PUSTAHA • ARTIKEL

Megathrust Sumatera: Mengenal Sumber Gempa Besar di Barat Pulau Sumatera

Memahami bidang megathrust di zona subduksi Sumatera, mekanisme penguncian dan rupture, segmentasi sumber gempa, hubungan dengan Kepulauan Mentawai, serta bagaimana gempa bawah laut dapat menghasilkan tsunami.

Dipublikasikan 3 September 2026
Megathrust Sumatera: Mengenal Sumber Gempa Besar di Barat Pulau Sumatera

Megathrust Sumatera: Mengenal Sumber Gempa Besar di Barat Pulau Sumatera

Di sebelah barat Pulau Sumatera, jauh di bawah laut dan sebagian berada di bawah kawasan kepulauan busur muka, terdapat salah satu struktur tektonik terpenting di Indonesia: bagian Sumatera dari Sunda Megathrust.

Istilah "megathrust" sering muncul ketika terjadi pembahasan mengenai gempa besar dan tsunami.

Namun istilah ini juga sering disalahpahami.

Megathrust bukan sebuah lubang besar di dasar laut.

Megathrust bukan pula nama untuk semua gempa yang terjadi di sekitar Sumatera.

Dan keberadaan megathrust tidak berarti bahwa ilmuwan mengetahui kapan gempa berikutnya akan terjadi.

Megathrust adalah bidang patahan antarlempeng yang sangat luas pada zona subduksi, tempat lempeng yang menunjam bersentuhan dengan lempeng yang berada di atasnya.

Untuk memahami sistem ini, kita harus kembali melihat apa yang terjadi di bawah Samudra Hindia.

Dari Zona Subduksi Menuju Megathrust

Pada artikel sebelumnya kita telah mengenal zona subduksi Sunda.

Litosfer samudra bergerak menuju Sumatera dan kemudian menunjam ke bawah lempeng atas.

Ketika proses tersebut berlangsung, terdapat bidang kontak antara kedua lempeng.

Bagian dari bidang kontak itulah yang dikenal sebagai megathrust.

Secara konseptual:

SAMUDRA HINDIA ↓ Lempeng samudra bergerak menuju Sumatera ↓ PALUNG SUNDA ↓ Lempeng mulai menunjam ↓ BIDANG KONTAK ANTARLEMPENG ↓ MEGATHRUST ↓ Slab terus masuk ke kedalaman ↓ FOREARC / KEPULAUAN BARAT SUMATERA ↓ PULAU SUMATERA

Diagram tersebut hanya penyederhanaan.

Dalam kenyataan, bidang megathrust memiliki bentuk tiga dimensi, kemiringan, kedalaman, kondisi gesekan, dan tingkat penguncian yang dapat berbeda sepanjang jalurnya.

Mengapa Disebut "Mega"?

Kata "mega" tidak berarti bahwa megathrust selalu menghasilkan gempa besar.

Istilah tersebut berkaitan dengan skala sistem patahan dorong pada batas lempeng di zona subduksi.

Bidang kontak antarlempeng dapat memiliki dimensi yang sangat besar.

Apabila rupture suatu gempa melibatkan area yang luas dan menghasilkan slip besar, momen seismik yang dilepaskan juga dapat sangat besar.

Karena itulah zona subduksi mampu menghasilkan beberapa gempa terbesar yang dikenal manusia.

Namun tidak setiap bagian megathrust mengalami rupture secara bersamaan.

Tidak setiap gempa megathrust memiliki magnitudo 9.

Dan tidak setiap gempa megathrust menghasilkan tsunami besar.

Bagaimana Megathrust Bergerak?

Lempeng terus bergerak dalam skala waktu geologi.

Tetapi bidang kontak antarlempeng tidak selalu bergeser dengan mulus.

Pada beberapa bagian, gesekan menyebabkan bidang antarlempeng mengalami penguncian atau coupling.

