Erupsi Anak Krakatau Berdampak hingga Kualanamu, 51 Penerbangan Mengalami Penyesuaian
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengganggu operasional penerbangan di Jakarta dan berdampak pada konektivitas Bandara Internasional Kualanamu. Pengelola bandara mencatat sementara 51 penerbangan dari dan menuju Kualanamu mengalami penyesuaian, sementara operasional bandara di Deli Serdang tetap berjalan normal.
Erupsi Anak Krakatau Berdampak hingga Kualanamu, 51 Penerbangan Mengalami Penyesuaian
Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda merambat ke jaringan transportasi udara nasional. Di Sumatera Utara, sedikitnya 51 penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, dilaporkan mengalami penyesuaian.
Dampak terhadap Kualanamu bukan berarti abu vulkanik dilaporkan mencapai kawasan bandara tersebut. Gangguan terjadi terutama karena penerbangan Kualanamu yang terhubung dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) terdampak kondisi operasional di Jakarta.
Manager of Corporate Affairs PT Angkasa Pura Aviasi, Mohamad Hikmat Hidayat, sebagaimana diberitakan ANTARA pada Senin, 7 September 2026, menyebut data sementara menunjukkan 51 penerbangan dari dan menuju Kualanamu mengalami penyesuaian.
Angka tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah mengikuti perkembangan operasional penerbangan serta kebijakan masing-masing maskapai.
Dari 26 Pembatalan hingga 51 Penerbangan Terdampak
Perkembangan jumlah penerbangan terdampak terjadi sepanjang Minggu, 6 September 2026.
Dalam laporan TVRI Sumatera Utara sebelumnya, sebanyak 26 penerbangan tujuan Kualanamu–Jakarta maupun Jakarta–Kualanamu dilaporkan dibatalkan.
Data berikutnya yang disampaikan pengelola Bandara Kualanamu menunjukkan cakupan dampak yang lebih besar. Sebanyak 51 penerbangan dari dan menuju Kualanamu tercatat mengalami penyesuaian.
Perbedaan angka tersebut perlu dipahami sebagai pembaruan data pada waktu yang berbeda. Karena situasi penerbangan bersifat dinamis, jumlah penerbangan yang dibatalkan, dijadwalkan ulang, dialihkan, atau mengalami bentuk penyesuaian lainnya dapat berubah.
Soekarno-Hatta Sempat Ditutup Sementara
Gangguan penerbangan terjadi setelah sebaran abu vulkanik Anak Krakatau memengaruhi ruang udara dan operasional penerbangan di sejumlah wilayah.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyatakan Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat ditutup sementara berdasarkan NOTAM Nomor A3341/26.
Penutupan sementara diberlakukan mulai pukul 01.30 WIB hingga 05.30 WIB pada Minggu, 6 September 2026, berkaitan dengan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama dalam keputusan operasional tersebut.
Karena Soekarno-Hatta merupakan salah satu simpul utama penerbangan nasional, gangguan operasional di bandara tersebut kemudian berdampak pada berbagai rute yang menghubungkan Jakarta dengan daerah lain, termasuk Sumatera Utara.
Penerbangan Amsterdam Dialihkan ke Kualanamu
Di tengah berbagai penyesuaian tersebut, Kualanamu juga menjadi lokasi pengalihan salah satu penerbangan internasional.
Menurut keterangan pengelola bandara yang diberitakan ANTARA, satu penerbangan rute Amsterdam (AMS) menuju Soekarno-Hatta (CGK) dialihkan atau diverted ke Bandara Internasional Kualanamu.
Sementara itu, operasional Bandara Kualanamu sendiri dinyatakan tetap berjalan normal.
Pengelola bandara terus berkoordinasi dengan AirNav Indonesia, maskapai, otoritas bandara, serta pemangku kepentingan lainnya untuk mengikuti perkembangan kondisi penerbangan.
Calon penumpang juga diimbau memeriksa kembali status dan jadwal penerbangan melalui maskapai masing-masing sebelum menuju bandara.
Abu Vulkanik Terdeteksi di Sejumlah Provinsi
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melaporkan abu vulkanik Anak Krakatau terpantau menyebar di atmosfer menuju sejumlah wilayah.
Sebaran tersebut dilaporkan mencakup Banten, sebagian Jawa Barat dan DKI Jakarta, serta wilayah Lampung dan Bengkulu.
