seismologi?

Bagaimana tanggapan lembaga yang memang mempunyai kompetensi di bidang kegempaan?

Pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya lebih penting daripada sekadar fakta bahwa videonya sedang viral.


Viral Bukan Metode Verifikasi

Sebuah video viral merupakan fakta sosial.

Kalau jutaan orang membicarakannya, itu dapat menjadi sesuatu yang layak diberitakan.

Tetapi viralitas tidak meningkatkan kualitas ilmiah sebuah klaim.

Seribu orang membagikan suatu pernyataan tidak mengubah metodologinya.

Seratus media menulis ulang sebuah klaim juga tidak membuat klaim tersebut menjadi hasil penelitian.

Justru ketika suatu informasi berpotensi menimbulkan kekhawatiran masyarakat, standar verifikasinya seharusnya semakin tinggi.

Media seharusnya menjadi lapisan pemeriksaan antara sebuah klaim dan masyarakat.

Bukan sekadar pengeras suara bagi sesuatu yang sedang ramai.

Kalau setiap sesuatu yang viral cukup dikutip, diberikan judul besar, lalu dilempar kembali kepada masyarakat tanpa menguji bagaimana kesimpulannya diperoleh, saya sebagai penulis mempertanyakan:

mau dibawa ke mana cara kita memperlakukan informasi seperti ini?


Jangan Bersembunyi di Balik Kata “Berpotensi”

Ada satu persoalan bahasa yang juga penting.

Kata “berpotensi” memang berbeda dari kata “pasti akan terjadi.”

Tetapi menambahkan kata “berpotensi” tidak otomatis menyelesaikan persoalan metodologi apabila klaim tersebut juga memasukkan batas waktu.

Mengatakan:

“Indonesia berpotensi mengalami gempa besar.”

merupakan pernyataan mengenai bahaya kegempaan yang dapat dibahas berdasarkan kondisi tektonik.

Tetapi mengatakan:

“Indonesia berpotensi mengalami gempa besar sebelum akhir 2026.”

telah menambahkan jendela waktu.

Maka kita kembali kepada pertanyaan:

Dari mana 2026 berasal?

Apa yang membuat 2026 berbeda dari 2027?

Kalau tidak ada data atau metode yang menghasilkan batas tersebut, angka tahun dapat memberikan kesan presisi yang lebih besar daripada dasar ilmiah yang sebenarnya tersedia.


Kritik Ini Bukan Pernyataan bahwa Indonesia Aman

PUSTAHA menegaskan bahwa artikel ini bukan bantahan terhadap bahaya gempa di Indonesia.

Kami tidak mengatakan gempa besar mustahil terjadi.

Kami juga tidak mengatakan masyarakat tidak perlu bersiap.

Justru sebaliknya.

Indonesia menghadapi ancaman kegempaan nyata dan kesiapsiagaan harus dipandang serius.

Bangunan yang lebih aman, pengetahuan mengenai tindakan ketika gempa, jalur evakuasi tsunami, latihan kesiapsiagaan, informasi resmi dan pendidikan kebencanaan jauh lebih penting daripada menunggu sebuah tanggal ramalan.

Ancaman yang nyata justru merupakan alasan mengapa informasi tentang gempa harus disampaikan dengan sangat hati-hati.


PUSTAHA Membuka Koreksi Selebar-lebarnya

Penelusuran ini mempunyai batas.

PUSTAHA tidak mengklaim telah membaca setiap video, tulisan, wawancara dan unggahan yang pernah dibuat Frankie MacDonald sepanjang hidupnya.

Karena itu kami membuka kemungkinan bahwa terdapat penjelasan metodologis yang belum kami temukan.

Apabila Frankie pernah menerangkan secara terperinci:

  • dataset yang digunakan;
  • indikator yang diamati;
  • model yang diterapkan;
  • metode perhitungannya;
  • hubungan indikator dengan kejadian gempa;
  • tingkat probabilitas;
  • tingkat ketidakpastian;
  • dan terutama bagaimana proses tersebut menghasilkan batas waktu sebelum akhir 2026,

maka informasi tersebut penting untuk diperlihatkan.

PUSTAHA bersedia membacanya.

Jika bukti tersebut membuat sebagian artikel ini perlu dikoreksi, maka koreksi harus dilakukan.

Karena tujuan tulisan ini bukan memenangkan perdebatan melawan Frankie MacDonald.