Ketika bagian tersebut terkunci, gerakan relatif lempeng tidak berhenti secara regional.

Akibatnya kerak di sekitarnya dapat mengalami deformasi secara perlahan.

Energi elastik dan tegangan dapat terakumulasi selama bertahun-tahun, puluhan tahun, bahkan lebih lama.

Ketika kekuatan gesekan tidak lagi mampu mempertahankan kondisi tersebut, rupture dapat terjadi.

Bagian bidang patahan kemudian mengalami pergeseran relatif dalam waktu singkat.

Energi yang dilepaskan merambat melalui Bumi sebagai gelombang seismik.

Itulah gempa bumi.

Apakah Seluruh Megathrust Terkunci?

Tidak.

Ini merupakan salah satu hal yang sangat penting.

Tingkat coupling dapat berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya.

Ada bagian yang dapat terkunci lebih kuat.

Ada bagian yang coupling-nya lebih lemah.

Ada pula kawasan dengan perilaku yang lebih kompleks.

Bahkan kondisi tersebut dapat berubah setelah terjadinya gempa besar.

Karena itu ilmuwan menggunakan berbagai metode untuk mempelajari bagaimana megathrust berperilaku.

Di Sumatera, salah satu arsip alam yang sangat berharga justru ditemukan pada terumbu karang.

Karang Mentawai: "Arsip" Pergerakan Bumi

Kepulauan Mentawai memiliki posisi yang sangat penting dalam penelitian megathrust Sumatera.

Di sejumlah lokasi terdapat microatoll karang yang pertumbuhannya sensitif terhadap perubahan muka laut relatif.

Ketika daratan secara perlahan turun atau naik akibat deformasi tektonik, pola pertumbuhan karang dapat merekam perubahan tersebut.

Ketika gempa besar menyebabkan pengangkatan daratan secara tiba-tiba, perubahan itu juga dapat meninggalkan jejak.

Para peneliti mempelajari bentuk, stratigrafi, umur, dan posisi karang tersebut untuk merekonstruksi deformasi masa lalu.

Dengan cara ini, sebagian sejarah megathrust Sumatera dapat dipelajari bahkan untuk periode sebelum adanya jaringan seismometer modern.

Karang bukan "alat peramal gempa".

Karang adalah arsip geologi yang membantu ilmuwan memahami apa yang pernah terjadi dan bagaimana deformasi berkembang dalam jangka panjang.

Gempa Besar Tahun 1797

Catatan sejarah dan penelitian paleogeodesi menunjukkan terjadinya gempa besar di kawasan barat Sumatera pada tahun 1797.

Penelitian terhadap microatoll karang Mentawai menunjukkan pengangkatan tektonik yang luas berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Pemodelan ilmiah terhadap deformasi karang menghasilkan estimasi magnitudo yang berada pada kisaran gempa sangat besar.

Karena peristiwa ini terjadi sebelum adanya instrumen seismologi modern, magnitudonya bukan hasil pengukuran seismometer seperti gempa masa kini.

Nilainya merupakan hasil rekonstruksi berdasarkan bukti geologi, catatan sejarah, dan pemodelan.

Ini penting untuk dipahami ketika membandingkan gempa historis dengan gempa modern.

Gempa Besar Tahun 1833

Beberapa dekade setelah peristiwa 1797, bagian lain sistem megathrust kembali mengalami rupture besar pada tahun 1833.

Penelitian microatoll menunjukkan pengangkatan yang sangat besar di beberapa bagian Kepulauan Mentawai.

Model ilmiah menempatkan peristiwa 1833 dalam kategori gempa sangat besar, dengan estimasi magnitudo yang berbeda menurut model yang digunakan.

Gempa tersebut juga menghasilkan tsunami yang tercatat dalam sumber-sumber sejarah.

Peristiwa 1797 dan 1833 menjadi sangat penting karena keduanya menunjukkan bahwa bagian Mentawai dari megathrust dapat mengalami rangkaian rupture besar yang tidak selalu memecahkan seluruh kawasan sekaligus.