Karena itu, PUSTAHA menegaskan bahwa dampak yang terjadi di Kualanamu dalam berita ini merupakan dampak terhadap konektivitas dan operasional penerbangan, bukan laporan bahwa abu vulkanik Anak Krakatau telah mencapai Bandara Kualanamu.
Perbedaan tersebut penting agar dampak erupsi terhadap transportasi udara tidak disalahartikan sebagai sebaran abu secara langsung hingga Sumatera Utara.
Anak Krakatau Tetap Berstatus Level III (Siaga)
Berdasarkan keterangan resmi Kementerian ESDM pada 6 September 2026, PVMBG menyatakan episode erupsi menerus Anak Krakatau yang berlangsung sekitar 25 jam telah berakhir.
Rekaman instrumental menunjukkan episode gempa erupsi menerus mulai tercatat pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Setelah episode tersebut berakhir, PVMBG masih mencatat satu erupsi susulan bertipe Strombolian pada pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik.
Meski episode erupsi menerus telah berakhir, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih ditetapkan pada Level III (Siaga).
Aktivitas gunung tersebut terus dipantau oleh PVMBG.
Dampak Erupsi Menjalar Melalui Jaringan Penerbangan
Gangguan di Kualanamu menunjukkan bagaimana sebuah erupsi gunung api dapat menimbulkan dampak jauh melampaui kawasan di sekitar gunung.
Dalam penerbangan, abu vulkanik merupakan faktor keselamatan serius. Ketika ruang udara atau sebuah bandara utama terdampak, penerbangan dari wilayah lain yang terhubung dengannya juga dapat mengalami pembatalan, pengalihan maupun penyesuaian jadwal.
Dampak pada 6 September tidak hanya terjadi pada konektivitas Kualanamu.
Sejumlah penerbangan di bandara lain di Indonesia juga dilaporkan mengalami pembatalan atau penyesuaian akibat gangguan yang berkaitan dengan erupsi Anak Krakatau dan penutupan sementara bandara tujuan.
Kementerian Perhubungan juga meminta maskapai tetap memenuhi hak penumpang yang terdampak, termasuk memberikan informasi dan penanganan sesuai ketentuan yang berlaku.
Catatan PUSTAHA
PUSTAHA mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau sebagai bagian dari pencatatan peristiwa aktual dan dampaknya terhadap masyarakat serta aktivitas transportasi.
Berita ini tidak menyatakan bahwa abu vulkanik Anak Krakatau telah mencapai Bandara Internasional Kualanamu. Berdasarkan informasi yang tersedia hingga berita ini diperbarui, dampak di Kualanamu terutama terjadi melalui gangguan terhadap penerbangan yang terhubung dengan bandara terdampak, khususnya di Jakarta.
Data penerbangan juga bersifat dinamis. Angka 51 penerbangan merupakan data sementara yang disampaikan pengelola Bandara Kualanamu dan dapat berubah mengikuti perkembangan operasional.
Untuk informasi mengenai aktivitas dan rekomendasi keselamatan Gunung Anak Krakatau, masyarakat hendaknya mengikuti informasi resmi PVMBG/Badan Geologi. Sementara informasi keberangkatan dan kedatangan penerbangan perlu dikonfirmasi langsung melalui maskapai dan pengelola bandara.
Batas informasi: 7 September 2026, berdasarkan informasi yang tersedia saat berita ini disusun.
Sumber & Referensi
-
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia — Aktivitas Anak Krakatau Terus Dipantau, PVMBG Pastikan Status Siaga Tetap Berlaku Usai Erupsi Menerus 25 Jam, 6 September 2026.
-
Badan Geologi, Kementerian ESDM — Fenomena Erupsi Menerus Gunungapi Anak Krakatau Tanggal 5 September 2026, Laporan Khusus Nomor 1512.Lap/GL.03/BGL/2026.
-
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan — informasi penutupan sementara Bandara Internasional Soekarno-Hatta berdasarkan NOTAM A3341/26 sebagaimana diberitakan ANTARA, 6 September 2026.
-
ANTARA — 51 Penerbangan di Kualanamu Alami Penyesuaian Akibat Abu Vulkanik GAK, 7 September 2026. Keterangan Manager of Corporate Affairs PT Angkasa Pura Aviasi Mohamad Hikmat Hidayat.
-
TVRI News Sumatera Utara — 26 Penerbangan Kualanamu-Jakarta Batal Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, 6 September 2026.
-
Kementerian Perhubungan — keterangan mengenai pemenuhan hak penumpang terdampak penutupan sementara bandara akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, 6 September 2026.
PUSTAHA — INGAT · TULIS · RILIS