Tujuannya adalah meminta dasar dari sebuah klaim yang telah disampaikan kepada masyarakat.


Kesimpulan: Kami Sudah Mendengar Kesimpulannya, Sekarang Tunjukkan Jalannya

Frankie MacDonald telah berbicara.

Kami sudah mendengar Ring of Fire.

Kami sudah mendengar zona subduksi.

Kami sudah mendengar kemungkinan gempa besar.

Kami sudah mendengar Jawa dan Jakarta.

Kami juga sudah mendengar batas waktu sebelum akhir 2026 yang diberitakan luas.

Sekarang PUSTAHA ingin mendengar bagian yang belum kami temukan:

metodenya.

Sebagai penulis yang secara terbuka mengakui bukan seismolog, saya tidak sedang mencoba mengajari Frankie MacDonald tentang gempa.

Justru sebaliknya.

Saya meminta penjelasan.

Frankie, apa data Anda?

Apa indikator Anda?

Apa hipotesis Anda?

Apa metode Anda?

Bagaimana Anda menghitungnya?

Dan pertanyaan yang menjadi inti seluruh artikel ini:

Bagaimana Ring of Fire dan zona subduksi membawa Anda sampai kepada “sebelum akhir 2026”?

Kalau ada metodenya, tunjukkan.

Mari kita baca.

Mari kita pelajari.

Kalau salah, biarkan diuji dan dikritik.

Kalau benar, biarkan bukti yang berbicara.

Tetapi sampai metode tersebut diperlihatkan, Ring of Fire tetaplah penjelasan mengenai bahaya tektonik—bukan kalender yang menunjukkan kapan gempa berikutnya akan datang.

— Armando Sinaga Penulis PUSTAHA.com


Catatan Redaksi

Artikel ini merupakan artikel analisis dan kritik, bukan prediksi kegempaan dan bukan pernyataan bahwa gempa besar akan atau tidak akan terjadi sebelum akhir 2026.

PUSTAHA tidak memiliki kewenangan untuk memberikan informasi resmi mengenai kegempaan. Untuk informasi gempa dan mitigasi di Indonesia, masyarakat dianjurkan mengikuti informasi resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang berhasil ditelusuri hingga 7 September 2026. Apabila ditemukan penjelasan metodologi Frankie MacDonald yang relevan dan belum tercantum dalam tulisan ini, artikel dapat diperbarui sebagai bagian dari prinsip koreksi dan verifikasi PUSTAHA.

Sumber & Referensi

  1. Frankie MacDonald — unggahan mengenai potensi gempa besar Indonesia. Dalam materi tersebut Frankie menyebut Indonesia, Jawa, Jakarta, zona subduksi, Pacific Ring of Fire, magnitudo besar, sekaligus menyatakan bahwa gempa tidak dapat diprediksi.

  2. BMKG — “Prediksi Gempabumi: Bisa atau Belum Bisa?” BMKG menjelaskan keterbatasan ilmu pengetahuan dalam memprediksi waktu, lokasi, dan magnitudo gempa secara akurat serta membedakan prediksi dengan penelitian prekursor.

  3. U.S. Geological Survey (USGS) — “Can You Predict Earthquakes?” USGS menjelaskan bahwa ilmuwan belum mampu memprediksi gempa besar secara tepat dan membedakan prediksi dengan perhitungan probabilitas kegempaan.

  4. U.S. Geological Survey (USGS) — Earthquake Early Warning. Menjelaskan perbedaan antara prediksi gempa dan sistem peringatan dini yang bekerja setelah gempa mulai terjadi.

  5. Global News Canada — profil dan cara kerja Frankie MacDonald dalam membuat laporan cuaca. Pemberitaan menjelaskan penggunaan sumber informasi cuaca sebelum Frankie membuat laporan cuacanya.

  6. Profil Frankie MacDonald. Frankie mendeskripsikan dirinya sebagai amateur weatherman dari Nova Scotia, Kanada.

  7. Pemberitaan Indonesia, 7 September 2026. Digunakan untuk menelusuri bagaimana klaim mengenai Indonesia/Jawa/Jakarta dan batas waktu sebelum akhir 2026 disampaikan kepada publik.

Frankie MacDonald Prediksi Gempa Indonesia 2026, Apa Metodenya? | PUSTAHA