Apa Itu "Supercycle"?

Dalam sejumlah penelitian mengenai Mentawai, ilmuwan menggunakan istilah earthquake supercycle.

Konsep tersebut dikembangkan dari catatan deformasi karang yang menunjukkan bahwa pelepasan tegangan pada megathrust tidak selalu terjadi melalui satu gempa raksasa yang memecahkan seluruh segmen.

Sebaliknya, satu periode panjang akumulasi deformasi dapat berakhir melalui rangkaian beberapa gempa besar.

Penelitian terhadap catatan karang bahkan menemukan bukti rangkaian rupture pada abad ke-16 dan ke-17 sebelum rangkaian 1797–1833.

Tetapi istilah supercycle tidak boleh diterjemahkan menjadi kalender gempa.

Mengetahui pola masa lalu tidak berarti kita dapat menghitung secara sederhana:

"Gempa terakhir + sekian tahun = tanggal gempa berikutnya."

Perilaku patahan jauh lebih kompleks.

26 Desember 2004: Sumatra–Andaman

Salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah seismologi modern terjadi pada 26 Desember 2004.

Gempa Sumatra–Andaman mencapai magnitudo sekitar Mw 9,1 menurut katalog USGS.

Rupture terjadi pada bagian sangat panjang dari sistem subduksi Sumatra–Andaman.

Gempa tersebut menyebabkan deformasi dasar laut dalam skala sangat besar dan menghasilkan tsunami yang menyebar melintasi Samudra Hindia.

Aceh menjadi salah satu kawasan yang mengalami dampak paling dahsyat.

Peristiwa ini menunjukkan secara nyata bahwa rupture megathrust dapat melibatkan wilayah yang sangat luas.

Tetapi gempa 2004 tidak berarti seluruh Sunda Megathrust dari utara sampai selatan pecah sekaligus.

Bagian-bagian lainnya memiliki sejarah rupture masing-masing.

28 Maret 2005: Nias–Simeulue

Hanya sekitar tiga bulan setelah gempa 2004, gempa besar kembali terjadi pada 28 Maret 2005.

Peristiwa Nias–Simeulue memiliki magnitudo sekitar Mw 8,6 dalam katalog USGS.

Rupture terjadi di sebelah selatan kawasan rupture utama 2004, pada bagian megathrust antara Simeulue dan Kepulauan Batu.

Peristiwa ini memperlihatkan bahwa gempa besar dapat mengubah keadaan tegangan di kawasan sekitarnya.

Namun hubungan antarperistiwa gempa tetap merupakan masalah ilmiah yang harus dianalisis menggunakan model fisika, data deformasi, seismologi, dan geodesi.

Tidak tepat menggunakan satu gempa besar sebagai dasar untuk menyatakan secara pasti bahwa bagian tertentu "pasti akan segera menyusul".

Gempa Bengkulu–Mentawai 2007

Pada 12 September 2007, kawasan barat Sumatera kembali mengalami rangkaian gempa besar.

USGS mencatat dua peristiwa besar dengan magnitudo sekitar Mw 8,5 dan Mw 7,9.

Gempa tersebut terjadi pada bagian selatan kawasan Mentawai dan Bengkulu dari sistem megathrust.

Penelitian berikutnya membandingkan rupture 2007 dengan bukti deformasi gempa besar masa lalu.

Hasilnya menunjukkan salah satu prinsip penting:

rupture modern tidak harus mengulangi secara persis pola rupture gempa historis.

Gempa 2007 melepaskan sebagian deformasi pada kawasan tersebut, tetapi penelitian paleogeodesi menunjukkan sejarah megathrust Mentawai jauh lebih kompleks daripada siklus sederhana yang berulang identik.

Gempa dan Tsunami Mentawai 2010

Pada 25 Oktober 2010, gempa sekitar Mw 7,8 terjadi pada bagian dangkal megathrust di sebelah barat Kepulauan Mentawai menurut USGS.

Gempa tersebut menghasilkan tsunami yang berdampak serius pada pesisir barat Kepulauan Mentawai.

Peristiwa ini menjadi contoh penting bahwa besarnya tsunami tidak dapat dinilai hanya berdasarkan angka magnitudo.

Lokasi rupture yang dangkal dan dekat palung, karakter slip, deformasi dasar laut, serta berbagai faktor lainnya dapat menghasilkan tsunami yang sangat berbahaya.

Karena itu masyarakat pesisir tidak seharusnya menggunakan magnitudo saja untuk memutuskan apakah sebuah gempa berpotensi menghasilkan tsunami.

Arahan resmi dan tanda alam harus menjadi bagian penting kesiapsiagaan.

Bagaimana Gempa Megathrust Menghasilkan Tsunami?

Tsunami bukan terjadi karena "getaran air laut".

Mekanismenya terutama berkaitan dengan perpindahan massa air.

Ketika rupture megathrust menyebabkan dasar laut mengalami deformasi vertikal secara signifikan, kolom air di atasnya ikut terganggu.

Gangguan tersebut menghasilkan gelombang panjang yang kemudian merambat keluar dari kawasan sumber.

Di laut dalam, tsunami dapat memiliki panjang gelombang sangat besar dan tidak selalu terlihat seperti tembok air.

Ketika memasuki perairan yang semakin dangkal, kecepatannya menurun dan karakter gelombangnya berubah.

Ketinggian dan inundasi di pantai kemudian sangat dipengaruhi oleh bentuk dasar laut, garis pantai, teluk, pulau, kedalaman perairan, dan topografi daratan.

Karena itu dua lokasi yang berdekatan sekalipun dapat mengalami dampak tsunami yang berbeda.

Tidak Semua Gempa Besar Menghasilkan Tsunami Besar

Gempa dapat terjadi pada berbagai jenis patahan.

Gempa strike-slip yang dominan bergerak horizontal biasanya memiliki kemampuan berbeda dalam memindahkan dasar laut dibanding rupture thrust dangkal yang menghasilkan perpindahan vertikal besar.

Gempa juga dapat terjadi jauh di dalam slab.

Karena itu:

magnitudo besar tidak otomatis berarti tsunami besar.

Sebaliknya, gempa dengan magnitudo lebih kecil daripada gempa raksasa dapat tetap menghasilkan tsunami lokal yang sangat berbahaya apabila mekanisme dan lokasinya mendukung.

Gempa Mentawai 2010 merupakan salah satu contoh penting mengapa mekanisme sumber harus diperhatikan.

Apa yang Dimaksud "Potensi Magnitudo"?

Istilah ini sering menimbulkan kesalahpahaman.

Ketika sebuah peta sumber gempa mencantumkan parameter magnitudo maksimum atau Mmax, angka tersebut digunakan dalam pemodelan sumber dan bahaya gempa.

Angka tersebut bukan pernyataan:

"Gempa sebesar ini akan terjadi."

Terlebih lagi, angka tersebut bukan:

"Gempa sebesar ini akan terjadi dalam waktu dekat."

Mmax merupakan parameter model yang dikembangkan berdasarkan geometri sumber, sejarah gempa, data geologi, hubungan empiris, dan pertimbangan ilmiah lainnya sesuai metodologi yang digunakan.

Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024 menggunakan pembaruan parameter sumber, termasuk segmentasi megathrust, skenario rupture, magnitudo potensial atau Mmax, slip rate, dan model bahaya.

Parameter tersebut diperlukan untuk menjawab pertanyaan seperti:

"Seberapa besar tingkat bahaya gempa yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan?"

Bukan:

"Kapan gempa berikutnya akan terjadi?"

Perbedaan ini sangat penting.

Bagaimana Megathrust Indonesia Dibagi?

Sunda Megathrust merupakan sistem yang sangat panjang.

Untuk keperluan penelitian dan pemodelan bahaya, sistem tersebut dibagi menjadi bagian atau segmen.

Namun seperti pada Sesar Besar Sumatera, segmentasi megathrust juga merupakan model ilmiah yang dapat diperbarui.

Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024 menyatakan bahwa model nasional terbaru membagi megathrust menjadi 11 segmen di Indonesia, disertai tiga segmen di Filipina dalam cakupan pemodelannya.

Tidak seluruh 11 segmen tersebut berada di Sumatera.

Sistem subduksi Indonesia berlanjut dari kawasan Sumatera menuju Jawa, Nusa Tenggara dan wilayah tektonik lainnya.

Karena itu istilah "Megathrust Sumatera" sebaiknya dipahami sebagai bagian-bagian Sunda Megathrust yang berhubungan dengan kawasan Sumatera, bukan sebagai satu patahan tunggal yang berhenti tepat pada batas administratif pulau.

Megathrust Tidak Mengenal Batas Provinsi

Patahan berada di dalam Bumi.

Batas provinsi berada pada peta administrasi manusia.

Keduanya tidak sama.

Satu sumber gempa dapat berada di lepas pantai beberapa wilayah sekaligus.

Gelombang gempa dapat merambat jauh dari sumber.

Tsunami juga dapat melintasi batas kabupaten, provinsi, bahkan negara.

Karena itu istilah seperti "Megathrust Padang", "Megathrust Aceh", atau nama kota lainnya yang digunakan dalam percakapan umum harus dibaca secara hati-hati.

Nama wilayah dapat membantu masyarakat memahami lokasi secara kasar, tetapi nomenklatur ilmiah sumber gempa dapat menggunakan nama dan batas yang berbeda.

Apa Itu Seismic Gap?

Istilah seismic gap secara umum digunakan untuk menggambarkan bagian suatu sistem patahan aktif yang relatif belum mengalami rupture besar dalam periode tertentu dibanding bagian di sekitarnya atau dibanding sejarah yang diketahui.

Namun istilah ini sering disalahartikan sebagai:

"Tempat yang sebentar lagi pasti gempa."

Itu tidak tepat.

Seismic gap merupakan konsep yang digunakan dalam analisis seismotektonik.

Keberadaannya dapat menjadi alasan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai akumulasi deformasi dan sejarah rupture.

Tetapi seismic gap tidak menyediakan jam hitung mundur menuju gempa.

Apa Itu Slip Deficit?

Jika gerakan relatif lempeng secara regional diketahui, sementara bagian antarmuka tampak terkunci berdasarkan pengamatan geodesi, ilmuwan dapat memperkirakan adanya defisit slip atau slip deficit.

Secara sederhana, ini menggambarkan perbedaan antara gerakan relatif yang diharapkan dan slip yang telah diakomodasi secara aseismik atau melalui gempa.

Namun slip deficit bukan "energi gempa" yang dapat dibaca seperti baterai dengan persentase tertentu.

Mengubah slip deficit langsung menjadi pernyataan:

"Sudah terkumpul sekian meter, berarti akan terjadi gempa sekian magnitudo"

tanpa mempertimbangkan luas rupture, distribusi coupling, geometri, rheologi, sejarah gempa dan ketidakpastian model merupakan penyederhanaan berlebihan.

Bisakah Kita Mengetahui Megathrust Sedang Terkunci?

Ilmuwan memiliki berbagai cara untuk mengamati deformasi kerak.

Di antaranya:

  • GNSS/GPS;
  • pengamatan deformasi pulau;
  • microatoll karang;
  • seismologi;
  • paleoseismologi;
  • paleotsunami;
  • geodesi satelit;
  • pengamatan dasar laut;
  • pemodelan geofisika;
  • dan pemetaan struktur tektonik.

Jika sebuah pulau di atas zona subduksi bergerak atau mengalami perubahan elevasi dengan pola tertentu, data tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat coupling pada megathrust di bawahnya.

Tetapi hasilnya tetap berupa model dengan ketidakpastian.

Bumi tidak dapat dibuka untuk melihat secara langsung seluruh bidang patahan pada kedalaman puluhan kilometer.

Karena itu model terus diperbaiki ketika data baru tersedia.

Apakah Gempa Dapat Diprediksi?

Dalam arti menentukan secara tepat tanggal, waktu, lokasi dan magnitudo gempa besar berikutnya, ilmu pengetahuan saat ini belum mampu melakukannya secara andal.

Yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi sumber gempa, mempelajari sejarah rupture, mengukur deformasi, memperkirakan parameter sumber, dan menghitung bahaya secara probabilistik.

Perbedaan antara prediksi dan penilaian bahaya sangat penting.

Misalnya, insinyur tidak perlu mengetahui bahwa sebuah gempa akan terjadi pada hari tertentu untuk merancang bangunan yang mempertimbangkan bahaya gempa.

Mereka membutuhkan pemahaman mengenai tingkat guncangan yang secara ilmiah perlu diperhitungkan dalam desain.

Fakta, Penelitian, Model, dan Prediksi

Untuk menghindari kesalahpahaman, PUSTAHA membedakan empat jenis informasi:

FAKTA TEREKAM

Peristiwa yang telah terjadi dan memiliki bukti sejarah, instrumental atau geologi.

Contohnya adalah gempa Sumatra–Andaman 2004, Nias–Simeulue 2005, Bengkulu–Mentawai 2007, dan Mentawai 2010.

REKONSTRUKSI ILMIAH

Peristiwa masa lalu yang dipelajari melalui bukti seperti catatan sejarah, microatoll karang, endapan tsunami dan perubahan elevasi.

Gempa 1797 dan 1833 merupakan contoh penting.

MODEL / PERKIRAAN ILMIAH

Parameter seperti coupling, slip deficit, skenario rupture, Mmax dan probabilitas bahaya merupakan hasil analisis berdasarkan asumsi, data dan metode tertentu.

Model dapat diperbarui.

PREDIKSI WAKTU GEMPA

Pernyataan bahwa gempa tertentu akan terjadi pada tanggal atau waktu tertentu.

Kemampuan seperti ini belum tersedia secara andal dalam ilmu gempa modern.

Memisahkan empat kategori tersebut membantu masyarakat membaca informasi megathrust secara lebih kritis.

Pandangan PUSTAHA: Megathrust Bukan Alasan untuk Panik

Kata "megathrust" sering menjadi judul yang menarik perhatian.

Ketika digabungkan dengan angka magnitudo besar, informasi ilmiah dapat dengan cepat berubah menjadi ketakutan apabila konteksnya dihilangkan.

PUSTAHA memilih pendekatan berbeda.

Keberadaan megathrust merupakan fakta geologi.

Sejarah gempa besar Sumatera merupakan fakta yang perlu dipelajari.

Kemampuan zona subduksi menghasilkan tsunami juga merupakan bahaya nyata.

Tetapi tidak satu pun dari fakta tersebut memberikan dasar untuk menyatakan bahwa gempa besar tertentu akan terjadi besok, minggu depan, bulan depan, atau pada tahun tertentu.

Yang dapat dilakukan manusia adalah mempersiapkan diri sebelum peristiwa tersebut terjadi.

Bangunan dapat dibuat lebih tahan gempa.

Peta bahaya dapat diperbarui.

Jalur dan tempat evakuasi tsunami dapat disiapkan.

Sistem peringatan dini dapat diperkuat.

Masyarakat dapat belajar mengenali tanda alam.

Pemerintah dapat menggunakan penelitian sebagai dasar perencanaan.

Dan sejarah dapat digunakan sebagai pengingat bahwa kejadian ekstrem memang pernah terjadi.

Kesiapsiagaan tidak membutuhkan tanggal ramalan.

Kesiapsiagaan membutuhkan pengetahuan.

Jika Merasakan Gempa Kuat di Pesisir

Untuk masyarakat yang berada di kawasan pesisir rawan tsunami, informasi resmi mengenai kesiapsiagaan harus selalu menjadi rujukan.

Pada situasi nyata, jangan menunggu artikel internet atau media sosial untuk mengambil keputusan keselamatan.

Ikuti arahan BMKG, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, serta prosedur evakuasi yang berlaku.

Masyarakat pesisir juga perlu memahami tanda alam tsunami dan jalur evakuasi di wilayah tempat tinggal masing-masing.

Informasi ilmiah mengenai megathrust akan jauh lebih berguna apabila diterjemahkan menjadi kesiapsiagaan nyata.

Megathrust Sumatera Bukan Satu Tombol Raksasa

Setelah melihat sejarah 1797, 1833, 2004, 2005, 2007 dan 2010, satu hal menjadi semakin jelas:

sistem megathrust Sumatera tidak berperilaku seperti satu tombol yang hanya memiliki keadaan "diam" dan "pecah seluruhnya".

Rupture dapat terjadi pada bagian yang berbeda.

Gempa dapat memiliki magnitudo berbeda.

Area rupture dapat saling berdekatan atau sebagian tumpang tindih.

Coupling dapat berbeda secara spasial.

Gempa sebelumnya dapat mengubah keadaan tegangan dan deformasi di kawasan sekitar.

Dan perilaku masa depan tidak harus mengulang persis pola masa lalu.

Inilah alasan penelitian megathrust terus dilakukan.

Selanjutnya: Mentawai Fault dan Struktur Forearc Sumatera

Masih terdapat satu wilayah penting di antara Palung Sunda dan daratan Sumatera yang belum kita bedah secara khusus.

Kawasan tersebut adalah forearc Sumatera.

Di sana terdapat Kepulauan Mentawai dan berbagai struktur tektonik yang tidak boleh disamakan dengan megathrust maupun Sesar Besar Sumatera.

Pada artikel berikutnya PUSTAHA akan membahas:

Mentawai Fault dan Struktur Tektonik Forearc di Barat Sumatera.

Kita akan melihat mengapa wilayah antara palung dan Sumatera juga mengalami deformasi, apa yang dimaksud dengan forearc sliver, bagaimana struktur seperti Mentawai Fault dan backthrust dibahas dalam literatur, serta bagaimana seluruh sistem tersebut terhubung dengan konvergensi miring Sumatera.

Dengan demikian gambaran tektonik Sumatera akan semakin lengkap:

Zona subduksi → Megathrust → Forearc → Kepulauan Mentawai → Sesar dan struktur forearc → Pulau Sumatera → Sesar Besar Sumatera.


Catatan Redaksi PUSTAHA

Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi berdasarkan publikasi ilmiah, data lembaga resmi, serta literatur yang tersedia pada saat penulisan.

Nilai magnitudo untuk gempa historis sebelum era seismometer modern merupakan hasil rekonstruksi ilmiah dan dapat memiliki rentang estimasi yang berbeda antarpenelitian. Demikian pula batas segmen megathrust, coupling, slip deficit, Mmax, dan skenario rupture merupakan parameter ilmiah yang dapat berubah ketika tersedia data dan model yang lebih baik.

PUSTAHA tidak menyatakan bahwa suatu segmen megathrust akan mengalami gempa pada waktu tertentu dan tidak menggunakan parameter potensi magnitudo sebagai prediksi kejadian.

Untuk informasi gempa terkini, peringatan dini tsunami dan arahan keselamatan di Indonesia, masyarakat harus mengikuti informasi resmi BMKG dan instansi pemerintah terkait.

PUSTAHA berupaya menyajikan informasi secara akurat serta mencantumkan sumber yang dapat ditelusuri. Apabila pembaca menemukan kekeliruan data, penulisan, sumber, interpretasi, atau informasi yang memerlukan pembaruan, silakan menghubungi PUSTAHA melalui menu Kontak yang tersedia di situs ini agar informasi tersebut dapat ditinjau dan diperbaiki.

Sumber dan Referensi

  1. Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), Kementerian Pekerjaan Umum. "Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024." Diterbitkan 2025. ISBN 978-602-9095-53-1. Digunakan sebagai referensi nasional mengenai pembaruan sumber gempa, segmentasi megathrust, skenario rupture, Mmax, slip rate dan pemodelan bahaya gempa.

  2. Hayes, G. P., Bernardino, M., Dannemann, F., Smoczyk, G., Briggs, R. W., Benz, H. M., Furlong, K. P., & Villaseñor, A. (2013). "Seismicity of the Earth 1900–2012: Sumatra and Vicinity." U.S. Geological Survey Open-File Report 2010–1083-L. DOI: 10.3133/ofr20101083L. Digunakan untuk sejarah instrumental dan konteks tektonik gempa 2004, 2005, 2007 dan 2010.

  3. Natawidjaja, D. H., Suwargadi, B. W., Cheng, H., Avouac, J.-P., Galetzka, J., Sieh, K., Chlieh, M., Edwards, R. L., & Ward, S. N. (2006). "Source Parameters of the Great Sumatran Megathrust Earthquakes of 1797 and 1833 Inferred from Coral Microatolls." Journal of Geophysical Research: Solid Earth, 111. Digunakan untuk rekonstruksi deformasi dan rupture gempa besar 1797 dan 1833.

  4. Sieh, K., Ward, S. N., Natawidjaja, D. H., & Suwargadi, B. W. (2008). "Earthquake Supercycles Inferred from Sea-Level Changes Recorded in the Corals of West Sumatra." Science, 322. Digunakan sebagai dasar pembahasan konsep supercycle dan rekaman paleogeodesi karang Sumatera Barat.

  5. Philibosian, B., Suwargadi, B. W., Chiang, H.-W., Wu, C.-C., Natawidjaja, D. H., Shen, C.-C., Daryono, M. R., Perfettini, H., Avouac, J.-P., & Sieh, K. (2014). "Rupture and Variable Coupling Behavior of the Mentawai Segment of the Sunda Megathrust During the Supercycle Culmination of 1797 to 1833." Journal of Geophysical Research: Solid Earth, 119, 7258–7287. Digunakan untuk pembahasan coupling dan pola rupture Mentawai.

  6. Meltzner, A. J., Sieh, K., Chiang, H.-W., Shen, C.-C., Suwargadi, B. W., Natawidjaja, D. H., Philibosian, B., & Briggs, R. W. Penelitian mengenai earthquake supercycles pada Mentawai berdasarkan catatan microatoll karang abad ke-16, ke-17 dan periode sebelumnya. Digunakan untuk menunjukkan bahwa rupture megathrust dapat terjadi sebagai rangkaian peristiwa, bukan pengulangan identik satu gempa tunggal.

  7. U.S. Geological Survey (USGS). Publikasi dan katalog mengenai gempa Sumatra–Andaman 26 Desember 2004, Nias–Simeulue 28 Maret 2005, gempa Bengkulu–Mentawai September 2007, serta gempa dan tsunami Mentawai 25 Oktober 2010.

  8. Earth Observatory of Singapore, Nanyang Technological University. Kumpulan penelitian paleogeodesi, coral microatolls, coupling dan sejarah rupture Sunda Megathrust di Kepulauan Mentawai. Digunakan sebagai sumber pendukung untuk memahami rekaman deformasi jangka panjang.

Megathrust Sumatera: Mengenal Sumber Gempa Besar di Barat Pulau Sumatera | PUSTAHA